SISTEM RUJUKAN
Oleh: Rastra Sewakotama Putra
Apabila pelayanan kesehatan primer tidak
dapat melakukan tindakan medis tingkat
primer maka ia menyerahkan tanggung
jawab tersebut ke tingkat pelayanan di
atasnya, demikian seterusnya
Sebuah penelitian yang meneliti tentang sistem
rujukan menyatakan bahwa beberapa hal yang
dapat menyebabkan kegagalan proses rujukan yaitu
tidak ada keterlibatan pihak tertentu yang
seharusnya terkait keterbatasan sarana tidak ada
dukungan peraturan.
Tinjauan Pustaka
Defenisi
Sistem Rujukan pelayanan kesehatan adalah
penyelenggaraan pelayanan kesehatan
mengatur pelimpahan tugas dan tanggung
jawab pelayanan kesehatan secara timbal balik
baik vertikal maupun horizontal, wajib
dilaksanakan oleh peserta jaminan kesehatan
atau asuransi kesehatan sosial, dan seluruh
fasilitas kesehatan.
Sistem Kesehatan Nasional, Depkes RI 2009
Suatu sistem penyelenggaraan pelayanan
kesehatan melaksanakan pelimpahan
tanggung jawab timbal balik terhadap satu/lebih
kasus penyakit atau masalah kesehatan secara
vertikal dari unit berkemampuan kurang kepada
unit yang lebih mampu atau secara horizontal
antar unit-unit yang setingkat kemampuannya.
Syarat syarat tertentu harus dipenuhi sebelum
system rujukan dapat berfungsi secara tepat, seperti
•Kesadaran masyarakat dalam masalah kesehatan
•Petugas kesehatan harus memiliki pengetahuan
yang adekuat dalam strategi pendekatan resiko dan
system rujukan.
•Setiap unit obstetric harus memiliki peralatan yang
tepat
•Komunikasi dan transportasi yang mudah harus
tersedia
Tujuan Sistem Rujukan
Tujuan umum untuk meningkatkan mutu, cakupan
dan efisiensi pelayanan kesehatan secara terpadu
Tujuan khusus
•Meningkatkan kemampuan puskesmas dan
peningkatannya dalam rangka menangani rujukan kasus
“resiko tinggi” dan gawat darurat yang terkait dengan
kematian ibu maternal dan bayi
•Menyeragamkan dan menyederhanakan prosedur
rujukan di wilayah kerja puskesmas
Kegiatan Dan Pembagian Dalam Sistem Rujukan
•Transfer of patient
•Transfer of specimen
•Transfer of knowledge/personel Rujukan Kesehatan
Alur Sistem Rujukan
Alur Rujukan Ada beberapa aspek yang harus
diperhatikan dalam alur rujukan yaitu:
[Link] Fasilitas Kesehatan.
[Link] / Wilayah Kabupaten/Kota
[Link] unsur-unsur pelaksana Teknis
Alur rujukan kasus kegawat daruratan
Dari Kader Dapat langsung merujuk ke:
– Puskesmas pembantu
– Pondok bersalin atau bidan di desa
– Puskesmas rawat inap
– Rumah sakit swasta / RS pemerintah
Dari Posyandu Dapat langsung merujuk ke:
– Puskesmas pembantu
– Pondok bersalin atau bidan di desa
Syarat Format Rujukan
•Dibuat oleh orang yang mempunyai kompetensi dan wewenang
untuk merujuk, mengetahui kompetensi sasaran/tujuan rujukan dan
mengetahui kondisi serta kebutuhan objek yang dirujuk.
•Rujukan dan rujukan balik mengacu pada standar rujukan pelayanan
medis Daerah
•Agar rujukan dapat diselenggarakan tepat dan memadai
• Untuk menjamin keadaan umum pasien agar tetap dalam kondisi
stabil selama perjalanan menuju ketempat rujukan
• Rujukan pasien/specimen ke fasilitas pelayanan kesehatan yang
lebih tinggi dan atau lengkap
• Fasilitas Pelayanan Kesehatan/tenaga kesehatan dilarang merujuk
dan menentukan tujuan rujukan atas dasar kompensasi/imbalan
dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Ketentuan Umum Sistem Rujukan
Pelayanan kesehatan perorangan terdiri dari 3 (tiga)
tingkatan yaitu:
– Pelayanan kesehatan tingkat pertama
– Pelayanan kesehatan tingkat kedua
– Pelayanan kesehatan tingkat ketiga
• Pelayanan kesehatan tingkat pertama
merupakan pelayanan kesehatan dasar yang
diberikan oleh fasilitas kesehatan tingkat pertama.
• Pelayanan kesehatan tingkat kedua merupakan
pelayanan kesehatan spesialistik yang
dilakukan oleh dokter spesialis atau dokter gigi
spesialis yang menggunakan pengetahuan dan
teknologi kesehatan spesialistik.
• Pelayanan kesehatan tingkat ketiga merupakan pelayanan
kesehatan sub spesialistik yang dilakukan oleh dokter sub
spesialis atau dokter gigi sub spesialis yang menggunakan
pengetahuan dan teknologi kesehatan sub spesialistik.
• Dalam menjalankan pelayanan kesehatan,fasilitas kesehatan
tingkat pertama dan tingkat lanjutan wajib melakukan sistem
rujukan dengan mengacu pada peraturan perundang- undangan
yang berlaku
• Peserta yang ingin mendapatkan pelayanan yang tidak
sesuai dengan sistem rujukan dapat dimasukkan dalam
kategori pelayanan yang tidak sesuai dengan prosedur
sehingga tidak dapat dibayarkan oleh BPJS Kesehatan.
• Fasilitas Kesehatan yang tidak menerapkan sistem
rujukan maka BPJS Kesehatan akan melakukan
recredentialing terhadap kinerja fasilitas kesehatan tersebut
dan dapat berdampak pada kelanjutan kerjasama
• Pelayanan rujukan dapat dilakukan secara horizontal
maupun vertikal.
• Rujukan horizontal adalah rujukan yang dilakukan
antar pelayanan kesehatan dalam satu tingkatan
apabila perujuk tidak dapat memberikan pelayanan
kesehatan sesuai dengan kebutuhan pasien karena
keterbatasan fasilitas, peralatan dan/atau ketenagaan
yang sifatnya sementara atau menetap.
• Rujukan vertikal adalah rujukan yang dilakukan antar pelayanan
kesehatan yang berbeda tingkatan, dapat dilakukan dari tingkat
pelayanan yang lebih rendah ke tingkat pelayanan yang lebih tinggi
atau sebaliknya.
• Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang lebih rendah ke
tingkatan pelayanan yang lebih tinggi dilakukan apabila:
– Pasien membutuhkan pelayanan kesehatan spesialistik atau
subspesialistik
– Perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai
dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan fasilitas, peralatan
dan/ atau ketenagaan
Rujukan vertikal dari tingkatan pelayanan yang tingkat
pertama atau kedua lebih baik dalam menangani pasien
tersebut
•Permasalahan kesehatan pasien dapat Kasus yang sudah
ditegakkan diagnosis & rencana terapi, merupakan pelayanan
berulang dan hanya tersedia di faskes tingkat tiga.
•Kompetensi dan kewenangan pelayanan tingkat pertama
atau kedua lebih baik dalam menangani pasien tersebut.
•Pasien membutuhkan pelayanan lanjutan yang dapat
ditangani oleh tingkatan pelayanan kesehatan yang lebih
rendah dan untuk alasan kemudahan, efisiensi dan pelayanan
jangka panjang; dan/atau
•Perujuk tidak dapat memberikan pelayanan kesehatan sesuai
dengan kebutuhan pasien karena keterbatasan sarana,
prasarana, peralatan dan/atau ketenagaan.
Tata Cara Pelaksanaan System Rujukan Berjenjang
Sistem rujukan pelayanan kesehatan dilaksanakan secara berjenjang
sesuai kebutuhan medis, yaitu:
a. Dimulai dari pelayanan kesehatan tingkat pertama oleh fasilitas kesehatan
tingkat pertama
b. Jika diperlukan pelayanan lanjutan oleh spesialis, maka pasien dapat
dirujuk ke fasilitas kesehatan tingkat kedua
c. Pelayanan kesehatan tingkat kedua di faskes sekunder hanya dapat diberikan
atas rujukan dari faskes primer.
d. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga di faskes tersier hanya dapat diberikan atas
rujukan dari faskes sekunder dan faskes primer.
• Pelayanan kesehatan di faskes primer yang dapat
dirujuk langsung ke faskes tersier hanya untuk
kasus yang sudah ditegakkan diagnosis dan
rencana terapinya, merupakan pelayanan
berulang dan hanya tersedia di faskes tersier.
• Ketentuan pelayanan rujukan berjenjang dapat
dikecualikan dalam kondisi:
– Terjadi keadaan gawat darurat
– Kondisi kegawat daruratan mengikuti ketentuan yang
berlaku
– Bencana
• Kekhususan permasalahan kesehatan pasien; untuk
kasus yang sudah ditegakkan rencana terapinya dan
terapi tersebut hanya dapat dilakukan di fasilitas
kesehatan lanjutan
• Pertimbangan geografis
• Pertimbangan ketersediaan fasilitas
Pelayanan oleh bidan dan perawat
[Link] keadaan tertentu, bidan atau perawat dapat
memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
[Link] dan perawat hanya dapat melakukan rujukan ke
dokter dan/atau dokter gigi pemberi pelayanan kesehatan
tingkat pertama kecuali dalam kondisi gawat darurat dan
kekhususan permasalahan kesehatan pasien, yaitu kondisi
di luar kompetensi dokter dan/atau dokter gigi
pemberipelayanan kesehatan tingkat pertama
Rujukan Parsial
– Rujukan parsial adalah pengiriman pasien atau spesimen
ke pemberi pelayanan kesehatan lain dalam rangka
menegakkan diagnosis atau pemberian terapi, yang
merupakan satu rangkaian perawatan pasien di Faskes
tersebut.
– Rujukan parsial dapat berupa:
• pengiriman pasien untuk dilakukan pemeriksaan
penunjang atau tindakan
• pengiriman spesimen untuk pemeriksaan penunjang
– Apabila pasien tersebut adalah pasien rujukan parsial,
maka penjaminan pasien dilakukan oleh fasilitas
kesehatan perujuk.
TERIMA KASIH