0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan32 halaman

Mencapai Sasaran POA yang Attainable

Konsep POA dan Evidence Based Practice memberikan panduan umum tentang perencanaan kegiatan dan pengambilan keputusan berdasarkan bukti. Keduanya mencakup proses identifikasi masalah, pengumpulan bukti, analisis, dan perencanaan tindakan untuk mencapai tujuan.

Diunggah oleh

Saharista Pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
74 tayangan32 halaman

Mencapai Sasaran POA yang Attainable

Konsep POA dan Evidence Based Practice memberikan panduan umum tentang perencanaan kegiatan dan pengambilan keputusan berdasarkan bukti. Keduanya mencakup proses identifikasi masalah, pengumpulan bukti, analisis, dan perencanaan tindakan untuk mencapai tujuan.

Diunggah oleh

Saharista Pratiwi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Konsep POA

Perencanaan adalah menetapkan hal-hal yang


akan datang dan tidak akan dilakukan pada menit,
jam atau waktu yang akan datang.

Perencanaan merupakan jembatan antara dimana


kita sekarang dengan dimana kita saat yang akan
datang.

Perencanaan merupakan proses intelektual yang


didasarkan pada fakta dan informasi, bukan emosi
dan harapan (Douglas, 1992; Gillies, 1994).
• Planning of Action (POA) atau disebut juga Rencana
Usulan Kegiatan (RUK) merupakan sebuah proses
yang ditempuh untuk mencapai sasaran kegiatan.
Rencana kegiatan dapat memiliki beberapa bentuk,
antara lain:
1. Rangkaian sasaran yang lebih spesifik dengan
jangka waktu lebih pendek,
2. Rangkaian kegiatan yang saling terkait akibat
dipilihnya alternatif pemecahan masalah
3. Rencana kegiatan yang memiliki jangka waktu
spesifik, kebutuhan sumber daya yang spesifik, dan
akuntabilitas untuk setiap tahapannya.
Menurut Supriyanto dan Nyoman (2007),

Perlu beberapa hal yang dipertimbangkan


sebelum menyusun Plan of Action (POA),
yaitu dengan memperhatikan kemampuan
sumber daya organisasi atau komponen
masukan (input), seperti: Informasi,
Organisasi atau mekanisme, Teknologi
atau cara, dan Sumber Daya Manusia
(SDM).
Tujuan planning of action
1. Mengidentifikasi apa saja yang harus dilakukan
2. Menguji dan membuktikan bahwa:
a. Sasaran dapat tercapai sesuai dengan waktu yang
telah dijadualkan
b. Adanya kemampuan untuk mencapai sasaran
c. Sumber daya yang dibutuhkan dapat diperoleh
d. Semua informasi yang diperlukan untuk mencapai
sasaran dapat diperoleh
e. Adanya beberapa alternatif yang harus
diperhatikan
3. Berperan sebagai media komunikasi
• a. Hal ini menjadi lebih penting apabila
berbagai unit dalam organisasi memiliki
peran yang berbeda dalam pencapaian
• b. Dapat memotivasi pihak yang
berkepentingan dalam pencapaian
sasaran.
• ) Kriteria Planning of Action (POA) yang
Baik
– Dalam penerapannya, Plan of Acton (POA)
harus baik dan efektif agar kegiatan program
yang direncanakan dapat dijalankan sesuai
dengan tujuan.

– Berikut ini beberapa kriteria Plan of Acton


(POA) dikatakan baik, antara lain:
SMART
• . Spesific (Spesifik)
– Rencana kegiatan harus spesifik dan
berkaitan dengan keadaan yang ingin
dirubah. Rencana kegiatan perlu penjelasan
secara pasti berapa Sumber Daya Manusia
(SDM) yang dibutuhkan, siapa saja mereka,
bagaimana dan kapan
mengkomunikasikannya
• Measurable (Terukur)
Rencana kegiatan harus dapat menunjukkan apa
yang sesungguhnya telah dicapai.

Attainable/achievable (dapat dicapai)


• Rencana kegiatan harus dapat dicapai dengan
biaya yang masuk akal. Ini berarti bahwa
rencana tersebut harus sederhana tetapi efektif,
tidak harus membutuhkan anggaran yang besar.
Selain itu teknik dan metode yang digunakan
juga harus yang sesuai untuk bisa dilakukan.
Relevant (sesuai)
• Rencana kegiatan harus sesuai dan bisa
diterapkan di suatu organisasi atau di
suatu wilayah yang ingin di intervensi.
Harus sesuai dengan pegawai atau
masyarakat di wilayah tersebut.
• Timely (sesuai waktu)
Rencana kegiatan harus merupakan
sesuatu yang dibutuhkan sekarang atau
sesuatu yang segera dibutuhkan. Jadi
waktu yang sesuai sangat diperlukan
dalam rencana kegiatan agar kegiatan
dapat berjalan efektif.
• Langkah Planning of Action (POA)
• 1. Mengidentifikasi masalah dengan pernyataan
masalah (Diagram 6 kata: What, Who, When,
Where, Why, How), sebagai berikut:
a. Masalah apa yang terjadi?
b. Dimana masalah tersebut terjadi?
c. Kapan masalah tersebut terjadi?
d. Siapa yang mengalami masalah tersebut?
e. Mengapa msalah tersebut terjadi?
f. Bagaimana cara mengatasi masalah tersebut?
2. Setelah masalah diidentifikasi, tentukan
solusi apa yang bisa dilakukan.
3. Menyusun Rencana Usulan Kegiatan
(RUK).
• Menurut Supriyanto dan Nyoman (2007),
beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam menyusun Plan of Action atau
Rencana Usulan Kegiatan (RUK), antara
lain:
a. Pembahasan Ulang Masalah
• Setelah menentukan masalah dan
melakukan analisis penyebab masalah,
dapat dilihat keadaan atau situasi yang
ada saat ini dan mencoba
menggambarkan keadaan tersebut
nantinya sesuai dengan yang diharapkan.
b. Perumusan Tujuan Umum

Dengan melihat situasi yang ada saat ini dengan


gambaran situasi yang diharapkan nantinya dan
juga atas dasar tujan umum pembangunan
kesehatan, maka dapat dirumuskan tujuan umum
program atau kegiatan yang akan dilaksanakan.
Tujuan umum adalah suatu pernyataan yang
bersifat umum dan luas yang menggambarkan
hasil akhir (outcome atau dampak) yang
diharapkan.
• Perumusan Tujuan Khusus
• Tujuan khusus merupakan pernyataan yang
bersifat spesifik, dapat diukur (kuantitatif)
dengan batas waktu pencapaian untuk
mencapai tujuan umum. Bentuk pernyataan
dalam tujuan khusus sifatnya positif,
merupakan keadaan yang diinginkan.
Penentuan indikator tujuan khusus program
dapat menggunakan kriteria SMARTS
(SPESIFIK, Measurable, Attainable, Realistic,
Time-bound, Sustainable)

Penentuan Kriteria Keberhasilan
• Penentuan kriteria keberhasilan atau biasa
disebut indikator keberhasilan dari suatu
rencana kegiatan, perlu dilakukan agar
organisasi tahu seberapa jauh program
atau kegiatan yang direncanakan tersebut
berhasil atau tercapai. Menentukan kriteria
atau indikator keberhasilan disesuaikan
dengan tujuan khusus yang telah
ditentukan.
Pada program kegiatan yang diusulkan harus
mengandung unsur 5W+1H, yaitu:
a. Who : Siapa yang harus bertanggung jawab
untuk melaksanakan rencana kegiatan?
b. What : Pelayanan atau spesifik kegiatan yang
akan dilaksanakan
c. How Much : Berapa banyak jumlah pelayanan
atau kegiatan yang spesifik?
d. Whom : Siapa target sasaran atau populasi apa
yang terkena program?
e. Where : Dimana lokasi atau daerah dimana
aktivitas atau program dilaksanakan?
f. When : Kapan waktu pelaksanaan kegiatan atau
program?
• Rencana Usulan Kegiatan (RUK)
disusun dalam bentuk matriks.
(Gantt Chart) yang berisikan rincian
kegiatan, tujuan, sasaran, target,
waktu, besaran kegiatan (volume),
dan hasil yang diharapkan.
• Langkah keempat, Bersama-sama dengan
pihak yang berkepentingan menguji dan
melakukan validasi rencana kegiatan
untuk mendapatkan kesepakatan dan
dukungan. (Yuan,2016)
Konsep Evidence Based Practice
• Evidence Based Practice (EBP) adalah
proses penggunaan bukti-bukti terbaik
yang jelas, tegas dan berkesinambungan
guna pembuatan keputusan klinik dalam
merawat individu pasien. Dalam
penerapan EBP harus memenuhi tiga
kriteria yaitu berdasar bukti empiris,
sesuai keinginan pasien, dan adanya
keahlian dari praktisi
Model Evidence Based Practice
• a. Model Stetler
• Model Stetler dikembangkan pertama kali
tahun 1976 kemudian diperbaiki tahun
1994 dan revisi terakhir 2001. Model ini
terdiri dari 5 tahapan dalam menerapkan
Evidence Base Practice Nursing.
• Tahap persiapan.
• Pada tahap ini dilakukan identifikasi
masalah atau isu yang muncul, kemudian
menvalidasi masalah dengan bukti atau
landasan alasan yang kuat.
• Tahap validasi.
• Tahap ini dimulai dengan mengkritisi bukti
atau jurnal yang ada (baik bukti empiris,
non empiris, sistematik review), kemudian
diidentifikasi level setiap bukti
menggunakan table “level of evidence”.
Tahapan bisa berhenti di sini apabila tidak
ada bukti atau bukti yang ada tidak
mendukung
• Tahap evaluasi perbandingan/
pengambilan keputusan.
• Pada tahap ini dilakukan sintesis temuan
yang ada dan pengambilan bukti yang
bisa dipakai. Pada tahap ini bisa muncul
keputusan untuk melakukan penelitian
sendiri apabila bukti yang ada tidak bisa
dipakai.
Tahap translasi atau aplikasi.
• Tahap ini memutuskan pada level apa kita
akan melakukan penelitian (individu,
kelompok,organisasi). Membuat proposal
untuk penelitian, menentukan strategi
untuk melakukan diseminasi formal dan
memulai melakukan pilot projek.
Tahap evaluasi.
• Tahap evaluasi bisa dikerjakan secara
formal maupun non formal, terdiri atas
evaluasi formatif dan sumatif, yang di
dalamnya termasuk evaluasi biaya.

Model IOWA
• Model IOWA diawali dengan adanya trigger atau
masalah. Trigger bisa berupa knowledge focus
atau problem focus. Jika masalah yang ada
menjadi prioritas organisasi, maka baru
dibentuklah tim. Tim terdiri atas dokter, perawat
dan tenaga kesehatan lain yang tertarik dan
paham dalam penelitian. Langkah berikutnya
adalah minsintesis bukti-bukti yang [Link]
bukti yang kuat sudah diperoleh, maka segera
dilakukan uji coba dan hasilnya harus dievaluasi
dan didiseminasikan.

Model konseptual Rosswurm & Larrabee
• Model ini disebut juga dengan model Evidence
Based Practice Change yang terdiri dari 6
langkah yaitu :
• Tahap 1 :mengkaji kebutuhan untuk perubahan
praktis
• Tahap 2 : tentukkan evidence terbaik
• Tahap 3 : kritikal analisis evidence
• Tahap 4 : design perubahan dalam praktek
• Tahap 5 : implementasi dan evaluasi
perunbahan
• Tahap 6 : integrasikan dan maintain perubahan
dalam praktek
• Model ini menjelaskan bahwa penerapan
Evidence Based Nursing ke lahan paktek
harus memperhatikan latar belakang teori
yang ada, kevalidan dan kereliabilitasan
metode yang digunakan, serta
penggunaan nomenklatur yang standar.
Pentingnya Evidence Based Practice
• Mengapa EBP penting untuk praktik keperawatan :
a. Memberikan hasil asuhan keperawatan yang lebih
baik kepada pasien
b. Memberikan kontribusi perkembangan ilmu
keperawatan
c. Menjadikan standar praktik saat ini dan relevan
d. Meningkatkan kepercayaan diri dalam mengambil
keputusan
e. Mendukung kebijakan dan prosedur saat ini dan
termasuk menjadi penelitian terbaru
f. Integrasi EBP dan praktik asuhan keperawatan sangat
penting untuk meningkatkan kualitas perawatan pada
pasien.

Anda mungkin juga menyukai