0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
205 tayangan21 halaman

Anatomi dan Fisiologi Stroke

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan klien stroke. Secara ringkas, dokumen menjelaskan anatomi dan fisiologi stroke, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, komplikasi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis, pengkajian, diagnosa keperawatan, dan intervensi keperawatan untuk klien stroke.

Diunggah oleh

Vira Putri Maharani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
205 tayangan21 halaman

Anatomi dan Fisiologi Stroke

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan klien stroke. Secara ringkas, dokumen menjelaskan anatomi dan fisiologi stroke, klasifikasi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, komplikasi, pemeriksaan diagnostik, penatalaksanaan medis, pengkajian, diagnosa keperawatan, dan intervensi keperawatan untuk klien stroke.

Diunggah oleh

Vira Putri Maharani
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPTX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN

DENGAN KLIEN STROKE

Julianti Tri Anggraini (201701019)


Gysella Hilmanita (201701033)
Devi Kristiani Nababan (201701051)
Frendi Cahyono (201701067)
Rini (201701082)
ANATOMI FISIOLOGI
Kata “stroke “ pertama kali diperkenalkan tahun
1689 oleh William Cole. Sebelum Cole, istilah
umum yang digunakan untuk menggambarkan
cedera otak nontraumatik akut adalah
”apoplexy”(Masriadi, 2016).
Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang
timbul mendadak yang disebabkan karena
terjadinya gangguan peredaran darah otak dan
bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja
(Muttaqin, 2008)
KLASIFIKASI
Stroke non
Stroke hemoragik
hemoragik (iskemik)
“Iskemik terjadi akibat “Stoke ini terjadi
suplay darah ke karena perdarahan
jaringan otak atau pecahnya
berkurang, hal ini pembuluh darah otak
disebabkan karena baik subarachnoid,
obstruktif total atau intraserebral, maupun
sebagian pembuluh karena aneurisma.”
darah otak.”
ETIOLOGI
Stroke Hemoragik
1. Keadaan penyakit pada pembuluh
darah itu sendiri, seperti pada
arteriesklerosis dan thrombosis,
robeknya dinding pembuluh darah
atau peradangan. Stroke Non Hemoragik
2. Berkurangnya perfusi akibat 1. Ruptur vaskular didalam
gangguan status aliran darah jaringan otak atau ruang
misalnya pada syok dan subaraknoid
hiperviskositas darah.
3. Gangguan aliran darah akibat
bekuan atau embolus infeksi yang
berasal dari jantung atau
pembuluh darah ekstrakranium.
MANIFESTASI KLINIS
• Kelumpuhan wajah atau agnggota badan sebelah (hemiparesis) atau
hemiplegia (paralisis) yang timbul secara mendadak
• Gangguan sensibilitas pada satu atau lebih anggota badan
• Penurunan kesadaran (konfusi, delirium, letargi, stupor, atau koma)
• Afasia (kesulitan bicara)
• Disartria (bicara cadel atau pelo)
• Diplopia (gangguan penglihatan)
• Disfagia (kesulitan menelan)
• Inkontinesia
• Vertigo, mual, muntah dan nyeri kepala.
• Muka tidak simestris
• Gangguan gerakan atau gerakan tidak terorganisasi
PATOFISIOLOGI
Stoke hemoragik
Pecahnya mikroaneurisma akibat
Stroke Non Hemoragik hipertensi maligna (paling sering
Stroke iskemik pada otak akan daerah subcortical, sereblum dan
mengakibatkan perubahan pada batang otak).
sel neuron otak secara bertahap. Sedangkan hipertensi kronis ->
pembuluh arteoriola mengalami
Tahap I : Penurunan aliran darah perubahan patologi pada dinding
-> sel-sel neuron kekurangan pembuluh darah (lipohianilosis nekrosis
oksigen dan nutrisi (kegagalan fibrinoid) serta timbulnya aneurisme.
metabolisme dan penurunan Peningkatan tekanan darah secara tiba-
energi). tiba -> rupturnya penetrating arteri
Tahap II : ketidakseimbangan kecil -> Perdarahan pada pembuluh
suplai oksigen -> respons darah kecil -> penekanan pada arteriola
inflamsai -> kematian sel dan pembuluh kapiler sehingga
akhirnya membuat pembulu darah ini
pecah juga.
Komplikasi
1. Hipoksia serebral dan menurunnya aliran
darah otak
2. Edema serebri
3. Peningkatan Tekanan Intrakranial (TIK)
4. Aspirasi
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Laboratori :
• Pemeriksaan darah lengkap
• Tes darah koagulasi : mengukur Pemeriksaan Radiologi :
seberapa cepat darah pasien
menggumpal. • CT Scan : mengidentifikasi
area pendarahan
• Tes kimia darah : Kadar gua
darah atau kolesterol berlebih • MRI (Magnetic Resonance
bisa menjadi pertanda bahwa Angiography) :
pasien sudah menderita diabetes mengidentifikasi vasculature
atau jantung. abnormal atau vasospasme.
• Tes lipid darah : kadar kolesterol • Sinar X Tengkorak :
baik (HDL-High Density kalsifikasi karotis interna
Lipoprotein), koleterol jahat pada thrombosis cerebral
(LDL-Low Density Lipoprotein),
triliserida, dan total kolesterol. • SPECT (Single Photon
Emission Computed
Tomography) : menunjukkan
area yang tidak mendapat
perfusi secara tepat.
PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Memberikan TPA (Thromoblytic Agent) dalam 3 jam setelah gejala serangan, kecuali
kontraindikasi.
2. Memberikan anti koagulan untuk pasien dengan stoke Non Hemoragik setelah
penggunaan TPA: heparin, warfarin, low-molecular weight heparin, aspirin.
3. Terapi obat-obatan tergantung dari jenis stroke
- Stroke non hemoragik
1. Pemberian trombolisis dengan rr-PA (recombinant tissue-plasminogen)
2. Pemberian obat-obatan jantung seperti digoksin pada aritmia jantung atau alfa
beta, kapropil, antagonis kalsium pada pasien hipertensi
- Stroke haemoragik
1. Anti hipertensi: katropil, antagonis kalsium
2. Diuretic: manitol 20%, furosemide
3. Anti konvulsan : fenitoin
4. Intubasi dan hiperventilasi terkontrol dengan oksigen hiperbarik sampai PCO2 = 29-35
mmHg
5. Terapi fisik untuk membantu menjaga kekecangan otot atau pengembalian fungsi.
6. Terapi bicara untuk membantu berbicara dan menelan.
7. Istirahat total untuk mengurangi kemungkinan cidera.
8. Nutrisi yang tepat dengan jenis makanan yang tepat untuk pasien.
PENGKAJIAN
1. Identitas pasien
2. Keluhan utama : Gangguan motorik kelemahan anggota gerak
sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi,
nyeri kepala, gangguan sensorik, kejang, penurunan kesadaran.
3. Riwayat penyakit sekarang : gejala awal sering kesemutan, rasa
lemah pada salah satu anggota gerak. Stroke hemoragik :
berlangsung mendadak saat pasien beraktifitas.
4. Riwayat penyakit dahulu : Riwayat hipertensi, diabetes
mellitus, penyakit jantung.
5. Riwayat penyakit keluarga : Biasanya ada riwayat keluarga
yang menderita hipertensi ataupun diabetes mellitus.
6. Riwayat psikososial : Pengobatan -> mempengaruhi stabilitas
emosi dan pikiran pasien dan keluarga
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan
dengan gangguan aliran darah, perrdarahan,
edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan
gangguan neuromuskuler, kelemahan, parestesia,
paralisis.
3. Gangguan komunikasi verbal/non verbal berhubungan
dengan gangguan sirkulasi, gangguan neuromuskuler,
kelemahan umum.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan deficit
neuromuskuler, menurunnya kekuatan otot dan daya
tahan, kehilangan kontrol otot, gangguan kognitif.
Intervensi Keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan aliran
darah, perrdarahan, edema serebral dan peningkatan tekanan intrakranial.
Data pendukung Rencana Tindakan :
• Penurunan kesadaran 1. kaji status neurologik setiap jam
• Nilai GCS
2. Kaji Tingkat Kesadaran dengan
• Perubahan tanda vital
GCS
• Perubahan sensorik dan motorik
• Nyeri kepala 3. Monitor tanda-tanda vital setiap jam
• Perubahan pola nafas 4. Monitor kejang dan berikan obat
• Kejang anti kejang
• Nilai AGD 5. pertahankan kepatenan jalan nafas
• Hasil ct scan , mri adanya edema serebri, 6. pertahankan suhu normal
perdarahan.
• Pengguanan terapi diuretik, sedatif 7. hitung irama denyut, nadi,
Kriteria Hasil auskultasi adanya murmur
• Pasien dapat mempertahankan tingkat 8. Monitor AGD, PaCO2, antara 35-45
kesadaran, fungsi kognitif, sensorik dan mmHg, dan PaO2 >80 mmHg
motorik.
9. Berikan Obat sesuai program medis
• Tanda-tanda vital stabil, peningkatan TIK
tidak ada.
dan Monitor efek samping.
• Gangguan Lebih Lanjut tidak terjadi.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan
neuromuskuler, kelemahan, parestesia, paralisis.
Data pendukung Rencana Tindakan :
• Pasien mengatakan tidak mampu menggerakan 1. Kaji kemampuan motorik
tangan dan kaki sebelah
• Pasien tidak mampu memenuhi kebutuhan ADL 2. Ajarkan pasien untuk melakukan
• Kebutuhan ADL dibantu 3. Bila klien ditempat tidur, lakukan
• Adanya hemiplegia/hemiparese tindakan untuk meluruskan postur
• Pergerakan, ambulasi dibantu tubuh
• Tonus otot kurang 4. Observasi daerah yang tertekan,
• Kekuatan otot kurang termasuk warna, edema, atau tanda
• Atropi, kontraktur lain gangguan sirkulasi
• Hasil EMG 5. Inspeksi kulit terutama pada daerah
Kriteria hasil tertekan, beri bantalan lunak.
• Mempertahankan keutuhan tubuh secara optimal
seperti tidak adanya kontraktur, footdrop 6. Lakukan massage pada daerah
• Mempertahankan kekuatan fungsi tubuh secara tertekan
optimal 7. Konsultasikan dengan ahli fisiologi
• Mendemostrasikan teknik/prilaku melakukan 8. Kolaborasi stimulasi elektrik
aktivitas
• Mempertahankan integritas kulit
9. Kolaborasi dalam penggunaan
• Kebutuhan ADL terpenuhi
tempat tidur antidekubitus
3. Gangguan komunikasi verbal/non verbal berhubungan dengan
gangguan sirkulasi, gangguan neuromuskuler, kelemahan umum.
Data pendukung: Rencana Tindakan :
• Pasien tidak mampu berkomunikasi 1. Kaji kemampuan komunikasi
• Tanda-tanda frustasi karena tidak adanya gangguan bahasa dan
mampu berkomunikasi bicara
• Disartria, aphasia 2. Pertahankan kontak mata dengan
• Kelemahan otot wajah pasien saat berkomunikasi
• Kelemahan otot lidah
3. Ciptakan lingkungan penerimaan
• Adannya infak pada area bicara dari dan privasi
hasil CT scan, MRI
4. Gunakan kata-kata sederhana
Kriteria hasil:
secara bertahap dan dengan
• Mampu menggunakan metode
bahasa tubuh
komunikasi yang efektif baik verbal
maupun non verbal 5. Ajarkan teknik untuk
• Terhindar dari tanda-tanda frustasi memperbaiki bicara
• Mampu mengkomunikasikan kebutuhan 6. Berikan respon terhadap prilaku
dasar non verbal
• Mampu mengekspresikan diri dan 7. Konsul dengan therapist wicara
memahami orang lain
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan deficit neuromuskuler,
menurunnya kekuatan otot dan daya tahan, kehilangan kontrol otot,
gangguan kognitif.
Data pendukung: Rencana Tindakan :
• Adanya penurunan kesadaran 1. Kaji kemampuan ADL pasien
• Kelemahan fisik (hemiparese) 2. Anjurkan pasien untuk
melakukan sendiri perawatan
• Atropi otot dirinya jika mampu
• Kontraktur otot 3. Berikan umpan balik positif atas
• Ketidakmampuan melakukan usaha klien
ADL sendiri 4. Pertahankan dukungan, sikap
Kriteria hasil: tegas, beri cukup waktu untuk
menyelesaikan tugas pada klien
• Mendemostrasikan perubahan
5. Bantu klien dalam pemenuhan
dalam merawat diri: mandi, kebutuhan ADL pasien jika tidak
BAB, BAK, berpakaian, makan. mampu
• Menampilkan aktivitas 6. Kolaborasi ahli terapi
perawatan secara mandiri
KESIMPULAN
Stroke merupakan sindrom klinis dengan gejala gangguan fungsi
otak secara fokal dan atau global yang berlangsung 24 jam atau lebih dan
dapat mengakibatkan kematian atau kecacatan yang menetap Secara
patologis stroke dibagi menjadi 2 yaitu stroke iskemik dan stroke
hemoragik.
Asuhan keperawatan pada pasien dengan stroke meliput dari
pengkajian hingga evaluasi. Masalah keperawatan yang mungkin muncul ;
Gangguan perfusi jaringan serebral, gangguan mobilitas fisik, gangguan
komunikasi verbal/non verbal.
Peran perawat dalam hal ini adalah sebagai educator untuk pasien,
keluarga maupun masyarakat. Dimana ketika perawat memberikan asuhan
keperawatannya dapat mengatasi kebutuhan secara menyeluruh.
DAFTAR PUSTAKA
Dosen Keperawatan Medikal Bedah Indonesia. 2016. Rencana
Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC
Goldszmidt, Adrian J. (2011). Esensial Stroke. Jakarta : EGC
Handayani, F. (2013). Angka Kejadian Serangan Stroke Pada
Wanita Lebih Rendah Dari Pada Laki-Laki. Jurnal
Keperawatan Medikal Bedah Volume 1 No 1, 75-79.
Masriadi, H. (2016). Epidemiologi Penyakit Tidak Menular.
Jakarta : Trans Info Media
Muttaqin, A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Prima Medika
Tarwoto. (2013). Keperawatan Medikal Bedah Gangguan
Sistem Persarafan. Jakarta: CV Agung Seto

Anda mungkin juga menyukai