Cacat Pembentukan Logam
Pengertian Pembentukan Logam
Pembentukan logam atau metalforming adalah proses melakukan perubahan bentuk
pada benda kerja dengan cara memberikan gaya luar sehingga terjadi deformasi
plastis
*Konsep dasar pembentukan logam
Klasifikasi Pembentukan Logam
Metal forming
Bulk Sheet
Deformation Metalworking
Forging Drawing Bending Spinning
Extrusion Drawing Shearing
Rolling (deep
drawing)
Cacat Akibat Pembentukan Logam
A. Beberapa Cacat yang Terjadi Pada Proses
Rolling
1. Wavy Edge
Wavy edge atau edge wrinkling terjadi karena rol yang melengkung.
Rol yang melengkung menyebabkan plat menjadi lebih tipis pada bagian
tepinya. Bagian tepi plat yang lebih tipis akan bertambah panjang,
sedangkan bagian tengah plat yang masih tebal tidak akan bertambah
panjang. Konsekuensinya bagian yang tipis pada plat akan melengkung
akibat keinginannya bertambah panjang terhalang oleh bagian tebal yang
tidak bertambah panjang.
Sebenarnya pada
flat rolling selalu
terjadi lengkungan
pada rol yang
digunakan. Untuk
mengatasi hal
tersebut, rol didesain
dengan diameter
yang tidak seragam.
Diameter bagian
tengah rol didesain
lebih besar dibanding
dengan diameter
bagian tepi rol.
Namun apabila selisih
antara diameter
bagian tengah rol
dengan diameter
bagian tepi rol kurang
besar, maka wavy
2. Sobek atau retak pada bagian tepi
Sobek atau retak pada bagian tepi terjadi karena sifat ductile dari
material yang digunakan buruk. Sobek pada tepi plat atau sheet bisa
berdampak buruk pada proses pembentukan (forming) selanjutnya.
Untuk mencegah hal tersebut, biasanya tepian yang sobek dipotong
terlebih dahulu.
Sobek pada bagian tepi plat juga bisa terjadi karena desain dari rol
yang kurang tepat. Selisih antara diameter bagian tengah rol dengan
diameter bagian tepi rol yang terlalu besar menyebabkan terjadinya
sobekan atau retakan di bagian tepi plat.
3. Sobek atau retak pada bagian tengah
Sobek atau retak pada bagian tengah terjadi karena sifat ductile dari
material yang digunakan buruk. Cacat ini juga bisa terjadi karena desain
rol yang kurang tepat. Selisih antara diameter bagian tengah rol dengan
diameter bagian tepi rol yang terlalu kecil menyebabkan terjadinya
sobekan atau retakan di bagian tengah plat.
4. Alligatoring
Alligatoring merupakan fenomena kompleks dan biasanya disebabkan
oleh perubahan bentuk yang tidak seragam pada billet selama proses
rolling. Alligatoring juga bisa disebabkan oleh kualitas material tuang
(bahan baku) yang buruk. Cacat ini bentuknya menyerupai buaya yang
sedang membuka mulutnya. Oleh karena itu cacat ini diberi istilah
alligatoring.
5. Warping
Warping disebabkan karena diameter bagian tengah rol kurang besar.
Bagian tengah rol pada flat rolling harus memiliki diameter yang lebih
besar daripada bagian tepi rol. Sehingga apabila selisih diameter bagian
tengah rol dengan diameter bagian tepi rol tidak cukup besar, maka bisa
terjadi warping.
6. Timbul tegangan sisa di mana bagian tepi
mengalami tekan dan bagian tengah mengalami tarik
Tegangan sisa di mana bagian tepi mengalami tekan dan bagian tengah
mengalami tarik terjadi karena desain rol yang kurang tepat.
Ketidaktepatan desain rol tersebut berupa selisih antara diameter bagian
tengah rol dengan diameter bagian tepi rol yang kurang besar.
7. Timbul tegangan sisa di mana bagian tepi
mengalami tarik dan bagian tengah mengalami tekan
Tegangan sisa di mana bagian tepi mengalami tarik dan bagian tengah
mengalami tekan disebabkan karena selisih antara diameter bagian
tengah rol dengan diameter bagian tepi rol terlalu besar.
8. Wrinkling di bagian tengah
Seperti yang telah diuraikan di atas, bagian tengah rol pada flat rolling
harus memiliki diameter yang lebih besar daripada bagian tepi rol.
Namun apabila diameter bagian tengah rol terlalu besar (atau selisih
antara diameter bagian tengah dengan diameter bagian tepi terlalu
besar), hal itu bisa menyebabkan wrinkling di bagian tengah.
9. Splitting
Splitting terjadi karena selisih antara diameter bagian tengah rol dengan
diameter bagian tepi rol terlalu besar.
[Link] yang Terjadi pada Produk Tempa
1. Retak permukaan
Retak permukaan terjadi karena kesalahan penempaan dan rancangan
cetakan.
2. Lipatan
Lipatan terbentuk karena terjadi tekukan (buckling) pada web ketika
proses penempaan. Cacat ini disebabkan oleh kurangnya volume bahan
baku sehingga tidak mampu memenuhi rongga cetakan.
[Link] internal
Retak internal terjadi karena volume bahan baku terlalu banyak. Bahan baku yang
terlalu banyak mengakibatkan ukuran web terlalu tebal dan akan menyisakan
beberapa volume bahan. Sisa bahan tersebut kemudian mengalir melewati bagian
yang telah terbentuk sehingga menimbulkan retak internal. Selain karena masalah di
atas, retak internal mungkin juga bisa terjadi karena:
(1) Perubahan bentuk bahan yang tidak seragam ketika mengisi rongga
cetakan.
(2) Perbedaan suhu pada benda kerja selama proses penempaan
berlangsung.
(3) Perubahan struktur mikro yang disebabkan oleh perubahan fase.
4. Produk tempa yang tidak selesai
Produk tempa yang tidak selesai dapat terjadi karena kurangnya bahan baku atau
buruknya aliran logam.
5. Produk tempa yang tidak pas
Produk tempa yang tidak pas terjadi akibat posisi cetakan satu dengan cetakan lain
tidak tepat.
[Link] lubang-lubang kerak pada permukaan produk tempa
Lubang-lubang kerak muncul akibat penekanan pada kerak ketika pemukulan
(penempaan) dilakukan.
[Link] kerja terlalu panas
Benda kerja yang terlalu panas terjadi akibat pemanasan yang kurang tepat.
[Link]-garis serat yang kacau
Garis-garis serat menjadi kacau akibat laju plastis dari logam yang terlalu cepat.
C. Cacat yang Terjadi Pada Bending
1. SPRINGBACK
Springback terjadi karena semua benda - benda memiliki
modulus tertentu dari elastisitas, perubahan logam diikuti
dengan pemulihan lenting pada pulihan beban. Dalam
pembentukan, pemulihan ini dikenal sebagai springback., sudut
lengkung akhir setelah diberi kekuatan tekanan/pembentukan
lebih kecil dan radius lengkung akhir lebih besar dari yang
sebelumnya. Sudut lengkung yang dihasilkan menjadi lebih
besar setelah pembentukan dilakukan. Kegagalan springback
negatif dapat berupa kembalinya bentuk benda menuju ke
bentuk semula.
2. SOBEK
Kegagalan ini disebabkan karena keelastisan benda yang
kurang atau pada saat pembentukan terjadi tumbukan yang
terlalu besar sehingga benda yang dibentuk menerima tekanan
lebih yang menyebabkan sobek. Umumnya sobek terjadi pada
pengerjaan yang menggunakan benda plat atau piringan.
3. PATAH
Salah satu kegagalan dalam proses pembendingan yaitu
patah. Penyebab patah antara lain terlalu kerasnya benda yang
dibentuk. Benda yang didorong atau ditekan dalam cetakan tidak
memiliki elastisitas yang cukup, sehingga tekanan yang
dilakukan bukan membentuk tapi mematahkan
Terimakasih Semoga
Bermanfaat…