Demam Berdarah
Dengue
Pembimbing :
dr. Linda FDPH, [Link], [Link]
Disusun oleh:
dr. Friska Nur Ekasanti
RS KUSTA SUMBERGLAGAH
MOJOKERTO
2018
• Demam dengue (DD) dan demam berdarah dengue
(DBD) adalah penyakit yang dibebabkan oleh virus
dengue. Sindrom renjatan dengue (dengue shock
syndrome) adalah DBD disertai dengan renjatan/shock.
Definisi
• Indonesia adalah salah satu daerah endemis DBD. Dari data
tahun 1968-2007 diperoleh kecendrungan peningkatan insiden
DBD. Sejak tahun 2004, Indonesia merupakan negara dengan
laporan kasus infeksi virus dengue terbanyak .
• tahun 2015, tercatat terdapat sebanyak 126.675 penderita DD
di 34 provinsi di Indonesia, dan 1.229 orang di antaranya
meninggal dunia.
• Jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya,
yakni sebanyak 100.347 penderita DBD dan sebanyak 907
penderita meninggal dunia pada tahun 2014.
Epidemiologi
• virus dengue termasuk group B Arthropod borne virus (arbo
viruses), genus Flavivirus, famili Flaviviridae, mempunyai 4
jenis serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
• Dalam transmisi virus dengue terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi:
1. Vektor : nyamuk Aedes Aegypti.
2. Host : : ada penderita dilingkungan atau keluarga,
mobilisasi dan paparan terhadap nyamuk, usia dan jenis
kelamin
3. Ligkungan : curah hujan,suhu, sanitasi, dan kepadatan
penduduk.
Etiologi
• berdiam di daerah endemik dengue, perjalanan/wisata ke
daerah endemik dengue.
• dengue dengan stadium berat, antara lain : infeksi dengue
sebelumnya dengan serotipe yang lain, usia extrem
(sangat muda atau sangat tua), komorbiditas dengan
penyakit lain, virulensi strain virus tertentu
Faktor Resiko
Patofisiologi
Klasifikasi
Manifestasi
Klinis
Fase DBD
Fase kritis
• Pemeriksaan laboratorium untuk infeksi virus dengue
adalah :
1. Isolasi virus
2. Deteksi asam nukleat virus
3. Deteksi antigen virus
4. Deteksi serum respon imun/uji serologi serum imun
5. Analisis parameter hematologi
Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan
Lab
Diagnosis
Warning Signs
• Diagnosis klinis demam berdarah dengue dengan syok
(SSD)
• chikungunya
• campak, rubela, virus epstein-barr (EBV)
• demam tifoid
• penyakit riketsia
• malaria
• leptospirosis
DD
Penatalaksanaan
Group A Group B Group C
Lanjutan ..
Syok kompensasi pada dewasa
Syok kompensasi pada bayi dan anak
Syok dekompensasi (profound shock, hypotensive: nadi dan
tensi tidak terukur) pada bayi, anak dan dewasa
• Tampak perbaikan secara klinis
• Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik
• Tidak dijumpai distress pernafasan (efusi pleura atau
asidosis)
• Hematokrit stabil
• Jumlah trombosit cendrung naik > 50.000/nl
• Tiga hari setelah syok teratasi
• Nafsu makan membaik
Kriteria Memulangkan Pasien
• Infeksi primer dengan demam dengue biasanya sembuh
sendiri
• DBD/DSS: mortalitasnya tinggi
• Laporan sebelumnya menunjukkan prognosis dan
perjalanan penyakit pada dewasa lebih ringan pd anak-
anak.
Prognosis
Tinjauan Kasus
Identitas Pasien
• Nama : Ny. RS
• Jenis kelamin : Perempuan
• Usia : 33 th
• Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
• Alamat : Sendang, Penanggungan, Trawas,
Mojokerto
• Tanggal MRS : 12 September 2018 jam 15.30
Anamnensis
• Keluhan utama : Panas badan
RPS :
• Panas badan sejak 5 hari yang lalu sebelum MRS, panas badan dirasakan tinggi di awal
kemudian naik turun dan memberat saat malam. Mimisan (-), gusi berdarah (-), ruam
merah baru keluar 1 hari ini di bagian tangan dan kaki, mual (+), muntah (+), nyeri kepala
(+), batuk (-), pilek (-), nyeri perut (-), tetangga dekat rumah ada yang tekena DBD (+),
mata berwarna kuning (-), nafsu makan berkurang namun masih mau minum, BAK terakhir
2 jam yang lalu, BAK terakhir 1 hari yang lalu, konsistensi padat, warna kecoklatan, darah
(-), riwayat berpergian ke luar pulau dekat ini (-)
RPD :
• Sakit seperti ini (-)
• HT & DM disangkal
• gastritis (-)
• minum jamu-jamuan (-), obat-obat pegalinu (-), alkohol (-)
• Alergi (-)
RPK :
• Sakit seperti ini (-),
• tetangga dekat rumah ada yang tekena DBD (+)
• DM (-)
• HT (-)
RPSos:
• Pasien adalah seorang ibu rumah tangga, tinggal di perkampungan dekat dengan sawah dan
kebun.
Pemeriksaan Fisik: K/L
• KU : lemah, Compos Mentis, • a/i/d/c : -/-/-/-, pembesaran KGB (-),
JVP tidak meningkat
GCS : 456 Thoraks
• BB : 52 kg • Pulmo: Normochest, gerak nafas
simetris, Sonor, ves/ves, Ro -/-, Whz -/-
• TB : 156 cm
• Cor : S1 dan S2 tunggal reguler,
Vital Sign murmur (-), gallop (-)
• TD : 110/60 mmHg Abdomen
• Flat, BU (+) normal, NT (-), timpani, H
• N : 82x/menit, kuat teraba 1 jari/L/R tidak teraba
• RR : 18x/menit Ekstremitas
• Akral hangat, kering, merah, CRT < 2
• Suhu : 37,4°C dtk, edema (-)
• Rumple leed test (+), ruam
makulopapular (+) regio antebrahii
D/S, cruris D/S
Diagnosis Kerja
• Demam Berdarah Dengue
Hasil Pemeriksaan Laboratorium
(DBD) hari ke 5
Laboratorium (tgl 12 September 2018)
Diagnosis Banding
• Hb: 15,8 g/dl
• Demam Dengue
• Leukosit: 4.000/mm3
• Hematokrit: 44,7 % Penatalaksanaan
• Trombosit: 34.000/mm3 • Infus NaCl 0,9% 20 tpm
• LED: 5/10 • Inj. Methylprednisolone
• Creatinin: 0,65mg/dl 2x62,5 mg
• SGOT/ SGPT: 93/39 • Inj. Ranitidin 2x1 amp
• Inj ondansetron 3x4 mg
• GDA: 116,13 mg/dl
• Paracetamol tab 3x500 mg
• PSIDII 3x1
• DL Serial
• Perempuan, 33 thn
• Panas badan sejak 5 hari yang lalu sebelum MRS, panas badan dirasakan tinggi di awal
kemudian naik turun dan memberat saat malam
• Mimisan (-), gusi berdarah (-), ruam merah baru keluar 1 hari ini di bagian tangan dan kaki
• mual (+)
• muntah (+)
• nyeri kepala (+)
• tetangga dekat rumah ada yang tekena DBD (+)
• nafsu makan berkurang namun masih mau minum
• BAK terakhir 2 jam yang lalu , BAB terakhir 1 hari yang lalu, konsistensi padat, warna kecoklatan,
darah (-)
• Pemeriksaan fisik :
• ruam makulopapular (+) regio antebrahii D/S, cruris D/S, Rumple leed (+), hepatomegali
• Laboraturium (tgl 12/09/18)
• Leu 4.000/mm3, Hct 44,7 %, Tromb 34.000/mm3, SGOT/ SGPT: 93/39
• Laboraturium (tgl 13/09/18)
• Leu 5.000/mm3, Hct 39,2 %, Tromb 58.000/mm3
• Laboraturium (tgl 14/09/18)
• Leu 7.200/mm3, Hct 36,5 %
• Tromb 118.000/mm3
• Terapi
• Infus NaCl 0,9% 20 tpm
• [Link] 2x62,5 mg
• Inj Ranitidin2x1 amp
• Inj ondansetron3x4 mg
• Paracetamol tab 3x500 mg
• PSIDII 3x1
Diagnosis
Pemberian NaCl 0,9% 20 tpm
• Periksa hematokrit sebelum terapi cairan intravena dimulai. Berikan hanya larutan
isotonik seperti 0,9% saline, Ringer laktat atau larutan Hartmann. Mulai dengan 5−7
ml/kg/jam selama 1−2 jam, kemudian kurangi menjadi 3−5 ml/kg/jam selama 2−4 jam,
dan kemudian kurangi menjadi 2−3 ml/kg/jam atau kurang sesuai dengan respon klinis.
• Menilai kembali status klinis dan mengulang hematokrit. Jika hematokrit tetap sama atau
hanya naik minimal, lanjutkan dengan laju yang sama (2−3 ml / kg / jam) selama 2-4 jam
lagi. Jika tanda-tanda vital memburuk dan hematokrit meningkat dengan cepat, tingkatkan
menjadi 5−10 ml / kg / jam selama 1−2 jam. Menilai kembali status klinis, ulangi
hematokrit dan tinjau tingkat infus cairan yang sesuai.
• Berikan volume cairan intravena minimum yang diperlukan untuk mempertahankan
perfusi yang baik dan output urin sekitar 0,5 ml / kg / jam. Cairan intravena biasanya
diperlukan hanya 24−48 jam. Kurangi cairan intravena secara bertahap ketika tingkat
kebocoran plasma menurun menjelang akhir fase kritis. Ini ditunjukkan oleh output urin
dan / atau asupan cairan oral membaik, atau hematokrit menurun di bawah nilai baseline
pada pasien yang stabil (WHO, 2012).
Pemberian Methylprednisolone 2x62,5 mg
• Penggunaan steroid tidak direkomendasikan oleh WHO untuk digunakan
terapi pasien dengue. Steroid adalah faktor resiko terjadinyastress
ulseratif dan perdarahan saluran cerna atas pada pasien fase kritis. (WHO,
2012)
• Saat ini tidak ada bukti yang kuat untuk mendukung efek menguntungkan
dari kortikosteroid untuk pengobatan syok, mencegah komplikasi serius
atau meningkatkan jumlah trombosit (Rajapakse S, 2014)
• Dosis tunggal methylprednisolone mencegah perkembangan demam
dengue dengan tanda-tanda peringatan ke DHF / DSS, memungkinkan
peningkatan jumlah trombosit yang lebih tinggi, menyebabkan resolusi
tanda alarm lebih dini, mengurangi durasi masa tinggal hosptal dan juga
menurunkan kebutuhan transfusi trombosit (Bhalla A et al, 2014)
Pemberian ranitidine dan ondansetron untuk mengurangi gejala
simptomatis mual dan muntah
Paracetamol tab 3x500 mg
• Beri parasetamol untuk demam tinggi jika pasien tidak nyaman. Dosis
yang dianjurkan adalah 10 mg / kg / dosis, tidak lebih dari 3−4 kali 24
jam pada anak-anak dan tidak lebih dari 3g/hari pada orang dewasa).
Kompres dengan air hangat jika pasien masih demam tinggi (WHO,
2012).
PSIDII 3x1
• PSIDII ekstrak daun jambu secara signifikan dapat meningatkan
trombosit pada kasus DBD (Soegijanto, 2010).