0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan19 halaman

Penyebab dan Penularan DBD pada Anak

Diunggah oleh

leny febriyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan19 halaman

Penyebab dan Penularan DBD pada Anak

Diunggah oleh

leny febriyani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penyakit

Demam Berdarah
Dengue

Kelompok 3
Penyebab / agen penyakit DBD

Penyebab Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan virus
dengue yang termasuk kelompok B Arthropod Borne Virus (Arboviroses) yang sekarang
dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae, dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu;
DEN-1, DEN2, DEN-3, DEN-4.
Vektor Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu nyamuk Aedes aegypti dewasa yang
berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan rata-rata nyamuk lain. Nyamuk ini
mempunyai dasar hitam dengan bintik- bintik putih pada bagian badan, kaki, dan sayapnya.
Nyamuk Aedes aegypti jantan mengisap cairan tumbuhan atau sari bunga untuk keperluan
hidupnya. Sedangkan nyamuk betina mengisap darah. Nyamuk betina ini lebih menyukai
darah manusia dari pada binatang.
Mekanisme Penularan DBD
- Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina,
Aedes albopictus dan Aedes scutellaris. Akan tetapi, nyamuk Aedes aegypti lebih banyak
berperan dalam penularan penyakit DBD. Karena nyamuk Aedes aegypti banyak
ditemukan di dalam rumah atau bangunan, dan tempat perindukannya juga lebih banyak
di dalam rumah. Sedangkan Aedes albopictus dan Aedes scutellaris hidup di kebun-
kebun.
- Virus dengue berada di dalam tubuh nyamuk Aedes aegypti pada suhu 30 0C. Nyamuk
Aedes dapat menularkan virus dengue kepada manusia, baik secara langsung (setelah
menggigit orang yang sedang dalam fase viremia), maupun secara tidak langsung, setelah
melewati masa inkubasi dalam tubuhnya selama 8-10 hari (extrinsic incubation period).
– Virus dengue yang terdapat dalam darah tubuh manusia (penderita) memerlukan waktu
antara 1-2 hari untuk menyelesaikan masa inkubasi sebelum terjadi demam dan pada
masa 4-7 hari hidup di darah manusia. Penyakit Demam Berdarah Dengue dapat
menyerang semua orang terutama anak-anak di bawah usia 15 tahun.
Faktor-Faktor Risiko

Faktor risiko yang berhubungan dengan Demam Berdarah Dengue lainnya menurut (Dardjito, Yuniarno, Wibowo,
DL, & Dwiyanti, 2008) yaitu:

– Umur

Menurut Sumarmo, pada awal terjadinya wabah di suatu negara distribusi umur memperlihatkan jumlah penderita
terbanyak dari golongan anak berumur kurang dari 15 tahun (86-95%). Namun pada wabah-wabah selanjutnya
jumlah penderita yang digolongkan dalam golongan umur dewasa muda meningkat, di Indonesia penderita DBD
terbanyak adalah anak dengan umur 5-11 tahun.

– Pengurasan tempat penampungan air.

– Tanaman hias. Salah satu jenis tempat perkembangbiakkan nyamuk Aedes aegypti yaitu tempat penampungan air
bukan untuk keperluan sehari-hari seperti: tempat minuman burung, vas bunga tanaman hias, dan barang-barang
bekas, seperti ban, kaleng, botol dan lain-lain.
– Tanaman sekitar rumah. Salah satu jenis tempat perkembangbiakkan nyamuk Aedes aegypti
yaitu tempat penampungan air alamiah seperti, lubang pohon, lubang batu, pelepah daun,
tempurung kelapa, potongan bambu dan Iain-lain.

– Pelihara burung. Salah satu jenis tempat perkembangbiakkan nyamuk Aedes aegypti yaitu
tempat penampungan air bukan untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minuman burung,
vas bunga tanaman hias, dan barang-barang bekas, seperti ban, kaleng, botol dan Iain-lain.

– Membersihkan halaman rumah secara rutin. Salah satu cara mencegah perkembangbiakkan
nyamuk Aedes aegypti adalah kebersihan halaman rumah dari sisa sampah barang-barang
bekas yang dapat menjadi tempat perindukkan nyamuk Aedes aegypti.
– Kebiasaan tidur siang. Waktu menggigit nyamuk Aedes aegypti lebih banyak pada siang hari
daripada malam hari, yaitu antara jam 08.00-12.00 dan jam 15.00-17.00 dan banyak menggigit di
dalam rumah daripada di luar rumah.

– Kebiasaan gantung pakaian. Menurut penelitian Widyana kebiasaan menggantung pakaian di dalam
rumah mempunyai risiko terkena penyakit DBD 4,8 kali daripada yang mempunyai kebiasaan tidak
menggantung pakaian.

– Kebiasaan menggunakan obat nyamuk. Metode perlindungan diri digunakan oleh individu atau
kelompok kecil pada masyarakat untuk melindungi diri mereka sendiri dari gigitan nyamuk dengan
cara mencegah antara tubuh manusia dengan nyamuk menggunakkan obat anti nyamuk.
Sedangkan faktor yang dianggap dapat memicu kejadian DBD adalah:
– Lingkungan. Perubahan suhu, kelembaban nisbi, dan curah hujan mengakibatkan nyamuk
lebih sering bertelur sehingga vektor penular penyakit bertambah dan virus dengue
berkembang lebih ganas. Siklus perkawinan dan pertumbuhan nyamuk dari telur menjadi
larva dan nyamuk dewasa akan dipersingkat sehingga jumlah populasi akan cepat sekali
naik. Keberadaan penampungan air artifisial atau kontainer seperti bak mandi, vas bunga,
drum, kaleng bekas, dan lain-lain akan memperbanyak tempat bertelur nyamuk.
– Perilaku. Kurangnya perhatian sebagian masyarakat terhadap kebersihan lingkungan
tempat tinggal, sehingga terjadi genangan air yang menyebabkan berkembangnya
nyamuk. Kurang baik perilaku masyarakat terhadap PSN (mengubur, menutup
penampungan air), urbanisasi yang cepat, transportasi yang makin baik, mobilitas
manusia antar daerah, kurangnya kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan, dan
kebiasaan berada di dalam rumah pada waktu siang hari.
Upaya Pengendalian DBD

a. Dengan Cara Biologis

– Upaya pengendalian secara biologis yaitu dengan memanfaatkan hewan atau tumbuhan.
Cara yang dianggap paling efektif adalah dengan memelihara ikan cupang yang
dimasukkan kedalam kolam. Ikan cupang ini bisa memakan jentik-jentik nyamuk yang
ada dalam tempat penampungan air atau kolam atau dengan menambahkannya dengan
bakteri Bacillus thuringiensis (Bt H-14).
b. Dengan Cara Kimia

– Cara ini dapat dilakukan untuk nyamuk dewasa maupun larva. Untuk nyamuk dewasa saat ini
dilakukan dengan cara pengasapan (thermal fogging) atau pengabutan (Cold Fogging = Ultra
Low Volume). Pemberantasan nyamuk dewasa tidak menggunakan cara penyemprotan pada
dinding (residual spraying) karena nyamuk Aedes aegypti tidak suka hinggap pada dinding,
melainkan pada benda-benda yang tergantung seperti kelambu dan pakaian yang tergantung.
Untuk pemakaian di rumah tangga dipergunakan berbagai jenis insektisida yang disemprotkan
di dalam kamar-kamar atau ruangan misalnya, golongan organophospat atau
pyrethroidsynthetic.
c. Pengelolaan Lingkungan

- Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN)

• Menguras bak mandi dan tempat-tempat penampungan air lain sekurang-kurangnya seminggu sekali. Ini dilakukan
dengan pertimbangan bahwa perkembangan telur menjadi nyamuk selama 7-10 hari.

• Menutup rapat tempat penampungan air seperti tempayan, drum dan tempat air lain.

• Mengganti air pada vas bunga dan tempat minum burung sekurang-kurangnya seminggu sekali.

• Membersihkan pekarangan dan halaman rumah dari barang-barang bekas seperti kaleng bekas dan botol pecah
sehingga tidak menjadi sarang nyamuk.

• Menutup lubang-lubang pada bambu pagar dan lubang pohon dengan tanah.

• Membersihkan air yang tergenang di atap rumah.

• Memelihara ikan.
Pengawasan Kualitas Lingkungan (PKL)

Pengawasan Kualitas Lingkungan (PKL) adalah cara pemberantasan vektor DBD melalui
pengawasan kebersihan lingkungan oleh masyarakat. Cara ini bertujuan untuk
menghilangkan tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti dari daerah pemukiman penduduk.
1) Pemberantasan Vektor

– Empat prinsip dalam membuat perencanaan pemberantasan vektor, yaitu:

a) Mengambil manfaat dari adanya perubahan musiman keadaan nyamuk oleh pengaruh alam,
dengan melakukan pemberantasan vektor pada saat kasus penyakit DBD paling rendah.

b) Memutuskan lingkaran penularan dengan cara menahan kepadatan vektor pada tingkat
yang rendah untuk memungkinkan penderita-penderita pada masa viremia sembuh sendiri.
C) Mengusahakan pemberantasan vektor di semua daerah dengan potensi penularan tinggi,
yaitu daerah padat penduduknya dengan kepadatan nyamuk cukup tinggi.

d) Mengusahakan pemberantasan vektor di pusat-pusat penyebaran seperti sekolah, Rumah


Sakit, serta daerah penyangga sekitarnya.
DAFTAR PUSTAKA

– Candra, aryu. 2010. Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko Penularan.
2(2):110-119.

– Dardjito, E., Yuniarno, S., Wibowo, C., DL, A. S., & Dwiyanti, H. (2008). Beberapa Faktor Risiko Yang
Berpengaruh Terhadap Kejadian Penyakit DBD Di Kab Banyumas. Media Litbang Kesehatan, XVIII, 126–136.

– Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2011. Tata Laksana DBD. [Link]


%20Laksana %[Link] (diakses pada Oktober 2011)

– Gama, Azizah., dan Faizah Betty. (2010). Analisis Faktor Risiko Kejadian Demam Berdarah Dengue di Desa
Mojongso Kabupaten Boyolali. Eksplanasi Volume 5 Nomor 2.
– Hanim,diffah [Link] pengendalian penyakit menular demam berdarah dengue.

– Kementrian Kesehatan RI. 2018. INFODATIN Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI Situasi Demam Berdarah Di
Indonesia Tahun 2017. Jakarta Selatan.

– Modul. Fakultas [Link] sebelas maret.

– Prasetyani, R. D. (2015). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Demam Berdarah Dengue. Journal Majority, 4(7),
61–66. Retrieved from [Link]

– Siregar, Faziah A. 2004. Epidemiologi dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia.
[Link] (diakses pada Oktober 2020)

– Sukana, B. (n.d.). Pemberantasan vektor DBD di indonesia. Retrieved October 02, 2020, from
[Link]
MPK%2Farticle%2FviewFile%2F929%2F1585

– World Health Organization. 2020. Dengue and Severe Dengue. [Link]

Anda mungkin juga menyukai