100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
602 tayangan76 halaman

Formulasi Ransum Ternak Ruminansia

Dokumen tersebut membahas tentang bahan pakan dan formulasi ransum untuk ternak ruminansia. Ia menjelaskan bahan-bahan pakan seperti hijauan, makanan konsentrat, dan makanan kasar serta faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menyusun pakan seperti nilai gizi, kebutuhan zat gizi ternak, perbandingan formulasi, dan kecernaan pakan. Dokumen ini juga membahas tentang penyakit-peny

Diunggah oleh

rega trilorenza
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
602 tayangan76 halaman

Formulasi Ransum Ternak Ruminansia

Dokumen tersebut membahas tentang bahan pakan dan formulasi ransum untuk ternak ruminansia. Ia menjelaskan bahan-bahan pakan seperti hijauan, makanan konsentrat, dan makanan kasar serta faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam menyusun pakan seperti nilai gizi, kebutuhan zat gizi ternak, perbandingan formulasi, dan kecernaan pakan. Dokumen ini juga membahas tentang penyakit-peny

Diunggah oleh

rega trilorenza
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAHAN PAKAN & FORMULASI RANSUM

BAHAN PAKAN & FORMULASI


RANSUM
TERNAK RUMINANSIA

Dr Mardiati Zain
Hijauan

 Bahan pakan yang sulit dicerna


 Kandungan SK > 18%, TDN < 60%
 Merupakan bagian terbesar pada
ransum ruminansia
 Hijauan yang mengandung air (segar)
dan hijauan kering
MAKANAN KONSENTRAT

 Mengandung SK< 18%, TDN >60%


 Lebih mudah dicerna
 Berfungsi sebagai sumber protein
(Protein >20%) dan sumber energi
(Protein <20%)
Makanan kasar
 Segar (kadar air 60 – 90%)
1. rumput
2. hijauan leguminosa
3. daun-daun pohon
4. silase
 Kering (kadar air 10-15%)
1. hay (legum dan non legum)
[Link] (legum dan non legum)
3. Limbah (perkebunan)
Dalam menyusun pakan harus memperhatikan:
1. Nilai gizi bahan pakan. Diperkirakan dan digambarkan dari
jumlah zat pakan yang terkandung dalam setiap massa pakan
yang biasanya diketahui dalam bentuk perkilogram bahan
kering (dry matter).
2. Kebutuhan zat gizi ternak. Diperkirakan dalam jumlah zat pak
yang akan dipergunakan untuk pokok hidup (maintenance),
tumbuh, bunting, dan produksi susu (karena energi protein,
mineral serta vitamin juga terkandung dalam air susu).
3. Perbandingan formulasi. Perbandingan bahan pakan sehingg
diperoleh komposisi zat pakan yang sesuai dengan kebutuhan
ternak.
4. Kemungkinan terjadinya gangguan metabolisme akibat
pemberian pakan tersebut.
5. Kecernaan pakan. Tingkat kecernaan suatu bahan pakan haru
dipertimbangkan, demikian juga tingkat degradasi zat pakan
(terutama protein) oleh mikroba rumen
 Hijauan berdasarkan kualitasnya

1. Kelompok hijauan berkualitas rendah


dengan karakteristik:
 Kandungan protein kasar hijauan di
bawah 4% dari bahan kering.
 Kandungan energi di bawah 40% TDN
dari bahan kering.
 Sedikit atau tidak ada vitamin.
 Hijauan yang termasuk dalam kelompok
ini diantaranya jerami padi, jerami
jagung dan pucuk daun tebu

2.
Kelompok hijauan berkualitas sedang
dengan karakteristi:

 Kandungan protein kasar berkisar antara


5 - 10% dari bahan kering.
 Kandungan energi TDN berkisar antara
41 - 50% dari bahan kering.
 Kandungan kalsium 0,3%.
 hijauan yang termasuk dalam golongan
ini diantaranya rumput alam, rumput
lapangan, rumput gajah, rumput
benggala dan rumput kultur lainnya.
Kelompok hijauan yang berkualitas
tinggi dengan karakteristik

 Kandungan protein kasar di atas 10%


dari bahan kering.
 Kandungan energi TDN di atas 50%
 Kandungan kalsium di atas 1,0%.
 Kandungan vitamin A tinggi.
 Hijauan yang termasuk dalam kelompok
ini diantaranya golongan legume (daun
kacang tanah, lamtoro, kaliandra, alfalfa,
gliricidae dan daun kacang-kacangan).
TEKNIK PEMBERIAN PAKAN---PRODUKSI
 Peningkatan frekuensi pemberian pakan dari satu kali
menjadi empat kali dapat meningkatkan kecernaan bahan
kering 63,9% menjadi 67,1% dan penyediaan protein rumen
meningkat dari 2,2 gr menjadi 3,19 gr/hari.
 Pemberian konsentrat yang hampir bersamaan waktunya
dengan pemberian hijauan berakibat pada menurunnya
kecernaan bahan kering dan bahan organik pakan.
 Pemberian konsentrat yang dilakukan 2 jam sebelum
pemberian hijauan akan meningkatkan kecernaan bahan
kering dan bahan organik. Hal ini terjadi konsentrat yang
kaya akan pati sebagian besar sudah dicerna oleh mikroba
dalam rumen
 Dalam hubungan ini pemberian pakan dapat dilakukan
dengan mendahulukan pemberian konsentrat minimal dua
jam sebelum pemberian hijauan secara bertahap.
Pemanfaatan limbah pertanian dan limbah
industri pertanian sbg Pakan---
Permasalahan :
1Kesenjangan waktu
 Limbah pertanian yang umumnya terdiri dari tanaman
pangan bergantung pada jenis tanaman pangan yang
dipanen yang dihasilkan pada akhir musim hujan atau
awal kemarau. Padahal pada waktu itu, pakan dari off
farm land masih ada. Limbah dibutuhkan menjelang
akhir musim kemarau, sehingga perlu pengawetan
untuk dipakai 2-5 bulan kemudian. Dengan demikian
diperlukan biaya yang mahal dibanding harga bahan
pakan;
[Link] tempat produksi.
 Sentra penghasil limbah pertanian umumnya di
daerah yang subur.
3. Voluminous (amba)
 Artinya tiap unit berat limbah pertanian besar
volumenya. Sehingga merupakan masalah
rumit bila ditinjau dari segi transportasi dan
penyimpanan.
[Link] rendah.
 Sebagaimana layaknya limbah, terutama jerami
padi, kuali­tasnya sangatlah rendah. Ini
dikarenakan dipanen pada umur tua.
5. kualitasnya sangat rendah karena tinggi
kandungan lignin dan silikat yang tidak
dapat dicerna oleh hewan ruminansia
Sedangkan untuk minimal voluntary feed
intake diperlukan protein minimal 6-7 %,
dibawah ini akan menurunkan konsumsi
pakan
 Limbah industri sumber protein diantaranya
adalah : kelompok bungkil-bungkilan yaitu
bungkil kelapa, bungkil kelapa sawit, bungkil
kacang tanah, bungkil karet, bungkil kedelai,
bungkil biji kapuk dan lain-lain
 Beberapa faktor pembatas yang mengandung
dalam limbah ini adalah : HCN yang
terkandung dalam biji karet dan ubi kayu,
asam siklopropenoi dan gossipol yang
terkandung dalam biji kapuk dan kapas,
theobromin yang ter­kandung dalam biji coklat.
 Beberapa limbah ternak yang dapat
dimanfaatkan sebagai campuran pakan
sapi diantaranya adalah: kotoran ternak
khususnya ayam karena nilai gizinya
tertinggi diantara kotoran ternak yang
lain, tepung darah, tepung bulu, dan
tepung tulang
 Pemanfaatan Suplemen dalam Campuran
Pakan Sapi

[Link] Probiotik
 Probiotik merupakan mikroba hidup (yeast dan
fungi) yang bermanfaat dalam memperbaiki
keseimbangan mikroba usus.

[Link] Crystal Fat dan Protected Fat


 lemak sebagai sumber energi murah apabila
ditambahkan dalam pakan yang berlebih
jangan sampai berefek negatif terhadap mikro
orga­nisme rumen, maka harus dibuat stabil
dengan cara protected fat dan crystal fat.
 Berbagai Upaya untuk Meningkatkan
Efisiensi Pakan

 Hijauan pakan secara umum dapat dikategorikan


menjadi 3 kelas :
 Rumput unggul dengan kualitas medium, yaitu
mengandung protein tercerna sekitar 10-15%
 Rumput lapangan dan gulma dengan kelas rendah
sampai medium, dengan kandungan protein tercerna
sekitar 4-10%
 Limbah pertanian dengan kualitas rendah, dengan
kandungan protein tercerna sekitar 0-4%.
Cara pengolahan baik secara kimia, biologis
maupun kombinasi.

[Link] kimia yang paling mudah dengan


cara penambahan urea atau sekam padi.
Pengolahan jerami dengan abu sekam yang
ditambahkan energi sehingga mencapai 50%,
sumber N 2% sehingga kadar protein menjadi
12,5%,
.Perlakuan fisik dapat dilakukan dengan
pemotongan untuk memperkecil ukuran
hijauan. Dengan ukuran yang kecil akan lebih
memperluas permukaan sehingga enzim-enzim
pencernaan akan lebih mudah menetrasi.
3
[Link] perlakuan biologis dapat
ditambahkan probiotik seperti
scharomycetes yang akan membantu
proses fermentasi dalam rumen.
Nutrisi dalam pakan

sesuai dengan kebutuhan ternak

Harus diketahui bagaimana cara menyusun


ransum yang benar.

Kebutuhan nutrisi pada ternak umumnya


disesuaikan dengan kegiatannya, misalnya untuk
sapi potong berbeda dengan sapi perah.

26
 Pada ternak potong : Kebutuhan nutrisi
berdasarkan berat badan sapi awal dan
penambahan berat badan yang diinginkan

 Pada ternak perah : Berdasarkan


kebutuhan untuk hidup pokok, jumlah
produksi susu, kandungan lemak susu

27
 Penyakit yang disebabkan oleh kekurangan
zat nutrisi disebut dengan defisiensi,
sedangkan yang kelebihan disebut dengan
toxicitas.
 Penyakit yang disebabkan oleh zat nutrisi
biasanya non infeksius.
 Pada ruminansia penyakit tersebut paling
sering disebabkan oleh mineral atau
vitamin.

28
PROTEIN

 Persentase protein dalam ransum


berkisar antara 8 – 18 % .
 Pemberian protein dapat berupa
konsentrat, daun kacang kacangan dan
urea.

29
Kebutuhan protein pada ruminansia :
Secara umum kandungan protein dalam
pakan :
 Sapi potong : 8 - 18 % dalam bahan
kering pakan,
 Sapi perah : 11 - 18 % dalam bahan
kering pakan
 Domba : 9 - 16 % dalam bahan
kering pakan
 Kambing : 9 - 16 % dalam bahan
kering pakan

30
Kekurangan Protein pada ternak
tidak dapat diketahui secara
langsung tetapi secara kronis
dapat terjadi :

Penurunan berat badan


Penurunan produksi
Gangguan saluran reproduksi

31
Beberapa penyakit yang sering terjadi yang
disebabkan protein pakan :
1. KEMBUNG (Tympani)
 Kembung ada dua nama dengan penyebab yang
berbeda:
a. Kembung - Bloat Feedlot
Kembung ini disebabkan oleh pemberian konsentrat
yang sangat berlebihan dari batas yang dibutuhkan,
akibatnya lendir bakteri dan gas pada rumen
berlebihan.
b. Kembung - Bloat Pasture = Legume Bloat
Kembung ini disebabkan karena pemberian daun
kacang-kacangan yang masih muda, karena daun ini
biasanya mengandung protein tidak terlarut (nitrogen)
yang sangat tinggi dan saponin.

32
Gejala yang diperlihatkan
ternak apabila menderita
kembung ;

 Perut menjadi tegang


 Anus menonjol
 Nafas ngos-ngosan
 Lidah kebiruan
 Akhirnya terjadi kematian

33
Pengobatan yang diberikan
antara lain :

 Minyak goreng 0,5 liter


 Poloxalene 100- 200 gram
 Pil Kembung 2 - 4 butir
 Pengeluaran gas

34
UREA TOXIC
 Urea merupakan bahan pakan sumber nitrogen.
Pada ternak ruminansia nitrogen dalam pakan
dapat dirubah menjadi asam amino dalam
rumen, sehingga sering sekali urea digunakan
sebagai zat sumber protein.
 Pemberian urea sebagai sumber Nitrogen (N)
dalam pakan harus diimbangi dengan
pemberian bahan pakan sumber energi, selain
itu juga sumber mineral sulfur (S) dengan
perbandingan (N:S=15: 1).

35
 Pemberian urea harus dibatasi karena dapat
menyebabkan keracunan.
 Beberapa peneliti menganjurkan 1% dari
konsentrat yang diberikan.
 Pemberian urea jangan lebih dari I% bk
ransum untuk dosis yang aman atau 3 % /BK
konsentrat. Ensminger (1997)

36
Keracunan urea dapat
disebabkan oleh :
 pemberian urea tetapi tanpa pemberian air
yang cukup
 Pemberian urea lebih dari 0,4 - 0,5 g/Kg BB
 Pemberian urea 1,5% Bahan kering konsentrat

37
Gejala Keracunan urea :
 Secara cepat kira-kira 30 - 60 menit setelah
makan.
 Ngiler /Salivasi terjadi 10 menit setelah makan.
 Terjadi kejang sehingga dyspnoe dan salivasi
 Kembung dengan pH > 7 denngan Menyepak
perut
 Inkoordinasi dengan tampak terhuyung-
huyung
 Ambruk
 Kematian
38
Terapi :
 Menurunkan pH rumen untuk
menghambat absorbsi dan menurunkan
racun dengan pemberian :
 1. Asam Cuka 80 g/hari dengan 5 - 10
galon air diberikan per oral.
 antibiotika (oxytetra ) secara per-oral

39
Pencegahan :

 Pemberian urea sebaiknya jangan


lebih dari 1/3 dari kebutuhan total
protein

 Pemberian urea diimbangi dengan


energi, protein dan vitamin A.

40
Teknik Formulasi Pakan Sapi
Beberapa hal yang perlu diperhati­kan adalah :
 Harga bahan pakan yang akan dipergunakan dan
tingkat kontinyuitas penyediaannya.
 Kebutuhan zat-zat gizi sesuai dengan tingkat
produksi susunya. Ini dapat diketahui dari tabel
kebutuhan nutrisi dari sapi perah menurut NRC
atau ARC.
 Kandungan nutrisi dari bahan pakan yang akan
dipergunakan. Ini dapat diketahui dari tabel
komposisi bahan pakan atau melakukan analisis
laboratorium sendiri.
Cara memilih bahan makanan murah
 Makanan biaya paling besar
 Makanan yang efisien --- keuntungan
 Untuk mencapai efisiensi perlu
pengetahuan tentang
1. kebutuhan yang tepat
2. Komposisi bahan pakan efek makanan
terhadap produksi
3. Harga bahan yang tersedia
Memilih bahan pakan

 Harga /kg bahan kering


 Harga /kg TDN
 Harga/kg protein kasar
Kuadran II Kuadran III
bahan energi Energi mahal
mahal protein protein mahal
murah

Kuadran I Kuadran IV
Energi murah Energi murah
protein murah protein mahal
Bahan yang tersedia

Bahan BK TDN PK
JAGUNG 86.6 78.2 10.8
BUNGKIL KELAPA 88.6 78.7 21.3
DEDAK 87.7 67.9 13.6
POLLARD 88.5 69.2 18.5
ONGGOK 79.8 78.3 1.87
UREA 100 ---- 280
HARGA /KG TDN DAN PROTEIN
BAHAN Rp/kg Rp/kg BK Rp/kg Rp/kgPK
TDN
jagung 5000 5760 7365 53.333
Bungkil 4000 4514 5736 26932
kelapa
Dedak halus 1500 1710 2518 18521
pollard 1800 2033 2939 15887
onggok 800 1002 1280 6846
urea 1500 15 15
HARGA /KG TDN DAN PROTEIN
BAHAN Rp/kg Rp/kg BK Rp/kg Rp/kgPK
TDN
jagung 1500 1728 2209 16.000
Bungkil 1000 1128 1434 5200
kelapa
Dedak halus 500 570 839 4191
pollard 800 904 1306 4886
onggok 800 1002 1280 5360
urea 1500 1500 5357.
 Jagung BK 86.8% harga /kg bk =
5000/0.868 = 5760/kg bk
Protein 10.8%
Harga/kg protein = 5760/0.108= 53.333
TDN 78.2
Harga/kg TDN = 5760/0.782= 7365
Kemampuan Konsumsi Ternak

 Pemberian Terbatas
 Untuk memenuhi kebutuhan zat gizi saja
 Pemberian ad libitum
 Selalu tersedia
 Umumnya pada ternak yang mempunyai
potensi produksi tinggi
 Hati-hati: Hindari pemborosan
Faktor yang mempengaruhi Kemampuan
Konsumsi Ternak
 Faktor Ternak:
 Besar tubuh atau bobot badan
 Status fisiologis
 Potensi genetik
 Tingkat produksi
 kester
 Faktor Ransum:
 Bentuk dan sifat
 Komposisi & keseimbangan zat gizi
 Frekuensi pemberian
 Kandungan antinutrisi
 Faktor lainnya:
 Suhu dan kelembaban udara
 Curah hujan
 Lama siang atau malam hari
 Keadaan kandang dan tempat ransum
Contoh Penaksiran
kemampuan konsumsi ternak
 J = 0.025 W
 J  kemampuan mengkonsumsi BK (kg/hr)
 W bobot badan ternak (kg)

BB sapi 200 kg, diharapkan pbb 0.75kg/hr. Kebutuhan energi


sebanyak 3.2kg TDN/hr. Ransum yg diberikan hanya hijauan dgn
kandungan BK 22.5%. Hitunglah kemampuan sapi itu mengosumsi
ransum!
J = 0.025 W  = 0.025 x 200 = 5 kg BK
Dalam bentuk segar = 100/22.5 x 5kg = 22.2 kg
kualitas hijauan yang diberikan:
3.2/22.2 x 100% = 14.4% TDN dalam bentuk segar atau
3.2/5 x 100% = 64% TDN dlm bentuk BK.
Sebaiknya dalam pemberian ditambahkan 5% dari jumlah
perhitungan karena selalu ada terbuang atau tidak termakan.
Contoh Penaksiran
kemampuan konsumsi ternak
 J = 0.025 W + 0.1 (Y)
 J  kemampuan mengkonsumsi BK (kg/hr)
 W bobot badan ternak (kg)
 Y  produksi susu (kg/hr)

BB sapi laktasi 350 kg dan memproduksi susu 12kg/hr. Kebutuhan


energi sebanyak 6.23kg TDN/hr. Ransum yg diberikan tdd hijauan
dan konsentrat (55:45). Rumput lapangan: BK 23.6% dan energi
52.5% TDN. BK konsentrat 86.5%. Tentukan kemampuan sapi itu
mengkonsumsi BK ransum serta TDN konsentrat yang dibutuhkan.
J = 0.025 W + 0.1(Y)  = 0.025 (350) + 0.1 (12) = 9.95 kg BK
Hijauan = 55% x 9.95kg = 5.47kg BK (=23.2kg/hr dalam btk segar)
Kons = 45% x 9.95kg = 4.48kg BK (=5.2kg/hr dalam berat
kering)
Penaksiran Bobot Badan
 Dengan timbangan ternak  tidak semua
peternak memilikinya
 Dengan pita ukur
 Bobot Badan (kg) = (L + 22)2
100
 Persamaan regresi (Sutradi, 1983):
 Sapi perah Jantan: B= 101.1 – 2.493L + 0.02317L2
 Sapi perah betina: B = 601.8 – 9.300L + 0.04546L2

 B= Bobot badan (kg), L = lingkar dada (cm)


Metoda Formulasi Ransum

 Trial and Error Method (Metode Coba-coba)


 Square Method (Metode Bujur Sangkar)
 Simultaneous Equation Method
 Linear Programming
1. Trial and Error Method
 Umumnya digunakan untuk formulasi konsentrat
 Pakan tdd lebih dari 2 jenis
 Tetapkan dulu bahan pokok ransum (yg paling banyak
bdsrk pertimbangan: ketersediaan, tdk banyak
mengandung zat antinutrisi dan disukai serta tdk mudah
rusak)
 Bila formula yg disusun menunjukkan kandungan energi
yang lebih rendah, maka perbanyak penggunaan pakan
yang mengandung energi lebih tinggi dan sebaliknya.
Demikian juga dgn protein.
 Bila sulit mencapai kandungan energi dan protein yang
diinginkan, maka utamakan pencapaian kandungan energi
yang diinginkan, krn kekurangan protein dpt dipenuhi dgn
penambahan urea dlm batas-batas tertentu.
Contoh: Trial and Error

 Seekor sapi dara membutuhkan suatu formula


konsentrat dgn energi 74% TDN dan 16% PK.
Bhn pakan yang tersedia:
dari BK (%)
No KONSENTRAT BK (%)
PK TDN
1 Dedak padi 89,2 15,4 70,3
2 bungkil kelapa 91,9 20,5 78,9
3 bungkil kacang tanah 90,9 39,1 80,4
4 Tepung gaplek 86,1 2,6 88,1
5 Mineral 2%

 Contoh perhitungan trial and error


Trial and Error
dari BK Jlh yg Kandu Kandu
N BK (%) diberikan ngan ngan
KONSENTRAT
o (%) TD (%)
PK N Energi Protein
89, 15, 70,
1 Dedak padi 2 4 3 63 0,40 0,09
91, 20, 78,
2 bungkil kelapa 9 5 9 21 0,15 0,04
bungkil kacang 90, 39, 80,
3 tanah 9 1 4 9 0,07 0,03
86, 88,
4 Tepung gaplek 1 2,6 1 5 0,04 0,00
5 Mineral 2%       2    
  Jumlah       100 0,65 0,16
2. Square Method
 Digunakan untuk mendapatkan kandungan satu zat gizi misalnya
protein atau energi saja dari 2 jenis pakan yang akan diformulasikan
 Contoh:
 Seekor sapi jantan yg akan digemukkan mempunya BB 250kg. Sapi ini
diberi rumput lapangan 40kg/hr dan konsentrat sebanyak 2.5 kg BK /hr.
Konsentrat yang diinginkan mengandung 75%TDN. Pakan yg tersedia
utk formulasi konsentrat tdd dedak padi dan tepung gaplek.
Formulasikanlah konsentrat tsb!

No KONSENTRAT BK (%) TDN (%)


1 Dedak padi 87,6 70,3
2 Tp gaplek 86,2 87,4
Formulasi
Dedak padi 70.3 12.4

75

Tp gaplek 87.4 4.7


+
17.1
Dedak padi = 12.4 / 17.1 x 2.5
Tp Gaplek = 4.7 / 17.1 x 2.5

Formula konsentrat yg diinginkan:


Dedak padi = 1.81 x 100 /87.6 x = 2.1 kg
Tp gaplek = 0.68 x 100/86.2 x = 0.8 kg
2.9 kg
 Susunlah ransum sapi betina dara dengan bobot badan 250 kg
Ransum terdiri dri hijauan dan konsentrat dengan perbandingan
50 : 50. Sumber hijauan adalah rumput gajah sedangkan
konsentrat terdiri dari dedak dan jagung
 Jawab.
Kebutuhan bahan kering untuk sapi betina dara dengan bobot badan
250 kg adalah 2.6% dari BB yaitu 2.6 % x 250 kg = 6.5 kg
Kebutuhan TDN ransum 65% x 6.5 kg = 4,225
TDN R. Gajah 52,4% dan BK 21%. TDN dedak 67,9% dan BK 87,6%
TDN jagung 80,8 % dan BK 84.7%

 Bahan kering hijauan


 Rumput gajah = 0.5 x 6.5 kg = 3.25
 Bahan kering konsentrat = 6.5 – 3.25 = 3.25
 TDN hijauan = 3.25 x 52.4/100 = 1.703
 TDN konsentrat = 4,225- 1.703 = 2.522
 Kualitas TDN konsentrat = TDN konsentrat/ bahan kering
konsentrat = 2.522/3.25 x 100 % = 77.6%
 Sumber konsentrat terdiri dari dedak dan bungkil kelapa
   DEDAK JAGUNG
 67.9 80.8
   77.6
 3,2 9.7 = 12.9
 Jumlah bahan kering dedak yang dibutuhkan = 3.2/12.9 X
3.25 kg = 0.806
 Jumlah bahan kering jagung yang dibutuhkan = 9,7/12.9 X
3.25 kg = 2.44
  Jadi susunan BK ransum sapi tersebut :
 Rumput gajah = 3.25
 Dedak = 0.806
 Jagung = 2.44
 Dalam bentuk segar jumlah ransum :
 Rumput gajah = 15.47
 Dedak = 0.92
 Jagung = 2.89
  
Contoh untuk sapi laktasi
 BB = 400kg
 Produksi susu = 15 kg/hr
 Kadar lemak susu = 3.5%.
 konsumsi BK ransum adl = 11.5 kg/hr.
 Bhn yg tersedia tdd rumput gajah dan konsentrat jadi.
 Rpt Gajah mengandung energi 52% TDN dari BK dgn
kandungan BK 23.5%.
 Konsentrat jadi mengandung energi 75% TDN dari BK
dgn kandung BK 86.2%.
 Jlh energi yg dibutuhkan adl 7.71 kg TDN/hr.
Formulasikanlah ransum tsb agar kebutuhan energi sapi
perah dapat terpenuhi.
Contoh untuk sapi Potong
 BB = 300kg
 konsumsi BK ransum adl = 9 kg/hr.
 Bhn yg tersedia tdd rumput gajah dan konsentrat jadi.
 Rpt Gajah mengandung energi 52% TDN dari BK dgn
kandungan BK 23.5%.
 Konsentrat jadi mengandung energi 75% TDN dari BK
dgn kandung BK 86.2%.
 Jlh energi yg dibutuhkan adl 5.80 kg TDN/hr.
Formulasikanlah ransum tsb agar kebutuhan energi sapi
perah dapat terpenuhi.
Urea sbg suplemen protein

 Tidak boleh > 1% dalam BK ransum


 Tidak boleh > 3% dalam BK konsentrat
 Tidak boleh > 1/3 protein ransum
berasal dari urea
 Harus tersedia RAC yang cukup sbg
sumber energi
 harus diaduk dgn baik
3. Simulataneous Equation Method

 Umumnya digunakan utk formulasi ransum


ternak non-ruminansia
 Dapat digunakan utk ternak ruminansia dgn
ketentuan hanya 2 jenis pakan yg belum
diketahui pemberiannya
4. Contoh Simulataneous Equation Method

 Seekor sapi perah laktasi mempunyai BB 400kg dgn


produksi 15kg/hr dan kadar lemak susu 3.5%. Sapi
membutuhkan energi TDN 8.66 kg/hr dan PK 1.932kg/hr.
 Sapi diberi rumput gajah sebanyak 35kg/hr dan
konsentrat yg bahannya tdd polard, bungkil kelapa dan
ampas tahu.
 Jumlah ampas tahu sebanyak 6 kg/hr dalam bentuk
segar
 Formulasikan ransum tsb.
Formulasi

No pakan BK (%) PK (%) TDN (%)


1 Rumput gajah 21.5 9.7 56
2 Ampas tahu 26.2 23.7 78.3
3 bungkil kelapa 86.9 20.5 78.9
4 Polard 88.4 17 70

No pakan ransum (kg) PK (%) TDN (%)


1 Rumput gajah 35 0.73 4.21
2 Ampas tahu 6 0.37 1.23

jumlah 41 1.10 5.44


Kebutuhan - 1.932 8.66
Kekurangan - 0.83 3.22
Formulasi
 Kekurangan ini hrs dipenuhi oleh bungkil kelapa (X) dan polard (Y)
dgn persamaan sbb:
(X x 0.205) + (Y x 0.17) X 1 kg = 0.829 kg PK
(X x 0.789) + (Y x 0.70) X 1 kg = 3.215 kg TDN
0.205 X + 0.17 Y = 0.829  205 X + 170 Y = 829
0.789 X + 0.7 Y = 3.215  789 X + 700 Y = 3215
161745 X + 134130Y = 654081
161745 X + 143 500Y = 659075
- 9370Y = - 4994
Y = 0.533  X = 3.602
Pemberian bungkil = 3.602kg bhn kering atau
3.602 x 100/86.9 x 1 kg = 4.14 kg
Pemberian Polard = 0.533kg bhn kering atau
0.533 x 100/88.4 x 1 kg = 0.60 kg
Formulasi ransum

 Rumput gajah segar = 35 kg/hr


 Konsentrat
 Ampas tahu = 6.0 kg
 Bungkil kelapa = 4.1 kg
 Polard = 0.6 kg
Ransum Sempurna
 Pemberian ransum cukup utk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan
produksi yg dhasilkan setiap sapi
 Ransum harus seimbang
 Ransum harus palatable
 Ransum diramu dr berbagai bahan pakan
 Cukup mineral
 Ransum merangsang kegiatan saluran pencernaan
 Cukup bahan pakan yang mengenyangkan (mkn kasar)
 Ransum cukup hijauan
 Hindari perubahan yang drastis
 Waktu pemberian yang teratur
 Ransum harus disiapkan dengan baik, digiling, dicincang atau
dilembabkan agar palatable
 Bahan pakan yang murah
Have a nice break ….

Anda mungkin juga menyukai