100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
74 tayangan32 halaman

Sedasi pada Pasien ICU Kritis

Dokumen tersebut membahas tentang perawatan pasien kritis di ruang ICU, termasuk penggunaan alat bantu hidup, pengawasan kondisi pasien, skala pengukuran nyeri, dan penggunaan obat sedatif untuk mengurangi stres dan nyeri pasien."

Diunggah oleh

Aii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
74 tayangan32 halaman

Sedasi pada Pasien ICU Kritis

Dokumen tersebut membahas tentang perawatan pasien kritis di ruang ICU, termasuk penggunaan alat bantu hidup, pengawasan kondisi pasien, skala pengukuran nyeri, dan penggunaan obat sedatif untuk mengurangi stres dan nyeri pasien."

Diunggah oleh

Aii
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SEDASI DI R.

INTENSIF
Pendahuluan..
 Intensive Care Unit  ruangan khusus yg disediakan rumah sakit
u/ merawat pasien dgn penyakit atau cedera serius.

 U/ membantu memulihkan kondisi pasien, ruang ICU dilengkapi


dgn peralatan medis khusus.

 Selama berada di dlm ruang ICU pasien akan dipantau selama 24


jam penuh oleh dokter, perawat, dan staf khusus dari rumah sakit
yg sudah kompeten.

 U/ membantu memantau kondisi pasien secara lebih detail, pasien


akan terhubung dgn peralatan medis melalui selang atau kabel.
Kapan Pasien Harus Masuk Ruang ICU?

 Seorang pasien harus dirawat di ruang ICU tdk bisa


diprediksi.
 Namun pd banyak kasus yg terjadi, pasien perlu dirujuk ke
ruang ICU karena kondisi kesehatannya tiba-tiba memburuk
atau mengalami gangguan fungsi organ tubuh. Ex : mereka
tdk bisa bernapas dgn baik karena paru-parunya
bermasalah.
Peralatan medis d ruang ICU antara lain:

 Monitor
 Ventilator
 Kateter
 Selang makanan
 Infus
 Sejumlah peralatan medis ini dibutuhkan u/ membantu pasien u/
tetap bertahan hidup dan membantu agar kondisinya bisa segera
pulih.
 Meski memiliki sejumlah manfaat, peralatan medis ini juga bisa
meningkatkan risiko terjadinya infeksi di dalam tubuh.
 Pasien selalu dlm pengawasan perawat selama 24 jam.
 Pasien kritis merupakan keadaan yg berpotensi terjadinya
disfungsi reversible pd salah satu atau lebih organ yg mengancam
kehidupan dan memerlukan perawatan di Intensive Care Unit
(ICU) (Ireland, 2011; AACN, 2016).

 Selama berada di ruang ICU, pasien akan diberikan obat pereda


rasa sakit dan obat sedatif u/ membuat pasien tertidur.

 Hal ini dilakukan agar pasien tdk terganggu dgn suara dan
keberadaan peralatan medis di ruang ICU.
Nyeri pd pasien kritis
Definisi
 Nyeri pd perawatan kritis mrpk sebuah pengalaman subjektif dan

multidimensi.
 Pengalaman nyeri pd pasien kritis : akut dan memiliki banyak
sebab, seperti dari proses penyakitnya, monitoring dan terapi
(perangkat ventilasi, intubasi endotrakheal), perawatan rutin
(suction, perawatan luka, mobilisasi), immobilitas berkepanjangan
dan trauma
 Nyeri  kekhawatiran terbesar pasien di unit perawatan intensif
(ICU). Sebagian besar pasien sakit kritis mengalami nyeri sedang
sampai hebat

 Penatalaksanaan nyeri telah menjadi prioritas nasional dlm


beberapa tahun terakhir, namun nyeri terus disalah artikan,
dikaji dgn buruk, dan tdk ditangani dgn adekuat di ICU dan
banyak tatanan perawatan kesehatan lainnya

 Nyeri yg tdk terkontrol memicu respon stres fisik dan


emosional, menghambat penyembuhan, meningkatkan resiko
komplikasi lainnya dan meningkatkan masa rawat inap di ICU
(Gonce P, Fontaine D, Hudak C, Gallo B, 2012).
 Banyak pasien sakit kritis di unit perawatan intensif (ICU)
menderita nyeri, terutama yg menggunakan ventilasi mekanik.\
 rasa sakit dan nyeri yg tdk memadai adalah penyebab utama
kesulitan fisiologis dan stres emosional.
 Oleh karena itu, tampaknya penting u/ mencapai manajemen yg
efektif dari analgesik, namun sebelumnya harus mengukur rasa
nyeri dgn cara yg valid dan reliabel (Ahlers S dkk, 2010).
skala nyeri non verbal untuk penderita penyakit
kritis.
 Critical-Care Pain Observasion Tool (CPOT)
 Mrpk instrumen pengkajian nyeri pd pasien kritis yg tdk dpt
berkomunikasi secara verbal yg dikembangkan oleh Gelinas et al
pada tahun 2006.
 Instrumen pengkajian nyeri tersebut terdiri dari 4 item
penilaian, setiap item memiliki kategori yg berbeda, yaitu
ekspresi wajah, pergerakan badan, tegangan otot dan
keteraturan dgn ventilator u/ pasien terintubasi dan pasien yg
tdk terintubasi.
Petunjuk penggunaan CPOT menurut Gelinas, dkk (2006)

1. Amati pasien selama satu menit


2. Kemudian pasien harus diamati selama mendapatkan
tindakan
3. Pengobatan u/ mendeteksi perubahan yg terjadi
4. Pasien harus diamati sebelum dan pd puncak tindakan
pengobatan u/ menilai apakah pengobatan efektif atau
tdk dlm menghilangkan nyeri
5. Penilaian diambil nilai yg tertinggi dari niali CPOT
6. Amati nilai CPOT setelah dilakukan tindakan pengobatan.
CPOT (Critical-Care Pain Observasion Tool) Gelinas (2006);

Indikator Kondisi Skor Keterangan


Rilek 0 Tidak ada ketegangan otot
Kaku Mengerutkan kening,
mengangkat alis, orbit
menegang (misalnya
1
membuka mata atau
menangis selama prosefur
Ekspresi wajah nosiseptif)
Meringis Semua gerakan wajah
sebelumnya ditambah
kelopak mata tertutup rapat
2
(Pasien dapat mengalami
mulut terbuka, mengigit
selang ETT)
Tidak ada gerakan Tidak bergerak (tidak kesakitan) atau posisi
0
abnormal normal (tidak ada gerakan lokalisasi nyeri)
Lokalisasi nyeri Gerakan hati-hati, menyentuh lokasi nyeri,
1
mencari perhatian melalui gerakan
Gerakan tubuh Mencabut ETT, mencoba untuk duduk,
Gelisah 2 tidak mengikuti perintah, mencoba
keluar dari tempat tidur

Pasien kooperatif Alarm tidak berbunyi


terhadap kerja
Aktivasi alarm 0
ventilator
ventilator
mekanik
mekanik (Pasien
Alarm aktif tapi Batuk, alarm berbunyi tetapi berhenti
diintubasi) 1
mati sendiri secara spontan
Alarm selalu aktif 2 Alarm sering berbunyi
Berbicara dalam Bicara dengan nada pelan
nada normal atau 0
Berbicara jika
tidak ada suara
pasien
Mendesah, Mendesah, mengerang
diekstubasi 1
mengeran
Menangis 2 Menangis, berteriak
Tidak ada Tidak ada ketegangan otot
0
ketegangan otot
ketegangan otot Tegang, kaku 1 Gerakan otot pasif
Sangat tegang Gerakan sangat kuat
2
atau kaku
Total
Catatan:
1. Skor 0 : tidak nyeri
2. Skor 1-2 : nyeri ringan
3. Skor 3-4 : nyeri sedang
4. Skor 5-6 : nyeri berat
5. Skor 7-8 : nyeri sangat berat
Penanganan nyeri di ICU
Sedasi
 Diberikan pd pasien dgn penyakit kritis yg dirawat di ICU, hal ini
digunakan u/ mengurangi kecemasan pasien mengurangi
kecemasan pasien terhadap tindakan invasif, monitoring dan
pengobatan, mengurangi kebutuhan oksigen dgn mengurangi
aktivitas pasien dan menimbulkan efek amnesia terhadap
perawatan di ICU.

 Pelumpuh otot jarang digunakan di ICU karena biasanya sedasi


saja sudah mencukupi u/ menenangkan pasien dan memberikan
kenyamanan pasien dgn ventilasi mekanik
PENGGUNAAN OBAT DGN EFEK SEDASI PD PASIEN
YG DI RAWAT DI ICU

Penderita yg dirawat di ICU sangat memerlukan sedasi dan analgesia


agar merasa nyaman dan menjadi tenang. Keadaan ini disebabkan
pasien mengalami perubahan lingkungan, shg suasana menjadi asing,
juga akibat adanya pemasangan monitor baik invasif maupun non
invasif.
Analgesia yg sering direkomendasikan  morphine sulphate, fentanyl
dan hydromorphone.
Sedasi yg direkomendasikan  midazolam, propofol dan lorazepam.
Obat yg ideal harus mempunyai efek sedasi sekaligus analgesia. Saat
ini ada obat baru yg mungkin mempunyai kedua efek tersebut, yaitu
dexmedetomidine. Dexmedetomidine merupakan golongan alpha 2
adrenergic receptor agonist.
PENGGUNAAN SEDASI PD PASIEN DI UNIT RAWAT
INTENSIF
 Sedasi dan analgesia sangat penting diberikan pd pasien yg
dirawat di ICU.

 Obat golongan sedative hanya mempunyai efek anxiolytic,


hypnotic dan amnesia, tdk mempunyai efek analgetic.

 Sedasi  tercapainya keadaan analgesia serta terpenuhinya


kebutuhan anxiolytic, hypnotic dan amnesia. Analgetic yg adekuat
harus dpt mencapai sedasi, selanjutnya anxiolytic, hypnotic dan
amnesia.
Respons fisiologis tubuh terhadap stres pembedahan dan kecelakaan :
Perubahan pada respons endokrin
Hipermetabolisme
Retensi natrium dan kalium
Mobilisasi cadangan energi dan peningkatan lipolisis

Respons neuro-endokrinologi terhadap trauma pembedahan :


Endokrin.
Peningkatan ACTH, kortisol, ADH, GH, glucagon, renin dan aldosteron.
Penurunan insulin.
Metabolik.
KH : hiperglikemia, retensi insulin, intoleransi glukosa
Protein : katabolisme meningkat
Lemak : lipolisis meningkat
Cairan dan Elektrolit.
Retensi air dan natrium
Ekskresi kalium meningkat
DEXMEDETOMIDINE
 Golongan alpha 2 adrenergic receptor agonist. Alpha 2 adrenergic
receptor terdapat pd presynaptic nerve terminalis, sebagai feed
back inhibition of catecholamine release.
 Alpha 2 adrenergic receptor terdapat di berbagai jaringan tubuh,
seperti ginjal, vesica urinaria, dinding usus, dinding pembuluh
darah, sistem saraf pusat dan perifer.
Penemuan terakhir menunjukan bahwa alpha 2 adrenergic receptor
ada 3 kategori yaitu
Alpha 2-A, alpha 2-B dan alpha 2-C. Alpha 2-A : terdapat diseluruh
bagian otak dan mengatur pelepasan epinephrine di ujung saraf
serta mrpk mediator efek sedasi, anestesi dan hipotensi.
Alpha 2-B : terutama di thalamus dan menghantarkan efek
vasokonstriksi.
Alpha 2-C : ter didaerah tuberkel Olfactorius, hypocampus dan
cortex cerebri yg mengatur neurotransmitter.
Aktivasi alpha 2 adrenergic agonist di CNS.
Alpha 2 adrenergic agonist bekerja dgn cara merangsang reseptor
pd presynaptic dan postsynaptic. Stimulasi pd locus ceruleus di
daerah kaudal ventrikel IV akan menghasilkan efek sedasi,
analgesia dan anxiolytic.
Pengaruh utama alpha 2 adrenergic agonist pd presynaptic, dimana
reseptor ini mengatur pelepasan epinephrine dan adenosin trifosfat
melalui negative feed back mechanism, shg terjadi penurunan
simpatis, sedasi, analgesia dan anxiolytic. Respons sedasi juga
dihantarkan pula oleh aktivasi alpha 2 adrenergic receptor di
daerah locus ceruleus yg berpasangan dgn protein G, shg terjadi
perubahan hantaran ion.

Stimulasi [Link] Solitarius dan medulla Oblongata menyebabkan


penurunan catecholamine release dan tonus simpatis. Stimulasi
cornu dorsalis medulla spinalis menyebabkan release substance P
menurun shg terjadi antinociceptive.
Aktivasi alpha adrenergic receptor terjadi melalui mekanisme :
1. Inhibisi adenylate cyclase.
2. Akselerasi perubahan ion kalium/natrium.
3. Aktivasi kanal kalium.
4. Inhibisi sensitivitas voltase kanal calcium.
5. Modulasi perpindahan inositol fosfatidil.

Mekanisme ini menyebabkan pembentukan 3,5 cyclic


Adenosine Monophosphate dan calcium menurun, sehingga
terjadi hiperpolarisasi membran sel, yang berakibat hantaran
neuron terhambat. Aktivasi alpha 2 adrenergic receptor
dapat menghasilkan analgesia diderah spinal dan supra spinal.
Aktivasi alpha 2 adrenergic agonist di Perifer
 Aktivasi alpha 2 adrenewrgic agonist pd presynaptic akan
menyebabkan pelepasan norepinephrine terhambat shg
hemodinamik akan stabil. Sedangkan aktivasi alpha 1 adrenergic
postsynaptic akan menyebabkan transitory vasoconstriction,
keadaan inilah yg menyebabkan kenaikan tekanan darah dan heart
rate,keadaan ini disebut biphasic effect.
 Rangsangan pd otot polos pembuluh darah akan menimbulkan
transitory vasoconstriction, keadaan inilah yg menyebabkan
tekanan darah dan heart rate meningkat. Peningkatan tekanan
darah dan heart rate dpt diatasi dgn pemberian infus lambat,
sekitar 10 menit.
Farmakokinetik
Dexmedetomidine mengalami biotransformasi di hepar melalui
mekanisme glucoronidation dan cytochrome P 450 metabolism,
kemudian di keluarkan melalui urine ( 95 % ) dan feces ( 4 % ).
Eliminasi half life adalah 2 jam. Pada penderita gangguan hepar
sebaiknya dosis dikurangi.
Efek samping berupa hipotensi dan bradikardia, dapat diatasi
dengan pemberian sulfas atropin, ephedrine dan cairan infus.
Cara pemberian : loading dose 1 mikrogram/Kg infus lambat,
selama 10 menit dan dilanjutkan infus kontinyu 0,2 – 0,7
mikrogram/Kg/jam tidak boleh lebih dari 24 jam.
MIDAZOLAM
 Adalah golongan benzodiazepine, bersifat short acting.
 Penetrasi ke CNS cepat, sekitar 2-2,5 menit.
 Hanya untuk penggunaan kurang dari 24 jam.
 Cara pemberian : loading dose 0,03 mg/kg dilanjutkan drips 0,03
mg/kg/jam.
 Obat ini bekerja pada GABA receptor, menyebabkan amnesia
anterograde.
PROPOFOL
 Mempunyai efek sedatve, hypnotic, anxiolytic dan anterograde
amnesia.
 Onset of action 1-2 menit pd pemberian intravena.
 Pada penyuntikan terasa nyeri, sebaiknya diberi tambahan
lidokain 10 mg.
 Cara pemberian : loading dose 2-2,5 mg/kg, dilanjutkan 0,5-1,5
mg/kg/jam perdrips.
 Hanya digunakan u/ waktu 24 jam.
MENILAI KEDALAMAN SEDASI
Ada 3 cara menilai kedalaman sedasi:
 Observasi langsung
 Menggunakan skoring
 Mengukur variabel yg ada korelasi langsung dgn kedalaman
sedasi
. Skala Ramsay.
Tingkat Sedasi Skor

Ansietas, agitasi, gelisah 1

Kooperatif dan tenang 2


Dapat mengikuti 3
perintah                                                                

Tertidur tapi bereaksi cepat terhadap tepukan ringan  Atau 4


rangsangan suara                                            

Tertidur, bereaksi lamban terhadap tepukan ringan  Atau 5


rangsangan suara                       
Tertidur dan tidak ada 6
reaksi                                                             
Indikasi sedasi di ICU :
1. Kenyamanan pasien
2. Menurunkan stres nyeri
3. Mempermudah tindakan dan prosedur media

Keuntungan Analgetik di ICU :


Menurunkan angka terjadinya komplikasi paru pasca trauma abdomen dan
trauma thorax
Memungkinkan mobilisasi dini, shg menurunkan komplikaso deep venous
thrombosis dankomplikasi paru
Mengurangi stres nyeri sehingga kadar katekolamin dan neuropeptida
darah menurunyang akan mempercepat konsumsi oksigen, cardiac output
menjadi normal serta aktivitas simpatis lainnya
Perbaikan metabolisme lebih cepat shg proses anabolisme dpt lebih
cepat, maka proses penyembuhan luka dan fungsi imunitas
 Faktor penyebab stres :

 anxietas
 nyeri
 hipotermia/hipertermia
 hipovolemia
 acidosis
 malnutrisi, dehidrasi
 hypoxia
 infeksi, sepsis
 prolonged immobilisation
 Faktor penyebab stres pasien di ICU :
 stres lingkungan
 stres fisik
 prosedur invasif
 ventilator mekanik
 disorientasi dan kelelahan
DAFTAR PUSTAKA.
Fundamental Critical Care Support. Second Ed. Society of Critical
Care Medicine. Anaheim, September 1998.
Sri Redjeki I,Suarjaya IPP. Sedasi dan Analgesia pada perawatan
Intensif. Bag./SMF Anestesi dan Reanimasi FK Unpad/RSHS Bandung.
Kumpulan Makalah PIB XI, Medan : 4-7 Juli 2000.
Thaib MR. Dexmedetomidine : Paradigma Baru dalam pemberian
Sedatif di [Link]./ SMF Anestesi dan Terapi Intensif FK UI/RSCM
[Link] Makalah PIB XI, Medan : 4-7 Juli 2000.
Bisri T. Penggunaan Perioperatif Alpha 2 Agonis
[Link]./SMF Anestesi dan Reanimasi FK Unapad/RSHA
Bandung.
Miller Rd. Anesthesia. Second Ed. Churchil Livingstone : New York,
Melbourne,1986

Anda mungkin juga menyukai