0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan66 halaman

Pengertian dan Asal Mula Filsafat

Filsafat adalah ilmu yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Terdapat berbagai pengertian filsafat, antara lain sebagai sikap, metode berpikir, kumpulan persoalan, sistem pemikiran, analisis logis, dan usaha untuk memperoleh pandangan secara menyeluruh. Teori-teori filsafat berkembang sejak Thales yang menyatakan bahwa unsur dasar alam semesta adalah

Diunggah oleh

Rendi Alexandria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan66 halaman

Pengertian dan Asal Mula Filsafat

Filsafat adalah ilmu yang berusaha menyelidiki hakikat segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran. Terdapat berbagai pengertian filsafat, antara lain sebagai sikap, metode berpikir, kumpulan persoalan, sistem pemikiran, analisis logis, dan usaha untuk memperoleh pandangan secara menyeluruh. Teori-teori filsafat berkembang sejak Thales yang menyatakan bahwa unsur dasar alam semesta adalah

Diunggah oleh

Rendi Alexandria
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FILSAFAT ILMU

SAINTEK
2011/2012
A. Pengertian dan Asal Mula
Filsafat
 A. Pengertian dan Asal Mula Filsafat
Secara etimologi atau asal usul bahasa,
kata filsafat berasal dari bahasa Yunani,
‘philosophia´ yang merupakan
penggabungan dua kata yakni ‘philos´ atau
‘philein´ yang berarti ´cinta´, ‘mencintai´
atau ‘pencinta´, serta kata ‘sophia´ yang
berarti ‘kebijaksanaan´ atau ‘hikmat´.
Dengan demikian, secara bahasa, ‘filsafat´
memiliki arti ‘cinta akan kebijaksanaan´.
 Cinta artinya hasrat yang besar atau yang
berkobar-kobar atau yang sungguh-
sungguh. Kebijaksanaan, artinya
kebenaran sejati atau kebenaran yang
sesungguhnya. Sedangkan secara
epistemologi (istilah), terdapat ratusan
rumusan pengertian ‘filsafat´. Namun
secara mendasar, filsafat adalah hasrat
atau keinginan yang sungguh-sungguh
untuk menemukan kebenaran sejati.
Mengutip The Liang Gie,
 Suhartono Suparlan, Ph.D. (2007: 45-46)
mengatakan bahwa, definisi filsafat dapat
dipetakan menurut kronologi sejarah
filsafat. Beberapa definisi berdasarkan
kronologi tersebut adalah : 1. Plato (427-
374 SM), mengatakan bahwa filsafat
adalah mengkritik pendapat-pendapat
yang berlaku. Jadi, kearifan atau
pengetahuan intelektual itu diperoleh
melalui suatu proses pemeriksaan secara
kritis, diskusi, dan penjelasan.
2. Aristoteles (384-322 SM),
 Aristoteles (384-322 SM), menyatakan
bahwa filsafat sebagai ilmu menyelidiki
tentang hal di mana ada sebagaian hal
yang berbeda dengan bagian -bagiannya
yang satu atau lainnya. 3. Sir Francis
Bacon (1561-1626 M), menyebutkan
bahwa filsafat adalah induk agung dari
ilmu-ilmu. Filsafat menangani semua
pengetahuan sebagai bidangnya
 4. Rene Descartes (1560-1650), menulis
filsafat sebagai kumpulan segala
pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan
manusia menjadi pokok penyelidikan.
5. Immanuel Kant (1724-1804),
menyampaikan bahwa filsafat adalah
ilmu pengetahuan yang menjadi pokok
dan pangkal dari segala pengetahuan
yang tercakup dalam empat persoalan,
 yakni : a. Apakah yang dapat kita ketahui?
(jawabannya : metafisika). b. Apakah yang
seharusnya kita ketahui? (jawabannya :
agama). c. Sampai dimanakah harapan
kita? (jawabannya : agama).
 d. Apakah yang dinamakan manusia?
 (jawabannya : antropologi). 6. G.W.F
Hegel (1770-1831), menggambarkan
filsafat sebagai landasan maupun
pencerminan dari peradaban. Sejarah
filsafat karenanya merupakan
pengungkapkan sejarah peradaban, dan
begitu juga sebaliknya
 7. Herbert Spencer (1820-1903),
menggariskan filsafat sebagai nama
pengetahuan tentang generalitas yang
tingkatannya paling tinggi. 8. John Dewey
(1859-1952), mendefinisikan filsafat sebagai
suatu pengungkapan mengenai perjuangan
manusia dalam melakukan penyesuaian
kumpulan tradisi secara terus-menerus yang
membentuk budi manusia yang
sesungguhnya terhadap kecenderungan
ilmiah dan cita-cita politik baru dan yang tidak
sejalan dengan wewenang yang diakui.
 Jadi, filsafat merupakan alat untuk membuat
penyesuaian-penyesuaian diantara yang
lama dan yang baru dalam suatu
kebudayaan. 9. Bertrand Russell (1872-
1970), mengakui filsafat sebagai suatu kritik
terhadap pengetahuan. Filsafat memeriksa
secara kritis asas-asas yang dipakai dalam
ilmu dan kehidupan sehari-hari, dan mencari
suatu ketidakselarasan yang dapat
terkandung di dalam asas-asas itu
 10. Louis O. Kattsoff (1963), di dalam bukunya
Elements of philosophy mengartikan filsafat
sebagai berpikir secara kritis, sistematis,
rasional, komprehensif (menyeluruh), dan
menghasilkan sesuatu yang runtut. 11.
Windelband, seperti dikutip Hatta dalam
pendahuluan Alam Pikiran Yunani, ‘filsafat
sifatnya merentang pikiran sampai sejauh-
jauhnya tentang suatu keadaan atau hal yang
nyata.´ 12. Frans Magnis Suseno dalam
bukunya yang berjudul Berfilsafat Dari Konteks,
mengartikan ‘filsafat´ sebagai usaha tertib,
 metodis, yang dipertanggungjawabkan
secara intelektual untuk melakukan apa yang
sebetulnya diharapkan dari setiap orang
yang tidak hanya mau membebek saja, yang
tidak hanya mau menelan mentah-mentah
apa yang sudah dikunyah sebelumnya oleh
pihak-pihak lain. Yaitu, untuk mengerti,
memahami, mengartikan, menilai, mengkritik
data-data, dan fakta-fakta yang dihasilkan
dalam pengalaman sehari-hari dan melalui
ilmu-ilmu. Dari arti di atas, kita kemudian
dapat mengerti filsafat secara umum
 Filsafat adalah suatu ilmu, meskipun bukan ilmu
yang biasa, yang berusaha menyelidiki hakikat
segala sesuatu untuk memperoleh kebenaran.
 Selain terminologi’filsafat´, terdapat pula
sejumlah istilah yang serupa dengan ³filsafat´
yaitu ³falsafah´, ³falsafi´ atau ³filsafati´, ³berpikir
filosofis´ dan ³mempunyai filsafat hidup´.
³Falsafah´ itu tidak lain filsafat itu sendiri. ³Falsafi
´ atau ³falsafati´ artinya ³bersifat sesuai dengan
kaidah-kaidah filsafat´. ³Berpikir filosofis´, adalah
berpikir dengan dasar cinta akan kebijaksanaan.
 Cara berpikir yang filosofis adalah
berusaha untuk mewujudkan gabungan
antara keduanya, berpikir benar, dan
berkehendak baik. Pengertian filsafat
dapat dibedakan dalam enam pengertian :
1. Filsafat sebagai suatu sikap Filsafat
merupakan sifat terhadap kehidupan dan
alam semesta.
 Bagaimana manusia yang berfilsafat dalam
menyikapi hidupnya dan alam sekitarnya.
Contoh: seorang ibu yang tiba-tiba mendapat
berita kematian putrinya yang pramugari.
Seorang ibu yang mampu berpikir secara
mendalam dan menyeluruh dalam menghadapi
musibah tersebut akan dapat bersikap dewasa,
dapat mengontrol dirinya dan tidak emosional.
Sikap kedewasaan secara kefilsafatan adalah
sikap yang menyelidiki secara kritis, terbuka
dan selalu bersedia meninjau persoalan dari
semua sudut pandangan
 2. Filsafat sebagai suatu metode Berfilsafat
adalah berpikir secara reflektif, yaitu berpikir
dengan memperhatikan unsur di belakang
objek yang menjadi pusat pemikirannya. 3.
Filsafat sebagai kumpulan persoalan Banyak
persoalan-persoalan abadi yang dihadapi
oleh para filsuf. Usaha-usaha untuk
memecahkannya telah dilakukan, namun ada
persoalan -persoalan yang sampai hari ini
belum juga terpecahkan. Contoh: persoalan
apakah ada ide-ide bawaan? Hal ini telah
dijawab oleh John Locke.
 Contoh: berapa IP (indeks prestasi) yang
Anda capai semester ini? Pertanyaan
yang demikian dapat langsung dijawab
karena bersangkutan dengan fakta.
Sedangkan pertanyaan yang berikut:
Apakah Tuhan itu ada? Apakah
kebenaran itu? Apakah keadilan itu Ada
perbedaan antara pertanyaan filsafat
dengan pertanyaan bukan filsafat?
 4. Filsafat merupakan system pemikiran
Dalam sejarah filsafat telah dirumuskan
sistem-sistem pemikiran dari Socrates,
Plato, dan Aristoteles. Dengan demikian
tanpa adanya nama-nama pemikir
tersebut beserta hasil pemikirannya, maka
filsafat tidak dapat berkembang seperti
sekarang.
 5.
 Filsafat merupakan analisis logis Para
tokoh filsafat analitis berpendapat bahwa
tujuan filsafat adalah menyingkirkan
kekaburan-kekaburan dengan cara
menjelaskan arti dari suatu istilah, baik
yang dipakai dalam ilmu maupun dalam
kehidupan sehari-hari.
 6.
 Filsafat merupakan suatu usaha untuk
memperoleh pandangan secara
menyeluruh Filsafat mencoba
menggabungkan kesimpulan-kesimpulan
dari berbagai macam ilmu serta
pengalaman manusia menjadi suatu
pandangan dunia yang menyeluruh.
Hakikat dari sesuatu haruslah mempunyai
sifat-sifat berikut:
 a. Umum, artinya dapat diterapkan secara
luas. b. Abstrak, artinya tidak dapat
ditangkap dengan panca indera, dan
hanya dapat ditangkap dengan akal. c.
Mutlak harus terdapat pada sesuatu hal,
sehingga halnya menjadi ada. Menurut
Descrates ada beberapa tahapan untuk
memulai perenungan filsafat, yaitu:
Menyadari adanya masalah,
 apabila seseorang menyadari bahwa ada
sesuatu masalah, maka orang tersebut akan
mencoba untuk memikirkan penyelesaiannya.
Meragu-ragukan dan menguji secara rasional
anggapan-anggapan setelah selesai
dirumuskan, mulailah mengkaji pengetahuan
yang diperoleh melalui indera Dan
meragukannya. Memeriksa penyelesaian-
penyelesaian yang terdahulu setelah menguji
 pengetahuan perlu mempertimbangkan
penyelesaian-penyelesaian yang telah
diajukan mengenai masalah yang
bersangkutan. Mengajukan hipotesis
Menguji konsekuensi-konsekuensi,
mengadakan verifikasi terhadap hasil-hasil
penjabaran yang telah dilakukan. Menarik
kesimpulan, kesimpulan yang diperoleh
dapat merupakan masalah baru untuk diuji
kembali dan seterusnya.
 B. Perkembangan Teori-teori Filsafat
Pengertian teori (dari bahasa Inggris -
theory, bahasa Latin - theoria, dan bahasa
Yunani - theoreo yang berarti melihat atau
thorus yang berarti pengamatan) menurut
kamus umum bahasa Indonesia
(1995;1041) adalah: 1. 2. Pendapat yang
dikemukakan sebagai keterangan
mengenai suatu peristiwa (kejadian). Atas
dan hukum umu yang menjadi dasar suatu
kesenian atau ilmu pengetahuan.
 3.
 Pendapat, cara, dan aturan untuk
melakukan sesuatu.
 A. Thales (abad ke-16) Menurut Thales arkhe
dalam semesta adalah air. Semuanya
berasal dari air dan semuanya kembali
menjadi air (K. Bertens, 1975:26). Alasan
Thales mengemukakan air sebagai zat asli
alam semesta, karena bahan makanan
semua makhluk memuat zat lembab dan juga
benih pada semua makhluk hidup. Teori
tentang alam semesta ini barangkali terlalu
sederhana, namun pada saat itulah untuk
pertama kalinya manusia berpikir tentang
alam semesta dengan menggunakan rasio.
 B. Herakleitos (abad ke-5 SM) Menurut
Herakleitos, perubahan merupakan satu-
satunya kemantapan, It rest by changing (K.
Bestens, 1975: 42). Tidak ada sesuatu pun
yang betul-betul ada, semuanya menjadi.
Menjadi merupakan perubahan yang tiada
henti-hentinya melalui 2 cara: 1. seluruh
kenyataan merupakan arus sungai yang
mengalir. 2. seluruh kenyataan adalah api
Perkataan yang terkenal dari Herakleitos
adalah panta rhei kai uden menei, semuanya
mengalir dan tidak ada sesuatu pun yang
tinggal mantap. C. Paramenides (515 SM)
Seluruh jalan kebenaran bersandar pada
satu keyakinan: yang ada itu ada, itulah
kebenaran. Ada dua pengandaian yang
dapat membuktikan kebenaran,
 yaitu:
1. orang dapat mengemukakan bahwa yang ada
itu tidak ada. 2. orang dapat mengatakan bahwa
yang serentak ada dan serentak juga tidak ada.
 Kedua pengertian di atas sama-sama mustahil,
yang tidak ada tidak dapat dipikirkan dan tidak
dapat dibicarakan.
 D. Menurut Socrates, manusia merupakan
makhluk yang dapat mengenal, yang harus
mengatur tingkah lakunya sendiri dan yang
hidup dalam masyarakat. Teorinya tentang
manusia bertitik tolak dari pengalaman sehari-
hari dan dari kehidupan yang konkret. Socrates
berusaha menjawab pertanyaan-pertanyaan
berikut ini :
 1. Apakah hidup yang baik? 2. Apakah kebaikan
itu, yang mengakibatkan kebahagiaan seorang
manusia? 3. Apakah norma yang mengizinkan
kita menetapkan baik buruknya suatu
perbuatan? untuk dapat menjawab pertanyaan-
pertanyaan di atas, Socrates memulai dengan
bertanya kepada siapa saja yang ditemuinya.
Metode Socrates ini disebut dialektika dari kata
Yunani dialeqesthai berarti bercakap-cakap atau
berdialog. Karena tujuan dari dialog adalah
untuk menemukan pengertian tentang
kebajikan, maka Socrates menamai metodenya
dengan maieutika tekhne seni kebidanan).
 E. Plato (428 SM) Dari pengertiannya tentang
ide umum dan ide konkret, dapat disimpulkan
bahwa menurut Plato realitas sebenarnya terdiri
dari dua dunia. Satu dunia mencakup
bendabenda jasmani yang dapat ditangkap oleh
panca indera. Pada tahap ini semua realitas
berada dalam perubahan. Contoh: baju yang
sekarang dipakai rapid an bersih, besok sudah
lusuh dan kotor. Karena itu ada suatu dunia
lain, yaitu dunia ideal, yaitu dunia yang terdiri
ide-ide. Dalam dunia ideal ini tidak ada
perubahan, dan sifatnya abadi. Plato
memandang manusia sebagai makhluk yang
terpenting di antara segala makhluk yang
terdapat di dunia ini. Jiwa merupakan pusat
atau intisari kepribadian manusia, dan jiwa
manusia bersifat baka atau kekal.
 F. Aristoteles (384 SM) Sejak Aristoteles
inilah pemikiran-pemikiran filsafat tersusun
secara sistematis, yang dikelompokan dalam
8 bagian, yaitu: 1. Logika 2. Filsafat Alam 3.
Psikologi 4. Biologi 5. Metafisika 6. Etika 7.
Politik dan Ekonomi 8. Retorika dan Paetika
Teori Aristoteles tentang gerak dapat
dipahami melalui contoh berikut ini, yaitu air
dingin menjadi panas. Gerak berlangsung
antara dua hal yang berlawanan antara panas
dan dingin. Namun ada sesuatu hal yang
dulunya dingin kemudian menjadi panas.
 Dengan demikian ada 3 faktor dalam setiap
perubahan yaitu : 1. Keadaan atau ciri yang
terdahulu, yaitu : dingin 2. Keadaan atau ciri
yang baru, yaitu : panas 3. Suatu substratum
atau alas yang tetap, yaitu air. Dalam
pandangannya tentang penyebab tiap-tiap
kejadian, baik kejadian alam maupun kejadian
yang disebabkan manusia, Aristoteles
menyebut ada 4 penyebab, yaitu: 1. Penyebab
efisien (efficient cause) yaitu sumber kejadian,
faktor yang menjalankan kejadian. Contoh:
tukang kayu yang membuat meja makan. 2.
Penyebab final (final cause). Yaitu tujuan yang
menjadi arah seluruh kejadian
 Contoh: meja makan dibuat untuk makan. 3.
Penyebab material (material cause). Yaitu
bahan dari mana benda dibuat. Contoh: meja
makan dibuat dari kayu. 4. Penyebab formal
(formal cause). Yaitu bentuk yang menyusun
bahan. Contoh: bentuk meja ditambah pada
kayu, sehingga kayu menjadi sebuah meja.
 G. Alkindi (796-873 SM) Teorinya tentang
pengetahuan terbagi dalam 2 bagian: 1.
Pengetahuan Ilahi (devine science),
pengetahuan langsung yang diperoleh Nabi dari
Tuhan. 2. Pengetahuan manusiawi (human
scince), pengetahuan yang didasarkan atas
pemikiran
KLASIFIKASI FILSAFAT
 Klasifikasi Filsafat Filsafat Barat adalah
ilmu yang biasa dipelajari secara akademis
di universitasuniversitas di Eropa dan
daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini
berkembang dari tradisi filsafat orang
Yunani kuno. Tokoh utama filsafat Barat
antara lain Plato, Thomas Aquinas, Réne
Descartes, Immanuel Kant, Georg Hegel,
Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx,
Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre.
 Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya
pembidangan dalam filsafat yang menyangkut
tema tertentu. Metafisika mengkaji hakikat
segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat
yang ada dan keberadaan (eksistensi) secara
umum dikaji secara khusus dalam Ontologi.
Adapun hakikat manusia dan alam semesta
dibahas dalam Kosmologi.
 Epistemologi mengkaji tentang hakikat dan
wilayah pengetahuan (episteme secara
harafiah berarti ³pengetahuan´). Epistemologi
membahas berbagai hal tentang pengetahuan
seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu
pengetahuan.
 Aksiologi membahas masalah nilai atau
norma yang berlaku pada kehidupan
manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang
filsafat yang membahas aspek kualitas
hidup manusia: etika dan estetika.
 Etika, atau filsafat moral, membahas
tentang bagaimana seharusnya manusia
bertindak dan mempertanyakan bagaimana
kebenaran dari dasar tindakan itu dapat
diketahui. Beberapa topik yang dibahas di
sini adalah soal kebaikan, kebenaran,
tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya
 Estetika membahas mengenai keindahan dan
implikasinya pada kehidupan. Dari estetika
lahirlah berbagai macam teori mengenai
kesenian atau aspek seni dari berbagai
macam hasil budaya.
 Filsafat Timur Filsafat Timur adalah tradisi
falsafa yang terutama berkembang di Asia,
khususnya di India, Republik Rakyat Cina dan
daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi
budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur
ialah dekatnya hubungan filsafat dengan
agama. Namanama beberapa filsuf Timur,
antara lain Siddharta Gautama/Buddha,
Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang
Zi dan juga Mao Zedong.
 Filsafat Timur Tengah Filsafat Timur
Tengah dilihat dari sejarahnya merupakan
para filsuf yang bisa dikatakan juga
merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat.
Sebab para filsuf Timur Tengah yang
pertama-tama adalah orang-orang Arab
atau orang-orang Islam dan juga beberapa
orang Yahudi, yang menaklukkan daerah-
daerah di sekitar Laut Tengah dan
menjumpai kebudayaan Yunani dengan
tradisi falsafi mereka. Lalu mereka
menterjemahkan dan memberikan
komentar terhadap karya-karya Yunani
 Bahkan ketika Eropa, setelah runtuhnya
Kekaisaran Romawi masuk ke Abad
Pertengahan dan melupakan karya-karya
klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini
mempelajari karya-karya yang sama dan
bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi
oleh orang-orang Eropa. Nama-nama
beberapa filsuf Timur Tengah adalah Ibnu
Sina, Ibnu Tufail, Kahlil Gibran dan
Averroes.
 Filsafat Islam Filsafat Islam merupakan filsafat
yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada
sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam
dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-
filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat
Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun
kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam.
Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila
dalam filsafat lain masih mencari Tuhan, dalam
filsafat Islam justru Tuhan sudah ditemukan.
Filsafat Kristen Filsafat Kristen mulanya disusun
oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan
zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat
yang Kristen tengah berada dalam zaman
kegelapan (dark age). Masyarakat mulai
mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya.
Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah
ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua
filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah
agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas
dan Santo Bonaventura.
 C. Mazhab-mazhab Filsafat Beserta
Tokohnya
Dalam realitasnya, filsafat terbagai ke dalam
beberapa mazhab. Kemunculan mazhab ini
terutama berada di abad pertengahan
sebagai konsekuensi dari munculnya
golongangolongan pemikir yang sepaham
dengan teori, ajaran, bahkan aliran tertentu
terhadap tokohtokoh filsafat atau filsuf.
Mazhab-mazhab dalam filsafat terbagi atas
rasionalisme, positivisme, empirisme,
idealisme, pragmatisme, fenomenologi, dan
eksistensialisme.
 Rasionalisme muncul pada abad ke-17 dan tokoh
yang dikenal dalam mazhab ini adalah Rene
Descrates (1596-1650) yang memopulerkan
ungkapan cogito ergo sum yang berarti aku
berpikir maka aku ada. Menurut Descrates, manusia
memiliki kebebasan dalam berkehendak oleh
karena itu manusia dapat merealisasikan
kebebasannya tersebut dan kebebasanlah yang
merupakan cirri khas kesadaran manusia yang
berpikir. Mazhab ini menekankan metode filsafatnya
pada rasionalitas dan sumber pengetahuan yang
dapat dipercaya adalah rasio atau akal. Metode
deduktif menjadi metode yang popular dalam
mazhab ini. Metode tersebut menggunakan pola
penalaran dengan mengambil kesimpulan dari suatu
yang umum untuk diterapkan kepada hal-hal yang
khusus.
 Empirisme
 Empirisme merupakan mazhab yang
menekankan pada pengalaman nyata atau
empiris yang menjadi sumber dari segala
pengetahuan. Bahwa sebuah pengalaman yang
khusus merupakan kesimpulan dari kebenaran-
kebenaran yang bersifat umum. Ini merupakan
kebalikan dari mazhab rasionalisme, seiring
pula kemunculan mazhab empirisme pada abad
yang sama dengan rasionalisme. Tokoh yang
terkenal dalam mazhab ini ada lah Thomas
Hobbes (1588-1679) dan John Locke (1632-
1704). Menurut kedua tokoh ini, pengalaman
adalah awal dari semua pengetahuan dan
dapat memberikan kepastian.
 Pengalaman ini bisa berupa pengalaman
lahiriah maupun batin yang keduanya
saling berhubungan. Pengalaman lahiriah
menghasilkan gejala-gejala psikis yang
harus ditanggapi oleh pengalaman
batiniah. Idealisme Idealisme merupakan
istilah yang digunakan oleh Leibniz pada
abd ke-18. Merujuk pada pemikiran Plato
bahwa idealisme memfokuskan pemikiran
bahwa seluruh realitas itu bersifat spiritual
atau psikis, dan materi yang bersifat fisik
sebenarnya tidaklah nyata.
 Pemikiran ini didukung oleh George Wilhem
Friederch Hegel (1770-1831) di Jerman yang
memiliki pendapat bahwa yang mutlak adalah
roh yang mengungkapkan dirinya di dalam
alam dengan maksud agar dapat sadar akan
dirinya sendiri dan hakikat dari roh itu adalah
idea tau pikiran. Menurut Hegel, semuanya
yang real bersifat rasional dan semuanya yang
rasional bersifat real. Metode dialektik
diperkenalkan oleh Hegel dengan menerapkan
tiga proses dialektik, yaitu teas, antitesa, dan
sintesa dimana ia mengusahakan kompromi
antara beberapa pendapat yang berlawanan
satu sama lainnya.
 Positivisme Positivisme merupakan mazhab
yang menekankan pemikiran pada apa yan
telah g diketahui, yang faktual, nyata, dan apa
adanya. Postivis mengandalkan pada
pengalaman individu yang tampak dan
dirasakan dengan pancaindera. Sehingga
segala sesuatunya yang bersifat abstrak atau
metafisik tidak diakui. August Comte (1798-
1857) merupakan tokoh mazhab ini yang
menyatakan bahwa manusia tidak mencari
penyebab yang berada di belakang fakta dan
dengan menggunakan rasionya manusia
berusaha menetapkan relasi-relasi antarfakta.
Pragmatisme Pragmatisme muncul pada awal
abd ke-20.
 Mazhab ini menegaskah bahwa segala
sesuatunya haruslah bernilai benar apabila
membawa manfaat secara praktis bagi
manusia. Artinya, pengetahuan yang berasal
dari pengalaman, rasio, pengamatan,
kesadaran lahiriah maupun batiniah, bahkan
yang bersifat abstrak atau misti pun akan s
diterima menjadi sebuah kebenaran apabila
membawa manfaat praktis. John Dewey
(1859-1852) merupakan tokoh dalam
mazhab ini yang berpendapat bahwa filsafat
tidak boleh hanya mengandalkan pemikiran
metafisis yang tidak bermanfaat praktis bagi
 manusia, melainkan harus berpijak pada pengalaman yang
diolah secafa aktif kritis dan memberikan pengarahan bagi
perbuatan manusia dalam kehidupan nyata. Fenomenologi
Fenomenologi merupakan mazhab yang bersandar pada
kemunculan fenomena-
 fenomena baik yang nyata maupun semu. Fenomena tidak
hanya bisa dirasakan oleh indera, juga dapat digapai tanpa
menggunakan indera. Tokoh dalam mazhab ini adalah
Edmund Husserl (1859-1938) yang menegaskan hukum-
hukum logika yang memberi kepastian sebagai hasil
pengalaman bersifat a priori dan bukan bersifat a posteriori.
Eksistensialisme Eksistensialisme dipelopori oleh Jean Paul
Sartre (1905-1980) yang mengembangkan pemikiran bahwa
filsafat berpangkal dari realitas yang ada dan manusia itu
memiliki hubungan dengan keberadaannya dan bertanggung
jawab atas keberadaan tersebut. Mazhab ini menekankan
pada bagaimana cara manusia berada di dunia yang berbeda
dengan benda-benda atau objek lainnya. Dengan kata lain,
eksistensialisme menegaskan tentang bagaimana cara
manusia bereksistensi dan bukan sekadar hanya berada
sebagai mana benda-benda lainnya.
FILSAFAT ILMU
 A. Pendahuluan
 Filsafat ilmu mulai merebak diawal abad ke 20,
namun diabad ke 19 dapat dikatakan Fancis Bacon
sebagai peletak dasar filsafat ilmu dengan metode
yang dimiliknya, metode induksi. Filsafat ilmu mulai
mengedepan tatkala ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) mengalami kemajuaan yang
sangat pesat, IPTEK dipandang dapat mengancam
eksistensi umat manusia, namun sejauh ini hanya
merupakan kekhawatiran para Agamawan, ilmuan,
juga kalangan filusuf sendiri. Kekahawatiran tersebut
pada dasarnya dikarenakan, munculnya suatu
pengembangan IPTEK berjalan terlepas dari
asumsi-asumsi dasar filosofnya, seperti:
 Landasan ontologis Epistemologis
Aksiologi
 Yang cenderung berjalan sendiri-sendiri,
untuk memahami gerak perkembangan
IPTEK maka dibutuhkan pemahaman filsafat
ilmu, sebagai upaya meletakan kembali
peran dan fungsi IPTEK sesuai dengan
tujuan semula, yakni mendasarkan diri dan
conceren terhadap kebahagian umat
manusia, inilah merupakan pokok bahasan
utama yang akan dikedepankan terlebih
dahulu, disamping objek dan pengertian
filsafat ilmu.
B. Pengertian dan Tujuan Filsafat Ilmu
 Pengertian
-
 Robert Ackermann mendefinisikan filsafat ilmu
adalah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat
ilmiah dewasa ini, yang telah dibandingkan dengan
pendapatpendapat dahulu yang telah dibuktikan.
 Lewis White Beck menyatakan bahwa filsafat ilmu itu
mempertanyakan dan menilai metode-metode
pemikiran ilmiah, serta mencoba menetapakan nilai
dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu
keseluruhan.
 Cornelius Benjamin berpendapat bahwa filsafat ilmu
merupakan cabang pengetahuan dan falsafti yang
menelaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu,
metode-metodenya, konsep-konsepnya, dan
praanggapan-praanggapannya, serta letaknya dalam
kerangka umum dari cabang pengetahuan intelektual.
 May Brodbeck mengutarakan filsafat ilmu
itu sebagai analisis yang netral secara etis
dan falsafati, pelukisan, dan penjelasan
mengenai landasan-landasan ilmu.
 Keempat definisi diatas memperlihatkan
suatu ruang lingkup atau cakupan yang
dibahas didalam filsafat ilmu, antara lain:
1. 2. 3. 4. 5. Komparasi kritis sejarah
perkembangan ilmu Sifat dasar ilmu
pengetahuan Metode ilmiah Praanggapan-
praanggapan ilmiah Sikap etis dalam
pengembangan ilmu pengetahuan
Tujuan Filsafat Ilmu
 Filsafat ilmu sebagai suatu cabang khusus
filsafat yang membicarakan tentang sejarah
 perkembangan ilmu, metode-metode ilmiah, sikap
etis yang harus dikembangkan para ilmuwan
secara umum memiliki tujuan-tujuan sebagai
berikut:
1. Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian
penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi
 kritis terhadap kegiatan ilmiah. sikap seorang
ilmuwan mesti kritis pada bidang ilmuanya,
sehingga terhindar dari sikap Solipsistik (tak ada
pendapat yang paling benar).
2. Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi,
menguji, mengkritik asumsi dan metode
 keilmuan.
 Satu sikap yang diperlukan disini yakni
menerapkan metode sesuai atau cocok
dengan struktur ilmu pengetahuan, karena
metode merupakan sarana berfikir, bukan
merupakan hakikat ilmu pengetahuan.
3. Filsafat ilmu memberikan pendasaran
logis terhadap metode keilmuan, secara
logis
 atau rasional pengembangan metode dapat
dipertanggungjawabkan, agar dapat
dipahami dan dipergunakan secara umum.
Validnya suatu metode ditentukan dengan
diterimanya metode tersebut secara umum.
C. Pengetahuan dan Ukuran
Kebenaran
 Dalam Encyclopedia of Philosophy, pengetahuan
didefinisikan sebagai kepercayaan yang benar
(knowledge is justified true belief). Menurut Sidi
Gazalba, pengetahuan adalah apa yang
diketahui atau hasil pekerjaan mengetahui.
Pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar
maka bukan pengetahuan tetapi kekeliruan atau
kontradiksi. Pengetahuan merupakan hasil suatu
proses atau pengalaman yang sadar.
Pengetahuan (knowledge) merupakan
terminologi generik yang mencakup seluruh hal
yang diketahui manusia
 Dengan demikian pengetahuan adalah
kemampuan manusia seperti
 perasaan, pikiran, pengalaman, pengamatan,
dan intuisi yang mampu menangkap alam dan
kehidupannya serta mengabstraksikannya
untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan manusia
mempunyai pengetahuan adalah : 1. 2. 3. 4.
Memenuhi kebutuhan untuk kelangsungan
hidup. Mengembangkan arti kehidupan.
Mempertahankan kehidupan dan kemanusiaan
itu sendiri. Mencapai tujuan hidup.
Jenis Pengetahuan
 a. Pengetahuan biasa (common science)
yang digunakan terutama untuk kehidupan
sehari-hari tanpa mengetahui seluk-beluk
yang sedalam-dalamnya dan seluasluasnya.
b. Pengetahuan Ilmia atau ilmu, adalah
pengetahuan yang diperoleh dengan cara
khusus, bukan hanya untuk digunakan saja
tetapi ingin mengetahui lebih dalam dan luas
untuk mengetahui kebenarannya, tetapi
masih berkisar pada pengalaman.
 c. Pengetahuan filsafat, adalah
pengetahuan yang tidak mengenal batas,
sehingga yang dicari adalah sebab-sebab
yang paling dalam dan hakiki sampai di luar
dan di atas pengalaman biasa. d.
Pengetahuan agama, suatu pengetahuan
yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para
nabi. Pengetahuan ini bersifat mutlak dan
wajib diyakini oleh para pemeluk agama.
 Hakekat Pengetahuan Ada dua teori yang digunakan
untuk mengetahui hakekat pengetahuan : 1.
Realisme, teori ini mempunyai pandangan realistis
terhadap alam. Pengetahuan adalah gambaran yang
sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata. 2.
Idealisme, teori ini menerangkan bahwa
pengetahuan adalah proses-proses mental atau
psikologis yang bersifat subjektif. Pengetahuan
merupakan gambaran subjektif tentang sesuatu
yang ada dalam alam menurut pendapat atau
penglihatan orang yang mengalami dan
mengetahuinya. Premis pokok adalah jiwa yang
mempunyai kedudukan utama dalam alam semesta.
Sumber Pengetahuan
 Ada beberapa pendapat tentang sumber
pengetahuan antara lain :
- Empirisme,
 Menurut aliran ini manusia memperoleh
pengetahuan melalui pengalaman
 Dalam hal ini harus ada 3 hal, yaitu yang
mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan
cara mengetahui (pengalaman). Tokoh yang
terkenal antara lain : John Locke (1632-1704),
George Barkeley (1665-1753) dan David Hume.
 Rasionalisme, aliran ini menyatakan bahwa akal
(reason) merupakan dasar kepastian
 dan kebenaran pengetahuan, walaupun belum
didukung oleh fakta empiris. Tokohnya adalah
Rene Descartes (1596-1650), Baruch Spinoza
(1632-1677) dan Gottried Leibniz (1646-1716).
- Intuisi. Dengan intuisi, manusia memperoleh
pengetahuan secara tiba-tiba tanpa melalui
proses penalaran tertentu. Henry Bergson
menganggap intuisi merupakan hasil dari evolusi
pemikiran yang tertinggi tetapi bersifat personal.-
Wahyu, merupakan pengetahuan yang bersumber
dari Tuhan melalui hambanya yang terpilih untuk
menyampaikannya (Nabi dan Rasul). Melalui
wahyu atau agama, manusia diajarkan tentang
sejumlah pengetahuan baik yang terjangkau atau
pun tidak terjangkau oleh manusia.
 Ukuran Kebenaran
 Berfikir merupakan suatu aktivitas manusia untuk
menemukan kebenaran. Apa yangdisebut benar oleh
seseorang belum tentu benar bagi orang lain, oleh karena itu
diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran. Ada tiga
jenis kebenaran yaitu : Kebenaran epistemologi (berkaitan
dengan pengetahuan), kebenaran ontologis (berkaitan
dengan sesuatu yang ada atau diadakan), dan kebenaran
semantis (berkaitan dengan bahasa dan tutur kata). Ada
empat teori kebenaran, yaitu : teori korespondensi, teori
koherensi, teori pragmatisme, dan teori kebenaran Illahiah
atau agama. Ketiga teori pertama mempunyai perbedaan
paradigma. Teori koherensi mendasarkan diri pada
kebenaran rasio, teori korespondensi pada kebenaran faktual,
dan teori pragmatisme fungsional pada fungsi dengan
kegunaan kebenaran itu sendiri. Tetapi ketiganya memiliki
persamaan, yaitu : seluruh teori melibatkan logika, baik logika
formal maupun material (deduktif dan induktif), melibatkan
bahasa untuk menguji kebenaran itu, dan menggunakan
pengalaman untuk mengetahui kebenaran itu.
 1.
Teori Korespondensi (Correspondence
Theory og Truth)
 Teori Korespondensi (Correspondence Theory og
Truth) Teori korenspondensi menerangkan bahwa
kebenaran atau sesuatu keadaan benar itu terbukti
benar bila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud
suatu pernyataan atau pendapat dengan objek yang
dituju atau dimaksud oleh pernyataan atau pendapat
tersebut. Kebenaran adalah kesesuaian pernyataan
dengan fakta, yang berselaras dengan realitas, yang
serasi dengan situasi aktual. Dengan demikian, ada
lima unsur yang perlu yaitu : pernyataan (statement),
persesuaian (agreement), situasi (situation), kenyataan
(realitas), dan putusan (judgement). Teori ini dianut
oleh aliran realis, pelopornya Plato, Aristoteles dan
Moore. Dikembangkan lebih lanjut oleh Ibnu Sina,
Thomas Aquinas di abad skolastik, serta oleh Bertrand
Russel pada abad modern. Cara berpikir ilmiah yaitu
logika induktif menggunakan teori korespondensi ini.
Teori Koherensi (The Coherence of Truth)

 Teori Koherensi (The Coherence of Truth) Teori ini


menganggap suatu pernyataan benar bila didalamnya
tidak ada pertentangan, bersifat koheren dan konsisten
dengan pernyataan sebelumnya yang telah dianggap
benar. Dengan demikian suatu pernyataan dianggap
benar, jika pernyataan itu dilaksanakan atas
pertimbangan yang konsisten dengan pertimbangan
lain yang telah diterima kebenarannya, misalnya jika A
= B dan B = C, maka A = C. Logika matematik yang
deduktif memakai teori kebenaran koherense ini, logika
ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika
premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini
digunakan oleh aliran metafisikus-rasionalis dan
idealis. Teori ini sudah ada sejak pra Socrates,
kemudian dikembangkan oleh Benedictus Spinoza dan
George Hegel.
Teori Pragmatisme (The Pragmatic
Theory of Trut
 Teori Pragmatisme (The Pragmatic Theory of Truth)
Teori ini menganggap suatu pernyataan, teori atau
dalil itu memiliki kebenaran bila memiliki kegunaan
dan manfaat bagi kehidupan manusia. Kaum
pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya
dengan kegunaan (utility), dapat dikerjakan
(workability), dan akibat yang memuaskan
(satisfactory consequence). Oleh karena itu tidak ada
kebenaran yang mutlak atau tetap, kebenarannya
tergantung pada kerja, manfaat dan akibatnya. Akibat
hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :
sesuai dengan keinginan dan tujuan, sesuai dan teruji
dengan suatu eksperimen, dan ikut membantu serta
mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada). Teori
ini merupakan sumbangan paling nyata dari
 para filsup Amerika. Tokohnya adalah Charles S.
Pierce (1839-1914) dan diikuti oleh William James
dan John Dewey (1859-1952). 4. Teori Kebenaran
Illahiah atau Agama Ketiga teori kebenaran
sebelumnya menggunakan akal budi, fakta, realitas
dan kegunaan sebagai landasannya. Sedangkan
dalam teori kebenaran agama digunakan wahyu
yang bersumber pada Tuhan. Sebagai makhluk
pencari kebenaran, manusia dapat mencari dan
menemukan kebenaran melalui agama, dengan
demikian sesuatu dianggap benar bila sesuai dan
koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai
penentu kebenaran mutlak. Agama dengan kitab
suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas
segala persoalan manusia, termasuk kebenarannya.
 Obyek Materi dan Obyek Formal
Obyek ilmu pengetahuan ada yang berupa materi
(obyek materi) dan ada yang berupa
 bentuk (obyek forma). Obyek materi adalah sasaran
material suatu penyelidikan, pemikiran, atau penelitian
keilmuwan, bisa berupa benda-benda material maupun
yang non-material, bisa pula berupa hal-hal, masalah-
masalah, ide-ide dan konsep-konsep. Sedangkan
menurut obyek formanya, ilmu pengetahuan itu berbeda-
beda dan banyak jenis serta sifatnya. Ada yang tergolong
ilmu pengetahuan fisis (ilmu pengetahuan alam), ilmu
pengetahuan non-fisis (ilmu pengetahuan sosial dan
humaniora serta ilmu pengetahuan ketuhanan) karena
pendekatannya menurut segi kejiwaan. Ilmu
pengetahuan fisis termasuk ilmu pengetahuan yang
bersifat kuantitatif sementara ilmu pengetahuan non-fisis
merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kualitatif.

Anda mungkin juga menyukai