Systemic Lupus
Erythematosus
(SLE)
OLEH:
DEVI NOVITA DAMANIK
Pengertian
Dalam ilmu kedokteran penyakit Lupus
dikenal sebagai Systemic Lupus
Erythematosus (SLE).
Atau sebagai penyakit dengan kekebalan
tubuh berlebihan (Autoimmune disease),
dalam ilmu immunologi tentang kekebalan
tubuh, pada penyakit Lupus jaringan dalam
tubuh dianggap benda asing
ETIOLOGI
• Hingga kini faktor yang merangsang sistem pertahanan diri untuk
menjadi tidak normal belum diketahui. Ada kemungkinan faktor
genetik, kuman virus, sinaran ultraviolet, dan obat-obatan
tertentu memainkan peranan.
• Penyakit Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) ini lebih kerap
ditemui di kalangan kaum wanita. Ini menunjukkan bahwa
hormon yang terdapat pada wanita mempunyai peranan besar,
walau bagaimanapun perkaitan antara Sistemik Lupus
Erythematosus (SLE) dan hormon wanita saat ini masih dalam
kajian. Penyakit Sistemik Lupus Erythematosus (SLE) bukanlah
suatu penyakit keturunan. Walau bagaimanapun, mewarisi
gabungan gen tertentu meningkatkan lagi risiko seseorang itu
mengidap penyakit Sistemik Lupus Erythematosus (SLE).
Tanda dan gejala
• Penyakit ini akan menyebabkan keradangan di berbagai organ
tubuh kita, misalnya: kulit yang akan berwarna kemerahan
atau erythema, lalu juga sendi, paru, ginjal, otak, darah, dan
lain-lain.
• Gejala-gejala SLE adalah seperti ruam di wajah, kepala dan
anggota-anggota badan, ruam ini tidak menimbulkan sakit
atau gatal, bila sembuh akan meninggalkan parut, ulser di
dalam mulut, keguguran rambut, demam berkepanjangan, dan
penderita akan sensitif terhadap pancaran sinar matahari
Klasifikasi SLE
• Ada 3 jenis penyakit Lupus yang dikenal yaitu:
• 1. Discoid Lupus, yang juga dikenal sebagai Cutaneus
Lupus, yaitu penyakit Lupus yang menyerang kulit.
• 2. Systemics Lupus, penyakit Lupus yang menyerang
kebanyakan system di dalam tubuh, seperti kulit, sendi,
darah, paru-paru, ginjal, hati, otak, dan system saraf.
Selanjutnya kita singkat dengan SLE (Systemics Lupus
Erythematosus).
• 3. Drug-Induced, penyakit Lupus yang timbul setelah
penggunaan obat tertentu. Gejala-gejalanya biasanya
menghilang setelah pemakaian obat dihentikan.
• Pemeriksaan diagnostik
• 1. Ana Test
• 2. Anti ribosomal P
• 3. Anti Kardiopilin
• 4. Coombstest
• 5. Pemeriksaan Darah lengkap
• 6. Urinalisasi
• Komplikasi
• 1. Vaskulitis (radang pembuluh darah)
• 2. Perikarditis
• 3. Myocarditis
• 4. Anemia Hemolitik
• 5. Intra Vaskuler Trombosis
• 6. Hypertensi
• 7. Kerusakan Ginjal Permanen
• 8. Gangguan Pertumbuhan
Penatalaksanaan
• Ø Medis
• 1. Preparat NSAID untuk mengatasi manifestasi klinis minor dan
dipakai bersama kortikosteroid, secara topikal untuk
kutaneus.
• 2. Obat antimalaria untuk gejal kutaneus, muskuloskeletal dan
sistemik ringan SLE
• 3. Preparat imunosupresan (pengkelat dan analog purion) untuk
fungsi imun.
• 4. Kortikosteroid (prednison 1-2 mg/kg/hr s/d 6 bulan postpartum)
(metilprednisolon 1000 mg/24jam dengan pulse steroid th/ selama 3
hr, jika membaik dilakukan tapering off).
• 5. AINS (Aspirin 80 mg/hr sampai 2 minggu sebelum TP).
• 6. Imunosupresan (Azethiprine 2-3 mg/kg per oral).
• 7. Siklofospamid, diberikan pada kasus yang mengancam jiwa 700-
1000 mg/m luas permukaan tubuh, bersama dengan steroid selama 3
bulan setiap 3 minggu.
• Ø Keperawatan
• Diet
Restriksi diet ditentukan oleh terapi yang diberikan. Sebagian besar
pasien memerlukan kortikosteroid, dan saat itu diet yang diperbolehkan
adalah yang mengandung cukup kalsium, rendah lemak, dan rendah
garam. Pasien disarankan berhati-hati dengan suplemen makanan dan
obat tradisional.
• Aktivitas
Pasien lupus sebaiknya tetap beraktivitas normal. Olah raga diperlukan
untuk mempertahankan densitas tulang dan berat badan normal. Tetapi
tidak boleh berlebihan karena lelah dan stress sering dihubungkan
dengan kekambuhan. Pasien disarankan untuk menghindari sinar
matahari, bila terpaksa harus terpapar matahari harus menggunakan
krim pelindung matahari (waterproof sunblock) setiap 2 jam. Lampu
fluorescence juga dapat meningkatkan timbulnya lesi kulit pada pasien
SLE.
Pencegahan
1. Hindari stress dan trauma fisik. Stress dapat mencetuskan SLE pada
pasien yang sudah memiliki kecenderungan akan penyakit ini.
2. Hindari merokok.
3. Hindari perubahan cuaca karena akan mempengaruhi proses
inflamasi.
4. Cukuplah beristirahat. Kelelahan dan aktivitas fisik yang berlebih
bisa memicu kambuhnya SLE.
5. Diet sesuai kelainan. Misalnya: jika hiperkolesterol, maka pasien
harus diet rendah lemak.
Lanjutan pencegahan
6. Hindari infeksi. Pasien SLE cenderung mudah mendapat
infeksi, dan kadang-kadang penyakit ini kambuh setelah infeksi.
7. Hindari pajanan sinar matahari, khususnya pukul 09.00-15.00
karena pasien SLE cenderung sensitive terhadap sinar ultraviolet.
Kulit yang terkena sinar matahari dapat menimbulkan kelainan
kulit seperti timbulnya bercak kemerahan yang menonjol/
menebal.
8. Hindari obat-obatan yang mengandung hormon estrogen,
seperti pil KB/ kontrasepsi.
Pengobatan
Timbul akibat efek samping obat akan sembuh sendiri dengan
memberhentikan obat terkait, biasanya pemakaian obat
hydralazine (obat hipertensi) dan procanamide (untuk mengobati
detak jantung yang tidak teratur)
Hanya 4 % dari orang yang mengkonsumsi obat-obat yang
bakal membentuk anti-bodi penyebab lupus
SELAMAT BELAJAR
DAN TETAP SEMANGAT