Menghitung Curah Hujan dan Konsistensi
Menghitung Curah Hujan dan Konsistensi
10
0
8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
Waktu (jam)
20 20
16 Hujan efektif
14 (limpasan)
12 Kehilangan air 10
8 mm/jam
8
4
4 2 2
0
8 10 12 14 16 18 20 Waktu (jam)
c. Hitung hujan efektif, bila selama terjadi
hujan besarnya kehilangan air rata-rata
sebesar 8 mm/jam :
Hujan efektif merupakan tingginya curah hujan
yang melimpas menjadi aliran permukaan
(grafik yang diarsir), yang dihitung dari tinggi
hujan lebih besar dari 8 mm, yaitu :
He = (10-8) mm/jam (1 jam) + (20-8) mm/jam
(1 jam) + (14-8) mm/jam (1 jam) = 20 mm.
40
38
30
20
18
10
4 8
0
8 10 12 14 16 18 20
t, jam
d. Kurva massa hujan : diperoleh dari nilai
Kumulatif tinggi hujan pada gambar di atas (b)
e. Besarnya koefisien limpasan (koefisien runoff):
Tinggi hujan H = 54 mm ; Tinggi hujan efektif = He = 20 mm
Koefisien runoff : He 20 0,37 Ada beberapa rumus
H 54 [Link] ([Link]).
METODE PENGISIAN
DATA CURAH HUJAN YANG HILANG
(MISSING DATA) :
1 N x Pa N x Pb N x PN
Px .....
N N a Nb NN
Px = Curah hujan di Stasiun X yang datanya hilang / missing.
Nx = Curah hujan tahunan rata-rata di Stasiun X.
Na, Nb, Nn = Curah hujan tahunan rata-rata di Stasiun A, B, ..., N
Pa, Pb, Pn = Curah hujan di Stasiun A, B ... , N pada saat tertentu.
CONTOH SOAL :
Dari suatu daerah aliran sungai yang mempunyai 4
stasiun curah hujan A, B, C, D, diketahui data sbb :
Curah hujan tahunan rata-rata :
NA = 1120,14 mm
NB = 1034,55 mm
NC = 1198,88 mm
ND = 977,90 mm
Sedangkan curah hujan pada bulan Agustus 2012 :
di Stasiun A : PA = 106,7 mm
di Stasiun B : PB = 88,9 mm
di Stasiun C : PC = 121,9 mm.
Berapa besar curah hujan pada
bulan Agustus di Stasiun D (PD) ?.
PENYELESAIAN :
Perbedaan A – D : 1120 ,14 977 ,9 x100 % 14,5%
977 ,9
Perbedaan B – D : 1034,55 977,9 x100% 5,8%
977,9
Perbedaan C – D : 1198 ,88 977,9 x100% 22,6%
977,9
BEDA > 10% PAKAI METODA PERBANDINGAN NORMAL :
1 N D PA N D PB N D PC
PD
3 N A N B NC
1 977,9 x106,7 977,9 x88,9 977,9 x121,9
PD 92,20mm
3 1120,14 1034,55 1198,88
Curah hujan bulan Agustus 2012 di Stasiun D = 92,20 mm.
3. CARA KEBALIKAN KUADRAT
JARAK
1(RECIPROCAL METHOD).
P 1
P 1
z Pc
dx A z A dx B z B dx C
Px Sta. B, C, D, E, F diketahui
z z
1 1 1
dx
A B dx C dx zbesar curah hujannya.
Contoh 1 : MENCARI HUJAN DI STA.
Y
C(1,6) A:
5 (1,8 mm)
Tentukan sumbu X-Y melalui
yaitupusat
titik Stasiun di mana
koord. data
A (0,0)
D(-3,2) B(4,2) hujannya hilang.
(1,5 mm) (... mm ?) (1,6 mm)
Tulis koordinat (kolom 3,4).
-5 A(0,0) 5 X Estimasi hujan ditentukan
dengan faktor pemberat :
F(2,-2)
E(-3,-3) (1,7 mm) 2 1
(2,0 mm) dxi X 2 Y 2 ; W 2
dxi
1
DATA-DATA
Sta. HUJAN (P) X Y
2
dxi X 2 Y 2 W
dx i
2
10 3
PxW
A - 0 0 - - -
B 1,6 4 2 20 50 80
C 1,8 1 6 37 27 48,8
D 1,5 3 2 13 76,9 115,4
E 2,0 3 3 18 55,6 111,2
F 1,7 2 2 8 125,0 212,5
334.5 567.7
● D(15,15) ; 190 mm
D’(0,5)
C(10,10) ; 165 mm
C’(-5,0)
● ●B’(0,0) X’
B(15,10)
15
10
● A(5,5) ; 155 mm
Titik pusat A’(-10,-5)
Koordinat
lama ● X
O(0,0)
Cari koord. Baru
Stasiun A, C & D
2 1 1
Titik Hujan/P X’ Y’ dxi X Y
2 2
W 2
3
10 2
10 3
P
dxi dx i
A 155 -10 -5 125 8 1.240
B - 0 0 0 0 0
C 165 -5 0 25 40 6.600
D 190 0 5 25 40 7.600
Jumlah 88 15.440
15.440
Pb 175,45mm.
88
MENGUJI KONSISTENSI DATA
HUJAN
Data hujan yang teramati pada stasiun pengamat
hujan bisa tidak konsisten (plotting tidak lurus), hal
tsb. disebabkan karena beberapa faktor antara lain :
a. Perpindahan lokasi pengukuran sta. hujan.
b. Perubahan alat (AUHB menjadi AUHO).
c. Penggantian personil pengamat stasiun dll.
Untuk menguji konsistensi data hujan, pendekatan
yang dapat dilakukan misalnya dengan Analisis
Massa Ganda (Double Mass Curve Analysis), yaitu
menguji konsistensi hasil pengukuran pada suatu
stasiun dan membandingkan akumulasi dari
hujan yang bersamaan untuk suatu kumpulan
stasiun yang mengelilinginya.
DATA YANG TIDAK KONSISTEN BERARTI
DATA TSB. MENGANDUNG KESALAHAN,
MAKA HARUS
KEBENARANNYA, DIUJI
YAITU DENGAN
METODE DOUBLE MASS CURVE
● DATA YANG AKAN DIUJISBB. :
ADALAH DATA TAHUNAN/
DATA MUSIMAN PADA STASIUN M.
● DATA HUJAN ACUAN N MERUPAKAN NILAI RATA2
DARI STASIUN HUJAN P, Q, R, S dst. YANG
LOKASINYA ADA DISEKELILING STASIUN M.
● DATA KUMULATIF STASIUN M DIBANDINGKAN
SECARA GRAFIS DENGAN DATA KUMULATIF
HUJAN ACUAN N.
● DATA DI STASIUN M SEBAGAI SUMBU Y DAN
DATA HUJAN ACUAN N SEBAGAI SUMBU X.
DATA-DATA
JIKA GRAFIK YANG TERJADI BERUPA GARIS LURUS
(TIDAK TERJADI PATAHAN), MAKA DATA STASIUN
M
KONSISTEN, DAN SEBALIKNYA JIKA ADA PATAHAN
TIDAK KONSISTEN SEHINGGA HARUS DIKOREKSI.
y
Ada patahan A Jika data curah hujan tidak
1990 konsisten, supaya konsisten,
STA.M
maka data hujan pada stasiun
B (kemiringan/ M harus dikoreksi dengan
nilai tangen)
x faktor : B/A.
2000 STA.N (rata2 sta, P, Q, R, S)
Sumbu Y
Y
●
X Sumbu X
Cek sta. A, konsisten ?. Thn 1990 patah Koreksi
Data Hujan Tahunan
Plotting sumbu
X-Y
Kumul.
Tahun Rerata Sta.
Rerata Sta.
Kumul.
Sta. A Sta. B Sta. C Sta. D Sta. E B,C,D,E Sta. A
B,C,D,E
Tahun 1991
Analisis Regresi : Kom A
15000 R ~ 1 konsisten
Linear (Kom A)
Kom A
10000 Gradien 2000 s/d 1991 sebagai Linear (Kom A)
”garis acuan” (kemiringan Data yang dikoreksi
Kurva sebelum patah) adalah : tahun 1985 s/d 1990,
16.967 1.357 kemudian dicari harga
5000 1,053
16.176 1.356 kumulatif sta. A dan
digambar lagi, maka
Tahun 2000 akan diperoleh
0 X
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000 garis lurus.
1. METODE RATA-RATA
ALJABAR.
2. METODE POLIGON THIESSEN.
3. METODE ISOHYET.
1. METODE RATA-RATA
ALJABAR :
Merupakan metode paling sederhana untuk menghitung
hujan rata-rata yg jatuh di dalam & sekitar DAS ybs.
Hasilnya memuaskan jika daerahnya datar dan alat ukur
tersebar merata serta curah hujan tidak bervariasi
banyak dari harga tengahnya dan distribusi hujan
relatif merata pada seluruh DAS.
Penempatan stasiun sebaiknya merata, makin banyak
stasiun hujannya akan makin banyak informasi
yang diperoleh tetapi biayanya lebih mahal.
Keuntungan : lebih obyektif jika dibandingkan dengan
metode Isohyet yang masih mengandung faktor subyektif.
Batas DAS 1 2 1 n
Stasiun hujan
P Pi
n n i 1
``````` P = hujan rata-rata DAS.
Pi = tinggi curah hujan distasiun i, di mana : i = 1, …, n.
2. METODE POLIGON
DATA-DATA
THIESSEN :
- Metode ini memperhitungkan daerah pengaruh dari
masing-masing stasiun hujan asumsi :
hujan yang terjadi pada suatu luasan dalam DAS = hujan
yang tercatat di sta. terdekat jadi mewakili luasan tsb.
- Jumlah stasiun hujan minimum 3 buah.
- Penyebaran stasiun hujan bisa tidak merata.
- Tidak sesuai untuk daerah bergunung (pengaruh
orografis).
- DAS dibagi menjadi poligon dengan stasiun pengamat
hujan sebagai pusatnya.
- Apabila ada penambahan/ pemindahan stasiun pengamat
hujan, akan mengubah seluruh jaringan & mempengaruhi
hasil akhir perhitungan.
- Tidak memperhitungkan topografi.
- Metode ini lebih teliti dibandingkan dengan cara Aljabar.
1
Sudut lancip ●
∆
Letak Stasiun jauh,
tidak berpengaruh
Luas Daerah
pengaruh sta. 2
3 _
Rumus : P
AP n n
•
A n
• _
2
Garis poligon P hujanrata 2 DAS
Garis Poligon
Anak sungai
Stasiun hujan
●
CONTOH SOAL No. 1 :
DATA HUJAN HARIAN PADA TAHUN 2012, SEPERTI
DATA-DATA GAMBAR DI
BAWAH INI, DI MANA LUAS DAS 500 KM². HITUNG
HUJAN
RERATA DAS DENGAN METODE POLIGON THIESSEN !
mm
Luas daerah A
pengaruh sta. B
*
Garis
B 120 km²
poligon
40 B (40 mm) * C
mm
Stasiun hujan
as daer. pengaruh sta.A = 95 * A, B, C, D
as daer. pengaruh sta.C = 172 D mm
as daer. pengaruh sta.D = 113
Cara 1 :
Stasiun Hujan (mm) Luas Daerah Hujan x Luas
An Pengaruh, Pn Kolom 2x3
A 50 95 4.750
B 40 120 4.800
C 20 172 3.440
D 30 113 3.390
JUMLAH 500 16.380
_
P
AP n n
16.380
32,76mm
A n 500
HUJAN RATA-RATA DAS TAHUN 2012 = 32,76
mm.
Atau :
Stasiun Hujan (mm) Faktor Hujan x FP
Pn pembobot, FP (Pn x FP)
A 50 0,19 9,5
B 40 0,24 9,6
C 20 0,34 6,8
D 30 0,23 6,9
JUMLAH 1,00 32,8
E ●
127
Contoh Perhitungan Curah● B
Hujan Rata2 DAS : 97 mm
● ●C
D 170 mm
210 mm
TUGAS HIDROLOGI S1
1. Cari data hujan suatu DAS minimal sepanjang 25 tahun yang
mempunyai minimal 3 buah stasiun hujan (lengkap dengan
Gambar DAS).
2. Jika ada data curah hujan yang hilang, saudara harus melengkapi
dengan metode yang sesuai.
3. Dari data curah hujan tahunan, saudara diminta untuk meneliti
apakah data curah hujan tersebut konsisten ?. Lengkapi dengan
gambar, faktor koreksi & analisis regresi.
4. Cari curah hujan harian rata-rata DAS dengan menggunakan
metode poligon Thiessen !.
5. Dari hasil hujan harian maksimum dengan Metode Thiessen, cari
Hujan Rencana dengan metode yg sesuai (Distribusi Normal /
Gumbel / Log Pearson Tipe III) untuk periode ulang 10 – 100
tahun !.
6. Data hujan hasil pengukuran dilampirkan.
7. Tugas kelompok, masing-masing Kelompok 8 - 10 orang.
8. Presentasi dilaksanakan pada Sesi ke-6. Hard copy harus
diserahkan maksimal 3 hari sebelum presentasi.
1. Dari suatu DAS, dimana batas DAS nya merupakan garis penghubung
A,B,C,D,E, diketahui EA tegak lurus AB, BD tegak lurus DC dan EB
tegak lurus BD (ketiganya merupakan segitiga siku-siku samakaki).
Panjang AB = AE = 30 km, BE = BD. Y = Nilai terakhir NIM.
● ●
E:24Y mm D:25Y mm
154 mm 450 mm
Sta E di luar batas DAS,
tapi masih berpengaruh
Luas
Sta.
DATA-DATAFaktorThiessen
daerah
pngruh Hujan P
Pembobot Hujan DAS (mm)
Kolom 3 x 4
Hujan (Ha) (mm) (% dari luas total)
1 2 3 4 5
A 15 65 15/455 x 100% = 3,3 3,3% x 65 = 2
B 70 146 70/455 x 100% = 15.4 15,4% x 146 = 22
C 80 192 80/455 x 100% = 17,6 17,6% x 192 = 34
5 4
1
1 2 3 4 5
Isohyet Luas Bruto Luas Neto Rata Hjn antara 2 isohyet [Link]
mm Ha Ha mm Kolom 3x4
500 10 10 525 5.250
1
400 100 90 450 40.500
2
300 190 90 350 31.500
3
200 290 100 250 25.000
4 100 400 110 150 16.500
5 <100 455 55 80 4400
6
123.150