KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH
DENGAN MEMPERTIMBANGKAN
KEMAMPUAN DAYA DUKUNG, DAYA
TAMPUNG DAN BENCANA
VELY KUKINUL SISWANTO
OUTLINE
• Kemampuan daya dukung dan daya
tampung wilayah (ecological foot print)
• Resiko bencana banjir
• Resiko bencana geologis
KEMAMPUAN DAYA DUKUNG DAN
DAYA TAMPUNG WILAYAH
(ecological foot print)
DAYA DUKUNG dan Daya Tampung
LINGKUNGAN
• Daya Dukung adalah kemampuan lingkungan hidup untuk
mendukung peri kehidupan manusia dan makhluk hidup
lainnya, serta keseimbangan diantara keduanya.
• Daya Tampung adalah kemampuan lingkungan hidup
untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain
yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya.
Kenapa Harus Ada Daya Dukung
Lingkungan Hidup dalam Tata Ruang?
Diperlukan pengintegrasian pertimbangan daya dukung
lingkungan hidup dalam penataan ruang. Hal ini dilakukan
agar alokasi pemanfaatan ruang sesuai dengan kondisi
dan kapasitas sumber daya wilayah.
Lahan yang misalnya cocok untuk pertanian tetap
dipertahankan untuk berlangsungnya kegiatan pertanian
Kenapa Harus Ada Daya Dukung
Lingkungan Hidup dalam Tata Ruang?
Secara umum, SDA utama yang paling mendasari daya dukung
lingkungan adalah sumber daya lahan dan air pembatas
utama dukungan lingkungan bagi aktivitas manusia.
• Wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
• Wilayah perbukitan dan pegunungan
• Wilayah berbasis perkotaan
• Wilayah non-perkotaan
PENDEKATAN ANALISIS DAYA DUKUNG
LINGKUNGAN
Daya Dukung Lingkungan berbasis Kemampuan
Lahan
Daya Dukung Lingkungan berbasis Neraca
Lahan
Daya Dukung Lingkungan berbasis Neraca Air
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN
BERBASIS KEMAMPUAN LAHAN
KEMAMPUAN LAHAN DAN
KESESUAIAN LAHAN
• Kemampuan lahan adalah karakteristik lahan yang
mencakup sifat-sifat tanah, topografi, drainase, dan
kondisi lingkungan fisik lain untuk mendukung
kehidupan atau kegiatan pada suatu hamparan
lahan.
• Kesesuaian lahan adalah kecocokan suatu
hamparan lahan untuk pemanfaatan ruang tertentu.
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERBASIS
KEMAMPUAN LAHAN
Lahan adalah lingkungan fisik yang meliputi tanah, iklim, relief, hidrologi
dan vegetasi, dimana faktor-faktor tersebut mempengaruhi potensi
penggunaannya.
Evaluasi lahan dilakukan dengan Penilaian sifat lahan (kualitas lahan)
• Kemampuan lahan tinggi mempunyai pilihan penggunaan yang lebih
banyak (pertanian, kehutanan, permukiman, industri, infrastruktur, dan
lain-lain)
• Kemampuan lahan rendah mengindikasikan banyaknya kendala untuk
penggunaannya (bersifat terbatas daerah perlindungan/kawasan
lindung)
Klasifikasi Kemampuan Lahan
• Adalah proses karakterisasi lahan yang mencakup sifat-sifat tanah (sifat
fisik dan kimia), topografi, drainase, dan kondisi lingkungan lain.
• Metode ini mengkelaskan lahan dan alokasi-alokasi pemanfaatannya
yang tepat berdasarkan kemampuan lahan yang dikategorikan dalam
bentuk kelas dan sub-kelas.
• Dalam metode ini, nantinya dapat diketahui lahan yang sesuai untuk
pertanian, lahan yang harus dilindungi, dan lahan yang dapat digunakan
untuk pemanfaatan lainnya.
Kemampuan Lahan dalam Tingkat Kelas
Kemampuan lahan diklasifikasikan ke dalam 8 kelas kemampuan (kelas I
– kelas VIII)
• Dua kelas pertama (kelas I dan II) adalah lahan yang cocok untuk
penggunaan pertanian
• Dua kelas terakhir (kelas VII dan VIII) adalah lahan yang harus dilindungi
atau untuk fungsi konservasi.
• Sedangkan kelas lainnya (kelas III, IV, V dan VI) dapat dipertimbangkan
untuk berbagai pemanfaatan lainnya.
Tabel Klasifikasi Kemampuan Lahan dalam
Tingkat Kelas
Kelas Kriteria Pilihan Penggunaan Arahan Ruang
I Lahan ini tidak mempunyai atau hanya sedikit Pertanian: tanaman Tanaman Pangan
hambatan yang membatasi penggunaannya. pertanian semusim,
Lahan kelas I sesuai untuk berbagai tanaman rumput, hutan
penggunaan, terutama pertanian. dan cagar alam
Karakteristik lahan antara lain: topografi
hampir datar, ancaman erosi kecil, kedalaman
efektif dalam, drainase baik, mudah diolah,
kapasitas menahan air baik, subur, tidak
terancam banjir.
II Lahan ini mempunyai beberapa hambatan Pertanian: tanaman Tanaman Pangan
atau ancaman kerusakan yang mengurangi semusim, tanaman
pilihan penggunaannya atau memerlukan rumput, padang
tindakan konservasi yang sedang. Pengelolaan penggembala, hutan
perlu hati-hati, termasuk tindakan konservasi produksi, hutan lindung,
untuk mencegah kerusakan dan cagar alam
Kelas Kriteria Pilihan Penggunaan Arahan Ruang
III Lahan mempunyai beberapa hambatan yang Pertanian: tanaman Tanaman Tahunan/Keras
berat yang mengurangi pilihan penggunaan semusim, tanaman yang , Pemukiman
lahan dan memerlukan tindakan konservasi memerlukan
khusus dan keduanya. Lahan ini mempunyai pengolahan tanah,
pembatas lebih berat dari klas II dan jika tanaman rumput,
dipergunakan untuk tanaman, perlu padang rumput, hutan
pengelolaan tanah dan tindakan konservasi produksi, hutan lindung
lebih sulit diterapkan. Hambatan ini dan cagar alam.
membatasi lama penggunaan bagi tanaman Penggunaan non
semusim, waktu pengolahan, pilihan tanaman pertanian: permukiman
atau kombinasi dari pembatas-pembatas dan lainnya.
tersebut.
IV Hambatan dan ancaman kerusakan tanah Pertanian: tanaman Tanaman Tahunan/Keras
lebih besar dari klas III, dan pilihan tanaman semusim dan tanaman
juga terbatas. Perlu pengelolaan hati-hati pertanian pada
untuk tanaman semusim, tindakan konservasi umumnya, tanaman
lebih sulit diterapkan. rumput,
penggembalaan, hutan
produksi, hutan lindung
dan cagar alam.
Penggunaan non
pertanian.
Kelas Kriteria Pilihan Penggunaan Arahan Ruang
V Lahan kelas ini tidak terancam erosi, tetapi Tanaman rumput, Tanaman Tahunan/Keras
mempunyai hambatan lain yang tidak mudah padang pengembalaan, /Peternakan
untuk dihilangkan, sehingga membatasi hutan produksi, hutan
pilihan penggunaannya. Tanah ini juga lindung dan suaka alam.
mempunyai hambatan yang membatasi Penggunaan non
pilihan macam penggunaan dan tanaman. pertanian
Tanah ini biasanya terletak pada topografi
datar-hampir datar tetapi sering dilanda
banjir, berbatu atau iklim yang kurang sesuai.
VI Lahan ini mempunyai hambatan berat yang Tanaman rumput, Peternakan, Tanaman
menyebabkan penggunaan tanah ini sangat padang pengembalaan, Keras
terbatas karena mempunyai ancaman hutan produksi, hutan
kerusakan yang tidak dapat dihilangkan. lindung dan cagar alam.
Umumnya terletak pada lereng curam, Penggunaan non
sehingga dipergunakan untuk pengembalaan pertanian
dan hutan produksi harus dikelola dengan
baik untuk menghindari terjadinya erosi.
Kelas Kriteria Pilihan Penggunaan Arahan Ruang
VII Lahan ini mempunyai hambatan dan ancaman Padang rumput dan Hutan Produksi
berat yang tidak dapat dihilangkan, karena itu hutan produksi
pemanfaatannya harus bersifat konservasi.
Jika digunakan untuk padang rumput atau
hutan produksi harus dilakukan pencegahan
erosi yang berat.
VIII Lahan ini sebaiknya dibiarkan secara alami. Hutan lindung, rekreasi Hutan Lindung, Hutan
Pembatas dan ancaman sangat berat dan alam dan cagar alam Konservasi
tidak mungkin dilakukan tindakan konservasi,
sehingga perlu dilindungi.
Evaluasi Penggunaan Lahan terkait
Kemampuan Lahan
• Evaluasi ini dilakukan dengan mencocokkan tipe
penggunaan/penutupan dengan kelas kemampuan lahan
yang ada.
• Diperlukan pemahaman hubungan antara aktual dengan
kelas kemampuan aktual mempunyai makna ganda jika
diletakkan dalam konteks sesuai atau tidak sesuai
(kesesuaian)
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN
BERBASIS NERACA LAHAN
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERBASIS
NERACA LAHAN
• Untuk membandingkan ketersediaan dan kebutuhan lahan bagi
penduduk yang hidup di suatu wilayah. Dalam hal ini tingkat
kemampuan alami lahan dipandang dari segi kemampuan dalam
menghasilkan produk hayati atau biocapacity)
• Dengan metode ini, dapat diketahui gambaran umum, apakah daya
dukung lahan di suatu wilayah dalam keadaan surplus atau defisit.
• Dilakukan dengan membandingkan ketersediaan (supply) dan kebutuhan
(demand) lahan untuk kondisi saat ini (landuse eksisting) dan kondisi
untuk rencana kedepan.
• Supply > Demand Surplus
• Supply < Demand Defisit
Neraca Daya Dukung Lahan berbasis
Absolut
• Adalah interpretasi status “tingkat keberlanjutan” wilayah berbasis
standar daya dukung absolut.
• Suatu wilayah dapat memiliki 3 kategori status tingkat keberlanjutan
antara lain :
• Berkelanjutan bahwa wilayah dalam keadaan terkelola dengan baik
dan biocapacity wilayahnya terjaga dan mandiri dalam memenuhi
kebutuhan biokapasitasnya
• Rawan bahwa wilayah tersebut dalam keadaan mendekati hilangnya
kemandirian dalam memenuhi kebutuhan bioproduknya.
• Daya dukung terlampaui bahwa wilayah tersebut sudah tidak mandiri
dalam memenuhi kebutuhan bioproduknya.
Neraca Relatif Daya Dukung Lahan
• Adalah interpretasi status “tingkat keberlanjutan” wilayah berbasis
perbandingan relatif status surplus/defisit daya dukung.
• Suatu wilayah dapat dilakukan melalui 2 bentuk perbandingan relatif,
yaitu :
• Perbandingan relatif antar waktu
• Perbandingan status surplus/defisit kondisi saat ini dan diproyeksikan 20 tahun
yang akan datang akan bergeser ke arah semakin defisit, maka status tingkat
keberlanjutannya menurun.
• Perbandingan status surplus/defisit kondisi saat ini dan diproyeksikan 20 tahun
yang akan datang akan bergeser ke arah semakin surplus, maka status tingkat
keberlanjutannya meningkat.
• Perbandingan relatif antar wilayah/daerah : dilakukan dengan
membandingkan status surplus/defisit suatu wilayah dengan wilayah
lainnya
ECOLOGICAL FOOTPRINT
Ecological Footprint
Konsep ini pertama kali dirintis oleh William Rees dan Mathis Wackernagel
(1996) menjadi salah satu referensi yang paling penting untuk analisis
keberlanjutan global, dengan mengemukakan pemikiran “bagaimana
mengurangi dampak penduduk terhadap alam” (McDonald dan Patterson,
2003)
• Ecological footprint mengukur total biaya ekologis (dalam
area lahan) dari suplai barang dan jasa kepada penduduk.
• Ecological footprint sebagai indikator keberlanjutan (carrying
capacity) jumlah populasi maksimum yang dapat
didukung oleh area lahan tertentu.
The Ecological Footprint
CARBON footprint
Accounting Framework for
Ecological Services
Biocapacity:
How much
bioproductive area
is available to us?
Ecological Footprint:
How much bioproductive
area do we demand?
World Ecological
Footprint
Ecological Footprints
World at night from orbit
An “ecological camera”
• takes a snapshot of our current
[Link]
demands on nature
Biocapacity
67%
Oceans with
low
productivity
Bioproductive segments
22%
4% Oceans
with high
productivity
13.4 B
hectares
18%
productive land 11%
Deserts, ice
Ecological Footprint
Footprint
The only sustainability
metric with an 13.4B ha bio
undisputable
maximum
productive
value: one Earth. area
Assuming a fair allocation of area, there is about
1.8 gha available per person today (not including
any area for biodiversity)
The average European citizen requires
4.8 gha to meet his/her material demands.
(US citizen 9.6 gha)
For all people to live like Europeans
would require 2.5 planets
National Footprints
Figures in gha/capita
Ireland tenth Built land
Fishing
Switzerland A Forest
D
Austria Pasture
Arable land
Slovenia Carbon Footprint
China
Germany
Hungary World
available
WWF Living Planet Report 2008
A child born in a wealthy country is
likely to consume, waste, and pollute
more in her/his lifetime than 50
children born in poorer nations
Ecological Footprint to Biocapacity by
Province in Island of Sumatera
Biocapacity
per person
Ecological Footprint
Italy
Ecological Footprint
Biocapacity
per person
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN
BERBASIS NERACA AIR
DAYA DUKUNG LINGKUNGAN BERBASIS
NERACA AIR
• Dapat diketahui dengan menghitung kapasitas ketersediaan air pada
suatu wilayah sangat bergantung pada kemampuan menjaga dan
mempertahankan dinamika siklus hidrologi pada daerah hulu DAS.
• Pemanfaatan sumber-sumber air yang tidak terkendali menyebabkan
pasokan air cenderung berkurang akibat tidak efisiennya pemakaian air,
baik untuk pertanian, domestik, industri dan lain-lain.
• Membandingkan kondisi suplai air pada suatu wilayah dengan
kebutuhan yang ada.
Penetapan Status Daya Dukung Lingkungan
Berbasis Neraca Air
• Konsep ini membandingkan antara ketersediaan air hujan dengan water
footprint untuk menilai status daya dukung lahan berbasis neraca air.
• Kriteria ini tidak cukup dinyatakan dengan “surplus-defisit” saja, namun
untuk menunjukkan besaran relatif, perlu dinyatakan dengan nilai “rasio
supply/demand”.
• Penerapan status daya dukung mempertimbangkan keberlanjutan
sumber daya dengan membandingkan tingkat demand untuk konsumsi
terhadap pasokan sumber daya air yang tersedia.
Kajian Sumber Daya Iklim
Kajian Sumber Daya Iklim untuk Pertanian
• Dalam kaitannya dengan kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman,
khususnya tanaman pangan pada suatu wilayah, Oldeman (1975) telah
mengembangkan konsep zona agroklimat.
• Dengan mengetahui zona agroklimat suatu wilayah, dapat diperkirakan
daya dukung sumber daya iklim untuk pengembangan pertanian di
suatu wilayah.
Analisis Potensi Suplai Air
• Konsep ini menentukan jumlah curah hujan lebih dalam bentuk limpasan
maupun pengisian air tanah, yang potensial dikembangkan.
• Diperlukan untuk mengetahui hubungan antara berbagai skenario
kondisi tutupan hutan dengan parameter curah hujan lebih, limpasan
dan pengisian air tanah
• Analisis ini juga perlu dilakukan untuk mengetahui ketersediaan air
permukaan dan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air pertanian,
domestik, industri, PLTA, melalui pengembangan prasarana sistem suplai
air.
BENCANA
Peristiwa/kejadian pada suatu daerah yang mengakibatkan kerusakan
ekologi, kerugian kehidupan manusia serta memburuknya kesehatan
dan pelayanan kesehatan yang bermakna sehingga memerlukan
bantuan luar biasa dari pihak luar (Depkes RI)
DEFINISI BENCANA
• Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bencana mempunyai arti sesuatu
yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian atau penderitaan.
Sedangkan bencana alam artinya adalah bencana yang disebabkan oleh alam
(Purwadarminta, 2006)
• Menurut Undang-Undang No.24 Tahun 2007, bencana adalah peristiwa atau
rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan
penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan atau
faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya
korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis. Bencana merupakan pertemuan dari tiga unsur, yaitu
ancaman bencana, kerentanan, dan kemampuan yang dipicu oleh suatu
kejadian.
JENIS BENCANA
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan,
dan tanah longsor.
2. Bencana non alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal
teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi
konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan
teror (UU RI, 2007).
Jenis Bencana Alam Berdasarkan Penyebabnya
Bencana Alam • Bencana alam yang disebabkan oleh
Geologis gaya-gaya dari dalam bumi
Bencana Alam • Bencana alam yang disebabkan oleh
Klimatologis perubahan iklim, suhu atau cuaca
Bencana alam • Bencana alam yang disebabkan oleh
ekstra-terestrial gaya atau energi dari luar bumi
Jenis Bencana Alam Berdasarkan Penyebabnya
Bencana Alam • Gempa bumi, tsunami, letusan gunung
berapi, longsor/gerakan tanah, amblesan
Geologis atau abrasi
Bencana Alam • Banjir, banjir bandang, angin puting
beliung, kekeringan, hutan (bukan oleh
Klimatologis manusia)
Bencana alam • Impact atau hantaman atau benda dari
ekstra-terestrial angkasa luar
Gempa Bumi
Jenis Bencana Alam Geologis
• Peristiwa pelepasan energi yang
menyebabkan dislokasi
(pergeseran) pada bagian dalam
bumi secara tiba-tiba.
• Hal ini menyebabkan kerusakan
dan runtuhnya bangunan, tanah
longsor, runtuhan batuan, dan
kerusakan tanah lainnya yang
merusak permukiman penduduk
sehingga dapat menimbulkan
korban jiwa.
• Gempa bumi juga menyebabkan
bencana ikutan berupa ,
kecelakaan industri dan
transportasi serta banjir akibat
runtuhnya bendungan maupun
tanggul penahan lainnya.
Tsunami
Jenis Bencana Alam Geologis
Gelombang laut dengan
periode panjang yang
ditimbulkan oleh gangguan
impulsif dari dasar laut.
Gangguan impulsif tersebut
bisa berupa gempa bumi
tektonik, erupsi vulkanik
atau longsoran. Kecepatan
tsunami yang naik ke
daratan (run-up) berkurang
menjadi sekitar 25-100
Km/jam dan ketinggian air.
Letusan Gunung Berapi
Jenis Bencana Alam Geologis
Merupakan bagian dari
aktivitas vulkanik yang dikenal
dengan istilah "erupsi”. Hampir
semua kegiatan gunung api
berkaitan dengan zona
kegempaan aktif sebab
berhubungan dengan batas
lempeng. Pada batas lempeng
inilah terjadi perubahan
tekanan dan suhu yang
sangat tinggi sehingga
mampu melelehkan material
sekitarnya yang merupakan
cairan pijar (magma).
Tanah Longsor
Jenis Bencana Alam Geologis
Merupakan salah satu
jenis gerakan massa
tanah atau batuan,
ataupun percampuran
keduanya, menuruni
atau keluar lereng
akibat dari
terganggunya
kestabilan tanah atau
batuan penyusun
lereng tersebut.
Banjir
Jenis Bencana Alam Geologis
• Banjir dimana suatu daerah dalam
keadaan tergenang oleh air
dalam jumlah yang begitu besar.
• Banjir bandang adalah banjir
yang datang secara tiba-tiba yang
disebabkan oleh karena
tersumbatnya sungai maupun
karena pengundulan hutan
disepanjang sungai sehingga
merusak rumah-rumah penduduk
maupun menimbulkan korban
jiwa.
APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK
MENGURANGI RESIKO BENCANA
TERSEBUT?
Serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana,
baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran
dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana.
Mitigasi bencana merupakan suatu aktivitas yang
berperan sebagai tindakan pengurangan dampak
bencana, atau usaha-usaha yang dilakukan untuk
mengurangi korban ketika bencana terjadi, baik
korban jiwa maupun harta.
MITIGASI BENCANA
ADALAH...
Tujuan Mitigasi :
• Mengurangi resiko/dampak yang ditimbulkan oleh
bencana khususnya bagi penduduk, seperti korban jiwa
(kematian), kerugian ekonomi (economy costs) dan
kerusakan sumber daya alam.
• Sebagai landasan (pedoman) untuk perencanaan
pembangunan.
• Meningkatkan pengetahuan masyarakat (public
awareness) dalam menghadapi serta mengurangi
dampak/resiko bencana, sehingga masyarakat dapat
hidup dan bekerja dengan aman (safe).
Kegiatan mitigasi bencana hendaknya merupakan kegiatan
yang rutin dan berkelanjutan (sustainable).
Hal ini berarti bahwa kegiatan mitigasi seharusnya sudah
dilakukan dalam periode jauh-jauh hari sebelum kegiatan
bencana, yang seringkali datang lebih cepat dari waktu-
waktu yang diperkirakan, dan bahkan memiliki intensitas
yang lebih besar dari yang diperkirakan semula.
KEGIATAN MITIGASI BENCANA DIANTARANYA
pengenalan dan pemantauan risiko bencana;
perencanaan partisipatif penanggulangan bencana;
pengembangan budaya sadar bencana;
penerapan upaya fisik, nonfisik, dan pengaturan penanggulangan bencana;
identifikasi dan pengenalan terhadap sumber bahaya atau ancaman bencana;
pemantauan terhadap pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan teknologi
tinggi
pengawasan terhadap pelaksanaan tata ruang dan pengelolaan lingkungan hidup
MITIGASI BENCANA TSUNAMI
Pencegahan : bencana ini tidak dapat dicegah namun
hanya bisa diminimalisir kerugian dan korban dari bencana.
secara fisik (struktural),berupa buatan maupun alami :
• pembuatan Break water (pemecah gelombang),
• sea wall (tembok laut),
• aritficial hill (bukit buatan)
• Mengenali jalur evakuasi
Mitigasi Bencana Gunung Berapi
Upaya memperkecil jumlah korban jiwa dan kerugian harta benda
akibat letusan gunung berapi, tindakan yang perlu dilakukan :
• Pemantauan,aktivitas gunung api dipantau selama 24 jam menggunakan alat
pencatatgempa (seismograf).
• Tanggap Darurat: mengevaluasi laporandan data, membentuk tim Tanggap Darurat,
mengirimkan tim ke lokasi,melakukan pemeriksaan secara terpadu
• Pemetaan, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung berapi dapat menjelaskanjenis dan sifat
bahaya gunung berapi, daerah rawan bencana, arahpenyelamatan diri, lokasi
pengungsian, dan pos penanggulangan bencana.
• Sosialisasi : petugas melakukan sosialisasi kepada Pemerintah Daerah serta masyarakat
terutama yang tinggal di sekitar gunung berapi. Bentuksosialisasi dapat berupa
pengiriman informasi kepada Pemda danpenyuluhan langsung kepada masyarakat.
MITIGASI GEMPA BUMI
• Dirikanlah bangunan (kantor, rumah dsb) sesuai dengan kaidah2 yang
baku.
• Kenalilah lokasi bangunan tempat anda tinggal atau bekerja, apakah tidak
berada pada patahan gempa atau tempat lain seperti rawan longsor dsb.
• Kenalilah jalur evakuasi. Beberapa daerah di Indonesia, khususnya daerah
rawan Tsunami, saat ini telah membangun jalur evakuasi ke tempat yang
lebih tinggi.
• Ikutilah Kegiatan simulasi mitigasi bencana gempa
Mitigasi Banjir
• Penataan daerah aliran sungai secara terpadu dan sesuai fungsi lahan.
• Pembangunan sistem pemantauan dan peringatan dini di bagian sungai
yang sering menimbulkan banjir.
• Tidak membangun rumah dan permukiman di bantaran sungai.
• Tidak membuang sampah ke dalam sungai dan rutin mengadakan program
pengerukan sungai.
• Penambahan biopori di bawah selokan
• Program penghijauan daerah hulu sungai harus selalu dilaksanakan,
dibarengi pengurangan aktivitas di bagian sungai rawan banjir
TERIMA KASIH