KASUS FISIOTERAPI
MUSCULOSKELETAL NON-BEDAH
EXTREMITAS PADA KASUS LESI
MENISKUS KNEE
AGUNG SATRIYO UTOMO
[Link] YUDA
Defenisi lesi meniscus
Meniscus Lesion atau Cedera meniscus adalah salah satu cedera lutut yang paling umum.
Meniscus medialis lebih sering mengalami cedera daripada meniscus lateralis, dan hal ini
disebabkan oleh perleketan yang erat meniscus pada ligamentum collaterale medialie sendi
lutut, yang membatasi geraknya.
Etiologi / resiko
Terjadinya lesi atau cidera meniscus dapat terjadi karena adanya trauma pada tungkai
khususnya pada daerah lutut
Faktor degenarasi ( meniscus yang mengalami degenerasi mudah sobek).
Traumatology olahraga dengan traumatis langsung atau berulang
Aktivitas sehari - hari, seperti berjalan Meningkatnya berat badan
Patofisiologi
Meniskus berfungsi untuk memperlebar dan memperdalam permukaan kontak antara femur dan tibia, hal ini
menyebabkan berkurangnya stess atau tekanan pada kartilago artikuler. Meniskus akan mendistribusikan beban yang di
terima oleh sendi lutut. Meniskus juga berfungsi untuk menjaga stabilitas sendi dan fungsi lubrikasi menghasilkan cairan
sendi. Menisus berperan penting dalam meningkatan stabilitas lutut, mengendalikan kerja menggelinding dan meluncur
yang kompleks pada sendi, dan mendistribusikan beban selama pergerakan. Kompartmen medial lutut membawa sekitar
90% beban selama penahanan beban dan meniskus medial jauh kurang aktif dibandingkan lateral. Sedikit mengherankan
bahwa lesi meniskus jauh lebih sering ditemukan pada sisi medial dibandingkan pada sisi lateral.
Gambaran klinis
Gejala yang paling umum pada cedera meniscus adalah:
Nyeri, gerakan berbunyi.
Kesakitan ketika menekan pada meniscus
Keterbatasan gerak pada gerakan fleksi ringan mengunci, kesulitan ekstensi penuh.
PEMERIKSAAN
FISIOTERAPI
Anamnesis
Identitas umum pasien
Nama : Tn A
Umur : 30 thn
Jenis kelamin : laki-laki
Pekerjaan : karyawan swasta
Hobby : bermain basket
Alamat : perumahan paccerakkang
History taking
- Pasien mengalami nyeri pada lutut kanan ketika bermain basket 3 hari
yang lalu
- Pasien merasakan nyeri bertambah pada saat berjalan, jongkok ataupun
berlari
- Pasien Mengkonsumsi obat anti nyeri
- Pasien langsung dibawa ke dokter\Pasien tidak memiliki riwayat penyakit
- lain Tidak ditemukan keluhan lain
Riwayat Perjalanan Penyakit
Tiga hari yang lalu pada saat pasien bermain basket tiba-tiba pasien merasakan nyeri
pada lututnya. Hal ini terjadi ketika pasien melompat, pada saat itu juga lutut pasien
seakan-akan terkunci dan sulit untuk digerakkan. Karena pasien merasakan sangat nyeri
pada lututnya serta terjadi pembengkakan pada lututnya pasien langsung di bawa
temannya ke dokter . Setelah itu pasien memeriksakannya ke dokter. Dan oleh dokter,
pasien dirujuk ke fisioterapi.
Inspeksi / observasi
1. Inspeksi statis
- Pasien datang dengan mimik wajah kesakitan
- Pasien datang dengan keadaan pincang dan cenderung menumpu
pada kaki yang sehat.
- Lutut pasien masih ada peradangan
- Terdapat oedema di knee joint
2. Inspeksi dinamis
- Pasien merasa sakit apabila dari duduk ke berdiri
- Pasien merasa sakit dari jongkok ke berdiri
Pemeriksaan gerak
1. Tes gerak aktif
Tujuan : untuk mengetahui adanya nyeri, ROM, Aktif dan koordinasi gerakan
NO GERAKAN ROM NYERI
1 Fleksi Terbatas +
2 Ekstensi Terbatas +
3 Eksorotasi Terbatas +
4 Endorotasi Terbatas +
2. Tes gerak pasif
Tujuan : untuk mengetahui ROM pasif, stabilitas sendi dan end feel
NO GERAKAN NYERI ENDFEEL
1 Fleksi + Soft
2 Ekstensi + Hard
3 Eksorotasi + Elastis
4 Endorotasi + Elastis
Tes isometric melawan tahanan (TIMT)
Tujuan : untuk mengetahui kualitas saraf
NO GERAKAN NYERI KUALITAS
NYERI
1 Fleksi + Kurang baik
2 Ekstensi + Kurang baik
3 Eksorotasi + Kurang baik
4 Endorotasi + Kurang baik
Pemeriksaan spesifik
1. Manual muscle testing
Nama Otot Nilai Otot
Dextra Sinistra
m. rectus femoris 4 5
[Link] medial 4 5
[Link] lateralis 4 5
[Link] facialatae 5 5
m. bicep femoris 4 5
[Link] magnus 5 5
5 5
[Link]
2. Myotome test
Akar saraf Pelaksanaan Test (otot yang bekerja)
L1, L2 Hip Flexion
L5, S1 Hip Extension, Knee flexion
L3, L4 Knee extension
L4 Ankle dorsiflexion
S1, S2 Ankle plantarflexion
L5 Metatarsal extension
3. ROM test
Gerakan Sinistra Dextra
Aktif Fleksi – Ekstensi S 50 – 00 – 1350 S 50 – 00 – 1150
Pasif Fleksi – Ekstensi S 50 – 00 – 1350 S 50 – 00 – 1200
Interpretasi : Ada keterbatasan pada gerakan aktif fleksi dextra 200 dan gerakan pasif
fleksi dextra 150
4. Palpasi
Merupakan metode pemeriksaan dengan cara meraba menggunakan satu atau dua tangan.
Dengan palpasi dapat terbentuk gambaran organ tubuh atau massa abnormal dari
berbagai aspek :
“Adanya nyeri tekan pada bagian medial lutut, serta suhu di sekitarnya hangat”
5. Joint play movement (JPM)
Traction of tibio femoral joint
- In limited fleksion : arah selalu ke distal searah axis longitudinal tibiae
- In limited extension : arah ke distal searah axis longitudinal tibiae
Translation of patello femoral joint
- Cranial translation of patella in extension
- Caudal translation of patella in flexion
- Lateral translation in extension
- Medial translation inextension
Translation of prox tibiofibular joint
- Pada ankle contracture
- Dorsal translation of fibulae
6. Ballotement test
“ Patella seprti terangkat berarti ada kelebihan cairan”
7. Tes Applay kompresi dan traksi
“Terdapat nyeri berarti ada gangguan pada ligamen dan meniscus”
8. McMurray
“ Terdapat nyeri pada ekstensi ke arah medial berari terjadi kelainan pada meniscus
medial”
9. Laci sorong
“Terdapat nyeri berarti ada kemungkinan terjadi ruptur pada ligamen cruciatum
anterior”
10. Gravity sign
“Lutut kanan dan kiri sama berarti tdk ada ruptur pada ligamen crusiatum
posterior”
11. Tes Varus dan Valgus
Posisi penderita berbaring telentang dengan kaki diluruskan, sedangkan pemeriksa
mengambil posisi badan dan pegangan kebalikan dari pemeriksaan tekanan valgus.
Periksa dan lakukan tes ke samping lateral dengan daya varus pada lutut dan
diekstensikan penuh, kemudian lakukan dengan fleksi 30 derajat.
Pengukuran fisioterapi
Visual analogue scale (VAS)
VAS adalah sebuah pengukuran intensitas nyeri unidimensional, yang secara luas dapat
digunakan dalam penelitian klinis. VAS digunakan untuk mengukur kwantitas dan
kwalitas nyeri yang pasien rasakan, dengan menampilkan suatu kategorisasi nyeri mulai
dari “tidak nyeri, ringan, sedang, atau berat”.
Hasil :8 ( nyeri berat)
Diagnosa fisioterapi
Setelah dilakukan pemeriksaan maka diperoleh diagnosa fisioterapi adalah
“Nyeri dan penguncian sendi lutut akibat cidera meniscus medial”.
INTERVENSI
FISIOTERAPI
Tujuan intervensi Fisioterapi
Tujuan jangka pendek
- Memperbaiki ADL
- Menghilangkan kecemasan
- Mencegah atropi otot
Tujuan jangka panjang
- Meningkatkan aktivitas fungsional kaki semaksimal mungkin
- Mengembalikan fungsional jongkok ke berdiri dan berjalan
- Mengembalikan aktivitas fungsional toileting
Progression Pengobatan Dan Prosedur
Pelaksanaan Intervensi
1. ULTRASOUND THERAPY
2. TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation)
3. Exercise
- Static Kontraksi
- Leg extension & foot movement
- Quadrisep exercise dengan NWB
- Straight leg riese
- Hip fleksion
- Glute bridge
- Hamstring bridge
- Glute bridge walkout
Lanjutan
- Side lying hip abduction
- Hip Fleksion-Kneeextension
- Glutes on bed
- Wall squad
- Jinjit dengan dua kaki
- Static Side Plank
Home Program Dan Edukasi
Saran untuk pasien yakni melakukan home program yang diberikan fisiotepis yakni
latihan penguatan otot quadriceps dan hamstring yaitu dengan mengulangi latihan yang
telah di ajarkan terapi dan ditambah dengan static cycle. Home exercise ini dapat
dilakukan setiap hari, dengan 8 rep/set dan dilakukan minimal 2 sampai 3 kali sehari.
Selain itu, pasien disarankan untuk mengurangi aktivitas yang tidak mendukung proses
penyembuhan seperti menguangi aktivitas olahraga lari jarak jauh atau lama, meloncat-
loncat, dan naik turun tangga yang terlalu sering.
THANK YOU