0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan101 halaman

Fungsi Seksual Wanita Pasca Persalinan

Dokumen tersebut membahas tentang perbedaan fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan tanpa episiotomi pada wanita primipara berdasarkan indeks fungsi seksual wanita. Dokumen ini meninjau anatomi perineum dan anatomi anorektum, definisi episiotomi, penyembuhan luka episiotomi, dan faktor yang mempengaruhi fungsi seksual pasca persalinan."

Diunggah oleh

rizka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan101 halaman

Fungsi Seksual Wanita Pasca Persalinan

Dokumen tersebut membahas tentang perbedaan fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan tanpa episiotomi pada wanita primipara berdasarkan indeks fungsi seksual wanita. Dokumen ini meninjau anatomi perineum dan anatomi anorektum, definisi episiotomi, penyembuhan luka episiotomi, dan faktor yang mempengaruhi fungsi seksual pasca persalinan."

Diunggah oleh

rizka
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PERBEDAAN FUNGSI SEKSUAL WANITA PASCA PERSALINAN

PERVAGINAM DENGAN EPISIOTOMI


DAN TANPA EPISIOTOMI PADA WANITA PRIMIPARA
BERDASARKAN FEMALE SEXUAL FUNCTION INDEX

TESIS
Oleh :
dr. Rizka Arsil
No CHS 1550305204

Pembimbing :
dr. H. Syahredi SA, SpOG (K)
Dr. dr. H. Hafni Bachtiar, MPH
BAB I
PENDAHULUAN
LATAR
BELAKANG
Nyeri perineum dan dispareunia  masalah pasca
persalinan yang sering terjadi dan mengganggu fungsi
seksual yang normal  biasanya terjadi akibat trauma
perineum, episiotomi, dan instrumentasi persalinan

Masalah fungsi seksual dalam periode pasca persalinan


merupakan masalah yang umum terjadi namun masih
sangat jarang mendapat perhatian dari para profesional
Efek dari episiotomi yang membahayakan fungsi seksual banyak dilaporkan dalam
literatur

Wanita post partum dengan perineum utuh  hasil yang baik saat berhubungan
seksual , sedangkan wanita post partum dengan trauma perineum dan penggunaan
intrumentasi kebidanan  peningkatan frekuensi atau keparahan dyspareunia
Johnson  dispareunia menetap lebih dari 6 bulan terjadi 3,4% untuk persalinan
spontan tanpa perlukaan dan seksio sesaria, 10% dengan episiotomi dan 14% untuk
pervaginam dengan bantuan alat atau operatif.

Leal et al (2013)  tidak terdapat perbedaan fungsi seksual yang signifikan antara
wanita yang diepisiotomi dan wanita dengan perineum utuh

Female Sexual Function Index (FSFI)  pengukuran yang valid dan akurat terhadap
fungsi seksual wanita
Rumusan Apakah terdapat perbedaan
Masalah fungsi seksual wanita pasca
persalinan pervaginam dengan
episiotomi dan tanpa
episiotomi pada wanita
primipara?
Tujuan

1. Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan fungsi seksual wanita pasca persalinan
pervaginam dengan episiotomi dan tanpa episiotomi pada wanita
primipara berdasarkan skor Female Sexual Function Index (FSFI)
2. Tujuan Khusus

Mengetahui fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam dengan


episiotomi pada wanita primipara berdasarkan skor Female Sexual Function Index
(FSFI).

Mengetahui fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam tanpa episiotomi


pada wanita primipara berdasarkan skor Female Sexual Function Index (FSFI).

Mengetahui perbedaan fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam


dengan episiotomi dibandingkan dengan tanpa episiotomi pada wanita primipara,
berdasarkan masing-masing domain dalam FSFI, skor total FSFI, dan ada tidaknya
disfungsi seksual.
Manfaat

Keilmuan Pelayanan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Perineum

Anatomi
Perineum

Segitiga Segitiga Badan


Urogenital Anal Perineal
Gambar 2.1. Urogenital triangle dan Anal triangle (Sumber : Sarwono, 2010)
Gambar 2.2. Otot Perineum (Sumber : Cunningham, 2014)
Gambar 2.3. Persarafan Perineum (Sumber : Sarwono, 2010)
Gambar 2.4. Perdarahan Perineum (Sumber : Cunningham, 2014)
Anatomi Anorektum

Bagian yang paling jauh dari traktus


gastrointestinalis dan terdiri dari dua
bagian yaitu rektum dan kanal anus.
Episiotomi Tindakan insisi pada perineum yang
menyebabkan terpotongnya selaput lendir
vagina, cincin selaput dara, jaringan pada
septum rektovaginal, otot-otot dan fasia
perineum dan kulit sebelah depan perineum
sehingga mempermudah jalan keluar bayi.
Insiden Amerika latin (th 2000), episiotomi
dilakukan 70% pada persalinan
pervaginam dan 80-90% adalah
primipara.

Angka rata-rata episiotomi di


AS : 39,3% kelahiran, di Belanda
8%, Inggris 14% dan 99% di
negara Eropa timur.

Episiotomi di Indonesia : 30-


63% dan meningkat hingga 93%
pada persalinan anak pertama.
Indikasi
Persalinan dengan
tindakan atau Untuk mencegah
instrument (persalinan robekan perineum
dengan cunam, yang kaku
ekstraksi dan vakum)

Pada kasus letak /


presentasi yang
abnormal (bokong,
muka, ubun-ubun kecil
di belakang)
Jenis Episiotomi

Episiotomi
median

Episiotomi
mediolateral
Fase 1: Segera setelah cedera, aliran darah ke area
Penyembuhan luka meningkat,  akumulasi leukosit dan fibrosit.
 enzim proteolitik  memakan jaringan yang
luka episiotomi mengalami cedera.

Fase 2: Beberapa hari kemudian, fibroblast


membentuk benang – benang kolagen

Fase 3: Kolagen yang cukup akan melapisi


jaringan yang rusak sehingga kemudian
menutup luka.
Faktor-Faktor yang
Status nutrisi
Mempengaruhi Proses
Penyembuhan Luka:
Kebiasaan merokok

Penambahan usia

Peningkatan kortikosteroid akibat stress

Ganguan oksigenisasi  mengganggu sintesis


kolagen dan menghambat epitelisasi

Infeksi
Seksualitas
Wanita
Menurut World Health
Organization (WHO) 
keadaan dimana fisik,
emosional, mental dan
kesejahteraan sosial yang
stabil yang berkaitan
dengan seksualitas, serta
bukan hanya sekedar tidak
ada penyakit, disfungsi,
atau kelemahan.
Fungsi Seksual Wanita
•  suatu keadaan dimana wanita tersebut dapat berespon dan mengalami empat fase dari siklus
respon seksual wanita dengan baik.

Adapun fungsi seksual dipengaruhi oleh banyak factor :

Biologi
Hubungan (hormonal,
Psikologi interpersonal
Lingkungan
vaskuler, otot,
saraf).
• Gambar 2.7 Kepentingan seksual menurut wanita (Sumber : Bayer, 2006)
• Gambar 2.8 Arti kepuasan seksual bagi wanita (Sumber : Bayer, 2006)
Respon seksual Wanita

Siklus reaksi
seksual :

Fase Rangsangan Fase Resolusi


Fase Datar Fase Orgasme
(excitement (resolution
(plateu phase) (orgasm phase)
phase) phase).
Disfungsi Seksual Wanita
Konsensus Sistem Klasifikasi Disfungsi Seksual Wanita

Gangguan a) Dispareunia: nyeri genital rekuren atau persisten berkaitan


dengan hubungan seksual
nyeri
seksual
b) Vaginismus: kejang persisten atau berulang dari otot
involunter pada sepertiga bagian bawah vagina yang
mengganggu penetrasi
c) Gangguan nyeri seksual lainnya: nyeri genital rekuren atau
persisten yang diinduksi oleh stimulasi seksual noncoital,
termasuk anatomi dan inflamasi
Gangguan Penurunan atau tidak adanya hasrat dan fantasi
hasrat
seksual
seksual untuk aktivitas seksual
hypoaktif

Gangguan Ketidakmampuan untuk mencapai atau


Gairah
mempertahankan aktivitas seksual sampai selesai,
pelumasan yang kurang memadai, serta respon sexual
yang tidak menggairahkan
Gangguan Keterlambatan atau tidak adanya orgasme setelah
Orgasme
stimulasi dan gairah seksual yang cukup
Gangguan Gangguan Nyeri Seksual
Fungsi Seksual
Wanita Pasca
Persalinan
Gangguan Hasrat Seksual Hipoaktif

Gangguan Gairah dan Orgasme


Faktor yang
Mempengaruhi Persalinan Pervaginam Berbantu
Seksualitas
Pasca Persalinan Seksio Sesarea
Persalinan
Menyusui dan Kontrasepsi Estrogen

Faktor Organik

Faktor Psikososial
– Otot dasar panggul  bertanggung jawab terhadap sensasi
yang dirasakan oleh seorang wanita selama berhubungan
seksual, dan kuatnya cengkraman vagina yang dirasakan
oleh pasangannya.
– Sensasi selama berhubungan seksual  akibat otot yang
kuat memiliki saraf yang lebih sensitive
– Faktor resiko  penurunan fungsi otot levator  kompresi
dan peregangan saraf pudendus selama persalinan
– Snooks dan Swash  kerusakan saraf pudendus yang reversible
terjadi pada persalinan pervaginam  namun kehilangan fungsi
otot secara permanen seringkali terjadi
– kerusakan saraf pudendus : persalinan forcep, multiparitas,
pemanjangan kala dua, robekan perineum derajat tiga atau
empat, dan makrosomia
– 42-80% dari persalinan pervaginam  kehilangan inervasi saraf
pudendus pada otot pubokoksigeus dan otot sfingter ani
Pengaruh
Kerusakan perineum  mengakibatkan
Episiotomi hilangnya tonus vagina dan atau tonus anus.
Terhadap Fungsi
Seksual Pasca Lesi saraf pudenda  sering pada episiotomi
Persalinan yang dilakukan terlalu dalam ataupun terlalu
meluas sampai derajat tiga atau empat.

Robekan perineum saat persalinan 


penyebab utama terjadinya kompikasi, salah
satunya disfungsi seksual.

Tindakan episiotomi  berdampak buruk bagi


fungsi seksual perempuan
Buhling (Jerman) dispareunia pada enam bulan pasca persalinan dengan
episiotomi atau persalinan pervaginam berbantu

Obor dan Tabowei (Nigeria)  primipara dengan cedera perineum  dispareunia 3


bulan pasca persalinan

Signorello (Amerika Serikat)  robekan perineum derajat dua, dengan atau tanpa
episiotomi  meningkatkan insiden dispareunia pada 3 bulan pasca persalinan

Rathfisch (2010) wanita yang diepisiotomi dan laserasi perineum derajat dua 
tingkat libido, orgasme, dan kepuasan seksual lebih rendah serta sering nyeri
selama berhubungan seksual
Barbara (2016)  wanita yang diepisiotomi memiliki skor arousal, lubrication,
orgasm, dan fungsi seksual secara umum lebih rendah dibandingkan yg SC  skor
orgasm lebih rendah dibandingkan persalinan pervaginam spontan

Dispareunia pasca persalinan juga merupakan dampak adanya endometriosis dan


parut pada bekas luka episiotomi

Gangguan dasar panggul pasca persalinan 18,4 % primipara, 24,6% multipara 


menetap hingga 6 bulan pasca persalinan sampai 1 tahun (40%)  mempengaruhi
kehidupan seksual  hanya 4,49% yang mengunjungi tempat pelayanan dan
rehabilitasi perineum
(Rogers)  persalinan dengan cedera jalan lahir spontan (tanpa episiotomi), tidak
ada perbedaan dalam hal aktivitas seksual dan fungsi seksual pasca persalinan
jangka pendek dibandingkan robekan perineum derajat rendah (tanpa trauma)
maupun derajat tinggi (derajat II-IV)

Klein (2009)  tidak terdapat perbedaan fungsi seksual signifikan 12-18 bulan
setelah persalinan antara persalian wanita tanpa episiotomi, dengan laserasi
perineum, dan sectio caesarea elektif

Souza AD (2015)  tidak terdapat perbedaan fungsi seksual 12 bulan post partum
antara wanita dengan perineum utuh atau mengalami laserasi perineum 
Keseluruhan fungsi seksual tidak dipengaruhi oleh laserasi perineum  Aktifitas
seksual sebagian besar wanita (94%) kembali seperti semula pada 6 bulan post
partum
Pengukuran Kualitas Fungsi Seksual Wanita
dengan Female Sexual Function Index (FSFI)

Female Sexual Function Index kuisioner dengan 19 nomor


pertanyaan  instrument yang
(FSFI)  pengukuran yang valid
dapat dipakai untuk personal (self-
dan akurat terhadap fungsi report instrument)  bersifat
seksual wanita. multidimensional

FSFI menjadi gold standar


dalam menilai fungsi seksual Female Sexual Dysfunction (FSD)
wanita  sensitivitas 99% dan  total skor FSFI ≤ 26
spesifisitas 97%
Kuesioner Female Sexual Function Index (FSFI)
Kuisioner Female Sexual Function Index (FSFI)

1. Selama lebih dari 4 minggu ini, seberapa sering anda merasakan 5 = hampir tiap saat/setiap saat
hasrat atau keinginan seksual ? 4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (kurang dari separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah

2. Selama lebih dari 4 minggu ini, berapa menurut anda tingkat dari 5 = sangat tinggi
keinginan atau hasrat seksual anda? 4 = tinggi
3 = sedang
2 = rendah
1 = sangat rendah atau tidak sama sekali

3. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering anda merasa 0 = tidak ada kegiatan seksual
terangsang selama aktifitas seksual atau saat berhubungan badan? 5 = hampir selalu atau selalu
4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (kurang dari separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
4. Selama 4 minggu terakhir ini, berapa menurut anda 0 = tidak ada kegiatan seksual
tingkat hasrat seksual anda yang muncul selama aktifitas 5 = sangat tinggi
seksual atau saat berhubungan badan? 4 = tinggi
3 = sedang
2 = rendah
1 = sangat rendah atau tidak sama sekali
5. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa tinggi kepercayan 0 = tidak ada kegiatan seksual
diri terhadap kemampuan untuk menjadi terangsang 5 = sangat tinggi
selama kegiatan seksual atau saat berhubungan badan? 4 = tinggi
3 = sedang
2 = rendah
1 = sangat rendah atau tidak sama sekali
6. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering anda puas 0 = tidak ada kegiatan seksual
dengan hasrat seksual anda selama kegiatan seksual atau 5 = hampir selalu atau selalu
saat berhubungan badan? 4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (hampir separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
7. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering vagina anda menjadi licin 0 = tidak ada kegiatan seksual
(basah) selama kegiatan seksual atau saat berhubungan badan? 5 = hampir selalu atau selalu
4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (hampir separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
8. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sulitnya vagina anda menjadi licin 0 = tidak ada kegiatan seksual apapun
(basah) selama kegiatan seksual atau saat berhubungan badan? 1 = Sangat sulit sekali atau tidak bisa sama sekali
2 = Sangat sulit
3 = Sulit
4 = Cukup sulit
5 = Tidak mengalami kesulitan
9. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering anda mempertahankan 0 = tidak ada kegiatan seksual
kelicinan vagina anda sampai kegiatan seksual atau berhubungan badan 5 = hampir selalu atau selalu
anda selesai? 4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (hampir separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
10. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sulitnya mempertahankan 0 = tidak ada kegiatan seksual apapun
kelicinan 1 = Sangat sulit sekali atau tidak bisa sama sekali
vagina anda sampai kegiatan seksual atau berhubungan badan anda 2 = Sangat sulit
selesai? 3 = Sulit
4 = cukup sulit
5 = Tidak mengalami kesulitan
11. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sering anda mencapai klimaks 0 = tidak ada kegiatan seksual
saat anda melakukan kegiatan seksual atau berhubungan badan ? 5 = hampir selalu atau selalu
4 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
2 = beberapa kali (hampir separuh waktu)
1 = hampir tidak pernah/tidak pernah
12. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa sulitnya bagi anda untuk 0 = tidak ada kegiatan seksual apapun
mencapai klimaks saat anda melakukan kegiatan seksual atau 1 = Sangat sulit sekali atau tidak bisa sama sekali
berhubungan badan 2 = Sangat sulit
3 = Sulit
4 = Cukup sulit
5 = Tidak mengalami kesulitan
13. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa puasnya anda dengan 0 = Tidak ada kegiatan seksual
kemampuan anda dalam mencapai klimaks saat melakukan kegiatan 5 = Sangat puas
seksual atau berhubungan badan? 4 = Puas
3 = Cukup puas
2 = Tidak puas
1 = Sangat tidak puas
14. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa puasnya anda dengan 0 = tidak ada kegiatan seksual
kedekatan emosional anda dengan pasangan anda saat kegiatan seksual 5 = Sangat puas
sedang berlangsung 4 = Puas
3 = Cukup puas
2 = Tidak puas
1 = Sangat tidak puas
15. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa puasnya anda dengan kegiatan seksual 5 = Sangat puas
anda dengan pasangan anda? 4 = Puas
3 = Cukup puas
2 = Tidak puas
1 = Sangat tidak puas
16. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa puasnya anda dengan kehidupan seksual 5 = Sangat puas
anda secara keseluruhannya? 4 = Puas
3 = Cukup puas
2 = Tidak puas
1 = Sangat tidak puas
17. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa seringnya anda merasakan 0 = tidak ada bersengama
ketidaknyamanan atau nyeri pada organ intim anda saat bersengama? 1 = hampir selalu atau selalu
2 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
4 = beberapa kali (kurang dari separuh waktu)
5 = hampir tidak pernah atau tidak pernah
18. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa seringnya anda merasakan 0 = tidak ada bersengama
ketidaknyamanan atau nyeri pada organ intim anda setelah bersengama 1 = hampir selalu atau selalu
2 = sering (lebih dari separuh waktu)
3 = kadang-kadang ( separuh waktu)
4 = beberapa kali (kurang dari separuh waktu)
5 = hampir tidak pernah atau tidak pernah
19. Selama 4 minggu terakhir ini, seberapa parahnya rasa ketidaknyamanan atau 0 = Tidak ada bersengama
nyeri yang anda rasakan saat atau setelah bersengama 1 = Sangat parah
2 = Parah
3 = Sedang
4 = Tidak parah
5 = Tidak terlalu parah atau tidak terasa sama sekali
Formula penjumlahan semuai domain FSFI
Nilai Paling
Aspek Soal terkait aspek Kisaran Faktor perkailian Nilai Paling tinggi Nilai
rendah
Hasrat
1,2 1-5 0,6 1,2 6,0
(Desire)
Rangsangan
3,4,5,6 0-5 0,3 0 6,0
(Arousal)
Lubrikasi
7,8,9,10 0-5 0,3 0 6,0
(Lubrication)
Klimaks
11,12,13 0-5 0,4 0 6,0
(Orgasm)
Kepuasan
14,15,16 0(or1)-5 0,4 0,8 6,0
(Satisfaction)
Nyeri
17,18,19 0-5 0,4 0 6,0
(Dispareunia)
Kisaran Nilai Skala Keseluruhan 2,0 36,0
Persalinan
Pervaginam

Episiotomi

 Persalinan
Faktor Psikososial:
pervaginam
 Kurangnya
berbantu
informasi
 Persalinan
mengenai seks
seksio sesaria
 Masalah
 Menyusui
komunikasi
dan
 Pengalaman
kontrasepsi
hidup di masa lalu

Kerangka  Faktor
organik
 Harapan yang
tidak realistis dan
bertentangan

Konsep
Depresi post
partum

(Desire) (Lubrication) (Orgasm) (Satisfaction) (Pain)

Diteliti
Hipotesis • Terdapat perbedaan fungsi
Penelitian seksual wanita pasca persalinan
pervaginam dengan episiotomi
dan tanpa episiotomi pada wanita
primipara
BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis • Rancangan penelitian  cross
Penelitian sectional comparative study
Waktu dan • Penelitian dilakukan di Puskesmas
Tempat Jejaring PPDS Obgyn FK Unand di
Penelitian Kota Padang , dimulai pada
Agustus 2018 sampai dengan
jumlah sampel terpenuhi.
Populasi dan Sampel

Populasi Wanita primipara pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi


dan tanpa episiotomi yang melahirkan dari kehamilan aterm di
Puskesmas Jejaring PPDS Obgyn FK Unand di Kota Padang.
Sampel
[Link] Post partum > 6 bulan
Inklusi

Tinggal bersama suami dan mampu melakukan


hubungan seksual paling sedikit 4 minggu terakhir

Bersedia ikut serta dalam penelitian ini dengan


menandatangani informed consent
Adanya laserasi spontan tanpa episiotomi
B. Kriteria
Eksklusi Sedang dalam perawatan penyakit medis

Adanya kelainan ginekologik

Mengkonsumsi alcohol (minimal 1 gelas sehari secara rutin) dan obat-obatan seperti SSRI
(Anti anxietas dan depresi) yang didapatkan dari anamnesa
Faktor psikologik : Adanya riwayat gangguan mood/depresi pada sesaat setelah melahirkan
dari anamnesa
Sedang dalam keadaan hamil, diketahui melalui testpack

Sedang menggunakan kontrasepsi hormonal seperti pil KB, suntik KB depoprovera,


implant.
Menderita gangguan fungsi seksual sebelum hamil, diketahui melalui instrumen kuisioner
FSFI (untuk kondisi sebelum hamil)
C. Besar Sampel
• rumus Lameshow populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi penelitian.

 ( Za  Z xS 
2

n1 = n2 = 2  
 X1  X 2 
Keterangan:
n = Jumlah sampel yang dicari
Total 52 sampel, yaitu
Zα = Deviat baku alfa/Kesalahan tipe I (α) sebesar 5% = 1,96 kelompok wanita primipara
Zβ = Deviat baku beta/Kesalahan tipe II (β) sebesar 5% = 1,645
S = Standar deviasi = 0,25 GE/mL (Levy R et a, 2002)
pasca persalinan
X1-X2 = Selisih minimal rerata yang dianggap bermakna = 0,2 GE/mL pervaginam dengan
 ( Za  Z xS 
n1 = n 2 = 2  
2
episiotomi 26 orang dan
 X1  X 2 
kelompok primipara pasca
 (1,96  1,645)0,25 
2 persalinan pervaginam
n1 = n 2 = 2  
 0,2  dengan tanpa episiotomi 26
n1 = n2 = 23,8 = 24
Total sampel = 48 orang + drop out 10% = 48 + 4 = 52 orang
orang.
D. Teknik • Teknik consecutive sampling.
Pengambilan Sampel • Wanita primipara pasca persalinan pervaginam dengan
episiotomi dan tanpa episiotomi yang melahirkan di
Puskesmas Jejaring PPDS Obgyn FK Unand di Kota
Padang  memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi,
setelah enam bulan pasca persalinan  telah
mendapatkan penjelasan secara rinci tentang prosedur
penelitian dan menandatangani surat pernyataan
persetujuan mengikuti penelitian dengan sukarela.
Variabel Penelitian
Variabel
penelitian

Variabel bebas Variabel


(independent) tergantung
adalah persalinan (dependent) adalah
pervaginam Fungsi Seksual
dengan episiotomi
dan persalinan
pervaginam tanpa
episotomi
Definisi Operasional Variabel
1. Variabel Dependen (Fungsi seksual)

A. Definisi

Fungsi seksual pada wanita yang dinilai dengan FSFI yang terdiri dari 19 item pertanyaan. Skor masing-masing domain dan skor secara
keseluruhan dihitung dengan rumus sesuai dengan yang tertera pada FSFI.

B. Cara ukur

Melalui wawancara secara langsung.

C. Alat ukur

Kuesioner FSFI (Female Sexual Function Index)

D. Hasil ukur

Rasio skor FSFI (Female Sexual Function Index)

E. Skala ukur

Ratio
2. Variabel Independen (Cara persalinan)

a. Persalinan atau kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan
(37-42 minggu), lahir spontan, berlangsung dalam 18-24 jam tanpa komplikasi baik pada ibu ataupun pada
janin.

b. Cara ukur :Data dari rekam medik

c. Alat ukur :Indra penglihatan

d. Hasil ukur :

 Persalinam pervaginam dengan episiotomi

 Persalinan pervaginam tanpa episiotomi

e. Skala Ukur :Nominal


Alat Penelitian Surat pernyataan persetujuan
mengikuti penelitian

Kuisioner Female Seksual Index Function


(FSFI)

Alat tulis
Bahan
Penelitian

Kuisioner FSFI

Data tambahan tentang identitas


pasien
Tempat dan
Waktu Tempat Penelitian:
Puskesmas Jejaring
Penelitian
PPDS Obgyn FK Unand
di Kota Padang

Waktu Penelitian:
dimulai pada bulan
Agustus 2018 sampai
dengan jumlah sampel
terpenuhi
Prosedur Sample  consecutive sampling.
Penelitian
Setelah dilakukan sampling kepada sampel yang memenuhi criteria
inklusi dan ekslusi  penjelasan tentang tujuan dan manfaat penelitian
ini.

Bersedia mengikuti penelitian  informed concent.

Pengisian kuisioner, anamnesa dan melengkapi data yang diperlukan


Jika pasien tidak mampu atau kesulitan untuk membaca maka peneliti
akan membantu membacakan kuisioner  Sample dikelompokan

Pengukuran fungsi seksual menggunakan kuisioner Female Sexual


Function Index (FSFI)  data terkumpul dilakukan analisis data.
Alur Penelitian
Pengolahan Editing, yaitu memperbaiki
dan Analisis kualitas data serta menghilangkan
Data keraguan data

Coding, yaitu memberi kode


terhadap data

Tabulating, yaitu memasukkan data ke dalam


tabel-tabel dan mengatur angka-angka sehingga
dapat dihitung jumlah kasus dalam berbagai
kategori  tabel induk dan tabel karakteristik.
Analisis univariat  sebaran data dinilai  uji
Pada normalitas Kolmogorov-Smirnov  jika
distribusi data tidak normal dilakukan
penelitian ini transformasi data  Disini dihitung rerata
dan standar deviasi dari masing-masing
analisis data domain FSFI meliputi hasrat (desire),
rangsangan (arousal), lubrikasi (lubrication),
dilakukan, orgasme (orgasm), kepuasan seksual

meliputi:
(satisfaction) dan nyeri berhubungan seksual
(dispareunia).

Analisis bivariat kebermaknaan


perbedaan fungsi seksual pada
persalinan pervaginam dengan
episiotomi dan tanpa episiotomi 
distribusi data tidak normal  uji
Two-Sample Kolmogorov-Smirnov.
Etika • Penjelasan tentang tujuan, manfaat
Penelitian penelitian dan tanggung jawab
peneliti.
• Persetujuan  menandatangani
formulir informed consent
• Setiap sampel berhak mengetahui hasil
pemeriksaan dan boleh menarik diri
dari penelitian bila tidak bersedia
melanjutkannya.
Biaya • Ditanggungan peneliti utama.
Penelitian
Rencana • Disusun dalam bentuk Tesis  syarat
Laporan Hasil dalam menyelesaikan pendidikan
Penelitian untuk memperoleh keahlian dalam
bidang Obstetri dan Ginekologi dan
akan dipresentasikan di depan dewan
penguji Tesis PPDS I Bagian Obstetri
dan Ginekologi Fakultas Kedokteran
UNAND/ RSMJ Padang.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Penelitian dilakukan pada 52
orang pasien yang terdiri dari
26 orang pasien primipara
pasca persalinan pervaginam
dengan episiotomi dan 26
orang tanpa episiotomi untuk
melihat perbedaan kepuasan
seksual dengan menggunakan
kuesioner Female Sexual
Function Index (FSFI).
A. Karakteristik Subjek Penelitian

• Karakteristik subjek penelitian dapat dilihat pada tabel:


Tabel 4.1
Karakteristik Subjek Penelitian

Karakteristik Subjek Episiotomi Tanpa Episiotomi p value


Penelitian (n=26)
(n=26)
Umur (tahun) 25,42 ± 4,68 24,73 ± 4,84 0,6

Berdasarkan Tabel 4.1 diketahui bahwa rerata umur pasien yang di episiotomi sedikit lebih tinggi dibandingkan
pasien yang tidak di episiotomi. Tetapi secara statistik tidak menunjukkan perbedaan bermakna rerata usia pada kedua
kelompok (p>0,05).
B. Perbedaan Rerata Skor Domain FSFI Wanita Pasca Persalinan
Pervaginam dengan Episiotomi dan Tanpa Episiotomi

Tabel 4.2
Rerata Skor Domain FSFI pada Pasien Episiotomi dan Tanpa Episiotomi

Domain Episiotomi Tanpa Episiotomi p value


(n=26)
FSFI (n=26)
Desire 0,50 ± 0,13 0,55 ± 0,08 0,72
Arousal 0,54 ± 0,11 0,59 ± 0,09 0,30
Lubrication 0,63 ± 0,11 0,66 ± 0,09 0,72
Orgasm 0,55 ± 0,16 0,61 ± 0,12 0,72
Satisfaction 0,57 ± 0,15 0,57 ± 0,15 1,00
Pain 0,67 ± 0,12 0,67 ± 0,12 1,00
• Dari Tabel 4.2 diketahui bahwa rerata skor domain Desire,
Arousal, Lubrication, Orgasm pada kelompok episiotomi sedikit
lebih rendah dibanding kelompok tanpa episiotomi. Rerata
skor domain Satisfaction dan Pain pada kedua kelompok
cenderung sama.
• Berdasarkan hasil uji statistik disimpulkan tidak terdapat
perbedaan bermakna rerata skor wanita pasca persalinan
pervaginam dengan episiotomi dan tanpa episiotomi
berdasarkan domain FSFI desire, arousal, lubrication,
orgasm, satisfaction, dan pain (p > 0,05)
C. Perbedaan Fungsi Seksual Wanita Pasca Persalinan Pervaginam dengan
Episiotomi dan Tanpa Episiotomi Berdasarkan Total Skor FSFI

Tabel 4.3

Variabel Episiotomi Tanpa Episiotomi p value


(n=26) (n=26)
Kepuasan seksual 23,80 ± 4,60 25,26 ± 4,22 0,24

Berdasarkan Tabel 4.3 diketahui bahwa rerata fungsi seksual pasien tanpa episiotomi sedikit lebih tinggi
dibandingkan dengan episiotomi. Namun hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan
bermakna fungsi seksual wanita pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan tanpa
episiotomi p = 0,24 (p > 0,05).
Hubungan fungsi seksual pada wanita pasca persalinan pervaginam
dengan episiotomi dan tanpa episiotomi

Tabel 4.4

Fungsi Seksual
Status Episiotomi Jumlah p value
FSD Non FSD
f % f % f %
Episiotomi 19 73,1 7 26,9 26 100
Tanpa episiotomi 13 50 13 50 26 100 0,15
Jumlah 32 61,5 20 38,5 52 100
Dari Tabel 4.4 Female Sexual Dysfunction (FSD) lebih tinggi pada
kelompok dengan episiotomi dibandingkan dengan kelompok
tanpa episiotomi yaitu 73,1% berbanding 50%. Hasil uji statistik
menunjukkan tidak terdapat hubungan kepuasan seksual
wanita dengan status episiotomi (p > 0,05).
BAB V
PEMBAHASAN
Rerata skor fungsi seksual wanita pasca persalinan
pervaginam tanpa episiotomi sedikit lebih tinggi
dibandingkan dengan episiotomi

Tidak terdapat perbedaan bermakna antara fungsi seksual wanita


pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan tanpa
episiotomi berdasarkan domain fungsi seksual menurut desire,
arousal, lubrication, orgasm, satisfaction dan pain.

Tidak terdapat hubungan status episiotomi dengan fungsi


seksual wanita pasca persalinan pervaginam.
Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian lain :
– Klein et al (2009)  tidak terdapat perbedaan fungsi
seksual yang signifikan pada 12-18 bulan setelah
persalinan antara wanita tanpa dilakukan episiotomi,
wanita dengan laserasi perineum, dan sectio caesarea.
– Leal et al (2013)  tidak terdapat perbedaan fungsi
seksual yang signifikan antara wanita yang diepisiotomi
dan wanita dengan perineum utuh
– Souza et al (2015)  tidak terdapat perbedaan fungsi
seksual pada 12 bulan postpartum antara wanita yang
bersalin dengan perineum utuh atau mengalami
laserasi perineum. Keseluruhan fungsi seksual (desire,
arousal, orgasm, pain) tidak dipengaruhi oleh laserasi
perineum. Aktivitas seksual sebagian besar wanita
(94%) kembali seperti semula pada enam bulan
postpartum
– Glazener (1997) menyatakan bahwa masalah-masalah yang berkaitan dengan
hubungan seksual dapat dipengaruhi oleh nyeri perineum  tidak terdapat
bukti yang mendukung episiotomi dapat menurunkan fungsi seksual, akan
tetapi faktanya nyeri saat berhubungan seksual lebih banyak ditemukan pada
wanita yang diepisiotomi.

– Baksu et al (2005)  wanita primipara dengan persalinan pervaginam yang


diepisiotomi mediolateral mengalami penurunan tingkat desire, arousal,
lubrication, orgasm, satisfaction  peningkatan tingkat nyeri pada enam
bulan postpartum dibandingkan dengan kelompok sectio caesarea elektif
– Rathfisch et al (2010)  dibandingkan wanita dengan perineum utuh, wanita
yang diepisiotomi dan mengalami laserasi perineum derajat dua memiliki
tingkat libido, orgasme, dan kepuasan seksual lebih rendah  sering
mengalami nyeri selama melakukan hubungan seksual

– Barbara et al (2016)  wanita persalinan pervaginam yang diepisiotomi


memiliki skor arousal, lubrication, orgasm, dan fungsi seksual secara umum
lebih rendah dibandingkan dengan kelompok sectio caesarea dan skor orgasm
lebih rendah dibandingkan dengan kelompok persalinan pervaginam spontan
Gangguan nyeri (Pain)

– Dalam penelitian ini tidak terdapat perbedaan rerata skor nyeri antara wanita
pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi dan tanpa episiotomi.

– Signorello et al (2001) menemukan bahwa dibandingkan wanita dengan


perineum utuh, wanita yang mengalami trauma perineum derajat dua 80%
cenderung mengalami dispareunia pada 3 bulan postpartum

– Andrew et al (2008) sebanyak 40% wanita yang tidak mengalami trauma


perineum aktif secara seksual pada 7 minggu postpartum
Hasrat seksual (Desire)

– Pada penelitian ini Desire kelompok episiotomi sedikit lebih rendah dibanding
kelompok tanpa episiotomi pada penelitian ini, namun secara statistik tidak
bermakna

– Barrett et al  hilangnya hasrat seksual pascapersalinan dilaporkan terjadi


sekitar 53% di 3 bulan dan 37% pada 6 bulan setelah persalinan, dibandingkan
dengan 9% pada 1 tahun  32% kembali melakukan hubungan seksual 6
minggu setelah melahirkan dan mayoritas responden (89%) melanjutkan
hubungan seksual dalam 6 bulan
– Robson Kumar (British)  dari 119 wanita primipara, pada 3 bulan pasca
persalinan, 57% hasrat seksual mereka lebih rendah disbanding masa
kehamilan, 33% menjelaskan tidak ada perubahan hasrat seksual dan hanya
10% menjelaskan mengalami peningkatan hasrat seksual

– Keinginan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perubahan


bentuk tubuh setelah melahirkan, kesehatan mental ibu dan hubungan
perkawinan.
– Penelitian ini menunjukan rangsangan (Arousal) pasca persalinan pervaginam
pada kelompok episiotomi sedikit lebih rendah dibanding kelompok tanpa
episiotomi, tetapi secara statistik juga tidak bermakna

– Perubahan fisiologi post partum dapat menyebabkan berkurangnya fungsi


seksual  termasuk cedera [Link], penyembuhan perineum yang jelek,
kelemahan vagina dan berkurangnya tonus otot levator ani, terjadi
inkontinensia uri, nyeri saat berhubungan  mengakibatkan penurunan
rangsangan seksual pada wanita
Lubrikasi (Lubrication)

– Dalam penelitian ini rerata skor domain Lubrikasi pada kelompok


episiotomi sedikit lebih rendah dibanding kelompok tanpa
episiotomi, tapi tidak bermakna secara statistik

– Penelitian telah memperlihatkan bahwa wanita setelah


melahirkan bisa memiliki masalah dalam memulai hubungan
seksual, kehilangan keinginan untuk berhubungan seksual, nyeri
saat berhubungan, berkurangnya lubrikasi dan berkurangnya
kapasitas orgasme
Orgasme (Orgasm)

– Penelitian ini menunjukan pencapaian orgasme pada kelompok episiotomi


sedikit lebih rendah dibanding kelompok episiotomi, yang secara statistik juga
tidak bermakna

– Orgasme postpartum tidak secara signifikan dipengaruhi oleh episiotomi 


sesuai dengan beberapa penelitian dimana kemampuan mencapai orgasme
akan segera kembali setelah persalinan

– Dalam suatu penelitian prospektif longitudinal diketahui metode persalinan


dan episiotomi tidak berhubungan dengan anorgasm pada wanita primipara
Kepuasan seksual (satisfaction)

– Penelitan ini rerata skor kepuasan seksual kelompok wanita


pasca persalinan pervaginam dengan episiotomi sama dengan
kelompok tanpa episiotomi

– Perlu diingat ada beberapa faktor-faktor lain yang


mempengaruhi kepuasan seksual seperti kedekatan emosional
Sensasi selama berhubungan seksual lebih banyak akibat otot yang
kuat memiliki saraf yang lebih sensitive

Otot dasar panggul secara langsung bertanggung jawab

penyebab penurunan fungsi otot levator adalah kompresi dan


peregangan saraf pudendus selama persalinan
Peregangan dan kompresi saraf pudendal sering terjadi saat janin turun melewati
spina ischiadika pada mid pelvis atau pintu tengah panggul

Snooks dan Swash melaporkan bahwa kerusakan saraf pudendus yang reversible
terjadi pada persalinan pervaginam

kerusakan saraf semakin meningkat pada persalinan forcep, multiparitas,


pemanjangan kala dua, robekan perineum derajat tiga atau empat, dan makrosomia
42-80% dari persalinan pervaginam disertai kehilangan inervasi saraf pudendus pada
otot pubokoksigeus dan otot sfingter ani

walaupun beberapa reinnervasi oleh saraf sekitarnya dapat terjadi, namun


kehilangan fungsi otot secara permanen seringkali terjadi

kerusakan saraf semakin meningkat pada persalinan forcep, multiparitas,


pemanjangan kala dua, robekan perineum derajat tiga atau empat, dan makrosomia
Denervasi parsial dasar panggul sendiri akan terjadi pada
persalinan normal  diperparah oleh lamanya partus
kala dua dan berat bayi lahir
Berdasarkan hasil penelitian ini maka perlu adanya
komunikasi, informasi dan edukasi pada pasangan suami-
istri bahwa persalinan pervaginam dengan episiotomi
atau pun tanpa episiotomi tidak mempengaruhi fungsi
seksual wanita.
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan Rerata skor Female Sexual Function Index (FSFI) pada
wanita primipara pasca persalinan pervaginam dengan
episiotomi adalah 23,80 ± 4,60.

Rerata skor Female Sexual Function Index (FSFI) pada


wanita primipara pasca persalinan pervaginam tanpa
episiotomi adalah 25,26 ± 4,22.

Tidak terdapat perbedaan fungsi seksual wanita pasca persalinan


pervaginam dengan episiotomi dibandingkan dengan tanpa episiotomi
pada primipara berdasarkan masing-masing domain dalam FSFI (desire,
arousal, lubrication, orgasm, satisfaction, pain), skor total FSFI, dan
klasifikasi ada atau tidaknya disfungsi seksual.
Saran Perlu adanya edukasi dan
penjelasan kepada pasangan
suami istri bahwa persalinan
pervaginam dengan episiotomi
atau pun tanpa episiotomi tidak
mempengaruhi fungsi seksual
wanita.

Perlunya diberikan edukasi


kepada pasangan seksualnya
(Suaminya) bahwa kepuasan
seksual wanita juga sangat
dipengaruhi rangsangan
maksimal dari suami sehingga
diperlukan komunikasi yang baik
antara suami dan istri
LAMPIRAN…
TERIMAKASIH

Anda mungkin juga menyukai