PULSE CODE MODULATION
(PCM)
TEKNIK ELEKTRO
STT PLN
MODULASI KODE-PULSA (PCM)
Modulasi Kode-pulsa (PCM) digunakan untuk
mengubah sinyal-sinyal analog menjadi bentuk digital
biner. (Jarang digunakan untuk transmisi langsung).
Langkah pertama dalam sistem PCM adalah mengkuan-
tisasikan sinyal modulasi.
Dalam proses kuantisasi, daerah total dari sinyal
modulasi dibagi-bagi menjadi beberapa subdaerah
yang kecil
Hasilnya ialah sebuah bentuk gelombang yang
bertingkat-tingkat yang mengikuti tinggi rendahnya
sinyal modulasi asli, dimana setiap tingkat disinkronkan
dengan perioda pencuplikan.
Sistem Komunikasi PCM
Pulse Code Modulation (PCM)
Pulse code modulation (PCM) banyak digunakan untuk
digitasi suara.
Dirancang untuk sistem pembicaraan telepon.
Hi fi bandwidth 20 kHz
Telepon: 300Hz s/d 3.4 kHz
Dalam praktek komponen diatas 4 KHz diabaikan.
Laju pencuplikan minimum: 2 * 4000 = 8000 cuplikan per
detik.
Amplitudo setiap cuplikan diubah menjadi kode 8-bit.
Aliran data yang dihasilkan: 8,000 cuplikan/detik x 8
bit/cuplikan adalah 64,000 bps
DIGITASI SINYAL SUARA
Rangkaian Telepon Analog
Voice Over IP (VOIP)
Blok Diagram Proses PCM
Analog Anti Sample PAM Analog to
input aliasing and PCM
digital
signal Filter hold output converter output
Arsitektur PCM terdiri atas rangkaian sample-and-hold (S/H)
dan sistem untuk mengubah sinyal cuplikan menjadi bentuk
format biner.
Pengubah analog ke digital (ADC) digunakan untuk
mengubah sinyal informasi analog kedalam bentuk format
digital (digitasi).
Bagan Dasar Pengubah Analog ke Digital
01011…
xa(t) x(n) xq(n)
Pencuplikan Kuantisasi Pengkodean
Sinyal Sinyal Sinyal
analog waktu terkuan- Sinyal
diskrit tisasi digital
1. Pencuplikan. Ini adalah konversi suatu sinyal waktu-
kontinyu menjadi suatu sinyal waktu diskrit yang
diperoleh dengan mengambil “cuplikan” sinyal waktu-
kontinyu pada saat waktu diskrit.
Jika xa(t) adalah masukan terhadap cuplikan, keluarnya
adalah xa(nT) x(n) , dengan T dinamakan selang
cuplikan.
Bagan Dasar Pengubah Analog ke Digital
2. Kuantisasi. Ini adalah konversi sinyal yang bernilai
kontinyu waktu-diskrit menjadi sinyal digital bernilai
diskrit.
Selisih antara x(n) yang tidak terkuantisasi dan
keluaran xq(n) yang terkuantisasi dinamakan
kesalahan kuantisasi.
3. Pengkodean. Dalam proses pengkodean, setiap nilai
diskrit xq(n) digambarkan dengan suatu barisan biner-
b
Pencuplikan Periodik Sinyal Analog
Frekuensi pencuplikan (Nyquist rate):
fs 2fa
dimana : fa adalah komponen frekuensi masukkan
tertinggi.
Soal
Suatu sinyal : x(t) = 10 cos(20t)cos(200t)
Tentukan laju pencuplikan Nyquist untuk sinyal tersebut.
Jawab:
x(t) = 10 cos(20t)cos(200t)
cos + cos = 2 cos½( – ) cos½( + )
x(t) = 5 cos(220t) + 5 cos(180t)
Frekuensi pencuplikan: fs 2fa
Cos(2fat) =cos(220t)
fa = 220/2 = 110 Hz
fs 2 (110 Hz) = 220 Hz
PENCUPLIKAN
DIGITASI TELEPON ANALOG
Menggunakan PCM & non-uniform Quantizer
Twisted
Pair Cable Low Pass Sampler
Filter Fs = 8 KHz
Code Quantize
64 Kbps
8 bits/sample 256 levels
Kembali ke suara Analog
64 Kbps Decode Hold
256 levels 1/8000 sec
Low Pass
Analog Out
Filter
Compact Disk
WN = 20 KHz
Audio
Source Low Pass Sampler
Filter Fs = 44.1 KHz
Code Quantize
705.6 Kbps
16 bits/sample 65,536 levels
Compact Disk
705.6 Kbps Decode Hold
65,536 levels 1/44,100 sec
Low Pass
Analog Out
Filter
Bit streams
Digital telephone:
8000 * 8 bits/sample = 64 kbits/s
Digital sound:
44000 * 16 bits/sample *2 = 1,4 Mbits/s
Digital TV
576*720*25*(8 bits/lum + 8bits/chrom) = 166
Mbits/sec
Multimedia: multiplexed programs, data, audio,
pictures, video, ...
Codings for bit streams
Source Cryptographic Channel
coding coding coding
coding
Source coding: compress, watermark, label
Cryptographic coding: cipher, sign
Channel coding: error correcting code, checksum
4 bit Analog digital PCM Quantization
KUANTISASI
Kuantisasi tegangan sinyal dalam 2-bit
Kuantisasi tegangan sinyal dalam 3-bit
Kuantisasi tegangan sinyal dalam 3-bit
Tegangan dari masing-masing tingkat (resolusi):
E maks
S n
2
Kuadrat rata-rata dari tegangan derau kuantisasi:
2
S
E 2
nq
12
Kuadrat rata-rata tegangan sinyal berbentuk sinusoida:
2 2
1 MS ( MS )
E 2S 12 E peak
2
2
2 8
dimana M adalah banyaknya langkah dan
S adalah tegangan tinggi langkah
Maka perbandingan S/N:
S E S2 (MS) 2 12 3 2
2 x 2 2M
N E nq 8 S
Karena: M = 2n
S 3 2n
.2
N 2
Dalam decibel menjadi:
(S/N)dB 10 log( 32 .2 2n ) 1,761 6,02n dB
Lebar Jalur PCM
Misalkan bahwa masing-masing tingkat yang dikuantisasi
diubah menjadi n bit, dan bahwa fs adalah frekuensi
sampling, maka laju pengiriman sinyal adalah:
r = nfs (bit/dtk)
Bila rentetan bit dikodekan sebagai sebuah gelombang
sinkron polar, maka lebar jalur yang diperlukan:
B = (1 + ) r/2 = (1 + )Wn
dengan: W adalah frekuensi tertinggi pada sinyal analog
(fs=2W), dan n jumlah bit.
Perbandingan S/N
Perbandingan S/N ditentukan oleh perbandingan S/N
kuantisasi:
6,02 B
(S/N) dB 1,761
(1 ρ) W
Ini menunjukkan bahwa perbandingan S/N dalam decibel
adalah berbanding lurus dengan faktor ekspansi lebar
jalur B/W.
Soal
Frekuensi tertinggi untuk sinyal percakapan telepon
adalah 3400 Hz dan untuk menampung jalur transisi dari
filter frekuensi audio, lebar jalur ditetapkan standar pada
W=4 kHz untuk hampir semua keadaan. Jika ini
dikodekan untuk n = 8 bit, dan digunakan suatu faktor
“roll-off” =1.
Berapa lebar jalur yang dibutuhkan oleh sistem PCM
tersebut dan hitung perbandingan (S/N)dB
Jawab:
B = (1 + )Wn = (1 + 1) 4000 x 8 = 64.000 Hz (64 kHz)
6,02 B 6,02 64
(S/N) dB 1,761 1,761 49,92 dB
(1 ρ) W (1 1) 4
PCM CODEC
Pembuatan Kode PCM
Proses pembuatan kode (encoding) membangkitkan
suatu angka kode biner yang bersesuaian dengan
angka tingkat kuantisasi yang akan dipancarkan untuk
setiap selang waktu pengambilan sampel ( sampling
interval).
Pengkodean dilakukan menggunakan beberapa
standard, misalnya:
ASCII (American Standard Code for Information Interchange).
EBCDIC (Extended Binary-Code Decimal Interchange Code).
Unicode (16 bit)
ISO 10646, ISO 8859
JIS X-0208-1997.
Pemberian Kode
Banyaknya bit informasi yang diperlukan untuk
menentukan M keadaan pada sistem biner adalah:
n = log2 M (bits)
Efisiensi Kode adalah perbandingan dari banyaknya bit
yang diperlukan untuk menentukan M keadaan dibagi
dengan jumlah banyaknya bit yang digunakan untuk
mengirimkan informasi.
log 2 M
μ x 100%
B
Soal
Jika kita membutuhkan kode biner untuk merepresentasi-
kan 26 kata dalam alphabet. Tentukan berapa jumlah bit
yang diperlukan dan hitung efisiensi kodenya.
Jawab:
Jumlah bit yang diperlukan:
n = log2 M = log2 26 = 4,7
Karena jumlah bit yang digunakan harus integer, maka
jumlah bit yang digunakan : B=5 (25=32).
Maka efisiensi Kode:
log 2 M 4,7
μ x 100% 94 %
B 5
Bits per Simbol (Word PCM)
Berapa bit yang harus kita berikan untuk setiap cuplikan
analog? Untuk saluran telepon digital, setiap cuplikan suara
dikodekan (encode) PCM dalam 8 bit (256 tingkat per
cuplikan).
Pilhan dari jumlah tingkat atau bit percuplikan tergantung
distorsi kuantisasi yang ditoleransikan dalam format PCM.
Hubungan antara jumlah bit per cuplikan analog (ukuran
word PCM) yang dibutuhkan dengan kesalahan distorsi
kuantisasi yang dibolehkan |e|, adalah sebagai berikut:
Vpp Vpp
e maks
2(M 1) 2M
dengan: Vpp adalah tegangan puncak-ke-puncak
M adalah jumlah tingkat kuantisasi
Jika besar dari kesalahan distorsi kuantisasi dinyatakan
sebagai fraksi p dari tegangan puncak-ke-puncak:
|e| p Vpp
maka:
Vpp
pVpp
2M
n 1
2 M
2p
atau:
1
n log 2
2p
M-ary Pulse-Modulation
M-ary pulse-modulation adalah jika cuplikan informasi
dikuantisasi menggunakan himpunan alfabet M-ary dan
kemudian dimodulasi kedalam pulsa-pulsa yang menghasil-
kan modulasi pulsa digital.
SOAL
Suatu informasi dalam bentuk gelombang analog dengan
frekuensi maksimum fm = 3 kHz di transmisikan oleh sistem
M-ary PAM, dimana jumlah tingkat pulsa M=16. Kesalahan
distorsi kuantisasi tidak melebihi 1 % dari puncak-ke-puncak
sinyal analog.
a. Berapa jumlah minimum bits/cuplikan atau bits/word PCM
yang harus digunakan dalam digitasi gelombang analog.
b. Berapa laju kecepatan pencuplikan minimum dan transmisi
kecepatan bit yang dihasilkan.
c. Tentukan laju transmisi simbol (pulsa PAM).
d. Jika lebar jalur transmisi (termasuk pentapisan) sama dengan
12 kHz, tentukan efisiensi lebar jalur sistem ini.
Jawab
a. Jumlah minimum bits/cuplikan (bits/word PCM) yang harus
digunakan dalam digitasi gelombang analog:
1 1
n log 2 log 2 log 2 50 5,64
2p 2 x 0,01
Jadi agar kesalahan distorsi kuantisasi tidak melebih 1%
maka n=6 bit/cuplikan.
b. Laju kecepatan pencuplikan minimum (kriteria Nyquist):
fs = 2 fm = 2x3000 = 6000 cuplikan/detik
Laju transmisi bit:
r = n x fs = 6 bit/cuplikan x 6000 cuplikan/detik
r = 36.000 bit/detik
c. Karena pulsa multilevel yang digunakan M=16, maka
n = log2 16 = 4 bit/simbol
Maka laju transmisi simbol:
36.000 bit/detik
rs 9000 simbol/detik
4 bit/simbol
d. Efisiensi lebar jalur adalah data yang lewat per herts
r 36.000 bit/detik
Efisiensi 3 bit/Hz
W 12.000 Hz
Jenis-jenis Transmisi Digital
Ada empat kelompok pengkodean:
1. NRZ (nonreturn-to-zero).
2. RZ (return-to-zero).
3. Phase-encoded and delay modulation.
4. Multilevel Binary.
Kelompok NRZ
Sinyal data tidak kembali ke-nol selama suatu
interval, artinya kode-kode NRZ tetap konstan selama
suatu interval.
Kode NZR tidak memiliki kemampuan sinkronisasi diri,
sehingga membutuhkan penggunaan bit-bit
sinkronisasi seperti bit start.
Aliran data yang berisi rantai 1 atau 0 akan muncul
sebagai sinyal dc pada penerima.
Ada tiga macam kode-kode NZR:
1) NZR-L (level)
2) NZR-M (mark)
3) NZR-S (space)
NRZ ( Non-Return-to-Zero) Codes
Menggunakan dua tingkat tegangan berbeda
(positif dan negatif) sebagai elemen-elemen
sinyal untuk dua digit biner.
NRZ-L ( Non-Return-to-Zero-Level)
Tengangan tetap selama interval bit.
1 tegangan negatif
0 tegangan positif
NRZ-L digunakan untuk jarak pendek antara terminal
dengan modem atau terminal dengan komputer.
Tabel Kode-kode NZR
NZR-L
NZR-M
NZR-S
1) NZR-L (nonreturn-to zero-level).
1 – high level
0 – low level
2) NZR-M (nonreturn-to zero-mark)
1 – transisi pada awal interval
0 – tanpa transisi
3) NZR-S (nonreturn-to zero-space)
1 – tanpa transisi
0 – transisi pada awal interval
Keuntungan dan Kerugian NRZ
Keuntungan
Perekayasaannya mudah.
Membuat penggunaan yang baik dari bandwidth.
Kerugiannya
Komponen dc.
Kurangnya kemampuan sinkronisasi.
Digunakan untuk perekaman magnetik.
Jarang digunakan untuk transmisi sinyal.
NRZ-I ( Non-Return-to-Zero-Invert on ones)
Tegangan tetap selama interval bit.
1 adanya trasisi sinyal pada awal waktu bit
(transisi low-to-high atau high-to-low)
0 Tidak ada transisi sinyal pada awal waktu bit
NRZI adalah differential encoding (sinyal dikodekan
dengan membandingkannya dengan polaritas elemen-
elemen sinyal berdekatan.)
NRZ
Differential Encoding
Data dinyatakan dengan perubahan-perubahan dari
pada tingkat-tingkat logika.
Deteksi perubahan transisi lebih baik dari pada
perubahan tingkatan.
Untuk transmisi kompleks lebih mudah
menghilangkan polaritas.
NRZ pro and kontra
Pro
Mudah bagi perekayasa
Penggunaan baik dari bandwidth
Kontra
Komponen dc
Tidak adanya kemampuan sinkronisasi
Digunakan untuk perekaman magnetik
Jarang digunakan untuk transmisi sinyal
Kelompok RZ
Pada RZ-unipolar memiliki keterbatasan yang sama
dengan kelompok NRZ, yaitu adanya tingkat dc pada
rentetan data 1 atau 0. Demikian juga kemampuan
sinkronisasinya sangat terbatas.
Kode RZ-bipolar memberikan suatu transasi pada
setiap siklus clock dan suatu teknik pulsa bipolar
digunakan untuk mengecilkan komponen dc.
Kode RZ-AMI (alternate-mark-inversion) memberikan
pulsa-pulsa balikan untuk 1. Teknik ini menghilangkan
komponen dc dari aliran data, tetapi jika suatu nilai
data 0 adalah 0 V, sistem dapat memiliki kemampuan
sinkronisasi yang sangat miskin apabila suatu rentetan
0 yang ditransmisikan.
Bi-Polar Encoding
1 tegangan bolak-balik +1/2 , -1/2
0 tegangan 0
Mempunyai masalah yang sama seperti NRZI yang
mempunyai string panjang dari logika 0.
Masalah sistem polar adalah polaritas dapat
dibalik.
Tabel Kode-kode RZ
RZ-unipolar
RZ-bipolar
RZ-AMI
1. RZ-unipolar
1 – transisi pada awal dari interval.
0 – tanpa transisi
2. RZ-bipolar
1 – transisi positif pada setengan pertama interval clock
0 – transisi negatif pada setengah pertama interval clock
3. RZ-AMI (return-to-zero alternate-mark inversion)
1 – transisi dalam balikan interval clock
0 – tanpa transisi
Pertukaran Biner Multi-tingkat
Tidak se-efisien seperti NRZ
Setiap elemen sinyal hanya mewakili satu bit.
Dalam sistem 3 tingkat dapat merepresentasikan
log23 = 1,58 bit.
Penerima harus membedakan antara tiga
tingkatan (+V, -V, 0).
Membutuhkan daya sinyal lebih dari 3 dB untuk
peluang kesalahan bit yang sama.
Bi –Phase Codes
Kode-kode Bi-phase – membutuhkan paling sedikit satu
transisi per waktu bit dan dapat maksimum dua
transisi.
Laju modulasi maksimum dua kali NRZ dibutuhkan
bandwidth transmisi yang lebih besar.
Kelebihannya:
- Sinkronisasi: dengan suatu prediksi transisi per waktu
bit, penerima dapat mensinkronkan transisi [self-
clocking].
- Tidak ada komponen d.c.
- Deteksi Kesalahan: tidak adanya transisi yang
diharapkan dapat digunakan untuk mendeteksi
kesalahan.
Biphase
Biphase Manchester (Bi-phase M)
Transisi ditengah setiap perioda bit.
Transisi bertindak sebagai clock dan data.
Low ke High merepresetnasikan 1.
High ke Low merepresentasikan 0.
Digunakan dalam IEEE 802.3
Diferential Manchester
Transisi midbit hanya untuk clock.
Transisi pada awal perioda bit menunjukkan 0.
Tanpa transisi pada awal perioda bit
menunjukkan 1.
Digunakan dalam IEEE 802.5
Bi-Phase
Bi-phase M
Bi-phase L
Bi-phase S
Keuntungan dan Kerugian Biphase
Keuntungan
Sinkronisasi pada transisi mid bit (self clocking).
Tidak ada komponen dc.
Deteksi kesalahan: absennya transisi yang
diharapkan.
Kerugian
Paling sedikit satu transisi per waktu bit dan
mungkin dua.
Kecepatan modulasi maksimum dua kali NRZ.
Membutuhkan bandwidth lebih besar.
Kecepatan Modulasi
Arus biner 1 pada kecepatan 1 Mbps
Manchester encoding
Selalu ada mid-bit transition (yang digunakan
sebagai mekanisme clocking).
Arah dari mid-bit transition menggambarkan data
digital.
1 transisi low-to-high
0 transisi high-to-low
Akibatnya, mungkin ada transisi kedua pada awal
interval bit.
Digunakan pada 802.3 baseband coaxial cable and
CSMA/CD twisted pair.
Differential Manchester encoding
mid-bit transition hanya untuk clocking.
1 absence of transition at the beginning of the bit interval
0 presence of transition at the beginning of the bit interval
Differential Manchester adalah selisih dan bi-phase.
Catatan– pengkodeannya kebalikan dari NRZI.
Digunakan pada 802.5 (token ring) with twisted pair.
* Laju modulasi untuk Manchester dan Differential
Manchester adalah dua kali laju data pengkodean
tidak efisien untuk aplikasi jarak jauh.
1 0 1 0 1 1 1 0 0
Unipolar
NRZ
Polar NRZ
NRZ-Inverted
(Differential
Encoding)
Bipolar
Encoding
Manchester
Encoding
Differential
Manchester
Encoding