100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
174 tayangan26 halaman

Sistem Pipa dan Sprinkler Kebakaran

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai sistim sprinkler otomatis untuk pemadaman kebakaran. Ia mendefinisikan sprinkler, klasifikasi hunian berdasarkan tingkat bahaya kebakaran, persyaratan volume dan sumber air, jenis pompa air dan panel pompa, spesifikasi pemipaan termasuk jenis pipa dan sambungan, serta ketentuan pemasangan sprinkler.

Diunggah oleh

Neko Raion
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (2 suara)
174 tayangan26 halaman

Sistem Pipa dan Sprinkler Kebakaran

Dokumen tersebut memberikan penjelasan mengenai sistim sprinkler otomatis untuk pemadaman kebakaran. Ia mendefinisikan sprinkler, klasifikasi hunian berdasarkan tingkat bahaya kebakaran, persyaratan volume dan sumber air, jenis pompa air dan panel pompa, spesifikasi pemipaan termasuk jenis pipa dan sambungan, serta ketentuan pemasangan sprinkler.

Diunggah oleh

Neko Raion
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PUSAT PENDIDIKAN DAN LATIHAN KEBAKARAN

DINAS PEMADAM KEBAKARAN


PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

SISTIM SPRINKLER KEBAKARAN


INSPEKTUR KEBAKARAN TK I

Disiapkan Oleh :

HAKIM SIMANJUNTAK, SH.

Juni 2006
SISTIM SPRINKLER OTOMATIS

1 Pengertian. - Sistim pipa


- Sprinkler - Ukuran pipa
- Kepadatan pancaran - Kelengkapan pengaman pipa
- Klasifikasi hunian
2 Penyediaan Air 5. Tabel-tabel pipa
- Volume air
- Sumber air 6. Kepala Sprinkler
3. Pompa
- Jenis pompa 7. Kapasitas pancaran per kepala
- Pembagian pompa sprinkler.
- Sistim perletakan pompa
- Posisi poros dan penggerak 8. Pemeriksaan
- Motor penggerak
- Panel pompa 9. Pengujian
- Ruang pompa
- Kapasitas pompa 10. Instalasi Alarm Kebakaran
4. Pemipaan
- Jenis pipa 11. Ketentuan pemasangan sprinkler
- Sambungan Dinas pemadam sesuai Perda No. 3 Tahun 1992
Kebakaran
- Bahan pipa .
1. Pengertian .

1.1. Sprinkler : Suatu sistim instalasi pemadam kebakaran yang dipasang secara tetap
/permanen didalam bangunan yang dapat memadamkan kebakaran
secara otomatis dengan menyemprotkan air ditempat mulai terjadi
kebakaran.

1.2. Kepadatan Pancaran.


Jumlah debit air (liter/menit) yang dikeluarkan oleh 4 kepala sprinkler yang ber-
dekatan dan terletak di empat sudut bujur sangkar, persegi panjang atau jajaran
genjang (kepala sprinkler dipasang selang seling) dibagi oleh 4 X luas bujur
sangkar, persegi panjang, atau jajaran genjang tersebut diatas (m 2).

Kepadatan pancaran tersebut dalam sistim bahaya kebakaran berat tidak boleh
kurang dari ketentuan butir 4.1.3.c dan tabel 4.1.3.c.1 dengan catatan bahwa
semua kepala sprinkler terbuka serentak termasuk empat kepala sprinkler yang
bersangkutan.
Kepadatan pancaran dinyatakan dalam mm/menit.

1. 3. Klasifikasi Hunian.
Klasifikasi tingkat rasio bahaya kebakaran yang diklasifikasikan berdasarkan
struktur bahan bangunan, banyaknya bahan yang disimpan didalamnya, serta
sifat kemudahan terbakarnya, juga ditentukan oleh jumlah dan sifat penghuninya
1.3.1 Hunian bahaya kebakaran ringan.
Macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar rendah
dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah, sehingga men-
jalarnya api lambat.

1.3.2. Hunian bahaya kebakaran sedang kelompok I.


Macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang
penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 2,5
meter dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sedang, sehingga
menjalarnya api sedang.

1.3.3. Hunian bahaya kebakaran sedang kelompok II.


macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar sedang
penimbunan bahan yang mudah terbakar dengan tinggi tidak lebih dari 4
meter dan apabila terjadi melepaskan panas sedang, sehingga menjalarnya
api sedang.

1.3.4. Hunian bahaya kebakaran sedang kelompok III.


Macam hunian yang mempunyai dan kemudahan terbakar tinggi dan apabila
terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi, sehingga menjalarnya api cepat.
1.3.5. Hunian bahaya kebakaran berat.
Macam hunian yang mempunyai jumlah dan kemudahan terbakar tinggi
dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas tinggi, penyimpanan cairan
yang mudah terbakar, sampah, serat, atau bahan lain yang apabila terbakar
apinya cepat menjadi besar dengan melepaskan panas tinggi sehingga
menjalarnya api cepat.

1.3.6. Hunian khusus.


untuk hunian khusus seperti penyimpanan atau tempat dimana penggunaan
cairan yang mempunyai kemudahan terbakar tinggi dapat digunakan sistim
pancaran serentak. Karena keadaan yang menguntungkan, beberapa macam
hunian dapat memperoleh keringanan satu kelas lebih rendah dengan
persetujuan instansi yang berwenang.

2. Penyediaan Air.
2.1. Volume air:
-Bahaya kebakaran ringan : minimal untuk masa pakai : 45 menit.
-Bahaya kebakaran sedang I,II, III : minimal masa pakai : 60 menit.
-Bahaya kebakaran berat : minimal masa pakai : 90 menit.

2.2. Sumber air


Air dari sumur pompa atau dari Perusahaan Air Minum (PDAM) dengan kualitas
air bersih.
* Penyediaan dapat digabung dengan penggunaan air dalam gedung, hidran,
atau tersediri.

2.3. Tempat penyediaan air : disesuikan dengan perencanaan bangunan.


*Dinas Pemadam Kebakaran DKI Jakarta, mensyaratkan minimal pada lantai
basemen 1.

3. Pompa Sprinkler/Grafitasi.

3.1. Jenis Pompa : Pompa Centrivugal.


- Mampu mensuplai air dalam kapasitas besar, daya dorong cukup tinggi.
- Karakteristik dan kinerja pompa paling cocok untuk pompa kebakaran.
- Besaran flow yang dihasilkan berbanding lurus dengan beban pada daya
penggerak pompa.

3.2. Pembagian pompa centrivugal berdasarkan hisapan.


3.2.1. Horisontal .
- Single stage (impeller) : 1 buah impeller.
- Multi Stage : lebih dari satu buah impeller.
- Centrivugal Volute pump (pompa centrivugal rumah keong)
- Centrivugal Diffuser pump (pompa centrivugal rumah keong berdiffuser/
pengaruh aliran).
3.2.2. Centivugal vertical pump.
3.2.3. Pompa tipe turbin poros vertikal dalam sumur
3.3. Sistim Operasi Pompa/perletakan pompa :
- Dibawah muka air reservoir / pengisapan positif (positive suction lift)
- Diatas muka air reservoir / pengisapan negative (negative suction lift)

3.4. Posisi poros dan motor penggerak.


- Poros pompa horisontal.
- Poros pompa tegak.

3.5. Motor Penggerak.


- Motor listrik.
- Motor diesel.

3.6. Panel Pompa.


Panel pompa harus dapat mengalihkan arus listrik konstant kepompa dgn
pengaturan start otomatis dengan stop manual (pompa utama/cadangan).

3.7. Penyedian pompa satu sistim.


- Pompa pembantu (jocky pump)
- Pompa utama
- Pompa cadangan.

*Gravitasi : Tekanan air harus memenuhi persyaratan pada setiap kepala sprinkler
3.8. Ruang Pompa.
- Mudah dicapai.
- Ruang gerak bebas sehingga mudah melakukan perbaikan, pemeliharaan dan ujicoba
- Nyaman - tidak banjir.
- bebas dari barang yang mudah terbakar.
- bebas dari penempatan barang-barang lainnya.

3.9. Kapasitas Pompa / Head Pompa.


- Kemampuan pompa untuk mensuplai volume air (flow capacyty) dalam satuan GPM
(galon permint) atau liter permenit.
- Kemampuan pompa untuk mendorong volume air yang disebut Total Head pompa
dalam satuan meter; Feet (Ft), bar, kg/Cm2, dsb.
- Kemampuan untuk menghisap air dari permukaan air sampai ke poros pompa dengan
data NPSH (net positive suction head).

3.9.1. Kapasitas pompa/head pompa untuk sprinkler;


-Kapasitas
>tersendiri disesuaikan dengan klasifikasi sprinkler.
>Gabung dengan hidran.

-Head pompa penjumlahan:


>Ketinggian bangunan (ketinggian dihitung berdasarkan perletakan –
pompa).
>Kerugian dalam pipa (dihitung ± 1 Kg/Cm2)
>Tekanan pada kepala sprinkler sesuai dengan klasifikasi sprinkler.
3.10. Kelengkapan Pompa.
-Pressure gauge.
-Vacum gauge
-Flow meter/kran pengetesan.

4. Pemipaan.

4.1. Bahan pipa : disesuaikan dengan perhitungan hidrolik atau skedul pipa
* Umumnya menggunakan
- Pipa tembaga
- Black steel.
- Galvanized (tabel 7.10.2 (b).
- Besi tuang dengan flaus.
- Besi tuang dengan mot.

4.2. Jenis Pipa : SNI 03-1745-2000.


[Link] Hisap : -Pipa yang menghisap air dari resevoir hingga kelubang pipa
hisap pompa.
-Diameter pipa hisap disesuaikan dgn kapasitas pompa
terpasang (lihat tabel SNI 03.6570-2001).
[Link] Utama : Bagian dari sistim pipa tegak yang memasok air kesatu atau
lebih pipa tegak.
4.2.3. Pipa Tegak : Bagian pipa yang naik keatas dari sistim pemipaan yang menya-
lurkan pasokan air yang tegak lurus dari lantai kelantai
dari lantai kelantai.
4.2.4. Pipa pembagi : Pipa yang menghubungkan pipa tegak dan pipa pembagi.
utama

4.2.5. Pipa Pembagi : Pipa yang dihubungkan dengan pipa cabang.

4.2.6. Pipa Cabang : Pipa yang dihubungkan dengan pipa pembagi yang menjadi
perletakan titik sprinkler.

*Susunan Cabang
-Susunan cabang tunggal : susunan sambungan dimana
pipa cabang disambungkan kesatusisi dari pipa pembagi.

-Susunan cabang ganda : susunan sambungan dimana


pipa disambungkan kedua sisi pipa pembagi.

-Susunan pemasukan ditengah : susunan penyambungan


dimana pipa pembagi mendapat aliaran ditengah.

-Susunan pemasukan diujung :susunan penyambungan di-


mana dari ujung.
lihat gambar : 3.12 ; n3.13 SNI 03-3989.2000.
4.2.7. Sambungan Dinas Pemadam Kebakaran.
-Umumnya disebut Siamese Connection.
-Kopling yang dipasang jenis Vander Hyde (disesuaikan kopling Dinas Pemadam
Kebakaran)
-Diameter kopling 2 ½”.
-Jumlah kopling disesuaikan dengan diameter pipa tegak dalam gedung terpasang.
-Sambungan langsung kejaringan instalasi.
-Dipasang pada bangunan sesuai dengan kebutuhan/kemudahan unit Dinas
Pemadam Kebakaran untuk mensuplai air.
-Diberi tanda yang jelas.
-Dilengkapi dengan cek valve, gate valve.
4.2.8. Sistim Pipa.
-Sistim pipa berisi air setiap saat (sistim basah)
-Sistim kering
4.2.9. Ukuran Pipa.
-Selain untuk pipa cabang harus dihitung berdasarkan perhitungan hidrolik.
-Pipa tegak yang merupakan bagian dari sistim kombinasi dengan hidran
sekurang-kurangnya diameter 6 inchi.
-Untuk pipa cabang (lihat tabel).
4.2.10. Kelengkapan pengaman pipa.
- Alat pengatur tekanan : mengurangi, mengatur mengendalikan atau membatasi
tekanan air.
contoh : katup penurun tekanan.
Katup kontrol tekanan
Alat pembatas tekanan.
- Katup penahan balik.
- Gate valve.
- Katup-katup pengering.
- Gantungan pipa, flexible joint.

4.2.11 Kelengkapan pengatur tekanan.


- Manometer.
- Air Realice Valve
- PRV.
- PRD.
- Plat berlubang
- Safety Valve

1. Tabel Pipa cabang untuk kebakaran bahaya ringan.


Ukuran Pipa Jumlah maksimum Keterangan
(mm) Kepala Sprinkler
Masih dimungkinkan pemakaian pipa ber-
ukuran 25 mm diantara 2-3 titik kelompok
sprinkler dan katup kendali apabila
perhitungan hidrolik mengijinkan, apabila
25 3 “Titik” Kelompok sprinkler 2” sebagai titik desain,
pipa berukuran 25 mm tidak boleh dipakai
diantara kepala sprinkler ke 3 dan ke 4
2. Pipa Cabang untuk sistem bahaya kebakaran sedang.
Jumlah maksimum Kepala
No Pipa Cabang Ukuran Pipa Sprinkler yang diijinkan
(mm) Pada pipa cabang
A Pipa cabang pada ujung pipa pembagi

1. Susunan cabang tunggal dgn 2 kepala sprinkler 25 1

Dua pipa cabang terakhir 32 2

Susunan cabang tunggal dengan 3 kepala 25 2


2. sprinkler
Tiga cabang terakhir 32 3

Susunan lain 25 2
32 3
3. Cabang terakhir 40 4
50 9
25 3
32 4
4. Pipa cabang lain:
40 6
50 9
3. Tabel Pembagi untuk sistem bahaya kebakaran sedang.

Jumlah maksimum kepala


No Pipa cabang Ukuran pipa Sprinkler yang diijinkan
(mm) Pada pipa cabang
A. Pipa cabang pada ujung sistem

32 2

40 4
1. Susunan cabang tunggal dengan 2
kepala sprinkler. 50 8

65* 16*

32 3

40 6
2. Susunan lain
50 9

65* 18*

Perhitungan hidrolik dihitung


B Pipa pembagi diantara ujung sistem tersendiri menurut butir
dan katup kendali 7.4.4. sistem bahaya
kebakaran sedang
4. Tabel pipa cabang untuk bahaya kebakaran berat .

Ukuran pipa Jumlah maksimum kepala


No Pipa cabang Nominal Sprinkler yang diijinkan pada
(mm) Pipa cabang
A Pipa cabang pada ujung pipa pembagi

Susunan cabang tunggal dengan 2 kepala 25 1


1. sprinkler
Dua pipa cabang terakhir 32 2

Susunan cabang tunggal dengan 3 kepala 25 2


2. sprinkler
Tiga pipa cabang terakhir 32 3

Susunan lain 25 2

32 3
3.
Pipa cabang terkhir
40 4

25 3
B Pipa cabang lain
32 4
5. Tabel pipa pembagi untuk bahaya kebakaran berat.

Ukuran pipa Jumlah maksimum kepala


No Pipa cabang Nominal Sprinkler yang diijinkan
(mm) Pada pipa cabang
32 2

40 4

50 8

A. Pipa pada ujung sistem 65 12

80 18

100 48*

B. Pipa pembagi diantara ujung sistem Perhitungan hidrolik dihitung


Dan katup kendali Tersendiri menurut butit 7.5.4
6. Tabel pipa cabang untuk bahaya kebakaran berat.

Ukuran pipa Jumlah maksimum


No. Pipa Cabang Nominal kepala sprinkler yang
(mm) diijinkan pada pipa
cabang
A Pipa cabang pada ujung

Susunan cabang tunggal dengan 2 25 1


1. Kepala sprinkler
Dua pipa cabang terakhir 32 2

Susunan cabang tunggal dengan 3 25 2


2. Kepala sprinkler
Tiga pipa cabang terakhir 32 3

Susunan lain 25 2
3.
Pipa cabang terakhir 40 4

25 3
B Pipa cabang lain
32 4
5. Valve, Kran pengetesan, Inspektur test.

5.1. Valve : Valve yang berfungsi untuk pengglontoran sistim.


5.2. Kran pengetesan : Kran yang berfungsi untuk pengujian dan untuk mengetahui
jaringan berisi air. Dilengkapi dengan Flow switch yang berfungsi untuk mengaktifkan
bell alarm pada lantai (sesuai pembagian alarm dan menunjukkan indikasi pada
kontrol panel).
5.3. Inspektur test : kran yang ditempatkan pada setiap ujung satu sistim jaringan kepala
sprinkler (setiap lantai zona).

6. Katup Kendali (kontrol valve).

Katup kendali : katup yang mengatur penyediaan air untuk satu pipa tegak yang disesuai-
kan jumlah kepala sprinkler sesuai dengan kelas bahaya kebakaran.
5.1. Jumlah kepala sprinkler perkatup kendali :
-Untuk bahaya kebakaran ringan : 500 titik kepala sprinkler.
-Untuk bahaya kebakaran sedang : 1000 titik kepala sprinkler.
-Untuk bahaya kebakaran berat : 1000 titik kepala sprinkler.
5.2. Kelengkapan katup kendali.
-Alarm gong.
-Manometer
5.3. Penempatan
ditempatkan pada ruang yang dapat dengan mudah dicapai dan disesuaikan dengan
perhitungan hidrolik (dekat jauhnya dari pompa).
7. Kepala Sprinkler.

7.1. Berdasarkan arah pancaran.


-Pancaran arah keatas (upright sprinkler)
-Pancaran arah kebawah.
-Pancaran arah kedinding.
7.2. Berdasarkan kepekaan terhadap suhu, kode tangkai, warna cairan.

Temperatur Temperatur kerja Klasifikasi Kode warna Warna


Langit-langit maks (Derajat Celcius) temperatur Segel Tabung
(derajat Celcius) Tangkat gelas
38 57 - 77 sedang Tanpa warna atau Jingga
Hitam putih (Merah)
66 79 - 107 peralihan putih Kuning (hijau)

107 121 - 149 tinggi biru biru

149 163 - 191 Ekstra tinggi merah ungu

191 204 - 246 Sangat tinggi hijau hitam

246 260 - 302 Ekstra sangat ungu hitam


tinggi
329 343 Ekstra sangat ungu hitam
tinggi
7.3. Luas lingkup sprinkler.
7.3.1. Untuk bahaya kebakaran ringan
-Sprinkler dinding 17 m2
-Sprinkler lain 20 m2
7.3.2. Untuk bahaya kebakaran ringan
-jarak pemercik dengan dinding : 2,3 m
-Pemercik dengan pemercik : 4,6 m
7.3.3. Untuk bahaya kebakaran sedang.
-Sprinkler dinding 9 m2
-Sprinkler lain 12 m2
7.3.4. Bahaya kebakaran sedang.
-Jarak pemercik dengan dinding : 3,4 m
-Jika penempatan standar : 4 m
-Jika kepala sprinkler dipasang selang-seling:
>Jarak maksimum antara kepala pemercik : 4,6 m
> Jarak maksimum antara pipa cabang : 4 m
7.3.5. Bahaya kebakaran berat.
-Umum (bibawah langit-langit) : 9 m
-Dalam rak penyimpanan :
>Dengan satu jajar sprinkler : 10 M2
>Dengan dua jajar sprinkler : 7,5 m2
7.4. Diameter Kepala Sprinkler.
- Ringan : 10 mm
- Sedang : 15 mm
- Berat : 20 mm
8. Kapasitas aliran / Tekanan.

8.1. Untuk hunian kebakaran ringan, penyedian air harus mampu mengalirkan air dengan
kapasitas 225 L/menit dengan tekanan 2,2 Kg/Cm 2 ditambah tekanan air yang
ekivalen dgn perbedaan tinggi antara katup kendali dgn pemercik tertinggi. Tekanan
diukur pada katup kendali.

8.2. Untuk hunian kebakaran sedang kelompok I, penyedian air harus mampu mengalirkan
dengan kapasitas 375 L/menit, dengan tekanan 1.0 Kg/Cm 2 atau kapasitas 540 l/Mnt
dan bertekanan 0,7 Kg/Cm2 ditambah tekanan air yang ekivalen dengan perbedaan
tinggi antara katup kendali dengan pemercik tertinggi.

8.3. Untuk hunian kebakaran sedang kelompok II, penyediaan air harus mampu mengalir-
kan air dengan kapasitas 725 L/menit dengan tekanan 1,4 Kg/Cm 2 atau kapasitas
1000 L/menit dan bertekanan 1,0 Kg/Cm2 ditambah tekanan yang ekivalen dengan
perbedaan tinggi antara katup kendali dengan pemercik tertinggi. Tekanan diukur
pada katup kendali.

8.4. Untuk hunian kebakaran sedang kelompok III, penyediaan air harus mampu mengalir-
kan air dengan kapasitas 1.100 L/menit dengan tekanan 1,7 Kg/Cm 2 atau kapasitas
1.350 L/menit dan bertekanan 1,4 Kg/Cm2 ditambah tekanan yang ekivalen dengan
perbedaan tinggi antara katup kendali dengan pemercik tertinggi. Tekanan diukur
pada katup kendali.
8.5. Bahaya kebakaran berat.
Penyediaan air harus mampu mengalirkan air dengan kapasitas dan tekanan cukup
seperti dalam tabel :

Luas daerah perencanaan tiap sprinkler (m2)


Kepadatan Kapasitas aliran 6 7 8 9 10 11 12
Aliran tidak lebih (liter/menit)
Tekanan aliran (Kg/Cm2) dititik kelompok sprinkler 48 pada
dari (mm/menit)
sprinkler tertinggi

7,5 2300 1,80 2,25 2,.80 3,35 3,95


10,0 3050 1,80 2,40 3,15 3,90 4,80 5,75 6,80
12,5 3800 2,70 3,65 4,75 6,00 7,50
15,0 4550 3,80 5,20 6,75

9. Kapasitas pancaran perkepala sprinkler.

kapasitas dihitung dengan Q = K X P ½


Q = Kapasitas panacaran (liter/menit)
P = Tekanan air dikepala sprinkler.
K = Konstanta, ditentukan oleh nominal lubang kepla sprinkler.
10. Ketentuan Dasar Perencanaan.

10.1. Klasifikasi sistim


-Sistim bahaya kebakaran ringan.
-Sistim bahaya kebakaran sedang
-Sistim bahaya kebakaran berat
10.2. Perhitungan Hidrolik.
Perhitungan hidrolik tiap sistim harus didasarkan dengan kepadatan pancaran
pada daerah kerja maksimum yang diperkirakan (banyaknya kepala sprinkler yang
dianggap bekerja) dibagian hidrolik tertinggi dan terjauh dari gedung yang dilindungi
10.3. Kepadatan pancaran:
Kepadatan pancaran yang direncanakan dan daerah kerja maksimum disesuaikan
dengan klasifikasi.
10.3.1 Sistim bahaya kebakaran ringan .
-Kepadatan pancaran yang direncanakan 2,25 mm/menit.
-Daerah kerja maksimum diperkirakan 84 m2
10.3.2. Sistim bahaya kebakaran sedang.
-Kepadatan pancaran yang direncanakan 5 mm/menit.
-Daerah kerja maksimum yang diperkirakan: 72 M 2 -360 M2.
>Kelompok sedang 1 : 72 m2
>Kelompok sedang 2 : 144 m2.
>Kelompok sedang 3 : 216 M2
*Khusus yang diperkirakan penyalaan serentak (pabrik tekstil) : 260 M 2.
10.3.3. Sistim bahaya kebakaran berat.
-kepadatan pancaran 7,5 – 12,5 mm/menit.
-Daerah kerja maksimum diperkirakan 260 M2.
11. Pemeriksaan.

11.1. Penggelontoran seluruh jaringan instalasi harus dilaksanakan secara keseluruhan


sehingga tidak ada kotoran sekecil apapun yang membuat pipa hingga kepala
sprinkler tersumbat.
11.2. Setiap instalasi sprinkler kebakaran dipasang pada bangunan harus mendapat
persetujuan dari Dinas pemadam Kebakaran.
11.3. Pemeriksaan dalam rangka pemberian persetujuan harus dilaksanakan bersama
kontraktor pemasang/instalatur, pemilik/pengelola gedung, pejabat yang berwenang.
11.4. Obyek pemeriksaan.
-Gambar perencanaan
-Gambar jadi (as build drawing) terdiri dari skematis perletakan titik, detail, reservoir.
-Data teknis peralatan (specifikasi).
-Tekanan statis.
-Tekanan kerja
-Operasi sprinkler.

12. Pengujian.

12.1. Dalam rangka pemberian persetujuan harus dilakukan oleh pejabat yang berwenang
12.2. Atas pemasangan instalasi sprinkler harus mengadakan pengujian minimal :
-Tes tekanan terhadap instalasi pemipaan.
-Tes kemampuan sprinkler.
-Tes sistem operasi sprinkler.
-Tes kinerja instalasi.
13. Ketentuan Pemasangan sprinkler sesuai dengan Perda nomor 3 Tahun 1992.

Pasal 97.
Bangunan gedung parkir harus dilindungi dari ancaman bahaya kebakaran dengan alat
pemadam api ringan, alarm kebakaran, hidran kebakaran, dan pemercik sesuai dengan
ketentuan yang berlaku pada bangunan pabrik dengan ancaman bahaya kebakaran
sedang.

Pasal 116.
Setiap bangunan menengah harus dilindungi dari ancaman bahaya kebakaran dengan
sistim pemercik otomatis sesuai dengan ketentuan sebagimana dimaksud pada pasal
32 dan 33.
sesuai dengan kebutuhan, bagian bangunan yang tidak menggunakan sistim pemercik
otomatis harus dilengkapi dengan detektor yang dihubungkan dengan sistim pemercik
otomatis itu yang ada dalam bangunan.

Pasal 125.
Setiap lantai bangunan tinggi harus dilindungi dengan sistim pemercik otomatis secara
penuh.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai