DOSIS MUATAN DAN DOSIS
MAINTENANCE INTRAVENA
Deni Anggraini, [Link], Apt
DOSIS MUATAN INTRAVENA
dDb/dt = -[Link]
Db = Div .e-kt
LnDb = Ln Div – k.t
𝑘.𝑡
Log Db = Log Div - 2,303
𝐶1
Db = Vd. C 𝐿𝑛 ( )
𝐶2
Log Ct = Log Co -
𝐾
t K=
2,303 𝑡2 −𝑡1
Contoh soal
• Seorang pasien disuntik teofilin intravena
dosis tunggal 400 mg selama 20 menit.
Volume distribusi dan kecepatan eliminasi
pada pasien berturut-turut 30 Liter dan 0,115
jam-1. Tentukan waktu paruh eliminasi dan
kadar teofilin dalam darah setelah 4jam
penyuntikan
Contoh soal
• Seorang pria berat badan 50 kg disuntik sefotaksim
antibiotik golongan sepalosporin secara intravena
dosis tunggal 20 mg/kgbb. Volume distribusi obat
tersebut adalah 25 liter, Kadar obat dalam plasma
ditentukan 6 dan 8 jam setelah pemberian obat
berturut-turut 4 dan 2 ug/ml
a. Berapa waktu paruh eliminasi??
b. Berapa kadar sefotaksim dalam plasma pada t = 0
c. Jika KHM suatu antibiotik 0,5 ug/ml, berapa lama
durasi efek sefotaksim??
Contoh soal
• Karvedilol diberikan secara intravena dosis 50
mg kepada subyek dengan berat badan 60 Kg
• Apabila kadar karvedilol dalam darah 4 dan 10
jam setelah penyuntikan berurut-turut 40 dan
20 mikrogram/ml. Hitung semua parameter
farmakokinetika
Dosis maintenance
• Agar kadar obat dalam darah berada dalam
kisaran terpeutik
• Kisaran terapeutik belum tentu sama tiap
inividu karena banyak variabel yang
mempengaruhi
• Konsep farmakokinetik model 1 kompartemen
multipel dosing tidak hanya bermanfaat dalam
klinik tetapi juga untuk pengembangan
formulasi sediaan farmasi
Akumulasi Obat
• Apabila obat diberikan berulang dengan
interval yang lebih pendek dari harga t1/2
elimimasi, maka akan terjadi akumulasi.
• Bila obat diberikan dengan interval waktu
yang lebih panjang dari harga t 1/2 eliminasi,
karena kadar obat sebelumnya telah hilang
dari tubuh, maka akumulasi dapat dihindarkan
• 7 kali t ½ eliminasi diasumsikan obat telah
hilang dari tubuh
Dosis Maintenance Intravena
• Pemberian IV dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu
, infus dengan kecepatan (dosis) tetap dan IV
bolus berulang dengan interval tertentu
• Bila diberikan IV dengan kecepatan tetap,
masuknya obat kedalam darah mengikuti orde 0
• Untuk obat IT sempit diperlukan ketepatan dosis
yang masuk sehingga menghasilkan kadar obat
yang tetap didalam darah
• Fluktuasi obat dalam darah bila ada berada dalam
batas minimum.
Konsep T 1/2 dalam penentuan Css
• 1 kali t ½ 50% kadar tunak
• 5 kali t ½ 97% kadar tunak
• 7 kali t ½ 99% kadar tunak
• Jika t ½ obat 2 jam, maka untuk mencapai 97
% kadar tunak diperlukan 5 x 2 jam = 10 jam
pemberian infus
• Obat yang diberikan secara infus dengan kecepatan
tetap proses kinetikanya mengikuti orde 0, sedangkan
kecepata eliminasinya mengikuti proses orde pertama
• Perubahan jumlah obat dalam tubuh setiap saat
(dDb/dt) selama proses berlangsung merupakan
kecepatan input dikurangi kecepatan output (K. Db)
• dDb/dt = D iv – k. Db
• Db = C. VD
𝐷 𝑖𝑣
• C= ( 1 – e –kt).........................persamaan A
𝐾.𝑉𝑑
𝐷𝑖𝑣
• Css = 𝐶𝑙
• D iv = Css. K. VD
Contoh soal
• Suatu antibiotik B laktam terdistribusi dalam VD
sebesar 5 L, tetapan kecepatan eliminasi = 0,20
jam -1. Berapa dosis infus yang akan diberikan jika
diinginkan kadar tunak dalam darah 15 mg/L. Bila
kinetika mengikuti kinetika orde 1 tentukan nilai
klirens.
Bila diasumsikan subyek menderita gagal ginjal
dan kecepatan eliminasi berkurang menjadi 0,10
jam-1, berapa dosis yang tepat bila kadar antibiotik
dalam darah dijaga pada 15 mg/L
Contoh Soal
• Suatu obat diberikan secara infus intravena
dengan kecepatan tetap (50 mg/jam) kepada
subyek selama 4 jam. Dari pustaka diketahui
waktu paruh eliminasi 8 jam dan volume
distribusi 5 L. Tentukan kadar obat dalam
darah 4 jam sejak pemberian infus. Tentukan
kadar tunak dalam darah. Bila konsentrasi
efektif minimum (KEM) adalah 10 mg/L,
tentukan berapa jam tercapai KEM???
Penyelesaian
• K = 0,693 / t ½ eliminasi = 0,693/ 8 = 0,0866 jam-
1
50
• C= ( 1 – e -0,0866.4 )
(0,0866)(5)
= (115,47)(0,293) = 33,81 mg/L
dalam waktu 4 jam tercapai 33,81 mg/L
𝐷 𝑖𝑣
• Css =
𝐾.𝑉𝐷
= 50/ 0,0866. 5
= 115,47 mg/L
.
Penghentian infus setelah tercapai
keadaan tunak
• Infus dihentikan apabila ternyata subjek
menunjukkan gejala keracunan
• Pada saat infus dihentikan kadar obat dalam
darah = Css, karena tidak ada lagi obat masuk
• Kadar obat dalam darah setelah infus
dihentikan (C) = Css . e-kt
Contoh Soal
• Diberikan infus intravena larutan steril 5 mg/jam per kg
BB kepada subyek dewasa 60 kg sampai tercapai
keadaan tunak. Karena subyek mengalami overdosis
infus dihentikan, pada saat itu kadar obat dalam darah
30 mg/L. T1/2 eliminasi = 8 jam. Berapa lama waktu
diperlukan sejak penghentian infus agar kadar obat
dalam darah mencapai kadar toksik minimum ( 15
mg/L) . Berapa lama waktu yang diperlukan agar
konsentrasi obat dalam darah menjadi KEM ( 7,5
mg/L). Tentukan pula nilai klirens dan Volume
Distribusi. Bila ingin di atur kadar tunak dalam darah
pada kisaran terapetik (10 mg/L) , tentukan berapa
dosis yang harus diberikan
Penyelesaian
• Tentukan dulu nilai Ke
0,693
• Ke = = 0,0866 jam -1
8 𝑗𝑎𝑚
• Ct = Css. e-kt
• 15 = 30. e -0,0866.t
• Ln 15 = Ln 30 – (0,0866).(t)
• T = 8 jam
• Butuh waktu 8 jam agar kadar obat turun dari
30 menjadi 15 mg/L
Penghentian infus sebelum tercapai
keadaan tunak
• Infus dihentikan karena berbagai hal ; salah
hitung dosis infus, subyek merasakan gejala
overdosis, batrai pompa infus habis, lstrik padam
tiba-tiba.
• Kenaikan kadar obat sebelum mencapai keadaan
tunak setelah infus dihentikan yaitu :
𝐷 𝑖𝑛𝑓
Ct = (1 – e-kt inf)
𝐾.𝑉𝑑
Ct = Css (1- e-kt )
Contoh soal
• Sediaan steril diberikan infus dengan
kecepatan tetap 50 mg/jam selama 4 jam
kepada subyek dewasa. Lalu infus dihentikan
karena sesuatu dan lain hal. Dari pustaka
diketahui T ½ eliminasi = 6 jam, infus diberikan
selama 4 jam sebelum mencapai kadar tunak
pada subyek. VD = 5 liter. Berapa kadar obat
dalam darah pada saat infus dihentikan???
Penyelesaian
• K = 0,693/ T1/2 eliminasi = 0,693/ 6 = 0,1155
jam-1
50
• C4 = (1 – e -0,1155. 4) = 32 mg/L
(0,1155)(5