0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan24 halaman

Teknik Appendikografi untuk Diagnosa Apendisitis

Dokumen tersebut membahas tentang appendikografi, teknik pemeriksaan radiologi untuk melihat appendix dengan menggunakan barium sulfat. Dibahas pula anatomi appendix, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, dan cara melakukan pemeriksaan appendikografi secara detail mulai dari persiapan pasien, alat, posisi pasien dan sinar X, serta interpretasi hasilnya.

Diunggah oleh

Helzea Ta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan24 halaman

Teknik Appendikografi untuk Diagnosa Apendisitis

Dokumen tersebut membahas tentang appendikografi, teknik pemeriksaan radiologi untuk melihat appendix dengan menggunakan barium sulfat. Dibahas pula anatomi appendix, etiologi, patofisiologi, gejala klinis, dan cara melakukan pemeriksaan appendikografi secara detail mulai dari persiapan pasien, alat, posisi pasien dan sinar X, serta interpretasi hasilnya.

Diunggah oleh

Helzea Ta
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Appendikografi

By : Livia Ade Nansih, [Link]


Pengertian
 Appendikografi : Teknik
pemeriksaan radiologi untuk
memvisualisasikan appendiks
dengan menggunakan kontras media
positif barium sulfat .
Dapat dilakukan :
 Secara oral
 Secara anal
anatomi
 Apendiks adalah lumen panjang (± 10 cm)
yang terbentang dari tepi bawah
posteromedial sekum. Lumennya sempit di
bagian proksimal dan melebar di bagian
distal.
 Apendisitis dapat bersentuhan dengan
peritoneum parietal dalam pelvis, retroileal
atau retrokolon. Posisi yang tersembunyi
menyebabkan perubahan manifestasi klinis
apendisitis.
Appendisitis akut merupakan keadaan
gawat darurat
ETIOLOGI
 Apendisitis akut merupakan infeksi bacteria.
Berbagai hal berperan sebagai faktor
pencetusnya.
1. Sumbatan lumen appendiks
2. Tumor appendiks
3. cacing askaris
patofisiologi
 Appendisitis merupakan peradangan apendiks
yang mengenai semua lapisan dinding organ
tersebut. Dapat dimulai di mukosa dan
kemudian meliputi seluruh lapisan dinding
appendiks dalam waktu 24-48 jam pertama.
 Mula-mula disebabkan sumbatan lumen
 Penyumbatan pengeluaran sekret mukus
 Bila keadaan ini dibiarkan terus menerus

biasanya mengakibatkan nekrosis, gangren


dan perforasi.
Tanda dan gejala klinis
 Nyeri perut mulai dari epigastrium dan
kemudian beralih ke kuadran kanan bawah
abdomen.
 Nyeri pada hiperekstensi dari paha kanan

(sering mengindikasikan apendiks


retroperitoneal retrosekal)
 Peningkatan nyeri perut kanan bawah saat

batuk
 Nyeri bisa seperti pada seluruh abdomen, ini

seperti tanda perforasi.


Pemeriksaan Radiologis

 Foto polos
abdomen tampak
apendikolith
(panah).
 Keuntungan dari  Kerugian
pemeriksaan ini pemeriksaan ini
dapat untuk adalah tingginya
menegakkan eksposi radiasi,
diagnosis penyakit pemeriksaan ini
lain yang tidak cocok untuk
menyerupai pasien gawat
apendisistis darurat.
Pengisian penuh dengan kontras pada
apendiks, apendiks normal
PERSIAPAN BAHAN

Bahan kontras barium sulfat


dengan perbandingan 1 : 4
sampai 1 : 8
PERSIAPAN PASIEN
PERSIAPAN ALAT

  48 jam sebelum pemeriksaan


dianjurkan makan makanan lunak  Pesawat sinar-X atau
tidak berserat. Misal : bubur kecap
 12 jam atau 24 jam sebelum
fluoroskopi
pemeriksaan pasien diberikan 2/3  Kaset + film
Dulcolac untuk diminum 
 Pagi hari pasien diberi dulkolac
supositoria melalui anus atau
dilavement 
 4 jam sebelem pemeriksaan
pasien harus puasa hingga
pemeriksaan berlangsung 
 Pasien dianjurkan menghindari
banyak bicara dan merokok
PA/AP PROJECTION
Posisi Pasien : Pasien pada posisi prone atau supine, dengan
bantal di kepala.
Posisi Objek :
 MSP berada di tengah-tengah meja pemeriksaan

 Pastikan tidak ada rotasi 

Central Ray :
 CR tegak lurus terhadap kaset

 CP setingi iliac crest 

 FFD 100 cm

Struktur yang tampak :


 Colon bagian transversum harus diutamakan terisi barium

pada posisi PA dan terisi udara pada posisi AP dengan teknik


double contrast.
 Seluruh luas usus harus nampak termasuk flexure olic kiri.
RPO (Right Posterior Oblique)
 Posisi Pasien : 35 to 45o menuju right dan
left porterior oblique (RPO atau LPO)
 Posisi Objek :
 Letakan bantal di atas kepala.
 Flexikan siku dan letakan di depan tubuh
pasien 
 Luruskan MSP dengan meja pemeriksaan
dengan abdominal margins kiri dan kanan
sama jauhnya dari garis tengah meja
pemeriksaan
CENTRAL RAY :
 CR tegak lurus
 Sudutkan CR dengan titik pusat setinggi iliac dan

sekitar 2,5 cm lateral menuju garis midsaggital


plane (MSP).  
 FFD 100 cm

STRUKTUR YANG TAMPAK


 LPO – colic flexura hepatic kanan dan ascending &

recto sigmoid portions harus tampak terbuka tanpa


superimposition yang significant. RPO- colicflexure
kiri dan descending portions harus terlihat terbuka
tanpa superimposition yang significant.
 Foto Appendecogram
Appendecogram (-) :
berarti gambar
appendix tidak nampak
karena adanya
obstruksi sehingga
kontras barium tidak
mengisi appendix.
Kesimpulan :
Appendixitis

Anda mungkin juga menyukai