BAHASA INDONESIA
RPP 6 - 12
Ahsanul Hakim
8C / 4
Identifikasi buku
Nama novel : Edensor (buku ketiga dari
tetralogi Laskar Pelangi )
Penulis : Andrea Hirata
Cetakan : Pertama, Mei 2007
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Jumlah Halaman : 294
RPP 6 : Intrinsik
Tema : Perjalanan
Alur : Campuran (maju dan mundur (flashback))
Sudut Pandang : Orang pertama pelaku utama (Aku)
Tokoh : Ikal (utama), Arai (utama) , Orang tua Ikal, Weh, Mak
Birah, Haji Satar, Taikong Hamim, A Ling, A Miauw, Zakiah
Nurmala, Famke Somers, Simon Van der Wall, Erika Ingerborg,
Michaella Woodward, Dr. Woodward, Maurent LeBlanch,
Stansfield, Townsend, Marcus Holdvessel, Christian Diedrich,
Katya Kristanaema, Saskia de Roojis, Marike Ritsema, Abraham
Levin, Y’hudit Oxxenberg, Yoram Ban Mazuz, Becky Avshalom,
Monahar Vikram Raj Chauduri Manooj, Gonzales,
Ninochka,Alessandro D’Archy, Jean Pierre Minot, Sebastian
Delbonnel, Patrick N’dumu, Chevalier, Pak Toha
Latar (Tempat)
I. Tanjung Pandan
II. Bogor
III. Prancis
IV. Italia
V. Rusia
VI. Estonia
VII. Spanyol
VIII. Islandia
IX. Swiss
X. Inggris
XI. Perbatasan Nigeria-Mali
XII. Zaire
XIII. Yunani
XIV. Negara-negara Balkan
XV. Rumania
Latar (Waktu)
I. Berminggu-minggu
II. Hari pertama tanggal 23 Oktober waktu itu, pukul
setengah dua belas malam
III. Tengah malam
IV. Siang
V. Malam hari
VI. Dini hari
VII. Waktu Minggu pagi
VIII. Waktu Sholat Jum’at
IX. Malam terakhir di Jerman
Latar (suasana)
I. Terkejut
II. Memalukan
III. Kedinginan
IV. Pucat
V. Hangat
VI. Sedih
VII. Sunyo
Amanat :
· Tak ada yang terjadi secara kebetulan
· Hidup itu penuh tantangan dan rintangan
· Bergaul dengan siapapun juga, kita tetaplah diri kita
sendiri.
· Tertawalah, karena dunia akan tertawa bersamamu dan
jangan bersedih karena kamu hanya akan menangis
sendirian.
· Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi- mimpi
itu.
. Kenakalan di masa lalu membuat kita menemui karma di
masa depan
. Cinta sejati yg penuh kesetiaan dan pengorbanan.
· Pengalaman dan ilmu bisa didapat dari mana saja.
RPP 7 : 1. Menyimpulkan tema
2. Mendata Latar
Tema : Petualangan; yaitu pe Ikal dan Arai menuntut ilmu
Di Sorbonne, Perancis, menjelajahi Eropa dan Afrika
serta mencari A Ling, wanita yang disukai Ikal
Latar (Tempat)
Tanjung Pandan (Dua minggu berikutnya aku harus ke Tanjong Pandan mengikuti
ujian sekolah. (hal 4))
Bogor (Di bogor kami melamar kerja (hal 37))
Prancis(Prancis belum bangun ketika kami tiba di terminal bus Galliani(hal 77))
Italia(Penampilan kami yang paling mengesankan adalah di Fontana de Trevi, Roma
(hal 248))
Rusia(Dengan menumpang bus sayur atau diam-diam melompat ke gerbong kereta
minyak, kami sampai ke Moskwa(hal 197))
Estonia(Awal September kami sampai ke Estonia(hal 230))
Spanyol (Di Spanyol aku ternganga di bawah kubah Sagrada Familia, aku merasa
seperti berada di dalam kerajaan kaum lelembut.(hal 269))
Islandia (kami ke Islandia, jauh dan harus naik feri(hal 194))
Swiss (Swiss, gemah ripah loh jinawi. Pada setiap sudut tercermin kekayaannya.
Kami menyusuri avenue di Interakun, sebuah mobil Bentley menepi dan menekan
klakson hati-hati. (hal 233))
Inggris (Bus antarkota national express membawaku ke Sheffield, di Midland,
wilayah tengah Inggris, dekat Manchester, Birmingham, dan Leeds.(hal 283))
Perbatasan Nigeria-Mali (Di perbatasan Nigeria dan Mali kami menjumpai
serombongan kafilah pedagang yang akan melintasi Gurun Sahara menuju
Burkuni(hal 266))
Zaire (Kami pun samoai ke Zaire dan menemui seorang wanita Skotlandia
bernaman Nadine Scott.(hal 267))
Yunani (Dewi Fortuna tertawa lebar, sampai terbahak-bahak, ketika kami
sampai di Akropolis, Yunani. (hal 212))
Negara-negara Balkan (Sekonyong-konyong, nasib kami berbaik di negeri
Balkan. (hal 217))
Rumania (sejak hari pertama di Crainova, Rumania aku waswas. (hal 218))
Latar (waktu)
Berminggu-minggu (Berminggu-minggu berikutnya aku bersusah payah membujuk
ayahku agar diizinkan berlayar bersama Weh (hal 5))
Hari pertama bulan September (Hari pertama bulan September, Weh mengajakku
berburu ikan hiu gergaji. (hal 6))
Tengah malam (Nyalo, tak lain ucapan terakhir yang diapaki orang Melayu jika
kehabisan kata untuk melukiskan dahsyatnya angin, gemuruh hujan, dan gampita petir.
‘’Tengah malam pula’’ (hal 13))
Tanggal 23 Oktober, pukul setengah dua belas (“Kau tahu Ikal? Tanggal 23 Oktober
waktu itu, pukul setengah dua belas malam, hujan lebat (hal 14))
Siang hari (Siang ini ia berbincang dengan pria yang gerak-geriknyaseperti beruk
karena ia seorang pemanjat kelapa (hal 21))
Waktu Minggu pagi(kami bertolak ke Bandara Soekarno-Hatta naik Fokker 28 dari
bandara perintis Buluhtumbang di Tanjung Pandan (hal 48))
Dini hari (Dini hari, lewat jendela kulihat tiga aliran sungai berkerkejaran (hal 52))
Malam hari (Malam merambat. Iblis es dari kutub utara gentayangan (hal 62))
Waktu Sholat Jum’at (usai khotbah, yang disampaikan dalam bahasa Arab, jemaah
berdiri untuk shalat jum’at, berdesakan (hal 242-243))
Malam terakhir di Jerman (Malam terakhir di Jerman, kami membungkus diri dalam
sleeping bag, tidur di sudut stasiun Kӧln.(hal 193))
Latar (suasana)
RPP 8
1. Mendata tahap-tahap alur cerita;
2. Menentukan alur dengan bukti deskripsi
cerita pada setiap tahapannya.
Tahap alur
Pengenalan :
Bayi nomor lima itu berkening luas. Ayahku menamainya Aqil Barraq Bahrudin. (Ed: 17)
Pra Klimaks
Pukul tiga sore ini aku akan menemui Profesor Turnbull (Ed: 285) Wanita yang sangat
baik itu mempersilahkan aku masuk. (Ed: 286)
‘’Begini anak muda. Kau bisa memilih. Minum teh dan ngobrol denganku di sini, atau kita
berkeliling kebun kecilku berdiskusi dengan bunga dan musim, atau pernahkah
mengunjungi pedesaan sekitar sini?’’ (Ed: 286)
Klimaks
Aku menuju halte bus lalu menaiki bus desa yang butut. (Ed: 286)
Anti klimaks
Aku bergegas meminta sopir berhenti dan menghambur keluar (Ed: 288)
Ending
Kepada seorang ibu yang lewat aku bertanya, “Ibu, dapatkah memberi tahuku nama
tempat ini?” Ia menatapku lembut, lalu menjawab. “sure lof, it’s Edensor….” (Ed: 288)
Maju Mundur
‘’Namaku A Ling ...,’’ katanya Sementara aku merindukan A Ling.
Malam hari, aku keluyuran,
menyalamiku, menggenggam menjumpai para sahabat lama :
hatiku. Ingin kusampaikan dermaga dan toko kelontong
Sinar Harapan. Aku melamun di
satu nama terbaik dari depan toko yang telah
deretan nama agung diabadikan itu. Pintu pagar
berdecit-decit ditiup angin.
pemberian ayahku, tapi tak Kuingat A Ling berdiri di balik
satu pun kuingat. Di depan pagar itu, tersenyum padaku. A
gadis kecil Hokian itu, aku Miauw telah meninggal.
Keluarganya terpecah belah.
lupa semua namaku. Sejak meninggalkanku ke
Perasaan indah memancar Jakarta waktu aku SMP dulu, tak
ada ynag tahu kabar A Ling. Ia
sampai ke ujung-ujung simpul pergi, aku merasa seakan semua
pembuluh darahku (hal 29) makhluk di Belitong dinaikkan
Nabi Nuh ke bahteranya, aku
tak diajak, hanya aku sendiri
yang tak diajak (hal 47)
RPP 9
Menjelaskan alur cerita pelaku dan
latar novel remaja
RPP 10
Mengomentari kutipan novel remaja
(asli atau terjemahan)
RPP 11
Mengapresiasi kutipan novel
remaja melalui kegiatan diskusi
RPP 12
Menanggapi hal yang menarik dari
novel dengan alasan yang logis
Terimakasih
Telah menyaksikan presentasi saya
Di bulan September Weh mengajak Ikal berburu ikan hiu gergaji. Berikut data: 01) Hari
pertama bulan September, Weh mengajakku berburu ikan hiu gergaji. (Ed: 6) Analisis: Dari
data diatas membuktikan bahwa di bulan September Weh mengajak Ikal berburu ikan hiu
gergaji. Pada tanggal Tanggal 23 Oktober waktu itu, pukul setengah dua belas malam, hujan
lebat 02) “Kau tahu Ikal? Tanggal 23 Oktober waktu itu, pukul setengah dua belas malam,
hujan lebat. … (Ed: 14) Analisis : Dari data diatas membuktikan bahwa Tanggal 23 Oktober
waktu itu, pukul setengah dua belas malam, hujan lebat. Saat ibu Ikal disuruh mengejan oleh
mak birah, ia membentak mak birah karena ia ingin anaknya lahir pada tanggal 24 Oktober,
karena di tanggal tersebut adalah hari lahirnya Persyarekatan Bangsa-bangsa, ia ingin
anaknya sebagai juru pendamai. Berikut data: 03) … Aku ingin anak ini lahir tanggal 24
Oktober! … Analisis: Dari data diatas dapat membuktikan bahwa ibu Ikal disuruh mengejan
oleh mak birah, ia membentak mak birah karena ia ingin anaknya lahir pada tanggal 24
Oktober, karena di tanggal tersebut adalah hari lahirnya Persyarekatan Bangsa-bangsa, ia
ingin anaknya sebagai juru pendamai. Malampun tiba iblis es kutup utara pun datang dan
membuat mereka menggigil kedinginan. Berikut data: 04) Malam merambat. …. (Ed: 62)
Analisis: Dari data diatas dapat membuktikan bahwa malampun tiba iblis es kutup utara pun
datang dan membuat mereka menggigil kedinginan. Saat mak birah membantu proses
kelahiran Ikal, ia sangat jengkel dengan ibunya yang tak mau mengejan padahal sudah
tengah malam. 05) “Tengah malam pula…” Analisis: Data diatas membuktikan bahwa tengah
malam mak birah membantu proses kelahiran Ikal, ia sangat jengkel dengan ibunya yang tak
mau mengejan padahal sudah tengah malam.
Latar (waktu) :
Waktu Minggu pagi(kami bertolak ke Bandara
Soekarno-Hatta naik Fokker 28 dari bandara
perintis Buluhtumbang di Tanjung Pandan (hal 48))
Waktu Sholat Jum’at (usai khotbah, yang
disampaikan dalam bahasa Arab, jemaah berdiri
untuk shalat jum’at, berdesakan (hal 242-243))
Malam terakhir di Jerman (Malam terakhir di
Jerman, kami membungkus diri dalam sleeping bag,
tidur di sudut stasiun Kӧln.(hal 193))
Berminggu-minggu, - Akhir pekan, pagi buta, - hari
pertama bulan September, - 23 Oktober pukul
setengah 12 malam, - dini hari, - sabtu sore, -
minggu pagi, - pukul dua pagi, - setiap jum’at, -
awal September, - jum’at pagi, - 28 maret.
Latar (suasana) :
memalukan, - kedinginan, - pucat, - hangat, - sedih, -
menikam hatiku, - tertekan batin, - perasaan
melambung, - sunyi 12, - mencekam, - dingin, - was-
was, - panas, - penuh cinta.
01) “Lemparkan!” hardiknya melihat benda-benda ditanganku. Aku [Link]
saja, tidak adil. Ayahku membawa kebaikan untuknya dan ia sama sekali takpunya
basa-basi. … (Ed: 3) Analisis: Data diatas membuktikan bahwa Ikal mengunjungi
Weh si pembaca Langit, ia merasa terkejut sewaktu Weh menyuruhnya
melemparkan beras yang di Ikal, tetapi Ikal tetap Keras tidak mau melemparkan.
Suasana tegang menyelimuti keluarga Ikal saat Ibu Ikal menjalani Proses kelahiran
dan Ia tak mau mengejan. Ibu Ikal senewen ingin anak perempuan. 02) “Tengah
malam pula….” Mengapa alam bergelora menyambutku?Tak jelas, yang pasti
hanya saat itu ibuku senewen ingin anak perempuan. … (Ed: 13) 03) “Kuhardik
ibumu: ‘Nyi! Mengapa kau pandangi terus jam weker itu?! Kau mau melahirkan
tidak?!’ … (Ed: 15-16) Analisis: Dari data diatas dapat membuktikan bahwa
Suasana tegang menyelimuti keluarga Ikal saat Ibu Ikal menjalani Proses kelahiran
dan Ia tak mau mengejan. Ibu Ikal senewen ingin anak perempuan. Turun salju
membuat suhu berubah drastis, dan mereka menggigil kedinginan dibawah kanopi
mereka duduk berpelukan, menggigil hebat dan tak satupun orang keluar rumah.
04) Kami duduk berpelukan, lengket mengerut menggigil hebat. (Ed: 63) Analisis:
Dari data diatas dapat membuktikan bahwa disana Turun salju membuat suhu
berubah drastis, dan mereka menggigil kedinginan dibawah kanopi mereka duduk
berpelukan, menggigil hebat dan tak satupun orang keluar rumah.