Fungsi Seksual Wanita Pasca Persalinan
Fungsi Seksual Wanita Pasca Persalinan
TESIS
Oleh :
dr. Rizka Arsil
No CHS 1550305204
Pembimbing :
dr. H. Syahredi SA, SpOG (K)
Dr. dr. H. Hafni Bachtiar, MPH
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Nyeri perineum dan dispareunia masalah pasca
persalinan yang sering terjadi dan mengganggu fungsi
seksual yang normal biasanya terjadi akibat trauma
perineum, episiotomi, dan instrumentasi persalinan
Wanita post partum dengan perineum utuh hasil yang baik saat berhubungan
seksual , sedangkan wanita post partum dengan trauma perineum dan penggunaan
intrumentasi kebidanan peningkatan frekuensi atau keparahan dyspareunia
Johnson dispareunia menetap lebih dari 6 bulan terjadi 3,4% untuk persalinan
spontan tanpa perlukaan dan seksio sesaria, 10% dengan episiotomi dan 14% untuk
pervaginam dengan bantuan alat atau operatif.
Leal et al (2013) tidak terdapat perbedaan fungsi seksual yang signifikan antara
wanita yang diepisiotomi dan wanita dengan perineum utuh
Female Sexual Function Index (FSFI) pengukuran yang valid dan akurat terhadap
fungsi seksual wanita
Rumusan Apakah terdapat perbedaan
Masalah fungsi seksual wanita pasca
persalinan pervaginam dengan
episiotomi dan tanpa
episiotomi pada wanita
primipara?
Tujuan
1. Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan fungsi seksual wanita pasca persalinan
pervaginam dengan episiotomi dan tanpa episiotomi pada wanita
primipara berdasarkan skor Female Sexual Function Index (FSFI)
2. Tujuan Khusus
Keilmuan Pelayanan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Perineum
Anatomi
Perineum
Episiotomi
median
Episiotomi
mediolateral
Fase 1: Segera setelah cedera, aliran darah ke area
Penyembuhan luka meningkat, akumulasi leukosit dan fibrosit.
enzim proteolitik memakan jaringan yang
luka episiotomi mengalami cedera.
Penambahan usia
Infeksi
Seksualitas
Wanita
Menurut World Health
Organization (WHO)
keadaan dimana fisik,
emosional, mental dan
kesejahteraan sosial yang
stabil yang berkaitan
dengan seksualitas, serta
bukan hanya sekedar tidak
ada penyakit, disfungsi,
atau kelemahan.
Fungsi Seksual Wanita
• suatu keadaan dimana wanita tersebut dapat berespon dan mengalami empat fase dari siklus
respon seksual wanita dengan baik.
Biologi
Hubungan (hormonal,
Psikologi interpersonal
Lingkungan
vaskuler, otot,
saraf).
• Gambar 2.7 Kepentingan seksual menurut wanita (Sumber : Bayer, 2006)
• Gambar 2.8 Arti kepuasan seksual bagi wanita (Sumber : Bayer, 2006)
Respon seksual Wanita
Siklus reaksi
seksual :
Faktor Organik
Faktor Psikososial
– Otot dasar panggul bertanggung jawab terhadap sensasi
yang dirasakan oleh seorang wanita selama berhubungan
seksual, dan kuatnya cengkraman vagina yang dirasakan
oleh pasangannya.
– Sensasi selama berhubungan seksual akibat otot yang
kuat memiliki saraf yang lebih sensitive
– Faktor resiko penurunan fungsi otot levator kompresi
dan peregangan saraf pudendus selama persalinan
– Snooks dan Swash kerusakan saraf pudendus yang reversible
terjadi pada persalinan pervaginam namun kehilangan fungsi
otot secara permanen seringkali terjadi
– kerusakan saraf pudendus : persalinan forcep, multiparitas,
pemanjangan kala dua, robekan perineum derajat tiga atau
empat, dan makrosomia
– 42-80% dari persalinan pervaginam kehilangan inervasi saraf
pudendus pada otot pubokoksigeus dan otot sfingter ani
Pengaruh
Kerusakan perineum mengakibatkan
Episiotomi hilangnya tonus vagina dan atau tonus anus.
Terhadap Fungsi
Seksual Pasca Lesi saraf pudenda sering pada episiotomi
Persalinan yang dilakukan terlalu dalam ataupun terlalu
meluas sampai derajat tiga atau empat.
Signorello (Amerika Serikat) robekan perineum derajat dua, dengan atau tanpa
episiotomi meningkatkan insiden dispareunia pada 3 bulan pasca persalinan
Rathfisch (2010) wanita yang diepisiotomi dan laserasi perineum derajat dua
tingkat libido, orgasme, dan kepuasan seksual lebih rendah serta sering nyeri
selama berhubungan seksual
Barbara (2016) wanita yang diepisiotomi memiliki skor arousal, lubrication,
orgasm, dan fungsi seksual secara umum lebih rendah dibandingkan yg SC skor
orgasm lebih rendah dibandingkan persalinan pervaginam spontan
Klein (2009) tidak terdapat perbedaan fungsi seksual signifikan 12-18 bulan
setelah persalinan antara persalian wanita tanpa episiotomi, dengan laserasi
perineum, dan sectio caesarea elektif
Souza AD (2015) tidak terdapat perbedaan fungsi seksual 12 bulan post partum
antara wanita dengan perineum utuh atau mengalami laserasi perineum
Keseluruhan fungsi seksual tidak dipengaruhi oleh laserasi perineum Aktifitas
seksual sebagian besar wanita (94%) kembali seperti semula pada 6 bulan post
partum
Pengukuran Kualitas Fungsi Seksual Wanita
dengan Female Sexual Function Index (FSFI)
1. Selama lebih dari 4 minggu ini, seberapa sering anda merasakan 5 = hampir tiap saat/setiap saat
hasrat atau keinginan seksual ? 4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (kurang dari separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
2. Selama lebih dari 4 minggu ini, berapa menurut anda tingkat dari 5 = sangat tinggi
keinginan atau hasrat seksual anda? 4 = tinggi
3 = sedang
2 = rendah
1 = sangat rendah atau tidak sama sekali
3. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering anda merasa 0 = tidak ada kegiatan seksual
terangsang selama aktifitas seksual atau saat berhubungan badan? 5 = hampir selalu atau selalu
4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (kurang dari separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
4. Selama 4 minggu terakhir ini, berapa menurut anda 0 = tidak ada kegiatan seksual
tingkat hasrat seksual anda yang muncul selama aktifitas 5 = sangat tinggi
seksual atau saat berhubungan badan? 4 = tinggi
3 = sedang
2 = rendah
1 = sangat rendah atau tidak sama sekali
5. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa tinggi kepercayan 0 = tidak ada kegiatan seksual
diri terhadap kemampuan untuk menjadi terangsang 5 = sangat tinggi
selama kegiatan seksual atau saat berhubungan badan? 4 = tinggi
3 = sedang
2 = rendah
1 = sangat rendah atau tidak sama sekali
6. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering anda puas 0 = tidak ada kegiatan seksual
dengan hasrat seksual anda selama kegiatan seksual atau 5 = hampir selalu atau selalu
saat berhubungan badan? 4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (hampir separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
7. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering vagina anda menjadi licin 0 = tidak ada kegiatan seksual
(basah) selama kegiatan seksual atau saat berhubungan badan? 5 = hampir selalu atau selalu
4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (hampir separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
8. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sulitnya vagina anda menjadi licin 0 = tidak ada kegiatan seksual apapun
(basah) selama kegiatan seksual atau saat berhubungan badan? 1 = Sangat sulit sekali atau tidak bisa sama sekali
2 = Sangat sulit
3 = Sulit
4 = Cukup sulit
5 = Tidak mengalami kesulitan
9. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering anda mempertahankan 0 = tidak ada kegiatan seksual
kelicinan vagina anda sampai kegiatan seksual atau berhubungan badan 5 = hampir selalu atau selalu
anda selesai? 4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (hampir separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
10. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sulitnya mempertahankan 0 = tidak ada kegiatan seksual apapun
kelicinan 1 = Sangat sulit sekali atau tidak bisa sama sekali
vagina anda sampai kegiatan seksual atau berhubungan badan anda 2 = Sangat sulit
selesai? 3 = Sulit
4 = cukup sulit
5 = Tidak mengalami kesulitan
11. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering anda mencapai klimaks 0 = tidak ada kegiatan seksual
saat anda melakukan kegiatan seksual atau berhubungan badan ? 5 = hampir selalu atau selalu
4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (hampir separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
12. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sulitnya bagi anda untuk 0 = tidak ada kegiatan seksual apapun
mencapai klimaks saat anda melakukan kegiatan seksual atau 1 = Sangat sulit sekali atau tidak bisa sama sekali
berhubungan badan 2 = Sangat sulit
3 = Sulit
4 = Cukup sulit
5 = Tidak mengalami kesulitan
13. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa puasnya anda dengan 0 = Tidak ada kegiatan seksual
kemampuan anda dalam mencapai klimaks saat melakukan kegiatan 5 = Sangat puas
seksual atau berhubungan badan? 4 = Puas
3 = Cukup puas
2 = Tidak puas
1 = Sangat tidak puas
14. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa puasnya anda dengan 0 = tidak ada kegiatan seksual
kedekatan emosional anda dengan pasangan anda saat kegiatan seksual 5 = Sangat puas
sedang berlangsung 4 = Puas
3 = Cukup puas
2 = Tidak puas
1 = Sangat tidak puas
15. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa puasnya anda dengan kegiatan seksual 5 = Sangat puas
anda dengan pasangan anda? 4 = Puas
3 = Cukup puas
2 = Tidak puas
1 = Sangat tidak puas
16. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa puasnya anda dengan kehidupan seksual 5 = Sangat puas
anda secara keseluruhannya? 4 = Puas
3 = Cukup puas
2 = Tidak puas
1 = Sangat tidak puas
17. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa seringnya anda merasakan 0 = tidak ada bersengama
ketidaknyamanan atau nyeri pada organ intim anda saat bersengama? 1 = hampir selalu atau selalu
2 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
4 = beberapa kali (kurang dari separuh waktu)
5 = hampir tidak pernah atau tidak pernah
18. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa seringnya anda merasakan 0 = tidak ada bersengama
ketidaknyamanan atau nyeri pada organ intim anda setelah bersengama 1 = hampir selalu atau selalu
2 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
4 = beberapa kali (kurang dari separuh waktu)
5 = hampir tidak pernah atau tidak pernah
19. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa parahnya rasa ketidaknyamanan atau 0 = Tidak ada bersengama
nyeri yang anda rasakan saat atau setelah bersengama 1 = Sangat parah
2 = Parah
3 = Sedang
4 = Tidak parah
5 = Tidak terlalu parah atau tidak terasa sama sekali
Formula penjumlahan semuai domain FSFI
Nilai Paling
Aspek Soal terkait aspek Kisaran Faktor perkailian Nilai Paling tinggi Nilai
rendah
Hasrat
1,2 1-5 0,6 1,2 6,0
(Desire)
Rangsangan
3,4,5,6 0-5 0,3 0 6,0
(Arousal)
Lubrikasi
7,8,9,10 0-5 0,3 0 6,0
(Lubrication)
Klimaks
11,12,13 0-5 0,4 0 6,0
(Orgasm)
Kepuasan
14,15,16 0(or1)-5 0,4 0,8 6,0
(Satisfaction)
Nyeri
17,18,19 0-5 0,4 0 6,0
(Dispareunia)
Kisaran Nilai Skala Keseluruhan 2,0 36,0
Persalinan
Pervaginam
Episiotomi
Persalinan
Faktor Psikososial:
pervaginam
Kurangnya
berbantu
informasi
Persalinan
mengenai seks
seksio sesaria
Masalah
Menyusui
komunikasi
dan
Pengalaman
kontrasepsi
hidup di masa lalu
Kerangka Faktor
organik
Harapan yang
tidak realistis dan
bertentangan
Konsep
Depresi post
partum
Diteliti
Hipotesis • Terdapat perbedaan fungsi
Penelitian seksual wanita pasca persalinan
pervaginam dengan episiotomi
dan tanpa episiotomi pada wanita
primipara
BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis • Rancangan penelitian cross
Penelitian sectional comparative study
Waktu dan • Penelitian dilakukan di Puskesmas
Tempat Jejaring PPDS Obgyn FK Unand di
Penelitian Kota Padang , dimulai pada
Agustus 2018 sampai dengan
jumlah sampel terpenuhi.
Populasi dan Sampel
Mengkonsumsi alcohol (minimal 1 gelas sehari secara rutin) dan obat-obatan seperti SSRI
(Anti anxietas dan depresi) yang didapatkan dari anamnesa
Faktor psikologik : Adanya riwayat gangguan mood/depresi pada sesaat setelah melahirkan
dari anamnesa
Sedang dalam keadaan hamil, diketahui melalui testpack
( Za Z xS
2
n1 = n2 = 2
X1 X 2
Keterangan:
n = Jumlah sampel yang dicari
Total 52 sampel, yaitu
Zα = Deviat baku alfa/Kesalahan tipe I (α) sebesar 5% = 1,96 kelompok wanita primipara
Zβ = Deviat baku beta/Kesalahan tipe II (β) sebesar 5% = 1,645
S = Standar deviasi = 0,25 GE/mL (Levy R et a, 2002)
pasca persalinan
X1-X2 = Selisih minimal rerata yang dianggap bermakna = 0,2 GE/mL pervaginam dengan
( Za Z xS
n1 = n 2 = 2
2
episiotomi 26 orang dan
X1 X 2
kelompok primipara pasca
(1,96 1,645)0,25
2 persalinan pervaginam
n1 = n 2 = 2
0,2 dengan tanpa episiotomi 26
n1 = n2 = 23,8 = 24
Total sampel = 48 orang + drop out 10% = 48 + 4 = 52 orang
orang.
D. Teknik • Teknik consecutive sampling.
Pengambilan Sampel • Wanita primipara pasca persalinan pervaginam dengan
episiotomi dan tanpa episiotomi yang melahirkan di
Puskesmas Jejaring PPDS Obgyn FK Unand di Kota
Padang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi,
setelah enam bulan pasca persalinan telah
mendapatkan penjelasan secara rinci tentang prosedur
penelitian dan menandatangani surat pernyataan
persetujuan mengikuti penelitian dengan sukarela.
Variabel Penelitian
Variabel
penelitian
A. Definisi
Fungsi seksual pada wanita yang dinilai dengan FSFI yang terdiri dari 19 item pertanyaan. Skor masing-masing domain dan skor secara
keseluruhan dihitung dengan rumus sesuai dengan yang tertera pada FSFI.
B. Cara ukur
C. Alat ukur
D. Hasil ukur
E. Skala ukur
Ratio
2. Variabel Independen (Cara persalinan)
a. Persalinan atau kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan
(37-42 minggu), lahir spontan, berlangsung dalam 18-24 jam tanpa komplikasi baik pada ibu ataupun pada
janin.
d. Hasil ukur :
Alat tulis
Bahan
Penelitian
Kuisioner FSFI
Waktu Penelitian:
dimulai pada bulan
Agustus 2018 sampai
dengan jumlah sampel
terpenuhi
Prosedur Sample consecutive sampling.
Penelitian
Setelah dilakukan sampling kepada sampel yang memenuhi criteria
inklusi dan ekslusi penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian
ini.
meliputi:
(satisfaction) dan nyeri berhubungan seksual
(dispareunia).
Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa rerata umur pasien yang di episiotomi sedikit lebih tinggi dibandingkan
pasien yang tidak di episiotomi. Tetapi secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna rerata usia pada kedua
kelompok (p>0,05).
B. Perbedaan Rerata Skor Domain FSFI Wanita Pasca Persalinan
Pervaginam dengan Episiotomi dan Tanpa Episiotomi
Tabel 4.2
Rerata Skor Domain FSFI pada Pasien Episiotomi dan Tanpa Episiotomi
Tabel 4.3
Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui bahwa rerata fungsi seksual pasien tanpa episiotomi sedikit lebih tinggi
dibandingkan dengan episiotomi. Namun hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan
bermakna fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan tanpa
episiotomi p = 0,24 (p > 0,05).
Hubungan fungsi seksual pada wanita pasca persalinan pervaginam
dengan episiotomi dan tanpa episiotomi
Tabel 4.4
Fungsi Seksual
Status Episiotomi Jumlah p value
FSD Non FSD
f % f % f %
Episiotomi 19 73,1 7 26,9 26 100
Tanpa episiotomi 13 50 13 50 26 100 0,15
Jumlah 32 61,5 20 38,5 52 100
Dari Tabel 4.4 Female Sexual Dysfunction (FSD) lebih tinggi pada
kelompok dengan episiotomi dibandingkan dengan kelompok
tanpa episiotomi yaitu 73,1% berbanding 50%. Hasil uji statistik
menunjukkan tidak terdapat hubungan kepuasan seksual
wanita dengan status episiotomi (p > 0,05).
BAB V
PEMBAHASAN
Rerata skor fungsi seksual wanita pasca persalinan
pervaginam tanpa episiotomi sedikit lebih tinggi
dibandingkan dengan episiotomi
– Dalam penelitian ini tidak terdapat perbedaan rerata skor nyeri antara wanita
pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan tanpa episiotomi.
– Pada penelitian ini Desire kelompok episiotomi sedikit lebih rendah dibanding
kelompok tanpa episiotomi pada penelitian ini, namun secara statistik tidak
bermakna
Snooks dan Swash melaporkan bahwa kerusakan saraf pudendus yang reversible
terjadi pada persalinan pervaginam