INTRODUCTION
• Komplementer terapi/alternatif terapi
semakin dikenal dan diminati oleh masyarakat
sebagai pengguna dan para profesional.
• Terapi komplementer/alternatif didasarkan
pada holistik filosofi dan interaksi antara
tubuh, pikiran dan semangat dipercaya bahwa
kombinasi dari semua komponen tersebut
berpengaruh pada proses reproduksi
• The complementary therapy service established
in Northampton in April 1999 offering
aromatherapy and massage (Ager, 2002)
continues to develop in response to women’s
needs.
• This article considers how the service has now
been taken forward, integrating complementary
therapies within conventional care. It includes
reasons for referral, results of a satisfaction
survey and the proposals for future action
(Midwives magazine: May 2005)
• Terapi komplementer adalah cara
Penanggulangan Penyakit yang dilakukan sebagai
pendukung Pengobatan Medis Konvensional atau
sebagai Pengobatan Pilihan lain diluar
Pengobatan Medis yang Konvensional.
• Menurut WHO, pengobatan komplementer
adalah pengobatan non-konvensional yang bukan
berasal dari negara yang bersangkutan.
• Istilah "pengobatan komplementer" atau
"pengobatan alternatif“ mengacu pada satu set
luas praktik pelayanan kesehatan yang bukan
merupakan bagian dari tradisi negara itu sendiri
dan tidak terintegrasi ke dalam sistem pelayanan
kesehatan yang dominan (WHO, 2004)
• Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan
termasuk pengobatan komplementer tetapi
merupakan pengobatan tradisional.
• Pengobatan tradisional yang dimaksud adalah
pengobatan yang sudah dari zaman dahulu
digunakan dan diturunkan secara turun –
temurun pada suatu negara. Tapi di Philipina
misalnya, jamu Indonesia bisa dikategorikan
sebagai pengobatan komplementer.
Klasifikasi
Pelayanan kesehatan tradisional
Layanan Kesehatan Ramuan
Layanan Kesehatan Ketrampilan
Diklasifikasikan menjadi 3 grup
Oleh THE HOUSE OF LORDS (2000)
• GROUP I: Terapi yang • GROUP II: Terapi pelengkap
diorganisasi secara (komplementer) /suportif
profesional , mempunyai dalam pelayanan kesehatan,
sistem yang lengkap dalam bukti riset masih terbatas,
pelayanan kesehatan belum ada aturan secara
dengan jalur pendidikan nasional .
yang terstandar, kode etik • Banyak dipraktekkan oleh
dan berdasarkan bukti riset bidan, perawat & fisioterapis
• AROMATHERAPHY, REFLEXOLOGY,
• OSTTEOPATHY, CHIROPRACTIC,
MASSAGE, SHIATSSU,
ACUPUNCTURE, HERBAL
HYPNOTHERAPHY, YOGA
MEDICINE, HOMEOPATHY
GROUP III: merupakan terapi
alternatif , belum diatur secara
khusus, belum banyak bukti
riset
GROUP III A: GROUP III B
•Sistem tradisional, tidak •Diagnostic terapi,
banyak digunakan di •Cryistal theraphy, dowsing,
kebidanan. iredology, radionic, etc.
•TRADITIONAL CHINESE MEDICINE
(TCM), INDIAN AYURVEDIC
MEDICINE, JAPANESE CAMPO,
ANTHROPOSOPHICAL MEDICENE,
NATUROPHATHY
• Dalam kebidanan, ibu mencari strategi untuk mengatasi
ketidaknyamanan selama kehamilan dan persalinan serta
bantuan untuk relaksasi
• Sebanyak ¾ dari perempuan menggunakan seperti herbal,
hemeopathic, aromaterapi atau pengobatan dengan bunga
(Refuerzo et al 2005)
• sepertiga dari bidan menggunakan terapi komplementer
dalam praktek mereka(NIIS Confederation 1997), meskipun
angka ini adalah mungkin telah melampaui dalam beberapa
tahun terakhir
• Sebanyak 14.4 % BPM di Kabupaten Klaten memberikan
pelayanan kebidanan komplementer: (Kostania, 2015)
• pijat 80.8%,
• hipnotherapi 15.5%,
• accupressure 15.5%,
• herbal 11.5 %,
• Yoga 3.8 %
• Indonesia Sumber daya
hayati terbesar ke2
setelah Brazil.
• Leluhur telah
memanfaatkan tanaman
obat.
• Kesehatan ibu dan anak
sangat kental dipengaruhi
BUDAYA, SOSIAL
EKONOMI
Tumbuhan Obat Berbunga di Indonesia
• Banyak perempuan Indonesia menggunakan
alternatif/komplementer terapi selama proses
reproduksi (jamu,pijat,akupucntur, dll)
• Indonesia memiliki 30.000 jenis tumbuhan
dan 7000 berkhasiat obat.
• 45 macam obat penting di AS yang berasal
dari tumbuhan, 14 spesies berasal dari
Indonesia termasuk vinblastin dan vincristin
(Depkes RI, 2011).
• Amanat presiden RI
(SBY) pada gelar
kebangkitan jamu
2008 : “membangun
sistem integratif dan
pengintegrasian
jamu kedalam
sistem layanan
kesehatan yang
berlaku”.
DASAR HUKUM
• 4 Maret 2008: Kebangkitan Jamu
• 27 Mei 2008: Pencanangan Jamu Brand
Indonesia oleh Presiden RI
• Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia no 381/MenKes/SK/III/2007
tentang kebijakan obat tradisional
• Peraturan Menteri Kesehatan
No.1109/Menkes/PER/X/2007 tentang
penyelenggaraan pengobatan komplementer –alternatif
difasilitas kesehatan pelayanan kesehatan, jenis
pengobatan tenaga pelaksana termasuk tenaga asing:
– pelayanan komplementer-alternatif dapat dilaksanakan
secara sinergi, terintegrasi, dan mandiri di fasilitas pelayanan
kesehatan.
– Pengobatan itu harus aman, bermanfaat, bermutu, dan dikaji
institusi berwenang sesuai dengan ketentuan berlaku
• Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 003/MENKES/PER/I/2010 tentang Santifikasi
Jamu Dalam Penelitian Berbasis Pelayanan
Kesehatan
• Keputusan Menteri Kesehatan No.
1076/Menkes/SK/2003 tentang pengobatan
tradisional: diuraikan cara- cara mendapatkan izin
praktek pengobatan tradisional beserta syaratnya
• Permenkes no 90 th 2013 ttg Sentra Pengembangan
Dan Penerapan Pengobatan Tradisional
• Permenkes RI No 1186/Menkes/Per/XI/1996 tentang
pemanfaatan akupunktur di sarana pelayanan
kesehatan.
– pengobatan tradisional akupunktur dapat dilaksanakan
dan diterapkan pada sarana pelayanan kesehatan sebagai
pengobatan alternatif di samping pelayanan kesehatan
pada umumnya.
– pengobatan tradisional akupunktur dapat dilakukan oleh
tenaga kesehatan yang memiliki keahlian/keterampilan di
bidang akupunktur atau oleh tenaga lain yang telah
memperoleh pendidikan dan pelatihan akupunktur.
• Kepmenkes 1277/MENKES/SK/VIII/2003 ttg
Tenaga Akupunktur
• Khusus untuk obat herbal, pemerintah
mengeluarkan Keputusan Menkes RI Nomor
121 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan
Medik Herbal.
• Untuk terapi SPA (Solus Per Aqua) atau dalam
bahasa Indonesia sering diartikan sebagai
terapi Sehat Pakai Air, diatur dalam
Permenkes RI No. 1205/ Menkes/Per/X/2004
tentang pedoman persyaratan kesehatan
pelayanan Sehat Pakai Air (SPA).
PARADIGMA YANKES
• Pasal 48 UU Kesehatan tahun 2009 bahwa upaya
kesehatan terdiri atas 17 pelayanan kesehatan:
– Pelayanan kesehatan umum
– Pelayanan kesehatan tradisional
– Peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit
– Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
– KB, Kesehatan reproduksi
– Kesehatan sekolah, Kesehatan olahraga
– Yankes bencana
– Pelayanan darah
– Kesehatan gilut
– Penanggulangan gangguan pendengaran dan
penglihatan, Kesehatan matra
– Pengamanan dan penggunaan sediaan farmasi
dan alat kesehatan, Pengamanan zat aditif
RENSTRA KESEHATAN 2010-2014
Indikator 2010 2011 2012 2013 2014
Cakupan Kab yg menyelenggrakan 10% 20% 30% 40% 50%
yankestrad dan komplementer
Jumlah RS yang menyelenggrakan 26 36 46 56 70
yankestrad dan komplementer
Integrasi Pelayanan Komplementer
Pasien datang Pemeriksaan dan
diagnosa
Pilihan terapi yang
diberikan
Konvensional Konvensional dan Komplementer saja
saja komplementer
TERAPI DAPAT DIBERIKAN OLEH YANG TENAGA KOMPETEN
• Kehamilan & persalinan merupakan peristiwa
normal
• Role:Kehamilan, Persalinan, Nifas”NORMAL”
• Asuhan yg terus menerus sepanjang daur
reproduksi
• WOMAN CENTRED (GUILLILLAND&PAIRMAN)
Filosofi Kebidanan berdasarkan
Kepmenkes 369/MENKES/ SK/ III/
2007
– Keyakinan tentang kehamilan dan persalinan.
merupakan suatu proses alamiah dan bukan
penyakit.
– Keyakinan tentang Perempuan.
perempuan adalah pribadi yang unik
mempunyai hak, kebutuhan, keinginan masing-
masing.
– Keyakinan fungsi Profesi dan manfaatnya.
Fungsi utama profesi bidan adalah
mengupayakan kesejahteraan ibu & bayinya,
Keyakinan ttg Kolaborasi dan Kemitraan
Menempatkan perempuan sebagai partner dengan
pemahaman holistik terhadap perempuan, sebagai satu
kesatuan fisik, psikis, emosional, social, budaya,
spiritual serta pengalaman reproduksinya.
Bidan memiliki otonomi penuh dalam praktiknya
yang berkolaborasi dengan tim kesehatan lainnya.
Midwives who are
TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEBIDANAN
• Banyak digunakan sejak • Demand for and interest
kehamilan awal secara in natural remidies is high
natural and empower mothers to
retain control of their
• Salah satu pilihan ketika bodies .
terdapat kontra indikasi pada • Ketidakpuasan pada
obat pelayanan
• ketika sedikit konvensional,ketergantu
ketidaknyamanan diabaikan ngan teknologi, lack of
dalam pengobatan time to individualize care
konvensional • Staff shortages often
• NATURAL BIRTH without prevent the allocation of
quality intercation with
recourse to drugs,PRESECNCE each mother for the
OF COMPLEMENTARY provision of HOLISTIC
PRACTITIONER AT THE BIRTH CARE
TERAPI KOMPLEMENTER DALAM KEBIDANAN
• Penggunaan CTs
(COMPLEMENTARY THERAPIES)
dalam kebidanan
dipublikasikan (Tiran, 2001;
Ager, 2002; Mousley, 2005).
• Incresing body of CTs
Research-specific to
maternity care (Burn et al,
2000; Ingram et al, 2005,
McNabb et al, 2006). Masih
pro dan kontara.
PROFESSIONAL ACCOUNTABILITY OF
THE MIDWIFE
• Midwives wishing to • Competence both
incoperate CTs in their knowledge & skill to
practice must work within provide safe, effective &
Nursing and Midwifery lawful practice
Council (NMC) guidelines. (professional boundaries)
• LOOK TO THE BEST • MUST BE FULLLY
AVAILABLE EVIDENCE QUALIFIED
• MUST NOT be at the PRACTITIONER
expense of normal
midwifery responsibilities
PROFESSIONAL ACCOUNTABILITY OF
THE MIDWIFE
• Informed maternal • Kebijakan, peraturan, riset
consent is essential harus terus dikembangkan
• Praktek harus selalu
• Women have the right
dimonitor/dievaluasi secara
to use and self periodik
-administer natural • Komunikasi dengan teman
remidies, Midwives sejawat selalu dijalin
should try to act as the
mother’s advocate
• Midwives should
consult an expert
practitioner for advice
The Australian Nursing Federation recommends the
adoption of the following guidelines:
The midwife’s responsibilities when caring for
women receiving complementary therapies
from independent practitioner
• Terapi komplementer bertujuan untuk
memperbaiki fungsi dari sistem-sistem tubuh,
terutama sistem kekebalan dan pertahanan
tubuh, agar tubuh dapat menyembuhkan
dirinya sendiri yang sedang sakit, karena
tubuh kita sebenarnya mempunyai
kemampuan untuk menyembuhkan dirinya
sendiri, asalkan kita mau mendengarkannya
dan memberikan respon dengan asupan
nutrisi yang baik dan lengkap serta perawatan
yang tepat.
• Terapi komplementer relatif aman karena
menggunakan cara- cara alami yang jauh dari
bahan- bahan kimia yang jelas-jalas banyak
memberikan efek samping pemakainya.
• Namun, walaupun alami tetap harus dikaji dan
diteliti tingkat keefektifan dan keamanannya.
• Penelitian tentang terapi komplementer masih
jarang, karena:
– belum memiliki standar yang baku.
– sangat mahal biayanya.
– kebanyakan tidak dapat dipatenkan.
• Namun beberapa terapi telah teruji dan terbukti
kemanjurannya.
PENGGUNAAN CTs DALAM
KEBIDANAN
• Stress-relieving • Pain in labour can be
therapies such as affected by stress; if
massage, stress hormones such as
aromatherapy, cortisol and adrenaline
reflexology and are excessive, they
hypnosis, which reduce suppress oxytocin and
cortisol (Wood et al adversely impact on
2003, Field et al 2005a, progress.
McVicar et al 2007)
• Touch impulses reach the • Some aromatherapy
brain before pain essential oils may
impulses (gate control enhance the impact of
theory) massage, through a direct
• massage, using analgesic effect, eg
reflexology, shiatsu and lavender, or indirectly, by
other touch therapies relaxing the mother and
during labour, and even easing anxiety, eg
in the last three to four frankincense (Burns et al
weeks of pregnancy, 2000, Habanananda
increase the chances of 2004, Field et al 2005b,
spontaneous labour Kim et al 2006).
onset, good progress,
reduced pain perception
and, ultimately, a normal
vaginal birth (McNabb et
al 2006, Field 2010).
NAUSEA & VOMITING
• Ginger is a well-known
traditional herbal remidy
for sickness & there is
considerable research to
demonstrate that it is an
effective antiemetic
(Vutyayanich et al,
2001;Jewell & Young
2003;Willetts et al 2003)
• Ginger is not suitable /safe
for all women & may
exacerbate nausea & cause
heartburn
• Prenatal Massage is specifically
designed so that you can have a
massage at any stage of your
pregnancy.
• It is given in a side-laying position
with support for the legs, hips, head
and abdomen. Side laying has the
benefit of allowing you to completely
relax.
How your body will change:
•Within the 1st Trimester, your body
will be experiencing many hormonal
surges which will not only affect
your body, but will also have a huge
impact on your mind and emotions.
During this Trimester you may feel:
•Extremely tired / fatigued.
•Experience bouts of nausea or may even be
physically sick.
•You start to go off of your favourite foods or
developing a strong disliking for certain smells.
•Feel delighted, anxious, fearful and exhilarated,
sometimes all at once. May feel tearful or highly
emotional.
•Experience spells of dizziness.
•You may experience a tight upper back and
shoulders due to an increase in breast size.
•Experience headaches due to hormonal surges
Benefits of Early Pregnancy Massage
• Boosts energy levels.
• Reduces nausea.
• Calms, relaxes and soothes the body, mind
and emotions.
• Reduces muscular tension.
• Provides you with additional antenatal
support.
• Helps you to process your pregnancy without
fear.
Massage in the 1st Trimister
• Helps you to prepare your body physically
for the more demanding 2nd and 3rd
Trimester.
• Looking after your own emotional and
mental wellbeing.
• A forum to discuss your feelings openly
without judgement.
• The focus of Massage in the 1st Trimester is
gentle, slow and calming to help the body to
relax. Visualisation & Breathing exercises
can also be offered to help combat fear and
anxiety at this stage.
Massage in 2nd Trimester
• The 3rd Trimester is the most physically
demanding time in pregnancy. Most women
start to feel the physical strain of the
pregnancy.
• Massage in the 3rd Trimester is focused on
easing physical discomfort, and preparing
your body physically and mentally for
childbirth. The sessions will also include
practicing breathing techniques.
The treatments can help to:
• Relieve muscular aches and pains.
• Relieve 'restless limbs'.
• Reduce tiredness and promote sleep.
• Alleviate stress on weight-bearing joints.
• Reduce oedema or swelling of joints and limbs.
• Encourage the baby into the correct foetal
position (through gentle exercises).
• Emotional and physical preparation for childbirth,
CTs for Labour
• Studies in aromatheraphy was undertaken by
midwives at the John Radeliffe Hospital,
Oxford over a 9-year period, where they used
12 essential oils on self-selected labouring
women, for pain relief, to ease fear & anxiety,
facilitate uterine action & reduce nausea
(Burns et al, 2000)
POSTNATAL MASSAGE
Benefits of Post-natal massage POST NATAL MASSAGE
include:
• Provides relaxation for the • For mothers who
exhausted body delivered naturally, they
• Relieves aches on shoulders and
can start their post-natal
massage as soon as they
neck from carrying or feeding
are comfortable and
your newborn
ready.
• Realign the body weight to its
• However, for cesarean
original distribution
section delivery, mothers
• Helps reinstate the uterus to its are encouraged to wait
original state for at least 2 weeks after
• liminates excess body fluids, delivery or when incision
reduce fluid retention is properly healed before
• Tones the over stretched areas of they could start their
skin, especially over the massage.
abdomen
• Promote blood circulation within
the body
• Exfoliate dead cells and
regenerate skin renewal
KESIMPULAN
• Komplemen terapi/alternatif terapi dapat
digunakan dalam praktek kebidanan TETAPI
HARUS SECARA AKURAT DAN SESUAI
• Terapi komplementer/alternatif didasarkan
pada holistik filosofi dan interaksi antara
tubuh, pikiran dan semangat (MEET WOMEN’S
NEED)
• Bidan yang memberikan pelayanan terapi
kompleman HARUS TERLATIH DAN KOMPETEN
• MID must acknowledge women’s wishes to use
natural remidies & act as their advocate
• It is preferable that advice & treatment are
integrated into the care provided
• NEED FURTHER RESEARCH
• Complementary Theraphy can no longer be
viewed as an “alternative” but should be
accepted as a fundamental & now well-
estabished component of normal maternity care