AROMATERAPI
BY : JUNAIDI
PRODI MAGISTER KEPERAWATAN STIK MUHAMMADIYAH PONTIANAK
TAHUN 2021
PENGERTIAN
• Aromaterapi adalah terapi yang menggunakan minyak essensial atau sari
minyak murni untuk membantu memperbaiki atau menjaga kesehatan,
membangkitkan semangat, menyegarkan serta menenangkan jiwa dan raga
(Astuti, 2015).
• Beberapa minyak essensial yang sudah diteliti dan ternyata efektif sebagai
sedatif penenang ringan yang berfungsi nmenenangkan sistem saraf pusat
yang dapat membantu mengatasi insomnia terutama diakibatkan oleh
stress, gelisah, ketegangan, dan depresi (Setyoadi & Kushariyadi, 2011 ).
MANFAAT
• Mengatasi insomnia dan depresi, meredakan kegelisahan
• Mengurangi perasaan ketegangan
• Meningkatakan kesehatan dan kesejahteraan tubuh, pikiran dan jiwa
• Menjaga kestabilan ataupun keseimbanagan sistem yang terdapat dalam
tubuh menjadi sehat dan menarik
• Merupakan pengobatan holistik untuk menyeimbangkan semua fungsi tubuh
KELEBIHAN AROMATERAPI
• Kelebihan pada aromaterapi ini adalah ada pada efeknya yaitu anti
spasmodik dan obat penenang ringan.
MEKANISME KERJA AROMATERAPI
• Mekanisme kerja aromaterapi didalam tubuh berlangsung melalui dua sistem fisiologis yaitu sistem sirkulasi tubuh dan
sistem penciuman.
• Bau merupakan suatu molekul yang mudah menguap ke udara dan akan masuk ke rongga hidung melalui penghirupan
sehingga akan direkam oleh otak sebagai proses penciuman.
• Proses penciuman terbagi dalam tiga tingkatan, dimulai dengan penerimaan molekul bau pada epitallium olfaktori yang
merupakan suatu reseptor berisi 20 juta ujung saraf.
• Selanjutnya bau tersebut akan ditramisikan sebagai suatu pesan ke pusat penciuman yang terleltak pada bagian belakang
hidung.
• Pada tempat ini, sel neuron menginterpretasikan bau tersebut dan mengantarkannya ke sistem limbik .
• Sistem limbik merupakan pusat nyeri, senang, marah, takut, depresi, dan berbagai emosi lainnya. selanjutnya respon dikirim
ke hipotalamus untuk diolah.
NEXT
• Melalui penghantaran respons yang dilakukan oleh hipotalamus seluruh sistem
minyak essensial tersebut akan diantar oleh sistem sirkulasi dan agen kimia kepeda
organ yang tubuh. Secara fisiologis, kandungan unsur-unsur terapeutik dari bahan
aromatic akan memperbaiki ketidakseimbangan yang terjadi didalam system tubuh.
Bau yang menimbulkan rasa tenang akan merangsang daerah otak yang disebut
nuklues rafe untuk mengeluarkan sekresi serotonin (Setyoadi & Kushariyadi, 2011).
• Sekresi serotonin berguna untuk menimbulkan efek rileks sebagai akibat inhibisi
eksitasi sel (Rujito dkk 2016).
METODE PEMAKAIAN
• Di hirup
• Penguapan
• Pijatan
• Semprotan untuk ruangan
• Mandi dengan berendam
DI HIRUP
• Aromaterapi masuk dari luar tubuh ke dalam tubuh dengan satu tahap yang mudah,
yaitu lewat paru – paru di alirkan ke pembuluh darah melalui alveoli. Inhalasi sama
dengan metode penciuman bau, di mana dapat dengan mudah merangsang olfaktori
pada setiap kali bernafas dan tidak akan mengganggu pernafasan normal apabila
mencium bau yang berbeda dari minyak essensial.
• Aromaterapi inhalasi dapat dilakukan dengan menggunakan elektrik, baterai, atau
lilin diffuser, atau meletakkan aromaterapi dalam jumlah yang sedikit pada selembar
kain atau kapas. Hal ini berguna untuk minyak essensial relaksasi dan penenang
PENGUAPAN
• Alat yang digunakan untuk menyebarkan aromaterapi dengan cara penguapan ini
mempunyai rongga seperti gua untuk meletakkan lilin kecil atau lampu minyak dan
bagian atas terdapat cekungan seperti cangkir biasanya terbuat dari kuningan untuk
meletakkan sedikit air dan beberapa tetes minyak esensial
• Cara penggunaannya adalah mengisi cekungan cangkir pada tungku dengan air dan
tambahkan beberapa tetes minyak esensial, kemudian nyalakan lilin, lampu minyak
atau listrik. Setelah air dan minyak menjadi panas, penguapan pun terjadi dan
seluruh ruangan akan terpenuhi dengan bau aromatik.
PIJATAN
• Pijat merupakan salah satu bentuk pengobatan yang sangat sering
dikolaborasikan dengan aromaterapi. Beberapa tetes minyak esensial
dicampurkan dalam minyak untuk pijat sehingga dapat memberikan efek
simultan antara terapi sentuhan dan terapi wangi- wangian. Pijatan dapat
memperbaiki peredaran darah, mengembalikan kekenyalan otot, membuang
racun dan melepaskan energi yang terperangkap di dalam otot. Wangi-
wangian memicu rasa senang dan sehat.
SEMPROTAN UNTUK RUANGAN
• Minyak esensial bersifat lebih alami daripada aerosol yang dapat merusak
ozon dalam penggunaannya sebagai pewangi ruangan. Penggunaannya
adalah dengan menambahkan sekitar 10- 12 tetes minyak esensial ke dalam
setengah liter air dan menyemprotkan campuran tersebut ke seluruh ruangan
dengan bantuan botol penyemprot
MANDI DENGAN BERENDAM
• Mandi dengan berendam merupakan cara yang paling mudah untuk
menikmati aromaterapi. Tambahkan beberapa tetes minyak aroma ke dalam
air berendam, kemudian berendamlah selama 20 menit. Minyak esensial akan
berefek pada tubuh dengan cara memasuki badan lewat kulit. Campurkan
minyak esensial dengan cara yang tepat, karena beberapa minyak aroma
tidak mudah larut dalam air
PENELITIAN 1
• Utami, R. N., & Khoiriyah, K. (2020). Penurunan Skala Nyeri Akut Post Laparatomi Menggunakan Aromaterapi Lemon. Ners Muda, 1(1), 23-33.
• P : Jenis studi ini merupakan jenis studi kuantitatif dengan desain studi kasus, menggunakan pendekatan asuhan keperawatan. Teknik
pengambilan sampel menggunakan kriteria inklusi dan kriteria eksklusi yang telah ditentukan. Sampel yang digunakan dalam studi kasus ini
adalah 2 pasien yang mengalami kolelitiasis post operasi laparatomi hari ke-2 yang sedang dirawat di ruang Rajawali 2A RSUP Dr Kariadi
Semarang.
• I : Teknik aromaterapi lemon diberikan sebelum pemberian analgesik dengan durasi 30 menit setiap hari selama 3 hari yaitu dari tanggal 30
Juli – 01 Agustus 2019. Sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi lemon dilakukan pengukuran skala nyeri dengan NRS ( Numeric Rating
Scale).
• C : teori Clarke (2010) yang menyatakan bahwa terapi non farmakologi seperti aromaterapi lemon dapat digunakan untuk menenangkan
suasana. Aromanya yang aromatic, aroma citrus dapat meningkatkan rasa percaya diri, merasa lebih santai, dapat menenangkan syaraf, tetapi
tetap membuat kita sadar. Minyak lemon untuk tubuh bermanfaat untuk mengatasi masalah pencernaan, untuk meredakan sakit dan nyeri pada
persendian dan diterapkan untuk kondisi rematik dan asam urat untuk meredakan sakit kepala, dengan kandungan limonea yang banyak
dibandingkan dengan senyawa lainnya, membuat minyak lemon dapat berfungsi sebagai aromaterapi. Penelitian (Rahmayati et al.,
2018)menyatakan terdapat perbedaan intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi lemon p-
value 0.000.
• O : Hasil penelitian menunjukkan pasien 1 post operasi laparatomi dengan skala nyeri 4. Setelah diberikan aromaterapi lemon pada hari 1 dan
2 skala nyerinya 3, kemudian pada hari 3 skala nyerinya 2. Pasien 2 post operasi laparatomi dengan skala nyeri 4. Setelah diberikan
aromaterapi lemon pada hari 1 skala nyerinya 3 dan pada hari 2 dan 3 skala nyerinya 2. Pemberian aromaterapi lemon dapat menurunkan skala
nyeri pada pasien post operasi laparatomi.
PENELITIAN 2
• Widayani, W. (2017). Aromaterapi Lavender dapat Menurunkan Intensitas Nyeri Perineum pada Ibu Post Partum. Jurnal Ners dan
Kebidanan Indonesia, 4(3), 123-128.
• P : Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian quasi experiment dengan rancangan one group pre dan post test. Tempat penelitian adalah Bidan
Praktik Mandiri (BPM) yang ada di wilayah Kota Bandung. Penelitian dilakukan mulai dari Bulan Mei sampai September 2015, dengan jumlah sampel 28
orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan non probability sampling berupa teknik consecutive sampling yaitu dengan memilih
sampel yang memenuhi kriteria penelitian sampai kurun waktu tertentu sehingga jumlah sampel terpenuhi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah ibu post
partum hari ke 1, ibu post partum yang melahirkan normal (pervaginam) dan mengalami rupture derajat 2, ibu post partum yang mengalami luka jahitan
perineum. Sedangkan kriteria eksklusinya yaitu ibu post partum yang melahirkan dengan tindakan operasi atau vakum, ibu post partum yang mengalami
vaginitis, hematoma dan abses di perineum, ibu post partum yang memiliki riwayat alergi obat, ibu post partum yang memiliki penyakit asma.
• I : Intervensi dilakukan setelah 2 jam dilakukan penjahitan perineum. Setelah mengisi kuesioner pretest, reponden diberikan intervensi aromaterapi lavender
inhalasi dalam kurun waktu menit ke 10, 30 dan 60, aromaterapi diberikan selama 10 menit. Kemudian dilakukan posttest seiring dengan observasi masa nifas 2
jam, dengan cara memeriksa luka jahitan perineum menggunakan pinset anatomis. Saat diperiksa luka jahitan, peneliti melihat reaksi wajah responden.
• Instrumen yang digunakan yaitu Visual Analogue Scala (VAS) dengan skala nyeri 0-10, dengan batasan kategori nyeri diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia, yaitu tidak nyeri
(0); nyeri ringan (1-3); rasa nyeri seperti rasa gatal, rasa tersetrum, melilit, terpukul, perih, nyut-nyutan, kram; nyeri sedang (4-7); rasa nyeri seperti nyut-nyutan/ kram; nyeri
berat (8-9): sangat nyeri, sulit bergerak tapi masih terkontrol; dan nyeri sangat berat (10): sangat nyeri, sulit bergerak sampai tidak terkontrol seperti menangis, menjerit.
• Bahan yang digunakan adalah uap minyak lavender dengan konsentrasi 100%, diberikan 4-5 tetes dilarutkan dalam 200 ml air, diberikan secara inhalasi melalui vaporizer
atau alat listrik. Sebelum inhalasi, cawan tungku aromaterapi yang telah diberikan air ditunggu sampai hangat baru diteteskan essens aromaterapi. Jarak antara tungku dengan
responden kurang 30 cm. Setelah tercium wangi aromaterapi, pasien diminta relaks dan menghirup wangi aromaterapi selama 10 menit. Responden dikondisikan dalam
ruangan dengan ukuran antara 10-16 m2 dan tidak banyak ventilasi udara.
• C : Sesuai hasil penelitian Stea Susana menunjukkan bahwa terapi esensial minyak lavender berpengaruh secara positif terhadap kecemasan insomnia dan
mengontrol rasa sakit
• O : Hasil penelitian menunjukkan ada penurunan nyeri sebelum dan setelah pemberian aromaterapi lavender secara inhalasi (Z=-3,77) dengan p-value 0,001.
Aromaterapi lavender dapat menjadi alternatif terapi komplementer untuk menurunkan nyeri pada ibu post partum akan tetapi diperlukan penelitian lebih
lanjut dengan responden yang lebih banyak.
PENELITIAN 3
• Widayani, W. (2017). Aromaterapi Lavender dapat Menurunkan Intensitas Nyeri Perineum pada Ibu Post Partum. Jurnal Ners dan
Kebidanan Indonesia, 4(3), 123-128.
• P : Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian quasi experiment dengan rancangan one group pre dan post test. Tempat penelitian adalah Bidan
Praktik Mandiri (BPM) yang ada di wilayah Kota Bandung. Penelitian dilakukan mulai dari Bulan Mei sampai September 2015, dengan jumlah sampel 28
orang. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan non probability sampling berupa teknik consecutive sampling yaitu dengan memilih
sampel yang memenuhi kriteria penelitian sampai kurun waktu tertentu sehingga jumlah sampel terpenuhi. Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah ibu post
partum hari ke 1, ibu post partum yang melahirkan normal (pervaginam) dan mengalami rupture derajat 2, ibu post partum yang mengalami luka jahitan
perineum. Sedangkan kriteria eksklusinya yaitu ibu post partum yang melahirkan dengan tindakan operasi atau vakum, ibu post partum yang mengalami
vaginitis, hematoma dan abses di perineum, ibu post partum yang memiliki riwayat alergi obat, ibu post partum yang memiliki penyakit asma.
• I : Intervensi dilakukan setelah 2 jam dilakukan penjahitan perineum. Setelah mengisi kuesioner pretest, reponden diberikan intervensi aromaterapi lavender
inhalasi dalam kurun waktu menit ke 10, 30 dan 60, aromaterapi diberikan selama 10 menit. Kemudian dilakukan posttest seiring dengan observasi masa nifas 2
jam, dengan cara memeriksa luka jahitan perineum menggunakan pinset anatomis. Saat diperiksa luka jahitan, peneliti melihat reaksi wajah responden.
• Instrumen yang digunakan yaitu Visual Analogue Scala (VAS) dengan skala nyeri 0-10, dengan batasan kategori nyeri diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia, yaitu tidak nyeri
(0); nyeri ringan (1-3); rasa nyeri seperti rasa gatal, rasa tersetrum, melilit, terpukul, perih, nyut-nyutan, kram; nyeri sedang (4-7); rasa nyeri seperti nyut-nyutan/ kram; nyeri
berat (8-9): sangat nyeri, sulit bergerak tapi masih terkontrol; dan nyeri sangat berat (10): sangat nyeri, sulit bergerak sampai tidak terkontrol seperti menangis, menjerit.
• Bahan yang digunakan adalah uap minyak lavender dengan konsentrasi 100%, diberikan 4-5 tetes dilarutkan dalam 200 ml air, diberikan secara inhalasi melalui vaporizer
atau alat listrik. Sebelum inhalasi, cawan tungku aromaterapi yang telah diberikan air ditunggu sampai hangat baru diteteskan essens aromaterapi. Jarak antara tungku dengan
responden kurang 30 cm. Setelah tercium wangi aromaterapi, pasien diminta relaks dan menghirup wangi aromaterapi selama 10 menit. Responden dikondisikan dalam
ruangan dengan ukuran antara 10-16 m2 dan tidak banyak ventilasi udara.
• C : Sesuai hasil penelitian Stea Susana menunjukkan bahwa terapi esensial minyak lavender berpengaruh secara positif terhadap kecemasan insomnia dan
mengontrol rasa sakit
• O : Hasil penelitian menunjukkan ada penurunan nyeri sebelum dan setelah pemberian aromaterapi lavender secara inhalasi (Z=-3,77) dengan p-value 0,001.
Aromaterapi lavender dapat menjadi alternatif terapi komplementer untuk menurunkan nyeri pada ibu post partum akan tetapi diperlukan penelitian lebih
lanjut dengan responden yang lebih banyak.
• TERIMAKASIH