100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
85 tayangan46 halaman

Strategi Pemecahan Masalah Efektif

Dokumen tersebut membahas tentang pemecahan masalah, dimulai dari pemahaman masalah, strategi pemecahan masalah, dan faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah. Dijelaskan bahwa pemahaman masalah merupakan langkah awal yang penting dengan cara mewakili masalah secara tepat.

Diunggah oleh

nikmatul khoeriyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
85 tayangan46 halaman

Strategi Pemecahan Masalah Efektif

Dokumen tersebut membahas tentang pemecahan masalah, dimulai dari pemahaman masalah, strategi pemecahan masalah, dan faktor yang mempengaruhi pemecahan masalah. Dijelaskan bahwa pemahaman masalah merupakan langkah awal yang penting dengan cara mewakili masalah secara tepat.

Diunggah oleh

nikmatul khoeriyah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Problem Solving

Pemecahan
Masalah
[Link]

Teori Belajar dan Psikologi Kognitif


Nikmatul Khoiriyah - 0403521012
Ratih Windyaningsiwi -
0403521014
Pendidikan Fisika, S2-Genap 2021/2022
[Link]
The talking points.
1. Understanding the Problem

2. Problem-Solving Strategies

3. Factors Influincing Problem Sloving


[Link]
Introduction Pemecahan masalah memanga tidak terelakkan dari
kehidupan kita sehari-hari. Di dalam pekerjaanpun
memerlukan pemecahan masalah. Ketika
Setiap hari, kita memecahkan lusinan masalah.
memanfaatkan masalah ketika kita berkeinginan
Mungkin Anda ingin mengirim email kepada seorang siswa
mencapai tujuan tertentu. Namun tujuan tertentu itu
di kelas psikologi sosial Anda, tetapi Anda tidak tahu nama
tidak dapat di peroleh secara mudah. Kita berhadapan
atau alamat emailnya. Mungkin Anda mulai memecahkan
dengan masalah,bila terjadi kesenjangan antara apa
masalah mencoba mengatur sumber daya Anda untuk
yang ada saat ini dengan apa yang kita inginkan dan
makalah tinjauan literatur dalam kursus psikologi kognitif
kita tidak tahu bagaimana cara menjembatani
Anda.
kesenjangan tersebut.
Mungkin Anda bermain catur komputer atau mengerjakan
teka-teki Sudoku, atau Anda mencoba membantu teman yang
sedang berjuang dengan masalah pribadi
[Link]
Did you know?
Setiap masalah mengandung tiga komponen:
(1) keadaan awal - Keadaan awal menggambarkan situasi pada awal masalah,
Contoh : Saya harus menghubungi Nikmah untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Psikologi Kognitif.
Sehingga saya harus menghubunginya, namun saya tidak memliki nomor telepon, email atau yang lainnya.
(2) keadaan tujuan, akan berlangsung bila telah terjadi pemecahan masalah,
Status tujuan tercapai ketika Anda menyelesaikan masalah, misalnya saya akan mengubungi nikmah besok di
kelas mata kuliah lain misalnya Filsafat Pendidikan.
(3) Hambatan menggambarkan batasan yang membuat sulit untuk melanjutkan dari keadaan awal ke tujuan.
Keesokan harinya, ternyata Nikmah tidak hadir di kelas tersebut karena ada kepentingan lain.
[Link]
Understanding the Problem
Paying Attention to Important Information
Methods of Representing the Problem
Situated Cognition: The Importance of Context
[Link]
Memahami Permasalahan
Berapa tahun yang lalu, pengusaha gedung pencakar langit di new
york menghadapi permasalahan. Orang-orang yang tinggal di
gedung tersebut mengeluhkan lambatnya laju elevatir. Kendati
sejumlah konsultan telah didatangkan, namun keluhan semakain
bertambah. Lalu di putuskan untuk mengganti elevator baru.
sebelum rekonstruksi dimulai. Seseorang memutuskan untuk
memasang kaca di lobby dekat elevator setelah itu, keluhanpun
terhenti sebetulnya, orang yang telah melakukan pemecahan
masalah itu tidak memahami permasalahan yang sesungguhnya.
Permasalahan sebenrnya bukan terletak pada kecepatan elevator.
Melainkan rasa bosan menunggu datangnya elevator.
[Link]
Apakah yang dimaksud dengan memahami permasalahan?
● Menurut Greeno (1977). Memahami itu mencakup membangun representasi internal. Misal bila kita
memahami suatu kalimat, maka kita akan menciptakan representasi internal atau pola di dalam kepala
dimana konsep itu saling dihubungkan satu dengan lainnya. Untuk bisa menciptakan pola di kepala itu,
maka diperlukan latar belakang pengetahuan, seperti arti dari setiap kata yang ada di dalam kalimat
tersebut.
● Ada 3 alat untuk bisa memahami, yaitu koheren, kesesuaian, dan hubungan dengan latar belakang
pengetahuan.
[Link]
Metode Mewakili Masalah
Untuk memahami suatu masalah, kita perlu memutuskan informasi mana yang paling relevan dengan solusi
masalah (Informasi penting) dan kemudian memperhatikan informasi tersebut. Perhatikan, kemudian, bahwa
satu tugas kognitif—pemecahan masalah—bergantung pada aktivitas kognitif lain seperti perhatian, memori,
dan pengambilan keputusan.

 Perhatian penting dalam memahami masalah karena perhatian terbatas, dan pikiran yang
bersaing dapat menghasilkan perhatian yang terbagi(Bruning et al., 1999).

 Tantangan besar lainnya dalam memahami suatu masalah adalah fokus pada
bagian yang tepat (Dunbar, 1998).

Sehingga, perhatian adalah komponen awal


yang diperlukan untuk memahami suatu
[Link]

masalah
Metode Merepresentasikan Masalah
Segera setelah seseorang memutuskan informasi mana yang penting. Langkah berikutnya adalah menemukan
cara terbaik untuk merepresentasikan permasalahan.

Jika Anda memilih metode yang tidak tepat, Anda mungkin tidak mencapai solusi yang efektif untuk masalah
tersebut (Robertson, 2001). Jika Anda dapat menemukan representasi yang efektif, Anda dapat mengatur
informasi secara efisien dan mengurangi ketegangan pada memori kerja Anda yang [Link] Anda
akan cenderung memilih strategi yang berguna (Leighton & Sternberg, 2003;Pretz dkk., 2003; Ward & Morris,
2005)

Representasi Anda dari masalah harus menunjukkan informasi penting yang Anda butuhkan untuk
menyelesaikannya.

Beberapa metode yang paling efektif untuk mewakili masalah termasuk simbol, matriks, diagram,
[Link]

dan gambar visual.


Simbol.
Terkadang cara paling efektif untuk merepresentasikan masalah abstrak
adalah dengan menggunakan simbol, seperti aljabar yang dipelajari siswa di
sekolah menengah (Mayer, 2004)
Contoh:
Selesaikan masalah berikut: Mary 10 tahun lebih muda dari dua kali usia Susan. Lima tahun dari sekarang, Mary akan berusia 8 tahun lebih tua
dari usia Susan saat [Link] umur Maria dan Susan?

Cara yang umum untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan menggunakan simbol M untuk merepresentasikan umur
Mary dan Simbol S untuk merepresentasikan umur Susan. Lalu setiap kalimat bisa diubah sebagai berikut:
M= 2s – 10 = Umur Mery = 2 Umur Susan – 10
Kalimat kedua diubah menjadi:
M + 5 = S + 5 +8 = Mery + 5 + L = Susan + S + 10
Lalu subtitusikan M ke dalam persamaan kedua:
2s – 10 + 5 = S + 5 + 8 = 2 Susan - 10 + 5 = S +5 + 8
Kemudian didapatkan: S = 18 = 1 Susan = 18 Subtitusikan untuk S pada persamaan pertama: M = 26 = mery =25
Terakhir kita bisa mengubah kembali simbol-simbol tadi ke dalam kalimat: Susan 18 tahun dan Mery 26 tahun. Tentu saja
setelah belajar aljabar, permasalah
[Link]
Matriks
Anda dapat memecahkan beberapa masalah secara efektif dengan menggunakan matriks, yang
merupakan bagan yang menunjukkan semua kemungkinan kombinasi item. Matriks adalah cara terbaik
untuk melacak item, terutama jika masalahnya kompleks dan jika informasi yang relevan bersifat
kategoris (Halpern, 2003).
Contoh :
Baca informasi berikut, isikan informasi pada matriks, dan kemudianmenjawab pertanyaan, “Penyakit apa yang diderita Ms. Anderson, dan di ruangan
apa?

Lima orang berada di rumah sakit. Setiap orang hanya memiliki satu penyakit, dan masing-masing memilikipenyakit yang berbeda. Setiap orang
menempati ruangan terpisah; nomor kamar adalah101 hingga 105

[Link] dengan asma ada di Kamar 101.


[Link] Lopez memiliki penyakit jantung.
[Link] Green ada di Kamar 105.
[Link]. Smith menderita TBC.
[Link] dengan mononukleosis ada di Kamar 104.
[Link] Thomas ada di Kamar 101.
[Link] Smith ada di Kamar 102.
[Link] satu pasien, selain Ms. Anderson, memiliki penyakit kandung emped
[Link]

Jawabannya adalah Ms Anderson memiliki mononukleosis, dan dia berada di Kamar 104.
Diagram
Diagram dapat berguna ketika Anda ingin mewakili sejumlah besar informasi.
Diagram dapat mewakili informasi yang rumit dalam bentuk yang jelas dan
konkret, sehingga Anda memiliki lebih banyak ruang dalam memori kerja untuk
aktivitas pemecahan masalah lainnya(Halpern, 2003; Hurley & Novick, 2006).
Diagram juga dapat memberikan keuntungan tambahan. Misalnya, Grant dan
Spivey(2003) menemukan bahwa diagram menarik gerakan mata orang ke area
yang relevan daridiagram, membantu mereka memecahkan masalah lebih
[Link] terkadang merupakan jenis diagram yang paling efektif untuk
mewakili visualinformasi selama pemecahan masalah.

Gambar Visual
Orang lain barangkali lebih menyukai untuk menyelesaikan masalah Biarawan
ini secara Visual.
[Link]
Problem-Solving Strategies
The Analogy Approach
The Means-Ends Heuristic
The Hill-Climbing Heuristic
[Link]

Individual Differences: Cross-Cultural Comparisons in Problem-Solving Strategies


Pendekatan Analogi
● Setiap hari Anda menggunakan analogi untuk memecahkan masalah.
● Pertama-tama mari kita pertimbangkan struktur umum dari pendekatan analogi. Kemudian kita akan
melihat pada beberapa faktor yang dapat mendorong pemecah masalah untuk menggunakan pendekatan
analogi paling efektif.
[Link]
● Struktur Pendekatan Analogi
Pada bagian memahami masalah, kami menekankan bahwa pemecah masalah harus mengupas informasi
yang tidak relevan dan dangkal untuk mencapai inti masalah (Whitten & Graesser, 2003). Para peneliti
menggunakan istilah isomorfis masalah untuk merujuk pada serangkaian masalah yang memiliki struktur
dan solusi yang sama di bawahnya tetapi detail spesifik yang [Link] utama untuk
menggunakan pendekatan analogi, bagaimanapun, adalah bahwa orang cenderung lebih fokus pada isi
masalah yang dangkal daripada abstraknya, yang [Link] (Bassok, 2003; Whitten &
Graesser, 2003)
[Link]
● Faktor-faktor yang Mendorong Penggunaan Analogi yang Tepat.

1. Orang juga lebih cenderung menggunakan strategi analogi dengan benar ketika mereka
mencoba beberapa masalah yang serupa secara struktural sebelum mereka mengatasi
masalah target

2. Siswa lebih banyak memecahkan masalah statistikakurat jika mereka telah dilatih untuk
mengurutkan masalah ke dalam kategori berdasarkan: kesamaan structural
[Link]
Heuristik Means-Ends
Bila kita menggunakan the means-endsheurastic, maka kita akan membagi permasalahan kedalam sejumlah sub
masalah. Lalu kita mulai menyelesaikan setiap sub masalah dengan cara memantau perbedaan dengan cara
memantau perbedaan antara the orioginal state dan the goal state,

Setiap hari kita semua memecahkan masalah dengan menggunakan heruristik Means-Ends. Misalnya, seorang siswa bertanyakepada
temannya “Bisakah saya menggunakan staplermu?” Setelah temannya menyerahkan stapler, dia segera memasukkan tepi bawah
roknya dan dengan cekatan menempelkan ujungnya. Saat dia menjelaskan dengan cara yang lebih santai pada hari itu, dia
dihadapkan pada masalah: Pada pukul 11:50, dia menyadari bahwa ujung roknya terlepas, dan dia dijadwalkan untuk memberikan
[Link] dalam 10 menit. Dengan menggunakan mean-ends heuristic, dia membagi masalah menjadi dua submasalah: (1)
mengidentifikasi beberapa objek yang dapat memperbaiki ujungnya dan (2) menemukan objek itu.

Bila kita menggunakan mends-ends analysis untuk memecahkan masalah. Kita bisa
[Link]

memulainya dari depan ke belakang atau sebaliknya. Artinya, kita bisa menyelesaikan sub
masalah kedua terlebih dahulu.
Heuristik Means-Ends
Riset the Means-Ends Heurastic. Riset oleh Greno (1974) membuktikan bahwa manusia akan
mengorganisasikan permasalahan ke dalam sub masalah, akan memperlihatkan bahwa seseorang beristirahat pada titik
tertentu dari suatu masalah dan merencanakan strategi untuk gerakan berikutnya.

Simulasi komputer. Salah satu contoh simulasi yang paling banyak dibahas dirancang untuk menjelaskan cara manusia
menggunakan analisis cara-berakhir dalam memecahkan masalah (Baron, 1994; Stillings et al., 1995).

Pada tahun 1972, Newell dan Simon mengembangkan simulasi komputer klasik yang disebut
Pemecah Masalah Umum. General Problem Solver (GPS) adalah program yang strategi
dasarnya adalah mean-ends analysis. Tujuan dari GPS adalah untuk meniru proses yang
digunakan manusia normal ketika mereka mengatasi masalah ini (Lovett, 2002; Simon,
1996).
[Link]
Heuristik Hill-Clambing

Salah satu strategi pemecahan masalah yang paling mudah disebut heuristik hill-climbing. Untuk
memahami heuristik ini, bayangkan bahwa tujuan Anda adalah mengikuti jalur menuju ke puncak
sebuah bukit. Tepat di depan, Anda melihat pertigaan di jalan. Sayangnya, Anda tidak bisa melihat
jauh ke kejauhan di kedua jalur tersebut. Karena tujuan Anda mendaki ke atas, Anda memilih jalur
yang memiliki tanjakan paling curam. Demikian pula, ketika Anda mencapai titik pilihan Ketika
menggunakan heuristik mendaki bukit, Anda cukup memilih alternatif yang tampaknya paling
langsung mengarah ke tujuan Anda (Lovett, 2002; Ward & Morris, 2005).
[Link]
Heuristik Hill-Clambing
Kelemahan terbesar dari heuristik ini adalah bahwa pemecah masalah harus secara konsisten memilihalternatif
yang tampaknya paling langsung mengarah ke tujuan. Dalam melakukannya, mereka mungkin gagaluntuk
memilih alternatif yang kurang langsung, yang mungkin memiliki manfaat jangka panjang yang lebih besar.
Untukmisalnya, jalan setapak di lereng bukit yang tampaknya mengarah ke atas dapat dengan cepat berakhir
dengan [Link] mendaki bukit tentu saja tidak menjamin bahwa Anda akan berakhir di puncakbukit
(Robertson, 2001).

Poin utama yang harus diingat tentang heuristik mendaki bukit adalah bahwa hal itu mendorong
tujuan jangka pendek, daripada solusi jangka panjang.
[Link]
Perbedaan Individu: Perbandingan Lintas
Budaya dalam Strategi Pemecahan Masalah

Pada chapter ini, fitur perbedaan individu yang dimaksud adalah mengkaji hubungan antara
budaya dan strategi pemecahan masalah.

Studi oleh C. Dominik Güss dan Brian Wiley (2007), yang diterbitkan dalam Journal of Cognition and Culture. Güss
dan Wiley menemukan 326 mahasiswa diAmerika Serikat, Brasil, dan India. Sebagian besar siswa berusia awal 20-an.
Para peneliti meminta siswa untuk mengisi kuesioner yang menilai preferensi mereka dalam strategi yang digunakan
untuk memecahkan masalah.
[Link]
Perbedaan Individu: Perbandingan Lintas
Budaya dalam Strategi Pemecahan Masalah

Hasil riset diatas, adalah sebagai berikut


[Link]
Factors That Influence Problem
Solving 1. Expertise
2. Mental Set
3. Functional Fixedness
[Link]

4. In Depth: Stereotypes and Problem Solving


5. Insight Versus Noninsight Problems
Bottom-up processing : menekankan informasi tentang rangsangan, seperti yang
terdaftar pada reseptor sensorik kita
Top-down processing : menekankan konsep, harapan, dan ingatan yang kita peroleh
dari pengalaman masa lalu.

Kedua jenis pemrosesan tsb membantu memahami bagaimana beberapa faktor


penting dapat mempengaruhi kemampuan untuk memecahkan suatu masalah.
Pemecahan masalah yang efektif membutuhkan perpaduan yang ideal antara kedua
jenis pemrosesan tsb
[Link]
1.
Expertise/Keahlian
Ahli memiliki top-down processing yang
memungkinkan mereka untuk bekerja dengan Bagaimana ahli berbeda dari pemula selama
baik pada berbagai komponen pemecahan beberapa fase pemecahan masalah?
masalah di bidang keahlian mereka.
Kita akan mengawali dengan beberapa keuntungan
yang beroperasi pada fase awal pemecahan masalah,
Psikolog kognitif menentukan bahwa kemudian mengeksplorasi perbedaan dalam strategi
dibutuhkan setidaknya sepuluh tahun latihan pemecahan masalah, dan akhirnya
intensif untuk mendapatkan keahlian di mempertimbangkan kemampuan yang lebih umum,
bidang tertentu seperti metakognisi
[Link]
a. Dasar
Pengetahuan
Pemula dan ahli berbeda secara substansial dalam basis pengetahuan
mereka, atau skema

Contoh : pemula menyelesaikan permasalahan fisika dengan kurangnya


pengetahuan penting yang dimiliki tentang prinsip-prinsip fisika yang ada

Kita memerlukan skema yang sesuai untuk memahami topik dengan


benar. Ahli dapat berkinerja sangat baik jika mereka telah mengikuti
pelatihan dalam berbagai bidang yang relevan
[Link]
b. Memori
Ahli berbeda dari pemula dalam hal ingatan mereka untuk informasi
yang terkait dengan bidang keahlian mereka. Keterampilan memori para
ahli cenderung sangat spesifik.

Contoh : pemain catur ahli memiliki memori yang jauh lebih baik
daripada pemula untuk berbagai posisi catur. Menurut satu perkiraan,
para ahli catur dapat mengingat tentang 50.000 "potongan", atau
pengaturan bidak catur yang sudah dikenal. Anehnya, ahli catur hanya
sedikit lebih baik daripada pemula dalam mengingat pengaturan acak
dari bidak catur. Dengan kata lain, ingatan para ahli secara substansial
lebih baik hanya jika—pengaturan catur cocok dengan skema tertentu
[Link]
c. Strategi Pemecahan
Masalah
Ketika para ahli menghadapi masalah baru dalam bidang keahlian,
mereka lebih mungkin daripada pemula untuk menggunakan means-ends
heuristic secara efektif .

Artinya, mereka membagi masalah menjadi beberapa submasalah, yang


mereka pecahkan dalam urutan tertentu.

Para ahli dan pemula juga berbeda dalam cara mereka menggunakan
pendekatan analogi.

Ketika memecahkan masalah fisika, para ahli lebih mungkin untuk


menekankan kesamaan struktural antara masalah. Sebaliknya, pemula
[Link]

lebih cenderung terganggu oleh kesamaan permukaan


d. Kecepatan dan
Ketepatan
Para ahli jauh lebih cepat daripada pemula, dan mereka memecahkan
masalah dengan sangat akurat. Operasi mereka menjadi lebih otomatis,
dan situasi stimulus tertentu juga dengan cepat memicu respon. Pada
beberapa tugas, para ahli dapat memecahkan masalah lebih cepat karena
mereka menggunakan pemrosesan paralel, daripada pemrosesan serial

Para ahli sering memecahkan anagram dalam waktu kurang dari 2 detik.
Para ahli ini biasanya memecahkan anagram dengan sangat cepat
sehingga mereka pasti telah mempertimbangkan beberapa solusi
alternatif secara bersamaan
[Link]
e. Metakognitif
Para ahli lebih baik daripada pemula dalam memantau pemecahan masalah mereka.

Misalnya, para ahli lebih baik dalam menilai kesulitan masalah, dan mereka lebih
terampil dalam mengalokasikan waktu mereka secara tepat ketika memecahkan
masalah. Selain itu, mereka dapat pulih dengan relatif cepat ketika mereka menyadari
bahwa mereka telah melakukan kesalahan

Para ahli pasti lebih terampil dalam berbagai fase pemecahan masalah dan dalam
memantau kemajuan mereka saat mengerjakan suatu masalah. Namun, para ahli
berkinerja buruk pada satu tugas yang terkait dengan metakognisi. Secara khusus,
para ahli meremehkan jumlah waktu yang dibutuhkan pemula untuk memecahkan
masalah di bidang spesialisasi ahli. Sebaliknya, para pemula lebih akurat dalam
menyadari bahwa memecahkan masalah akan sulit
[Link]
2. Ketetapan/perangkat
Mental
Ketika seseorang memiliki ketetapan
mental, mereka akan memecahkan masalah
sesuai dengan cara yang mereka gunakan
Ahli sebenarnya memanfaatkan top-down processing
dengan tepat. Mereka menggunakan pengetahuan
sebelumnya walaupun sebenarnya bisa mereka sebelumnya untuk memecahkan masalah
diselesaikan dengan cara berbeda dan lebih dengan cepat dan tepat. Sebaliknya, baik perangkat
mudah mental maupun keteguhan fungsional, mewakili top-
down processing yang terlalu aktif.

Jika seseorang memiliki ketatapn mental,


dia akan menutup pikirannya sebelum
waktunya dan berhenti berpikir tentang Dalam kedua kasus ini, seseorang sangat
bagaimana memecahkan masalah dengan dipandu oleh pengalaman mereka
efektif sebelumnya bahwa mereka gagal untuk
mempertimbangkan solusi yang lebih
[Link]

efektif untuk masalah mereka.


Ketika kita memiliki mindset yang tetap, kita percaya bahwa kecerdasan dan
bakat lainnya, dan tidak ada usaha lain yang membantu kita untuk menjadi
lebih baik

Ketika kita memiliki mindset yang berkembang, kita percaya bahwa kita bisa
mengembangkan kecerdasan dan bakat lainnya dan kita menantang diri kita
untuk menjadi lebih baik
[Link]
3. Ketetapan Fungsional
Set mental mengacu pada strategi pemecahan
masalah, sedangkan keteguhan fungsional Dalam kehidupan kita sehari-hari,
mengacu pada cara berpikir tentang objek kebanyakan dari kita memiliki akses ke
fisik. berbagai alat dan objek, jadi keteguhan
fungsional tidak menciptakan cacat yang
signifikan
Secara khusus, keteguhan fungsional berarti
bahwa fungsi atau kegunaan yang kita Keteguhan fungsional bahkan dapat
tetapkan pada suatu objek cenderung tetap ditunjukkan dalam budaya dengan sedikit
atau stabil. Akibatnya, seseorang gagal pengalaman menggunakan benda-benda
memikirkan fitur objek yang mungkin yang diproduksi
berguna dalam membantu memecahkan
masalah
[Link]
Secara umum merupakan strategi yang bijaksana untuk menggunakan pengetahuan yang
kita pelajari dalam memecahkan masalah sebelumnya untuk memecahkan masalah saat
ini.

Jika ide lama bekerja dengan baik, maka bisa terus digunakan. Namun, dikasus set
mental, kita menerapkan strategi yang diperoleh dari pengalaman masa lalu terlalu kaku
dan gagal untuk melihat solusi yang lebih efisien.

Demikian pula, benda-benda di dunia biasanya memiliki fungsi tetap. Strategi


menggunakan satu objek untuk satu tugas dan objek kedua untuk tugas yang berbeda
yaitu sesuai.
[Link]
3. Stereotip
Top-down processing dapat terlalu aktif karena stereotip yang memengaruhi
keyakinan tentang kemampuan diri sendiri.

Salah satu contohnya yaitu stereotip gender. Sebuah tipikal stereotip dimana
laki-laki lebih terampil daripada perempuan dalam memecahkan permasalahan
matematika. Stereotip gender Sebagian mungkin akurat, tetapi tidak berlaku
untuk setiap orang dari jenis kelamin tertentu. Misalnya, banyak wanita yang
mendapatkan skor lebih tinggi dibandingkan rata-rata skor laki-laki
[Link]
Sifat Ancaman Stereotip : Dua siswa SMA—Jennifer dan Matthew—akan memulai sesi
matematika dari Tes Penilaian Skolastik (SAT) untuk pertama kalinya. Keduanya adalah siswa
yang sangat baik, dengan rata-rata A dalam pelajaran matematika. Mereka tahu bahwa ujian tsb
akan menjadi ujian paling penting yang pernah mereka ambil, karena hasilnya bisa menentukan
perguruan tinggi mana yang akan mereka masuki. Kedua siswa tsb cemas, tetapi Jennifer
memiliki sumber kecemasan tambahan. Dia harus berjuang dengan stereotip populer bahwa,
karena dia perempuan, dia harus mendapat nilai lebih rendah daripada siswa laki-laki.
Kecemasan tambahan ini sebenarnya dapat menuntunnya untuk memecahkan masalah
matematika dengan kurang efektif dan mendapatkan skor yang relatif rendah untuk sesi
matematika pada SAT.
[Link]
Dalam contoh ini, Jennifer mengalami ancaman stereotip. Jika kita termasuk ke dalam
kelompok yang dihalangi oleh stereotip negatif—dan kita memikirkan keanggotaan kita
dalam kelompok itu—kinerja kita bisa terganggu

Penelitian terhadap Perempuan Asia-Amerika. Penelitian oleh Shih dkk (1999), di mana
semua peserta adalah perempuan Asia-Amerika. Di Amerika Utara, salah satu stereotipnya
adalah bahwa orang Amerika-Asia “pandai dalam matematika”, dibandingkan dengan
orang-orang dari kelompok etnis lain. Sebaliknya, seperti yang baru saja kita bahas,
stereotip yang lain adalah bahwa perempuan "buruk dalam matematika," dibandingkan
dengan laki-laki
[Link]
Shin dan rekan kerjanya (1999) membagi wanita Asia-Amerika menjadi tiga kondisi yang berbeda :
1. Kondisi penekanan etnis : Satu kelompok peserta diminta untuk menunjukkan etnis dan kemudian
menjawab beberapa pertanyaan tentang identitas etnis mereka. Kemudian mereka mengikuti tes
matematika yang menantang. Para perempuan ini menjawab 54% pertanyaan benar.
2. Kondisi kelompok control : Kelompok kedua peserta tidak menjawab pertanyaan apapun sebelumnya.
Mereka hanya mengikuti tes matematika yang menantang. Para perempuan ini menjawab 49%
pertanyaan dengan benar.
3. Kondisi penekanan gender: Kelompok peserta ketiga diminta untuk menunjukkan gender mereka dan
kemudian menjawab beberapa pertanyaan tentang identitas gender mereka. Kemudian mereka
mengikuti tes matematika yang menantang. Para perempuan ini menjawab hanya 43% dari pertanyaan
dengan benar
[Link]
Ketika perempuan Asia-Amerika diingatkan tentang etnis mereka, penampilan mereka relatif baik. Namun,
ketika perempuan Asia-Amerika diingatkan tentang gender mereka, mereka mungkin mengalami ancaman
stereotip, dan kemampuan memecahkan masalah mereka menolaknya.

Penelitian terhadap Perempuan Amerika-Eropa. Penelitian mempelajari sekelompok perempuan di


perguruan tinggi yang mengambil tes matematika yang sulit. Beberapa perempuan iberitahu bahwa mereka
akan mengikuti tes matematika yang bertujuan untuk menunjukkan perbedaan gender. Para perempuan ini
tampil secara signifikan lebih buruk daripada perempuan yang diberitahu bahwa tes matematika tidak
bertujuan untuk menunjukkan perbedaan gender.
[Link]
Hasilnya menunjukan bahwa kecemasan apa pun yang mungkin mereka rasakan bisa menjadi hasil dari
stereotip negatif ini, daripada kemampuan matematika mereka sendiri yang sebenarnya. Dalam kondisi ini,
perbedaan gender dalam nilai tes matematika sangat berkurang.
[Link]
Penjelasan Potensial . Mengapa ancaman stereotip sering menyebabkan kinerja yang lebih buruk?
Pertama. Ancaman stereotip menimbulkan keinginan yang menggebu atau gairah, hal tersebut berdasarkan
penelitian yang melaporkan peningkatan tekanan darah ketika orang mengalami ancaman stereotip. Gairah
tinggi cenderung mengganggu memori kerja, terutama pada tugas-tugas yang sulit
Kedua. Perempuan yang mengikuti tes matematika yang sulit mungkin bekerja keras untuk menekan
pemikiran bahwa mereka pasti berkinerja buruk Penekanan pikiran membutuhkan upaya besar, yang
mengurangi kapasitas memori kerja lebih jauh. Kita mungkin bertanya-tanya apakah perbedaan gender
muncul pada tes matematika dunia nyata, selain di laboratorium psikologi. Jawaban singkatnya untuk
pertanyaan ini adalah bahwa perempuan cenderung mendapatkan nilai lebih tinggi di kelas matematika, dan
kebanyakan tes matematika standar tidak menunjukkan perbedaan gender yang substansial
[Link]
Masalah Wawasan vs Non-wawasan
Saat kita memecahkan masalah wawasan, masalah awalnya tampaknya tidak mungkin
untuk dipecahkan, tetapi pendekatan alternatif tiba-tiba meledak ke dalam kesadaran
kita (kita segera menyadari bahwa solusi baru kita benar). Sebaliknya, ketika kita
bekerja pada masalah non-waawasan, kita memecahkan masalah secara bertahap,
menggunakan memori, keterampilan penalaran, dan serangkaian strategi rutin

Sifat Wawasan. Konsep wawasan sangat penting bagi Psikolog Gestalt. Psikolog Gestalt
menekankan kecenderungan organisasi, terutama dalam persepsi dan persepsi
penyelesaian masalah. Mereka berargumen bahwa bagian-bagian dari suatu masalah
pada awalnya mungkin tampak tidak berhubungan satu sama lain, tetapi kilasan
wawasan yang tiba-tiba dapat membuat bagian-bagian itu langsung cocok satu sama
[Link] solusi
[Link]
Masalah Wawasan vs Non-wawasan
Behavioris menolak konsep wawasan karena gagasan reorganisasi kognitif tiba-tiba
tidak sesuai dengan penekanan mereka pada perilaku yang dapat diamati. Terlebih lagi,
beberapa psikolog kontemporer lebih suka berpikir bahwa orang memecahkan masalah
secara bertahap dan teratur. Psikolog ini tidak nyaman dengan perubahan mendadak
yang disarankan oleh konsep wawasan.

Beberapa psikolog mendukung konsep wawasan, dan yang lain menolak konsep ini.
Menurut para psikolog yang menyukai konsep wawasan, orang-orang yang
mengerjakan masalah wawasan biasanya memiliki beberapa asumsi yang tidak tepat
ketika mereka mulai memecahkan masalah
[Link]
Masalah Wawasan vs Non-wawasan
Kita telah mengetahui bahwa top-down processing dapat mencegah seseorang dalam
memecahkan wawasan masalah. Sebaliknya, masalah non-wawasan—seperti masalah aljabar
—biasanya mendapat manfaat dari top-down procesing

Metakognisi Selama Pemecahan Masalah. Ketika kita sedang mengerjakan suatu masalah,
seberapa yakin kita bahwa kita berada di jalur yang benar? Metakognisi kita berbeda untuk
masalah non-wawasan dan wawasan. Secara khusus, kepercayaan masyarakat dibangun
secara bertahap untuk masalah yang tidak memerlukan wawasan,seperti masalah aljabar
standar sekolah menengah. Sebaliknya, ketika orang bekerja berdasarkan masalah wawasan,
mereka mengalami lompatan kepercayaan diri yang tiba-tiba ketika mereka mendekati
jawaban yang benar. Faktanya, peningkatan kepercayaan diri yang tiba-tiba dapat
digunakan untuk membedakan masalah wawasan dari masalah non-wawasan
[Link]
Thank you!
Do you have any questions?
[Link]

Anda mungkin juga menyukai