100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
204 tayangan49 halaman

Terapi dan Diagnosis Frambusia

Frambusia adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum pertenue dan menyebabkan berbagai manifestasi klinis pada kulit seperti papul, plak, dan ulkus. Penyakit ini lebih umum terjadi pada anak-anak di daerah tropis dengan sanitasi yang buruk melalui kontak kulit langsung. Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis sedangkan pengobatannya menggunakan antibiotik.

Diunggah oleh

Ainindya Pasca
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
204 tayangan49 halaman

Terapi dan Diagnosis Frambusia

Frambusia adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum pertenue dan menyebabkan berbagai manifestasi klinis pada kulit seperti papul, plak, dan ulkus. Penyakit ini lebih umum terjadi pada anak-anak di daerah tropis dengan sanitasi yang buruk melalui kontak kulit langsung. Diagnosis didasarkan pada gambaran klinis sedangkan pengobatannya menggunakan antibiotik.

Diunggah oleh

Ainindya Pasca
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FRAMBUSIA

dr. Erdina HD Pusponegoro, [Link](K)


EHDP
Dept. IK Kulit dan Kelamin FKUI/ RSCM Surabaya - 2018
Nama Lain Frambusia
 Frambesia dari
Buba Pian
kata Framboise
(Raspberry) 
Parangi Puru Ambalo Bahasa Prancis

Patek

Footer Text
Pendahuluan
 Frambusia = Frambesia tropika
penyakit infeksi kronis residif non-venereal yang
disebabkan oleh Treponema palidum pertenue,
dapat melibatkan kulit, tulang, sendi, saraf, mata.
 Laki-laki lebih banyak dari perempuan karena lebih
aktif  lebih banyak trauma
 Tidak diturunkan secara kongenital
Masih
 Tidak menembus plasenta diperdebatkan
(no strong
 Tidak menembus sistem saraf pusat evidence)

 Dapat melibatkan system kardiovaskular


EHDP
Frambusia
• daerah tropis & lembab  ≥27oC (80oF),
dengan curah hujan tinggi
• terutama anak-anak (< 15 tahun), puncak
Epidemiologi 6-10 tahun
• laki > perempuan
• sosial ekonomi rendah, higiene buruk,
fasilitas sanitasi kurang, padat penduduk
• tidak ada kekebalan tubuh yang menetap
Kekebalan • Host response  imunitas humoral dan
selular

• tidak fatal
Prognosis • cacat penampilan dan fisik,
gangguan sosialisasi, diskriminasi
EHDP
Penularan

Sumber • manusia
penularan
• Berasal dari cairan eksudat /serum
• kontak langsung kulit-kulit
• Bakteri tidak dapat menembus kulit utuh,
Cara tetapi masuk melalui luka lecet, goresan, atau
luka infeksi kulit lain.
penularan: • kontak melalui lalat, alat rumah tangga,
keluarga
• ASI dari Ibu ke anak

• 9-90 hari
Inkubasi • rata-rata 3 minggu
EHDP
Faktor Risiko Penularan
• Bergantian memakai pakaian yang sama dengan kasus

• Jarang berganti pakaian

• Kebersihan perorangan dan lingkungan yang buruk

• Tinggal di daerah yang kumuh

• Adanya penyakit kulit lain seperti kudis (scabies), pioderma

• Luka yang berulang-ulang selama kegiatan diluar rumah

Footer Text
Manifestasi klinis
Periode laten II
5-10 thn
>6 bulan

Periode laten I
Lesi tersier
10-16 minggu (2-5 thn) Tidak menular
Lesi sekunder
Menular
3-6 bulan

Lesi primer
• Sangat menular
EHDP
Lesi primer: mother Yaws, buba madre
 Papul frambusia: penonjolan padat
dengan permukaan bersisik halus
 Tidak nyeri, bisa gatal
 Predileksi tungkai bawah (legs & ankle),
wajah, leher, tangan, daerah terbuka.
Kadang ditemukan di lipat ketiak, leher,
lipat paha, lipat anal.
 Gejala konstitusi jarang, KGB regional
dapat membesar
 Atralgia
 Lesi primer bervariasi (sangat bergantung
variasi iklim)
 Lesi makula pada musim kemarau
 Lesi florid pada musim hujan
EHDP
Lesi Primer: krustopapiloma

 Papul dengan permukaan berjonjot, sering tertutup cairan dan


krusta kekuningan yang mudah berdarah jika krusta diangkat
 Papilomata: kumpulan papiloma
 Permukaan dapat kering / basah

EHDP
Lesi Primer: makuloskuamosa

 Makula hipopigmentasi, sirkular, multipel, dengan deskuamasi


ringan, di bagian tepi terdapat hipo atau hiperpigmentasi.

EHDP
Lesi primer: ulseropapiloma
• Beberapa papul bersatu
menjadi plak, dapat
menjadi ulkus disebut
sebagai chancre of yaws,
frambesioma. Kadang
ada lesi satelit berupa
papul-papul kecil
• Basah bergetah,
mengandung banyak
kuman
• Dasar ulkus: raspberry
like (frambesial),
tertutup krusta
kekuningan EHDP
Lesi primer: ulseropapiloma

• Ulkus berbau anyir


dan penuh dengan
lalat
• Tidak nyeri
• Tepi meninggi
• Bentuk bulat

EHDP
Figure 1. Early, diffuse cutaneous macular and
Figure 4. Early squamous macule. Photo credit:
ulcerative lesions extending into the anal cleft. Photo
CDC/Dr. Peter Perine
credit: CDC/Dr. Peter Perine
Figure 6. Non-infectious lesion on the elbow. Photo credit: CDC/Dr. Peter Perine Figure 9. Confluent papillomata with ulcerations on the shin. These lesions were
present for several years and are consistent with mixed early and late lesions. Photo
credit: CDC/Dr. Peter Perine
Lesi primer: penyembuhan
• Tanpa terapi, lesi dapat
sembuh spontan,
masuk ke dalam fase
laten I setelah 3-6
bulan
• Gejala sisa berupa
sikatriks atrofi
(cigarette paper)
dengan hipopigmentasi
sentral atau dengan
tepi yang gelap
• 9-15% kasus menetap

EHDP
Hasil dari penyebaran hematogen dan
Lesi sekunder limfogen terutama ke kulit dan tulang

 Timbul setelah periode


laten selama 10-16
minggu, bisa sampai 2-
5 tahun
 Sering disertai gejala
konstitusi: malaise,
demam, anoreksia
 Limfadenopati
generalisata
 Sembuh dengan / tanpa
meninggalkan jaringan
parut
 Dapat berjalan simultan
dengan lesi primer EHDP
Lesi sekunder: daughter yaws, piamomas

• Lesi kulit diseminata


• Papul tidak gatal, kemerahan, verukosa atau
vegetasi
• Terjadi erosi dan basah, tertutup eksudat fibrin
yang sangat infeksius, mengering membentuk EHDP
krusta
Lesi sekunder

• Ulkus multiple eksudatif, berbau


anyir, dan penuh dengan lalat
• Tidak nyeri
• Tepi meninggi
• Bentuk bulat

Footer Text
Lesi sekunder
wet crab/ bubul

Plak palmoplantar hiperkeratotik


(Crab Yaws)

EHDP
Lesi sekunder: Plak papuloskuamosa (pianides)

EHDP
Lesi sekunder
Gambaran lain:
• Nodul frambesiformis
• Plak papuloskuamosa (pianides)
• Osteoperiostitis falangs proksimal (ghoul hand) atau di tulang
panjang (nyeri dan penebalan tulang panjang)
• 75% kasus anak mengalami nyeri sendi

EHDP
Lesi tersier
 Timbul setelah periode laten kedua (5-10 thn)
 Lokasi tersering: ketiak, anus, dan sekitar mulut
 Bila tidak diterapi 10% kasus mengalami:
 Gumma framboesiodes: nodul gumma kutan dan subkutan
 Gangosa, pintoid diskromia, goundou, keratoderma
 Nodul juxta-articular
 Dapat mengenai tulang, mata, saraf, CVS
 Tidak menular
 Sembuh dengan deformitas dan kontraktur

EHDP
Lesi tersier

Gondou: pembengkakan dan nyeri area


hidung dan paranasal

Gangosa: lesi
destruktif osteitis
pada hidung,
sentral wajah, bisa
sampai perforasi
tulang hidung,
palatum , dan
nodul juxta-articular nasofaring
EHDP
doc:Subdit Kusta & Framb.
Diagnosis Klinis
Kasus Suspek
 Anak umur < 15 tahun
 Gejala klinis selama > 2 minggu:
 Papul atau Papilloma
 Ulkus frambusia (terdapat krusta dan tidak sakit)
 Makula papula
 Hiperkeratosis di telapak tangan dan kaki
 Perubahan pada tulang dan sendi
 Ciri dan lokasi lesi terjadi pada tungkai, kaki, bisa di
lengan dan muka
Di era modern, manifestasi klinis Yaws less florid karena penggunaan penisilin EHDP
Diagnosis Klinis
 Kasus suspek yang memiliki kontak erat >20 jam
dengan kasus frambusia disebut Kasus Probable
 Perlu dilakukan pengujian serologi (RDT) utk
konfirmasi diagnosis (terutama di daerah non
endemis).
 Kasus suspek/probable dengan RDT positif (+)
disebut Kasus Konfirmasi

EHDP
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Mikroskop Lapangan Gelap
2. PCR (pemeriksaan molecular)
3. Pemeriksaan Serologis
A. Treponemal test, di antaranya :
 TPHA (Treponema palidum haemagglutination test)  tetap positif setelah terapi
 RDT (Rapid Diagnosis Test)

B. Non treponemal test (Reaginic antibody test), di antaranya :


 VDRL (Venereal disease research laboratory
 RPR (Rapid Plasma Reagin)  umumnya lebih tinggi pada lesi primer
dibandingkan sekunder
 Pemeriksaan serologi yg ada tidak dapat membedakan dg infeksi
treponema lain.

Pemeriksaan Serologis Berdasarkan Kebijakan Program:


EHDP
TPHA-RDT dan dievaluasi dengan RPR/VDRL.
Algoritma Diagnosis
 Pemeriksaan RDT dg
sensitivitas 85-98% dan
spesifisitas 93-98%.
 Tidak dapat
membedakan antara
infeksi aktif dan yg sudah
mendapat pengobatan.
 Apabila didapat RDT (+),
diuji kembali dg RPR utk
mengetahui apakah
penyakit masih aktif

EHDP
Footer Text
DEFINISI KASUS

Kasus suspek adalah seseorang yang menunjukkan satu atau lebih


gejala/tanda klinis selama > 2 minggu, yaitu papul atau papilloma, ulkus
fambusia (terdapat krusta, dan tidak sakit), makula papula, hiperkeratosis di
telapak tangan atau kaki (early), perubahan pada tulang dan sendi (early)
Kasus probable adalah kasus suspek yang memiliki kontak erat dengan kasus
frambusia.
kontak lebih dari 20 jam per minggu
waktu kontak antara 9-90 hari sebelum munculnya lesi frambusia

Kasus konfirmasi adalah kasus suspek atau kasus probable frambusia dengan
hasil positif pada uji serologi (Rapid Diagnostic Test/RDT). Jika hasil tes tersebut
meragukan, dapat dilakukan tes Rapid Plasma Reagen (RPR).
Kasus suspek/probable RDT (-) yang kemudian disebut kasus RDT (-)
adalah kasus suspek atau kasus probable dengan hasil pengujian RDT negatif (-).
Diagnosis banding

Veruka Vulgaris

EHDP
Kromoblastomikosis
Diagnosis banding

PIODERMA EHDP
Diagnosis banding

Ulkus tropikum

EHDP
Ulkus e.c trauma (gigitan tikus) dengan infeksi
sekunder bakterial dan miasis pada pasien MH
Diagnosis banding

TBC Kutis
EHDP
Diagnosis banding

Coccidioidomycosis

SCC EHDP
Diagnosis banding

Skabies EHDP
Diagnosis banding

Tinea Versicolor Psoriasis

Footer Text
Terapi – Pilihan Utama
CARA LAMA
UMUR NAMA OBAT DOSIS
PEMBERIAN PEMBERIAN

500 mg (1 tablet)
2-5 tahun
1x/hari

1.000 mg (2 tablet)
6-9 tahun
1x/hari
Azitromisin tablet PO Dosis tunggal
1.500 mg (3 tablet)
10-15 tahun
1x/hari

2.000 mg (4 tablet)
16-69 tahun
1x/hari
‚*Kasus < 2 tahun dan > 69 tahun, wanita hamil, warga sakit berat,
atau alergi obat azitromisin, pengobatannya konsultasikan ke dokter

< 10 tahun 600.000 IU


Penisilin benzatin IM Dosis tunggal
≥ 10 tahun 1.200.000 IU
EHDP
Jenis Obat Azitromisin
1). Dosis
30 mg/kgBB yang diberikan 1x. Dosis maksimal 2 gram
2). Bentuk sediaan
Sirup kering, Tablet dan Kaplet berwarna putih berbentuk oval.
3). Cara Minum Obat
Berikan pada saat perut kosong 1 jam sebelum makan atau 2 jam sesudah
makan. Setelah minum obat tunggu 30 menit untuk melihat efek samping.
(Dipantau kembali setelah 2 minggu untuk melihat efek samping jangka
panjang)
4). Kontraindikasi
Riwayat alergi dengan azitromisin sebelumnya, ibu hamil, gangguan hati, dan
jaundice (kuning) karena gangguan aliran empedu.
Efek Samping Obat
4).Toksisitas dan efek samping
 diare, mual, muntah, sakit perut, dan reaksi kulit berat.
 Efek samping yang jarang terjadi termasuk sakit kepala,
ruam, nilai fungsi hati yang tidak normal dan gangguan pada
indra penciuman dan pengecap.
 Bila ada bradikardi relatif diberikan sulfas atropine dengan
catatan denyut nadi sebelum pemberian harus dihitung
dengan cermat.
 Tidak ada efek samping yang menyebabkan
fatal/meninggal yang terdokumentasikan.
Efek Samping dan Penanganan
 Pengobatan KIPO adalah dengan memberikan obat sesuai
keluhan (simptomatis)
 Jika ringan rujuk ke petugas kesehatan/yankes terdekat, jika
tidak bisa menangani, rujuk ke dokter atau RS terdekat
No Gejala Penanggulangan Rujukan

1 Diare  Pemberian oralit Petugas Puskesmas,


dokter
2 Mual, muntah,  Pemberian obat anti Petugas Puskesmas,
mual (B6) dokter

3 Kram perut  Anti spasmodik Petugas Puskesmas,


dokter
Keamanan Pemberian Obat Frambusia

Keluhan yang terjadi setelah minum obat sering dianggap


disebabkan oleh obat yang baru saja diberikan  diperlukan
review ahli untuk menentukan apakah kejadian ini merupakan:
efek simpang obat atau
kejadian bersamaan (bukan efek simpang obat, tetapi terjadi
setelah minum obat frambusia).

Kejadian Ikutan POMP Frambusia dapat terjadi sejak diberikan


obat hingga 2 minggu.
Bisa terjadi saat POPM kasus kontak atau total penduduk,
walaupun obat azitromisin cukup aman untuk diberikan.
Setelah terapi: Kuman hilang dari lesi 8-10 jam.
Lesi kulit mulai menyembuh dalam 2-4 minggu.
Nyeri sendi mulai membaik dalam 48 jam.

Sebelum diobati Setelah 15 hari diobati

Kasus di Jayapura, 9 October 2008

Footer Text
Pencegahan

Interupsi • Diagnosis dini


• Terapi
transmisi populasi
melalui target

Perbaikan
• Penyuluhan
kebersihan kesehatan
personal

EHDP
Daftar Pustaka
1. Hill K, Kodijat R, Sardadi M. Atlas of Framboesia. Geneva, Switzerland: World Health Org. 1951.h.7-17.
2. Yaws: recognition Booklet for Communities. Departement of Control of Neglected Disease WHO.
Geneva: 2012.
3. Mitja O, Asiedu K, Mabey D. Yaws. The Lancet. 2013; 381: 763-73.
4. Giacani L, Lukehart SA. The Endemic Treponematoses. Clin. Microbiology Reviews 2014; 27(1):89-115
5. Kazadi WM, Asiedu K, Agana N, Mitja O. Epidemiology of Yaws: an Update. Clin. Epid 2014,6:119-28.
6. Marks, M. Advances in the Treatment of Yaws. Tropical Medicine and Infectious Diseas. 2018; 3(3): 92.
doi:10.3390/tropicalmed3030092
7. Hernandez DAA, Rivera AS. Yaws essentials: What health professionals should know about yaws.
Heighpubs Otolaryngol and Rhinol. 2017; 1: 037-040.
DOI: 10.29328/[Link].1001007
8. Marks, M., Lebari, D., Solomon, A. W.,&Higgins, S. P. Yaws. International Journal of STD&AIDS.
2014;26(10): 696–703. doi:10.1177/0956462414549036
9. Santos MA, Faldetta KF, Zaenglein AL. Yaws: Rebound of a forgotten disease. Glob Dermatol. 2015; 2:
DOI: 10.15761/GOD.1000140
EHDP
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai