0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan22 halaman

Radiologi Emfisema Panlobular

Dokumen ini membahas tentang emfisema yang merupakan penyakit obstruksi paru kronis. Dokumen ini menjelaskan tentang definisi, epidemiologi, anatomi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan emfisema.

Diunggah oleh

Krezsa Stiffensi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan22 halaman

Radiologi Emfisema Panlobular

Dokumen ini membahas tentang emfisema yang merupakan penyakit obstruksi paru kronis. Dokumen ini menjelaskan tentang definisi, epidemiologi, anatomi, patogenesis, gejala klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan emfisema.

Diunggah oleh

Krezsa Stiffensi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

REFERAT

EMFISEMA

Disusun Oleh :
Kressa Stiffensi Saparang (112018125)
Lorenzia Wijaya (112018131)
PEMBIMBING KLINIK:
dr. Paulus S, [Link]

KEPANITRAAN KLINIK RADIOLOGI

SMF RADIOLOGI RSAU ESNAWAN ANTARIKSA

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

PERIODE 11 JANUARI 2021 – 23 JANUARI 2021


PENDAHULUAN

Penyakit obstruksi kronis

Emfisema merupakan:
EMFISEMA
• Suatu keadaan dimana
pembesaran permanen
paru lebih banyak berisi
rongga udara yang
udara  ukuran paru
elastisitas paru terletak distal dari
bertambah, baik
bronkiolus terminal +
anteroposterior maupun
destruksi dinding rongga
ukuran paru secara
luas permukaan alveolus vertikal ke arah
tersebut, tanpa fibrosis
yang nyata.
diafragma.

destruksi dinding alveolus


EPIDEMIOLOGI

E Emfisema sentriasina lebih sering ditemukan & lebih parah pada laki-laki >
perempuan.
M
F
I Terdapat keterkaitan yang jelas antara merokok dalam jumlah besar dan
S emfisema. Tipe paling parah terjadi pada mereka yang banyak merokok.

E
M Meskipun emfisema tidak menyebabkan disabilitas sampai usia sekitar 50-80
A tahun, defisit ventilasi sudah dapat bermanifestasi secara klinis beberapa dekade
sebelumnya.
ANATOMI Gambar 2a. Paru dilihat dari kanan. A. Lobus; B. Segmenta bronchopulmonalia[5]
Gambar 2b. Paru dilihat dari kiri. A. Lobus; B. Segmenta bronchopulmonalia[5]

Emfisema Pulmonum Selasa/08-12-2015 4


2a 2b
ANATOMI

Sebuah segmenta bronchopulmonalia dan sebuah lobulus


Trachea, bronchi, bronchioli, ductus alveolaris, saccus paru. Vena pulmonales terletak di dalam septa jaringan ikat
alveolaris, dan alveoli. yan memisahkan segmen yang berdekatan
ANATOMI
ETIOPATOGENIS
Jenis-jenis emfisema*

Emfisema didefinisikan tidak saja berdasarkan sifat


anatomik lesi, tetapi juga oleh distribusi di lobulus dan
asinus. Asinus adalah bagian paru yang terletak distal dari
bronkiolus terminal dan mencakup bronkiolus respiratorik,
duktus alveolaris, dan alveolus; kelompok yang terdiri atas
3-5 asinus disebut satu lobulus. Terdapat tiga jenis
emfisema: (1) sentriasinar, (2) panasinar, dan
(3)Paraseptal

7
ETIOPATOGENIS
Gambar
A. Diagram struktur normal di dalam asinus,
satuan dasar paru. Sebuah bronkiolus terminal
terletak tepat proksimal dari bronkiolus
respiratorik;
B. Emfisema sentrilobular disertai dilatasi yang
mula-mula mengenai bronkiolus respiratorik;
C. Emfisema panasinar disertai peregangan awal
struktur perifer (yaitu alveolus dan ductus
alveolaris); penyakit, kemudian meluas mengenai
bronkiolus respiratorik.
Patogenesis emfisema. Ketidakseimbangan protease-antiprotease dan ketidakseimbangan oksidan-antioksidan bersifat saling
menguatkan dan berperan menyebabkan kerusakan jaringan. Defisiensi antitrypsin-α1 (α1AT) dapat bersifat kongenital atau
“fungsional” akibat inaktivasi oksidatif.
IL-8, interleukin-8; LTB4, leukotrien B4; TNF, faktor nekrosis tumor.
DIAGNOSIS
• Pink puffer atau blue bloater
A GAMBARAN KLINIK • Barrel chest (diameter antero - posterior dan
N P transversal sebanding)

A Riwayat merokok atau bekas perokok
dengan atau tanpa gejala pernapasan F • Penggunaan otot bantu napas
M • Riwayat terpajan zat iritan yang bermakna di • Pelebaran sela iga
N tempat kerja

E -
Batuk berulang dengan atau tanpa dahak

S • Pada emfisema fremitus melemah, sela iga


melebar
I
• suara napas vesikuler normal, atau melemah
S
• terdapat ronki dan atau mengi pada waktu
bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa
• Ekspirasi memanjang
DIAGNOSIS

GAMBARAN RADIOLOGI
Penurunan jumlah pembuluh
Diafragma yang datar dan
darah pada daerah paru yang
rendah (flattened abnormal
hemidiaphragms)
Tidak adanya pembuluh
Diafragma yang rendah pulmonalis perifer
Hiperinflasi paling baik ditentukan oleh

Abnormalitas vaskular
proyeksi lateral dada
Cabang arteri sedikit
Gambaran hiperlusen pada Ukuran arteri pulmonalis
lapangan paru. sentral meningkat

Peningkatan diameter Antero


Posterior (AP )

Peningkatan jumlah udara


retrosternal
DIAGNOSIS
FOTO POLOS
DIAGNOSIS

Foto Thorax Lateral

Hiperinflasi
- Diafragma datar dan rendah dengan pergerakan yang terbatas saat inspirasi dan ekspirasi
- Peningkatan diameter AP dada dengan perluasan pada rongga retrosterna (barrel chest).
Emfisema bulla

▪ Emfisema vesikuler
setempat dengan ukuran
antara 1-2 cm atau lebih
besar.
▪ Gambaran radiologi,
berupa suatu kantong
radiolusen di perifer
lapangan paru, terutama
bagian apeks paru dan
bagian basal paru.
DIAGNOSIS
CT SCAN

Penurunan densitas pulmonalis pada area yang luas (panah


Multipel Bula. atas) dan bulla (panah) pada emfisema.
CT Scan

▪ Emfisema centrilobular ▪ Emfisema panlobular ▪ Emfisema paraseptal


DIAGNOSIS
LABORATORIUM

• hipoksia
Analisis gas darah • kadar karbon dioksida  meningkat

• polisitemia.
Hematokrit • > 52% pria
• > 47% wanita

Serum alpha1- • Diagnosis defisiensi AAT berat dikonfirmasi ketika


kadar serum turun di bawah nilai ambang batas
antitrypsin proteksi (misalnya 3-7 mmol/L (<11 mmol/L).

17
DIAGNOSIS BANDING

Bronkitis Kronik
Batuk dahak (sputum) selama minimal 3 bulan
dalam setahun selama periode 2 tahun berturut-
turut.

Bronkitis kronis dikaitkan dengan hipertrofi


kelenjar penghasil lendir yang ditemukan di
mukosa saluran napas kartilago besar.

Defek patologis utama emfisema:


bukan di saluran napas tetapi di dinding unit
respiratorik, yaitu hilangnya jaringan elastik
menyebabkan lenyapnya tegangan recoil untuk
menahan saluran napas selama ekspirasi.
DIAGNOSIS BANDING

Bronkiektasis

dilatasi abnormal bronkus ukuran medium dan


proksimal (> 2 mm) yang disebabkan oleh
melemahnya atau destruksi komponen
muscular dan elastis dinding bronkial. Temuan
umum yang diharapkan dari radiografi thorax
posterior-anterior dan lateral meliputi:
peningkatan vaskular paru, honeycombing, Gambar. Bronkiektasis cystic dan silinder dari lobus kanan
atelektasis, perubahan pleura. bawah pada foto thorax posterior-anterior
Penatalaksanaan
▪ Penatalaksanaan PPOK stabil
▪ 1. Obat-obatan dengan tujuan mengurangi laju beratnya penyakit dan
mempertahankan keadaan stabil.
▪ 2. Bronkodilator dalam bentuk oral, kombinasi golongan β2 agonis (salbutamol)
dengan golongan xantin (aminofilin dan teofilin). Masing-masing dalam dosis
suboptimal, sesuai dengan berat badan dan beratnya penyakit. Untuk dosis
pemeliharaan, aminofilin/teofilin 100-150 mg kombinasi dengn salbutamol 1 mg.
▪ 3. KortikosteroidTidak selalu diberikan tergantung derajat berat eksaserbasi. Pada
eksaserbasi derajatsedang dapat diberikan prednison 30 mg/hari selama 1-2
minggu, pada derajat berat diberikan secara intravena.
PROGNOSIS

Semakin rendah presentase prediksi FEV, semakin buruk prognosis


pasien. Penderita PPOK yang memiliki penyakit komorbid dapat
mempengaruhi secara signifikan prognosis. Resiko eksaserbasi juga
meningkatkan pembatasan aliran udara yang dapat memperburuk pasien
rawat inap, di mana hal ini dapat memberikan prognosis buruk dengan
peningkatan resiko kematian.

21
Terima Kasih

22

Anda mungkin juga menyukai