JURNAL READING MODUL EKSTRAKSI
DRY SOCKET: INSIDENSI, PENCEGAHAN DAN
PENATALAKSANAANYA
Jesslyn Gracia (041.213.069)
Toony H. Liwu (041.213.180)
Vega Hendrata (041.115.013)
Pembimbing: drg. Wintono K, [Link]
PENDAHULUAN
Dry Socket/ Alveolar Osteitis
Komplikasi yang relatif Penyakit self-limitting
umum terjadi paska bersifat akut dan
ekstraksi gigi menyakitkan
PENDAHULUAN
Blum mendeskripsikan alveolar osteitis sebagai sakit
postoperatif pada dan sekitar lokasi ekstraksi dimana
peningkatan rasa sakit dapat terjadi dalam hari
pertama sampai ketiga setelah ekstraksi, yang disertai
hancurnya bekuan darah dalam soket alveolar, dengan
atau tanpa halitosis.
GEJALA DAN TANDA KLINIS
Rasa sakit
menjadi paling
intens di 72
24 jam pertama setelah
ekstraksi gigi pasien
Rasa sakit bertambah parah
dan konstan sepanjang
jam setelah
melaporkan rasa sakit malam ekstraksi dan
bisa disertai
dengan
halitosis
GEJALA DAN TANDA KLINIS
Secara klinis, terlihat tidak terdapat bekuan darah di soket
dan tulang terekspos. Soket dapat terisi dengan campuran
air liur dan sisa-sisa makanan. Gingiva yang berdekatan
cenderung merah, meradang, edema dan hipersensitif
terhadap kontak
ETIOLOGI DAN INSIDENSI
Etiopatogenis yang pasti dari dry socket belum
jelas
Sampai saat ini teori mengatakan bahwa dry
socket terjadi karena adanya disintegrasi dari
bekuan darah oleh karena meningkatnya
aktivitas fibrinolisis.
ETIOLOGI DAN
INSIDENSI • Usia
• Pasien perokok
• Penggunaan
kontrasepsi oral
• Tingkat kesulitan
ekstraksi yang tinggi
• Trauma pada tindakan
ekstraksi
FAKTOR • Penyakit sistemik
RESIKO • Adanya perikoronitis
• Kondisi
imunosupresan
• Irigasi dan kuretasi
yang tidak adekuat
paska ekstraksi
• Kurangnya
pengalaman operator
PENCEGAHAN
Intervensi untuk AO berfokus pada pencegahan
daripada pengobatan.
Beberapa teknik telah digunakan dalam
pencegahan AO. Tindakan pencegahan saat ini
meliputi penggunaan agen antibakteri, antiseptik,
antifibrinolitik agen, antiinflamasi.
PENANGGULANGAN DRY SOCKET
Dry socket adalah kondisi
yang self-limiting. Namun,
karena keparahan rasa sakit
yang dirasakan pasien,
biasanya dibutuhkan
perawatan simptomatik.
Irigasi soket menggunakan
0,12-0,2% Chlorhexidine dan
instruksi dirumah irigasi
menggunakan syringe
PENANGGULANGAN DRY SOCKET
• Penempatan dressing seperti
Alvogyl (mengandung eugenol,
butamben & iodoform)
• Penempatan dressing obtudant
seperti ZnO, eugenol & gel
lidocaine; atau kombinasi obat-
obat tsb
• Ketika diperlukan dapat
diresepkan antibiotik sistemik.
The Royal College of Surgeons ,Inggris
mengeluarkan National Clinical Guidelines
pada 1997, tentang bagaimana dry socket
ditangani:
Pada beberapa kasus, radiografi harus diambil untuk
menghilangkan kemungkinan terdapat sisa akar atau
pecahan tulang sebagai sumber dari rasa sakit tsb,
biasanya pada kasus pasien baru dengan gejala tersebut.
Soket harus diirigasi menggunakan 0,12% Chlorhexidine
Digluconate untuk menghilangkan jaringan nekrotik dan
juga sisa makanan
Soket dapat diisi dengan dressing obtudant untuk mencegah
sisa makanan masuk kedalam soket dan mencegah iritasi lokal
dari tulang yang terekspos.
Dressing ini harus berfungsi sebagai anti bakteri dan anti
jamur, dapat diresobsi dan tidak menyebabkan iritasi lokal
atau merangsang reaksi peradangan.
Pasien diberikan analgesik AINS, apabila tidak terdapat
kontraindikasi pada catatan medis.
Pasien tetap diobservasi sampai sakit reda dan pasien dapat
diinstruksikan mengirigasi soket dengan Chlorhexidine
Digluconate 0,2% menggunakan syringe dirumah.
LAPORAN KASUS
Penelitian ini dilakukan di Departemen Oral dan
Maksilofasial Surgery, Jodhpur, India.
Sebanyak 30 pasien yang dilibatkan dalam studi ini.
10 pasien menerima gel chlorhexidine, 10 pasien
menerima gel ornidazole, dan 10 berada di bawah
kelompok kontrol.
Semua pasien menjalani ekstraksi dengan teknik yang
sama
Semua prosedur dilakukan dengan anestesi lokal
dengan 2% lignocaine oleh operator yang sama untuk
eliminasi bias
METODE
Setelah dilakukan ekstraksi, pada kelompok
eksperimen, gel chlorhexidine atau gel ornidazole
dimasukkan ke dalam soket menggunakan syringe
disposable
HASIL
Dalam studi ini, pasien dibagi menjadi tiga
kelompok berdasarkan penggunaan gel (gel
chlorhexidine,gel ornidazole dan kelompok
kontrol).
Dari 30 pasien, 3 pasien memiliki dry socket, 2
pasien dari kelompok kontrol, dan 1 pasien dari
kelompok uji chlorhexidine.
PEMBAHASAN
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa manajemen terbaik
dry socket tetap belum dikonfirmasi
Banyak literatur mengemukakan dry socket jarang terjadi
pada masa anak-anak dan insidensi meningkat seiring usia
pasien, serta pada pasien yang mengkonsumsi alkohol dan
rokok
Untuk mengurangi timbulnya dry socket, resiko pasien harus
dinilai sebelum ekstraksi dan setiap langkah-langkah
pencegahan harus dilaksanakan, seperti menghindari merokok
sebelum dan pasca operasi, dan teknik bedah meminimalisir
trauma dengan menggunakan irigasi soket berkali-kali.
PEMBAHASAN
Pencegahan terjadinya dry socket dapat dilakakukan
dengan penggunaan bio-adhesif gel chlorhexidine 0,2%
karena penempatan gel klorheksidin secara langsung ke
dalam soket akan memungkinkan lebih banyak aksi
langsung pada alveolus, serta bertahan lama karena
berbentuk gel
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk melihat peran
metronidazole dalam pencegahan dry socket, dan hasil
menunjukkan bahwa profilaksis metronidazole efektif untuk
mencegah dry socket.
KESIMPULAN
Dry socket adalah suatu kondisi self-limiting, penyebabnya
yang masih sulit dipahami.
Penanggulangan ditujukan untuk menghilangkan rasa sakit
pasien sampai penyembuhan dari soket terjadi.
Penyembuhan dipercepat melalui pengurangan sakit ke luka
oleh sisa-sisa makanan dan mikroorganisme, dengan irigasi
soket dengan menggunakan chlorhexidine, diikuti oleh
penempatan Alvogyl dan resepkan analgesik.
Pasien harus tetap diobservasi untuk memastikan rasa sakit
reda dan telah terjadi penyembuhan soket.
TERIMA KASIH