BASIC ENVIRONMENTAL
Pengelolaan Lingkungan, Mineral dan Batubara
BASIC ENVIRONMENTAL :
TUJUAN PELATIHAN
Setelah pelatihan ini peserta diharapkan mampu :
Mengetahui dampak dari aktifitas pertambanganterhadap
lingkungan
Memahami bagaimana pengelolaan lingkungan di
pertambangan
Mampu mengimplementasikan pengelolaan lingkungan
dengan baik
Melakukan pemantauan terhadap lingkungan secara kontinyu
Memahami konsekwensi jika tidak dipatuhinya peraturan
lingkungan
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGANTAR PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Mengapa Kita Perlu Mengelola Lingkungan Hidup…?
Kewajiban
Moral
Kepatuhan
pada Peraturan
Perundangan
Kewajiban
Sosial
Perusahaan
BASIC ENVIRONMENTAL :
DEFINISI
• Lingkungan
Kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan dan
makhluk hidup termasuk manusia dan perilakunya yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan
kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain (Sumber
UU No. 32 tahun 2009)
• Aspek Lingkungan
Bagian dari kegiatan perusahaan yang dapat berinteraksi
dengan lingkungan. Contoh : Limbah cair, emisi udara,
limbah B3, dll
BASIC ENVIRONMENTAL :
DEFINISI
• Dampak Lingkungan
Perubahan pada lingkungan baik yang menguntungkan maupun
merugikan secara keseluruhan atau sebagian akibat dari aktivitas
perusahaan. Contoh : Pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran
tanah, dll
• Pencemaran
Masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau
komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia
sampai kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan
lingkungan tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya
BASIC ENVIRONMENTAL :
DASAR HUKUM PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Peraturan Tentang Mengatur :
Undang-Undang no. 32 Perlindungan dan
Tahun 2009 Pengelolaan Lingkungan • Tugas dan Tanggung
Hidup Jawab
– Perusahaan
Kepmen 555K/26/[Link]/1995 Keselamatan Kerja – Karyawan
Pertambangan
– Institusi
Undang-undang No. 4 tahun Pertambangan Mineral dan
• Syarat-syarat
2009 Batu bara Pengelolaan Lingkungan
Hidup
Peraturan dan Persyaratan
lain yang terkait
• Mengatur sanksi hukum
jika terjadi pelanggaran
BASIC ENVIRONMENTAL :
RESIKO JIKA TIDAK DITAATINYA PERATURAN LINGKUNGAN
Sanksi - Sanksi :
1. Teguran tertulis dari pemerintah
2. Paksaan dari pemerintah (penghentian sementara
seluruh
produksi, penutupan saluran buangan air limbah/emisi
dll
3. Pembekuan lingkungan / Pencabutan izin lingkungan
4. Hukum Pidana dan hukum Perdata Lingkungan Hidup
(penjara
paling singkat 3 tahun dan denda min 3 Milyar)
5. Membayar ganti rugi kepada orang yang dirugikan
UU No 32 Tahun 2009
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
• BAB XII Pengawasan dan Sanksi Administratif
Berdasarkan Pasal 76, Menteri, gubernur, atau bupati/walikota dapat menerapkan sanksi
administratif kepada penanggung jawab usaha jika dalam pengawasan ditemukan
pelanggaran terhadap izin lingkungan. Sanksi administratif terdiri atas:
a. Teguran tertulis
b. Paksaan pemerintah
c. Pembekuan izin lingkungan
d. Pencabutan izin lingkungan
Berdasarkan Pasal 80, Paksaan pemerintah dapat berupa :
a. Penghentian sementara kegiatan produksi;
b. Pemindahan sarana produksi;
c. Penutupan saluran pembuangan air limbah atau emisi;
d. Pembongkaran;
e. Penyitaan terhadap barang atau alay yang berpotensi menimbulkan pelanggaran;
f. Penghentian sementara atau seluruh kegiatam;
g. Atau tindakan lain yang bertujuan untuk menghentikan pelanggaran dan tindakan
memulihkan fungsi lingkungan hidup.
BASIC ENVIRONMENTAL :
DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT AKTIVITAS TAMBANG
Pencemaran : Penggunaan SDA :
Air Asam Tambang Konsumsi energi
Air Limbah Settling Pond Konsumsi air
Debu Perubahan peruntukan
Asap
dan fungsi lahan
Kebisingan dan Getaran Konsumsi sumber
daya lainnya (kertas,
Limbah hidrokarbon bahan kimia dll)
Limbah domestik padat
dan cair
Hilangnya keindahan
alam
BASIC ENVIRONMENTAL :
DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT AKTIVITAS TAMBANG
KATEGORI KASUS LINGKUNGAN
• Penurunan pada kualitas lingkungan (degradasi
lingkungan)
• Perubahan fungsi lingkungan (hilangnya fungsi
hutan, rusaknya
terumbu karang, ratusan tumbuhan dan hewan
indonesia
terancam punah )
• Lingkungan tidak berfungsi lagi
Tidak sesuai / melebihi baku mutu lingkungan /
limbah
BASIC ENVIRONMENTAL :
DAMPAK LINGKUNGAN AKIBAT AKTIVITAS TAMBANG
Contoh dampak penurunan Contoh dampak lingkungan :
Kualitas air limbah / Debu dan kebisingan
pencemaran air
BASIC ENVIRONMENTAL :
AMDAL (ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN)
AMDAL : Kajian atas dampak besar dan penting untuk pengambilan
keputusan suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan pada
lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan
tentang penyelenggaraan usaha atau kegiatan
Analisis AMDAL meliputi berbagai macam faktor seperti Fisik, Kimia,
Sosial Ekonomi, Biologi dan sosial budaya yang dilakukan secara
menyeluruh
Regulasi terkait AMDAL :
Peraturan Pemerintah No. 27 tahun 1999 Mengenai Analisis AMDAL
PerMenLH No. 11 tahun 2006 mengenai Kegiatan Wajib AMDAL
Dan Lain-lain...
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
1. PENGELOLAAN
OPERASIONAL 2. PRINSIP PENGELOLAAN LIMBAH
Pengelolaan limbah
Air Asam Tambang
Pengelolaan Hidrokarbon
Reklamasi dan Revegetasi
Pemantauan Lingkungan Pemisahan Pengolahan Pembuangan
Cleaner Production
Pelaporan Insiden
Lingkungan
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
AIR ASAM TAMBANG
Leachate/rembesan/drainage yang telah dipengaruhi oleh
oksidasi alamiah mineral sulfida yang terkandung dalam batuan
yang terpapar (exposed) selama penambangan
Oxygen
Water
H20
Pyrite
Bacteria
Sulfuric
Acid
Images: USGS, DeAtley Design - modified
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
PENGELOLAAN AIR ASAM TAMBANG
PEMISAHAN MATERIAL PAF (POTENTIAL ACID FOARMING) DAN NAF (NON ACID
FOARMING)
• Melalui upaya segregasi dapat dipisahkan antara material PAF dan NAF
• Metode yang umum diterapkan dalam penimbunan overburden adalah encapsulation dan
layering atau (Menempatkan material PAF dan NAF untuk menghindari pembentukan AAT)
PEMBUATAN KOLAM PENGENDAP DIBANGUN UNTUK MEMASTIKAN
KUALITAS AIR YANG KELUAR DARI DAERAH PENAMBANGAN
PENAMBAHAN BAHAN KIMIA (KAOLIN/BATU KAPUR) UNTUK
MENETRALKAN AIR SEHINGGA MEMENUHI BAKU MUTU LINGKUNGAN
SEBELUM DI BUANG KE SUNGAI
Standar PH Air yang diijinkan adalah 6 - 9
Derajat Keasaman (pH)
pH atau derajat keasaman digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman atau basa yang
dimiliki oleh suatu zat, larutan, atau benda.
pH < 6 bersifat asam
pH 6 - 9 bersifat netral
pH > 9 bersifat basa
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air
Standar pH air adalah 6 – 9
Pengujian pH air dapat dilakukan dengan cara :
a) Pengujian menggunakan indikator universal (kertas lakmus)
b) pH meter
Gambar 1. skala pH
Uji pH menggunakan indikator universal
(kertas lakmus)
Terdapat 2 macam kertas lakmus, yaitu lakmus merah dan lakmus biru dimana masing-
masing keduanya memiliki sifat :
1. Lakmus merah dalam larutan asam akan berwarna merah dan dalam larutan basa akan
berwarna biru
2. Lakmus biru dalam larutan asam akan berwarna merah dan dalam larutan basa akan
berwarna biru
3. Dalam larutan netral keduanya tidak akan mengalami perubahan warna (tetap merah atau
biru)
Siapkan larutan yang akan diuji
Masukkan 1 kertas lakmus merah dan
1 kertas lakmus biru ke dalam larutan
yang akan diuji
Mengamati perubahan warna kertas
lakmus asam basa
Gambar 2. Universal indicator
Uji pH menggunakan pH meter
(berdasarkan SNI 06-6989.11.2004)
Lakukan kalibrasi alat pH-meter dengan
larutan penyangga
Keringkan elektroda dengan kertas tisu
selanjutnya bilas elektroda dengan air Gambar 3. Larutan penyangga
sulung
Bilas elektroda dengan contoh uji Display
skala
pH
Celupkan elektroda ke dalam contoh uji Elektroda
sampai pH meter menunjukkan
pembacaan yang tetap
Catat hasil pembacaan skala atau angka
pada tampilan dari pH meter Larutan uji
Gambar 4. pH meter
TSS dan TDS
Kualitas air mencakup keadaan fisik, kimia, dan biologi yang dapat mempengaruhi ketersediaan air
untuk kehidupan manusia, pertanian, industri, dan pemanfaatan lainnya. Parameter kualitas
umum air diantaranya TSS dan TDS.
•
TSS
Padatan tersuspensi total (Total •
TDS
Padatan terlarut total (Total
Suspended Soil atau TSS) adalah Dissolved Solid atau TDS) adalah
padatan yang menyebabkan terlarutnya zat padat, baik berupa
kekeruhan air, tidak terlarut dan ion, senyawa, atau koloid di dalam
air.
tidak dapat langsung mengendap,
terdiri dari partikel-partikel yang • TDS adalah bahan-bahan terlarut
(diameter < 10-6 mm) dan koloid
ukuran maupun beratnya lebih kecil (diameter 10-6 – 10-3 mm) yang
dari sedimen, bahan organik tidak tersaring pada kertas saring
tertentum dan sebagainya. berdiameter 0,45 µm.
• Bahan-bahan tersuspensi (diameter • Berdasarkan Keputusan Menteri
> 1 µm) yang tertahan pada Kesehatan No.
saringan millipore dengan diameter 416/MENKES/PER/IX/1990 syarat
pori 0,45 µm. maksimum kandungan TDS dalam
air minum adalah 1000 mg/L dan
• Berdasarkan KepMenLH No. 113 pada air bersih 1500 mg/L
Tahun 2003 standar residu
tersuspensi adalah 400 mg/L
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
PENCEMARAN UDARA
Sumber Penanganan
• Program Pemeliharaan
• Debu
• Penyiraman
• Bising
• Penanaman sabuk / barrier
• Getaran
• Uji emisi
• Asap (alat dan
kendaraan)
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
PENGELOLAAN LIMBAH DASAR HUKUM
•
B3 Limbah B3 adalah limbah yang
mengandung
– bahan berbahaya dan
atau beracun yang karena
konsentrasinya dan/atau
jumlahnya, baik secara
langsung maupun tidak
langsung dapat :
•merusak dan
•mencemarkan
lingkungan hidup dan
atau
•membahayakan
kesehatan manusia.
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Prosedur Pengelolaan Limbah B3
• Dipisahkan :
– Terhadap limbah non B3 dikumpulkan
– Berdasarkan sifatnya
• Disimpan pada fasilitas disimpan
khusus penyimpanan limbah
B3
• Diserahkan pada pengumpul dimusn
/ pengolah yang memiliki ijin ahkan?
TPS B3 harus:
• Dimusnahkan
• Dilaporkan kepada KLH •Memenuhi persyaratan teknis BAPEDAL
Note : Masa simpan limbah B3 diserahkan dimusnahkan / KLH
paling lama adalah 90 hari •Diberi label dan rambu yang sesuai
•Di areal yang bertanggul
•Ditempatkan di lokasi yang tepat (bebas
Pelaporan banjir dan jauh dari resiko kebakaran)
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Penumpukan dan Label Limbah B3
• Diberi label
• Diberi simbol sesuai dengan jenis
limbahnya (Permen LH No. 14 tahun
2013 tentang simbol dan label B3)
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Pemusnahan Limbah B3
• Insinerasi
• Efisiensi
pembakaran
99,999%
• Izin dari pihak
yang berwenang
Matriks Limbah B3
MASUKNYA LIMBAH B3 KE TPS KELUARNYA LIMBAH B3 KE TPS SISA
Jumlah Maksimal Sisa LB3
Jumlah
Tanggal Limbah B3 penyimpanan s/d Tanggal yang ada di
Jenis Limbah B3 Sumber Limbah B3 Tujuan Bukti Nomor
No Masuk Masuk tanggal: Keluar TPS
Masuk Limbah B3 Penyerahan Dokumen
Limbah B3 Limbah B3
(t=0 + 90 hr, 180
(Each) hr) (Each) (Each)
(A) (B) (C) (D) (E) (F) (G) (H) (I) (J) (K)
1
2
3
4
5
Matriks CATATAN KELUAR MASUK LIMBAH B3
TPSLB No. 3 (Limbah B3 padat & Filter Bekas)
Limbah B3 NO TANGGAL JENIS LIMBAH
Periode Januari - Maret 2018
SATUAN SUMBER IN OUT BLC
SISA TRIMESTER I 2017
1
2
3
4
5
6
JUMLAH
CATATAN KELUAR MASUK LIMBAH B3
TPSLB No. 3 (Majun Terkontaminasi)
Periode Januari - Maret 2018
NO TANGGAL JENIS LIMBAH SATUAN SUMBER IN OUT BLC
SISA TRIMESTER I 2017
1
2
3
4
5
6
JUMLAH
CATATAN KELUAR MASUK LIMBAH B3
TPSLB No. 3 (Hose Bekas)
Periode Januari - Maret 2018
NO TANGGAL JENIS LIMBAH SATUAN SUMBER IN OUT BLC
SISA TRIMESTER I 2017
1
2
3
4
5
6
JUMLAH
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Praktek seperti ini tidak bisa diterima di
PAMA dan rekanannya
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
SWAPANTAU LINGKUNGAN
• Kualitas limpasan air permukaan
tambang
• Kualitas air sungai badan penerima
• Kualitas udara
• Kestabilan lereng dan tingkat erosi
• Kualitas tanah
• Flora & Fauna
• Keberhasilan Reklamasi Lahan Bekas
Tambang
• Persepsi Masyarakat
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Kualitas udara
• Emisi (exhaust dan stasioner) Parameter Emisi Gas
Baku Mutu Lingkungan
BUang
– Maintenance CO 4.0 g/km
– Uji emisi HC 1.1 g/km
• Udara ambien lingkungan Nox 7.0 g/km
(debu, bising, getaran, gas PM 0.15 g/km
– Green belt Opasitas 50% (2010)
– Pengukuran kualitas udara Kep. Men LH No. 141 tahun 2003 gunakan
Kep. Men LH tahun 2005 untuk Kendaraan
tipe baru (2005 ke atas) dengan standar
EURO II
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Pengelolaan Pencemaran
Udara
Emisi asap
• Sumber bergerak : Knalpot A2B Uji Emisi
dan LV
• Sumber tidak bergerak : Power
Genset, Pompa, Incinerator
• Program Pemeliharaan mesin
• Uji emisi
• Praktek operasi yang baik
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
Uji Emisi Cerobong
Pengelolaan Pencemaran
Udara
Pencemaran Udara Ambien
• Sumber : Kebisingan, Debu,
Getaran dan Gas di udara akibat
kegiatan pertambangan
• Pembuatan green belt
• Pengaturan kerja
• Pemantauan kualitas udara
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
PENGENDALIAN AIR LIMBAH WORKSHOP
OIL / FUEL TRAP PEMANTAUAN DI BADAN
WAREHOUSE STORAGE - WORKSHOP AIR
•Tersedia dengan ukuran memadai
•Di area bertanggung 110% volume yang •Dilakukan secara teratur
disimpan •Pemisahan minyak efektif
•Air yang dibuang harus
•Saluran air limbah dipisah dari saluran air •Diperiksa dan dikuras secara teratur memenuhi Baku Mutu
hujan Lingkungan
•Sejauh mungkin tertutup
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK
• Penggunaan septic tank
• Penggunaan Sewage Treatment Plant
• Pemisahan air limbah dengan air hujan
• Penggunaan grease trap dan food trap
untuk air limbah dapur atau kantin
PEMANTAUAN AIR LIMBAH
• Dilakukan oleh orang atau institusi yang kompeten
• Pada titik pentaaatan
• Laboratorium yang terakreditasi atau peralatan yang dikalibrasi
• Frekwensi
– Swapantau (harian dan mingguan)
– Kepatuhan 3 bulanan
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
REKLAMASI
Reklamasi adalah kegiatan yang bertujuan
memperbaiki atau menata kegunaan lahan
TAHAPAN REKLAMASI
yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha
pertambangan agar dapat berfungsi dan • Pengisian bekas tambang
berdaya guna sesuai peruntukannya • Penimbunan di luar tambang
• Bekas Jalan Tambang
Penutupan tambang adalah kegiatan yang • Kolam Sedimentasi
bertujuan memperbaiki atau menata kegunaan
lahan yang terganggu sebagai akibat • Fasilitas penunjang lainnya
dihentikannya kegiatan pernambangan • Revegetasi
dan/atau pengolahan dan pemurnian untuk • Pengisian bekas tambang
memenuhi kriteria sesuai dengan dokumen
rencana penutupan tambang • Pengisian di luar tambang
• Reklamasi pasca tambang melalui
perencanaan penutupan tambang
BASIC ENVIRONMENTAL :
PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN
PASCA TAMBANG
Kegiatan pemantauan pascatambang minimal meliputi:
1. Pemantauan kestabilan fisik;
2. Pemantauan Air Permukaan, air tanah dan air laut;
3. Pemantauan flora dan fauna;
4. Pemantauan Sosial dan Ekonomi.
BASIC ENVIRONMENTAL :
INSIDEN LINGKUNGAN
• Tumpahnya limbah B3 ke tanah atau air
permukaan (Lebih dari 50 liter)
• Rusaknya tanggul IPAL sehingga air asam
mencemari sungai
• Keluhan masyarakat akibat kegiatan
penambangan (bising, debu, getaran, rusaknya
tanaman dll)
• Penggalian yang tidak direncanakan
• dll
BASIC ENVIRONMENTAL :
PELAPORAN KECELAKAAN LINGKUNGAN
• Apa yang harus dilaporkan
semua insiden lingkungan
• Kapan Laporan Dilakukan
sesegera mungkin
• Siapa yang harus melaporkan
orang yang mengetahui
kepada atasan langsungnya
BASIC ENVIRONMENTAL :
CLEANER PRODUCTION
• Penerapan secara kontinyu strategi pengelolaan lingkungan
yang bersifat preventif dan terintegrasi pada proses dan produk
sehingga mengurangi resiko terhadap manusia dan lingkungan.
Proses, meningkatkan efisiensi dan efektifitas
•Penggunaan bahan baku, energi dan sumber daya alam
lainnya serta
•Mengganti atau mengurangi bahan baku berbahaya dan
beracun.
•Produk, mengurangi dampak di keseluruhan daur hidup
produk
Produk, mengurangi dampak di keseluruhan daur hidup
produk
BASIC ENVIRONMENTAL :
CLEANER PRODUCTION
6 R di PAMA
Refine Reuse Recycle Recovery Retrieve
Reduce
Energy
Merubah material Mengurangi volume Menggunakan kembali Menggunakan Mengambil material Memanfaatkan limbah
atau merancang alat maupun resiko limbah limbah pada proses kembali limbah yang bermanfaat sebagai pengganti
untuk memperbesr dengan yang sama melaui proses dari limbah bahan bakar
reuse, recycle dan mengembangkan tertentu
recovery teknologi produksi
BASIC ENVIRONMENTAL :
CLEANER PRODUCTION
Refine Recycle
Isi alat pemadam api ringan halon diganti dengan Daur ulang oli hidrolik (Flushing Oil Hydraulic)
AF 11 atau AF 11E yang lebih ramah lingkungan Serbuk gergaji bekas dipakai untuk bioremediasi
Bahan bakar kendaraan bermotor bensin diganti Oil bekas untuk pelumas baut, chain saw
dengan bahan bakar gas yang lebih kecil tingkat Pemakaian air ex WWT dan Flash water untuk
polusinya siram toilet/tanaman
Recovery
Reduce
Penggunaan limbah padat ex. Log menjadi block
Mencuci mobil dengan air seember dan tanpa board
disemprot/air bertekanan Battery bekas : airnya digunakan kembali,
Mandi menggunakan shower (tidak pakai gayung) plastiknya untuk pellet, timahnya dilebur kembali
Menggasnti kran dengan automatic stop valve Oli bekas dijual ke penampung resmi
Reuse Retrive Energy
Penggunaan kertas bolak-balik
Penggunaan oli bekas untuk pencampur ANFO
Penggunaan air bekas cuci unit
BASIC ENVIRONMENTAL :
KESIMPULAN
1. Setiap perusahaan wajib untuk
melakukan pengelolaan terhadap
lingkungan
2. Limbah yang dihasilkan oleh aktivitas
pertambangan harus dikelola dengan
benar dan harus dilakukan pemantauan
secara rutin
3. Semua insiden lingkungan sekecil
apapun harus dilaporkan
TERIMA KASIH