RETINOPATHY OF
PREMATURITY
DISUSUN OLEH: PRIESCA PRICILIA NATHASYA / 406181050
PEMBIMBING: DR. IRASTRI ANGGRAINI SP, M
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA
PERIODE 5 Agustus – 8 September 2019
RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
PENDAHULUAN
• Retinopati prematuritas (ROP) adalah suatu penyakit yang secara
primer hanya muncul pada bayi yang lahir prematur atau dengan berat
badan lahir rendah.
• Disebabkan oleh pertumbuhan pembuluh darah yang abnormal pada
retina, yaitu lapisan jaringan saraf yang menyebabkan sulit untuk
melihat. Kelainan ini dapat menyebabkan ablasio retina dan mengarah
pada kebutaan.
• Sebelumnya disebut fibroplasias retrolental
ANATOMI RETINA
ANATOMI RETINA
• Retina manusia : suatu struktur
yang sangat terorganisasi
kemampuan untuk memulai
pengolahan informasi penglihatan
sebelum informasi tersebut
ditransmisikan melalui nervus
optikus ke korteks visual.
• Struktur yang berlapis – lapis
memungkinkan lokalisasi fungsi
atau gangguan fungsional pada
suatu lapisan atau sekelompok
sel.
ANATOMI RETINA LAPISAN RETINA
• Membran limitans intern
• Lapisan serat saraf yang mengandung
akson – akson sel ganglion yang
berjalan menuju nervus optikus
• Lapisan sel ganglion
• Lapisan pleksiform dalam yang
mengandung sambungan sel ganglion
dengan sel amakrin dan sel bipolar
• Lapisan inti dalam badan – badan sel
bipolar, amakrin dan horizontal
• Lapisan pleksiform luar yang
mengandung sambungan sel bipolar
dan sel horizontal dengan fotoreseptor
• Lapisan inti luar sel fotoreseptor
• Membrane limitans eksterna
• Lapisan fotoreseptor segmen dalam dan
luar batang dan kerucut
• Epitel pigmen retina
PEMBULUH DARAH RETINA
• Retina menerima darah dari 2 sumber :
• Koriokapilaris yang berada tepat di luar
membran Bruch yang mendarahi sepertiga
luar retina, termasuk lapisan pleksiform luar
dan lapisan inti luar, fotoreseptor dan lapisan
epitel pigmen retina
• Cabang – cabang dari arteri centralis retina
yang mendarahi dua pertiga dalam retina.
• Fovea seluruhnya diperdarahi : koriokapilaris dan
rentan terhadap kerusakan yang tak dapat
diperbaiki bila retina mengalami ablasi.
• Pembuluh darah retina mempunyai lapisan
endotel yang tidak berlubang, yang membentuk
sawar darah – retina.
A centralis retinae • Lapisan endotel pembuluh koroid berlubang –
lubang.
• Sawar darah – retina sebelah luar terletak
setinggi lapisan epitel pigmen retina.
FISIOLOGI
• Sel – sel batang dan kerucut di lapisan fotoreseptor mengubah
rangsangan cahaya impuls saraf yang dihantarkan oleh jaras – jaras
penglihatan ke korteks penglihatan oksipital.
• Pada masa embriologi, vaskularisasi retina dimulai pada 16 minggu
setelah gestasi. Proses vaskularisasi retina berlangsung secara
sentrifugal dari nervus opticus, mengikuti gelombang mesenkimal sel
spindle dan mencapai ora serata nasalis pada usia gestasi 32 minggu
dan ora serata temporalis pada usia gestasi 40 – 42 minggu atau saat
aterm.
EMBRIOLOGI
32 minggu
• Vaskularisasi • Mencapai ora
retina dimulai serata
• Berlangsung
temporalis
secara
sentrifugal dari
nervus opticus
• Mencapai ora 40 – 42
16 minggu serata nasalis minggu
EMBRIOLOGI
RETINOPATHY OF PREMATURITY
Definisi
• Penyakit yang disebabkan oleh vaskularisasi
retina imatur pada bayi yang lahir prematur
atau dengan berat lahir rendah.
• Dapat ringan atau tanpa disertai defek
visual, atau dapat menjadi progresif dengan
adanya neovaskularisasi dan berlanjut pada
lepasnya retina (ablasio) dan kebutaan.
Etiologi
• Terganggunya proses pematangan
pembuluh darah yang disebabkan oleh
kelahiran bayi yang prematur (dibawah 32
minggu).
Faktor Faktor
Resiko Resiko
Lahir pada usia Penyakit
kurang dari 32 jantung
minggu masa bawaan yaitu
duktus
gestasi, terutama arteriosus
kurang dari 30 paten
minggu.
Berat badan lahir Transfusi
rendah (< 1500 gr), darah
terutama kurang dari
1250 gram
Riwayat apneu dan Perdarahan
mendapatkan terapi intraventrikel
oksigen
Bradikardi
Asidosis
Respiratory
Septikemia disease
PATOFISIOLOGI
Lahir prematur : pembuluh darah belum sampai tepi retina
Pertumbuhan darah normal terhenti bagian tepi tidak ditumbuhi
pembuluh darah
Tidak mendapat oksigen dan nutrisi yang cukup Tepi retina
mengirimkan sinyal ke retina yang lain untuk mencukupi kebutuhan
oksigen dan nutrisi
Neovaskularisasi : sangat lemah dan mudah pecah, menyebabkan
jaringan parut pada retina
Menyebabkan tarikan pada retina ablasio retina
MANIFESTASI KLINIS
• Dapat terjadi bilateral, namun sering asimetrik
• Jarang menimbulkan gejala yang mudah dikenali
• Tanda awal : keterlambatan pergerakan bola mata
• Perlu skrining pada bayi yang memiliki faktor resiko
• Skrining :
• Lahir usia gestasi 23 – 24 minggu pemeriksaan pertama : 4 mgg setelah
kelahiran
• Lahir usia gestasi 25 – 28 minggu pemeriksaan eprtama : minggu ke 4 –
5 setelah kelahiran
DIAGNOSIS
ZONA
Zona
• Pusat : nervus opticus
• Memanjang 2x dari jarak saraf optic ke macula
(bentuk lingkaran)
1 • ROP disini dianggap kritis dan harus dimonitor ketat
• Tanda dilatasi PD
Zona • Area melingkar, mengelilingi zona 1 dengan nasal ora
serata sebagai batas nasal
2 • Berkembang cepat, didahului dengan warning sign
Zona • Bentuk : bulan sabit yang tidak dicakup zona 2 pada
bagian temporal
3 • Jarang progresif, vaskularisasi lambat
WARNING SIGN
• Tampak vaskularisasi yang meningkat pada ridge (percabangan
vaskular meningkat), biasanya merupakan tanda bahwa penyakit ini
mulai agresif.
• Dilatasi vaskular yang meningkat
• Tampak adanya “hot dog” pada ridge yang merupakan penebalan
vaskular pada ridge terlihat di zona posterior 2 (batas zona 1) dan
merupakan indikator prognosis yang buruk.
STADIUM ROP
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Pemeriksaan retinal dengan menggunakan
oftalmoskopi binocular indirek
• Dilatasi pupil dilakukan dengan Cyclomydril
(cyclopentolate 0,2% dan phenylephrine 1%).
• Instrument lain yang digunakan yaitu:
• Speculum Sauer menjaga mata tetap
terbuka
• Depressor skeral Flynn merotasi dan
mendepresi mata
• Lensa 28 dioptri mengidentifikasi zona
dengan lebih akurat
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan
Identifikasi pada kutub
Pemeriksaan
rubeosis retina posterior
eksternal
(bila ada) identifikasi
penyakit plus
Pembuluh Jika pembuluh
Mata dirotasi nasal tidak nasal telah
ada atau tidak terletak di mencapai ora
penyakit zona nasal ora serata
1 serata masih berada di zona
di zona 2 3
TATALAKSANA TERAPI MEDIS
Skrining oftalmologis terhadap bayi
yang punya faktor resiko
Mempertahankan level IGF - 1
Mempertahankan level PUFAs
TATALAKSANA TERAPI BEDAH
Terapi bedah
Krioterapi Terapi bedah laser
ablative
• Bila ada tanda • Terapi utama • Lebih disukai
kegawatan • Butuh ventilator karena lebih
• Untuk • Komplikasi efektif pada zona
menghancurkan perdarahan 1, rx inflamasi
area retina intraokuler, lebih ringan
avaskular hematom
• Dilakukan gestasi konjungtiva,
37 - 40 minggu laserasi
• ROP terus konjungtiva,
memburuk bradikardi
lebih dari 1
Setelah intervensi bedah dilakukan
tindakan
pemeriksaan setiap 1 – 2 minggu untuk
menentukan apakah perlu terapi tambahan
PROGNOSIS
• Prematuritas stadium 1 dan 2 memiliki prognosis yang lebih baik
karena dapat mengalami regresi spontan
• Stadium 3 sampai 5 yang memerlukan penanganan lebih lanjut
umumnya memiliki prognosis yang lebih buruk dibandingkan stadium
awal.