0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan4 halaman

Vaksin OPV dan IPV untuk Imunisasi Polio

Vaksin polio memberikan perlindungan terhadap poliomielitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Terdapat dua jenis vaksin polio, yaitu vaksin oral polio (OPV) yang menggunakan virus hidup yang dilemahkan, dan vaksin injeksi polio (IPV) yang menggunakan virus mati. Kedua jenis vaksin ini diberikan secara berseri pada usia 0, 2, 3, dan 4 bulan untuk mencegah polio.

Diunggah oleh

Norman Sukmadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan4 halaman

Vaksin OPV dan IPV untuk Imunisasi Polio

Vaksin polio memberikan perlindungan terhadap poliomielitis yang dapat menyebabkan kelumpuhan. Terdapat dua jenis vaksin polio, yaitu vaksin oral polio (OPV) yang menggunakan virus hidup yang dilemahkan, dan vaksin injeksi polio (IPV) yang menggunakan virus mati. Kedua jenis vaksin ini diberikan secara berseri pada usia 0, 2, 3, dan 4 bulan untuk mencegah polio.

Diunggah oleh

Norman Sukmadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

POLIO

GRACE FONDA

201806010184
Tujuan : mencegah poliomielitis yang dapat menyebabkan
kelumpuhan

• Bentuk sediaan : 
• OPV  Vial (cair) yang diberikan dengan dropper 
• IPV  Syringe

• Pelarut : -

• Dosis:  IPV (0,5 ml) ; OPV (0,1 ml)

• Penyimpanan :
• OPV  -15°C s/d -25°C  boleh dalam
keadaan beku
• IPV : 2 - 8°C 

• Jadwal pemberian : bulan 0, 2, 3, 4


• MIN 1x vaksin IPV bersamaan dengan OPV-

*Note : imunisasi dapat diberikan bersamaan dengan vaksin DPT / Hib /
• Booster : 18 bulan (IPV) HB
Pedoman Imunisasi di Indonesia: Edisi Keenam Tahun 2017. 6th ed. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2017.
IPV VS OPV (vaksin sabin)
• Virus inaktif / mati • Virus hidup yang dilemahkan

• Cara buat : dibiakkan dalam sel non manusia  masih punya


• Cara buat : pemanasan dan formaldehid kemampuan enterovirulen TAPI tidak bersifat pathogen (sifat
neurovirulensi sudah hilang)
• Vaksin (Ag) = protein virus (protein kapsid)
• Cara pemberian: oral
• Cara pemberian : IM
• + : kekebalan lokal di usus (Antibodi cegah multiplikasi virus dan
• + : meningkatkan antibodi humoral dengan cepat menutup reseptor polio) dan kekebalan humoral, serta mencegah
penyebaran virus polio ke sistem saraf
• Kontraindikasi: • Kontraindikasi:
• Reaksi anafilaksis terhadap neomisin, streptomisin, atau • Infeksi HIV atau kontak HIV serumah
polimiksin-B • Imunodefisiensi

• KIPI : • KIPI :
• Polio paralitik (VAPP)
• Anafilaksis
• Infeksi virus polio vaccine-strain (VDPV)
• Komplikasi akut (kecacatan dan kematian)

Pedoman Imunisasi di Indonesia: Edisi Keenam Tahun 2017. 6 th ed. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2017.
Catch-up Immunization
Pada 6 bulan pertama kehidupan  berikan pada
individu berisiko terpapar virus polio liar (misal:
berkunjung ke daerah endemic polio)

Apabila 4 / lebih dosis diberikan sebelum 4 tahun 


dosis tambahan diberikan saat usia 4-6 tahun dan
sekurang-kurangnya 6 bulan setelah vaksinasi
sebelumnya

OPV maupun IPV diberikan sebagai satu serial  total


4 dosis  tanpa peduli usia anak saat ini

Pedoman Imunisasi di Indonesia: Edisi Keenam Tahun 2017. 6 th ed. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia; 2017.

Anda mungkin juga menyukai