Tujuan pengobatan pasien kanker
adalah untuk mencegah sel kanker
untuk melakukan multiplikasi,
invasi, metastasis, dan yang paling
penting adalah mencegah
kematian pasien karena kanker.
Dengan demikian, target
pemberian kemoterapi tergantung
pada tipe kanker dan seberapa
jauh stadium kankernya.
Kemoterapi diberikan dengan
alasan sebagai berikut :
[Link] kanker
[Link] resiko penyebaran
kanker
[Link] pertumbuhan
kanker
[Link] pertumbuhan
sebaran sel kanker (metastasis)
[Link] gejala-gejala yang
disebabkan karena kanker (terapi
paliatif)
Kemoterapi diberikan sebelum pembedahan dengan tujuan untuk mengecilkan massa
tumor (disebut neo-adjuvant chemotherapy) atau diberikan setelah pembedahan
(disebut adjuvant chemotherapy).
Terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan sebelum, saat dan sesudah
pemberian kemoterapi, terutama oleh dokter maupun perawat yang akan
memberikan kemoterapi.
PENILAIAN PRE KEMOTERAPI
[Link] Diagnosis Kanker
Bukti sitologi atau histologi yang sesuai dengan tampilan klinis merupakan hal yang
penting dalam memutuskan melakukan kemoterapi
[Link]
Jika diagnosis keganasan sudah ditegakkan, sangat penting menentukan stadium
penyakitnya. Penentuan stadium ini tidak hanya berguna dalam menilai perjalanan
penyakit saja, tetapi penting dalam menentukan pilihan terapi dan prognosisnya.
[Link] performa pasien
Status performa merupakan cerminan kemampuan pasien melakukan aktivitas.
Parameter ini digunakan untuk menilai gangguan lain yang menyetai penderita
kanker dan juga indikator prognosis respon terhadap pengobatan yang akan
diberikan. Pasien dengan status performa buruk, bukan merupakan kandidat yang
tepat untuk melakukan kemoterapi. Pada kasus-kasus seperti ini perhitungan
manfaat pengobatan dengan resiko efek samping yang mungkin timbul perlu
mendapat perhatian. Saat ini terdapat dua skala status performa yang sering
digunakan dalam menilai kondisi pasien kanker, yaitu skala Karnofsky dan skala the
Eastern Cooperative Oncology Group (ECOG).
Setiap pasien yang akan menjalani kemoterapi diberikan konseling terlebih dahulu tentang kemoterapi
yang akan dijalaninya. Informasi ini juga diberikan kepada keluarga terdekatnya.
Informasi yang penting untuk diketahui pasien antara lain :
[Link] kemoterapi
[Link] respon kemoterapi
[Link] kemoterapi: Tergantung jenisnya, ada yang setiap hari, seminggu sekali, dua minggu, tiga
minggu ataupun sebulan sekali.
[Link] pemberian obat kemoterapi, dijelaskan kepada pasien ;
[Link] Intravena (IV Bolus): obat diberikan langsung melalui vena sebagai injeksi bolus
[Link] Intravena : obat diberikan melalui vena dalam beberapa menit sampai beberapa jam
[Link] Kontinyu: Obat diberikan selama 24 jam
[Link] Intrarterial (IA): obat diberikan melalui arteri yang memperdarahi tumor.
[Link]: obat diberikan melaui selaput perut
[Link]
[Link] subkutan
[Link]
[Link]
[Link] Samping yang mungkin timbul harus diberitahukan kepada pasien baik langsung setelah
diberikan kemoterapi maupun beberapa hari setelah kemoterapi.
[Link] dan Pengelolaan Efek Samping, harus diberitahukan kepada pasien seperti anti mual-
muntah, transfusi darah, dan antimikroba serta kemungkinan timbul efek samping seperti: depresi
sumsum tulang, mual/muntah, diare, konstipasi, mucositis, rambut rontok, kehilangan nafsu makan,
demam, malaise, depresi dan kulit kering.
Radioterapi atau terapi radiasi adalah prosedur
medis yang digunakan untuk menangani
penyakit kanker. Prosedur ini dilakukan dengan
bantuan energi sinar-X yang kuat untuk
membunuh sekaligus menghentikan
perkembangbiakan dan penyebaran sel-sel
kanker yang bersarang di dalam tubuh. Selain
dengan pemaparan sinar-X, radioterapi juga
bisa dilakukan dalam bentuk implan, obat
suntik atau oral.
Dokter akan mempertimbangkan tindakan radioterapi dengan tujuan seperti berikut
ini:
Menjadi prosedur tunggal untuk mengobati penyakit kanker.
Mengobati kanker yang dikombinasikan dengan pengobatan lainnya.
Mengurangi atau memperkecil ukuran tumor sebelum dilakukan operasi.
Meringankan gejala-gejala pada kondisi kanker stadium lanjut.
Membunuh dan membersihkan sel-sel kanker agar tidak kembali setelah operasi
Sebelum radioterapi dilakukan, dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan
untuk memastikan apakah prosedur ini sesuai dengan kondisi pasien. Setelah itu,
dokter bisa menentukan dosis serta frekuensi radioterapi. Pengobatan ditentukan
berdasarkan jenis serta stadium kanker yang dialami pasien.
Dokter juga akan melakukan simulasi radiasi yang terdiri dari
beberapa tahap, seperti dijelaskan di bawah ini:
Pasien diminta berbaring dan menentukan posisi yang nyaman
agar prosedur radioterapi bisa berjalan dengan lancar.
Tim dokter akan memberikan bantal dan mengikat pasien agar
posisinya tidak berubah selama radioterapi berlangsung.
Tim dokter akan melakukan pemindaian dengan CT scan untuk
menentukan bagian tubuh mana yang akan mendapatkan
radiasi.
Tim dokter akan menentukan jenis radioterapi yang digunakan
dan berapa kali radioterapi itu akan dilakukan sesuai hasil
pemeriksaan.
Tim dokter akan menandai bagian tubuh pasien yang akan
mendapatkan paparan gelombang radiasi.
Setelah semua tahapan di atas selesai, radioterapi siap
dilakukan.
Ada tiga jenis radioterapi yang sering digunakan untuk
menangani penyakit kanker. Penerapannya pun berbeda-
beda, tergantung kondisi pasien serta ukuran dan jenis
kankernya. Berikut ini adalah penjelasan singkatnya.
Radioterapi eksternal, yaitu terapi radiasi yang
dilakukan dengan bantuan peralatan medis dengan
mengarahkan pancaran energi ke bagian tubuh yang
ditumbuhi sel-sel kanker. Setiap sesi pengobatan ini
umumnya memakan waktu 10-30 menit dan tidak
menimbulkan rasa sakit. Pasien juga bisa langsung
kembali ke rumah sesaat setelah pengobatan
dilakukan.
Radioterapi implan, yaitu terapi radiasi yang dilakukan dengan
cara memasukkan metal radioaktif ke dalam tubuh dan
ditempatkan di sekitar area pertumbuhan sel-sel kanker. Pada
umumnya, logam ini akan dikeluarkan setelah radioterapi
berhasil. Namun pada kasus tertentu logam ini sengaja
dibiarkan tetap berada di dalam tubuh pasien.
Terapi radioisotop, yaitu terapi radiasi yang dilakukan dengan
memasukkan cairan radioaktif ke dalam tubuh, baik dengan
cara ditelan maupun disuntikkan ke dalam pembuluh darah.
Terapi radioisotop sering digunakan pada pasien
penderita kanker tiroiddan kanker prostat. Pengobatan jenis ini
mengharuskan pasien untuk tinggal lebih lama di rumah sakit.
Radioterapi tidak hanya dilakukan sehari,
melainkan bisa beberapa hari, beberapa minggu,
atau bahkan bisa sampai beberapa bulan
tergantung kondisi pasien. Selama masa
pengobatan tersebut, pasien akan mendapatkan
pengawasan ketat dari dokter. Pasien juga harus
menjalani serangkaian tes untuk mengetahui
kondisi kesehatan serta efek samping yang
mungkin ditimbulkan dari radioterapi.
Pengobatan tambahan mungkin akan diberikan
dokter untuk meringankan gejala serta mengatasi
efek samping. Dengan begitu, hari-hari pasien
akan terasa lebih nyaman.
Seperti jenis pengobatan lainnya, radioterapi juga berpotensi menimbulkan efek
samping. Umumnya efek samping itu akan sembuh setelah terapi radiasi
berakhir. Beberapa efek samping yang mungkin ditimbulkan antara lain:
Diare. Gejala ini biasanya muncul beberapa hari setelah radioterapi dilakukan.
Limfedema. Kondisi ini menyebabkan pembengkakan di kaki dan tangan.
Mudah lelah, terutama setelah melakukan aktivitas sehari-hari.
Kulit memerah, gatal, dan
Kerontokan rambut. Umumnya ini terjadi di bagian yang terkena radioterapi.
Muncul luka di mulut yang menyebabkan nafsu makan menurun.
Gangguan psikologis, misalnya depresi, frustrasi, stres, atau
Gangguan seksual, terutama jika kanker terjadi di perut dan di daerah
panggul.
Kehilangan nafsu makan yang juga menyebabkan berat badan ikut menurun.
Gangguan sendi dan otot berupa munculnya rasa nyeri dan pembengkakan.