0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
315 tayangan30 halaman

Pengawasan Mutu di Industri Farmasi

Dokumen tersebut membahas prinsip-prinsip pengawasan mutu di industri farmasi, meliputi pengawasan mutu bahan baku, produk antara, produk mentah, dan produk jadi; spesifikasi dan prosedur pengujian; pengendalian lingkungan; pengawasan selama proses produksi; pengujian ulang; evaluasi sistem pengawasan mutu; serta studi stabilitas.

Diunggah oleh

Vivit Safitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
315 tayangan30 halaman

Pengawasan Mutu di Industri Farmasi

Dokumen tersebut membahas prinsip-prinsip pengawasan mutu di industri farmasi, meliputi pengawasan mutu bahan baku, produk antara, produk mentah, dan produk jadi; spesifikasi dan prosedur pengujian; pengendalian lingkungan; pengawasan selama proses produksi; pengujian ulang; evaluasi sistem pengawasan mutu; serta studi stabilitas.

Diunggah oleh

Vivit Safitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Sistem Pengawasan Mutu di

Industri Iarmasi

Kelompok 4 :
Budi Santoso
Dea Nur Aprilla
Rani Riskha Wahyuni
Suci Rodiyah
Vivit Safitri
Prinsip Pengawasan Mutu
 Pengawasan Mutu merupakan bagian yang esensial dari
Cara Pembuatan Obat yang Baik untuk memberikan
kepastian bahwa produk secara konsisten mempunyai
mutu yang sesuai dengan tujuan pemakaiannya.
 Pengawasan Mutu hendaklah mencakup semua kegiatan
analitis yang dilakukan di laboratorium, termasuk
pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian bahan
awal, produk antara, produk ruahan dan produk jadi.
 Kegiatan ini mencakup juga uji stabilitas, program
pemantauan lingkungan, pengujian yang dilakukan dalam
rangka validasi, penanganan sampel pertinggal, menyusun
dan memperbaharui spesifikasi bahan dan produk serta
metode pengujiannya.
Next…
 menetapkan masa simpan bahan awal dan produk jadi
berdasarkan data
 stabilitas serta kondisi penyimpanannya; berperan atau
membantu pelaksanaan program validasi;
 menyiapkan baku pembanding sekunder sesuai dengan
prosedur pengujian yang berlaku dan menyimpan baku
pembanding tersebut pada kondisi yang tepat;
 menyimpan catatan analitis dari hasil pengujian semua
sampel yang diambil;
 melakukan evaluasi produk jadi kembalian dan
menetapkan apakah produk tersebut dapat diluluskan
atau diolah ulang atau harus dimusnahkan;
Spesifikasi dan prosedur pengujian
 Prosedur pengujian hendaklah divalidasi dengan
memperhatikan fasilitas dan peralatan yang ada sebelum
prosedur tersebut digunakan dalam pengujian rutin.

 Semua kegiatan pengujian hendaklah dilakukan sesuai dengan


metode yang telah disetujui pada saat pemberian izin edar.

 Spesifikasi dan prosedur pengujian untuk tiap bahan awal,


produk antara, produk ruahan dan produk jadi hendaklah
mencakup spesifikasi dan prosedur pengujian mengenai
identitas, kemurnian, mutu dan kadar/potensi
 Prosedur pengujian hendaklah mencakup :

- jumlah sampel yang diperlukan untuk pengujian dan yang harus disimpan untuk

rujukan masa mendatang;

- jumlah tiap pereaksi, larutan dapar dan sebagainya yang diperlukan pada pengujian;

- rumus perhitungan yang digunakan dan nilai yang diharapkan dan batas toleransi

dari tiap pengujian.

 Prosedur pengujian hendaklah mencakup frekuensi pengujian ulang dari tiap bahan

awal yang ditentukan dengan mempertimbangkan stabilitasnya.

 Semua pengujian hendaklah mengikuti instruksi yang tercantum dalam prosedur

pengujian untuk masing-masing bahan atau produk

 Hasil pengujian, terutama yang menyangkut perhitungan, hendaklah diperiksa oleh

supervisor sebelum bahan atau produk tersebut diluluskan atau ditolak.


PENGAWASAN BAHAN AWAL, PRODUK
ANTARA, PRODUK RUAHAN DAN PRODUK
JADI
1. Spesifikasi
 Tiap spesifikasi hendaklah disetujui dan disimpan oleh
bagian Pengawasan Mutu kecuali untuk produk jadi yang
harus disetujui oleh kepala bagian Manajemen Mutu
(Pemastian Mutu). Spesifikasi bahan awal, produk antara,
produk ruahan dan produk jadi mengacu pada Butir 10.10 –
10.14; dan
 Revisi berkala dari tiap spesifikasi perlu dilakukan agar
memenuhi Farmakope Indonesia edisi terakhir atau
kompendia resmi lain
2. Dokumentasi
 Semua dokumentasi Pengawasan Mutu yang terkait dengan
catatan bets hendaklah disimpan sampai satu tahun setelah
tanggal daluwarsa bets yang bersangkutan.

 Untuk beberapa jenis data (misalnya hasil uji analisis, hasil


nyata, pemantauan lingkungan) hendaklah dibuat sedemikian
rupa untuk memungkinkan pelaksanaan evaluasi tren.

 Di samping informasi yang merupakan bagian dari catatan


bets, data asli lain seperti buku catatan laboratorium
dan/atau rekaman hendaklah disimpan dan tersedia.
3. Pengambilan sampel
Pengambilan sampel merupakan kegiatan penting
di mana hanya sebagian kecil saja dari satu bets
yang diambil. Keabsahan kesimpulan secara
keseluruhan tidak dapat didasarkan pada
pengujian yang dilakukan terhadap sampel yang
tidak mewakili satu bets. Oleh karena itu cara
pengambilan sampel yang benar adalah bagian
yang penting dari sistem Pemastian Mutu.
4. Bahan Awal
 Identitas suatu bets bahan awal biasanya hanya dapat dipastikan apabila
sampel diambil dari tiap wadah dan dilakukan uji identitas terhadap tiap
sampel. Pengambilan sampel boleh dilakukan dari sebagian wadah bila telah
dibuat prosedur tervalidasi untuk memastikan bahwa tidak satu pun wadah
bahan awal yang salah label identitasnya.

 Mutu suatu bets bahan awal dapat dinilai dengan mengambil dan menguji
sampel yang representatif. Sampel yang diambil untuk uji identitas dapat
digunakan untuk tujuan tersebut. Jumlah yang diambil untuk menyiapkan
sampel representatif hendaklah ditentukan secara statistik dan dicantumkan
dalam pola pengambilan sampel. Jumlah sampel yang dapat dicampur
menjadi satu sampel komposit hendaklah ditetapkan dengan pertimbangan
sifat bahan, informasi tentang pemasok dan homogenitas sampel komposit
itu.
5. Bahan pengemas
 Pola pengambilan sampel bahan pengemas hendaklah setidaknya
memperhatikan hal berikut:

- jumlah yang diterima

- mutu yang dipersyaratkan

- sifat bahan (misalnya bahan pengemas primer, dan/atau bahan


pengemas cetak)

- metode produksi dan pengetahuan tentang pelaksanaan sistem


Pemastian Mutu di pabrik pembuat bahan pengemas berdasarkan
audit.

- Jumlah sampel yang diambil hendaklah ditentukan secara statistik


dan disebutkan dalam pola pengambilan sampel.
Persyaratan pengujian
1. Bahan awal

 Tiap bahan awal hendaklah diuji terhadap pemenuhan spesifikasi


identitas, kekuatan, kemurnian dan parameter mutu lain.

2. Bahan pengemas

 Bahan pengemas hendaklah memenuhi spesifikasi, dengan


penekanan pada kompatibilitas bahan terhadap produk yang
diisikan ke dalamnya. Cacat fisik yang kritis dan dapat berdampak
besar serta kebenaran penandaan yang dapat memberi kesan
meragukan terhadap kualitas produk hendaklah diperiksa.
3. Produk antara dan produk ruahan
 Untuk memastikan keseragaman dan keutuhan bets, pengawasan-selama
proses hendaklah dilakukan pengujian sampel yang representatif dari tiap
bets produk antara dan produk ruahan untuk identitas, kekuatan,
kemurnian dan mutunya.

 Persetujuan dari Bagian Pengawasan Mutu mutlak diperlukan setelah


tahap produksi kritis selesai atau bila produk tersimpan lama sebelum
tahap produksi selanjutnya dilaksanakan.

 Produk antara dan produk ruahan yang ditolak hendaklah diberi


penandaan dan dikendalikan dengan sistem karantina yang dirancang
untuk mencegah penggunaannya dalam proses selanjutnya, kecuali bila
produk tersebut dinilai memenuhi syarat untuk kemudian diolah ulang.
4. Produk jadi

 Tiap bets produk jadi hendaklah diuji terhadap spesifikasi


yang ditetapkan dan dinilai memenuhi syarat sebelum
diluluskan untuk distribusi.

 Produk jadi yang tidak memenuhi spesifikasi dan kriteria


mutu lain yang ditetapkan hendaklah ditolak.

 Pengolahan ulang dapat dilakukan apabila memungkinkan,


namun produk hasil pengolahan ulang harus memenuhi
semua spesifikasi dan kriteria mutu lain yang ditetapkan
sebelum diluluskan untuk distribusi.
Pengendalian lingkungan
1. Pengendalian lingkungan hendaklah dilakukan sebagai berikut:
 pemantauan teratur air untuk proses, termasuk pada titik penggunaan,
terhadap mutu kimiawi dan mikrobiologis. Jumlah sampel dan metode
pengujian hendaklah mampu mendeteksi organisme indikator dalam
konsentrasi rendah, misalnya Pseudomonas;

 pemantauan mikrobiologis secara berkala pada lingkungan produksi;

 pengujian berkala terhadap lingkungan sekitar area produksi untuk


mendeteksi produk lain yang dapat mencemari produk yang sedang
diproses; dan

 pengendalian cemaran udara


Pengawasan -selama -proses
 Semua pengawasan–selama–proses, termasuk
yang dilakukan di area produksi oleh personil
produksi, hendaklah dilakukan menurut metode
yang disetujui oleh bagian Pengawasan Mutu dan
hasilnya dicatat.
Pengujian ulang yang diluluskan
 Hendaklah ditetapkan batas waktu penyimpanan yang sesuai untuk tiap
bahan awal, produk antara, produk ruahan dan produk jadi.

 Setelah batas waktu ini bahan atau produk tersebut harus diuji ulang oleh
bagian Pengawasan Mutu terhadap identitas, kekuatan, kemurnian dan mutu.

 Berdasarkan hasil uji ulang tersebut bahan atau produk itu dapat diluluskan
kembali untuk digunakan atau ditolak.

 Bila suatu bahan disimpan pada kondisi yang tidak sesuai dengan yang
ditetapkan, bahan tersebut hendaklah diuji ulang dan dinyatakan lulus oleh
bagian Pengawasan Mutu sebelum digunakan dalam proses.
Evaluasi pengawasan mutu terhadap
prosedur produksi
 Bagian Pengawasan Mutu hendaklah berperan
serta dalam pengembangan Prosedur Pengolahan
Induk dan Prosedur Pengemasan Induk untuk tiap
ukuran bets suatu obat untuk menjamin
keseragaman dari bets ke bets yang dibuat.
 Bagian Pengawasan Mutu hendaklah berperan
serta dalam pengembangan prosedur
pembersihan dan sanitasi peralatan produksi.
Studi stabilitas
1. Program tertulis hendaklah dipatuhi dan mencakup:

 Jumlah sampel dan interval pengujian berdasarkan kriteria statistis untuk


tiap atribut yang diperiksa untuk memastikan estimasi stabilitas;

 kondisi penyimpanan;

 metode pengujian yang dapa diandalkan, bermakna dan spesifik;

 pengujian produk dalam bentuk kemasan yang sama dengan yang


diedarkan; dan

 pengujian produk untuk rekonstitusi, dilakukan sebelum dan sesudah


rekonstitusi.
2. Studi stabilitas hendaklah dilakukan dalam hal berikut:
 produk baru (biasanya dilakukan pada bets pilot);
 kemasan baru yaitu yang berbeda dari standar yang telah
ditetapkan;
 perubahan formula, metode pengolahan atau
sumber/pembuat bahan awal dan awal dan bahan pengemas
primer;
 bets yang diluluskan dengan pengecualian misalnya bets
yang sifatnya berbeda dari standar atau bets yang diolah
ulang; dan
 produk yang beredar.
PENANGANAN KELUHAN TERHADAP
PRODUK, PENARIKAN KEMBALI PRODUK
DAN PRODUK KEMBALIAN
 Prinsip :
 Semua keluhan dan informasi yang
berkaitan dengan kemungkinan kerusakan
obat akan dilakukan penarikan kembali
produk secara cepat dan efektif.
 Penarikan kembali produk adalah suatu
 proses penarikan kembali dari satu atau
 beberapa bets atau seluruh bets produk
 tertentu dari peredaran.
 Prinsip :
 Penarikan kembali produk dilakukan apabila
 ditemukan produk yang cacat mutu atau bila
 ada laporan mengenai reaksi yang merugikan
 yang serius serta berisiko terhadap
 Kesehatan

akibat  penundaan atau penghentian


pembuatan obat tersebut
 Produk kembalian :
• Keluhan mengenai kerusakan
• Keluhan mengenai kadaluwarsa
• Wadah/ kemasan yang dapat meragukan
identitas, mutu, dan jumlah dan keamanan
obat
Keluhan
 Personil yang bertanggung jawab
menangani keluhan adalah
 Kepala bagian manajemen mutu (
pemastian dan mutu) yang memahami
cara penanganan seluruh keluhan,
 penyelidikan atau penarikan kembali
 Produk.
Berbagai laporan keluhan :
 a) keluhan mengenai mutu yang berupa
 kerusakan fisik, kimiawi atau
 biologis dari produk atau
 kemasannya;
 b) keluhan atau laporan karena reaksi
 yang merugikan seperti alergi,
 toksisitas, reaksi fatal atau reaksi
 hampir fatal dan reaksi medis lain;
 dan
 c) keluhan atau laporan mengenai efek
 terapetik produk seperti produk tidak
 berkhasiat atau respon klinis yang
 rendah.
Catatan yang harus diperhatikan
mengenai laporan keluhan
 a) pengkajian seluruh informasi
 mengenai laporan atau keluhan;
 b) inspeksi atau pengujian sampel
 obat yang dikeluhkan dan diterima
 serta, bila perlu, pengujian sampel
 pertinggal dari bets yang sama; dan
 c) pengkajian semua data dan
 dokumentasi termasuk catatan
 bets, catatan distribusi dan laporan
 pengujian dari produk yang
 dikeluhkan atau dilaporkan.
 Di lakukan pencatatan yang kemudian di laporkan kepada
kepala manajemen.
Macam penanganan sesuai keluhan
 1. pemalsuan Diberikan perhatian khusus dalam
penyeledikan
 2. kerusakan Dicatat mengenai rincian asal usul keluhan dan
diselidiki secara menyeluruh halini melibatkan
pengawas manajemen mutu

 3. kerusakan satu bets

Jika produk pada suatu bets ditemukan atau diduga cacat, maka
hendaklah dipertimbangkan untuk memeriksa bets lain untuk
memastikan apakah bets lain juga terpengaruh. Khusus bets yang
mengandung hasil pengolahan ulang dari bets yang cacat
hendaklah
diselidiki.
Tindak lanjut
 tindakan perbaikan bila diperlukan;
penarikan kembali satu bets atau
 seluruh produk akhir yang bersangkutan;
 dan
 tindakan lain yang tepat.
Penarikan kembali
 Keputusan penarikan kembali produk:
 a) dapat diprakarsai oleh industri
 farmasi atau atas perintah Otoritas
 Pengawasan Obat;
Produk yang ditarik
 b) secara intern hendaklah datang dari
kembali hendaklah
 kepala bagian Manajemen Mutu diberi identifikasi dan
 (Pemastian Mutu) dan manajemen disimpan terpisah
 perusahaan; di area yang aman
 c) dapat melibatkan satu bets atau sementara
 lebih atau seluruh bets produk akhir; menunggu keputusan
terhadap produk
 dan
tersebut
 d) dapat mengakibatkan penundaan
 atau penghentian pembuatan
 produk.
Produk kembalian
 Produk kembalian yang tidak dapat
 diolah ulang hendaklah dimusnahkan.
 Prosedur pemusnahan bahan atau
 pemusnahan produk yang ditolak
 hendaklah disiapkan. Prosedur ini
 hendaklah mencakup tindakan
 pencegahan terhadap pencemaran
 lingkungan dan penyalahgunaan bahan
 atau produk oleh orang yang tidak
 mempunyai wewenang
Bagan penanganan keluhan
pelanggan sampai penarikan produk

Pelanggan mengeluh Apotek

Lapor pada
-laporan keluhan PBF
tentang efek
terapetik obat
Laporan keluhan Pengawasan
mutu obat manajemen mutu
Laporan keluhan obat
alergi

Penarikan produk

Anda mungkin juga menyukai