0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
242 tayangan38 halaman

Evaluasi Batuan Induk untuk Hidrokarbon

Batuan induk dievaluasi berdasarkan tipe material organik, tingkat kematangan, dan kualitas serta kuantitas. Tipe kerogen ditentukan langsung melalui pirolisis atau tidak langsung melalui analisis unsur dan mikroskopik. Tingkat kematangan diperkirakan dari reflektansi vitrinit dan Tmax. Kuantitas diukur dari TOC sedangkan kualitas dari tipe kerogen."

Diunggah oleh

KzrDannoBernaldo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
242 tayangan38 halaman

Evaluasi Batuan Induk untuk Hidrokarbon

Batuan induk dievaluasi berdasarkan tipe material organik, tingkat kematangan, dan kualitas serta kuantitas. Tipe kerogen ditentukan langsung melalui pirolisis atau tidak langsung melalui analisis unsur dan mikroskopik. Tingkat kematangan diperkirakan dari reflektansi vitrinit dan Tmax. Kuantitas diukur dari TOC sedangkan kualitas dari tipe kerogen."

Diunggah oleh

KzrDannoBernaldo
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SOURCE ROCK

EVALUATION
Kelompok 4
Agastyan Bagas K. S. 111170089
Wurianindya Pratiwi 111170094
Maulana Fahri S. U. 111170101
Irsyad Dhiya F. P. 111170102
Dinantina Ahyani W. 111170104
CONTENTS

01 PENDAHULUAN

02 EVALUASI BATUAN INDUK

03 KESIMPULAN
PENDAHULUAN

Menurut Waples (1985), batuan induk merupakan batuan sedimen berbutir halus
yang kaya akan material orgnik dan mampu menghasilkan hidrokarbon.
PENDAHULUAN
Berdasarkan Kualitasnya Batuan Induk Dibagi 3:

1. Batuan induk efektif adalah merupakan batuan dengan materi organik yang
sedang menghasilkan dan mengeluarkan hidrokarbon untuk membentuk
akumulasi hidrokarbon dalam jumlah yang ekonomis.
2. Batuan induk possible adalah merupakan batuan sedimen yang memiliki
kemungkinan membentuk dan mengeluarkan hidrokarbon, namun belum pernah
dievaluasi potensinya.
3. Batuan induk potential adalah batuan yang mengandung materi organik
dalam jumlah yang cukup untuk menghasilkan dan mengeluarkan hidrokarbon
hanya jika kematangan atas kenaikan temperatur terpenuhi.
• Sebuah batuan dapat diidentifikasi sebagai batuan induk apabila syarat-syarat sebagai batuan induk
itu sendiri terpenuhi. Batuan induk yang baik harus mempunyai:
1. kuantitas material organik yang cukup,
2. kualitas untuk menghasilkan hidrokarbon,
3. mengalami kematangan secara termal.
• Kuantitas material organik dan kualitas material organik sendiri merupakan produk hasil
pengendapan, sedangkan tingkat kematangan termal merupakan fungsi dari sejarah struktur maupun
tektonik pada suatu wilayah. Kuantitas material organik umumnya dinilai dengan melakukan
pengukuran terhadap karbon organik total (TOC) yang terkandung dalam batuan. Kualitas material
organik ditentukan dengan mengetahui tipe kerogen yang terkandung dalam material organik.
Kerogen secara singkat dapat didefinisikan sebagai material organik dalam batuan induk yang
menghasilkan minyak ketika terpanaskan.
• Sementara itu, tingkat kematangan termal material organik umumnya diperkirakan dengan
menggunakan pengukuran reflektansi vitrinit dandata dari analisis pirolisis yang berupa data Tmax.
Potensi batuan induk dalam menghasilkan hidrokarbon sendiri dapat diketahui dengan melakukan
evaluasi batuan induk. Evaluasi batuan induk yang umum dilakukan meliputi penentuan kuantitas
material organik, kualitas material organik, dan tingkat kematangan material organik.
 Menentukan Tipe Material Organik

 Menentukan Kematangan

 Kualitas dan Kuantitas Batuan Induk


1. Menentukan Tipe Material Organik
• Metode Langsung (Pyrolisis)
Metode ini menggunakan S1,S2,S3 (HI = S2/TOC x 100) (OI = S3/TOC x 100) untuk mendapatkan harga
Hidrogen Indeks dan Oksigen Indeks. Harga ini kemudian akan diplotkan ke dalam diagram Van Krevelen,
sehingga kita dapat menentukan jenis hidrokarbon dan kerogennya. Murah dan cepat, tapi berbahaya jika hanya
menggunakan metode ini.
Penentuan tipe kerogen dapat digunakan untuk menentukan kualitas, kualitas yang
dimaksud adalah tipe material organik yang terkandung. Tipe material organik
merupakan penentu sifat dasar dari produk petroleumnya, minyak atau gas. Seperti
yang telah disebutkan bahwa material organik dalam batuan induk yang
menghasilkan minyak (pada keadaan yang memenuhi syarat) disebut dengan
[Link] (1985) mendefinisikan kerogen secara spesifik,yaitu bagian dari
material organik dalam batuan sedimen yang tidak larut dalam asam oksidasi,basa
dan pelarut organik biasa. Sifat tidak larut ini dipengaruhi oleh ukuran molekulnya.
Metode Tidak Langsung
• TOC ANALYSIS
Pengukuran dibuat pada sampel core, dimana tidak menggambarkan keseluruhan dari core. Metode ini
baik digunakan apabila ingin mengetahui kandungan organic secara presisi pada satu litologi.
• MICROSCOPIC KEROGEN-TYPE ANALYSIS
Pengamatan mikroskopik partikel kerogen dengan menggunakan sinar transmisi di bawah mikroskop.
Hasil pengamatan ini akan berbeda pada setiap pengamat, akan tetapi pengamat yang berpengalaman
dapat menentukan dengan cepat dan tepat.
• ELEMENTAL ANALYSIS
Analisis unsur sangat berguna dalam menentukan tipe kerogennya, akan tetapi memakan waktu yang
banyak. Pengamatan ini bertujuan untuk menentukan rasio H/C dan O/C.
PARAMETER
• KEROGEN
Penentuan oil window di bagian tertentu adalah tujuan dari sebagian besar analisis kematangan
yang dilakukan pada batuan induk. Aplikasi kedua, yang kurang umum adalah untuk memutuskan
apakah minyak akan stabil di reservoir yang diberikan. Batas-batas oil window sangat bervariasi
tergantung pada jenis bahan organik yang diubah bentuknya. Namun demikian, untuk sebagian besar
kerogen, onset generasi minyak dianggap mendekati 0,6% Ro. Generasi puncak dicapai di dekat 0,9%
Ro, dan akhir generasi hidrokarbon cair diperkirakan sekitar 1,35% Ro. Batas akhir stabilitas minyak tidak
diketahui secara pasti, tetapi dalam banyak kasus mungkin tidak jauh di atas 1,5% Ro.
Karena reflektansi vitrinit adalah metode yang paling populer untuk menentukan kematangan,
sebagian besar parameter pematangan lainnya terkait dengan nilai-nilai Ro. Korelasi antara parameter
kematangan telah cukup stabil, tetapi masih ada beberapa variasi kecil dari satu laboratorium ke
laboratorium lainnya.
• BITUMEN
Indeks Preferensi Karbon tidak dapat digunakan sebagai indikator kematangan yang baik, artinya, tidak ada
korespondensi antara CPI dan tingkat kematangan. Nilai CPI di atas 1,2 atau di bawah 0,8 menunjukkan belum
matang. Rasio DPEP dengan etio-jenis porfirin digunakan sebagai parameter kematangan. Rasio DPEP / etio
telah dikalibrasi untuk reflektansi vitrinit, tetapi Mackenzie (1984) telah menyarankan bahwa kalibrasi tidak
universal.
Pada Analisa Rock Eval pyrolysis akan menghasilkan beberapa parameter :
• S1 (free hydrocarbon)
S1 menunjukkan jumlah hidrokarbon bebas yang dapat diuapkan tanpa melalui proses
pemecahan kerogen. Nilai S1 mencerminkan jumah hidrokarbon bebas yang terbentuk secara
insitu (indigenous hydrocarbon) karena kematangan termal maupun karena adanya akumulasi
hidrokarbon dari tempat lain.
• S2 ( pyrolisable hydrocarbon)
S2 menunjukkan jumlah hidrokarbon yang dihasil melalui proses pemecahan kerogen yang
mewakili jumlah hidrokarbon yang dapat dihasilkan batuan selama proses pematangan secara
alamiah. Nilai S2 menyatakan potensi material organic dalam batuan yang dapat berubah
menjadi petroleum. Harga S1 dan S2 diukur dalam satuan mg hidrokarbon/gram batuan.
• S3
S3 menunjukkan jumlah kandungan CO2 yang hadir di dalam batuan. Jumlah CO2 ini dapat
dikorelasikan dengan jumlah oksigen di dalam kerogen karena menunjukkan tingkat oksidasi
selama diagenesis.
3. Menentukan Kualitas & Kuantitas
Batuan Induk
• Kuantitas atau jumlah material organik yang terdapat didalam batuan dinyatakan sebagai
karbon organik total atau dikenal dengan Total Organic Carbon (TOC).
• TOC didefinisikan sebagai jumlah karbon organik yang dinyatakan sebagai persen berat
dari batuan kering(dryrock).
• Nilai TOC digunakan sebagai salah satu parameter untuk tahap seleksi awal terhadap
batuan sehingga dapat dipisahkan antara batuan yang berpotensi dan tidak berpotensi
sebagai batuan induk.
• Karbon organik yang dimaksud merupakan karbon yang berasal dari zat organic.
• TOC digunakan sebagai salah satu parameter karena pada umumnya hidrokarbon
mengandung 75-95% karbon berat molekul dengan rata-rata mengandung 83% molekul
karbon. Terdapat nilai TOC minimum untuk menyatakan suatu batuan sedimen dapat
menjadi batuan induk. Nilai TOC minimum ini pun tidak sama menurut beberapa peneliti.
NILAI TOC (%) IMPLIKASI SEBAGAI BATUAN INDUK

< 0,5 Kapasitas sebagai batuan induk kurang atau memiliki potensi yang
rendah.

0,5-1 Kapasitas sebagai batuan induk terbatas atau kemungkinan sedikit


berpotensi.

1-2 Kapasitas sebagai batuan induk sedang atau kemungkinan cukup


berpotensi.

>2 Kapasitas sebagai batuan induk baik atau kemungkinan


berpotensi baik sampai sangat baik.

Klasifikasi batuan induk berdasarkan TOC menurut Waples (1985)


• Kerogen dalam batuan yang mengandung TOC kurang dari 1% umumnya teroksidasi, dan
karenanya berpotensi sumber terbatas.
• Batuan yang mengandung TOC lebih dari 1% sering memiliki potensi sumber yang besar.
Dalam beberapa batu, nilai TOC antara 1% dan 2% dikaitkan dengan lingkungan
pengendapan antara oksidasi dan reduksi, di mana pelestarian bahan organik kaya lipid
dengan sumber potensial untuk minyak dapat terjadi.
• Namun, banyak batuan dengan nilai TOC tinggi, memiliki sedikit potensi sumber minyak,
karena kerogen yang dikandungnya sangat teroksidasi.
• Dengan demikian nilai TOC yang tinggi adalah kriteria yang diperlukan tetapi tidak cukup
untuk batuan sumber yang baik.
\ • Semakin besar nilai indeks hidrogen (HI) maka batuan induk
memiliki tipe kerogen I atau II, sedangkan semakin besar nilai
indeks oksigen (OI) maka batuan induk memiliki tipe kerogen
III
• (HI = S2/TOC x 100)
• (OI = S3/TOC x 100)
• Kerogen tipe I (alga) memiliki kandungan hidrogen tertinggi
karena memiliki beberapa cincin atau struktur aromatik.
• Tipe II (liptinitic) kerogen juga tinggi hidrogen.
• kerogen tipe III (humic) memiliki kandungan hidrogen yang
lebih rendah. Kerogen tipe III memiliki kandungan oksigen
yang tinggi karena terbentuk dari lignin, selulosa, fenol, dan
karbohidrat.
• Tipe IV kerogen memiliki kandungan hidrogen terendah.
Kerogen tipe IV sangat teroksidasi dan karena itu
mengandung oksigen dalam jumlah besar.
• Sebaliknya, tipe I dan tipe II mengandung jauh lebih sedikit
oksigen karena mereka terbentuk dari bahan lipid yang miskin
oksigen.
Penilaian parameter ( After Merrill, 1991)
TIPE-TIPE KEROGEN
TIPE KEROGEN I

Kerogen tipe I cukup langka karena berasal dari alga lacustrine. Contoh paling terkenal
adalah Green River Shale, dari zaman Eosen tengah, dari Wyoming, Utah, dan Colorado.
Keadaan kerogen Tipe I terbatas pada danau anoksik dan beberapa lingkungan laut yang
tidak biasa. Kerogen tipe I memiliki kapasitas generatif tinggi untuk hidrokarbon cair

TIPE KEROGEN II
Kerogen tipe II berasal dari sumber yang sangat berbeda, termasuk ganggang laut, serbuk sari dan
spora, lilin daun, dan resin fosil. Mereka juga termasuk kontribusi dari lipid sel bakteri. Berbagai jenis
Kerogen II dikelompokkan bersama, meskipun asal usulnya sangat berbeda, karena semuanya
memiliki kapasitas besar untuk menghasilkan hidrokarbon cair dan gas. Kebanyakan tipe II kerogen
ditemukan di sedimen laut yang diendapkan pada kondisi reduksi.
TIPE KEROGEN III
Tipe III kerogen terdiri dari bahan organik terestrial yang kurang komponen lemak atau lilin.
Selulosa dan lignin adalah kontributor utama. Kerogen tipe III memiliki kapasitas
hidrokarbon-generatif yang jauh lebih rendah daripada kerogen Tipe II dan biasanya
dianggap menghasilkan terutama gas.

TIPE KEROGEN IV

Kerogen tipe IV terutama mengandung puing-puing organik dan bahan yang sangat teroksidasi dari berbagai
asal. Mereka umumnya dianggap tidak memiliki potensi sumber hidrokarbon
Sumber potensi kerogen berdasarkan indeks hidrogen
MENENTUKAN KEMATANGAN BATUAN INDUK
Banyak metode yang dikembangkan akhir-akhir ini yang dapat dipergunakan untuk
menentukan kematangan material organik yang terkandung di dalam batuan induk.
Kematangan material organik dapat diidentifikasi melalui beberapa metode:
1. Reflektansi Vitrinit (Ro)

2. Warna spora atau Indeks Alterasi Termal (TAI),

3. Temperatur Pirolisis (Tmaks).

4. Electron Spin Resonance (ESR)

5. Carbon Preference Index (CPI)

6. Conodont Alteration Index (CAI)

7. Kerogen Fluorescence

8. Polycyclic Biomarkers

9. Porphyrins

10. Bitumen Fluorescence

11. Light Hydrocarbon.


*yang warna merah masih dalam tahap pengembangan &
Hanya dipakai laboratorium tertentu
Reflektansi Vitrinit (Ro)

• Reflektansi vitrinit (Ro) merupakan salah satu parameter kematangan. Ini


didasarkan pada fakta bahwa kenaikan temperatur akan meningkatkan kilap atau
reflektansi dari maseral vitrinit. Reflektansi vitrinit adalah indikator kematangan
batuan induk yang paling sering digunakan, dilambangkan dengan Ro (Reflectance
in oil). Nilai Ro untuk mengukur partikel-partikel vitrinite yang ada dalam sampel
amat bervariasi. Untuk menjamin kebenaran pengukuran, maka penentuan nilai
Ro diperlukan secara berulang pada sampel yang sama. Bila distribusi dari vitrinite
reflectance adalah bimodal, maka ada kemungkinan telah terjadi reworking
KLASIFIKASI REFLEKTANSI VITRINIT

• %Ro < 0.55 belum matang (immature)


• 0.55 < %Ro < 0.8 telah menghasilkan minyak dan gas bumi
• 0.8 < %Ro < 1.0 minyak berubah menjadi gas bumi (zona kondensat gas)
• 1.0 < %Ro < 2.5 dry gas
• Penentuan reflektansi vitrinit dimulai dengan
pengisolasian kerogen dengan menggunakan
HCl dan HF, kemudian menempatkan partikel
kerogen di dalam suatu sumbat (plug). Setelah
sumbat tersebut dipoles, maka dengan
menggunakan mikroskop refleksi dilakukan
pengamatan partikel vitrinit secara individu.
Sinar yang dipantulkan dikumpulkan secara
otomatis di dalam suatu komputer. Jika
mungkin, maka pengukuran antara 50 dan 100
·
partikel vitrinit dianggap baik. Pada akhir
analisis, suatu histogram dari data yang
terkumpul akan dicetak, bersama dengan data
analisis statistik

Gambar Pengeplotan reflektansi vitrinit versus kedalaman. Plot pada semilog


menghasilkan garis lurus jika tidak ada ketidak selarasan atau peristiwa termal (Waples,
1985)
Thermal Alteration Index (TAI)

• Indeks alterasi termal (TAI) merupakan indikator kematangan yang dilakukan dengan
melakukan analisis perubahan warna palinomorf. Pertambahan gelap partikel
kerogen dengan bertambahnya kematangan termal dapat digunakan sebagai
indikator kematangan.
• Meskipun penentuan TAl subyektif, penggunaan standar yang hati-hati dan
palinomorf yang jenisnya sama dalam setiap analisis sangat membantu
reproduksibilitas. Pengukuran TAl seringkali cukup akurat dan berkorelasi sangat baik
dengan hasil dari yang lain teknik. Masalah utama muncul dengan yang tidak
berpengalaman pekerja, kurangnya standardisasi yang tepat, atau paling umum,
tidak adanya spora dan serbuk sari dalam sampel. ketika palynomorph tidak ada, nilai
TAl harus diestimasidari puing-puing amorf, yang dapat sangat bervariasidalam sifat
kimia dan fisiknya. Nilai TAl diperkirakandari bahan amorf selalu diperhatikan dan
harus dikuatkan oleh analisis lain.
Temperatur Pirolisis (Tmax)
• Temperatur pirolisis biasa digunakan sebagai indikator kematangan, dikarenakan
kematangan kerogen meningkat, temperatur dimana rata rata maksimum
terjadinya pyrolysis meningkat.
• Parameter T maks (suhu di mana puncak S2 mencapai maksimum) telah menjadi
bagian standar dari data keluaran Rock-Eval
• ada beberapa masalah yang terkait T max data dan interpretasinya. Misalnya,
Tmax bergantung pada jenis kerogen. Karena biasanya tipe kerogen bervariasi
dari sampel ke sampel dalam profil sumur, T maks seringkali tidak menunjukkan
perkembangan teratur dengan kedalaman
Conodont Alteration Index (CAl).

Keuntungan CAl dibanding parameter kematangan lainnya adalah karena konodont ada sejak Cambrian,
conodont memberikan cara untuk mengukur kematangan dalam batuan yang tidak mengandung
vitrinit. Conodonts banyak terdapat pada batuan karbonat, di mana vitrinit sering tidak [Link] CAl
paling sensitif pada tingkat kematangan jauh lebih tinggi daripada yang dapat diukur dengan TAl, dan
dengan demikian membantu memperluas kisaran di mana kematangan dapat diukur. Akhirnya, CAl
mudah diukur dan dengan bantuan bagan warna yang diklasifikasikan oleh Epstein et al. (1977)
kelemahan pengukuran CAl adalah bahwa nilai CAl dapat meningkat secara dramatis pada air asin
panas, yang mengarah ke penilaian yang tidak akurat tentang kematangan. Conodonts tidak terjadi
pada batuan yang lebih muda dari Trias, dan dengan demikian tidak bernilai di banyak daerah. Mereka
biasanya diisolasi hanya dari karbonat fosil. Conodonts bukan indikator kematangan yang sangat sensitif
di dalam generasi oil window. Karena metamorfisme organik yang ditunjukkan oleh conodonts tidak
terkait dengan pembentukan atau perusakan hidrokarbon, CAl hanya merupakan indikator tidak
langsung dari kematangan hidrokarbon.
ELECTRON-SPIN RESONANCE (ESR)
• Dalam beberapa tahun terakhir ESR jarang digunakan sebagai parameter
kematangan karena kompleks dalam menafsirkan data yang diukur. Marchand
dan Conard (1980) berkomentar bahwa hanya intensitas sinyal ESR yang berguna
untuk aplikasi batuan induk, parameter lain terlalu buruk dipahami sebagai nilai.
Namun, bahkan intensitas sinyal dipengaruhi oleh faktor-faktor selain
kematangan (seperti jenis kerogen) yang membuatnya sulit untuk diterapkan
tanpa mendukung data dari teknik lain, seperti analisis unsur atau pirolisis.
INDEKS PREFERENSI KARBON (CPI)
• Indikator kematangan pertama yang diterapkan pada sedimen adalah Indeks
Preferensi Karbon. Investigasi awal menunjukkan bahwa batuan yang tidak
matang sering memiliki nilai CPI yang tinggi (> 1,5), sedangkan minyak hampir
selalu di bawah 1,2. Penemuan ini menyebabkan penggunaan CPI sebagai
indikator kematangan. Kemudian disadari bahwa penurunan CPI dengan
meningkatnya kematangan tergantung pada jenis bahan organik yang ada pada
saat kematangan.
Kerogen Fluorescence.

• Fluoresensi paling berguna untuk penentuan kematangan kerogen ketika


pengukuran dilakukan pada konstituen alga tertentu, seperti Tasmanite. Namun,
material semacam itu cukup langka di sebagian besar sampel. Selain itu, sebagian
besar fluor menghilang atau menjadi tidak berguna sebagai indikator kematangan
lebih awal, pada tingkat pemantulan sekitar 1%. Di masa depan jangkauan
penerapannya dapat diperluas. Ini belum tersedia secara umum berdasarkan
komersial dan hanya digunakan oleh beberapa laboratorium.
Polycyclic Biomarker
• Masalah endemik untuk semua kematangan kerogenIndikatornya adalah mereka
tidak mengukur secara langsung generasi hidrokarbon atau perubahan fraksi
bitumen
• Metode ini mengaplikasi data gc / ms beberapa tahun yang lalu untuk mengukur
kematangan bitumen dan minyak langsung dari distribusi sterane dan triterpene
• Saat disempurnakan, teknik-teknik ini diharapkan untuk menggantikan sebagian
besar indikator kematangan-kerogen. Sayangnya, aplikasi aktual dari data gc / ms
hingga jatuh tempo pertanyaan terbukti lebih sulit dan lebih mahal.
• Migrasi terkadang menjadi permasalahan dalam penentuan biomarker tersebut.
Porphyrins

• Porfirin jarang digunakan sebagai parameter kematangan, karena teknologi yang


diperlukan mahal dan masih dalam pengembangan. Analisis itu sulit, dan
interpretasi tidak selalu langsung. Untuk pengukuran yang paling berarti, nikel dan
vanadyl harus dipisahkan sebelum dianalisis karena laju reaksinya yang berbeda.
Bitumen Fluorescence

• Fluoresensi bahan organik yang dapat diekstraksi telah digunakan sebagai


parameter kematangan oleh Hagemann dan Hollerbach (1983),
• tetapi harus tetap dianggap sebagai teknik yang sedang dikembangkan.
Perubahan panjang gelombang fluoresensi dalam oil window telah dicatat, tetapi
tidak ada korelasi umum dengan parameter kematangan lainnya yang telah
dilakukan.
LIGHT HIDROCARBONS

• Konsentrasi cahaya-hidrokarbon sering digunakan sebagai indikator langsung


pembuatan hidrokarbon.
• Konsentrasi berbagai spesies C2 sampai C8 telah ditemukan meningkat satu
hingga tiga orde besarnya selama generasi minyak yang intens.
• Penggunaan hidrokarbon ringan membutuhkan pengambilan sampel terperinci di
seluruh bagian untuk membuat data yang baik.
THANKS
Thanks for watching.

Anda mungkin juga menyukai