HAMSTRING
STRAIN
INJURIES
HAMSTRING STRAIN INJURIES
HIDAYANTI BR SIREGAR
G1A217103
Pembimbing : Dr. dr. Humaryanto Sp. OT, M. Kes
01 BAB 1 PENDAHULUAN
02 BAB II TINJAUAN PUSTAKA
- Anatomi dan Fungsi Otot Hamstring
- Hamstring Strain
03 BAB III KESIMPULAN
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
• Hamstring strain merupakan cedera yang paling umum
terjadi dalam olahraga
• Tingkat kejadian yang tinggi, penyembuhan lambat, dan
gejala persisten.
• Cedera hamstring strain dapat berulang
• Tingkat kekambuhan cedera hamstring 2 kali lipat lebih
tinggi dibanding cedera lain di sepakbola Inggris.
• Di sepak bola Australia, 34% pemain mengalami cedera
hamstring kembali
• Sepakbola australia memiliki resiko paling tinggi (13%)
kekambuhan selama 1 minggu awal kembali bermain
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hamstring part
of adductor m
agnus Long head of
biceps femoris
Semitendinosus
Short head of
biceps femoris
Semimembranosus
Functions
• Hip extension
• Knee flexion
• Internal rotation of the hip when the knee is flexed
ANATOMI OTOT HAMSTRING
• Long head of biceps femoris and semitindonsus and
semimembranosus cross both hip and knee joints and
Sciatic nerve are innervated by tibial part of the sciatic nerve.
• Short head of BF cross only knee joint and is innervated
by the common fibular part of the sciatic nerve
Tibial nerve Common
fibular nerve
Biomechanics of the Hamstring
The biomechanical role of the hamstrings include:
• Knee Flexion (heel towardsgluts)
• Hip Extension (backwards movement of leg)
• Deceleration of the knee ( quadriceps antagonist)
HAMSTRING STRAIN INJURIES
Definisi
Strain merupakan cedera pada otot akibat peregangan atau penggunaan otot
secara berlebihan
Faktor Predisposisi
1. Cedera sebelumnya dengan rehabilitasi yang tidak memadai
2. Sifat otot-otot hamstring
3. Kekuatan dan ketidakseimbangan otot
4. Umur
5. Fleksibilitas dan stabilitas lumbopelvis
6. Pemanasan dan peregangan
7. Kelelahan
peregangan atau kontraksi
01 Otot hamstring berfungsi 02 otot yang melebihi batas nor
mal (abnormal stress)
diatas 2 sendi
over stretch melampaui kapasi
bagian akhir dari ayunan lang tasnya atau pembebanan yang
kah kaki tiba tiba
hamstring bekerja eksentris
Overload otot
untuk mengekstensi lutut
adalah penyebab utama ket-
egangan otot hamstring
hamstring bekerja secara konse
ntris untuk memanjangkan pang otot tertarik pada arah yang
gul dna otot salah, atau ketika terjadi kontr
aksi otot belum siap
Hamstring melakukan gerakan
fleksi dan ekstensi pada knee
dan hip secara bersamaan.
Hamstring harus merubah
dari fungsi untuk eksentrik
pada saat persiapan ekstensi
knee ke gerakan konsentrik
untuk melakukan ekstensi hip
.
Klasifikasi
Grading Severity
Grade 1 cedera ringan dengan lesi otot minimal (kurang dari 5%
disrupsi serat otot). Terdapat nyeri asosiasi namun
hanya sedikit atau tanpa hilangnya kekuatan otot.
Grade 2 cedera sedang dengan robek otot parsial yang lebih
luas namun tanpa disrupsi komplit dari unit myotendinou
. Terdapat nyeri dengan hilangnya
kekuatan fleksi lutut
Grade 3 cedera berat yang meliputi perobekan komplit dari unit
otot-tendon (myotendinous). Cedera ini disertai nyeri he
bat dan hilangnya kekuatan fleksi lutut.
Type:
Tipe I
• Disebabkan oleh beban berat pada paha belakang lari kecepatan tinggi, menendang,
melompat)
• Biasanya melibatkan Bisep femoris caput longus (lebih umum Proximal MTJ)
• Menyebabkan penurunan fungsi akut tetapi biasanya membutuhkan waktu rehabilitasi
yang lebih singkat daripada type II
tipe II
• Selama gerakan yang mengarah ke pemanjangan paha belakang secara ekstensif sep
erti menendang tinggi,
• Biasanya terletak dekat dengan tuberositas iskia dan melibatkan tendon bebas proksi
mal SM.
• periode rehabilitasi akan lebih lama.
• Lokasi cedera dapat ditentukan pada palpasi (titik nyeri maksimal) dan oleh MRI
Gejala Klinis
• mengeluh nyeri tiba-tiba yang tajam dibelakang paha
• Pasien mengeluh kencang, kelemahan, dan berbagai gangguan
gerak
• tidak dapat meneruskan aktivitas, dan terkadang tidak mampu
menahan beban pada tungkai yang terkena cedera
• Pembengkakan dan ekimosis
• pasien mengeluk gejala mati rasa, kesemutan, dan kelemahan e
kstremitas distal
• hematoma luas atau jaringan parut terbentuk disekita nervus
sciatic
anamnesis
• Bisakah mereka mengingat kapan / mengapa cedera terjadi?
• Ya - Strain, trauma fasia / saraf
• Tidak - Berlebihan, nyeri yang dirujuk
• Lokasi nyeri
• Adanya gejala neurologis sejak cedera - untuk menilai tingkat keparahan
• Kemampuan berjalan tanpa rasa sakit dalam 24 jam setelah cedera
• Ya - prognosis yang lebih baik
• Tidak - waktu rehabilitasi yang lebih lama (> 3 minggu)
• Faktor yang memberatkan
• Hubungan dengan olahraga - Membantu dalam diagnosis banding:
• Tiba-tiba - Mekanis
• memberat dengan aktivitas - peradangan
• dimulai dengan rasa sakit yang minimal kemudian meningkat dengan aktivitas- pikirkan
penyebab vaskular atau neurologis
• Apakah ini cedera berulang? Apakah mereka punya masalah dengan paha belakang di
masa lalu?
Pemeriksaan fisik
• Periksa apakah memar, pemakaian otot berlebihan atau pembengkakan
Berdiri, berjalan, berbaring tengkurap
• Palpasi
Otot hamstring, tuberositas iskia, otot glutealis
• Gerakan aktif:
Lumbar Movement
Hip extension
Knee flekxion
Ekstensi lutut aktif dan fleksi panggul
Pinggul tertekuk hingga 90 derajat dengan lutut awalnya tertekuk 90 ju
ga dan kemudian lutut perlahan-lahan diperpanjang sampai rasa sakit
dirasakan dan kemudian ke ujung jangkauan.
Gerakan pasif
• Peregangan otot hamstring: kaki diangkat ke titik di mana rasa sakit dirasakan, akhir
ROM.
• Gerakan Menahan
Lutut fleksi
Hip extension
Inspeksi
gerakan aktif dan pasif dari otot hams-tring harus diuji
dan dibandingkan dengan sisi kontralateral.
gerak lutut dapatdiukur dengan mengangkat panggul
pada ketinggian 90 derajat pada posisi supinasi atau
duduk.
Defisit gerak pada lutut atau panggul merupakan hal
yang umum terjadi dan titik dimana nyeri membatasi
gerak harus dicatat
Pemeriksaan • penilaian abnormalitas cara
berjalan.
Fisik • Posterior paha terdapat
defek dan deformitas yang
terlihat, asimetris, bengkak,
dan ekimosis
• riwayat onset nyeri paha pos
terior yang tiba-tiba
Pemeriksaan Fisik
Knee Flexion
palpasi Hip Flexibilty Slump Test
Strength
posisi pasien dalam keadaan
pronasi dan lutut diekstensi
Identifikasi origo hamstring
pada tuberositas ischiadicum
Palpasi mulai kira-kira 5 cm
kranial ke arah origo
hamstring dan berlanjut pada
insersi otot masing-masing pa Straight Leg Raise
da kaki bagian bawah. Test (SLR)
Titik di mana merasa paling
nyeri pada saat di palpasi dita
ndai dan jarak antara titik ini
dengan tuberositas iischia -
dicum yang teraba diukur.
MRI: dapat menunjukkan edema di daerah hamstrin
g di jaringan lunak. Ini tidak invasif dan menyediaka
n gambar resolusi tinggi.
Ini dapat dengan mudah mengidentifikasi jenis jaring
an terlibat dan lokasi cedera yang membantu mempr
ediksi prognosis.
Ultrasound: area hypoechoic
CT
Lokasi cedera dapat ditentukan pada palpasi (titik ny
eri maksimal)
Phases of Injury and Treatment
Phases ofInjury Signs/treatment
Phase 1(acute): • PRICERtreatment isimportant
1- 7days Goal: Minimise swelling, pain and control haemorrhaging.
• Useof NSAIDsfor short period after injury.
• Light movement techniquesprevent adhesions.
Phase 2(subacute): 3days •Inflammatory symptoms begin to resolve.
–3weeks •Basicexercise techniquespromote healing and prevent muscleatrophy.C
oncentricexercisesintroduced.
Phase 3(remodelling): • Lossof flexibility due to scartissueformation and pain.
1–6 weeks • Stretching performed to maintain flexibility.
Phase 4(functional): 2wks Goal: Decrease the risk of re-injury during sport.
–6months • Sport specific strength and flexibility protocols initiated.
Phase 5 (return tocomp): 3wks – Goal: Maintain strength and flexibility of muscleto avoid recurring injury.
6mths
Ada berbagai teknik yang digunakan untuk meningkatkan pemulihan dan mencegah
cedera lebih lanjut. Teknik peregangan diuraikan di bawah ini:
DYNAMIC
STATICSTRETCHING STATICSTRETCHING STRETCHING
CONTRACT –RELAX
Internal rotation STRETCHING Ayunan kaki ke
Eksternal rotation depan dan belakang
dengan bertahap
bertambah tinggi
KESIMPULAN
• Hamstring strain adalah cedera yang melibatkan
peregangan atau robeknya otot hamstring.
• Pada umumnya terjadi pada atlet olahraga berkece
patan tinggi
• Hamstring strain ditatalaksana dengan tatalaksana
awal yaitu memakai prinsip PRICE (Protection, Rest,
Ice, Compression, dan Elevation), dan juga tatalaksa
na medikamentosa dengan pemberian analgetik dan
NSAID.
• Rehabilitasi sangat dianjurkan pada atlet yang
mengalami hamstring strain.
• Tidak ada anjuran untuk dilakukan tindakan prose
dural dan operasi dalam menangani hamstring strain.
Thank you