0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
700 tayangan41 halaman

Prinsip dan Hukum Pengecilan Ukuran

1. Dokumen tersebut membahas tentang pengertian dan proses pengecilan ukuran bahan, yang merupakan usaha mengubah dan mengecilkan bentuk serta ukuran bahan secara mekanis tanpa mengubah sifat kimianya. 2. Terdapat beberapa teori tentang energi yang diperlukan dalam proses pengecilan ukuran, yakni teori Kick, Rittinger, dan Bond. 3. Teori-teori tersebut berusaha mengestimasi energi minimum yang

Diunggah oleh

Putra Bayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
700 tayangan41 halaman

Prinsip dan Hukum Pengecilan Ukuran

1. Dokumen tersebut membahas tentang pengertian dan proses pengecilan ukuran bahan, yang merupakan usaha mengubah dan mengecilkan bentuk serta ukuran bahan secara mekanis tanpa mengubah sifat kimianya. 2. Terdapat beberapa teori tentang energi yang diperlukan dalam proses pengecilan ukuran, yakni teori Kick, Rittinger, dan Bond. 3. Teori-teori tersebut berusaha mengestimasi energi minimum yang

Diunggah oleh

Putra Bayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGECILAN

UKURAN
Pengertian
 Bahan mentah sering ukurannya terlalu besar untuk
dimanfaatkan, maka dari itu harus diperkecil dan atau diubah
bentuknya agar sesuai dengan pola penggunaan yang
dikehendaki.
 Pengertian umum dari pengecilan ukuran (size reduction)
adalah usaha pengubahan dan pengecilan bentuk dan ukuran
secara mekanis dengan tanpa menimbulkan perubahan sifat-
sifat khemis dari suatu bahan.
 Pada pengecilan ukuran idealnya dikehendaki hasil yang
memiliki bentuk dan ukuran yang seragam, namun dalam
praktek hal ini sulit didapatkan.
 Proses pengecilan ukuran dapat dikelompokkan menjadi dua
tergantung pada sifat bahannya berupa bahan padat atau cair.
Proses yang biasanya dijalankan untuk bahan padat adalah
cutting, crushing, grinding dan milling. Adapun untuk bahan cair
yakni emulsifikasi atau atomisasi.
Hasil Pengecilan Ukuran dan Cara Analisanya
 Menurut ukurannya, partikel hasil dari pengecilan ukuran
dapat dikelompokkan menjadi tiga golongan :
1. Ukuran partikel atau unit yang dapat dengan jelas dan teliti
diukur dan dilihat dengan mata. Ukuran terkecilnya adalah
3,125 mm, dan ini dikenal sebagai ”dimension range”.
Contohnya adalah irisan buah dan sayur.
2. Partikel yang ukurannya antara 0,07 – 3,125, bentuknya
kadang-kadang masih dapat secara jelas dengan mata namun
ukurannya tidak dapat diukur secara teliti. Ukuran ini sering
dikenal sebagai ”sieve range”. Untuk menganalisa partikrl
kelompok ini digunakan saringan yang dikembangkan oleh
tyler sehingga sering disebut sebagai ”Tyler sieve”. Saringan
Tyler menggunakan satuan ukuran butiran dalam ”mesh”.
Partikel kelompok ini bervariasi dari 3 – 200 mesh.
3. Kelompok partikel yang ukurannya kurang dari 0,07 mm dan
untuk melihat bentuknya secara jelas diperlukan mikroskop.
Contoh partikel ini antara lain adalah tepung, globula emulsi,
dan lain-lain.
 Salah satu cara mudah dan banyak dilakukan
untuk menganalisa fraksi hasil pengecilan
ukuran kelompok kedua adalah menyaring
dengan satu seri saringan tyler yang
ditemukan pada tahun 1910. Saringan Tyler
terdiri atas saru seri saringan berukuran dari
no. 3 – 200 mesh.
 MESH adalah banyaknya lubang bukaan
yang tedapat pada setiap inchi panjang liner
bidang saringan.
Saringan standar Tyler
Meshes (per in) Bukaan (inci) Bukaan (cm) Bukaan (mm)
3 0.263 0.66802 6.6802
4 0.185 0.4699 4.699
6 0.131 0.33274 3.3274
8 0.093 0.23622 2.3622
10 0.065 0.1651 1.651
14 0.046 0.11684 1.1684
20 0.0328 0.083312 0.83312
28 0.0232 0.058928 0.58928
35 0.0164 0.041656 0.41656
48 0.0116 0.029464 0.29464
65 0.0082 0.020828 0.20828
100 0.0058 0.014732 0.14732
150 0.0041 0.010414 0.10414
200 0.0029 0.007366 0.07366
Saringan/ayakan Tyler
Penggilingan dan pemotongan
 Penggilingan dan pemotongan memperkecil
ukuran bahan padat secara mekanis,
membagi-bagi mereka menjadi ukuran yang
kecil. Penggilingan dapat dilakukan dengan
alat penghancur (crusher) maupun penggiling
(grinder). Aplikasi penggilingan yang paling
besar dalam pengolahan diperkirakan terjadi
pada industri penepungan gandum, jagung,
beras, ekstraksi sari buah dan nira tebu dan
lain-lain.
 Pemotongan dilakukan untuk memperkecil
bahan yang berukuran besar menjadi lebih
kecil untuk memudahkan penanganannya lebih
lanjut dalam prosesing, seperti persiapan dari
daging, buah-buahan maupun sayuran dalam
pengalengan, pengeringan, pemasakan dan
lain-lain.
 Dalam proses penggilingan, ukuran bahan
diperkecil dengan meremuknya. Mekanisme
peretakan dan peremukan tidak diketahui
secara jelas, akan tetapi selama proses ini
bahan ditekan (stress) oleh gerakan mekanis
dari bagian-bagian mesin penggiling, pada
awalnya tekanan diserap oleh bahan sebagai
energi tegangan (strain).
 Apabila energi tegangan pada suatu tempat
melebihi batas kritis yang besarnya merupakan
fungsi dari bahannya, maka akan terjadi retakan
sepanjang garis yang paling lemah dan pada saat
itu energi yang tersimpan akan dibebaskan.
 Sebagian energi tersebut digunakan untuk
memecah atau membentuk permukaan-
permukaan baru, dan sejumlah energi yang lebih
besar dikeluarkan dalam bentuk panas. Waktu
juga berperanan dalam proses itu, bahan akan
retak pada energi tegangan yang lebih kecil
apabila prosesnya dapat berlangsung dalam waktu
lebih lama.
 Maka dari itu penggilingan terjadi oleh adanya
tegangan mekanis yang diikuti oleh timbulnya
retakan dan energi yang dibutuhkan tergantung
pada kekerasan bahan dan juga kecenderungan
dari bahan untuk pecah (friability).
 Tenaga yang diaplikasikan mungkin berupa
penekanan (compression), bantingan
(impact), atau pengguntingan (shear),
besarnya tenaga dan lamanya perlakuan
berpengaruh terhadap intensitas
penggilingan yang dicapai.
 Penggilingan yang efisien dapat tercapai
apabila energi yang digunakan hanya
sesedikit mungkin lebih besar dari energi
yang digunakan untuk retak.
 Setiap kelebihan energi akan hilang
dalam bentuk panas, dan jumlah yang
hilang ini harus diusahakan sekecil
mungkin, dan penggilingan akan menjadi
sangat tidak efisien kalau hal ini tidak
diupayakan.
 Faktor penting yang harus dipelajari
dalam penggilingan adalah banyaknya
energi yang diperlukan dan luas
permukaan baru yang terjadi selama
penggilingan.
Energi yang diperlukan dalam
Penggilingan
 Penggilingan termasuk proses yang sangat
tidak efisien, maka dari itu dalam kondisi
yang demikian tadi harus diupayakan
penggunaan energi secara efisien.
Kenyataannya memang tidak mudah untuk
menghitung energi minimum yang diperlukan
dalam proses pengecilan ukuran, namun ada
beberapa teori yang sudah dikembangkan
dan dapat dimanfaatkan.
 Teori-teori tersebut mendasarkan pada asumsi
bahwa energi yang diperlukan untuk
menghasilkan perubahan ukuran partikel
sebesar dL dari suatu bahan berukuran L
adalah merupakan fungsi sederhana dari L :
 dE/dL = KLn ........................................(5.1)
 Ini adalah rumus umum pengecilan ukuran
Dimana,
 dE : energi yang diperlukan
 dL : perubahan dimensi
 L : panjang dari bentuk bahan tertentu
 K, n : konstante
 Kick, mengasumsikan bahwa energi yang
diperlukan untuk memperkecil suatu bahan
adalah berbanding langsung dengan ratio
perkecilannya. Hal ini dapat diimplikasikan
bahwa n pada persamaan (5.1) adalah = -1
jika,K = Kkƒc
 Dimana Kk disebut konstanta Kick (Kick’s
constant) dan ƒc dikenal sebagai ”crushing
strength” dari bahan, maka akan didapat :
dE/dL = KkƒcL-1, kalau dintegralkan akan
diperoleh,
 E = Kkƒc log e (L1/L2) ............(5.2) Hukum
Kick”s
 Persamaan (5.2) sering disebut hukum Kick.
 Rittinger, di lain pihak mengasumsikan bahwa
energi yang diperlukan untuk pengecilan ukuran
adalah berbanding langsung dengan perubahan
luas permukaan bukan berbanding langsung
terhadap perubahan ukuran. Hal ini akan
memberikan nilai n pada persamaan (5.1) sebesar -
2, sebab luas adalah sebanding dengan kuadrat
dari panjang, maka kalau kita mengambil :
 K = KRƒc maka dE/dL = KRƒcL-2
 Dimana, KR disebut sebagai konstanta Rittinger,
dan hasil integrasi persamaan (5.1) adalah sebagai
berikut :
 K = KRƒc (1/L2 - 1/L1) ....(5.3) Hukum Rittinger’s
 Persamaan (5.3) dikenal sebagai persamaan
Rittinger (Rittinger’s law).
 Hukum Rittinger menunjukkan bahwa
karena permukaan spesifik dari suatu
partikel yakni luas permukaan spesifik dari
suatu partikel, luas permukaan per unit
massa adalah sebanding dengan 1/L,
Kick
 Pernyataan ini menunjukkan bahwa energi yang
dibutuhkan untuk memecahkan bahan, misalnya dari 4
inchi menjadi 2 inchi adalah sama dengan energi yang
diperlukan untuk memecahkan bahan 0,5 inchi menjadi
0,25 inchi.
RITTINGER
 maka persamaan (5.3) merumuskan bahwa energi
yang digunakan untuk memperkecil suatu massa
berukuran 4 inchi menjadi 2 inchi adalah sama
besarnya dengan energi yang dibutuhkan untuk
memperkecil suatu massa berukuran 0,25 inchi
menjadi 0,235 inchi, angka yang jauh lebih kecil dari
hitungan berdasar rumus Kick.
 Telah dibuktikan melalui eksperimen
bahwa penggilingan partikel kasar di
mana pertambahan luas permukaan per
satuan berat massa relatif kecil, rumus
Kick dapat memberikan hasil baik.
 Di lain pihak, pada pengecilan ukuran dari
bahan yang relatif kecil di mana luas
permukaan baru jauh lebih luas, rumus
Rittinger akan memberikan hasil lebih
tepat.
 Terakhir Bond mengajukan bahwa n = -3/2 sehingga
diperoleh , dE/dL = KƒcL-3/2 dan jika diintegrasikan
akan diperoleh :
 E = Ei (100/L2)1/2 (1-1/q1/2) .....(5.4) Hukum Bond’s
 L, diukur dalam mikron dalam persamaan (5.4)
sehingga Ei adalah jumlah energi yang diperlukan
untuk mengecilkan suatu unit massa dari bahan yang
ukurannya sangat besar menjadi sebuah partikel
berukuran 100 μm yang diekspresikan sebagai q
atau rasio pengecilan ukuran dimana, q = L1/L2
 Perhatikan bahwa semua persamaan di atas (5.2,
5.3, 5.4) adalah persamaan berdimensi sehingga
apabila nilai catatan harus dipergunakan untuk
berbagai konstanta, satuan harus dikemukakan
dalam satuan yang benar.
 Dalam persamaan Bond, L dinyatakan dalam mikron,
Ei sebagai index kerja.
Contoh :
 Kristal gula digiling, semula 80% kristal lolos
ayakan 500 μm, selanjutnya menjadi partikel
yang 80% lolos pada 88 μm dan ternyata motor
berkekuatan 5 hp cukup untuk kebutuhan
tenaga. Apabila kebutuhan diubah sedemikian
rupa sehingga hasil penghancuran hanya
menjadi partikel yang 80% lolos melalui ayakan
125 μm akan tetapi hasil saringan meningkat
sebesar 50%. Berapa tenaga motor yang
dibutuhkan untuk melangsungkan operasi
penghancuran tersebut. Asumsikan dengan
persamaan Bond !
Jawab :
• μm ke m dikalikan 10-6
• Hasil pengayakan meningkat 50%, sehingga W2 =
1,5 kalinya
 Gunakan tanda 1 untuk penghancuran pertama, dan
gunakan tanda 2 untuk penghancuran kedua.
Anggap W kg/jam adalah hasil yang lolos saringan
awal, kemudian jika y adalah energi yang diperlukan
adalah :
 E1 = Ei (100/L2)1/2 (1-1/q1/2)
 E1 = Ei (100/L2)1/2 (1- (1/L1/L2)1/2)
 E1 = Ei (100/L2)1/2 (1- (L2/L1)1/2)
 E1 = 5/W ------- 5 hp / kg/jam
 E1 = 5/W = Ei (100/88 x 10-6)1/2 (1-(88/500)1/2)
 E2 = y/1,5 W
 Ingat y adalah energi untuk menaikkan hasil saringan 1,5 kali
 E2= Ei (100/L2)1/2 (1- (1/L1/L2)1/2)
 E2= Ei (100/L2) 1/2 (1- (L2/L1) 1/2)
 E2 = y/1.5 W = Ei (100/125x 10-6) 1/2 (1-(1/500/125) 1/2)
 E2 = y/1.5 W = Ei (100/125x 10-6) 1/2 (1-(125/500) 1/2)
 E2 = y/1.5 W = Ei (100/125x 10-6) 1/2 (1-(125/500) 1/2)
 E1 5/W Ei (100/88x 10-6) 1/2(1-(500/88) 1/2)
 E2 = y/(1.5 x 5) = (88 x 10-6) 1/2 (1-(125/500) 1/2)
 E1 (125 x 10-6) 1/2 (1-(88/500) 1/2)
 y/7,5 = (0,84) x (0,5/0,58) = 0,72
  y = 5,4 hp
 sehingga tenaga motor yang dibutuhkan untuk
melangsungkan operasi penghancuran tersebut adalah
5,4 hp.
Permukaan baru yang
terbentuk akibat penggilingan
 Apabila suatu partikel yang seragam dihancurkan,
setelah penghancuran pertama, ukuran partikel yang
dihasilkan akan sangat bervariasi dari yang relatif
sangat kasar sampai yang paling halus bahkan
sampai abu.
 Ketika penghancuran dilanjutkan, partikel kasar akan
berkurang, akan tetapi partikel halusnya lebih sedikit
mengalami perubahan ukuran.
 Dari analisa yang dilakukan secara hati-hati ternyata
bahwa ada kecenderungan terdapat suatu ukuran
tertentu yang meningkat proporsinya yang segera
menjadi fraksi ukuran dominan.
 Misalnya, gandum sehabis penghancuran pertama
memberikan variasi ukuran partikel yang luas dan
sebagian besar adalah berukuran kasar, namun
setelah tahap-tahap selanjutnya fraksi yang
dominan adalah dapat lolos ayakan 250 μm dan
tertahan pada saringan 125 μm.
 Fraksi ini cenderung bertambah banyak, meskipun
penghancuran berlangsung lama, selama tipe
mesin yang sama, dalam hal ini dipergunakan rol
silinder.
 Luas permukaan partikel-partikel halus adalah
penting danbiasanya dinyatakan dalam luas
permukaan spesifik, yaitu luas permukaan setiap
unit berat dan ini menjadi sangat besar.
 Hampir semua reaksi berkaitan dengan luas
permukaan yang tersedia, maka dari itu permukaan
spesifik memegang peran penting pada sifat bahan.
 Sebagai contoh, gandum dalam bentuk butiran
(grain) dapat bertahan lama disimpan kalau
kondisinya kering, akan tetapi kalau digiling menjadi
tepung halus dapat meledak dan terbakar dengan
cepat sebagaimana banyak terjadi pada industri
penggilingan.
 Luas permukaan per unit massa disebut sebagai
permukaan spesifik. Untuk menghitung luas
permukaan dalam suatu berat tertentu dari bahan
perlu diketahui distribusi partikel dan juga perlu
diketahui faktor bentuk (shape factor) dari partikel-
partikelnya. Ukuran partikel memberikan satu
dimensi yang disebut bentuk spesifik atau typical
dimension (Dp). Faktor ini mempunyai korelasi
dengan luas permukaan. Yang dapat ditulis sebagai
berikut :
 Vp = pDp3
dan
 A p = 6q Dp2
Dimana,
 Vp : volume partikel
 A p : luas permukaan partikel
 Dp : dimensi spesifik partikel
 p, q : faktor yang berhubungan dengan geometri
partikel
 Sebagai contoh :Untuk sebuah kubus volumenya
= Dp3 ; luas permukaannya = 6q Dp2
 Untuk sebuah bola atau bulatan volumenya =
(π/6) Dp3 ; luas permukaannya = π Dp2
 Dalam kedua contoh ini rasio dari luas
permukaan terhadap volume adalah = 6/Dp.
 Faktor bentuk sekarang dapat
didefinisikan sebagai q/p = λ, sehingga
untuk kubus atau bola nilai λ = 1.
 Dari eksperimen didapatkan bahwa
apabila suatu bahan digiling, shape factor
dari partikel-partikel hasil penggilingan
tersebut adalah sekitar 1,75, berarti
bahwa perbandingan antara luas
permukaan terhadap volumenya hampir
dua kali dari bentuk kubus atau bola.
 Rasio dari luas permukaan terhadap volume
adalah :
 Ap / Vp = 6q Dp2 / p Dp3
 = 6q / pDp
 = 6 λ /Dp .....................................(5.5)
 Sehingga apabila ada massa sebanyak w dengan
densitas рp maka jumlah partikelnya adalah
w / рp Vp, luas permukaan setiap partikel Ap,
sehingga :
 A t = (w / рp x p Dp3) (6q Dp2)
 = 6 λw / рx p Dp ..........................................(5.6)
 Dimana At adalah luas permukaan total dari massa
partikel.
 Persamaan (5.6) dapat dikombinasikan dengan
hasil analisa penyaringan untuk mengestimasi total
luas permukaan dari tepung.
Contoh soal :
 Pada suatu analisa hasil penyaringan
tepung garam didapatkan bahwa 38 %
garam lolos ayakan 7 mesh akan tetapi
tertahan pada saringan 9 mesh. Untuk
satu fraksi terhalus, 5% lolos ayakan 80
mesh, akan tetapi tertahan pada saringan
115 mesh. Perkirakan luas permukaan
kedua fraksi ini dalam 5 kg sampel garam,
apabila densitas garam 1050 kgm-3 dan
faktor bentuk (shape factor) adalah 1,75.
Jawab :
 Diketahui ayakan Tyler berukuran 7 mesh = 2,83 mm ;
9 mesh = 2,00 mm; 80 mesh = 0,177 mm dan 115 mesh =
0,125 mm (lihat Tabel saringan standard Tyler).
 Lubang rata-rata ayakan 7 dan 9 mesh = (2,83 + 2,00 )/2=
2,41 mm = 2,41 x 10-3 m
 Lubang rata-rata ayakan 80 dan 115 mesh = 0,151 mm =
1,51 x 10-4 m
Jadi :
 At =( 6 λw / р p) x Dp
 A1 =(6 x 1,75 x 0,38.5 ) / (1050 x 2,41 x 10-3 ) = 7,88 m2
 A2 =(6 x 1,75 x 0,05.5 ) / (1050 x 1,51 x 10-4 ) = 16,6 m2
Alat Pemotong dan Penggiling

Pemotong :
 Alat pemotong biasanya sederhana, terdiri atas
beberapa pisau berputar dengan pengaturan yang
bervariasi. Masalah penting yang sering dihadapi adalah
menjaga agar pisau-pisau tetap tajam sehingga mereka
mampu memotong dengan baik dan tidak menyobek.
Proses pemotongan terjadi karena penekanan atau
pemasukan pisau-pisau tipis dan tajam ke dalam bahan,
sehingga dapat dihindarkan adanya deformasi dan
keretakan yang berlebihan pada bahan yang dipotong.
Permukaan baru yang terbentuk oleh pisau yang tajam
relatif tidak mengalami kerusakan.
Penghancur (crusher):
 Proses utama yang terjadi pada crusher adalah
penekanan yang melebihi daya tahan bahan
sehingga terpecah dan hancur. Crusher yang
termasuk alat berat adalah tipe rahang penjepit
(jaw) dan putaran (gyratory), akan tetapi tidak
banyak dipakai dalam industri bahan makanan.
 Dalam crusher rahang penjepit, bahan dimasukkan
di antara dua buah penjepit di mana salah satunya
dipasang tetap, sedangkan yang lainnya dapat
digerakkan, sehingga dapat menurunkan bahan
menuju ruangan yang semakin sempit dan
menghancurkannya.
 Crusher putaran terdiri atas pelindung berbentuk
kerucut terpotong yang didalamnya terdapat bagian
penghancur (crushing head) yang dapat berputar.
Crushing head ini dikonstruksi sebagai kerucut
terbalik dan bahan yang akan dihancurkan
dimasukkan di antara pelindung dan penghancur,
sehingga dengan demikian kalau penghancur
berputar maka bahan akan ditekan turun menuju
lubang yang semakin sempit dan mereka akan
hancur. Skema kerja dari kedua jenis crusher ini
dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5.
Crusher Type gyratory
Crusher Type Jaw
 Selain kedua jenis alat tersebut di atas, ada
tipe lain yaitu rol penghancur (crushing roll).
 Roll penghancur ini terdiri atas dua buah
silinder berat, dipasang sejajar dan
berdekatan satu sama lain.
 Mereka berputar dengan arah berlawanan
dan bahan yang akan dihancurkan
terperangkap dan tergigit di antara dua roll
crusher serta dihancurkannya selama
melewati bukaan antara dua roll tersebut.
 Permukaan roll biasanya memiliki tonjolan
dengan pola tertentu yang bertujuan untuk
memudahkan penghancuran.
 Dalam praktek, kedua roll tersebut sering
digerakkan pada kecepatan yang sama, namun
kadang-kadang kecepatan tersebut berbeda dan
bahkan ada pula yang salah satu rolnya dalam
posisi atatis tidak bergerak.
 Skema kerja dari alat ini dapat dilihat pada
Gambar 6.
Rol Crusher Krajewsky
 Pada Gambar di atas terlihat bahwa salah
satu contoh rol dengan permukaan berbentuk
alur tipe krajewsky yang banyak digunakan
pada penggilingan tebu.
 Rol penghancur ini karena permukaannya
beralur bentuk V dan tajam, maka selain
menekan dan menghancurkan juga sekaligus
memotong-motong batang tebu yang masuk
di antara dua rol tersebut.
Penggiling
 Salah satu jenis penggiling adalah ”hammer
mill” atau penggiling tipe pemukul. Di dalam
sebuah hammer mill, bagian kepada dari
sejumlah pemukul dipasang pada sebuah as
yang berputar dengan kecepatan tinggi dan
berada dalam suatu rumahan yang kuat.
Skema kerja dari alat ini dapat dilihat pada
Gambar 7.
Penggiling hammer mill

Anda mungkin juga menyukai