FIMOSIS
Pembimbing : dr. Antonius Suryanto, Sp.B
Disusun Oleh :
Salsabil Ajie Prayoga (H3A020084)
Yovita Nurlatifah (H3A020113)
Indra Kunto Prayogo (H3A020120)
KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2022
Anatomi
Anatomi
Definisi
Fimosis merupakan suatu keadaan dimana kulit kepala penis (preputium) yang menutupi glans
penis dan tidak dapat diretraksi (ditarik) ke proksimal. Terdapat dua jenis fimosis yaitu fimosis
fisiologis dan patologis Kondisi ini menyebabkan bayi maupun anak-anak kesulitan saat
buang air kecil (dapat memicu timbulnya infeksi pada balantis)
Epidemiologi
● Diperkirakan insiden bayi laki-laki lahir dengan fimosis fisiologis adalah 96 dari 100 bayi
laki-laki. Pada tahun pertama kehidupan, sekitar 50% anak laki-laki dapat meretraksi
preputium hingga sulkus glandularis, angka ini meningkat menjadi 89% pada usia tiga tahun.
● Pada usia 6-7 tahun terdapat 8% anak yang masih mengalami fimosis, dan sebesar 1% pada
usia 16-18 tahun. Di antara laki-laki yang tidak disirkumsisi, insiden fimosis antara 8% hingga
23%
● Sebuah penelitian terhadap pasien dewasa yang melakukan sirkumsisi, menemukan bahwa
fimosis merupakan indikasi yang paling sering ditemui (46,5%), diikuti dyspareunia (17,8%),
balanitis (14,4%), dan fimosis bersamaan dengan balanitis (8,9%). [6]
Etiologi
● Fimosis Fisiologis
Saat lahir, kulit khatan tidak dapat ditarik kembali dan tetap demikian untuk jangka waktu yang bervariasi.
Pertama kali muncul pada minggu kedelapan kehamilan sebagai ridge epitel, pada usia kehamilan 16
minggu, preputium sudah lengkap dan membungkus kelenjar. Pada tahap ini, lapisan epitel glans dan kulup
berdekatan, dan perlengketan preputial ini pada dasarnya merupakan proses perkembangan yang normal.
Pemisahan dimulai dari proksimal oleh proses deskuamasi dengan pembentukan ruang-ruang kecil, yang
akhirnya menyatu membentuk kantung preputial.
● Phimosis Patologis
Proses patologis memberikan karakteristik jaringan parut stenosis dan pucat pada pembukaan preputial. Ini
biasanya disebabkan oleh balanitis xerotica obliterans (BXO). BXO adalah kondisi kulit bersisik yang
secara histologis identik dengan lichen sclerosis. Ini adalah kondisi kulit kronis dengan beberapa bukti yang
menunjukkan etiologi autoimun. Ada kontroversi mengenai BXO sebagai pemicu kanker penis di kemudian
hari.
KLASIFIKASI FIMOSIS
Fimosis Fisiologis Fimosis Patologis
KLASIFIKASI FIMOSIS
1. Fimosis Fisiologis (Fimosis kongenital, fimosis palsu, pseudo
phimosis
○ Timbul sejak lahir
○ Fimosis ini bukan disebabkan oleh kelainan anatomi melainkan karena
adanya faktor perlengketan antara kulit pada penis bagiandepan dengan
glans penis sehingga muara pada ujung kulit kemaluan seakanakan
terlihat sempit
○ Merupakan kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa remaja
○ Seiring bertambahnya usia serta diproduksinya hormon dan faktor
pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi lapisan epitel dan deskuamasi
antara glans penis dan lapis bagian dalam preputium sehingga akhirnya
kulit preputium terpisah dari glans penis.
KLASIFIKASI FIMOSIS
1. Fimosis Patologis (fimosis didapat, fimosis yang
sebenarnya, true phimosis)
○ Timbul kemudian setelah lahir
○ Fimosis Patologis yaitu ketidakmampuan untuk menarik
preputium setelah sebelumnya yang dapat ditarik kembali.
○ Disebabkan oleh sempitnya muara di ujung kulit kemaluan
secara anatomis. Hal ini berkaitan dengan kebersihan (higiene)
yang buruk, peradangan kronik glans penis dan kulit preputium
(balanoposthitis kronik), atau penarikan berlebihan kulit
preputium (forceful retraction) pada fimosis kongenital yang
akan menyebabkan pembentukan jaringan ikat (fibrosis) dekat
bagian kulit preputium yang membuka
○ Disebabkan oleh Balanitis Xerotica Obliterans (BXO)
DERAJAT FIMOSIS
Klasifikasi oleh Kikiros et al
• Derajat 0 : preputium bisa diretraksi penuh
• Derajat 1 : preputium dapat diretraksi penuh tapi preputium tegang
di belakang glans
• Derajat 2 : eksposure parsial glans
• Derajat 3 : retraksi parsial dengan eksposure hanya meatus
• Derajat 4 : retraksi dapat dilakukan sedikit sekali dengan glans dan meatus tidak
terekspose sama sekali
• Derajat 5 : sama sekali tidak bisa retraksi.
DERAJAT FIMOSIS
Klasifikasi oleh Meuli et al :
● Grade I: preputium dapat diretraksi penuh dengan cincin stenotik pada shaft
● Grade II: retraksi parsial dengan glans tampak sebagian
● Grade III: retraksi parsial dan hanya terlihat meatus
● Grade IV: tidak dapat diretraks
DERAJAT FIMOSIS
Berdasarkan keadaan kulit foreskin, phimosis, dari meningkatnya keparahan :
A : preputium tidak bisa ditarik ke belakang
B : hanya OUE yang tampak
C : glans penis nampak setengah
D : tampak glans yang inkomplit dikarenakan perlengketan preputium dengan sulcus coronal
PATOFISIOLOGI
Manifestasi Klinis
● Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin (“balloning”)
● Kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat mulai buang air kecil yang
kemudian menghilang setelah berkemih.
● Biasanya bayi menangis dan mengejan saat buang air kecil karena sakit
● Kulit penis tidak bisa ditairk ke arah pangkal ketika akan dibersihkan
● Air seni keluar tidak lancer. Kadang menetes dan kadang memancar dengan arah yang tidak
terduga
● Bisa disertai demam
● Iritasi pada penis
● Fimosis fisiologis bagian preputial orifice tidak ada luka dan terlihat sehat,
● Fimosis patologis terdapat jaringan fibrus berwarna putih yang melingkar
Tatalaksana
● Tidak dianjurkan melakukan retraksi yang dipaksakan pada saat membersihkan
penis dapat menimbulkan luka dan terjadi fimosis sekunder
● Fimosis disertai balanitis xerotica obliterans dapat diberikan salep deksamethasone
0,1% 3-4x sehari
● Jika fimosis menghambat aliran air seni, perlu tindakan Sirkumsisi (membuang
sebagian/seluruh bagian kulit preputium) atau Teknik bedah lainnya seperti
preputioplasty ( memperlebar bukaan kulit preputium tanpa memotongnya).
Tatalaksana
Indikasi Sirkumsisi Kontra indikasi sirkumsisi:
• Fimosis dengan keluhan miksi • Mutlak : hipospadia, hemofili dan kelainan
• Fimosis patologis darah lain
• Kegagalan terapi dengan salep steroid • Relatif : infeksi local, infeksi umum, DM
• Parafimosis
• ISK berulang
• Menggelembungnya ujung preputium pada saat
miksi
• Infeksi prostitis
• Balanopostthitis berat dan berulang
Tatalaksana Konservatif
Cara menjaga kebersihan pada fimosis :
Bokong
● Jangan gunakan diapers sepanjang hari. Cukup saat tidur malam/berpergian
● Jangan sering ganti merek diapers
● Lebih baik gunakan popok kain. Jika pakai diapers, kendurkan bagian paha untuk ventilasi
● jika peradangan kulit karena popok dalam 1-2 hari timbul lecet/bintil-bintil. Hubungi dokter
Penis
● Bersihkan penis setelah BAK dengan air hangat menggunakan kasa sampai selangkangan.
Cukup diusap dari atas ke bawah dengan satu arah
● Tiap selesai BAK, jangan dibersihkan dengan sabun yang terlalu banyak dan popok selalu
diganti agar tidak iritasi
Terima Kasih
MOHON BIMBINGAN DAN ARAHANNYA DOKTER