PERENCANAAN & KONTROL
INVENTARISASI PRODUK
PENGENDALIAN PERSEDIAAN
(INVENTORY CONTROL)
BAHAN KEMAS
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 4
Aisyah Hambali (O1A114003)
Indah Mawarni (O1A1140 )
Lili Handayani (O1A114022)
Neni Rahmadani (O1A114161)
Nurlela Sundari Z. (O1A114034)
Sulistina (O1A1140 )
Putu (O1A1140 )
POKOK BAHASAN
Defenisi Pengendalian
Persediaan
1
Tujuan Pengendalian
Persediaan
2
Model Metode
Manajemen Persediaan
3
Pengendalian
persediaan kemasan
4
DEFENISI PENGENDALIAN
PERSEDIAAN
1
Pengendalian Persediaan adalah sebagai suatu kegiatan untuk
menentukan tingkat dan komposisi dari persediaan, bahan baku dan
barang hasil atau prodak, sehingga per usahaan dapat melindungi
kelancaran produksi dan penjualan ser ta kebutuhan-kebutuhan
pembelanjaan per usahaan dengan efektif dan efisien.
Sehingga, 3 alasan perlunya persediaan bagi industri, yaitu:
antisipasi adanya unsur ketidakpastian permintaan
adanya unsur ketidakpastian pasokan dari
supplier,
adanya unsur ketidakpastian tenggang waktu (lead time)
waktu pemesanan
TUJUAN PENGENDALIAN
PERSEDIAAN
2
Tujuan dari pengendalian persediaan adalah :
Memberikan informasi bagi manajemen mengenai keadaan
persediaan Untuk mencapai tujuan tersebut, maka tentu saja akan menimbulkan
Menyediakankonsekuensi bagi perusahaan,
persediaan dalam yaitu menanggung
jumlah biaya atau resiko
secukupnya yang
untuk
berkaitan dengan keputusan persediaan.
menghindari kegiatan produksi terhenti dan tidak mampu
menyerahkan persediaan tepat waktu.
Menjaga tingkat persediaan yang ekonomis.
Mengalokasikan ruangan penyimpanan untuk barang yang
Oleh karena itu, sasaran akhir dari pengendalian
sedang diproses atau
persediaan barang
adalah jadi. keputusan tingkat
menghasilkan
Merencanakan persediaan,
penyediaan persediaan dengan
yang menyeimbangkan tujuan kontak jangka
panjang berdasarkan rencana
diadakannya penjualan.
persediaan dengan biaya yang
Menghubungkan pemakaian dikeluarkan.
bahan dengan keuangan
perusahaan.
BIAYA PERSEDIAAN (INVENTORY COST)
Biaya Pemesanan (order
cost)
Biaya Penyimpanan (carrying cost
atau holding cost)
Biaya Kekurangan
Kategori biaya
Persediaan (stock out cost)
Biaya yang dikaitkan dengan
kapasitas
Biaya barang atau bahan itu
sendiri
Sehingga, keseluruhan biaya tadi akan mempengaruhi
total biaya persediaan (Total Inventory Cost/TOC),
Biaya Pesanan dan Biaya penyimpanan ser ta EOQ
Untuk mempertahankan tingkat persediaan yang optimum, diperlukan jawaban
atas dua pertanyaan mendasar yaitu
(1) kapan dilakukan pemesanan, dan
(2) berapa jumlah yang harus dipesan dan kapan harus dilakukan pemesanan
kembali.
TINGKAT KETERSEDIAAN
Untuk menjawab pertanyaan kapan harus
dilakukan pemesanan, dapat dilakukan dengan
tiga pendekatan, yaitu :
(1) pendekatan titik pemesanan kembali (re order
point approach/ROP),
(2) pendekatan tinjauan periodik (periodic review
approach), dan
(3) material requirement planning (MRP)
Reorder Point
(ROP) Approach
Dalam pendekatan ROP menghendaki jumlah
persediaan yang tetap setiap kali melakukan pemesanan.
Apabila persediaan mencapai jumlah tertentu, maka
pemesanan kembali harus dilakukan.
periodic review
approach)
Dalam pendekatan dengan tinjauan periodik, tingkat
persediaan ditinjau padsa interval aktu yang sama. Pada setiap
tinjauan dilakukan pemesanan kembali agar tingkat persediaan
mencapai jumlah yang diinginkan.
Material Requirement
Planning (MRP)
Approach
MRP merupakan sistem yang dirancang secara khusus
untuk situasi permintaan yang bergelombang (tidak konstan), yang
secara tipikal karena per mintaan tersebut de pendent.
Oleh karena itu tujuan dari sistem MRP adalah
(1) menjamin tersedianya meterial, item atau komponen pada saat
dibutuhkan untuk memenuhi skedul (jadwal) produksi dan
menjamin tersedianya produk jadi bagi konsumen,
(2) menjaga tingkat persediaan pada kondisi minimum, serta
(3) merencanakan aktivitas pengiriman, penjadwalan dan
pembelian.
Model – model pengendalian
persediaan
3
Model One bin system
Model Two bin system
Fixed Order Period System
Fixed Order Quantity
System
Model minimum dan
maximum stock level
Model EOQ (Economic
Order Quantity)
Model ABC (Always Better
Control)
Model VEN (Vital Essential
Non-Essential)
Metode JIT (Just In Time)
MODEL ONE BIN SYSTEM (P)
One Bin System: Dibuat Bin karena jumlah inventory maksimum.
Setiap kali periode pemesanan sampai tinggal dilihat berapa stock
tersisa dan pemesanan dilakukan untuk mengisi Bin penuh
Sistem pengendalian persediaan dgn jarak w aktu antar dua pesanan
yang tetap.
Jumlah pesanan yang dipesan sangat bergantung pada sisa
persediaan pada saat periode pemesanan tercapai; sehingga setiap
kali pemesanan dilakukan, ukuran lot pesanan tidak sama.
Permasalahan pada sistem P ini adalah terdapat kemungkinan
persediaan sudah habis sebelum periode pemesanan kembali.
Akibatnya , safety stock yang diperlukan relatif lebih besar.
safety stock dalam sistem ini dibutuhkan untuk meredam fluktuasi
permintaan selama lead time, tetapi juga untuk seluruh konsumsi
persediaan.
MODEL TWO BIN SYSTEM (Q)
berkaitan dengan penentuan besarnya stok operasi
(operating stock) dan besarnya cadangan pengamannya
(safety stock).
model ini bekerja dengan menggunakan prinsip 2 kotak.
Kotak pertama berisi stok operasi yang dibatasi sampai
dengan reorder point (r), bila barang pada kotak pertama
(first bin) sudah habis, barang pada kotak kedua (second
bin) baru digunakan. Batas maksimum kotak kedua
adalah tingkat reorder point (r) dan batas minimumnya
adalah nol .
FIXED ORDER PERIOD SYSTEM (FOP/P)
pengendalian persediaan yang jarak w aktu antar pemesanan
adalah tetap, namun jumlah pesanan berubah-ubah.
Ciri-ciri pengendalian persediaan dengan metode P adalah:
1. Interval w aktu pemesanan yang dinotasikan dengan T adalah
tetap.
2. Jumlah permintaan tidak pasti atau berfluktuasi dan jumlah
barang yang dipesan tidak tetap tergantung pada jumlah
persediaan di gudang. Jumlah barang yang dipesan yang
dinotasikan dengan q 0 besarnya
3. merupakan selisih antara persediaan maksimum yang diinginkan
yang dinotasikan dengan R dengan persediaan yang ada pada
saat pemesanan dilakukan yang dinotasikan dengan r.
5. Tidak memiliki titik pemesanan kembali, sebagai gantinya adalah
selang w aktu yang tetap untuk pemesanan kembali.
6. Adanya persediaan pengaman yang akan digunakan untuk
menghadapi adanya perubahan permintaan dalam interval
pemesanan.
bahwa mekanisme pengendalian dilakukan dengan melakukan
pemesanan menurut interval waktu T dan besarnya ukuran lot q 0 bergantung
pada nilai R dan r, yaitu sebesar q 0 = R - r. Terdapat kemungkinan adanya suatu
periode waktu tertentu di mana barang tidak ada di gudang atau terjadi
kekurangan persediaan (out of stock). Kekurangan persediaan mungkin terjadi
selama T dan selama waktu ancang-ancang atau lead time (L). Oleh sebab itu,
cadangan pengaman yang diperlukan untuk meredam fluktuasi kebutuhan
selama T dan selama lead time L tersebut. Penentuan besarnya cadangan
pengaman (ss) diperoleh dengan mencari kesinambungan antara tingkat
pelayanan dan ongkos persediaan yang ditimbulkan.
OT = O b + O p + O s + O k
Dimana:
OT = minimasi ekspektasi biaya total persediaan
Ob = biaya beli
Op = biaya pemesanan
Os = biaya penyimpanan
Ok = biaya kekurangan barang
p = harga barang per unit yang dinotasikan dengan
A = ongkos tiap kali pesan
h = ongkos penyimpanan per unit per tahun
cu = ongkos satuan kekurangan persediaan
1. Biaya Pembelian (Ob ) Biaya beli barang Ob merupakan
perkalian antara ekspektasi jumlah barang yang dibeli (D)
dengan harga barang per unitnya (p), secara matematis ditulis
Ob = Dp
2. Biaya Pengadaan (Op ) Biaya pengadaan per tahun (Op ) dapat
dinyatakan sebagai berikut:
Op = (biaya tiap kali pesan) × (frekuensi pemesanan per tahun)
Op = A × f
Jika setiap kali pemesanan dilakukan dengan selang waktu T,
maka frekuensi pemesanan per tahun sebesar:
Sehingga biaya pengadaan per tahun dinyatakan sebagai:
3. Biaya Penyimpanan (Os )
Biaya simpan per tahun (Os) merupakan perkalian antara
ekspektasi persediaan per tahun (m) dengan biaya simpan per
tahun (h) atau
Os = m× h
Untuk menghitung persediaan rata-rata per tahun (m) maka akan
diamati keadaan persediaan setiap siklusnya dalam keadaan
steady state seperti dalam suatu siklus tertentu, persediaan akan
berakhir pada tingkat (s + TD) di aw al siklus dan pada tingkat (s)
di akhir siklus, sehingga ekspektasi persediaan harga adalah:
Untuk kasus lost sales kekurangan persediaan dibiarkan saja
sehingga tidak dimungkinkan adanya persediaan negatif,
sehingga harga s dapat dinyatakan sebagai berikut :
Dalam kondisi steady stock ekspektasi harga s adalah :
E[𝑠] = ∫(𝑅−𝑥)𝑓(𝑥)𝑑𝑥𝑅0
E[𝑠] = ∫(𝑅−𝑥)𝑓(𝑥)𝑑𝑥∞0 - ∫(𝑅−𝑥)𝑓(𝑥)𝑑𝑥∞𝑅
E[𝑠] =∫𝑅𝑓 (𝑥)𝑑𝑥∞0 - ∫𝑥𝑓(𝑥)𝑑𝑥∞0 - ∫(𝑅−𝑥)𝑓(𝑥)𝑑𝑥∞𝑅
E[𝑠] = R – μ - ∫(𝑅−𝑥)𝑓(𝑥)𝑑𝑥∞𝑅
E[𝑠] = R - μL – TD + N
Dimana :
μ= μL + TD
N= ∫(𝑥−𝑅)𝑓(𝑥)𝑑𝑥∞𝑅
Dengan:
Μ : variabel acak permintaan barang selama (T+L) periode
f(x) : distribusi kemungkinan permintaan sebesar x
μL : ekspektasi rata-rata permintaan selama lead time periode
T : interval w aktu antar pemesanansehingga diperoleh
ekspektasi persediaan untuk kasus lost sales sebagai berikut :
m= (R- μL – TD + N + 𝑇𝐷2 )
m=(R- μL - 𝑇𝐷2 + N)
Sehingga biaya penyimpanan (Os) dinyatakan sebagai:
Os = (R- μL - 𝑇𝐷2 + N) h
4. biaya kekurangan persediaan per tahun
Dimana:
Ok = NT cu
Ok : Biaya Kekurangan Persediaan
NT : jumlah total kekurangan persediaan selama satu tahun
Cu : biaya setiap unit kekurangan persediaan
Harga NT dapat ditentukan sebagai:
NT = N .1𝑇
NT = 𝑁𝑇
N = jumlah siklus dalam satu tahun
T = jumlah kekurangan persediaan untuk setiap siklus
Sehingga biaya kekurangan persediaan sebesar
Ok = cuN𝑇
Dari semua biaya di atas maka di dapat biaya total inventori sebagai berikut
:
OT=Ob+Op+Os+Ok
perhitungan menggunakan metode P adalah :
1. Menghitung periode pemesanan dengan menggunakan rumus:
2. Menghitung probabilitas kekurangan persediaan dengan menggunakan
rumus :
Jika kebutuhan berdistribusi normal, maka nilai R mencakup kebutuhan
selama (T+L) periode dan dinyatakan dengan dengan:
FIXED ORDER QUANTIT Y SYSTEM (FOQ/Q)
pesanan tetap yang optimal. Kriteria optimal adalah total biaya
persediaan yang minimal. Tujuan persediaan dengan metode ini
adalah untuk menentukan jumlah pesanan yang paling optimal
dengan biaya yang minimal dan titik pemesanan kembali (reorder
point). Metode Q digunakan untuk menentukan biaya persediaan
pada titik paling minimum dengan menekan biaya pembelian ,
biaya pemesanan, biaya penyimpanan.
Prinsip FOQ atau pengendalian persediaan sistem Q adalah
pemesanan dilakukan pada saat mencapai batas titik pemesanan
(reorder point) atau dengan kata lain model ini mengasumsikan
penempatan order terjadi pada saat sisa persediaan mencapai
titik order yang telah ditentukan sehingga jumlah persediaan
harus selalu dikontrol.
Persediaan untuk meredam fluktuasi ini dinamakan persediaan
pengaman . Dapat dikatakan Safety stock dalam FOQ system,
diperlukan untuk mengatasi adanya fluktuasi demand selama
lead time. Safety stock untuk demand probabilistik dengan
stockout case lost sales dimana demand yang tidak dapat
dipenuhi akan dianggap hilang.
Model ini mempunyai asumsi – asumsi sebagai berikut:
Kebutuhan untuk setiap produk konstan dan seragam untuk
periode tersebut.
Jangka w aktu pesanan (Lead Time) adalah tetap.
Harga setiap produk adalah konstan.
Biaya persediaan adalah konstan.
Biaya pesan adalah konstan.
Kebutuhan produk selalu dipenuhi (tidak diperbolehkan
kekurangan stok)
Model Fixed Order Quantity dihitung sehingga meminimumkan
biaya langsung penyimpanan (holding/carrying cost) dan biaya
pesanan (ordering cost) dengan menggunakan rumus berikut:
EOQ = √ (2DS/H)
Dimana :
D = penggunaan atau permintaan yang diperkirakan per
periode w aktu (setahun).
S = biaya pemesanan per pesanan.
H = biaya penyimpanan per unit per tahu
Untuk mengetahui berapa banyak (dalam unit) reorder
point dilakukan, dengan menggunakan persamaan
berikut :
R = d L+ zσ L
Dimana:
R = reorder Point
d = Rata – rata tingkat permintaan yang diramalkan
L = Lead Time
z = Angka standar deviasi untuk tingkat layanan yang
diharapkan
σL = standar deviasi selama lead time
MODEL MINIMUM DAN MAXIMUM STOCK
LEVEL
K ons e p ya ng t i da k be r da sa rka n pe r hi tunga n s e c a r a be r k a la t e t a p, t e t a pi
da pa t di l ak uka n s e t i ap w akt u, de nga n k ons ep t i t ik pe me s a na n k e mba li
( r e or de r poi nt )
J i k a pe r s ediaa n s uda h m e nc a pai j um l a h m i ni m um m a k a s e ge r a di l a kukan
pe m be lia n ba r a ng , s a m pa i j um l ah ba r a ng s uda h m e nc a pai p e r s e dia a n
m a k s i m um m a k a pe m be lian di he ntikan . k a l a u ba r a ng da l a m pe r s e dia an
di pa k ai t e r us m a k a s ua t u s a a t a k a n s a m pa i pa da pe r s ediaan m i ni m um l a gi ,
di l a kuk an pe m be l ian l a gi , de m i k ian s e t e r us nya .
Mi n - Ma x i ni di r um us kan s e ba gai be r i kut :
Q = Max -Min
Q = J um l ah ya ng pe r l u di pe s an unt uk pe ngi sia n pe r s e dia an k e m ba li
M i n = ( LD x AU ) + SS
M i n = M i ni mum s t oc k, a da l ah j um l ah pe m a k aian s e l a ma w ak tu pe s a nan
LD = Wa k t u pe s a nan
AU = pe m a k a ian r a t a - r ata da l a m s a t u bul a n
SS = Persediaan pengaman
Nilai minimum stock :
Max = 2 x (T x AU)
Dimana :
Max = maximum stock, adalah jumlah maksimum yang
diperbolehkan disimpan dalam persediaan
T = Waktu pesanan
AU = Pemakaian rata -rata selama satu bulan
Nilai Maximum :
SS = (AU / 24) x K
Dimana :
SS = Safety Stock
K = Keterlambatan kedatangan Pesanan (jam)
LD = Lead Time
AU = Average Usage, pemakaian rata-rata dalam 1 hari
MODEL EOQ (ECONOMIC ORDER
QUANTIT Y)
EOQ model merupakan model yang paling sederhana.
Metode ini dapat digunakan baik untuk persediaan barang-barang
yang dibeli maupun yang diproduksi sendiri
EOQ model digunakan untuk menentukan kuantitas pesanan
persediaan yang optimal, yang meminimalkan biaya langsung
penyimpanan persediaan dan biaya pemesanan persediaan.
Asumsi-asumsi yang digunakan pada model EOQ adalah :
1. Permintaan barang diketahui dan bersifat konstan
2. Harga per unit barang adalah konstan
3. Barang yang dipesan dan disimpan hanya satu macam
4. Biaya penyimpanan dan pemesanan konstan
5. Lead time (jangka waktu pemesanan dengan barang diterima)
adalah konstan
6. Tidak ada back order.
MODEL ABC (ALWAYS BETTER CONTROL)
Analisis ABC adalah metode dalam manajemen persediaan
(inventory management) untuk mengendalikan sejumlah kecil
barang, tetapi mempunyai nilai investasi yang tinggi
Analisis ABC didasarkan pada Hukum Pareto (Ley de Pareto):
Hukum Pareto menyatakan bahwa sebuah grup selalu
memiliki persentase terkecil (20%) yang bernilai atau memiliki
dampak terbesar (80%).
analisis ABC dapat menggolongkan barang berdasarkan
peringkat nilai dari nilai tertinggi hingga terendah, dan
kemudian dibagi menjadi kelas-kelas besar terprioritas,
biasanya kelas dinamai A, B, C, dan seterusnya secara
berurutan dari peringkat nilai tertinggi hingga terendah.
Umumnya kelas A memiliki jumlah jenis barang yang sedikit,
namun memiliki nilai yang sangat tinggi
ANALISIS INI MENGENAI 3 KELAS YAITU:
A (Always) :
kumulatifnya antara 75%-80%. Kelas A tersebut menunjukkan
10%-20% macam persediaan yang memiliki 70%-80% dari total
biaya persediaan. Hal ini berarti persediaan memiliki nilai jual
yang tinggi sehingga memerlukan pengawasan ekstra dan
pengendalian yang harus baik
B (Better) :
Kelas B, 20-40% item obat di rumah sakit dengan alokasi dana
10-15% dari keseluruhan anggaran obat. Persentase kumulatifnya
antara 80-95% (Quick, 1997).
C (Control)
Obat mempunyai nilai yang rendah, yaitu sekitar 5% namun
jumlah obat sangat banyak, yaitu mencapai 60%. Karena obat
selalu tersedia maka pengendalian pada tingkat ini tidak begitu
berat. Persentase kumulatifnya antara 95%-100%
METODE JIT (JUST IN TIME)
Merupakan pendekatan untuk meminimalkan total biaya
penyimpanan, dimana dalam metode JIT biaya-biaya ini ini
ditekan sampai nol.
Jika biaya penyiapan tidak menjadi signifikan , maka biaya
tersisa yang akan diminimalkan adalah biaya penyimpanan,
yang dilakukan dengan mengurangi persediaan sampai ke
tingkat yang sangat rendah. Pendekatan inilah yang
mendorong untuk persediaan nol dalam system JIT.
PENGENDALIAN PERSEDIAAN
KEMASAN
3
Pengemasan merupakan suatu metode yang memberikan
kenyamanan, identifikasi, penyajian, dan perlindungan terhadap
suatu sediaan obat sampai dikonsumsi.
Pengemasan produk farmasi dilakukan dengan beberapa teknik
yang sesuai dengan peranan dan fungsi dari kemasan produk
yang akan diproduksi, seperti Strip packaging, Blister pack,
Pengemasan bulk produk dan teknik pengemasan lain yang
memiliki fungsi dan kelebihan masing-masing.
FUNGSI DAN PERAN KEMASAN
Mewadahi produk selama distribusi dari
produsen hingga kekonsumen,
Melindungi dan mengawetkan
produk, seperti melindungi dari
sinar ultraviolet, panas,
Sebagai identitas produk
Meningkatkan efisiensi,misalnya :
memudahkan penghitungan (satu
kemasan berisi 10, 1 lusin, 1 gross dan
sebagainya)
Melindungi pengaruh buruk dari
luar,
Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam
Proses Pengemasan
Har us selalu mengikuti dan mematuhi prosedur ter tulis yang sudah
dibuat.
Har us selalu mengikuti dan menjalankan in process control.
Pr a penandaan pada bahan pengemas har us selalu dilakukan.
Sebelum melakukan pengemasan, kesiapan jalur pengemasan har us selalu
diperiksa.
Hanya obat yang ber asal dari satu batch saja yang boleh ditempatkan
dalam satu palet.
Produk yang r upa dan bentuknya sama tidak boleh dikemas pada jalur
yang berdampingan.
Pada jalur pengemasan, nama dan nomer batch har us terlihat jelas.
Produk antara dan produk jadi yang masih dalam proses pengemasan
har us selalu diberi label identitas dan jumlah.
Produk yang telah diisikan kedalam wadah akhir tapi belum diberi label,
har us dipisah dan diberi tanda.
Per alatan pengemasan tidak boleh ber sentuhan langsung dengan produk.
Bahan untuk pengemasan se per ti: pelincir, perekat, tinta, cair an
pember sih, ditempatkan dalam wadah berbeda dari wadah untuk produk
ALUR PROSES PRODUKSI BAHAN
BAKU KEMAS
Pengendalian bahan baku kemas
Bahan baku kemas yang akan
digunakan didalam proses
produksi harus memiliki
kualitas yang baik atau sesuai
dengan standar dari
perusahaan agar nantinya
didapatkan kemasan fleksibel
yang berkualitas tinggi.
Sebelum bahan baku yang
diterima oleh perusahaan
untuk kemudian disimpan
kedalam gudang, maka pihak
perusahaan akan melakukan
pemeriksaan terlebih dahulu
mengenai kelengkapan
administrasi atau dokumen
pengiriman
FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERIKSA
DARI SETIAP BAHAN BAKU
1.
bahan baku film, plastik dan
aluminium foil
Dilakukan cek fisik permukaan apakah ada
goresan, keriput, bintik-bintik atau lengket
Apabila salah satu kriteria tdk terpenuhi, maka
seluruh bahan baku yang telah datang akan
dikembalikan kepada supplier
2.
Bahan Baku Tinta
Dilakukan tes : pemeriksaa fisik :
scratch Kaleng harus tertutup rapat, tidak
resistant test boleh rusak dan tidak boleh
viscocity berkarat karena apabila hal ini
tidak terpenuhi dikhawatirkan
test tinta tersebut akan menurunkan
kualitasnya;
fineness test dari faktor label juga harus
lengkap dan jelas seperti; merek
heat dagang, tipe tinta, berat dan
resistant nomor lot/ batch.
adhesion test
3.
Bahan baku resin dan
adhesive
Dilakukan pemeriksaan fisik mulai
dari kemasan tidak boleh rusak
dan harus tertutup rapat dan juga
dari faktor label seperti merek
dagang , tipe resin atau adhesive,
berat dan nomor lot/ batch.
PENGENDALIAN PRODUK JADI
Produk akhir yang dihasilkan oleh perusahaan
adalah berupa flexible packaging dan kemasan
kantong ( bag )yg selanjutntya dilakukan suatu
pengendalian atau inspeksi lagi.
Hanya produk-produk yang sesuai dengan spesifikasi
( up to standard ) yang akan dikirim kepada customer
dan produk-produk yang menyimpang dari
spesifikasi ( not up to standard/off spec )tidak
dikirim pada custome r.
PENGENDALIAN KUALITAS PRODUK JADI
THANKS FOR YOU ATTANTION