Electroconvulsive
Therapy
Mekanisme Kerja ECT (Hukum
Ohm)
Mekanisme kerja ECT
Indikasi ECT
• Indikasi mayor :
- depresi mayor (unipolar dan bipolar)
- depresi dengan gejala psikotik
- mania (termasuk episode campuran)
- skizofrenia dengan eksaserbasi gejala akut
- katatonia
- gangguan skizoafektif
• Indikasi lainnya :
- Parkinson’s disease
- sindrom neuroleptic maligna
Prudic J, Duan Y. Electroconvulsive therapy. Kaplan & Sadock’s comprehensive textbook of psychiatry. 10 th ed. In : Sadock BJ, Sadock
VA, Ruiz P, editors. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2017. p. 8385-433.
Beyer JL, Mankad MV, Weiner RD, Krystal AD. Clinical manual of electroconvulsive therapy. United State : American Psychiatric
Publishing, Inc;2010. p: 27-37.
Beyer JL, Mankad MV, Weiner RD, Krystal AD. Clinical manual of electroconvulsive therapy. United State : American Psychiatric
Publishing, Inc;2010. p: 27-37.
Berbagai Cara Tindakan ECT
• Prinsip : dilakukan dengan memberi aliran listrik pada otak, melalui 2
elektroda pada bagian temporal kepala → menimbulkan kejang
seperti pada epilepsi grandmal
• Arus listrik searah dengan voltase 70-150 dan maksimum 600mA
• Penempatan elekroda :
• Unilateral : satu elektroda di atas frontotemporal dan elektroda lainnya
sedikit ke lateral dari midline vertex
• Bilateral : kedua elektroda ditempatkan pada pelipis (area frontotemporal),
dengan jarak tiap elektroda sekitar 1 inci diatas garis tengah imajiner antara
tragus dan kantus eksternal
Bilateral VS Unilateral
• ECT yang pertama kali diperkenalkan adalah bilateral → berhubungan
dengan peningkatan efek samping kognitif
• Penempatan elektroda unilateral diketahui menurunkan efek samping
kognitif → arus stimulus yang diberikan dan kejang yang timbul
mengenai struktur yang non dominan di lobus temporal
• Kontroversi pemilihan unilateral/bilateral muncul akibat beberapa
penemuan tentang efikasi, kecepatan aksi, dan jumlah efek samping
kognitif yang berbeda-beda
Bilateral VS Unilateral
Beberapa hasil studi menunjukkan :
- Kedua tehnik efektif pada pengobatan depresi. Namun pada pasien
dengan mania, tidak menunjukkan respon yang baik terhadap tehnik
unilateral.
- Pada beberapa studi, pasien dilaporkan memiliki respon yang lebih cepat
pada tehnik bilateral, dan membutuhkan jumlah terapi yang lebih
sedikit.
- Pasien depresi yang tidak berespon terhadap tehnik unilateral
menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan saat dilakukan pergantian
menjadi tehnik bilateral.
- ECT bilateral menimbulkan efek samping kognitif akut yang lebih besar
dibandingkan unilateral., perbedaan terutama muncul pada fungsi
verbal. Keluhan tentang gangguan memori lebih sering didapati pada
pasien yang mendapat ECT bilateral.
Persiapan Untuk Melakukan ECT
Evaluasi pre ECT :
Gambaran jelas mengenai indikasi ECT ([Link] dan hasil
pemeriksaan)
Gambaran jelas mengenai resiko (evaluasi [Link] dan hasil lab)
Konsultasi TS bagian lain sesuai indikasi
Menganalisis risk-benefit ECT
Beri edukasi yang baik dan benar terhadap pasien dan keluarga pada
saat informed consent
Merekomendasikan tipe ECT (bilateral atau unilateral), atau adanya
modifikasi lain
Merekomendasikan modifikasi terapi sesuai indikasi pasien
Dokumentasi yang baik
Beyer JL, Mankad MV, Weiner RD, Krystal AD. Clinical manual of electroconvulsive therapy. United State : American Psychiatric
Publishing, Inc;2010.
Persiapan Untuk Melakukan ECT (2)
Pemeriksaan lain pada evaluasi pre ECT :
Adanya second opinion mengenai keputusan pemilihan ECT
Konsultasi bagian anaestesi untuk evaluasi pre operatif
Pemeriksaan rutin lab : darah lengkap, serum elektrolit
EKG (pasien usia ≥ 40th)
Foto thorax (terutama bila pasien memiliki riwayat merokok, penyakit
paru, atau kardiovaskular)
Persiapan Untuk Melakukan ECT (3)
Persiapan pada pasien :
Memastikan persiapan ECT terdokumentasi dengan baik
Persiapkan obat-obatan pre ECT
Puasa 6 jam sebelum ECT
Kandung kemih dan rectum sebaiknya dalam keadaan kosong
Memastikan pasien mengenakan pakaian yang tepat (bila perlu
menggunakan pakaian RS)
Melepaskan perhiasan, make up, gigi palsu, dan alat bantu dengar.
Kondisi rambut dalam keadaan kering
Prosedur ECT dengan anastesi
Beyer JL, Mankad MV, Weiner RD, Krystal AD. Clinical manual of electroconvulsive therapy. United State : American Psychiatric
Publishing, Inc;2010.
Beyer JL, Mankad MV, Weiner RD, Krystal AD. Clinical manual of electroconvulsive therapy. United State : American Psychiatric
Publishing, Inc;2010.
Beyer JL, Mankad MV, Weiner RD, Krystal AD. Clinical manual of electroconvulsive therapy. United State : American Psychiatric
Publishing, Inc;2010.
Beyer JL, Mankad MV, Weiner RD, Krystal AD. Clinical manual of electroconvulsive therapy. United State : American Psychiatric Publishing, Inc;2010.
Efek Samping yang mungkin muncul:
Perubahan fungsi kognitif (disorientasi post iktal, interictal confusion,
memory impairment)
Komplikasi kardiovaskular (akibat stimulasi sistem autonomy simpatik dan
parasimpatik)
Keluhan somatik umum (sakit kepala, nyeri otot, nyeri pada rahang)
Prevensi Mencegah Efek Samping :
Penegakan diagnosis dan penentuan indikasi yang tepat
Evaluasi pre ECT yang baik
Modifikasi tehnik ECT
Tatalaksana Pada Efek Samping
Perubahan kognitif :
Disorientasi post iktal →bersifat sementara →reassurance, support
pasien. Bila agitasi : benzodiazepine short acting, atau haloperidol
i.v.
Interictal confusion → disorientasi post iktal yang berkelanjutan →
dapat menjadi kondisi delirium (sangat jarang) → tatalaksana tepat,
mencari kausa → dapat hilang setelah beberapa hari.
Memory impairment → dapat membaik dalam hitungan hari atau
bulan (seringnya berupa amnesia anterograde), bila menetap
(seringnya amnesia retrograde) →recall memori.
Tatalaksana Pada Efek Samping (2)
Komplikasi kardiovaskular :
Oksigenasi yang baik sebelum dan sesudah kejang
Pemberian medikasi pre ECT pada pasien yg rentan (misalnya antikolinergik untuk
mengurangi aritmia akibat induksi parasimpatik, betabloker untuk hipertensi dan
aritmia akibat induksi simpatik)
Ventilasi yang adekuat dan pemberian muscle relaxation → mencegah anoksia
Keluhan somatik :
headache : analgetik
nyeri otot : analgetik
Sangat jarang, pasien depresi (pada bipolar) berubah menjadi mania
atau mixed state → anti mania.