0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan49 halaman

Prinsip Dermatoterapi oleh Dr. Prida

Dokumen tersebut membahas tentang modalitas terapi pada dermatologi, termasuk terapi sistemik, terapi lokal, prinsip dermatoterapi, prinsip terapi topikal, formulasi/preparat topikal, dan bahan aktif kortikosteroid. Secara ringkas, dokumen tersebut memberikan informasi tentang berbagai pilihan modalitas terapi untuk penyakit kulit dan prinsip-prinsip dasar dalam pemilihan terapi topikal yang tepat.

Diunggah oleh

Kamilatun Niamah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan49 halaman

Prinsip Dermatoterapi oleh Dr. Prida

Dokumen tersebut membahas tentang modalitas terapi pada dermatologi, termasuk terapi sistemik, terapi lokal, prinsip dermatoterapi, prinsip terapi topikal, formulasi/preparat topikal, dan bahan aktif kortikosteroid. Secara ringkas, dokumen tersebut memberikan informasi tentang berbagai pilihan modalitas terapi untuk penyakit kulit dan prinsip-prinsip dasar dalam pemilihan terapi topikal yang tepat.

Diunggah oleh

Kamilatun Niamah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DERMATOTERAPI

dr. Prida Ayudianti, SpKK


MODALITAS TERAPI
PADA DERMATOLOGI

 Terapi sistemik  bidang lain


 Terapi lokal  topikal

 Farmakosetika
 Farmakodinamik BERBEDA
 Farmakokinetik
MODALITAS TERAPI
PADA DERMATOLOGI

SISTEMIK TOPIKAL
Farmakosetika Diserap sampai Bentuk sediaan
mukosa usus obat
Farmakodinamik Mukosa usus  Menembus
pembuluh darah stratum korneum
Farmakokinetik Pembuluh darah Stratum korneum
 site of action  sife of action
PRINSIP DERMATOTERAPI

PEDOMAN  4T, 1W BASAH dengan


BASAH

 TEPAT  - Indikasi KERING


dengan KERING
- Obat
- Penderita Makin akut
- Dosis suatu dermatosis
 makin lemah
bahan aktif
 WASPADA  Efek samping yang dipakai
PRINSIP TERAPI TOPIKAL (1)

• PREPARAT TOPIKAL : VEHIKULUM DAN BAHAN AKTIF


• Beberapa faktor yang mempengaruhi penetrasi:
• Ketebalan dan integritas stratum korneum
• Hidrasi/oklusi
• Kuantitas aplikasi
• Ukuran partikel
• Usia
• Compliance
• Penetration enhancer ➜ alkohol, dimetylsulphoxide (DMSO)
PRINSIP TERAPI TOPIKAL (2)

• Vehikulum maupun bahan aktif dapat


menyebabkan toksisitas lokal: Iritasi, alergi,
atrofi, komedogenik, telangiektasi, pruritus,
rasa menyengat, nyeri
• Terapi topikal dapat menyebabkan toksisitas
sistemik: Tidak melalui first-pass metabolism di
liver
FARMAKOKINETIK TERAPI
TOPIKAL (1)

• Bahan topikal pada permukaan kulit bermigrasi sesuai gradien konsentrasi


• Aktivitas metabolik bersifat prodrug (ikatan kimiawi)
• Obat atau formulasinya dapat mempengaruhi barier kulit, menghasilkan
perubahan yang time-dependent pada fungsi barier
• Adanya variasi regional yang signifikan pada kemampuan barier kulit
• Profil fisikokimia dari formulasi mempengaruhi kinetik release dan absorpsi,
onset, durasi, dan respons biologis
FARMAKOKINETIK TERAPI
TOPIKAL (2)

• Terapi topikal di permukaan kulit → evaporasi


dan perubahan struktural / komposisi dari
formulasi → menentukan bioavailabilitas obat
• Stratum korneum sebagai lapisan terluar →
reservoir function dan barrier function →
peranan penting untuk menentukan difusi →
setelah absorpsi → berikatan atau berdifusi
dengan jaringan viabel atau mengalami resorpsi
oleh pembuluh darah kulit
FORMULASI/PREPARAT TOPIKAL

• Vehikulum + bahan aktif + bahan lain


• Vehikulum: bagian inaktif dari preparat topikal sebagai bahan penghantar obat sehingga
dapat kontak dengan kulit
• Pengembangan obat modern:
• memaksimalkan bioavailabilitas obat dengan cara mengoptimalkan formulasi vehikulum
• Vehikulum optimal:
• Stabil secara kimiawi dan fisik, serta tidak menginaktifkan obat
• Noniritasi, nonalergenik, dapat diterima secara kosmetik, dan penggunaan mudah
• Harus dapat melepaskan obat sampai di sasaran farmakologis di kulit
VEHIKULUM

• Bahan dasar obat topikal yang berfungsi sebagai pembawa


zat aktif dan mampu meningkatkan penetrasi obat pada
kulit
• Syarat : stabil (fisik dan kimiawi), non iritatif, non alergenik,
bakteriostatik, baik secara kosmetik dan mudah digunakan
• Terdiri dari 3 bahan ➜ serbuk, lemak dan cairan
PEMILIHAN VEHIKULUM

• Stadium penyakit ➜ akut vs kronik


• Tipe kulit ➜ hidrofilik untuk kulit normal berminyak, lipofilik untuk kulit kering
• Lokasi lesi ➜ lokasi anatomis, ketebalan stratum korneum, banyak tidaknya
folikel rambut
• Faktor lingkungan
• Pertimbangan kosmetik ➜ mudah di aplikasikan, bau, penampilan fisik
TERAPI TOPIKAL YANG RASIONAL

• Area tubuh yang akan diterapi


• Keadaan kulit yang sakit
• Konsentrasi obat
• Tipe vehikulum
• Cara pemberian (metode aplikasi)
• Durasi : efikasi maksimal, efek samping minimal
URUTAN KEMAMPUAN PENETRASI OBAT
TOPIKAL PADA BERBAGAI REGIO KULIT
1. Membran mukosa
2. Skrotum
3. Kelopak mata
4. Wajah
5. Dada dan punggung
6. Brachii dan femoralis
7. Antebrachii dan tungkai bawah
8. Dorsum manus dan dorsum pedis
9. Palmar dan plantar pedis
10. Kuku
VEHIKULUM

1. Serbuk
2. Lemak
3. Cairan
1. SERBUK BEDAK

INDIKASI :
• Mengurangi kelembaban
• Mengurangi friksi pada pelipatan

EFEK SAMPING :
• Caking
• Crasting
• Iritasi
• Granuloma
• Inhalasi
BEDAK

An organik
1. Seng oksida ( ZnO )
Sifat :  Menutupi
 Melindungi
 Mendinginkan / astringen

2. Talk / Magnisium silikat


Sifat :  Lebih melekat di kulit
 Mendinginkan

3. Kalamin : Seng oksida + Feri oksida


Sifat :  Penyejuk
 Anti gatal INDIKASI??
KONTRAINDIKASI??
BEDAK

Organik
➜ Pati / Starc
British Pharmacope : - Pati jagung
- Pati beras
- Gandung
- Kentang

KERUGIAN : dapat menjadi bahan kultur


untuk bakteri dan jamur
2. LEMAK

Bahan dasar lemak berbentuk :


• cair  minyak
Untuk lesi
• semi padat  lemak
kronis yang
• padat  lilin butuh
penetrasi >>
2. LEMAK
➤ LEMAK MURNI (Animal derived)
• Lard ( lemak babi )
 Sudah banyak diganti dengan paraffin lunak karena sifat oklusif
• Anhidrous lanolin / Wool fat / Adaps lanae Minyak dari bulu domba
yang dimurnikan
• Lanolin : lemak wool yang ditambah air 30%
• Cera Alba / Flave
- Lilin lebah berwarna putih
- Dipakai sebagai emulgator
 Spermaceti (lemak ikan paus)
2. LEMAK
➤ LEMAK MINERAL
Paraffin liquidum
Diperoleh dari distilasi minyak mentah
Fungsi : - Membersihkan krusta dan debris
- Melunakkan konsistensi
 Vaseline album
- Titik cair 10 – 50°C, putih
- Tidak berbau, transparan, lunak
- Dipakai sebagai bahan dasar salep
 Vaseline flavum
~ Vaselin album hanya berwarna kuning
 Ceta macrogol
Bahan emulgator non ionic
2. LEMAK

➤ MINYAK
• Almond oil
• Olibe oil / minyak zaitun
• Arachis oil / minyak kacang tanah
• Sesami oil / minyak wijen
• Cotton seed oil / minyak biji kapas
• Castrol oil / minyak jarak
3. CAIRAN
 Jika bahan pelarutnya aqua solusio
 Bahan pelarut alkohol, eter, kloroform  tinktur
 Yang sering dipakai :
 Gliserin  higroskopis
 Alkohol ( etanol 95% dalam air )
 Propilen glikol
 Cairan jernih kental tak berwarna
 Berfungsi sebagai pelarut
 Dapat berfungsi sebagai pengawet
 Konsistensi tinggi ( >2% )  Iritatif
3. CAIRAN
 Eter : cairan yang mudah menguap
 Kloroform :
 Mudah menguap
 Bersifat sebagai pelarut eter
 Toksik

 INDIKASI :
 Dermatosis eksudatif
 Infeksi kulit dengan eritem menyolok
 Ulkus yang kotor
BEDAK

Pasta berlemak Bedak kocok / Gel

LEMAK Krim CAIRAN


BEDAK KOCOK

• Campuran bedak dan gliserin


• Agar dapat dikocok harus mengandung aqua
• Indikasi : dermatitis yang superfisial dan kering
• Kontra indikasi : dermatitis yang eksudatif
PASTA BERLEMAK
• Campuran lemak dan bedak
•  dempul
• Bersifat protektif, mengeringkan
• Indikasi : dermatitis sub akut
• Kontraindikasi : dermatosis eksudatif, area berambut, lipatanm genital

LINIMEN
• Campuran antara lemak, bedak dan minyak
•  jarang digunakan karena tidak stabil
• Indikasi : dermatitis subakut
• Kontraindikasi : dermatosis madidans
KRIM
• Campuran antara lemak dan cairan
• Agar dapat bercampur diperlukan emulgator
• Ada 2 macam krim :
• Jenis krim dingin ( W/O ) :
(lemak sebagai fase kontinyu)
Kadar air < 25%
• Vanishing cream ( O/W ) :
(air sebagai fase kontinyu)
Kadar air > 30%

• Indikasi :
• Kelainan kulit yang superfisial dan kering
• Dapat dipakai pada lipatan kulit dan daerah berambut
OINTMENT

Campuran dari lemak dan cairan


• Bahan dasar lemaknya > tinggi dari krim
• Penyerapan > baik dari krim
• Indikasi : lesi yang tebal
GEL

 Campuran antara bahan dasar cair dan molekul yang larut


 Sebagai solvent : air, aceton, alkohol atau prophiline glicol
 Bisa berbentuk emulsi cair atau gabungan minyak dan air
 Keuntungan : tidak berminyak dan berwarna
 Indikasi : kulit berminyak, kulit berambut, area wajah
 Kerugian : mudah kering, rasa tersengat
BAHAN AKTIF
BAHAN AKTIF KORTIKOSTEROID
• Obat dermatologi yang paling sering diresepkan
• Efek : anti inflamasi, anti proliferasi, vasokonstriksi,
imunosupresi
• Potensi kortikosteroid akan meningkat dengan penambahan
atom fluor pada salah satu gugus karbon
• Peningkatan potensi steroid ∽ peningkatan resiko efek
samping
• Di awali dengan potensi lemah ➤ potensi lebih poten dengan
durasi singkat
POTENSI KORTIKOSTEROID TOPIKAL

KELAS 1 (SUPERPOTENT):
Clobetasol propionate 0,05%
KELAS 7 (MILD) Halobetasol propionate 0,05%
Hydrocortisone
Dexamethasone
Methylprednisolone KELAS 2 (POTEN)
Halcinonide 0,1%
Desoximetasone 0,25%
POTENSI
KORTIKOSTEROID
KELAS 6 (MILD)
Desonide 0,05% KELAS 3 (UPPER MID-STRENGTH)
Fluocinolone acetonide 0,01%
Betamethasone valerate 0,1%
(ointment)
KELAS 5 (LOWER MID-STRENGTH)
Triamcinolone acetonide 0,1%
KELAS 4 (MID-STRENGTH)
(cream)
Fluticasone propionate 0,05% Desoximetasone 0,05%
Mometasone furoate 0,1% (cream)
Efek Samping
• Terjadi bila :
• Penggunaan yang lama dan berlebihan
• Penggunaan kelas kuat dan sangat kuat secara oklusif

• Makin tinggi potensi, makin cepat terjadi efek samping


• Gejala efek samping
• Hipotrofi / atrofi kulit
• Hipertrikosis, Hipopigmentasi, Dermatitis perioral
• Bila dermatofita steroid topikal  Tinea incognito
• Efek samping sistemik
Pencegahan Efek Samping

1. Jangan melebihi 30 mg sehari

2. Indikasi yang tepat

3. Dimulai dengan steroid potensi rendah

4. Perhatikan lokasi lesi


BAHAN AKTIF NON KORTIKOSTEROID

1. ANTIBIOTIKA

• Indikasi : infeksi superfisial dengan luas terbatas


• Impetigo, folikulitis, furunkel
• Jika infeksi luas ➔ ab sistemik
• Pilihan topikal :  Mupirosin
 Asam fusidat
 Basitrasin
 Sulfonamide (SSD)
 Eritromisin
 Klindamisin
2. ANTI AKNE
• TRETINOIN
• Konsentrasi 0,05 – 0,1%
• Efek : meningkatkan turn over sel basal sehingga stratum korneum tipis
dan longgar
• Efek samping : iritasi
• BENSOIL PEROKSIDA
• Konsentrasi 2,5 – 10%
• Efek : anti bakteri yang kuat
• Efek samping : iritasi
• RESORSINOL
• Konsentrasi 2 – 3%
• Efek : anti bakterial, keratolitik, ant seborhoe
• Efek samping : - reaksi alergi dan iritasi
- anak-anak  methemoglobinemia
2. ANTI AKNE
 ASAM SALISILAT
• Efek : desinfeksi, anti pruritik, anti mikotik, anti inflamasi
• 2%  keratoplastik
• 3 – 20%  keratolitik
• 30 – 60%  destruktif
• Efek samping : iritasi

 SULFUR
• Konsentrasi 4 - 20%
• Efek : anti seboroik, anti akne, anti skabies, anti jamur, anti bakteri
• Yang sering dipakai : losio Kummerfeldi
 RETINOIC ACID
• Derivat vitamin A
• Efek : komedolitik, keratolitik
• Konsentrasi : 0,05-1%, vehikulum krim
3. ANTI JAMUR

• Terapi pilihan untuk infeksi jamur superfisial dengan luas yang terbatas
• Harga murah, insidens interaksi obat rendah, efek samping dan komplikasi
sedikit
• Penggunaan sistemik bila lesi luas, mengenai rambut terminal atau kuku, atau
resisten terhadap pengobatan topikal.
• Toleransi baik, resistensi rendah
3. ANTI JAMUR

• Antifungi topikal :

• Imidazole → spektrum luas


• Allylamine
• Benzylamine
• Polyene
• Efek samping: d. k. iritan, d. k. alergik, reaksi urtikaria
4. ANTI PARASITIK

• Permetrin
• Krotamiton
• Malation
• G-benzene Hexachloride
5. ANTI PRURITUS

• Merupakan obat simptomatis ➔ mengurangi gejala


• Bahan aktif anti gatal :
 Kalamin : kombinasi zinc oksida dan ferri oksida
 Fenol : efek anastesi ➔ konsentrasi 0,5%-2%)
 Mentol : counter-irritant, menginduksi sensasi dingin
6. BLEACHING AGENT
• Hidroquinon
• Menghambat sintesa melanin
• Konsentrasi 3 – 5%
• Efek samping : iritasi, ookronosis

• Azelic acid
• Lebih lambat dari hidroquinon
• Bisa juga dipakai sebagai obat akne
• Konsentrasi 20%
7. LAIN-LAIN TABIR SURYA
Indikasi • UVB Filter
Mengurangi efek UV exposure yang
menyebabkan kerusakan jaringan • Paraaminobenzoic acid (PABA)
 sering alergi kontak
• PABA ester (Podimate)
• Cinnomate
• Salycylate

• UVA Filter
• Benzophenon
• Avobenzone
TABIR SURYA

TABIR SURYA KIMIAWI / ORGANIK


PABA, avobenzone, dioksibenzone, oksibenzone,
octocrylene, oktilmetoksisinamat, oktilsalasit,
metil antranilat, sulisobenson,

TABIR SURYA FISIK / INORGANIK


Titanium dioksida, seng oksida, red petrolatum,
magnesium silikat, kaolin
TABIR SURYA

SUN PROTECTING FACTOR (SPF)


• Perbandingan dosis minimal yang diperlukan untuk
menimbulkan eritem pada kulit yang diolesi tabir
surya dengan tidak
• Nilai 0-100 ➜ dianggap baik > 15

BROAD SPECTRUM
UVB DAN UVA
BAHAN TAMBAHAN

1. Emulsifier
Dispersing agent  supaya stabil dan homogen
Contoh : Sodium lauril sulfate
Glyceril monostearat

2. Additive
Contoh : Etilinediamine
Related ester

3. Lubrican
Berfungsi sebagai antifoaming
Contoh : Asam stearat
Stearil alkohol
4. Preservative
Contoh : Paraben
Formaldehid dll.

5. Fragance
Contoh : Balsam Peru
Musk ambrettwe

Anda mungkin juga menyukai