0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan49 halaman

Terapi Manipulasi dan Hip Joint

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai tes spesifikasi sendi pinggul (hip joint) yang meliputi anamnesa, inspeksi, tes fungsional dasar seperti gerak aktif dan pasif, tes kekuatan otot, serta tes spesifik seperti SLR, NERI, dan Bragard untuk mendeteksi gangguan struktur tertentu pada pinggul dan tungkai bawah.

Diunggah oleh

Desi Lismarisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
161 tayangan49 halaman

Terapi Manipulasi dan Hip Joint

Dokumen tersebut memberikan informasi mengenai tes spesifikasi sendi pinggul (hip joint) yang meliputi anamnesa, inspeksi, tes fungsional dasar seperti gerak aktif dan pasif, tes kekuatan otot, serta tes spesifik seperti SLR, NERI, dan Bragard untuk mendeteksi gangguan struktur tertentu pada pinggul dan tungkai bawah.

Diunggah oleh

Desi Lismarisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TERAPI MANIPULASI

KELOMPOK 2 :

ASMAUL HUSNA(1811401045)
MIFTHAHUSSALAM(1811401047) ELVANNIE
(1811401046)
RAHMA TIKA PUTRI(1811401048)
ANDYKA YOGA PRATAMA(1811401050)
ANISA SAPUTRI(1811401051)
MUHAMMAD YUSUF(1811401052)
JOERKAL HAKINAN(1811401053)
TES SPESIFIKASI HIP JOINT
ANATOMI HIP
 Hip joint dibentuk oleh caput femury angkonveks bersendi
dengan acetabulum yang konkaf.
 Hip joint adalah ball and socket (spheroidal) triaxial joint.
 Acetabulum terbentuk dari penyatuan osilium, ischium, dan
pubis.
 Seluruh acetabulum dilapisi oleh cartilago hyaline, & pusat
acetabulum terisi oleh suatu massa jaringan lemak yang
tertutup oleh membran synovial.
 Jaringan fibrokartilago yang melingkar datar dia cetabulum

disebut dengan labrumacetabular, yang melekat disekeliling

margo acetabulum.
 Labrum acetabular menutup cartilago hyaline & sangat tebal

pada sekeliling acetabulum dari pada pusatnya hal ini

menambah kedalaman acetabulum.


 Acetabulum terletak dibagian lateral pelvis, menghadap

kelateral, anterior & inferior.


 Caput femur secara sempurna ditutup oleh cartilago hyaline.
 Pada pusat caput femur terdapat lubang kecil yang dinamakan

dengan foveacapitis tidak ditutup oleh cartilago hyaline.


 Caput femur membentuk sekitar 2/3 dari suatu bola.
 Caput femur berbentuk spherical dan menghadap kearah

anterior, medial dan superior.


 Hip joint diperkuat oleh kapsul sendi yang kuat, ligamen

iliofemoral, pubofemoral, dan ischiofemoral.


 Hip joint juga diperkuat oleh ligamen transverse acetabular

yang kuat & bersambung dengan labrum acetabular.


 Ligamen teres femoris merupakan ligamen triangular yang

kecil, melekat pada apex fovea capitis dekat pusat caput femur

ketepi ligamena cetabular.


 Ligamen teres femoris berfungsi sebagai pengikat caputfemur

kebagian bawah acetabulum dan memberikan stabilisator yang

kuat didalam sendi (intraartikular).


 Stabilisator bagian luar dihasilkan oleh 3 ligamen yang

melekat pada collum/neck femur yaitu : ligamen iliofemoral,

pubofemoral & ischio femoral.


 Ligamen iliofemoral disebut juga ligamen “Y”, karena arah

serabut mirip huruf Y terbalik.


 Ligamen iliofemoral memperkuat kapsul sendi bagian
anterior.
 Ligamen pubo femoral terdiri dari ikatan serabut yang
kecil pada kapsul sendi bagian medial anterior dan
bawah.
 Ligamen ischio femoral merupakan ligamen
triangular yang kuat pada bagian belakang kapsul.
GERAKAN PADA HIP

 Karena hip joint merupakan triaxial joint maka terdapat


3 pasanggerakan yang terjadi pada hip joint.
 Gerakan tersebut adalah fleksi–ekstensi, abduksi–
adduksi, externalrotasi–internalrotasi
 Gerakan yang paling luas adalah fleksi hip dan yang
paling terbatas adalah ekstensi/hiperekstensi hip.
1. FLEKSI HIP

 Fleksi hip adalah gerakan femur kedepan dalam bidang sagital.


 Jika knee lurus, maka gerakan fleksi hip dibatasi oleh
ketegangan otot hamstring.
 Pada gerak fleksi yang luas, pelvis akan back wardtil tuntuk
melengkapi/menyempurnakan gerakan pada hip joint
2. EKSTENSI DAN HIPEREKTENSI
 Extensi adalah gerakan kembali dari fleksi.
 Hiperekstensi adalah gerakan femur kebelakang dalam bidang

sagital.
 Gerakan ini sangat terbatas, kecuali para dancer dan akrobat

yang memungkinkan terjadi rotasi femur keluar sehingga

gerakannya cukup luas.


 Faktor penghambat hip erekstensi hip adalah ketegangan

ligamen iliofemoral pada bagian depan sendi.


 Keuntungan dari keterbatasan gerak ini adalah sendi
menjadi sangat stabil untuk weight bearing
(menumpuh berat badan) tanpa membutuhkan
kontraksi otot yang kuat
4. ADDUKSI
 Adduksi adalah gerakan kembali dari abduksi.
 Hiperadduksi hanya dapat terjadi jika tungkai sisi
kontra lateral digerakkan keluar.
 Pada hiperadduksi yang luas, ligamen teres femoris
menjadi tegang
5. EKSTERNAL/LATERAL ROTASI
 External rotasi adalah suatu rotasi femur disekitar axis
longitudinal sehingga knee terputar keluar.
 External rotasi juga merupakan suatu rotasi femur
disekitar axis sagital sehingga knee terputar kedalam.
 ROM external rotasi biasanya lebih besar daripada
internal rotasi.
6. INTERNAL/EKSTERNAL ROTASI
 Internal rotasi adalah gerak rotasi femur disekitar axis

longitudinal sehingga knee terputar kedalam.


 Internal rotasi juga merupakan gerak rotasi femur disekitar axis

sagital sehingga knee terputar keluar.


 ROM internal dan external rotasi dipengaruhi oleh derajat

torsifemoral (terputarnya femur pada axis longitudinal

sehingga salah satu ujungnya berotasi kedalam terhadap ujung

lainnya).
7. DIAGONAL ADDUKSI/ABDUKSI
 Diagonal adduksi adalah suatu gerakan kedepan dari
posisi abduksi paha dalam bidang horizontal, yang
diikuti oleh penurunan external rotasi.
 Diagonal abduksi adalah suatu gerakan kesamping
dari posisi fleksi hip dalam bidang horizontal, yang
diikuti oleh external rotasi.
A. ANAMNESA

 Apakah pasien pernah mengalami trauma pada


sendinya?
 Apakah ada gejala dari nyeri?
 Berapa umur pasien?
 Menyangkut pekerjaan, hoby serta kebiasaan
pasien
 Ada pergerakan pasien yang dirasakan abnormal ?
(Keterbatasan Gerak)
Contohnya, pada piriformis syndrome, saraf pada hip
mungkin tertekan, otot piriformis halus dan abduksi
hip, lateral rotasi mengalami kelemahan
B. INSPEKSI

Adapun hal-hal yang perlu di inspeksi


adalah:
 Postur tubuh pasien
 Warna dan tekstur dari kulit
 Apakah ada bekas luka
 Pola berjalan
 Adanya penyusutan yang nyata pada tungkai
 Apakah posisi tungkai tidak simetris
 Posisi tulang belakang
ANTERIOR VIEW

 Perhatikan sikap berdiri


 Perhatikan kedaan abnormal dari tubuh pasien dan kontur dari soft tissue
 Perhatikan apakah ada swelling pada tungkai
 Posisi pelvic
 Apakah SIAS terletak pada garis horisontal
 Keadaan otot

LATERAL VIEW

 Kelainan postural
 Kontur otot-otot pantat
POSTERIOR VIEW

 Posisi kedua tungkai


 Postur tulang belakang pasien
 Atrofi otot ( otot–otot pantat, otot Quadriceps, Otot-
otot tungkai bawah, Otot Hamstring )
C. QUICK TEST

 Lumbo pelvic Rhytm: untukmelihatiramagerakan,


mengatahui apakah ada indikasi pada lumbal
 Gerakan-gerakan punggung yang aktif (fleksi,
ekstensi, latero fleksi ke kiri, latero fleksi kekanan).
Jika ada nyeri berarti ada kelemahan pada otot
hamstring,
 Squat and Bouncing : untuk melihat irama

gerakan, dan keterbatasan ROM


 Pasien diminta melakukan jongkok berdiri

kemudian fisioterapi memperhatikannya.


 Jika pasien tidak mampu melakukan gerakan

dari posisi berdiri keposisi jongkok, indikasi

adanya kelemahan pada otot Quadricep.


 Apabila terjadi gerakan sebaliknya, indikasi

terjadi kelemahan pada otot hamstring.


D. PEMERIKSAAN FUNGSI DASAR

 Gerak Aktif

untuk mengetahui koordinasi gerakan, pola gerak, nyeri dan ROM aktif

1. Fleksi 110 -120˚ disertai dengan fleksi knee.

2. Ekstensi 15 ˚

3. Abduksi 30 –50 ˚

4. Adduksi 30 ˚

5. Eksorotai 40 –60˚

6. Endorotasi 30 –40˚
 GERAK PASIF

Untuk mengetahui ROM pasif, stabilitas sendi, nyeri sendi,

end feel, gangguan articular(arthrosis, arthrisis)

1. Fleksi : end feel –tissue aproximasi strecth

2. Eksentensi : end feel –tissue strecth

3. Abduksi : end feel -tissue strecth

4. Adduksi : end feel –tissue aproximasi strecth

5. Medial rotasi: end feel –tissue strecth

[Link] rotasi : end feel –tissue strecth


Fleksi pasif
Ekstensi pasif
Abduksi pasif Adduksi pasif
Eksorotasi pasif Endorotasi pasif
 Gerak TIMT

untuk mrngetahui kekuatan otot

1. Fleksi yang ditahan : bila gerakan ini menimbul kan rasa nyeri atau

berkurangnya kekuata notot, indikasi adanya gangguan pada [Link].

2. Ekstensi yang ditahan : bila menimbulkan rasa nyeri adanya gangguan pada

[Link]

3. Abduksi yang ditahan : indikasi adanya gangguan pada otot-otot abduktor

4. Adduksi yang ditahan : indikasi adanya gangguan pada otot-otot adduktor


5. Endorotasi dan eksoratasi yang ditahan indikasi adanya kelemahan pada
otot-otot endorotator dan otot-otot eksorotator.
Fleksi yg ditahan Ekstensi yg d tahan
Eksorotasi yg ditahan Endorotasi yg ditahan
E. Periksaan spesifik
Pemeriksaan dilakukan untuk mengungkap ciri
khusus serta jenis gangguan dari suatu struktur dan
jaringan tertentu.
1. Palpasi
Untuk mengetahui kelainan sensani kulit, temperatur,
kelembaban kulit, menentukan letak dan perbedaan,
struktur jaringan yang normal dan yang tidak normal,
ketegangan otot, oedema.
PALPASI TULANG
 Bagian anterior : SIAS, cristailiaca, Tubercule iliaca,trochanter
mayor,tubercule pubis
 Bagian posterior : SIPS,trochante rmayor,tuberositas ischiadica, sacro
iliaca joint

PALPASI JARINGAN LUNAK


 M. gluteus medius
 M. iliopsoas
 M. rectus femoris
 M. hamstring
 Bursa iliopectinea, subcutanea trochanterica diatas trochantermayor
 Ligamen inguinalis
2. TES SLR (Straight Leg Raising)
 Tujuan tes SLR : Untuk mengetahui
letak nyeri
 Jika mengalami nyer ipada 0-30˚
indikasi adanya gangguan pada
[Link]
 Bila mengalami nyeri dibawah 70˚
indikasi adanya gangguan pada hip
joint
 Bila mengalami nyeri diatas 70˚
indikasi adanya gangguan pada lumbal
pasien
3. Tes NERI (SLR tambah fleksi leher)
 Tujuan : untuk mengetahui letak nyeri
 Jika mengalami nyeri indikasi adanya gangguan pada
duramater columna vertebralis
5. Tes Bragard (SLR tambah fleksi dorsal ankle)
 Untuk mengatahui letak nyeri
 Bila mengalami nyeri indikasi adanya gangguan pada nervus
ischiadicus
5. Tes gupping
 Untuk mengetahui apakah ada kelainan pada sacroiliaca joint
 Tes gupping anterior : compresi kearah posterolateral
 Bila nyeri adanya gangguan pada [Link] anterior
 Tes gupping posterior : compresi kearah anterocaudal
 Bila nyeri adanya gangguan pada [Link] posterior
6. Tes leg lenght(pemekriksaan panjang tungkai)
 Untuk menentukan panjang tungkai
 Berkaitan dengan apabila adanya dislokasi,coxavara dan
coxavalga
 Dari SIAS kearah medial/lateral malleolus
7. Tes trendelenburge
 Untuk mengetahui kelemahan otot-otot abduktor
 Jika nyeri kemungkinan ada indikasi pada [Link]

Positif Negatif
8. Tes patric
 Untuk mengetahui [Link] hip,

gangguan pada sacroiliaca, [Link]

anterior
 Fiksasi pada SIAS dan tangan yang satu

melakukan compresi pada knee


 Gerakan fleksi+abduksi+eksternal rotasi
 Jika didapati nyeri dalam melakukan

gerakan indikasi adanya gangguan pada

sacroiliaca joint dan gangguan pada

[Link] anterior
9. Tes antipetric
 Untuk mengetahui gangguan pada sacroiliaca joint,
ligament posterior sacroiliaca joint
 Gerakan internal rotasi dan adduksi hip(kebalikan dari
tes patric)
10. Tes galeazzi sign
 Adalah suatu tanda untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai
congenital dislokasi tahap I yakni umur13-18 bulan.
 Caranya : Fleksi knee 90⁰, apabila salah satu tungkai turun maka dia
dislokasi Idem dengan tes gravity sign.
11. Thomast tes
 Untuk mengetahui luas kontraktur otot, dan untuk mengevaluasi Rom fleksi
 Pasien tidur terlentang dengan pelvic dan trunk sejajar, kemudian tarik garis

khayal diantara SIAS yg tegak lurus dgn axis tubuh


 Stabilisasi pelvic dgn tangan dibawah lumbal spine + fleksi hip
 Kemudian peganglah tungkai pasien yg satu pada dada, dan biarkan

tungakai yg lain tetap dibawah hingga rata dgn bath


12. Tes ober
 Pasien tidur miring
 Abduksikan tungkai+ fleksi knee 90 ˚,

sambil memegang tungkai pasien


 Kemudian lepaskan tungkai yg di

abduksikan
 Jika tractus iliotibia normal maka tungkai

akan turun keposisi adduksi


 Jika terjadi kontraktur pada fascia latae,

maka tungkai akan tetap pada posisi

abduksi
 Indikasi adanya polio myelitis
13. Telescoping
 Berikan traksi pada femur selevel kearah
knee
 Tangan yang lain menstabilisasi pelvic dan
letakkan thump pada trochanter major
 Rasakan gerakan trochanter major kebawah
 Gerakan dari dan ke abnormal ini pada
trochanter major
 Indikasi adanya kongineta ldislokasi pada
hip

Anda mungkin juga menyukai