1.
Melisa Fitri (21010082)
2. Munalisa (21010081)
3. Eka Diyana (21010071)
4. Nadia Safhira (21010087)
5. Nanda Dewi (21010090)
Definisi Sindrom Ovarium Polikistik
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah kumpulan
gejala yang menyerang indung telur (ovarium) dan
proses pelepasan sel telur (ovulasi). Penderita PCOS
memiliki tiga hal di dalam tubuhnya, yaitu
- Banyak kista pada ovarium
- Kadar hormon laki-laki lebih tinggi
- Siklus menstruasi yang tidak reguler atau bolong-
bolong
Banyak kista yang timbul pada ovarium sebenarnya
adalah folikel yang mengandung sel telur yang belum
matang. Sel-sel telur tersebut tidak pernah menjadi
matang sehingga tidak merangsang ovulasi.
Penderita sindrom ovarium polikistik mengalami
ketidakseimbangan hormon karena memiliki kadar
hormon pria lebih tinggi dari normalnya. Hal ini
menyebabkan wanita tidak mengalami menstruasi
dan sulit untuk hamil atau bahkan infertilitas.
Faktor Penyebab Sindrom Ovarium Polikistik
Sebenarnya, penyebab pasti kondisi ini belum diketahui. Namun, terdapat teori
beberapa faktor yang mungkin menyebabkan PCOS, yakni:
• Genetik
Penyakit sindrom ovarium polikistik terjadi di dalam keluarga. Banyak gen
yang memengaruhi kondisi ini.
• Resistensi Insulin
Hampir 70 persen penderita PCOS mengalami resistensi insulin. Hal ini
membuat tubuh memproduksi lebih banyak insulin. Akibatnya, ovarium juga
memproduksi hormon laki-laki lebih banyak. Orang yang obesitas biasanya juga
mengalami resistensi insulin.
• Peradangan
Penderita PCOS biasanya memiliki kadar peradangan yang tinggi. Peradangan
juga membuat produksi hormon laki-laki meningkat. Kondisi ini mencegah
ovarium untuk membuat hormon dan memproduksi sel telur secara normal.
Faktor Resiko Sindrom Ovarium Polikistik
• Kelebihan Insulin. Insulin adalah hormon yang
diproduksi di pankreas yang memungkinkan sel untuk
menggunakan gula yang merupakan pasokan energi
utama tubuh. Bila sel-sel menjadi resistensi terhadap
aksi insulin, maka kadar gula darah dapat naik dan
tubuh mungkin menghasilkan lebih banyak insulin.
Kelebihan insulin ini dapat meningkatkan produksi
androgen yang menyebabkan kesulitan ovulasi.
• Memiliki Androgen Berlebih. Wanita dengan PCOS juga
biasanya memiliki indung telur yang menghasilkan androgen
dalam kadar tinggi yang tidak normal. Androgen adalah
hormon yang mengendalikan perkembangan fitur-fitur
maskulin, seperti pola kebotakan pada laki-laki. Hormon
androgen yang diproduksi lebih banyak dari kadar normal
dapat menyebabkan hirsutisme (pertumbuhan rambut tidak
normal) dan jerawat pada wanita. Selain itu, wanita juga tidak
dapat melepaskan ovum dari ovarium setiap menstruasi.
• Faktor Genetik. Penelitian menunjukkan bahwa gen
tertentu mungkin terkait dengan terjadinya PCOS. Faktor
genetik ini dikaitkan dengan tingginya kadar pada wanita
pengidap PCOS.
• Mengalami Peradangan Tingkat Rendah. Penelitian telah
menunjukkan bahwa wanita dengan PCOS memiliki jenis
peradangan tingkat rendah yang merangsang ovarium
polikistik untuk menghasilkan androgen yang dapat
menyebabkan masalah jantung dan pembuluh darah.
Pengobatan Farmakologi Dan Non Farmakologi
• Kondisi PCOS dapat ditangani dengan melakukan beberapa
terapi farmakologi (dengan obat-obatan), yang ditunjang
dengan adanya terapi non-farmakologi untuk mengontrol
beberapa faktor risiko PCOS. Hal tersebut dilakukan dengan
rutin berolahraga untuk mencegah obesitas serta
mengonsumsi makanan yang sehat. Hal ini ditujukan untuk
mencegah adanya masalah kesehatan lain, seperti diabetes dan
kesehatan jantung yang memperparah kondisi PCOS.
• Terapi farmakologi ditujukan untuk mengontrol hormon
reproduksi, kadar insulin, atau masalah sindrom metabolik
lainnya. Terapi pengobatan PCOS sering kali dilakukan untuk
memperbaiki siklus menstruasi dan fertilitas.
Beberapa terapi yang diberikan antara lain:
• Kombinasi hormon estrogen dan progestin dalam sediaan
pil KB, vaginal rings, atau sediaan patches (transdermal)
• Terapi hormonal progestin tunggal
• Pemberian androgen-lowering spironolactone yang
merupakan diuretik
• Mengonsumsi metformin
• Selain pengobatan untuk PCOS, pasien juga sering
diberikan obat anti jerawat
Pencegahan Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
• Rutin melakukan olahraga untuk mencegah terjadinya obesitas.
• Mengonsumsi makanan yang sehat, seperti memperbanyak
konsumsi buah dan sayur.
• Tidak merokok. Wanita yang merokok memiliki level hormon
androgen lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak merokok.
Hal tersebut merupakan pemicu kondisi PCOS.
• Obesitas. Wanita perlu menurunkan berat badan untuk
membantu penyeimbangan hormon dan regulasi siklus
menstruasi
Kesimpulan
• PCOS harus dipertimbangkan pada gadis remaja dengan keluhan utama
hirsutisme, pola menstruasi yang tidak teratur, obesitas, acanthosis nigricans,
jerawat yang tidak sembuh dengan pengobatan dan kerontokan rambut
kepala. PCOS terutama ditandai oleh disfungsi ovulasi dan hiperandrogenisme.
Diagnosis PCOS memiliki dampak seumur hidup dengan peningkatan risiko
infertilitas, sindroma metabolic, diabetes melitus tipe 2 dan implikasi
kesehatan lainnya termasuk kemungkinan penyakit kardiovaskuler dan
karsinoma endometrium.
• Pengobatan untuk PCOS pada usia remaja terutama bersifat simptomatik dan
diarahkan pada gejala klinis yang utama, seperti perdarahan uterus abnormal
(ketidakteraturan menstruasi atau perdarahan berlebihan), hiperandrogenisme
kulit terutama hirsutisme dan jerawat persisten, obesitas dan resistensi insulin.
Modifikasi gaya hidup merupakan salah satu usaha atau cara yang relative
sederhana dan mudah untuk dilakukan oleh pasien remaja dengan PCOS,
sehingga dapat membantu mengurangi gejala penyakit terkait PCOS.
TERIMAKASIH