0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan34 halaman

Penyusutan Aktiva Leasing dan Pajak

Dokumen tersebut membahas mengenai perencanaan pajak atas transaksi sewa guna usaha (leasing) dan perbandingannya dengan pembelian aset secara langsung. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pajak leasing seperti besaran biaya yang dapat dikurangkan, masa sewa, dan penentuan sebagai leasing operasi atau pembiayaan. Secara umum, leasing dapat mengurangi beban pajak dan mempertahankan

Diunggah oleh

Rizky Nayoan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
27 tayangan34 halaman

Penyusutan Aktiva Leasing dan Pajak

Dokumen tersebut membahas mengenai perencanaan pajak atas transaksi sewa guna usaha (leasing) dan perbandingannya dengan pembelian aset secara langsung. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pajak leasing seperti besaran biaya yang dapat dikurangkan, masa sewa, dan penentuan sebagai leasing operasi atau pembiayaan. Secara umum, leasing dapat mengurangi beban pajak dan mempertahankan

Diunggah oleh

Rizky Nayoan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MANAJEMEN PERPAJAKAN

06 Modul ke:
PERENCANAAN PAJAK ATAS SEWA GUNA
USAHA (LEASING)
FAKULTAS
EKONOMI &
BISNIS
Fakultas

Program Studi

PROGRAM
STUDI S1
AKUNTANSI
Dr. Suhirman Madjid, SE.,MS.i.,Ak.,CA
Sewa Guna Usaha (Leasing)
Pengertian Sewa Guna Usaha (Leasing)

Sewa guna atau leasing adalah kegiatan


pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang-barang
modal untuk digunakan oleh perusahaan untuk suatu
jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran-
pembayaran secara berkala disertai dengan hak pilih
(optie) bagi perusahaan tersebut untuk membeli
barang-barang modal yang bersangkutan atau
memperpanjang jangka waktu leasing berdasarkan
nilai sisa yang telah disepakati bersama.
Unsur Sewa Guna Usaha (Leasing)

Unsur-unsur SGU

Lessor Badan

Lessee Badan/OP

Barang Modal AT Berwujud

Perjanjian SGU Dgn syarat tertentu


SEWA GUNA USAHA DIBEDAKAN MENJADI DUA:
• Sewa guna usaha dengan hak opsi (capital/finance lease)
• Sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease)

HAK OPSI (FINANCE LEASE)


 Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha (lessor) adalah
pihak yang membiayai penyediaan barang modal.
 Penyewa guna usaha (lessee) biasanya memilih barang modal yang
dibutuhkan dan atas nama perusahana sewa guna usaha, sebagai pemilik
barang modal tersebut, melakukan pemesanan, pemeriksaan serta
pemeliharaan barang modal yang menjadi obyek transaksi sewa guna usaha.
 Selama masa sewa guna usaha, penyewa guna usaha melakukan pembayaran
sewa guna usaha secara berkala dimana jumlah seluruhnya ditambah dengan
pembayaran niali sisa (residual value), kalau ada, akan mencakup
pengembalian harga perolehan barang modal yang dibiayai serta bunganya,
yang merupakan pendapatan perusahaan sewa guna usaha.
TANPA HAK OPSI (OPERATING LEASE)
 Dalam sewa guna usaha ini, perusahaan sewa guna usaha
membeli barang modal selanjutnya disewagunausahakan
kepada penyewa sewa guna usaha.
 Berbeda dengan finace lease, jumlah seluruh pembayaran sewa
guna usaha berkala dalam operating lease tidak mencakup
jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang
modal tersebut berikut bunganya.
 Perbedaan ini disebabkan oleh perusahaan sewa guna usaha
yang mengharapkan keuntungan justru dari penjualan barang
modal yang disewagunausahakan, atau melalui beberapa
kontrak sewa guna usaha lainnya.
PERLAKUAN PERPAJAKAN UNTUK TRANSAKSI LEASING

Suatu guna usaha digolongkan sebagai finance lease


apabila dipenuhi semua kriteria berikut:
– Jumlah pembayaran sewa guna usaha selama masa
sewa guna usaha pertama ditambah dengan nilai sisa
barang modal harus dapat menutup harga perolehan
barang modal dan keuntungan lessor
– Masa sewa guna usaha ditentukan sekurang-
kurangnya 2 tahun untuk barang modal golongan I
dan 3 tahun untuk barang modal golongan II dan III,
dan 7 tahun untuk golongan bangunan
– Perjanjian sewa guna usaha memuat ketentuan
mengenai opsi bagi lessee

– Dalam pasal 16 Keputusan Menteri Keuangan No.


169/KMK.01/1991 mengatur mengenai ketentuan
perpajakan bagi lessee yang melakukan transaksi
finance lease sebagai berikut:
• Lessee tidak boleh melakukan penyusutan atas
barang modal yang disewa guna usaha sampai
saat lessee membeli barang tersebut
• Setelah lessee menggunakan hak opsinya membeli
barang modal yang disewa guna usahakan maka
lessee boleh melakukan penyusutan dengan dasar
harga opsi barang modal yang bersangkutan

• Pembayaran sewa guna usaha yang dibayar atau


terutang oleh lessee kecuali pembebanan atas
tanah merupakan biaya yang dapat dikurangkan
dari penghasilan bruto lessee
• Dalam hal masa sewa guna usaha lebih pendek
dari masa yang ditentukan, Direktur Jendral Pajak
melakukan koreksi atas pembebanan biaya sewa
guna usaha tersebut dan memperlakukannya
sebagai operating lease. Perubahan ini tidak
dilakukan apabila terjadi karena force majeur,
default maupun pertimbangan ekonomi tanpa
motif menghindari pajak dan tidak ada hubungan
istimewa antara lessor dengan lessee
• Lessee tidak memotong Pajak Penghasilan pasal
23 atas pembayaran sewa guna usaha
PERENCANAAN PAJAK
UNTUK LEASING
1. Membeli secara Langsung atau Melalui Sewa Guna
Usaha dengan Hak Opsi
• Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Apabila membeli secara langsung maka jumlah yang dapat dibiayakan dalam rangka
menghitung penghasilan kena pajak adalah beban penyusutan.
2. Besarnya beban penyusutan antara lain ditentukan oleh metode penyusutan dan
umur ekonomis yang telah ditetapkan oleh peraturan perpajakan.
3. Apabila membeli secara sewa guna usaha, maka semua biaya yang dikeluarkan
untuk membayar sewa guna usaha tersebut dapat dibiayakan pada tahun yang
bersangkutan.
4. Masa sewa guna usaha bisa lebih pendek dari umur ekonomis sehingga perusahaan
dapat membiayakan perolehan aset tetap lebih cepat dibandingkan apabila
menggunakan penyusutan (penyusutan yang dipercepat).
Perencanaan Pajak Untuk Leasing

2. Penjualan dan Penyewaan Kembali


Hal yang perlu diperhatikan adalah jika gedung
dimiliki secara langsung, maka biaya yang boleh
dikurangkan hanya beban penyusutan atas gedung
yang harus dilakukan dalam jangka waktu 20 tahun.
Apabila diperoleh melalui sewa guna usaha dengan
hak opsi maka semua biaya yang dikeluarkan untuk
pembayaran sewa baik atas tanah maupun
bangunan dapat dibiayakan.
3. Pengadaan Mesin Baru
Jika perusahaan melakukan pembelian mesin secara
langsung, maka yang dapat diakui sebagai biaya adalah
beban penyusutan. Untuk menghitung besarnya beban
penyusutan, metode yang dapat digunakan adalah
metode garis lurus dan metode saldo menurun.
[Link] antara Sewa Guna Usaha dengan Pembelian
Langsung
Besarnya perbandingan penghematan pajak antara sewa
guna usaha dengan pembelian langsung secara tunai
dilakukan dengan cara membandingkan jumlah biaya yang
dapat dikurangkan dalam rangka menghitung penghasilan
kena pajak.
Untuk sewa guna usaha, biaya yang dapat dikurangkan
adalah seluruh biaya sewa dan beban penyusutan sebesar
nilai opsi. Sedangkan untuk pembelian langsung adalah
sebesar beban penyusutannya saja.
Membeli secara Langsung atau Melalui Sewa
Guna Usaha dengan Hak Opsi
• Hal-hal yang perlu diperhatikan :
1. Apabila membeli secara langsung maka jumlah yang dapat dibiayakan
dalam rangka menghitung penghasilan kena pajak adalah beban
penyusutan.
2. Besarnya beban penyusutan antara lain ditentukan oleh metode
penyusutan dan umur ekonomis yang telah ditetapkan oleh peraturan
perpajakan.
3. Apabila membeli secara sewa guna usaha, maka semua biaya yang
dikeluarkan untuk membayar sewa guna usaha tersebut dapat dibiayakan
pada tahun yang bersangkutan.
4. Masa sewa guna usaha bisa lebih pendek dari umur ekonomis sehingga
perusahaan dapat membiayakan perolehan aset tetap lebih cepat
dibandingkan apabila menggunakan penyusutan (penyusutan yang
dipercepat).
Dari Sudut Tax Planning Atau Financial Planning, Kebijakan Mana Yg Lebih
Menguntungkan Bagi Perusahaan, Membeli Aset Secara Leasing Atau Tunai?

Sebagai ilustrasi seorang pengusaha besar di Pekanbaru,


ketika memutuskan pembelian aset (alat berat backhoe
loader untuk perkebunan) tidak memerlukan suatu analisis
mendalam (menggunakan perhitungan present value).
Karena perusahaannya dalam posisi “untung”. Pilihan
keputusannya dilakukan seketika yakni melakukan pembelian
secara leasing dengan hak opsi (finance lease) mengapa?
Alasannya adalah :
• Penghematan pajak
• Penghematan cash flow
Bagaimana penghematan pajak bisa dilakukan?

• Karena masa leasing (lease term) lebih pendek dari masa penyusutan
fiskal atau atau umur ekonomis, maka leasing untuk alat berat tersebut
bisa 3(tiga) tahun, sedangkan masa penyusutan fiskal ada di kelompok II
yakni 8 (delapan) tahun. Dengan demikian, secara ketentuan fiskal,
maka perlakuan perpajakan dari angsuran leasing dapat dibukukan
setiap bulan sebagai beban yang bisa dibiayakan (deductible) dalam
laporan rugi laba fiskal, sehingga akan mengurangi keuntungan
perusahaan dan secara otomatis beban pajak juga akan menjadi lebih
rendah ditahun pertama, kedua dan ketiga. Artinya, dari sudut pandang
pengusaha, semakin cepat masa pengembalian modal (payback period)
pembelian alat berat tersebut, maka akan semakin menguntungkan
atau semakin efisien cara pembelanjaan perusahaan.
• Pembuktian secara matematis dapat dilakukan yang
menunjukkan nilai tunai ( present value ) dari dana yang bisa
diterima sekarang (misalnya Rp 500 juta) akan lebih
menguntungkan dari dana yang diterima 4 ( empat ) tahun
kemudian.
• Dibandingkan dengan pembelian secara langsung, yang bisa
di biayakan hanya sebesar biaya penyusutannya saja dengan
masa penyusutan bisa 4-8 tahun, sehingga masa
pengembalian modalnya akan lebih lama. Cara pembelanjaan
semacam ini jelas tidak menguntungkan ( unfavourable ) atau
tidak efisien (ineficient) bagi perusahaan
Bagaimana penghematan cash flow bisa dilakukan?

• Dengan metode leasing, perusahaan tidak perlu mengeluarkan dana yang


besar sekaligus seperti jika membeli secara tunai, dia hanya memerlukan
dana cicilan setiap bulannya yang bisa diambil dari profit yang diperolehnya.
Kelebihan dananya (sebagai pengganti dari pembelian tunai) dapat diputar
untuk peningkatan turn over omzet perusahaan atau diinvestasikan ke
pilihan portofolio investment yang menguntungkan perusahaan baik untuk
tujuan investasi jangka pendek (misalnya, pembelian saham reksa dana)
atau investasi jangka panjang (saham/obligasi).

• Penjagaan posisi cash flow yang baik (favourable) merupakan salah satu
tujuan melakukan perencanaan pajak dengan baik untuk menghemat
penggunaan cash flow yang berlebihan (overflow) yang bisa menyebabkan
perusahaan mengalami gangguan atau kesulitan keuangan yang berujung
pada stagnasi kegiatan operasional perusahaan.
Perlakuan Akuntansi Dan Fiskal Atas Leasing Dengan
Hak Opsi (Financial Lease)
Jenis leasing Akuntansi Fiskal
Dengan Hak Opsi
- Bagi Lessor -Penghasilannya adalah -Penghasilannya adalah
(tdk ada perbedaan
sebagian pembayaran sebagian pembayaran
akuntansi dan fiskal) dari lessee /jasanya dari lessee /jasanya
saja / bunganya saja saja / bunganya saja
- Tidak boleh -Tidak boleh
menyusutkan brg yang menyusutkan brg yang
dileasing dileasing
- Bagi Lessee -Menyusutkan barang -Tidak boleh
(terdapat perbedaan
leasing menyusutkan
antara akuntansi dan -Membebankan bunga - tidak boleh
fiskal) -Tdk boleh membebankan bunga
membebankan biaya -Membebankan biaya
angsuran seluruh angsuran
Perlakuan Akuntansi Dan Fiskal Atas Leasing
Tanpa Hak Opsi (Operating Lease)
Jenis leasing Akuntansi Fiskal
Tanpa hak Opsi (diperlakukan seperti sewa menyewa biasa) tidak ada
perbedaan akuntansi dan fiskal

- Bagi Lessor -Penghasilannya -Penghasilannya


adalah seluruh adalah seluruh
pembayaran dari pembayaran dari
lessee lessee
-menyusutkan brg yang -menyusutkan brg yang
dileasing dileasing
- Bagi Lessee -Tdk Menyusutkan -Tidak boleh
barang leasing menyusutkan
- tdk Membebankan - tidak boleh
bunga membebankan bunga
-membebankan seluruh -Membebankan biaya
biaya angsuran seluruh angsuran
-Momotong PPh 23 -Memotong PPh 23
SOAL LATIHAN
• .Tanggal 1 April 2010 Andi melakukan transaksi
finance lease sebuah Truk senilai Rp.
90.000.000, nilai residu aset diperkirakan
sebesar Rp. 20.000.000 jangka waktu sewa
selama 6 tahun dengan tingkat bunga sebesar
12 % per tahun. Umur ekonomis aktiva 8 tahun.
Metode penyusutan garis lurus.
Perlakuan Operating Lease
(Lessor)
 Sama dengan perlakuan menurut akuntansi
komersial :
 Seluruh pembayaran yang diterima/diperoleh oleh
lessor merupakan penghasilan (obyek PPh).
 Lessor berhak menyusutkan aktiva yang disewa guna
usahakan (penyusutan sesuai ketentuan fiskal)
 Lessor wajib mengenakan PPN atas jasa sewa
tersebut.
Perlakuan Operating Lease
(Lessee)
 Sama dengan perlakuan menurut
akuntansi komersial ;
 Jumlah sewa yang dibayar atau terutang
pada tahun yang bersangkutan merupakan
biaya yang dapat dikurangkan (deductible
expense).
 Lessee tidak berhak menyusutkan aktiva
yang disewanya.
 Lessee wajib memotong PPh Pasal 23 atas
sewa.
Perlakuan Finance Lease
(Lessor)
 Penghasilan lessor (obyek PPh) adalah imbalan jasa
SGU (pendapatan bunga), yaitu dihitung dari seluruh
pembayaran SGU dikurangi angsuran pokok.
 Lessor tidak diperbolehkan menyusutkan aktiva yang
disewa guna usahakan.
 Lessor dapat membentuk dana cadangan piutang tak
tertagih yang dapat dibiayakan maksimum = 2,5% x
saldo rata-rata piutang SGU.
 Angsuran PPh Pasal 25 dihitung berdasarkan Laporan
Keuangan Triwulanan yang disetahunkan.
 Pembayaran SGU tidak dikenakan PPN.
Perlakuan Finance Lease
(Lessee)
 Lessee tidak boleh menyusutkan aktiva tetap
yang leasingnya. Hal ini berbeda dengan
perlakuan akuntansi komersial. Dalam akuntansi
komersial aktiva tetap SGU disusutkan oleh
lessee.
 Angsuran SGU yang dibayar atau terutang
kepada lessor (angsuran pokok maupun bunga)
diakui sebagai biaya (deductible expense). Hal
ini juga berbeda dengan perlakuan akuntansi
komersial. Dalam akuntansi komersial angsuran
pokok SGU diperlakukan sebagai pembayaran
(pelunasan) hutang SGU, sedangkan bunganya
merupakan biaya (expense).
Perlakuan Finance Lease
(Lessee)
 Dalam Rekonsiliasi Fiskal lessee harus
melakukan Koreksi Fiskal atas Laporan
Keuangannya sbb:
 Melakukan koreksi biaya penyusutan, yaitu tidak
membebankan biaya penyusutan atas aktiva tetap
SGU.
 Melakukan koreksi biaya angsuran SGU, yaitu
dengan memasukkan angsuran pokok SGU sebagai
biaya (pengurang penghasilan bruto).
 Biaya bunga tetap dapat diakui sebagai biaya (sama
antara akuntansi komersial dengan akuntansi Fiskal)
Contoh Kasus
 Tanggal 1 Januari 2007 CV LESSEE mendapat sebuah
truk dengan memperoleh pembiayaan financial lease
dari sebuah perusahaan leasing PT LESSOR. Dalam
kontrak dimuat ketentuan sebagai berikut :
 Nilai kontrak sebesar Rp 179.436.728
 Masa leasing selama 5 tahun, yaitu sejak 1 Januari 2007
 Pembayaran lease adalah Rp 50.000.000 pertahun, yg harus
dimulai 1 Januari 2007 (pada awal masa lease)
 Keterangan tambahan
 Masa manfaat ekonomis truk 8 tahun
 Tingkat bunga 20%
TABEL
Journal - Lesee
Koreksi Fiskal
AKUNTANSI KOREKSI FISKAL

01-01-07 Truk Leasing 179,436,728


Hutang Leasing 179,436,728

01-01-07 Hutang Leasing 50,000,000


Kas 50,000,000 - 50,000,000 50,000,000

01-01-08 Hutang Leasing 24,112,654


Biaya Bunga Leasing 25,887,346 25,887,346 - 24,112,654 50,000,000
Kas 50,000,000

31-12-08 Biaya penyusutan Truk 22,429,591 22,429,591 + 22,429,591 -


Akumulasi Penyustan Truk 22,429,591

01-01-09 Hutang Leasing 28,935,185


Biaya Bunga Leasing 21,064,815 21,064,815 - 28,935,185 50,000,000
Kas 50,000,000

31-12-09 Biaya penyusutan Truk 22,429,591 22,429,591 + 22,429,591 -


Akumulasi Penyustan Truk 22,429,591

01-01-10 Hutang Leasing 34,722,222


Biaya Bunga Leasing 15,277,778 15,277,778 - 34,722,222 50,000,000
Kas 50,000,000
AKUNTANSI KOREKSI FISKAL

31-12-10 Biaya penyusutan Truk 22,429,591 22,429,591 + 22,429,591 -


Akumulasi Penyustan Truk 22,429,591

01-01-11 Hutang Leasing 41,666,667


Biaya Bunga Leasing 8,333,333 8,333,333 - 41,666,667 50,000,000
Kas 50,000,000

31-12-11 Biaya penyusutan Truk 22,429,591 22,429,591 + 22,429,591 -


Akumulasi Penyustan Truk 22,429,591

31-12-12 Biaya penyusutan Truk 22,429,591 22,429,591 + 22,429,591 -


Akumulasi Penyustan Truk 22,429,591

31-12-13 Biaya penyusutan Truk 22,429,591 22,429,591 + 22,429,591 -


Akumulasi Penyustan Truk 22,429,591

31-12-14 Biaya penyusutan Truk 22,429,591 22,429,591 + 22,429,591 -


Akumulasi Penyustan Truk 22,429,591

31-12-15 Biaya penyusutan Truk 22,429,591 22,429,591 + 22,429,591 -


Akumulasi Penyustan Truk 22,429,591
Terima Kasih
Dr. Suhirman Madjid, SE.,MS.i.,Ak.,CA

Anda mungkin juga menyukai