0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan54 halaman

Contoh EYD dan Kaidah Penulisan

1. Dokumen tersebut membahas tentang ejaan dan kaidah tata tulis bahasa Indonesia, termasuk tentang tanda baca, penulisan huruf, penulisan kata, dan penulisan unsur serapan. 2. Secara khusus membahas tentang penggunaan huruf kapital dan miring serta penulisan berbagai jenis kata seperti kata dasar, turunan, gabungan, dan lainnya. 3. Juga menjelaskan penulisan partikel dan kata ganti

Diunggah oleh

Efridha Yani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan54 halaman

Contoh EYD dan Kaidah Penulisan

1. Dokumen tersebut membahas tentang ejaan dan kaidah tata tulis bahasa Indonesia, termasuk tentang tanda baca, penulisan huruf, penulisan kata, dan penulisan unsur serapan. 2. Secara khusus membahas tentang penggunaan huruf kapital dan miring serta penulisan berbagai jenis kata seperti kata dasar, turunan, gabungan, dan lainnya. 3. Juga menjelaskan penulisan partikel dan kata ganti

Diunggah oleh

Efridha Yani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

EYD
EJAAN DAN KAIDAH TATA TULIS
2

 Ejaan adalah keseluruhan sistem dan peraturan


penulisan bunyi bahasa untuk mencapai
keseragaman.

 EyD adalah ejaan yang dihasilkan dari


penyempurnaan atas ejaan-ejaan sebelumnya.

 Kaidah tata tulis terdiri atas: pemakaian huruf,


penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan
pemakaian tanda baca.
TANDA BACA
3

 Merupakan pengganti intonasi, nada, dan


tekanan yang muncul dalam ragam lisan
 Dapat membantu pembaca untuk dapat
memahami jalan pikiran penulisnya
PENULISAN HURUF
4

A. Huruf Kapital atau Huruf Besar

1. Huruf kapital atau huruf besar dipakai sebagai huruf pertama kata pada
awal kalimat.
Misalnya:
Dia mengantuk. Apa maksudnya?
Kita harus bekerja keras. Selamat pagi.

2. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung.


Misalnya:
Adik bertanya, "Kapan kita pulang?"
Bapak menasihati, "Berhati-hatilah, Nak!"
"Kemarin dia terlambat," katanya.
3. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan
5 dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan.
Misalnya:
Allah
Yang Maha Pengasih Quran
Alkitab Weda
Islam Kristen

Berkat rahmat-Nya kita dapat berkumpul di ruangan ini.

4. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan,
dan keagamaan yang diikuti nama orang.
Misalnya:
Haji Agus Salim
Presiden Soekarno
Sultan Hasanuddin
5. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan
pangkat yang diikuti nama orang, instansi, atau nama tempat.
6
Misalnya:
Pergerakan itu dipimpin oleh Haji Badarruzaman
Pagi ini Menteri Perdagangan terbang ke Pulau Bangka, di sana
menteri beristirahat.

Tetapi perhatikanlah penulisan berikut:

Brigadir Jenderal Sugiarto baru dilantik jadi mayor jenderal.


6. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama orang.
7 Misalnya:
Amir Hamzah
Amien Rais
Dewi Persik

7. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama bangsa, suku


bangsa, dan bahasa.
Misalnya:
bangsa Indonesia bahasa Turki
suku Sasak suku Toraja

Tetapi perhatikanlah penulisan berikut:


mengindonesiakan kata asing keinggris-inggrisan
8 8. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama tahun,
bulan, hari, hari raya, dan peristiwa sejarah.
Misalnya:
tahun Hijriah tarikh Masehi
bulan Agustus bulan Ramadan
hari Jumat
hari Natal
Proklamasi Kemerdekaan

Tetapi perhatikan penulisan berikut!


memproklamasikan kemerdekaan
9. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama geografi.
9
Misalnya:
Asia Tenggara Jalan Diponegoro
Bukit Barisan Kali Ciliwung
Cirebon Selat Karimata

Tetapi perhatikan penulisan berikut!


 berlayar ke teluk
 mandi di kali
 menyeberangi selat
10. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama negara,
10 badan, lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, serta
nama dokumen resmi, kecuali konjungsi.
Misalnya:
Departemen Pendidikan Nasional
Keputusan Presiden RI Nomor 156 Tahun 1972
Badan Kesejahteraan Ibu dan Anak
Majelis Permusyawaratan Rakyat

Tetapi perhatikanlah penulisan berikut:


 menurut undang-undang dasar kita
 menjadi sebuah republik
11. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama semua kata di
dalam nama buku, majalah, surat kabar, dan judul karangan,
11
kecuali konjungsi seperti di, ke, dari, yang, dan untuk, yang tidak
terletak pada posisi awal.
Misalnya:
Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
Pelajaran Ekonomi untuk Sekolah Menengah Atas

12. Huruf kapital dipakai dalam singkatan nama gelar, pangkat, dan
sapaan.
Misalnya:
Dr. Doktor Sdr. Saudara
dr. Dokter [Link]. Sarjana Sosial
M.A. Master of Arts S.H. Sarjana Hukum

Catatan:
Singkatan di atas selalu diikuti oleh tanda titik.
13. Huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk
12
hubungan kekerabatan seperti bapak, ibu, saudara, kakak, adik,
dan paman yang dipakai sebagai kata ganti atau sapaan.
Misalnya:
Kapan Bapak berangkat? Itu apa, Bu?
Surat Saudara sudah saya terima.

Catatan:
Huruf kapital tidak dipakai sebagai huruf pertama kata penunjuk
hubungan kekerabatan yang tidak dipakai sebagai kata ganti
atau sapaan.
Misalnya:
Kita harus menghormati bapak dan ibu kita.
B. Huruf Miring
13
Huruf miring dalam cetakan dipakai untuk:

1. Menuliskan nama buku, majalah, dan surat kabar yang dikutip


dalam tulisan.
Misalnya:
Kumpulan cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi ditulis
oleh Seno Gumira Ajidarma.

2. Menegaskan atau mengkhususkan huruf, bagian kata, kata,


atau kelompok kata.
Misalnya:
Bab ini tidak membicarakan penulisan huruf besar.
Dilarang merokok
14

3. Menuliskan kata nama-nama ilmiah atau ungkapan


asing, kecuali yang telah disesuaikan ejaannya.
Misalnya:
Sebaiknya kita menggunakan kata kudapan untuk
kata snack.
PENULISAN KATA
15

A. Kata Dasar
Kata yang berupa kata dasar ditulis sebagai satu
kesatuan.
Misalnya:
Kami percaya bahwa kamu anak yang pandai.
Kantor pajak penuh sesak.
Buku itu sangat tebal.
B. Kata Turunan
16
1. Imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata
dasarnya.
Misalnya:
diberikan

2. Awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang langsung


mengikuti atau mendahuluinya jika bentuk dasarnya berupa
gabungan kata.
Misalnya:
beri tahukan sebar luaskan

3. Jika bentuk dasar berupa gabungan kata dan sekaligus mendapat


awalan dan akhiran, kata-kata itu ditulis serangkai.
Misalnya:
memberitahukan mempertanggungjawabkan
4. Jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi,
gabungan kata itu ditulis serangkai.
17
Misalnya:
monoteisme antarkota multilateral
caturtunggal dasawarsa kontrarevolusi

Catatan:
(1) Apabila bentuk terikat tersebut diikuti oleh kata yang huruf awalnya huruf
besar, di antara kedua unsur itu dituliskan tanda hubung (-).
Misalnya:
non-Indonesia
(2) Maha sebagai unsur gabungan kata ditulis serangkai, kecuali jika diikuti
oleh kata yang bukan kata dasar dan kata esa.
Misalnya:
Allah Yang Mahakuasa.
C. Bentuk Ulang
18

Bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda


hubung.

Misalnya:
anak-anak bermain-main porak-poranda gerak-gerik sayur-
mayur
D. Gabungan Kata
1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus,
19 bagian-bagiannya ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar ibu kota kerja sama
orang tua sepak bola persegi panjang

2. Gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan salah


baca, dapat diberi tanda hubung untuk menegaskan pertalian diantara
unsur yang bersangkutan.
Misalnya:
ibu-bapak kami buku sejarah-baru

3. Gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata ditulis serangkai.
Misalnya:
daripada silaturahmi halalbihalal
hulubalang olahraga sukarela
E. Kata Ganti -ku, kau- , -mu, dan -nya

20

Kata ganti ku- dan kau- ditulis serangkai dengan kata yang mengikutinya, -ku,
-mu, dan -nya ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnya:
Apa yang kumiliki boleh kauambil.

F. Kata depan di, ke, dan dari


Kata depan di, ke, dan dari ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya,
kecuali di dalam gabungan kata yang sudah dianggap sebagai satu kata
seperti kepada dan daripada.
Misalnya:
Adiknya pergi ke luar negeri.
Mereka ada di rumah.
Perhatikan penulisan berikut:
Ia keluar sebentar.
Kemarikan buku itu!
G. Kata si dan sang

21 Kata si dan sang ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya.


Misalnya:
Harimau itu marah sekali kepada sang Kancil.

H. Partikel

1. Partikel -lah, -kah, dan -tah ditulis serangkai dengan kata yang
mendahuluinya.
Misalnya:
Apakah yang tersirat dalam surat itu?
Bacalah buku itu baik-baik!
Apatah lagi yang akan diucapkannya?
22

2. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya.


Misalnya:
Apa pun yang dimakannya, ia tetap kurus.
Hendak pulang pun, sudah tak ada kendaraan.

Kelompok kata yang lazim dianggap padu, seperti adapun, andaipun,


ataupun, bagaimanapun, biarpun, kalaupun, kendatipun, maupun,
meskipun, sungguhpun, walaupun ditulis serangkai.

3. Partikel per yang berarti 'mulai', ‘demi’, dan ‘tiap’ ditulis terpisah dari
bagian-bagian kalimat yang mendampinginya.
Misalnya:
Saya diangkat pegawai negeri per Oktober
Mereka masuk ke dalam ruangan satu per satu.
Harga kain itu Rp2.000,00 per helai.
I. Angka dan Lambang Bilangan

23

1. Angka digunakan untuk menyatakan (a) ukuran panjang, berat,


dan isi, (b) satuan waktu, dan (c) nilai uang.
Misalnya:
a.10 liter beras b. I jam 20 menit c. Rp5.000,00
4 meter persegi

2. Angka lazim dipakai untuk menandai nomor jalan, rumah,


apartemen, atau kamar pada alamat.
Misalnya:
Jalan Tanah Abang No.15 ; Hotel Sofyan Kamar 69
24

6. Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara


yang berikut
Misalnya:
Paku Buwono X
Paku Buwono ke-10
Paku Buwono kesepuluh

7. Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran -an mengikuti


cara yang berikut
Misalnya:
tahun 50-an atau tahun lima puluhan
25

8. Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan


satu atau dua kata, ditulis dengan huruf, kecuali jika
beberapa lambang bilangan dipakai secara
berurutan, seperti dalam pemerincian dan
pemaparan.
Misalnya:
Anti menonton film itu sampai tiga kali.
Di antara 72 anggota yang hadir, 52 orang
memberikan suara setuju, 15 suara tidak
setuju, dan 5 suara blangko.
26 9. Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf.
Jika perlu, susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang
tidak dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, tidak
terdapat lagi pada awal kalimat.
Misalnya:
Lima belas orang tewas dalam kecelakaan itu.

10. Angka yang menunjukkan bilangan bulat yang besar dapat


dieja untuk sebagian supaya lebih mudah dibaca.
Misalnya:
Perusahaan itu baru saja mendapat pinjaman 250
juta rupiah.
27
11. Kecuali di dalam dokumen resmi, seperti akta dan
kuitansi, bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan
huruf sekaligus dalam teks.
Misalnya:
Kantor kami mempunyai dua ratus orang pegawai.
Bukan: Kantor kami mempunyai 200 (dua ratus)
orang pegawai.

12. Kalau bilangan dilambangkan dengan angka dan huruf,


penulisannya harus tepat.
Misalnya:
Saya lampirkan tanda terima sebesar
Rp1.500.000,00 (satu juta lima ratus ribu rupiah).
PEMAKAIAN TANDA BACA
28 A. Tanda Titik (.)
1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau
seruan.
Misalnya:
Saya tinggal di Kumu

2. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang.


Misalnya:
Maman S. Mahayana

3. Tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan
sapaan.
Misalnya:
[Link].
Sdr. (Saudara)
4. Tanda titik dipakai pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat
umum. Singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda
titik.
29 Misalnya:
a.n. (atas nama) d.a. (dengan alamat)

5. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan, ikhtisar,
atau daftar.
Misalnya:
III. Departemen Dalam Negeri
[Link] Jenderal Pembangunan Masyarakat Desa.
[Link] Jenderal Agraria.
Penyisipan Naskah: [Link] Umum
1.1 Isi Karangan
1.2 Ilustrasi
1.2.1 GambarTangan
1.2.2 Tabel
1.2.3 Grafik
6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan
detik yang menunjukkan waktu.
30
Misalnya:
Pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik)

7. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan


detik yang menunjukkan jangka waktu.
Misalnya:
1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik)

8. Tanda titik tidak dipakai untuk memisahkan ribuan, jutaan dan


seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah.
Misalnya:
Sugiarto lahir pada tahun 1972 di Jakarta.
9. Tanda titik tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri atas huruf-
huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, yang
terdapat di dalam nama badan pemerintah, lembaga-lembaga
31
nasional atau internasional, atau yang terdapat di dalam akronim
yang sudah diterima oleh masyarakat.
Misalnya:
TNI AD (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat)
sinetron (sinema elektronika)
tilang (bukti pelanggaran)

[Link] titik tidak dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan


ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
Misalnya:
Cu (Kuprom)
10 cm Panjangnya 10 cm lebih sedikit.
kg Berat yang diizinkan l00 kg ke atas.
Rp567. 000,00 Harganya Rp567. 000,00 termasuk pajak.
32

[Link] titik tidak dipakai pada akhir judul yang


merupakankepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan
sebagainya.
Misalnya:
Acara Kunjungan Menteri Pertanian
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk

[Link] titik tidak dipakai di belakang alamat dan tanggal


surat atau nama dan alamat penerima surat.
Misalnya:
Jalan Sudirman 45
Yth. Sdr. Burhanudin
Kantor BTA Group
B. Tanda Koma (,)

33 1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu


pemerincian atau pembilangan.
Misalnya:
Saya membeli disket, spidol, dan penggaris.
Satu, dua, ... tiga!

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu


dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti
tetapi, melainkan, namun, sedangkan dan sebagainya.
Misalnya:
Saya ingin datang, tetapi hari hujan.
Nugraha bukan anak saya, melainkan anak Pak Udin.
34

[Link] koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari


induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk
kalimatnya.
Misalnya:
Kalau hari hujan, saya tidak akan datang.
Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

[Link] koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat


apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimatnya.
Misalnya:
Saya tidak akan datang kalau hari hujan.
Dia lupa akan janjinya karena sibuk.
35

4. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan


penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat.
Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun
begitu, akan tetapi.
Misalnya:
Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.
Jadi, soalnya tidaklah semudah itu.

5. Tanda koma dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya,


wah, aduh, kasihan yang terdapat pada awal kalimat.
Misalnya:
O, begitu
Wah, bukan main!
36

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain
dalam kalimat.
Misalnya:
Kata ibu, "Saya gembira sekali."
"Saya gembira sekali," kata ibu.

7. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat (ii) bagian-bagian
alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau
negeri yang ditulis berurutan.
Misalnya:
Sdr. Abdullah, Jalan Margonda Raya 21, Depok
Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas
Ekonomi, Universitas Pasir Pengaraian, Jalan Tuanku Tambusai
37

8. Tanda koma dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik


susunannya dalam daftar pustaka.
Misalnya:
Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Jakarta: Balai Pustaka.

9. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik


yang mengikutinya, untuk membedakannya dari singkatan nama
keluarga atau marga.
Misalnya:
Drs. Sugito, M.M.
Maman S. Mahayana, [Link].
Yono Sugiyono, S.S.
[Link] koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan dan
keterangan aposisi.
38
Misalnya:
Guru saya, Pak Agus, pandai sekali.
Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-laki
makan sirih.

[Link] koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari


bagian lain dalam kalimat apabila petikan langsung tersebut
berakhiran dengan tanda tanya atau tanda seru, dan mendahului
bagian lain dalam kalimat itu.
Misalnya:
"Di mana Saudara tinggal?" tanya Mustafa.
C. Tanda Titik Koma (;)

1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-


39
bagian kalimat yang sejenis dan setara.
Misalnya:
Malam makin larut; kami belum selesai juga.

2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata


penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam
kalimat majemuk.
Misalnya:
Ayah mengurus tanamannya di kebun; ibu sibuk
memasak di dapur; adik menghafalkan
nama-nama menteri kabinet; saya sendiri asyik
menonton sinetron.
D. Tanda Titik Dua (:)
40
1. Tanda titik dua dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap
jika diikuti rangkaian atau pemerian.
Misalnya:
Hanya ada dua pilihan bagi para pejuang kemerdekaan
itu: hidup atau mati.

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang


memerlukan pemerian.
Misalnya:
a. Ketua : Zaenal Arifin
Sekretaris : Irman Nashori
Bendahara : Usman
41 3. Tanda titik dua dipakai dalam teks drama sesudah kata yang
menunjukkan pelaku dalam percakapan.
Misalnya:
Ibu : “Bawa kopor ini, Mir!”
Amir : “Baik, Bu.”

4. Tanda titik dua dipakai (i) di antara jilid atau nomor dan halaman; (ii)
di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau (iii) di antara judul
dan anak judul suatu karangan.
Misalnya:
(i) Tempo, I (1971), 34:7
(ii) Surah Yasin: 9
(iii) Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup:
Sebuah Studi, sudah terbit.
E. Tanda Hubung (-)

1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang sudah


42 terpisah oleh pergantian baris.
Misalnya:
... ada cara ba-
ru juga
Suku kata yang terdiri atas satu huruf tidak dipenggal supaya
jangan terdapat satu huruf saja pada ujung baris.
3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang.
43
Misalnya:
anak-anak
berulang-ulang

Tanda ulang (2) hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan
tidak dipakai pada teks karangan.

4. Tanda hubung dipakai untuk memperjelas hubungan bagian-bagian


ungkapan.
Bandingkan:
ber-evolusi dengan be-revolusi
istri-perwira yang ramah dengan istri perwira -yang
ramah
44

5. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (a) se- dengan kata


berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (b) ke- dengan
angka, (c) angka dengan -an, dan (d) singkatan huruf kapital
dengan imbuhan atau kata.
Misalnya:
se-Indonesia se-Jabotabek
HUT ke-28 tahun ’50-an
J. Tanda Kurung ( )

45 1. Tanda kurung mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.


Misalnya:
DIP (Daftar Isian Proyek) kantor itu sudah selesai.

2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan


bagian integral pokok pembicaraan.
Misalnya:
Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat
yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962.
Keterangan itu (lihat tabel 10) menunjukkan arus
perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.
46
3. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang merinci satu seri
keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup
saja.
Misalnya:
Faktor-faktor produksi menyangkut masalah berikut:
(1) alam;
(2) tenaga kerja; dan
(3) modal.
a) alam;
b) tenaga kerja; dan
c) modal.
Faktor-faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b)
tenaga kerja, dan (c) modal.
K. Tanda Kurung Siku ([...])

47 1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata


sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian
kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menjadi isyarat bahwa
kesalahan itu memang terdapat di dalam naskah asal.
Misalnya:
Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas


yang sudah bertanda kurung.
Misalnya:
(perbedaan antara dua macam proses ini [lihat Bab I]
tidak dibicarakan.)
L. Tanda Petik (”...”)
1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari
48 pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain.
Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
Misalnya:
”Sudah siap?” tanya Yono.

2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila
dipakai dalam kalimat.
Misalnya:
Bacalah ”Bola Lampu” dalam buku Dari Suatu Massa, dari
Suatu Tempat.
Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul ”Rapor dan
Nilai Prestasi di SMA” diterbitkan dalam Tempo.
Sajak ”Berdiri Aku” terdapat pada halaman 5 buku itu.
49 3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau
kata yang mempunyai arti khusus.
Misalnya:
Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara ”coba dan ralat”
saja.
Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal
dengan nama ”cutbrai”.

4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri


petikan langsung.
Misalnya:
Kata Tono, ”Saya juga minta satu.”
50

5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat


ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata
atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
Misalnya:
Karena warna kulitnya, Daus mendapat julukan ”Si
Hitam ”.
Bang Munir sering disebut ”pahlawan”; ia sendiri
tidak tahu sebabnya.
M. Tanda Petik Tunggal (’...’)

51
1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam
petikan lain.
Misalnya:
Tanya Sally, ”Kau dengar bunyi ’kring-kring’ tadi?”
”Waktu kubuka pintu kamar depan, kudengar teriak
anakku, ’lbu! Bapak pulang!’ dan rasa letihku lenyap
seketika,” ujar Ibu Arini.

2. Tanda petik tunggal mengapit terjemahan atau penjelasan kata


atau ungkapan asing.
Misalnya:
rate of inflation ‘laju inflasi’
N. Tanda Garis Miring (/)

52

1. Tanda garis miring dipakai dalam penomoran kode surat.


Misalnya:
Surat No.16/PKS/2004

2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata dan, atau,


per, atau nomor alamat.
Misalnya:
mahasiswa/mahasiswi
harganya Rp150,00/1embar
Jalan Sigma III/47
O. Tanda Penyingkat (Apostrof) (’)
53

Tanda apostrof menunjukkan penghilangan bagian


kata.
Misalnya:
Ali ’kan kusurati (’kan = akan)
Malam ’lah tiba (’lah = telah)
14 Februari ’90 (’90 = 1990)
54

Anda mungkin juga menyukai