0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan26 halaman

Fimosis: Definisi, Etiologi, dan Penanganan

Fimosis adalah kelainan dimana kulit preputium tidak dapat ditarik ke belakang sampai ke korona glandis, menyebabkan kesulitan dan rasa sakit saat buang air kecil. Terapi konservatif dilakukan dengan salep kortikoid, sedangkan sirkumsisi diperlukan untuk kasus fimosis patologis atau dengan komplikasi infeksi. Teknik sirkumsisi meliputi pembersihan, anestesi, dilatasi jika ada fimosis, insisi preput

Diunggah oleh

Motivation Voice
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan26 halaman

Fimosis: Definisi, Etiologi, dan Penanganan

Fimosis adalah kelainan dimana kulit preputium tidak dapat ditarik ke belakang sampai ke korona glandis, menyebabkan kesulitan dan rasa sakit saat buang air kecil. Terapi konservatif dilakukan dengan salep kortikoid, sedangkan sirkumsisi diperlukan untuk kasus fimosis patologis atau dengan komplikasi infeksi. Teknik sirkumsisi meliputi pembersihan, anestesi, dilatasi jika ada fimosis, insisi preput

Diunggah oleh

Motivation Voice
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

• PENDAHULUAN
FIMOSIS ADALAH SUATU KELAINAN DIMANA PREPUTIUM
PENIS YANG TIDAK DAPAT DI RETRAKSI (DITARIK) KE
PROKSIMAL SAMPAI KE KORONA GLANDIS

Menurut Ikatan Ahli


Urologi Indonesia
(IAUI), insidens fimosis
adalah sebesar 8% pada
usia 6 sampai 7 tahun dan
1% pada laki-laki usia 16
sampai 18 tahun.
BEBERAPA PENELITIAN MENGATAKAN KEJADIAN
FIMOSIS SAAT LAHIR HANYA 4% BAYI YANG
PREPUTIUMNYA SUDAH BISA DITARIK MUNDUR
SEPENUHNYA SEHINGGA KEPALA PENIS TERLIHAT
UTUH. SELANJUTNYA SECARA PERLAHAN TERJADI 1%
DESQUAMASI SEHINGGA PERLEKATAN ITU
BERKURANG.
5%
10%
30%

50%

1 th 2 th 4-5 th 10 th 16-17 th

belum bisa dilakukan retraksi kulit prepusium ke belakang sulkus glandularis


BAB II
• TINJAUAN PUSTAKA
ANATOMI DAN FISIOLOGI
Normalnya, kulit preputium selalu

PENIS
melekat erat pada glans penis dan tidak
dapat ditarik ke belakang pada saat lahir,
namun seiring bertambahnya usia serta
diproduksinya hormon dan faktor
pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi
lapisan epitel dan deskuamasi antara glans
penis dan lapis bagian dalam preputium
sehingga akhirnya kulit preputium
terpisah dari glans penis.

NEUROVASKULARISA
SI otonom parasimpatis syaraf simpatis ke luar dari
syaraf
ke luar dari medulla spinalis kolumna vertebralis
(sumsum tulang belakang) melalui segmen Th 11
pada kolumna vertebralis di
S2-4
sampai L2

Vaskularisasi untuk penis berasal dari arteri pudenda


interna lalu menjadi arteria penis communis yang
bercabang 3 yakni 2 cabang ke masing-masing yakni
ke korpus kavernosa kiri dan kanan yang kemudian
menjadi arteria kavernosa atau arteria penis profundus
yang ketiga ialah arteria bulbourethralis untuk korpus
spongiosum
DEFINISI FIMOSIS
Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak dapat di retraksi
(ditarik) ke proksimal sampai ke korona glandis. Pada fimosis, preputium melekat
pada bagian glans dan mengakibatkan tersumbatnya lubang saluran kencing,
sehingga bayi dan anak menjadi kesulitan dan rasa kesakitan pada saat buang air
kecil.
ETIOLOGI FIMOSIS
Pada kebanyakan kasus, fimosis adalah bawaan lahir. Pada kasus yang lebih jarang,
fimosis terjadi karena preputium kehilangan kemampuan peregangan, misalnya
karena peradangan atau luka akibat pembukaan paksa kepala penis. Pembentukan
jaringan parut dari bekas luka itu mencegah peregangan preputium. Adapun etiologi
fimosis antara lain, tumpukan smegma, kelainan anatomis, Balanitis Xerotica
Obliterans, inflamasi (Balanitis, Posthitis, Balanoposthitis).
KLASIFIKASI FIMOSIS
[Link] kongenital (fimosis
fisiologis, fimosis palsu, pseudo
phimosis) timbul sejak lahir.
-Fimosis ini bukan disebabkan oleh
kelainan anatomi melainkan karena
adanya faktor perlengketan antara
kulit pada penis bagian depan
dengan glans penis sehingga muara
pada ujung kulit kemaluan seakan-
akan terlihat sempit
KLASIFIKASI FIMOSIS
B. Fimosis didapat (fimosis
patologik, fimosis yang
sebenarnya, true phimosis) timbul
kemudian setelah lahir.
-fimosis patologis adalah kulit distal
penis (preputium) yang kaku dan
tidak bisa ditarik, yang disebabkan
oleh Balanitis Xerotica Obliterans
(BXO).5
A= Full Phimosis (gland tidak bisa ditarik ke belakang)
B= Relative Phimosis (hanya OUE yang nampak)
C= Relative Phimosis (gland nampak setengah)
D= Relative Phimosis (gland nampak seperempat)
PATOFISIOLOGI
Fimosis yang fisiologis merupakan hasil dari adhesi lapisan-lapisan epitel antara
preputium bagian dalam dengan glans penis. Adhesi ini secara spontan akan hilang
pada saat ereksi dan retraksi preputium secara intermiten, jadi seiring dengan
bertambahnya usia (masa puber) phimosis fisiologis akan hilang.
Retraksi preputium secara paksaluka  SCAR
Pada orang dewasa yang belum berkhitan memiliki resiko fimosis secara sekunder
karena kehilangan elastisitas kulit
PATOFISIOLOGI
Pada kasus fimosis lubang yang terdapat
di prepusium sempit sehingga tidak bisa ditarik
mundur dan glans penis sama sekali tidak bisa
dilihat. Kadang hanya tersisa lubang yang
sangat kecil di ujung prepusium. Pada kondisi ini,
akan terjadi fenomena
“balloning” dimana preputium mengembang saat
berkemih karena desakan pancaran urine yang tidak
diimbangi besarnya lubang di ujung prepusium.
Bila fimosis menghambat kelancaran
berkemih, seperti pada balloning maka sisa-sisa urin
mudah terjebak di dalam preputium. Hal ini bisa
menyebabkan terjadinya infeksi
PATOFISIOLOGI
 Fimosis juga terjadi jika tingkat higienitas rendah pada waktu BAK terjadinya penumpukan
kotoran-kotoran pada glans penis infeksi pada daerah glans penis dan prepusium
meninggalkan scar prepusium tidak dapat ditarik kebelakang
Pada lapisan dalam prepusium terdapat kelenjar sebacea yang memproduksi smegma. Cairan ini
berguna untuk melumasi permukaan prepusium. Letak kelenjar ini di dekat pertemuan prepusium
dan glans penis yang membentuk semacam “lembah” di bawah korona glans penis (bagian kepala
penis yang berdiameter paling lebar). Di tempat ini terkumpul keringat, debris/kotoran, sel mati
dan bakteri. Bila tidak terjadi fimosis, kotoran ini  mudah dibersihkan. Namun pada
kondisi fimosis, pembersihan tersebut sulit dilakukan karena prepusium tidak bisa ditarik penuh ke
belakang. Bila yang terjadi adalah perlekatan prepusium dengan glans penis, debris dan sel
mati yang terkumpul tersebut tidak bisa dibersihkan
Ada pula kondisi lain akibat infeksi yaitu balanopostitis. Pada infeksi ini terjadi peradangan pada
permukaan preputium dan glans penis. Terjadi pembengkakan kemerahan dan produksi
pus di antara glans penis dan prepusium.
MANISFESTASI KLINIS
 Penis membesar dan menggelembung akibat tumpukan urin (“balloning” )
 Kadang-kadang keluhan dapat berupa ujung kemaluan menggembung saat mulai
buang air kecil yang kemudian menghilang setelah berkemih. Hal tersebut disebabkan
oleh karena urin yang keluar terlebih dahulu tertahan dalam ruangan yang dibatasi
oleh kulit pada ujung penis sebelum keluar melalui muaranya yang sempit.
 Biasanya bayi menangis dan mengejan saat buang air kecil karena timbul rasa sakit.
 Kulit penis tak bisa ditarik kearah pangkal ketika akan dibersihkan
 Air seni keluar tidak lancar. Kadang-kadang menetes dan kadang-kadang memancar
dengan arah yang tidakdapat diduga
 Bisa juga disertai demam
 Iritasi pada penis.
DIAGNOSIS
Untuk menegakkan diagnosis didapatkan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Anamnesis
 ujung kemaluan menggembung saat mulai buang air kecil yang kemudian
menghilang setelah berkemih
 Biasanya bayi menangis dan mengejan saat buang air kecil karena timbul rasa sakit.
Pemeriksaan fisik
kulit yang tidak dapat diretraksi melewati gland penis.
Pada fimosis fisiologis, bagian preputial orifice tidak ada luka dan terlihat sehat,
sedangkan pada fimosis patologis terdapat jaringan fibrus berwana putih yang melingkar.
PENATALAKSANAAN
Terapi konservatif :salep kortikoid (0,05-0,1%) 2x1selama 20-30 hari.
Tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang dipaksakan pada penderita
fimosis, karena akan menimbulkan luka dan terbentuk sikatriks pada ujung
prepusium sebagai fimosis sekunder.
Indikasi medis utama dilakukannya tindakan sirkumsisi pada anak-anak adalah
fimosis patologik. Pada kasus dengan komplikasi, seperti infeksi saluran kemih
berulang atau balloning kulit prepusium saat miksi, sirkumsisi harus segera
dilakukan tanpa memperhitungkan usia pasien.
PROSEDUR TEKNIK
DORSUMSISI
teknik sirkumsisi dengan cara memotong preputium pada bagian dorsal pada jam 12 sejajar sumbu panjang penis ke
arah proksimal, kemudian dilakukan pemotongan sirkuler kekiri dan kekanan sejajar sulcus coronarius.
1. Disinfeksi penis dan sekitarnya dengan cairan disinfeksi
2. Persempit lapangan tindakan dengan doek lubang steril
3. Lakukan anestesi infiltrasi subkutan dimulai dari pangkal penis melingkar. Bila perlu tambahkan juga pada daerah
preputium yang akan dipotong dan daerah ventral
4. Tunggu 3 – 5 menit dan yakinkan anestesi lokal sudah bekerja dengan mencubitkan pinset
5. Bila didapati phimosis, lakukan dilatasi dengan klem pada lubang preputium, lepaskan perlengketannya dengan
glans memakai sonde atau klem sampai seluruh glans bebas. Bila ada smegma, dibersihkan.
6. Jepit kulit preputium sebelah kanan dan kiri garis median bagian dorsal dengan 2 klem lurus. Klem ketiga dipasang
pada garis tengah ventral. (Prepusium dijepit klem pada jam 11, 1 dan jam 6 ditarik ke distal)
7. Gunting preputium dorsal tepat digaris tengah (diantara dua klem) kira-kira ½ sampai 1 sentimeter dari sulkus
koronarius (dorsumsisi),buat tali kendali. kulit Preputium dijepit dengan klem bengkok dan frenulum dijepit dengan
kocher
8. Pindahkan klem (dari jam 1 dan 11 ) ke ujung distal sayatan (jam 12 dan 12’).
Insisi meingkar kekiri dan kekanan dengan arah serong menuju frenulum di distal
penis (pada frenulum insisi dibuat agak meruncing (huruf V), buat tali kendali )
9. Cari perdarahan dan klem, ikat dengan benang plain catgut yang disiapkan.
10. Setelah diyakini tidak ada perdarahan (biasanya perdarahan yang banyak ada di
frenulum) siap untuk [Link] dimulai dari dorsal (jam 12), dengan
patokan klem yang terpasang dan jahitan kedua pada bagian ventral (jam 6).
Tergantung banyaknya jahitan yang diperlukan, selanjutnya jahitan dibuat
melingkar pada jam 3,6, 9,12 dan seterusnya
11. Luka ditutup dengan kasa atau penutup luka lain, dan diplester. Lubang uretra
harus bebas dan sedapat mungkin tidak terkena urin.
KOMPLIKASI
Ketidaknyamanan/nyeri saat berkemih
Akumulasi sekret dan smegma di bawah preputium yang kemudian terkena infeksi
sekunder dan akhirnya terbentuk jaringan parut.
Pada kasus yang berat dapat menimbulkan retensi urin.
Pembengkakan/radang pada ujung kemaluan yang disebut ballonitis.
Infeksi saluran kemih
DIAGNOSIS BANDING
Parafimosis adalah suatu keadaan dimana
prepusium penis yang diretraksi sampai di
sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan
pada keadaan semula dan menimbulkan jeratan
pada penis dibelakang sulkus koronarius.
Warna gland penis akan semakin berwarna
pucat dan bengkak.
Seiring perjalanan waktu keadaan ini akan
mengakibatkan nekrosis sel di gland penis,
warnanya akan menjadi biru atau hitam dan
gland penis akan terasa keras saat di palpasi
PROGNOSIS
Prognosis dari fimosis akan semakin baik bila cepat didiagnosis dan ditangani.
BAB III
• PENUTUP
KESIMPULAN
Fimosis adalah suatu kelainan dimana preputium penis yang tidak dapat di retraksi (ditarik)
ke proksimal sampai ke korona glandis.
Pada fimosis terjadi penyempitan pada ujung prepusium. Kelainan ini menyebabkan bayi
atau anak sulit berkemih, sehingga prepusium menggelembung seperti balon. Hal ini dapat
menyebabkan gangguan aliran urine berupa sulit kencing, pancaran urine mengecil,
menggelembungnya ujung prepusium penis pada saat miksi, dan menimbulkan retensi urine.
Higiene lokal yang kurang bersih menyebabkan terjadinya infeksi pada prepusium
(postitis), infeksi pada glans penis (balanitis) atau infeksi pada glans dan prepusium penis
(balanopostitis).
Fimosis tidak dianjurkan melakukan dilatasi atau retraksi yang di paksakan karena dapat
menimbulkan luka dan terbentuknya sikatrik pada ujung prepusium. fimosis yang disertai
dengan infeksi postitis merupakan indikasi untuk dilakukan sirkumsis.
THANK YOU

Anda mungkin juga menyukai