DERMATITIS
DISUSUN OLEH
JIHAN PAHIRA
MAWAN SETIAWAN
ANATOMI FISIOLOGI
definisi
Eksim atau sering disebut eksema,
atau dermatitis adalah peradangan
hebat yang menyebabkan
pembentukan lepuh atau
gelembung kecil (vesikel) pada
kulithingga akhirnya pecah
danmengeluarkan cairan.
Aspek epidemiologi
1. Global
Prevalensi dermatitis atopik (DA) secara global adalah 15-20%
pada anak-anak dan 1-3% pada dewasa dengan peningkatan
insidensi sekitar 2-3 kali lipat dalam beberapa dekade terakhir di
negara-negara industri. Insidensi DA tertinggi terjadi pada awal
masa kanak-kanak dan bayi, dimana 85% kasus DA muncul pada
tahun pertama kehidupan dan 95% kasus DA muncul sebelum usia
5 tahun.
Prevalensi DA yang tinggi banyak terjadi di Amerika serikat, Eropa
Utara dan Barat, Afrika perkotaan, Jepang, Australia dan negara
industri lainnya, namun prevalensi DA lebih sedikit pada negara
regio agrikultural seperti Cina dan Eropa Timur, Afrika bagian
pedesaan, dan Asia tengah.
2. Indonesia
Di Indonesia, menurut Kelompok Studi
Dermatologi Anak (KSDAI), angka prevalensi
kasus DA mencapai sekitar 23,67%, dimana DA
menempati peringkat pertama dari 10 besar
penyakit kulit anak, seperti moluskum
kontagiosum.
Etiologi
Penyebab dermatitis dapat berasal
dari luar(eksogen), misalnya bahan
kimia (contoh :detergen,asam, basa,
oli, semen), fisik (sinar dan suhu),
mikroorganisme (contohnya :
bakteri, jamur) dapat pula dari
dalam(endogen), misalnya
dermatitis atopik.
patofisiologi
pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit timbul
akibat kerusakan sel yang disebabkanoleh bahan iritan
melalui kerja kimiawi maupun fisik. Bahan iritan
merusak lapisan tanduk,dalam beberapa menit atau
beberapa jam bahan-bahan iritan tersebut akan
berdifusi melaluimembran untuk merusak lisosom,
mitokondria dan komponen-komponen inti sel.
Denganrusaknya membran lipid keratinosit maka
fosfolipase akan diaktifkan dan membebaskan
asamarakidonik akan membebaskan prostaglandin dan
leukotrin yang akan menyebabkan dilatasi pembuluh
darah dan transudasi dari faktor sirkulasi dari
komplemen dan system kinin. Juga akanmenarik
neutrofil dan limfosit serta mengaktifkan sel mast yang
akan membebaskan histamin, prostaglandin dan
leukotrin. PAF akan mengaktivasi platelets yang akan
menyebabkan perubahan vaskuler. Diacil gliserida akan
manifestasi klinis
subyektif ada tanda tanda radang akut
terutama priritus ( sebagai pengganti dolor).
Selainitu terdapat pula kenaikan suhu (kalor),
kemerahan (rubor), edema atau
pembengkakan dangangguan fungsi kulit
(function laisa).Obyektif, biasanya batas
kelainan tidak tgas an terdapt lesi polimorfi
yang dapat timbul scara serentak atau beturut-
turut. Pada permulaan eritema
[Link] sangat jelas pada klit yang
longgar misalya muka (terutama palpebra dan
bibir)dan genetelia eksterna .Infiltrasi biasanya
terdiri atas papul.
KLASIFIKASI
1.. Contact Dermatitis
Dermatitis kontak adalah dermatitis yang
disebabkan oleh bahan/substansi yang
menempel pada kulit.
2. Neurodermatitis
Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumstrip,
ditandai dengan kulit tebal dan garis
kulittampak lebih menonjol(likenifikasi)
menyerupai kulit batang kayu, akibat
garukan atau gosokanyang berulang-ulang
karena berbagai ransangan pruritogenik.
3. Seborrheich Dermatitis
Kulit terasa berminyak dan licin; melepuhnya sisi-sisi
dari hidung, antara kedua alis, belakang telinga serta
dada bagian atas. Dermatitis ini seringkali diakibatkan
faktor keturunan,muncul saat kondisi mental dalam
keadaan stres atau orang yang menderita penyakit saraf
sepertiParkinson.
4. Statis Dermatitis
Merupakan dermatitis sekunder akibat insufisiensi
kronik vena(atau hipertensi vena)tungkai bawah.
(Adhi Djuanda,2005).Yang muncul dengan adanya
varises, menyebabkan pergelangan kaki dan tulang
kering berubah warna menjadi memerah atau
coklat, menebal dan gatal. Dermatitis muncul
ketikaadanya akumulasi cairan di bawah jaringan
kulit. Varises dan kondisi kronis lain pada kaki
jugamenjadi penyebab.
5. Atopic Dermatitis
merupakan keadaan peradangan kulit kronis dan
resitif, disertai gatal yang umumnyasering terjadi
selama masa bayi dan anak-anaka, sering
berhubungan dengan peningkatan kadarIgE
dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga
atau penderita(D.A, rinitis alergik, atau asma
bronkial).kelainan kulit berupa papul gatal yang
kemudian mengalami ekskoriasi danlikenifikasi,
distribusinya dilipatan(fleksural).
Pencegahan primer
pencegahan primer yang dapat dilakukan setelah anak dilahirkan adalah
memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Ibu menyusui tidak perlu pantang
makanan kecuali terbukti penyebab timbulnya dermatitis atopik. Bila ibu tidak
memungkinkan untuk menyusui, maka bayi dengan bakat alergi dapat diberikan
susu formula hidrolisat parsial. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian susu
formula hidrolisat parsial dapat mencegah atau menunda timbulnya dermatitis
atopik dibandingkan dengan pemberian susu formula biasa. Namun demikian susu
formula hidrolisat parsial tidak dapat menggantikan kedudukan ASI sebagai pilihan
nutrisi pertama pada bayi. Pengenalan makanan padat tidak dilakukan sebelum
bayiberusia 4-6 bulan. Bukti ilmiah menunjukkan bahwa penundaan pengenalan
makanan padat setelah bayi berusia 4-6 bulan tidak mengurangi risiko
perkembangan penyakit alergi, baik pada bayi dengan ASI maupun bayi dengan
susu formula. Penundaan pengenalan makanan yang mempunyai risiko alergi tinggi
(seperti telur, kacang tanah, makanan laut) tidak mengurangi risiko timbulnya
penyakit alergi. Penghindaran asap rokok tetap dilakukan setelah anak lahir.
Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder penyakit alergi dilakukan bila anak sudah mengalami penyakit
alergi sehingga mencegah kekambuhan penyakit alergi. Dermatitis atopik pada bayi dan
anak harus diobati dengan tepat untuk mencegah alergi saluran pernapasan. Penyakit
alergi saluran pernapasan atas harus diobati untuk mengurangi risiko kejadian asma.
Anak-anak yang sudah terpajan dengan alergen didalam rumah, pajanan harus dikurangi
untuk mencegah timbulnya penyakit [Link] yang dapat dilakukan didalam rumah
untuk menghindari jamur adalah pastikan ventilasi baik sehingga ruangantidak lembab,
pendingin ruangan (air-conditioning) dibersihkan periodik, kamar mandi tidak lembab,
wall paper dalam ruangan lembab baiknya tidak dipakai lagi. Untuk menghilangkan
alergen tungau debu rumah,langkah yang dilakukan antara lain cover dan sprei kasur
diganti seminggu sekali dan dicuci dengan air hangat, tirai (gordyn) dicuci, hindari
meletakkan mainan diatas kasur, tidak menggunakan karpet, bahan kursi sofa baiknya
berbahan kulit agar mudah dibersihkan, pastikan sinar matahari masuk kedalam rumah
untuk mematikan tungau, Binatang berbulu tidak ditempatkan didalam rumah, apalagi
masuk ke kamar tidur. Eradikasi kecoa dan bersihkan tempat-tempat yang
memungkinkan kecoa hidup.
Pencegahan tersier
Pencegahan tersier penyakit alergi yang dilakukan
adalah tatalaksana penyakit alergi yang sudah timbul
untuk menghentikan perjalanan alergi. Bayi dengan
alergi susu sapi harus menghindari protein susu sapi.
Anak yang menderita asma, rinitis alergi, alergi pada
mata, dan dermatitis atopik dengan pencetus alergen
didalam rumah seperti tungau debu rumah, kecoa, dan
binatang berbulu,harus dihilangkan pajanan terhadap
alergen untuk mengontrol gejala dan mencegah
kekambuhan.
penatalaksanaan
1. Pengobatan topikal
Obat-obat topikal yang diberikan sesuai dengan
prinsip-prinsip umum pengobatan
dermatitisyaitu bila basah diberi terapi basah
(kompres terbuka), bila kering berikan terapi
kering. Makinakut penyakit, makin rendah
prosentase bahan aktif. Bila akut berikan
kompres, bila subakutdiberi losio, pasta, krim
atau linimentum (pasta pendingin ), bila kronik
berikan salep. Bila basah berikan kompres, bila
kering superfisial diberi bedak, bedak kocok,
krim atau pasta, bila keringdi dalam, diberi
salep.
2. Pengobatan sistemik
Pengobatan sistemik ditujukan
untuk mengontrol rasa gatal dan
atau edema, juga pada kasus-
kasus sedang dan berat pada
keadaan akut atau kronik
komplikasi
[Link] keseimbangan cairan
dan elektrolit
[Link] sekunder khususnya oleh
Stafilokokus aureus
[Link] atau
hipopigmentasi post inflamasi
[Link] parut muncul pada
paparan bahan korosif atau
ekskoriasi
farmakologi
Pada pasien dengan gejala yang lokal (mulut gatal,
urtikaria lokal, dan lain-lain) cukup diberikan
antihistamin oral difenhidramin 25–50 mg setiap 6–8
jam, atau cetrizin 5–10 mg/hari, atau loratidine 10-20
mg/hari).
Sementara pasien dengan gejala sistemik anafilaksis,
dapat diberikan epinefrin :
*Pada dewasa: 0,3–0,5 ml larutan 1:1.000
*Pada anak: 0,01 ml/kgBB larutan 1:1.000
Epinefrin diberikan secara intramuskular dan dapat
diulang setelah 10–15 menit. Selain itu, dapat ditambah
antihistamin parenteral difenhidramin 10–50 mg IV/IM
setiap 6–8 jam
Terapi Komplemeter
[Link] hygiene dengan air
rebusan daun sirih
[Link] lintah
Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan
kekeringan pada kulit
2. Nyeri berhubungan dengan kerusakan jaringan
lunak, erosi jaringan lunak.
3. Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan
imunitas
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan
pruritus
5. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan
penampakan kulit yang tidak bagus.
6. Kurang pengetahuan tentang program terapi
berhubungan dengan kurangnya informasi
Discharge planning
1. gunakanlah kosmetik hipo allergen
2. setelah mandi keringkan kulit dengan meneepuk nepuk bukan
menggosok
3. gunakanlah mild soap atau pengganti sabun
4. jangan mandi terlalu lama karena akan membuat kulit menjadi
kering
5. kenakan pelembab
6. hindari memakan telur atau pemaparan terhadap iritan seperti
detergen dan gunakandetergen yang tidak mengandung bahan
pemutih
7. jangan menggaruk atau menggosok kulit penderita yang sedang
menggunakan salep kortikesteroid atau krim
8. sebaiknya hanya mengoleskan pada bagian kulit yang
membutuhkan, lalu dipijat secara perlahan
Evidence Based-Pratice Terkait.
Artikel terkait.
Terapi Lintah sebagai Alternatif
Pengobatan pada Dermatitis Atopik
Sekian dan terimakasih