Iqbal Anugrah F.
, dr
Odilia Dea Novena, dr
Ima Endah N,dr
Sumber :
Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Dasar 2016
Buku Panduan Kursus Bantuan Hidup Lanjut 2016
HENTI JANTUNG
Henti jantung :
Berhentinya sirkulasi peredaran darah karena
kegagalan jantung untuk berkontraksi secara
efektif.
Henti napas:
Berhentinya pernapasan spontan karena
gangguan jalan napas baik parsial maupun
total atau akibat gangguan di pusat
pernapasan.
HENTI JANTUNG
Disebabkan oleh 4 irama:
•Shockable
VF
VT tanpa denyut nadi
•Non-Shocable
PEA (Pulseless Electrical Activity)
Asistol
Ventricular fibrillation
Coarse ventricular fibrillation
Fine ventricular fibrillation (“coarse” asystole)
GAMBARAN HENTI JANTUNG
VENTRICULAR FIBRILLATION
komple QRS tidak dapat ditentukan, amplitudo ireguler, pompa jantung inefektif dan
beberapa menit menyebabkan kematian. VF halus 2-4mm, medium 5-9mm, kasar 10-15mm,
sangat kasar >15mm
Dapat terjadi pada ventrikel dengan daerah miokard normal yang
diselingi daerah miokard iskemik, cidera, atau infark →
depolarisasi & repolarisasi yang asinkron → penurunan CO
(jantung hanya bergetar, tidak memompa darah)
VENTRICULAR TACHYCARDIA
komplek QRS lebar dan teratur, rate >100 x/menit, gelombang P tidak ada
PULSELESS ELECTRICAL ACTIVITY (PEA)
suatu kondisi klinis dimana rekaman EKG menunjukan aktivitas listrik/ depolarissi
ventrikel namun ventrikel tidak mampu menghasilkan nadi yang dapat
dideteksi secara klinis (kecuali VF dan VT pulseless)
ASYSTOLE
suatu garis datar, terkadang tampak gelombang p namun berdasarkan
definisinya gelombang R harus tidak tampak. Tidak teraba nadi.
High Quality cpr
HIGH QUALITY CPR
1. Min 100x max 120x/m
2. Min kedalaman 5cm max 6cm
3. Min interupsi
4. Beri kesempatan dada
mengembang (recoil sempurna)
5. Kompresi : ventilasi =30:2
Jika terlihat irama VT tanpa denyut nadi/VF
• Defib Un-sync 360 J untuk monofasik, 200 J untuk bifasik + RJP 5 siklus (2
menit). evaluasi
• Defib Un-sync + RJP 5 siklus + kasih epinephrine 1 mg IV, dapat diulang
3-5 menit evaluasi
• Defib Un-sync + RJP 5 siklus + amiodarone 300 mg IV evaluasi
• Defib Un-sync + RJP 5 siklus + epinephrine 1 mg IV evaluasi
• Defib Unsync + RJP 5 siklus + amiodarone 150 mg IV evaluasi
• Defib Unsync + RJP 5 siklus + epinephrine 1 mg IV evaluasi
• Defib Unsync + RJP 5 siklus evaluasi
---------------------------------------------------------------------
JIKA TERLIHAT IRAMA PEA / ASISTOL
• Epineprhine 1 mg IV + RJP 5 siklus (2 menit) evaluasi
• RJP 5 siklus evaluasi
• Epinephrine 1 mg IV + RJP 5 siklus evaluasi
• RJP 5 siklus evaluasi
• Epinephrine 1 mg + RJP 5 siklus evaluasi
• RJP 5 siklus evaluasi
---(30 menit)---
Pastikan True Asistole
• Apakah sadapan elektroda terpasang dengan baik ?
• Apakah sambungan sadapan elektroda dengan
konektor kejut terpasang dengan baik ?
• Apakah Baterai DC terpasang dengan baik ?
• Apakah aliran listrik ada atau tidak ?
• Apakah sudah menaikkan amplitude pada alat DC ?
• Apakah sudah dicoba memindahkan lead I, II, III secara
bergantian ?
ROSC
Ditandai terabanya nadi
Dan kembalinya tanda
sirkulasi seperti
pernapasan spontan
Hindari
Hipoksia : PaO2 <60mmHg
Hiperoksia : PaO2 > 300mmHg
Hipoksemia : SaO2 <94%
Atasi hipotensi
TDS <90mmhg
MAP <65 mmHg
Epinefrin tsb :
u/ bradikardi simptomatik
yg gagal atropin dan pacu
jantung transkutan serta
hipotensi berat <70mmhg
Monitor EKG 12 sadapan
Ikuti perintah ? → TTM
(targeted temperature
management)
memepertahankan suhu
36c selama 24jam
Bradikardi : <50 x/m
ALGORITMA BRADIARITMIA
HR < 50 x/m dan Jika kondisi pasien tidak stabil
• Atropin IV
• Dosis pertama : 0,5 mg bolus, dapat diulangi setiap 3-5
menit, maksimal 3 mg
• Dopamin IV drip
• 2-10 mcg/kg/menit
• Epineprin IV drip
• 2-10 mcg/menit
• Pacu Jantung
SINUS BRADIKARDI
impuls berasal dari SA node, komplek QRS sempit dan teratur, rate <60 x/menit, gelombang P normal selalu diikuti gelombang QRS, PR
interval normal
A-V BLOCK, FIRST DEGREE
Gelombang P normal diikuti QRS normal, PR interval >0,20 detik, irama teratur, rate 60-100 x/menit
A-V BLOCK, SECOND DEGREE TIPE MOBITZ 1 (WENCHEBACH)
terdapat gelombang P yang tidak diikuti kompleks QRS, QRS normal, PR interval progresif memanjang, irama tidak teratur, rate
bervariasi
A-V BLOCK, SECOND DEGREE TIPE MOBITZ 2
terdapat gelombang P yang tidak diikuti kompleks QRS, QRS normal, PR interval normal/ memanjang secara konstan (tiba-tiba
drop beats), irama tidak teratur, rate bervariasi
A-V BLOCK, THIRD DEGREE (TOTAL AV BLOCK)
Gelombang P normal, kompleks QRS normal namun berjalan masing-masing, PR interval tirak teratur, irama teratur, rate
bervariasi
Algoritma Takikardia
STABIL TIDAK STABIL
Atrial Atrial VT
SVT Atrial Flutter SVT
Flutter Fibrilasi Monomorfik
Vagal → Adenosin → CCB Kardioversi
Atrial Fibrilasi VT Monomorfik Torsades de pointes
BB, CCB, Digoxin
Amiodaron Defibrilasi
(syok kardiogenik)
Torsades de pointes
Magnesium IV
TACHYCARDIA
SVT stabil 1. Manuver vagal : auskultasi bruit, pijat 10”
sampai 10 menit. Monitor irama jantung
2. Adenosine 6mg 1-3 detik, flush Nacl,
angkat lengan 45 degree tahan 10”.
Pemberian adenosine ke2 12mg
3. Verapamil 2,5-5 mg IV (2”) – 10 mg IV (20”)
Diltiazem 20-25 mg IV (15”), rumatan: 5-15
mg/jam
4. Konsultasi SpJP
SVT tidak stabil 1. Syncrhonize cardioversion 50 joule.
Informed consent, premedikasi, troli
emergency.
2. Cek irama. Naik dosis kardioversi 100J,
200J, 300J (tekan tombol sync)
VT pulse stabil 1. Amiodarone 150mg dalam 100cc nacl
diberikan selama 10 menit
(pertimbangkan)
2. Monitor irama
VT pulse tidak stabil 1. Sync kardioversi
SINUS TACHYCARDIA
impuls berasal dari SA node, komplek QRS sempit dan teratur, rate >100-150x/menit, gelombang P normal selalu
diikuti gelombang QRS, PR interval normal
All complexes normal, evenly spaced
Rate > 100/min
SVT
Terjadi akibat mekanisme re-entry, QRS complex sempit, teratur, rate >150 – 250 x/menit, gelombang P tidak
ada (tidak tampak jelas)
ATRIAL FLUTTER
komplek QRS sempit danTERATUR, gelombang P >1 dan tampak seperti gigi gergaji (Saw tooth appearance), gelombang P:QRS = 2:1, 3:1 atau
4:1 frekuensi bervariasi
Rapid flutter waves, ventricular response irregular
TERIMAKASIH