Arti dan Implementasi Kode Bujas
Arti dan Implementasi Kode Bujas
- Code dibuat dalam bentuk code biner untuk setiap huruf yang
terdiri hanya dua elemen: “0” dan “1”
2
Channel Coding
A. Channel Coding
- Blok diagram dasar untuk channel coding seperti pada
gambar berikut:
3
Channel Coding
A. Channel Coding
- Channel encoder tersebut memberikan sistematik redundancy
kedalam aliran data dengan menambahkan bit-bit ke bit-bit
pesan yang berfungsi untuk deteksi dan koreksi dari bit yang
error untuk pesan yang diterima
4
Channel Coding
B. Theorema Channel Coding
5
Block Codes
- Block code merupakan sebuah code yang mempunyai
words dengan panjang sama
- Dalam block codes pesan biner atau deretan data dibagi
dalam deretan block dengan panajang setiap block
sebesar k bits
- Setiap k bits block dikonversi dalam n-bit block, dimana
n>k
- Hasil dari block code dinamakan (n, k) block code
- k-bit block mempunyai 2k deretan pesan yang berbeda
direferensikan sebagai k-tuples
6
Block Codes
- n-bit block dapat berbentuk sebanyak 2n deretan tertentu
direferensikan sebagai n-tuples
7
Matrix Desription pada Linier Code
8
Matrix Parity Check
- Dual code merupakan linier (n, n-k) code dengan 2n-k code word
- Sehingga:
c . HT = 0
G . HT = 0
dimana, PT adalah
transpose submatrix P
11
Matrix Parity Check
12
Contoh
13
Contoh
Tabel disamping
menampilkan 16 code word
yang berhubungan dengan
24 = 16 word informasi
14
Contoh
15
Implementasi EncoderLinier Block Code
16
Implementasi EncoderLinier Block Code
18
Contoh
bila d = (d0, d1, d2, d3) merupakan bit-bit informasi untuk encoding,
berdasarkan persamaan (3.4), n – k parity check bit I, i=0, 1, 2
Diexpresikan dengan:
19
Contoh
20
Contoh
21
Syndrome
Contoh
24
Lanjutan Contoh
Secara umum bahwa untuk word r = (r0, r1, …, rn-1), diperoleh sindrome:
25
Lanjutan Contoh
Sehingga untuk r0=r1=r2=1 , r3=r4=0 , r5=1 dan r6=0 maka vektor
syndromenya adalah s0=0, s1=0 dan s2=1.
Implementasi rangkaian untuk problem contoh ini adalah sebagai
berikut:
26
Contoh
Sebuah linier code (6,3) dengan parity check matrix sbb:
27
Contoh
Dengan n-k =3 maka mempunyai kemungkinan 2k = 8, bila diasumsikan
e3 e4 e5 dipilih sebagai kolom pertama dari tabel berikut, dan e0 e1 e2
merupakan kolom kedua, maka akan diperoleh error pattern sbb:
29
Contoh
1. Suatu kode Hamming (7.4) memiliki generator matrix.
30
Penyelesaian
Kode Hamming merupakan hasil perkalian Matrix antara data dan
generator. Sehingga diperoleh :
C = [d] [G]
C=[1101000]
31
Contoh
2. Suatu kode Hamming (7,4) memiliki parity check
32
Penyelesaian
Sindrom dari kode yang diterima :
S = [r] [HT]
S= 0 0 0 33
Penyelesaian
34
Contoh
35
Penyelesaian
S = [ 1 1 0]
36
Penyelesaian
Generator
- kode yang dipergunakan adalah kode BCH ( 15.7 )
- kode BCH dapat diperoleh dari hasil perkalian antara bit stream
dengan generator matriks kode Hamming
- diperlukan suatu generator matriks
- dipilih kode BCH yang sistematik
- bentuk umum generator matriks dari kode BCH yang sistematik
dengan bit-bit parity didepan
G = [ Pk x (n-k) Ik ]
38
KODE BCH
39
KODE BCH
40
KODE BCH
Algoritma Pembentukan Kode BCH
- Algoritma pembentukan kode BCH dimulai dengan mengambil
sebanyak k bit data dimana k adalah banyaknya bit dalam satu
blok data pada kode BCH.
Diagram Alir
Pembentukan kode BCH
42
KODE BCH
Algoritma Pengkodean
Proses pengdekodean mempunyai tujuan untuk memperbaiki tujuan
untuk memperbaiki kesalahan dan menghilangkan bit-bit pariti.
43
KODE BCH
Langkah-langkah algoritma pengdekodean kode BCH (15,7) dengan
kemampuan koreksi kesalahan 2 adalah sebagai berikut.
44
KODE BCH
45
KODE BCH
46
KODE BCH
- Bila S1 dan S3 tidak sama dengan nol, susun error locator
polinomial.
σ (x ) = 1+ σ1x + σ2x2
dimana:
S3
1 S1 ; 2 S 1
2
S1
- Kemudian dicari posisi error, dengan cara menginvers harga akar-
akar persamaan
49
Contoh
50
Penyelesaian
Kode BCH merupakan hasil perkalian matrix antara data dan
generator, sehingga diperoleh :
51
Contoh
52
Penyelesaian
53
Penyelesaian
Untuk memperoleh S1 ubah notasi eksponensial ke notasi binari dan
jumlahkan dengan modulo 2
Kemudian dicari S3
54
Penyelesaian
α yang lebih besar daripada pangkat 15 harus dikurangi dengan 15.
Sehingga diperoleh :
Bila sindrom = 0, maka bit pariti dikeluarkan, dalam hal ini 8 bit dari
depan, sehingga data yang diperoleh adalah :
d=1000000 55
Contoh
3. Bila kode yang diterima r = 1 0 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0.
Tentukanlah kode dan data yang dikirimkan.
Bila terjadi S3 = (S1)3, maka untuk mencari posisi error langsung pada
sindrom 1 (S1) yaitu α4. 56
Penyelesaian
C=100010111000000
d=1000000
57
Contoh
58
Penyelesaian
59
Penyelesaian
60
Penyelesaian
Cari dari i = 1 sampai dengan 15, bila tidak ada akar yang lain,
berhenti.
Dilakukan pencarian posisi error. Posisi error diperoleh dengan
mengurangi pangkat akar-akar dengan 15, sehingga :
Posisi error I = 15 – 1 = 14
Posisi error II = 15 – 3 = 12
Jadi error terjadi pada bit ke 12 dan ke 14.
Untuk memperbaiki bit yang terkena error, pada posisi bit yang
terkena error dilakukan invert, bila bit 1 menjadi 0 dan sebaliknya.
Sehingga diperoleh kode yang dikirimkan :
r = 1 0 0 0 1 0 1 1 1 0 0 1 0 1 0 menjadi
C=100010111000000
62
KODE REED SALOMON
Diagram Alir
Pembentukan Kode Reed
Salomon
63
KODE REED SALOMON
64
KODE REED SALOMON
65
KODE REED SALOMON
67
KODE REED SALOMON
68
KODE REED SALOMON
69
KODE REED SALOMON
- Sehingga sindromnya ada sebanyak 4, yang dihitung dengan
persamaan berikut:
Dimana :
- Ada dua kasus yaitu, untuk determinan sama dengan nol dan
determinan tidak sama dengan nol
71
KODE REED SALOMON
- kemudian disusun error polinomial e(x).
72
KODE REED SALOMON
Determinan tidak sama dengan nol
- susun error locator polinomial dengan menggunakan persamaan
73
KODE REED SALOMON
- Setelah diperoleh harga kesalahan ei1 dan ei2 maka disusun error
polinomial e (x)
C (x) = r (x) + e (x )
74
Contoh
1. Suatu kode Reed Salomon (15, 11), memiliki generator polinominal :
g (x) = α10 + α3 x + α6 x2 + α13x3 + x4
Bila data yang diberikan oleh sumber adalah :
d = 0100 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000
Tentukanlah kode, setelah melalui enkoder
Penyelesaian :
75
Penyelesaian
76
Penyelesaian
77
Penyelesaian
78
Penyelesaian
Sehingga diperoleh isi register pada saat t = 1 atau pada saat data 1,
telah di encode.
R0(11) = α11 ; R1(11) = α4 ; R2(11) = α7 ; R3(11) = α14
Ini merupakan parity yang diletakkan di depan sehingga kode yang
dikirimkan :
R0(11) R1(11) R2(11) R3(11) d1 d2 d3 d4 d5 d6 d7 d8 d9 d10 d11
Dalam simbol : α11 α4 α7 α14 α 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Dalam bentuk binari : 0111 1100 1101 1001 0100 0000 0000 0000
0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000
79
Contoh
2. Suatu dekoder Reed Salomon (15,11) menerima kode r = 0111 1100
1101 1001 0100 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000
0000 0000 Dengan generator polinominal seperti contoh no. 1.
Tentukanlah data yang dikirim oleh sumber.
Penyelesaian :
80
Penyelesaian :
81
Penyelesaian :
82
Contoh
3. Suatu dekoder Reed Salomon (15,11) menerima kode
r = 0011 1100 1101 1001 0100 0000 0000 0000 0000 0000 0000
0000 0000 0000 0000
Tentukan data yang dikirim oleh sumber
Penyelesaian :
83
Penyelesaian :
II. Susun Matrix Sindrom
84
Penyelesaian :
Maka diperoleh error locator polinominal =
Karena hanya ada 1 error locator polinominal Λ1 =
Maka error locator (lokasi error) hanya 1, yaitu pada tersebut.
Jadi merupakan error locator x1.
Kemudian langkah berikutnya mencari besaran error (error
magnitude)
85
Penyelesaian :
langkah berikutnya mencari error polinominal.
e(x) = . x1
r = 0011 1100 1101 1001 0100 0000 0000 0000 0000 0000 0000
0000 0000 0000 0000
C = e+r = 0111 1100 1101 1001 0100 0000 0000 0000 0000 0000
0000 0000 0000 0000 0000
0100 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000
86
Contoh
4. Suatu dekoder Reed Salomon (15,11) menerima kode r = 0011 1100
1101 1001 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000 0000
0000 0000.
Tentukan data yang dikirim oleh sumber.
Penyelesaian :
87
Penyelesaian :
88
Penyelesaian :
III. Hitung Determinan
89
Penyelesaian :
4.3. Cari invers matrix, dengan cara mengalikan dengan adjoint
matrix dengan reciprocal determinan A (harga mutlaknya).
90
Penyelesaian :
V. Mencari akar-akar error locator polinomial
91
Penyelesaian :
VII. Mencari besaran error (error magnitudes)
92
Penyelesaian :
7.4. Hitung Adjoint A yakni dengan cara membuat baris jadi kolom
dari kofaktor matrix yang diperoleh
93
Penyelesaian :
7.6. Hitung e1 dan e2
94
Penyelesaian :
VIII. Cari error pattern (pola error) e (x)
95
KODE KONVOLUSI
Algoritma pengkodean kode Konvolusi
- Bit stream dari sumber data yang masuk ke encoder dikodekan
dengan menggunakan suatu generator
Generator
- Kode yang dipergunakan adalah kode Konvolusi ( 2,1,2 )
96
KODE KONVOLUSI
Bentuk umum generator sequens dari kode Konvolusi adalah:
97
KODE KONVOLUSI
Agoritma Pembentukan Kode Konvolusi
- Algoritma pembentukan kode
Konvolusi dapat menggunakan operasi
diagram state
98
KODE KONVOLUSI
- Dengan mengacu pada diagram alir
pengkodean kode konvolusi (2,1,2)
gambar disamping
99
KODE KONVOLUSI
- Tabel dibawah memperlihatkan tabel dari state kode Konvolusi
(2,1,2) yang non sistematik
100
KODE KONVOLUSI
Agoritma Pengdekodean
- Proses pengdekodean mempunyai tujuan untuk memperbaiki
kesalahan dan menghilangkan bit-bit pariti
101
KODE KONVOLUSI
- Diagram alir pengdekodean kode
Konvolusi (2,1,2) diperlihatkan oleh
diagram alir gambar disamping
104
Penyelesaian :
105
Contoh
2. Buatlah tabel State kode konvolusi seperti soal no. 1 diatas.
Penyelesaian :
106
Penyelesaian :
107
Penyelesaian :
108
Penyelesaian :
109
Contoh
3. Dari tabel state seperti no. 2 diatas gambarlah diagram state :
Penyelesaian :
Buat gambar state seperti berikut ini :
110
Penyelesaian :
Untuk input 1 output 1 0, dan state transisinya 1 0 sehingga dari
S0 ditarik garis ke S2.
Perhatikan S3 = 1 1
Untuk input 0 output 1 0 dan state transisi 0 1.
Untuk input 1 output 0 0 dan state transisi 1 1
111
Penyelesaian :
Perhatikan S1 = 0 1
Untuk input 0 output 01 dan state transisi 00.
Untuk input 1 output 1 1 dan state transisi 1 0
Sehingga diperoleh state diagramnya :
112
Contoh
4. Suatu kode konvolusi (2,12) yang mempunyai state diagram seperti
soal no. 3. Bila data dari sumber data adalah 1 0 1 1 0 0 0 0
Tentukanlah kode yang diterima.
Penyelesaian :
Sesuai dengan state diagram pada soal no. 3 state dimulai dari S0 = 0 0
Untuk S0 = 0 0 ;
Input 1; maka output 1 0; state transisi 1 0 (S2).
Untuk S2 = 1 0
Input 0; maka output 1 1; state transisi 0 1 (S1).
Untuk S1 = 0 1
Input 1; maka output 1 1, state transisi 1 0 (S2)
Untuk S2 = 1 0
Input 1; maka output 0 1; state transisi 1 1 (S3).
Untuk S3 = 1 1
Input 0; maka output 1 0; state transisi 0 1 (S1)
113
Penyelesaian :
Untuk S1 = 0 1
Input 0; maka output 0 1; state transisi 0 1 (S0)
Untuk S0 = 0 0
Input 0; maka output 0 0 ; state transisi 0 0 (S0)
Untuk S0 = 0 0
Input 0; maka output 0 0 ;
Sehingga diperoleh kode adalah :
C = (1 0 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0)
114
Contoh
5. Suatu kode konvolusi (2,1,2) yang sistematik mempunyai generator
sekuens, g1(1) = ( 1 0 0 ) dan g2(2) = ( 1 1 1 ). Tentukanlah kode yang
dibentuk bila data dari sumber data adalah d = 1 0 1 0 1 dengan
pendekatan matrix skalar.
Penyelesaian :
Diketahui g1(1) = 1 0 0 dan g1(2) = 1 1 1. Baris pertama dari generator
adalah : G = (G0 G1 G2) = ( 1 1 0 1 0 1). Maka, bila data yang keluar dari
sumber d = 1 0 1 0 1, maka kode yang terbentuk adalah :
115
Contoh
6. Enkoder kode konvolusi (2,1,2), memiliki tabel state dan state
diagram sebagai berikut :
State diagram :
116
Penyelesaian :
Trellis diagramnya :
117
Penyelesaian :
118
Penyelesaian :
- Misal sebuah linier code C (n,k) dalam GF(2) berupa vektor space
- c1, c2, …, c2k dengan 2k code word C. Faktor space {ei + C}, dimana
ei adalah coset leader yang sangat berarti dalam decoding
- n-tuple dari coset ditampilkan dalam bentuk baris dari sebuah array
120
Standard Array
121
Standard Array
- Pertama, menempatkan 2k code word C pada baris top dengan all-zero
word c = (0 0 … 0) untuk elemen yang paling kiri
122
Contoh
Sebuah (6, 3) linier code dihasilkan menggunakan matrik generator:
123
Standard Array
- Secara umum sebuah (n, k) kode linier dengan minimum distance dmin
mempunyai kemampuan pembetulan kesalahan menggunakan error
pattern adalah t=[(dmin – 1)]/2] atau kesalahan terkecil
- Bagaimana bila lebih besar dari t error yang terjadi, kemudian error
kemungkinan terjadi pada proses decoding
124
Contoh
Sebuah (6, 3) kode linier dengan parity check matrik sbb:
Bila menggunakan 2n-k=8 coset yang sudah ada, maka akan mempunyai
8 coset leader atau error pattern yang benar. Coset leader yang
berhubungan dengan syndrome dibentuk dari persamaan s = eHT
Sehingga menghasilkan tabel berikut:
125
Contoh
Misal sinyal yang diterima r = (1 0 1 1 0 1), bila sinyal yang ditransmisi
kan c = (1 0 1 1 0 0) -- terdapat satu error dikarenakan noise pada
channel. Untuk single error correction, syndrome r dapat dihitung
dengan cara berikut:
126
Contoh
Dengan menggunakan tabel berikut, (1 1 0) adalah syndrome yang
terdapat pada coset leader e = (0 0 0 0 0 1), yang mana diasumsikan
Error pattern disebabkan oleh noise pada channel.
hasil diatas tidak sesuai dengan kode yang dikirim dalam arti masih
terjadi kesalahan, sehingga error pattern tersebut tidak dapat
Membetulkan kesalahan
128
Contoh
Dicoba lagi untuk kasus lain dimana c = (1 0 1 1 0 0) yang dikirim dan
r = (1 0 1 0 0 1) yang diterima, dengan cara yang sama akan diperoleh
syndrome s = (0 1 1).
Error pattern dari syndrome tersebut e =(0 0 0 0 1 0).
Sehingga diperoleh hasil:
c = r + e = (1 0 1 0 0 1) + (0 0 0 0 1 0) = (1 0 1 0 1 1)
dan ini bukan kode yang dikirim, artinya masih terjadi kesalahan.
Kesimpulan:
Dari beberapa contoh diatas dapat diketahui bahwa kode linier (6, 3)
tidak mempunyai kemampuan membetulkan kesalahan yang lebih dari
satu kesalahan
129
Contoh
Rangkaian decoder untuk linier code (6, 3) seperti pada gambar berikut:
130
Cyclic Codes
- Kode siklik termasuk subklas dari kode blok linier yang paling banyak
digunakan dalam error correcting codes
- Salah satu tipe kode siklik yang sangat terkenal adalah BCH codes
(kode ini dikembangkan oleh Bose, Chabdhuri, dan Hacquenghem),
- Kode BCH ini yang banyak digunakan pada compact disk players
- Tetapi kode siklik sangat menarik dan banyak digunakan pada sistem
pengkodean, karena mempunyai dua alasan
132
Dasar-Dasar Field
- Pada bab sebelumnya telah dibicarakan tentang kode blok linier field
yang ditulis dalam bentuk persamaan matrik sederhana, seperti berikut:
c iG
atau
cH T 0
Sindrom dinyatakan dengan persamaan berikut :
S eH T
dengan,
c = codeword
i = jumlah bit vektor informasi
G = matrik generator
HT = transpose parity
S = syndrome
e = error vektor 133
Finite Field
- Kode siklik dengan elemen – elemen field yang terbatas disebut dengan
finite field dan diberi simbol GF ( q ), dimana GF adalah Golais Field, q
adalah jumlah elemen atau orde field
- disebut juga sebagai non zero elemen jika mempunyai pangkat hanya
sampai q-1
134
Finite Field
- Non zero elemen pada finite field, mempunyai sifat perkalian invers yang
khas, yaitu misal elemen mempunyai 2 invers yaitu dan ’, maka dapat
dituliskan persamaan sebagai berikut :
' 1
( ' ) '
( ) '
jadi :
'
135
Finite Field
- Sebagai contoh : Finite field GF ( 5 ) dengan nilai = 5, untuk nilai = 2
dan = 3, maka dapat dilihat hubungan antara jumlah elemen non zero
dengan elemen fieldnya seperti pada tabel
136
Vektor Elemen Field
- Vektor atau dikenal dengan istilah m- tuples, jika m adalah bilangan
bulat positip maka m-tuple adalah sebuah urutan bilangan riil
(a1,a2,…..am )
a ( x)b( x) mod p ( x) 0
atau
a( x)b( x) c ( x ) p ( x)
138
Vektor Elemen Field
- Sebagai contoh: misalnya 4 buah elemen dari 2-tuples, maksudnya
adalah 4 elemen dalam GF (4), masing-masing polinomial di wakili dengan
biner 2-tuple, misal: 0 = 00 dan 1 + x = 11 dikalikan dengan p( x) x x 1
2
, maka hasil perkalian non zero elemennya dapat dilihat pada tabel
139
Vektor Elemen Field
- Dari contoh diatas operasi penambahan elemen-elemen fieldnya dapat
dilakukan dengan operasi Exclusive-OR, seperti pada tabel
=x = x+1
- = 0 = 00 - = 0 = 00
0 = 1 = 01 0 = 1 = 01
1 = x = 10 1 = x+1= 11
2 = x+1 = 11 2 = x = 10
140
Vektor Elemen Field
- Dari contoh-contoh diatas, elemen primitif dapat di tes dengan cara
menaikkan pangkat dari x sampai mencapai orde yang memerlukan
reduksi dengan modulo dalam perhitungannya
Contoh : x1 = x ; x2 = x+1; x3 = x2+1= (x+1)+1=1, disini tampak bahwa
untuk menghitung x2 dan x3 diperlukan modulo x2+x+1. Jika x mempunyai
orde e=3 berarti q-1=3, maka x disebut elemen primitif.
141
Extension field dan polinomial primitif
- Pada umumnya elemen pada finite field GF(pm) berlaku untuk setiap
jumlah pm dimana p adalah prime dan m adalah bilangan bulat positip dan
biasa disebut sebagai orde dari fieldnya itu sendiri
- Sub field dari GF(pm) adalah GF(p), jadi setiap elemen dari GF(p)
merupakan anggota himpunan dari elemen GF(pm)
143
Sequences Dalam Kode Siklik
- ditunjukkan hubungan antara elemen field yang dihasilkan dari polinomial
yang tidak dapat diperkecil lagi dengan sequence yang dihasilkan dengan
feedback shift register untuk polinomial yang sama
145
Struktur Kode Siklik (n,k)
- Ditinjau dari strukturnya, kode siklik dibagi dalam dau macam kode yaitu
kode sistematik dan non sistematik dimana keduanya mempunyai struktur
pembentukan kode yang berbeda
146
Kode siklik non sistematik
- Pembentukan kode siklik non sistematik lebih mudah daripada
pembentukan kode siklik sistematik
c(x) = d(x).g(x)
= (1+x2) (1+x+x3)
= 1+x+x2+x3 , dimana kode ini akan membentuk
codeword c = (1110010)
147
Kode siklik non sistematik
- Kode siklik (7,4) yang dihasilkan dari g(x) = 1+x+x3 secara lengkap
ditunjukkan oleh tabel berikut, dimana kode memiliki jarak minimum 3
dan merupakan single error correcting code
149
Kode Siklik Sistematik
- Dengan generator polinomial g(x) dari sebuah kode siklik, codeword
dapat dibentuk secara matematis dengan rumusan:
c ( 0 , 1 ,....., n k 1 , d 0 , d1 ,....., d k 1 )
d ( x) d 0 d1 x ...... d k 1 x k 1
( x) 0 1 x ...... n k 1 x n k 1
Codeword c = (1011100)
151
Contoh
16 codeword
sistematik yang mungkin terbentuk seperti terlihat pada tabel
153
Kode Siklik Sistematik
154
Kode Siklik Sistematik
155
Generator Matriks dan Parity Check Matriks
x n k i qi ( x) g ( x) i ( x) i 0,1,...., k 1
dimana,
i ( x) i ,0 i ,1 x i , 2 x 2 ..... i ,n k 1 x n k 1
adalah sisa pembagian polinomial dengan derajat n-k-1 atau
kurang
156
Generator Matriks dan Parity Check Matriks
- Sedangkan perkalian dengan g(x) dapat ditulis dengan persamaan
berikut :
ci ( x ) q i ( x ) g ( x ) i ( x ) x n k i i 0,1,..., k 1
G Rkx ( n k ) I k
157
Generator Matriks dan Parity Check Matriks
- Dari generator matriks ini dapat dibentuk parity check matriks H
sbb:
H I n k R(Tn k ) xk
100 0 0, 0 1, 0 k 1,0
100 0 0,1 1,1 k 1,1
H 100 0 0, 2 1, 2 k 1, 2
0001 0,n k 1 1,n k 1 k 1,k 1
158
Contoh
- Kode siklik (7,4) dengan generator g(x) = 1+x+x3, maka hasil
pembagian x3+i dapat dilihat pada tabel
159
Contoh
- Dengan menggunakan keempat codeword tersebut sebagai baris
dari matriks berukuran 4x7 didapatkan generator matriks G dalam
bentuk sistematik sebagai berikut
1101000
0110100
G R4 x 3 I 4 x 4
1110010
1010001
Diperoleh juga parity check matriks H dalam bentuk sistematik
H I 3 x 3 R3Tx 4
1001011
H 0101110
0010111
160
Contoh
- Dengan cara yang lebih sederhana, dapat dibentuk generator
matriks G untuk kode siklik dalam bentuk non sistematik, yaitu
dengan struktur sbb:
g 0 ( x) g ( x)
g ( x) xg ( x)
G
1
k 1
g k 1 ( x) x g ( x)
161
Metode Deteksi dan Koreksi pada Kode Siklik
Metode Deteksi Error
- Secara umum dikenal 2 metode pendeteksian error yang sederhana,
yaitu : Vertical Redundancy Check (VCR) dan Longitudinal
Redundancy
Check(LCR), kedua sistem ini menggunakan bit parity untuk men-
deteksi kesalahan.
Metode Koreksi Error
- Sistem koreksi error dikenal dengan istilah error control
163
Metode Deteksi dan Koreksi pada Kode Siklik
Perhitungan Sindrom Kode Siklik
- Perhitungan sindrom dapat dilakukan dengan menggunakan persamaan-
persamaan berikut :
r ( x) q ( x).g ( x) s ( x)
dimana:
r(x) adalah word r yang diterima.
g(x) adalah generator matriks
s(x) adalah sisa pembagian (merupaka sindrom s yang
dicari)
atau dapat dinyatakan dengan:
s(x) = r(x) mod g(x)
= s0+s1x+…+sn-k-1xn-k-1
Bila nilai s(x)=0, maka r(x)=c(x) dan bila nilai s(x) tidak sama dengan
0 maka r(x) bukan merupakan codeword c(x) yang diharapkan karena
masih terdapat error e(x).
164
r(x) = c(x) + e(x)
Contoh
Sebuah kode siklik (7,4) mempunyai generator polinomial g(x) = 1+x+x3,
dengan matrik generator sbb:
1101000
0110100
G
1110010
1010001
Sedangkan parity check matriknya adalah :
1001011
H 0101110
0010111
165
Contoh
Apabila word yang diterima adalah r = (1011011), maka dapat dihitung:
s r T .H
1
0
1001011 1
0101110 .1 (001)
0010111 0
1
1
167