0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan27 halaman

Nilai Normal Kreatinin dan Fungsi Ginjal

Dokumen tersebut membahas tentang interpretasi data klinik gangguan fungsi ginjal. Ia menjelaskan pengertian kreatinin dan fungsinya untuk memonitor fungsi ginjal, metabolisme kreatinin, faktor yang mempengaruhinya, nilai normal kreatinin, gejala kreatinin tinggi dan interpretasi hasil pemeriksaan kreatinin. Selain itu, dibahas pula jenis-jenis pemeriksaan fungsi ginjal termasuk inulin yang digunakan untuk meng

Diunggah oleh

Mus Fira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
76 tayangan27 halaman

Nilai Normal Kreatinin dan Fungsi Ginjal

Dokumen tersebut membahas tentang interpretasi data klinik gangguan fungsi ginjal. Ia menjelaskan pengertian kreatinin dan fungsinya untuk memonitor fungsi ginjal, metabolisme kreatinin, faktor yang mempengaruhinya, nilai normal kreatinin, gejala kreatinin tinggi dan interpretasi hasil pemeriksaan kreatinin. Selain itu, dibahas pula jenis-jenis pemeriksaan fungsi ginjal termasuk inulin yang digunakan untuk meng

Diunggah oleh

Mus Fira
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

INTERPRETASI DATA KLINIK

GANGGUAN FUNGSI GINJAL


DISUSUN OLEH:

 ANISA SASKIA G701 17 144


 Siska oktaviana s. p g701 17 154
 HAMRA SAKARIA G701 17 155
 TIKA SURYANINGSIH G701 17 162
PENGERTIAN
Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot
yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan hampir konstan dan diekskresi dalam
urin dengan kecepatan yang sama. Kreatinin diekskresikan oleh ginjal melalui
kombinasi filtrasi dan sekresi, konentrasinya relative sama dalam plasma hari ke hari,
kadar yang lebih besar dari nilai normal mengisyaratkan adanya gangguan fungsi
ginjal.
FUNGSI

Kreatinin dalam darah berfungsi untuk memonitor fungsi ginjal. Selain itu, kreatinin
juga sering digunakan sebagai monitor pasien dengan konsumsi obat – obatan yang
bersifat racun terhadap ginjal seperti antibiotik golongan aminoglikosida.
METABOLISME KREATININ

Kreatinin dalam urin berasal dari filtrasi glomerulus dan sekresi


oleh tubulus proksimal [Link] molekulnya kecil sehingga
dapat secara bebas masuk dalam filtrat glomerulus. Kreatinin yang
diekskresi dalam urin terutama berasal dari metabolisme kreatinin
dalam otot sehingga jumlah kreatinin dalam urin mencerminkan
massa otot tubuh dan relatif stabil pada individu sehat.
Metabolisme kreatinin dalam tubuh ini menyebabkan ekskresi
kreatinin tidak benar-benar konstan dan mencerminkan filtrasi
glomerulus, walaupun pada orang sehat tanpa gangguan fungsi
ginjal, besarnya degradasi dan ekskresi ekstrarenal kreatinin ini
minimal dan dapat diabaikan.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KADAR KREATININ
 Perubahan massa otot.
 Diet kaya daging meningkatkan kadar kreatinin sampai beberapa jam
setelah makan.
 Aktifitas fisik yang berkebihan dapat meningkatkan kadar kreatinin darah.
 Obat obatan seperti sefalosporin, aldacton, aspirin dan co-trimexazole
dapat mengganggu sekresi kreatinin sehingga meninggikan kadar kreatinin
darah.
 Kenaikan sekresi tubulus dan destruksi kreatinin internal.
 Usia dan jenis kelamin pada orang tua kadar kreatinin lebih tinggi daripada
orang muda, serta pada laki-laki kadar kreatinin lebih tinggi daripada
wanita.
NILAI NORMAL KREATININ

Wanita biasanya memiliki kadar kreatinin lebih rendah dibandingkan


laki-laki karena perempuan memiliki jaringan otot yang lebih sedikit.
Perlu diketahui bahwa umumnya, kadar kreatinin dalam darah tetap
tidak berubah dari hari ke hari karena massa otot biasanya tetap sama.
Penggunaan obat-obatan tertentu, makan banyak daging atau latihan
otot atau olahraga lainnya dapat menyebabkan kadar kreatinin tinggi,
bahkan pada mereka yang tidak memiliki penyakit ginjal kronis (CKD).
Sedangkan sebaliknya, kadar kreatinin bisa lebih rendah dari normal
pada orang yang sudah lanjut usia, orang yang kekurangan gizi atau
vegetarian.
Nilai normal kreatinin pada orang dewasa :
laki-laki : 0,6-1,2mg/dl
perempuan : 0,5-1,1 mg/dl
urine : 1 – 1,5 mg/dl
Gejala Kreatinin Tinggi Beberapa orang yang
memiliki penyakit ginjal sehingga kadar
kreatinin darah menjadi tinggi, mereka tidak
merasa gejala apapun. Namun beberapa
orang dapat mengelami gejala kreatinin tinggi
sebagai berikut:
 Rasa lelah atau lemah
 Dehidrasi
 Kebingungan
 Sesak napas
INTERPRETASI HASIL PEMERIKSAAN KREATININ
Interpretasi Data Klinik:
 Kreatinin serum 2 - 3 mg/dL menunjukan fungsi ginjal yang menurun
50 % hingga 30 % dari fungsi ginjal normal.
 Konsentrasi kreatinin serum juga bergantung pada berat, umur dan
masa otot.
APLIKASI KLINIS KREATININ
Aplikasi klinis kreatinin seperti dibawah ini :
 Konsentrasi kreatinin serum meningkat pada gangguan fungsi
ginjal baik karena gangguan fungsi ginjal disebabkan oleh
nefritis, penyumbatan saluran urine, penyakit otot atau dehidrasi
akut.
 Konsentrasi kreatinin serum menurun akibat distropi otot, atropi,
malnutrisi atau penurunan masa otot akibat penuaan.
 Obat-obat seperti asam askorbat, simetidin, levodopa dan
metildopa dapat mempengaruhi nilai kreatinin pada
pengukuran laboratorium walaupun tidak berarti ada gangguan
fungsi ginjal.
 Nilai kreatinin boleh jadi normal meskipun terjadi gangguan
fungsi ginjal pada pasien lanjut usia (lansia) dan pasien
malnutrisi akibat penurunan masa otot.
 Kreatinin mempunyai waktu paruh sekitar satu hari. Oleh
karena itu diperlukan waktu beberapa hari hingga kadar
kreatinin mencapai kadar normal untuk mendeteksi perbaikan
fungsi ginjal yang signifi kan.
 GEJALA PENYAKIT GINJAL
 Gejala penyakit ginjal tergantung dari jenis penyakitnya dan
apakah penyakit tersebut mengakibatkan penurunan fungsi
ginjal. Beberapa gejala penurunan fungsi ginjal dan gejala
penyakit ginjal secara spesifik, antara lain:
o Terjadi pembengkakan di pergelangan kaki dan sekitar mata.
o Mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat
badan.
o Volume urine dan frekuensi buang air kecil berkurang.
o Urine berbusa.
o Merasa lelah dan sesak napas.
o Kulit kering dan terasa gatal
o Terjadi kram otot, terutama di tungkai.
o Susah tidur.
o Tekanan darah tinggi.
o Gangguan irama jantung.
o Penurunan kesadaran.
o Pada gagal ginjal akut dapat terlihat tanda dehidrasi.
o Nyeri punggung bawah dan urine bercampur darah dapat
terjadi pada penderita batu ginjal, penyakit ginjal polikistik,
dan infeksi ginjal.
o Pada penderita infeksi ginjal dan batu ginjal dapat timbul
keluhan demam dan menggigil.
GEJALA PENYAKIT GINJAL

 Gejala penyakit ginjal tergantung dari jenis penyakitnya dan


apakah penyakit tersebut mengakibatkan penurunan fungsi
ginjal. Beberapa gejala penurunan fungsi ginjal dan gejala
penyakit ginjal secara spesifik, antara lain:
o Terjadi pembengkakan di pergelangan kaki dan sekitar mata.
o Mual, muntah, kehilangan nafsu makan, dan penurunan berat
badan.
o Volume urine dan frekuensi buang air kecil berkurang.
o Urine berbusa.
o Merasa lelah dan sesak napas.
o Kulit kering dan terasa gatal
 Jenis-Jenis Pemeriksaan Fungsi Ginjal
 Pemeriksaan fungsi ginjal ada yang rutin dilakukan dan ada juga yang
sifatnya tambahan. Jenis-jenis pemeriksaan fungsi ginjal yang rutin
dilakukan adalah:
 Tes urine, untuk mengetahui adanya protein dan darah dalam urine
yang menandakan penurunan fungsi ginjal.
 Ureum atau blood urea nitrogen (BUN), yaitu tes untuk menentukan
kadar urea nitrogen dalam darah yang merupakan zat sisa dari
metabolisme protein dan seharusnya dibuang melalui ginjal.
 Kreatinin darah, yaitu tes untuk menentukan kadar kreatinin dalam darah. Kreatinin
merupakan zat sisa hasil pemecahan otot yang akan dibuang melalui ginjal. Kadar
kreatinin yang tinggi dalam darah dapat menjadi tanda adanya gangguan pada ginjal.
 Glomerulo filtration rate (GFR), yaitu tes untuk melihat kemampuan ginjal dalam
menyaring zat sisa metabolisme dari dalam tubuh.
PEMERIKSAAN FUNGSI GINJAL
Pemeriksaan fungsi ginjal dilakukan melalui pengambilan
sampel darah dan sampel urine. Sampel darah diambil
menggunakan jarum khusus untuk dianalisis di laboratorium.
 Pertama-tama, dokter akan mengikat lengan bagian atas pasien
dengan tali khusus, sehingga pembuluh darah venanya terlihat
dengan jelas. Setelah itu, dokter akan membersihkan kulit di derah
vena dengan menggunakan alkohol.
Dokter kemudian akan menusukkan jarum khusus ke dalam
pembuluh vena, dan memasang tabung sampel darah pada jarum.
Darah akan mengalir dari pembuluh vena ke dalam tabung
tersebut. Jika dirasa sudah cukup, jarum akan dicabut dan titik
bekas tusukan jarum pada kulit akan ditutup dengan plester
khusus.
 Sedangkan untuk sampel urine, diambil ketika pasien buang air kecil
dan disimpan dalam wadah khusus. Pada saat buang air kecil,
biarkan sejumlah urine pada awal buang air kecil terbuang tanpa
ditampung. Setelah itu, tampung urine secukupnya ke dalam wadah
sampel dan tutup rapat. Jika sudah selesai, urine dapat langsung
dibawa ke laboratorium untuk diperiksa atau disimpan di lemari es
terlebih dahulu.
 Pasien dapat diminta untuk mengumpulkan sampel urine selama 24
jam. Jika diminta mengambil sampel urine selama 24 jam, pasien
harus menampung urine tiap kali buang air kecil ke dalam wadah
sampel. Selama proses pengambilan sampel, wadah penampungan
juga harus disimpan di dalam lemari es sebelum dibawa ke
laboratorium untuk diperiksa.
INULIN
 Inulin digunakan untuk membantu mengukur
fungsi ginjal dengan menentukan laju filtrasi
glomerulus (GFR), yang merupakan volume
cairan yang disaring dari
kapiler glomerulus ginjal (ginjal) ke
dalam kapsul Bowman per unit
waktu. [27] Inulin digunakan khusus karena
tidak disekresikan atau diserap kembali dalam
jumlah yang cukup di nefron , memungkinkan
GFR untuk dihitung.
 Fructose polymer inulin dengan berat molekul 5.200 Da merupakan
penanda yang ideal untuk glomerular fi ltration rate. 9 Inulin bersifat
inert dan dibersihkan secara menyeluruh oleh ginjal. Klirens inulin
menggambarkan fungsi filtrasi ginjal karena inulin merupakan zat yang
difiltrasi bebas, tidak direabsorpsi, dan tidak disekresikan oleh tubulus
ginjal. Pasien berpuasa terlebih dahulu sebelum pemeriksaan kliren
inulin dilakukan. Adapun cara pemeriksaan kliren inulin yaitu 25 mL
inulin 10% diinjeksi intravena diikuti dengan pemberian 500 mL inulin
1,5% dengan kecepatan 4 mL/menit. Pemasangan kateter urin
diperlukan untuk mengumpulkan urin setiap 20 menit sebanyak 3 kali.
Pengambilan darah vena untuk pemeriksaan inulin juga dilakukan pada
awal dan akhir periode pengumpulan urin.
 Penggunaan inulin untuk menilai fungsi ginjal membutuhkan laju infus
intravena yang konstan untuk mempertahankan tingkat plasma dan
kadar puncak yang telah dicapai. Pengukuran Inulin saat ini lebih sering
dilakukan dengan menggunakan inulinase. suatu enzim yang
mengubah inulin menjadi fruktosa. Kadar fruktosa kemudian
ditentukan dengan bantuan sorbitol dehydrogenase dan pengukuran
kadar dilakukan secara fotometris pada panjang gelombang 340 nm.
Namun pemeriksaan inulin membutuhkan prosedur khusus yang
membutuhkan waktu, observasi, harganya cukup mahal dan tidak
dapat dilakukan untuk pasien rawat jalan
Cystatin c
 Cystatin C merupakan zat yang diproduksi oleh sel tubuh
secara tetap, difiltrasi melalui glomerulus, tidak disekresi
oleh tubuli ginjal. Pemeriksaan CysC dapat dilakukan untuk
menentukan kadar LFG pada neonatus, anak dan dewasa,
karena Zat ini tidak dipengaruhi oleh makanan, usia, massa
otot serta luas permukaan badan, sehingga diperkirakan
dapat menjadi alternatif baru sebagai penanda uji fungsi
ginjal.
 Pemeriksaan CysC dapat dilakukan dengan metode ELISA,
PETIA dan PENIA, metode PENIA presisinya lebih baik dan
rentang nilai normalnya lebih stabil. Sampel untuk
pemeriksaan CysC dapat dipergunakan serum, plasma
EDTA dan heparin, urine, serta mulai diteliti penggunaan
sampel darah kapiler sehingga dapat digunakan
Bun : blood urea nitrogen
 Ureum atau blood urea nitrogen (BUN), yaitu tes
untuk menentukan kadar urea nitrogen dalam darah
yang merupakan zat sisa dari metabolisme protein
dan seharusnya dibuang melalui ginjal. Kadar ureum
darah perlu diuji melalui tes Blood Urea
Nitrogen (BUN) untuk mengetahui nilai ureum normal
atau tidak.
 Pemeriksaan kadar nitrogen ureum darah (BUN)
dilakukan dengan cara mengukur konsentrasi
nitrogen di dalam plasma darah.
Lanjutan….

 nilah nilai normal ureum pada beberapa kategori usia


menurut data Centers for Disease Control and
Prevention (CDC):
 Usia 0-5 tahun : 5-18 mg/dL
 Usia 5-15 tahun : 7-18 mg/dL
 Usia lebih dari 15 tahun : 6-23 mg/dL
Prosedur pemeriksaan kadar ureum darah harus
melewati beberapa langkah :

1. Proses pengambilan darah


Pasien yang akan menjalani tes BUN harus diambil sampel
darahnya. Sampel darah diambil melalui pembuluh darah vena di lengan.
Pengambilan sampel darah pasien untuk tes BUN perlu menunda diet
tinggi protein dan menghentikan terapi obat tertentu atas saran dokter.
Efek samping yang mungkin terjadi setelah pengambilan sampel darah
adalah hematoma atau adanya memar kebiruan pada tempat suntikan
pengambilan darah.
2. Pemeriksaan ureum di laboratorium
Setelah sampel darah disimpan di dalam tabung yang sudah
diberikan label keterangan, maka kadar ureum darah akan diperiksa di
laboratorium. Ada beberapa metode untuk mengukur kadar ureum darah.
Metode yang bisa dilakukan untuk mengukur kadar nitrogen darah (urea)
di antaranya adalah metode enzimatik UV, colorimetri, dan UV Auto Fast
Rate. Biasanya, metode enzimatik sering dipilih karena lebih murah, lebih
mudah, lebih cepat, dan tingkat akurasi lebih tinggi.
Urinalisa pemeriksaan ginjal secara
mikroskopik, makroskopik dan kimiawi :
Mikroskopik

 mikroskopik urine yaitu pemeriksaan sedimen urine. Ini penting untuk


mengetahui adanya kelainan pada ginjal dan saluran kemih serta berat
ringannya [Link] yang dipakai ialah urin sewaktu yang segar atau
urine yang dikumpulkan dengan pengawet formalin.
 Pemeriksaan sedimen dilakukan dengan memakai lensa objektif kecil (10X)
yang dinamakan lapangan penglihatan kecil atau [Link] itu dipakai lensa
objektif besar (40X) yang dinamakan lapangan penglihatan besar atau LPB.
 Unsur sedimen yang kurang bermakna seperti epitel atau kristal cukup
dilaporkan dengan :
 + (ada),
 ++ (banyak)
 +++ (banyak sekali).

 Unsur sedimen dibagi atas dua golongan yaitu :


1. unsur organik
2. non organik.
Lanjutan…

 Yang dimaksud dengan pemeriksaan mikroskopik urin


yaitu pemeriksaan sedimen urin. Pemeriksaan
mikroskopis dilakukan dengan memutar (centrifuge)
urin lalu mengamati endapan urin di bawah
mikroskop. Tes ini bertujuan untuk mengetahui unsur-
unsur organik (sel-sel : eritrosit, lekosit, epitel),
silinder, silindroid, benang lendir; unsur anorganik
(kristal, garam amorf); elemen lain (bakteri, sel jamur,
parasit Trichomonas sp., spermatozoa).
Makroskopik urin
 Pemeriksaan urin makroskopik adalah pengamatan urin yang dilihat dengan mata
telanjang dan tidak memerlukan pemeriksaan di bawah mikroskop. Analisis
makroskopik urin dilakukan dengan memeriksa penampilan fisik urin. urine normal
berwarna kuning dan jernih. urinalisis makroskopik akan mencatat jumlah, warna, dan
kejernihan dari urin serta karakteristik yang terlihat dari urin seperti adanya darah atau
bekuan darah, endapan, atau sedimen.
 Yang diperiksa adalah volume, warna, kejernihan, berat jenis, bau dan pH urine.
Pengukuran volume urine berguna untuk menafsirkan hasil pemeriksaan kwantitatif
atau semi kwantitatif suatu zat dalam urine dan untuk menentukan kelainan dalam
keseimbangan cairan badan.
Pengukuran volume urine yang dikerjakan bersama dengan berat jenis urine
bermanfaat untuk menentukan gangguan faal ginjal.

Warna
 Urin normal memiliki warna khusus yang menunjukkan adanya penyakit atau infeksi.
 Urin normal berwarna kuning karena pigmen urokrom dan urobilin.
 Urin encer hampir tidak berwarna
 Urin pekat berwarna kuning tua atau sawo matang
KIMIAWI
 Skrening kimiawi Metode yang paling utama menggunakan
dipstik, meskipun terlihat mudah tetapi merupakan reaksi kimia
yang kompleks. Beberapa rekomendasi untuk penyimpanan
maupun penggunaan metode tersebut yaitu simpan ditempat
kering dan sejuk, jika terjadi perubahan warna maka
reaktivitasnya hilang, wadah tertutup rapat dan periksa intruksi
manualnya mungkin ada perubahan prosedur.
 Pelaksanaan tes urin dilakukan segera, ambil beberapa tes dan
segera tutup kembali, urin harus homogen, urin pada suhu
kamar saat tes dilakukan, jangan menyentuh area tes dengan
tangan, masukkan disptik dengan singkat dan buang kelebihan
urinnya, pembacaan sesuai instruksi pada kit. Gangguan
pembacaan disebabkan oleh ascorbic acid, phenazopyridine,
senyawa azo dan metilen blue yang merubah warna urin.1
 Pemeriksaan kimia urine mencakup pemeriksaan glukosa,
protein (albumin), bilirubin, urobilinogen, pH, berat jenis, darah
(hemoglobin), benda keton (asam asetoasetat dan/atau aseton),
nitrit, dan leukosit esterase
Sekian dan terimakasih

Anda mungkin juga menyukai