THE RICHMOND AGITATION-SEDATION SCALE
(RASS)
dr. Ricko Yorinda Putra
LATAR BELAKANG
• Obat-obatan Analgetik dan Sedasi diberikan pada pasien critical ill di
ICU ( Intensive Care Unit ) di seluruh dunia,
• Konsekuensi tidak adekuatnya obat Analgetik dan Sedasi sangat
substansi seperti pelepasan intralumen tube, infus, tindakan agresif
terhadap petugas kesehatan, dan Asyncrony pasien dengan ventilator.
• Peningkatan pengetahuan tentang penggunaan obat-obatan sedasi
sangat berdampak terhadap durasi, lama dan komplikasi dirawat di
ICU sehingga evaluasi dari nilai sedasi itu sangat penting.
• Sistem yang dipakai untuk menilai sedasi antara lain RASS ( The
Richmond Agitation-Sedation Scale )
Terdiri dari 10 skala
• 4 level anxietas/ agitasi ( +1 ke +4 )
• 1 level Tenang ( 0 )
• 5 level sedasi ( -1 ke -5 )]
RASS (Richmond Agitation Sedation Scale)
Skor Terminologi Deskripsi
+4 Agresif Sangat agresif, kasar, membahayakan sekitar
+3 Sangat agitasi Menarik ETT, kateter, perilaku agresif
+2 Agitasi Banyak gerak tidak bertujuan, asinkron dengan ventilator
+1 Gelisah Cemas, gelisah, bergerak tidak agresif
0 Sadar dan tenang Sadar penuh, tenang
-1 Mengantuk Tidak sadar penuh, lebih banyak bangun (kontak mata pada rangsang suara ≥
10 detik
-2 Sedasi ringan Bangun sesekali, kontak mata rangsang suara ≤ 10 detik
-3 Sedasi sedang Gerakan/buka mata hanya dengan rangsang suara (tidak ada kontak mata)
-4 Sedasi dalam Tidak ada respon pada rangsang suara, Gerakan/buka mata oelh rangsang nyeri
-5 Tidak bisa dibangunkan Tidak ada respon pada rangsang nyeri
CRITICAL CARE PAIN
OBSERVATION TOOL ( CPOT )
dr. Ricko Yorinda Putra
LATAR BELAKANG
• Pasien dengan Critically ill dirawat di ICU mungkin mengalami stimulus nyeri yang
berbeda-beda, tetapi untuk menilainya sangat sulit karena kebanyakan dari pasien tersebut
disedasi dan tidak bisa memberikan informasi secara mandiri tentang kondisi nyerinya.
• Oleh karena itu sangat penting untuk mengevaluasi nyeri dari pasien tersebut. Salah satu
yang paling banyak digunakan untuk menentukan skala nyeri nya adalah Critical Care Pain
Observation Tool ( CCPOT )
• CPOT dikembangkan oleh Gelinas dkk di Prancis dan tidak lama setelah itu di terjemahkan
dan divalidasi di berbagai negara untuk digunakan.
Langkah-Langkah dalam Penilaian Critical-Care Pain Observation Tool (CCPOT):
1. Lakukan observasi pasien pada kondisi istirahat selama 1 menit untuk memperoleh nilai dasar
2. Lakukan observasi pasien selama prosedur Tindakan (memutar pasien, suction ETT, dan
perawatan luka)
3. Evaluasi pada saat sebelum dan sesudah efek analgesi maksimal untuk menentukan efektivitas
obat
4. Lakukan penilaian nilai tertinggi pada saat selama observasi.
CCPOT
Ekspresi wajah merupakan salah satu indikator terbaik untuk menilai nyeri, nilai 0 apabila tidak
ada kontraksi di wajah, nilai 1 untuk wajah yang terlihat tegang, atau cemberut dan nilai 2
untuk wajah meringis: kontraksi seluruh otot wajah termasuk mata yang tertutup rapat dan
kontraksi dari otot wajah.
Skor 0 untuk yang tidak bergerak sama sekali atau dalam posisi normal,
Skor 1 gerakan protektif seperti mencari mencari lokasi nyeri
Skor 2 gerakan berulang untuk menarik tube, mencoba duduk , tidak kooperatif atau mencoba keluar
dari tempat tidur
Skor CPOT >2 sudah merupakan indikasi adanya nyeri; sensitifitas 86% dan
spesifisitas 78% untuk penilaian nyeri setelah operasi
TERIMA KASIH