0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan33 halaman

Panduan PBB: Hitung dan Tarif 2023

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) mulai dari pengertian, objek yang dikenakan PBB, subjek dan wajib pajak PBB, dasar pengenaan PBB berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), tarif PBB, rumus perhitungan PBB, serta NJOPTKP. Dokumen ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai ketentuan dan mekanisme pengenaan PBB di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
35 tayangan33 halaman

Panduan PBB: Hitung dan Tarif 2023

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) mulai dari pengertian, objek yang dikenakan PBB, subjek dan wajib pajak PBB, dasar pengenaan PBB berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), tarif PBB, rumus perhitungan PBB, serta NJOPTKP. Dokumen ini memberikan gambaran menyeluruh mengenai ketentuan dan mekanisme pengenaan PBB di Indonesia.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PAJAK BUMI &

BANGUNAN
01 02 03
Pengertian & Ketentuan Objek PBB Subjek & Wajib Pajak PBB
PBB

Table of
Contents
04 05 06
Dasar Pengenaan PBB NJKP Tarif PBB
07 08 09
Contoh Perhitungan Tata Cara Pembayaran
NJOPTKP
PBB PBB

Table of
Contents
10 11 12
Cara Memeriksa
Keberatan atas PBB Ketentuan Pidana Tagihan PBB
Secara Online
PENGERTIAN & KETENTUAN PBB
• PBB adalah pajak yang besarnya tidak ditentukan oleh subjek, melainkan objek yaitu bumi dan
bangunan.

• Dasar hukum:
1. UU No. 12 Tahun 1985 tentang PBB.
2. UU No. 12 Tahun 1994 tentang PBB (Perubahan).
3. UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.
4. UU No. 25 Tahun 2002 tentang Penetapan NJKP.
5. PMK No. 23/PMK.03/2014 tentang Penyesuaian NJOPTKP.
6. PER No. PER - 22/PJ/2017 tentang Perubahan Keenam Atas Peraturan Dirjen Pajak No. PER -
38/PJ/2009 tentang Bentuk Formulir Surat Setoran Pajak.
7. PER - 19/PJ/2019 tentang Surat Pemberitahuan Objek Pajak PBB.
8. SE - 36/PJ/2014 tentang Petunjuk Pelaksanaan Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER - 27/PJ/2014 tentang
Tata Cara Penetapan Nilai Jual Objek Pajak Sebagai Dasar Pengenaan PBB.
9. Peraturan Dirjen Pajak PER - 31/PJ/2014 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
Sektor Perkebunan.
10. Peraturan Dirjen Pajak PER - 42/PJ/2015 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
Sektor Perhutanan.
11. Peraturan Dirjen Pajak - PER - 47/PJ/2015 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan
Sektor Pertambangan Untuk Pertambangan Mineral Dan Batubara.
Istilah dalam PBB Sektor Perkebunan, Kehutanan, dan
Pertambangan (PBB P3):

● NJOP: Harga rata-rata transaksi jual beli yang wajar dan apabila
tidak terdapat transaksi, NJOP ditentukan melalui perbandingan
harga dengan objek lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau
NJOP pengganti.
● Standar Investasi Tanaman (SIT): Jumlah biaya tenaga kerja, bahan,
dan alat yang diinvestasikan untuk pembukaan lahan, penanaman,
dan pemeliharaan tanaman
● Areal Emplasemen: Areal berdirinya bangunan dan sarana lainnya
dalam perhutanan termasuk areal jalan yang diperkeras.
OBJEK PBB
Sektor pedesaan dan perkotaan (PBB P2):
• Bumi: Permukaan bumi, meliputi tanah, perairan pedalaman, laut wilayah Indonesia, dan tubuh
bumi yang ada di bawahnya. Contoh:
1. Sawah
2. Ladang
3. Kebun
4. Tanah
5. Pekarangan
6. Tambang
• Bangunan: Kontruksi teknik yang ditanam secara tetap pada tanah/perairan. Contoh:
jalan lingkungan pada satu kompleks seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya;
1. jalan tol;
2. kolam renang;
3. pagar mewah;
4. tempat olahraga;
5. galangan kapal, dermaga;
6. taman mewah;
7. tempat kilang minyak, air, gas, pipa minyak; dan
8. menara.
OBJEK YANG TIDAK DIKENAKAN PBB:
a. Tempat pelayanan umum yang bukan untuk memperoleh keuntungan:

• Panti sosial
• Rumah sakit
• Sekolah/Perguruan Tinggi
• Panti asuhan

b. Pemakaman umum.

c. Tempat menyimpan benda dan situs sejarah, misalnya museum dan candi.

d. Kawasan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata, taman nasional, tanah
penggembalaan yang dikuasai desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak.

e. Tempat untuk perwakilan diplomatik, konsulat berdasarkan asas perlakuan timbal balik.

f. Tempat untuk badan atau perwakilan organisasi internasional yang ditentukan oleh
Menteri Keuangan.
OBJEK PBB SEKTOR PERKEBUNAN, KEHUTANAN,
DAN PERTAMBANGAN (P3):

● Sektor perkebunan: Objek PBB yang dimiliki, dikuasal, atau


dimanfaatkan orang pribadi atau Badan untuk kegiatan
perkebunan.
● Sektor Perhutanan: Objek PBB untuk kegiatan perhutanan
yang diberikan hak pengusahaan hutan. Terdiri dari: areal
produktif, areal belum produktif, areal emplasemen, dan areal
lain.
● Sektor pertambangan: Areal usaha penambangan bahan
galian dari semua jenis golongan. Klasifikasi:
1. Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba),
2. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi (Migas)
3. Pertambangan Energi Panas Bumi.
Klasifikasi Objek Pbb Sektor Perkebunan, Kehutanan, Dan
Pertambangan (Pbb P3):

Sesuai PMK No. 186/PMK.03/ 2019:


1. Perkebunan: bumi/bangunan yang berada di kawasan perkebunan;
2. Perhutanan: bumi/bangunan yang berada di kawasan perhutanan;
3. Pertambangan Minyak dan Gas Bumi: bumi/bangunan yang berada
di kawasan pertambangan minyak dan gas bumi;
4. Pertambangan untuk Pengusahaan Panas Bumi: bumi/bangunan
yang berada di kawasan pertamhangan untuk pengusahaan panas
bumi;
5. Pertambangan Mineral atau Batubara: bumi/bangunan yang berada
di kawasan pertambangan mineral atau batubara; dan
6. Lainnya: Meliputi bumi/bangunan selain objek PBB di atas yang:
● berada di perairan NKRI: laut pedalaman, perairan kepulauan, laut
teritorial, ZEE, atau perairan di dalam Batas Landas Kontinen
Indonesia; dan
● selain objek PBB Perdesaan dan Perkotaan.
SUBJEK DAN WAJIB PAJAK PBB

• Subjek PBB:
individu/badan yang berhak atas manfaat atau menguasai
bumi/bangunan secara nyata.
Contoh: kepemilikan dibuktikan
dengan dengan surat atau akta; manfaat misalnya
sawah/kebun untuk bertani, atau kios untuk berdagang.

• Wajib pajak PBB:


individu/badan yang dikenakan kewajiban membayar pajak,
yaitu subjek pajak yang disebut di atas.
Faktor Penentu NJOP Bumi:
1. Letak
2. Pemanfaatan
3. Peruntukan
DASAR 4. Kondisi Lingkungan

PENGENAAN
PBB Faktor Penentu NJOP Bangunan:
(NJOP yang ditetapkan setiap 3
tahun) 1. Bahan yang digunakan dalarn
bangunan
2. Rekayasa
3. Letak
4. Kondisi lingkungan
Dasar penetapan NJOP saat tidak ada transaksi jual beli:

1. Perbandingan Harga dengan Objek Lain


Objek lain: masih sejenis, lokasinya berdekatan, memiliki kesamaan fungsi dengan objek
lain yang sudah diketahui nilai jualnya.

2. Nilai Perolehan Baru


Menghitung biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh objek pajak, lalu dikurangi
penyusutan fisik objek pajak.

3. Nilai Jual Pengganti


Berdasarkan hasil produk objek pajak.
Klasifikasi NJOP Bumi:
• Kelompok A (50 klas): klas tertinggi Rp 3.100.000 per m2; klas
terendah Rp 140 per m2.
• Kelompok B (50 klas): klas tertinggi Rp 68.545.000 per m2; klas
terendah Rp 3.375.000 per m2.

Klasifikasi NJOP Bangunan:


• Kelompok A (20 klas): klas tertinggi Rp 1.200.000 per m2; klas
terendah Rp 50.000 per m2.
• Kelompok B (20 klas): klas tertinggi Rp 15.250.000 per m2; klas
terendah Rp 1.516.000 per m2.
NILAI JUAL KENA PAJAK (NJKP)

Besarnya NJKP:

• Perkebunan: 40%
• Kehutanan: 40%
• Pertambangan: 40%
• Lainnya (pedesaan dan
perkotaan):
a. NJOP < Rp [Link]:
20%
b. NJOP > Rp [Link]:
40%
• Tiap daerah menetapkan tarif sendiri dengan
Perda. Contoh:
TARIF PBB a. Tarif PBB P2 Kota Semarang (Perda Kota
Semarang No. 13 Tahun 2011):
1. NJOP s.d. Rp 1 M: 0,1%
• Tarif PBB objek pajak: 0,5% dari 2. NJOP > Rp 1 M: 0.2%
NJKP dengan NJKP minimal 20% 3. NJOPTKP sebesar Rp 10.000.000
dan maksimal 100 dari NJOP, juga
diberlakukan untuk PBB Sektor b. Tarif PBB P2 DKI Jakarta (Perda Provinsi DKI
Perkebunan, Kehutanan, dan Jakarta No. 16 tahun 2011):
Pertambangan (PBB P3). (UU No. 12 4. NJOP < Rp 200 juta: 0,01%
Tahun 1985) 5. NJOP Rp 200 juta – Rp 2 M: 0,1%
6. NJOP Rp 2 M – Rp 10 M: 0,2%
• Tarif PBB desa dan kota: maksimal 7. NJOP Rp 10 M/lebih: 0,3%
0,3% (UU No. 28 Tahun 2009) 8. NJOPTKP sebesar Rp 15.000.000

• Tarif pajak dan dasar penghitungan PBB


berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 mulai
berlaku 1 Januari 2010.
RUMUS PERHITUNGAN PBB
a. PBB Pedesaan dan Perkotaan (PBB P2)

PBB P2 = Tarif x NJKP


= Tarif x (NJOP - NJOPTKP)

Contoh: 0,1% x (Rp 500.000.000 - Rp 10.000.000) = Rp 490.000


NJOPTKP (untuk perhitungan PBB) hanya dikenakan 1 kali atas nilai tanah bangunan dengan nila
tertinggi. NJOPTKP MIN 10jt, tergantung PERDA
aturan lama:
0,5%*20%*NJKP untuk P2 NJOP<1M
0,5%*40%*NJKP untuk P2 NJOP>1M serta PBB P3 (perkebunan, kehutanan, pertambangan)
aturan baru: tarif tergantung PERDA, maksimal 0,3%
RUMUS PERHITUNGAN PBB
b. PBB Sektor Perkebunan, Kehutanan, dan Pertambangan (PBB P3)

PBB P3 = Tarif x NJKP


= Tarif x (NJOP-NJOPTKP)

Contoh:

Jika NJKP = 40% x (NJOP – NJOPTKP)


PBB = 0,5% x 40% x (NJOP – NJOPTKP)
PBB = 0,2% x (NJOP – NJOPTKP)

Jika NJKP = 20% x (NJOP – NJOPTKP)


PBB = 0,5% x 20% (NJOP – NJOPTKP)
PBB = 0,1% x (NJOP – NJOPTKP)
 
NJOPTKP

• Merupakan suatu batas nilai NJOP yang tidak dikenai pajak, dasar dari NJOPTKP adalah UU No.
28 Tahun 2009, bahwa besaran NJOPTKP paling rendah untuk PBB daerah kabupaten/kota
adalah Rp 10.000.000 (berlaku juga untuk PBB P2). Jika NJOP-nya dibawah 10 juta maka tidak
dikenai pengurangan NJOPTK dan PBB. Jika NJOP lebih dari 10 juta maka kena pengurangan
NJOPTKP dan dikenai PBB.

• Sedangkan untuk NJOPTKP PBB P3 (perkebunan, kehutanan, pertambangan) sebesar Rp


12.000.000 mulai berlaku sejak 1 januari 2014.

• Tiap WP hanya bisa menggunakan atau mendapatkan NJOPTKP satu kali dalam satu tahun
pajak. Jika WP punya 2 atau lebih objek pajak, maka penguarangan NJOPTKPnya dilihat dari
objek mana yang punya NJOP paling tinggi/besar. NJOPTKP tiap daerah berbeda dan ditentukan
oleh masing masing PERDA.

• Untuk UU Ciptaker, tidak ada perubahan apapun dalam besaran NJOPTKP.


Contoh Menghitung NJOPTKP

1. Tanah seluas 800 m2, nilai jual 300.000/m2


Bangunan seluas 450 m2 dengan nilai jual 350.000/m2
Taman mewah seluas 200 m2 dengan nilai jual 70.000/m2
NJOP :
Tanah : 800 x300.000 = 240.000.000
Bangunan : 450 x 350.000 = 157.500.000
Taman : 200 x 70.000 = 140.000.000
TOTAL NJOP tanah dan bangunan = 537.500.000

Dilihat dari NJOP maka sudah melebihi batas NJOPTKP maka dikenai
pengurangan NJOPTKP sebesar 10.000.000.
 
NJOP : 537.500.000
NJOPTKP : (10.000.000)
NJKP u/ perhitungan PBB : 527.500.000
PBB= 0.5%*20%*527.500.00 : Rp527.500
Contoh Menghitung NJOPTKP

2. Seorang WP punya objek pajak tanah dan pagar dengan total


nilai adalah 6.500.000, besar NJOPTKP yang ditentukan adalah
10.000.000.

Bisa dilihat dari total NJOP berada di bawah batas NJOPTKP


maka tidak kena pengurangan NJOPTK dan tidak dikenai PBB.
 
Contoh Menghitung NJOPTKP

3. Seorang WP punya 2 objek pajak, rinciannya adalah :

Lokasi 1
NJOP bumi : 18.000.000
NJOP bangunan : 7.500.000
Total : 25.500.000

Lokasi 2
NJOP bumi : 8.000.000
NJOP bangunan : 11.000.000
Total : 19.000.000
 
Lanjutan
Contoh Menghitung NJOPTKP

Seperti ketentuan yang sudah ditulis diatas, bahwa jika ada 2 objek
atau lebih maka pengurangan NJOPTKP dikenakan pada NJOP
yang nilainya paling tinggi. Hasil NJOP kena pajak dari yang
NJOPnya paling tinggi (lokasi 1) nanti akan ditambah dengan
NJOP objek yang nilainya lebih rendah (lokasi 2)
 
NJOP lokasi 1 : 25.500.000
NJOPTKP : (10.000.000)
NJOP kena pajak : 15.500.000
NJOP lokasi 2 : 19.000.000
NJOP kena pajak : 34.500.000

PBB: 0.1%*34.500.000
CONTOH PERHITUNGAN PBB
1. PBB PEDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB P2)

Pak Ahmad punya tanah di kota semarang seluas 500 m2 dengan nilai jual Rp 400.000/m2. Di dalam area tanah
terdapat rumah dengan luas 250 m2 dan nilai jualnya Rp 200.000/m2.
Hitung PBB Pak Ahmad jika NJOPTKP 10.000.000!
 
Langkah 1 : hitung NJOP tanah dan rumah dengan mengalikan luas dan nilai jualnya
 
NJOP Tanah : 500 x 400.000 = 200.000.000
NJOP Rumah : 250 x 200.000 = 50.000.000
Total NJOP dasar pengenaan pajak : 250.000.000
 
Langkah 2 : hitung NJOP u/ penghitungan PBB dengan mengurangi NJOP dan NJOPTKP sebesar 10.000.000
 
Total NJOP : 250.000.000
NJOPTKP : (10.000.000)
NJOP u/ penghitungan PBB : 240.000.000
 
Langkah 3 : NJOP ternyata kurang dari 1 milyar maka terkena tariff 0,1% (0,5% tarif pbb x 20% dari njkp
dibawah 1 milyar)
PBB = tariff x NJOP PBB (NJOP-NJOPTKP)
= 0,1% x 240.000.000
= Rp 240.000
 
CONTOH PERHITUNGAN PBB
2. PBB ATAS OBJEK PERUMAHAN

Luas bumi 1000 m2 dengan harga jual pasar Rp 840.000/m2. Nilai jual tanah termasuk kelas A17 yaitu sebesar Rp
802.000/m2.
Luas bangunan 400 m2 dengan harga jual pasar Rp 1.000.000/m2. Nilai jual bangunan termasuk kelas A2 yaitu
sebesar Rp 968.000/m2.

Perhitungan PBB :

Langkah 1 : hitung NJOP bangunan dan tanah (luas x nilai jual objek)
NJOP bumi : 1000 x 802.000 = 802.000.000
NJOP bangunan : 400 x 968.000 = 387.200.000
Total NJOP dasar pengenaan pajak : = [Link]

Langkah 2 : kurangkan NJOP dengan NJOPTKP untuk menentukan NJOP u/ penghitungan PBB
NJOP PBB = NJOP - NJOPTKP
= [Link] - 10.000.000
= [Link]

Langkah 3 : NJOP ternyata lebih dari 1 milyar, maka dikenai tarif 0,2% (0,5% tarif PBB x 40% dari NJKP di atas 1
milyar)
PBB terutang = tarif x NJOP PBB
= 0,2% x [Link]
= Rp 2.358.400
CONTOH PERHITUNGAN PBB

3. PBB SEKTOR PERKEBUNAN

Perkebunan PT Sawit Nusahati terdiri dari :

a. Tanah
• Area kebun usia tanaman 2 tahun : 100 Ha, kelas 178 (Rp 1.700/m2)
SIT : Rp 2.795.000 per Ha
Tanaman sudah menghasilkan : 300 Ha, kelas 178, SIT sebesar Rp 5.646.000

• Area emplasmen (area untuk berdirinya bangunan dan saranan pelengkap)


Kantor : 0,5 Ha, kelas 140 (Rp 14.000/m2)
Gudang : 1 Ha, kelas 147 (Rp 10.000/m2)
Pabrik : 2 Ha, kelas 147B

b. Bangunan
Kantor : 500 m2, kelas 072 (Rp 700.000/m2)
Gudang : 1000 m2, kelas 078 (Rp 505.000/m2)
Pabrik : 4000 m2, kelas 084 (Rp 365.000/m2)
CONTOH PERHITUNGAN PBB LANJUTAN
Perhitungan PBB:

Langkah 1 : hitung NJOP tanah dan bangunan beserta rinciannya. Untuk luas yang satuannya masih Ha maka
dikalikan 10.000 untuk dirubah ke m2.
 
NJOP Tanah :
1. Area kebun
Usia tanaman 2 tahun : 100 x 10.000 x 1.700 = [Link]
SIT : 100 x 2.795.000 = 279.500.000
Tanaman sudah menghasilkan: 300 x 10.000 x 1.700 = [Link]
SIT : 300 x 5.646.000 = [Link]
TOTAL NJOP AREA KEBUN = [Link]
2. Area Emplasmen
Kantor: 0,5 x 10.000 x 14.000 = 70.000.000
Gudang : 1 x 10.000 x 10.000 = 100.000.000
Pabrik : 2 x 10.000 x 10.000 = 200.000.000
TOTAL NJOP Area Emplasmen = 370.000.000

NJOP Bangunan :
Kantor: 500 x 700.000 = 350.000.000
Gedung : 1000 x 505.000 = 505.000.000
Pabrik : 4000 x 365.000 = [Link]
TOTAL NJOP BANGUNAN = [Link]

Total NJOP tanah dan bangunan = [Link] + 370.000.000 + [Link] = [Link]


LANJUTAN

CONTOH PERHITUNGAN PBB

Langkah 2 : Kurangkan total NJOP dengan NJOPTKP PBB P3 (12.000.000)


Total NJOP tanah dan perkebunan - NJOPTKP
= [Link] - 12.000.000
= [Link] (NJOP u/ perhitungan PBB P3)

Langkah 3 : Kalikan tariff PBB dengan presentase NJKP Objek perkebunan dan NJOP PBB P3
PBB = 0,5% x 40% x [Link]
= Rp 22.892.600
Cara Mendaftarkan Objek PBB

• Cara ini berlaku baik untuk WP OP atau WP badan


yaitu dengan cara mendaftarkan objek bangunan atau
bumi ke KPP, KP2KP (kantor penyuluhan dan
konsultasi pajak) yang letak kantornya sama dengan
letak objek PBB yang ingin didaftarkan.

• Setelah sampai ke KPP/KP2KP, WP bisa langsung


minta formulir SPOP (surat pemberitahuan objek
pajak) yang digunakan untuk melaporkan objek pajak
milik WP

• Tanggal diterimanya SPOP adalah 1 januari tahun


pajak. Setelah diterima WP wajib mengembalikan
SPOP paling lama 30 hari setelah tanggal diterimanya
SPOP
Tata Cara Pembayaran PBB

1. Setelah menerima SPPT (surat pemberitahuan pajak


terutang), pembayaran bisa dilakukan dan paling lambat
adalah 6 bulan sejak tanggal diterimanya SPPT oleh WP. WP
sudah bisa mengakses SPPT jauh sebelum jatuh tempo setor
PBB. Tanggal jatuh tempo yaitu 31 Agustus.

2. Jika telat bayar atau tidak dibayar saat jatuh tempo atau
kurang bayar, maka akan kena denda administrasi 2% sebulan,
dihitung dari jatuh tempo sampai hari pembayaran untuk
jangka waktu paling lama 24 bulan.

3. Pajak terutang bisa dibayar di Bank Persepsi, kantor pos


dan giro, atau tempat lain yang ditunjuk MenKeu.
Keberatan Atas PBB

a. WP bisa mengajukan keberatan ke DIRJEN PAJAK, atas :


1. SPPT
2. SKP

b. Syarat surat keberatan dan banding :


3. Keberatan diajukan secara tertulis dengan bahasa Indonesia dan alasan yang jelas.
4. Keberatan diajukan dalam jangka waktu 3 bulan sejak diterimanya SPPT, dikecualikan
jika ada kadaan di luar kuasa WP yang menyebabkan jangka waktu tidak dapat
dipenuhi.
5. Tanda terima surat keberatan yang diberikan oleh pejabat Dirjen Pajak yang ditunjuk/
tanda pengiriman surat keberatan lewat kantor pos tercatat sebagai tanda bukti
penerimaan surat keberatan bagi kepentingan WP.
6. Bukan berarti saat WP mengajukan keberatan maka WP menunda kewajiban
pembyaran pajaknya, hal tersebut tidak dibenarkan.
7. Waktu pememberian keputusan dari Dirjen Pajak mengenai pengajuan keberatan
paling lama 12 bulan sejak tanggal diterimanya surat keberatan.
8. Jika dalam jangka waktu 12 bulan tidak ada keputusan dari Dirjen Pajak, maka
keberatan diterima.
KETENTUAN PIDANA
a. Karena Kealpaan

1. Tidak mengembalikan/menyampaikan SPOP kepada Dirjen Pajak


2. SPOP disampaikan namun tidak lengkap atau ada keterangan yang tidak benar
sehingga menimbulkan kerugian bagi negara
3. Sanksi pidana dengan dipenjara paling lama 6 bulan atau denda paling tinggi sebesar
2 kali pajak terhutang.

b. Karena Kesengajaan

4. Tidak mengembalikan/menyampaikan SPOP kepada Dirjen Pajak.


5. SPOP diisi dengan tidak lengkap atau ada keterangan tidak benar.
6. Memperlihatkan surat surat palsu/dipalsukan/dokumen lain yang palsu/dipalsukan
seolah olah benar.
7. Tidak memperlihatkan/menyampaikan surat atau dokumen lainnya.
8. Tidak menunjukan/menyampaikan data/keterangan yang diperlukan.
9. Sanksi pidana dengan dipenjara paling lama 1 tahun atau denda paling tinggi Rp
2.000.000.
CARA MEMERIKSA TAGIHAN PBB SECARA ONLINE

• Pada mulanya untuk mengambil tagihan atau SPPT bisa diambil di kecamatan/kelurahan/ketua RT
setempat. Namun hal tersebut dipermudah yaitu WP bisa memeriksa tagihan PBB secara online atau
melalui SMS.

• Beberapa wilayah yang sudah memiliki situs untuk memeriksa tagihan PBB secara online lewat aplikasi
mobile, wilayah tersebut adalah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Gresik, dan wilayah lainnya.

• WP juga bisa memerika tagihan PBB dengan masuk ke alamat website atau aplikasi berikut ini :
1. Semarang : [Link]
2. Jakarta : [Link]
3. Bogor, Tangerang Selatan, Banjar, Cilegon, Majalengka, Subang, Bekasi, Kuningan : aplikasi iPBB
(playstore)
4. Bekasi : iPBB Kota Bekasi (playstore)
5. Depok : ePBB Kota Depok atau [Link]

• Situs-situs tersebut terdiri dari Nomor Objek Pajak (NOP) yang harus dimasukkan. Jika NOP sudah
dimasukkan dan benar, maka WP tinggal memilih tagihan PBB sesuai tahun yang ingin dilihat. Data
yang akan dimunculkan seperti nama WP, total NJOP, NJOPTKP, dan NJKP.
TERIMA
KASIH

Anda mungkin juga menyukai