0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
149 tayangan43 halaman

Saluran Pengaduan Kecurangan Akuntansi

Dokumen tersebut membahas tentang fraud atau kecurangan, yang dijelaskan sebagai tindakan penipuan yang disengaja untuk merugikan pihak lain demi keuntungan pribadi. Dokumen tersebut menjelaskan berbagai jenis fraud seperti fraud laporan keuangan, penyalahgunaan aset, dan korupsi. Selain itu, dibahas pula faktor-faktor risiko terjadinya fraud dan cara-cara fraud dilakukan, seperti salah pernyata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
149 tayangan43 halaman

Saluran Pengaduan Kecurangan Akuntansi

Dokumen tersebut membahas tentang fraud atau kecurangan, yang dijelaskan sebagai tindakan penipuan yang disengaja untuk merugikan pihak lain demi keuntungan pribadi. Dokumen tersebut menjelaskan berbagai jenis fraud seperti fraud laporan keuangan, penyalahgunaan aset, dan korupsi. Selain itu, dibahas pula faktor-faktor risiko terjadinya fraud dan cara-cara fraud dilakukan, seperti salah pernyata
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PPT, PDF, TXT atau baca online di Scribd

FRAUD

Oleh:
Dr. Eindye Taufiq, Ak, CA

DISAMPAIKAN PADA KULIAH “ AKUNTANSI FORENSIK DAN FRAUD AUDIT”


UPN “VETERAN’ JAKARTA
JAKARTA
2017
Pendahuluan

 Fraud telah lama berkembang di berbagai negara,


termasuk Indonesia. Salah satu bentuk kecurangan
akuntansi yang terbesar yang terjadi di dunia adalah kisah
Enron dan Worldcom.

 Indonesia sendiri tidak dapat dipungkiri sebagai salah satu


negara yang juga banyak melakukan praktik kecurangan.
Great River, Fiskaragung Perkasa, Asian Agri, Kimia
Farma,dll
Pengertian Fraud
Fraud sering diterjemahkan sebagai kecurangan. Webster’s
New Dictionary mendefinisikannya dalam artian yang luas
sebagai suatu pembohongan atau penipuan yang dilakukan
demi keuntungan pribadi.
Fraud merupakan sarana yang dapat direncanakan oleh
manusia yang menggunakan kecerdasannya untuk
mengambil keuntungan dari pihak lainnya dengan memberi
saran yang menyesatkan atau menutupi kebenaran.
Pengertian Fraud
Fraud (kecurangan) merupakan penipuan yang disengaja
dilakukan yang menimbulkan kerugian tanpa disadari oleh
pihak yang dirugikan tersebut dan memberikan keuntungan
bagi pelaku kecurangan. Kecurangan umumnya terjadi
karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan
atau dorongan untuk memanfaatkan kesempatan yang ada
dan adanya pembenaran (diterima secara umum) terhadap
tindakan tersebut.
Pengertian Fraud

Biasanya kecurangan mencakup tiga langkah yaitu (1)


tindakan/the act., (2) Penyembunyian/theconcealment dan
(3) konversi/the conversion Misalnya pencurian atas harta
persediaan adalah tindakan, kemudian pelaku akan
menyembunyikan kecurangan tersebut misalnya dengan
membuat bukti transaksi pengeluaran fiktif. Selanjutnya
setelah perbuatan pencurian dan penyembunyian
dilakukan, pelaku akan melakukan konversi dengan cara
memakai sendiri atau menjual persediaan tersebut.
 .
Jenis-Jenis Fraud
Association of Certified Fraud Examinations (ACFE- 2000),
mengkategorikan kecurangan dalam tiga kelompok sebagai
berikut:

1. Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement


Fraud), Kecurangan Laporan Keuangan dapat didefinisikan
sebagai kecurangan yang dilakukan oleh manajemen
dalam bentuk salah saji material Laporan Keuangan yang
merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat
bersifat financial atau kecurangan non financial.
Jenis-Jenis Fraud
2. Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation),
Penyalahagunaan aset dapat digolongkan ke dalam
‘Kecurangan Kas’ dan ‘Kecurangan atas Persediaan dan Aset
Lainnya’, serta pengeluaran-pengeluaran biaya secara curang
(fraudulent disbursement).

3. Korupsi (Corruption), Korupsi dalam konteks pembahasan ini


adalah korupsi menurut ACFE, bukannya pengertian korupsi
menurut UU Pemberantasan TPK di Indonesia. Menurut ACFE,
korupsi terbagi ke dalam pertentangan kepentingan (conflict of
interest), suap (bribery), pemberian illegal (illegal gratuity), dan
pemerasan (economic extortion).
Risk Factor for Fraudulent Financial Reporting
Three Conditions of Fraud
Incentives/Pressures Opportunities Attitude/Rationalization
Manajemen atau karyawan Keadaan yang membuka Suatu sikap, karakter, atau
mempunyai dorongan atau kesempatan bagi manaje- satuan nilai-nilai etis yang
tekan salah melaporkan men atau karyawan utk membuat manajemen atau
keuangan. salah melaporkan karyawan dengan sengaja
keuangan. melakukan suatu tindakan
yang tak jujur, atau suatu
lingkungan yang memaksa
mereka untuk merasional-
kan suatu tindakan yang tak
jujur.
Risk Factor for Fraudulent Financial Reporting
Examples of Risk Factors Examples of Risk Factors Examples of Risk Factors
Stabilitas atau profitabilitas Estimasi akuntansi yang penting Komunikasi yang tidak sesuai atau
keuangan terancam oleh kondisi- melibatkan judge-ment subjektif tidak efektip dan didukung dari nilai-
kondisi ekonomi, industri, atau atau ketidak-pastian yang sukar nilai entitas.
operasi perusahaan. Contoh: ke- untuk diverifikasi. Mengenal sejarah tentang
munduran permintaan pelanggan Ketidak efektifan board of director pelangaran hukum surat berharga
dan meningkat-nya kegagalan atau komite audit salah atas atau hukum dan peraturan lainnya.
bisnis dalam industri manapun laporan keuangan Praktek manajemen yang membuat
atau keseluruhan ekonomi. Tingginya perputaran atau ketidak peramalan (forecast) sangat agresif
Tekanan berlebihan bagi efektifan staf akuntansi, internal serta tidak realistis, untuk analis,
manajemen memenuhi audit, atau teknologi informasi kreditur, dan pihak ketiga.
pembayaran kembali hu-tang atau
persyaratan persetujuan hutang
lainnya.
Kekayaan neto pribadi manajemen
atau dewan direktur secara
material terancam.
Risk Factor for Fraudulent Misappropriation of Asset

Three Conditions of Fraud

Incentives/Pressures Opportunities Attitude/Rationalization


Manajemen atau karyawan Keadaan yang membuka Suatu sikap, karakter, atau
mempunyai dorongan atau kesempatan bagi manaje- satuan nilai-nilai etis yang
tekanan untuk mengelap- men atau karyawan utk membuat manajemen atau
kan asset mengelapkan asset karyawan dengan sengaja
melakukan suatu tindakan
yang tak jujur, atau suatu
lingkungan yang memaksa
mereka untuk merasional-
kan suatu tindakan yang tak
jujur.
Risk Factor for Fraudulent Misappropriation of Asset

Examples of Risk Factors Examples of Risk Factors Examples of Risk Factors


Kewajiban keuangan pribadi Keberadaaan sejumlah besar kas Tak mengindahkan kebutu-han
menimbulkan tekanan pada akses di tangan atau item-item inventori untuk memonitor atau mengurangi
untuk menguangkan atau aktiva kecil yang memiliki nilai dan/atau resiko karena penggelapan asset.
yang rentan lainnya dicuri dengan permintaan yang tinggi. Tak mengindahkan internal kontrol
menggelapkan asset itu. Pengawasan intern yang tidak dengan penolakan kontrol atau
Hubungan yang kurang baik antara cukup atas asset sehubungan kelemahan yang ada untuk
manajemen dan karyawan yang dengan ketiadaan hal berikut: mengoreksi defisiensi internal
memiliki akses ke asset yang - Pemisahan yang se-suai kontrol yang dikenal.
rentan dicuri memotivasi berkenaan de-ngan tugas-
karyawan untuk menyelewengkan tugas atau cek yang
asset itu. Contoh meliputi hal independent.
berikut: - Aplikasi penyaringan
- Mengenali atau mengira pekerjaan bagi kar-yawan
karyawan yang diber-hentikan yang mempu-nyai akses ke
sementara. asset.
- Promosi, ganti-rugi, atau - Kewajiban berlibur un-tuk
penghargaan lain yan tidak karyawan yang mempunya
konsisten dengan harapan. akses ke asset.
Condition of Fraud
Karakteristik Fraud
Dilihat dari pelaku fraud maka secara garis besar kecurangan bisa
dikelompokkan menjadi dua jenis :
1. Oleh pihak perusahaan, yaitu :
 Manajemen untuk kepentingan perusahaan, yaitu salah saji
yang timbul karena kecurangan pelaporan keuangan
(misstatements arising from fraudulent financial reporting).
 Pegawai untuk keuntungan individu, yaitu salah saji yang
berupa penyalahgunaan aktiva (misstatements arising from
misappropriation of assets).
2. Oleh pihak di luar perusahaan, yaitu pelanggan, mitra usaha,
dan pihak asing yang dapat menimbulkan kerugian bagi
perusahaan.
Bentuk-Bentuk Kecurangan
 intentional misrepresentation: memberi saran bahwa sesuatu itu
benar, padahal itu salah, oleh seseorang yang mengetahui bahwa itu
salah.
 negligent misrepresentation: pernyataan bahwa sesuatu itu salah
oleh seseorang yang tidak mempunyai dasar yang kuat untuk
menyatakan bahwa itu betul.
 membocorkan kepada pihak lain, sesuatu yang seharusnya
dirahasiakan. Misalnya memberikan inside information dipasar
modal.
Bentuk-Bentuk Kecurangan
 false promises- suatu janji yang diberikan tanpa keinginan untuk
memenuhi janji tersebut.
 employee fraud - kecurangan yang dilakukan seorang pegawai
untuk menguntungkan dirinya sendiri. Hal ini banyak kita jumpai
dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari office boy yang "memainkan"
bon pembelian makanan sampai pegawai yang memasukkan
entertainment expenses untuk keluarga sebagai biaya perusahaan.
Bentuk-Bentuk Kecurangan
 management fraud - kecurangan yang dilakukan oleh manajemen
sehingga merugikan pihak lain, termasuk pemerintah. Misalnya
manipulasi pajak, manipulasi kredit bank, kontraktor yang
menggunakan "cost plus fee".
 organized crime - kejahatan yang terorganisir, misalnya pemalsuan
credit card, pengiriman barang melebihi atau kurang dari yang
seharusnya dimana si pelaksana akan mendapat bagian 10%.
Bentuk-Bentuk Kecurangan
 computer crime - kejahatan dengan memanfaatkan teknologi
komputer, sehingga si pelaku bisa mentransfer dana dari rekening
orang lain ke rekeningnya sendiri (pernah dilakukan WNI di
Amerika). Skema Kecurangan Dengan Komputer mencakup :
pencurian, kesalahan, atau penyalahgunaan aset dengan cara
mengubah record file, menguping (eavesdropping),

 white collar crime - kejahatan yang dilakukan orang-orang berdasi


(kalangan atas), misalnya mafia tanah, paksaan secara halus untuk
merger dan lain-lain.
Penyebab Terjadinya Kecurangan
1. Kelemahan pengendalian intern :
 tidak adanya job description sehingga terjadi perangkapan tugas.
 kurang baiknya sistem otorisasi.
 tidak berfungsinya bagian internal audit
 kurangnya pegawai yang kapable
 tidak adanya rotation of duties.
2. Adanya conflict of interest dari pejabat perusahaan.
3. Perusahaan tidak mempunyai kebijakan tertulis mengenai "fair
dealing".
4. Adanya pegawai dan pejabat perusahaan yang tidak jujur.
Penyebab Terjadinya Kecurangan
4. Manajemen terlalu yakin bahwa orang kepercayaannya tidak
mungkin berbuat curang, padahal justru sering terjadi bahwa orang
kepercayaan tersebut yang melakukan kecurangan.
5. Terlalu beratnya target yang ditentukan top manajemen, sehingga
manajer pelaksana cenderung untuk melaporkan hasil kerja yang
lebih baik dari yang sebenarnya.
6. Bonus yang didasarkan pada performance akan menggoda manajer
pelaksana untuk melakukan window dressing pada laporan
divisinya.
Profil Pelaku Fraud
 Berbohong, mencuri dan perilaku curang akan cenderung meningkat
bila karyawan memiliki tekanan kerja yang berat
 Lemahnya pengendalian dan pengawasan akan menciptakan
potensi orang atau karyawan untuk melakukan perilaku curang
 Karyawan yang memiliki tingkat ketidakpuasan yang tinggi terhadap
suatu organisasi atau perusahaan berpotensi berperilaku curang
 Karyawan yang berpengalaman lama pada kegiatan operasional
perusahaan umumnya lebih mengetahui tentang celah dari rantai
aktivitas tersebut dan memiliki kecenderungan berperilaku curang
 Karyawan yang memiliki hubungan yang dekat dengan pihak luar,
khususnya pelanggan dan pemasok berpotensi melakukan fraud
Profil Pelaku Fraud
Ada beberapa alasan bagi karyawan yang melakukan tindakan fraud,
yaitu :
1. Karyawan percaya bahwa mereka dapat pergi dengan hasil fraud
tersebut
2. Karyawan memiliki kecenderungan untuk berpikir bahwa
perusahaan memiliki asset yang besar, dan mencuri sedikit tentulah
tidak akan merugikan perusahaan secara material
3. Kecenderungan karyawan untuk berpikir bahwa semua orang ingin
mencuri, lalu kenapa dia juga tidak melakukan hal yang sama
4. Karyawan merasa frustasi atau tidak menyukai sesuatu terkait
dengan aturan atau kebijakan perusahaan
No Tipe Fraud Korban Pelaku Keterangan
1 Penggelapan oleh karyawan Owners Karyawan Karyawan secara langsung dan tidak
atau penyalahgunaan jabatan langsung melakukan pencurian atas
asset perusahaan, ex : cash,
persediaan

2 Kecurangan oleh manajemen Pemegang Saham dan Top Management Melakukan penipuan dan
perusahaan (management fraud) pemangku kepentingan penyesatatn informasi, ex ; dalam
(Shareholders) laporan keuangan dengan cara
overstatement piutang dan penjualan

3 Kecurangan yang dilakukan oleh Perusahaan yang Pemasok yang menjual Pemasok mengganti kualitas barang
pemasok membeli barang dari ke barang perusahaan atau jasa dengan mutu yang lebih
pemasok rendah tetapi dengan tagihan yang
barang yang berkualitas

4 Skema kecurangan dalam Investor Individual Melakukan penipuan investasi


investasi dengan menjanjikan nilai
keuntungan yang tidk rasional, ex :
investasi pada ponzi dan madoff
Organizational Factors Contributing to Risk of Fraud

Collusion between 48
employees and 31
third parties 33
Inadequate 39
internal 58
controls 59
Management 31
override of 36
internal controls 36

2003 1998 1994


Organizational Factors Contributing to Risk of Fraud

Collusion between 15
employees and 19
management 23
Lack of control 12
over management 11
be directors 6
Ineffective or 10
nonexistent ethics 8
or compliance program 7

2003 1998 1994


Rates of Fraud Occurrence

Theft of assets 49
22
Check fraud 40
26
Expense account abuse 36
13
Credit card fraud 20
13
Payroll fraud 12
3

2003 1998
Rates of Fraud Occurrence

Conflict of interest 12
9
Inventory theft 11
11
Kickbacks 9
6
Financial reporting 7
fraud 3

2003 1998
Methods of Uncovering Fraud

77%
Internal controls 51%
52%
65%
Internal audit 43%
47%
63%
Notification
58%
by employee 51%

2003 1998 1994


Methods of Uncovering Fraud

54%
Accident 37%
28%
41%
Anonymous tip 35%
26%
34%
Notification
41%
by customer 34%

2003 1998 1994


Methods of Uncovering Fraud

Notification by 19%
regulatory or law 16%
enforcement agency 8%

Notification 16%
11%
by vendor
15%
12%
External audit 4%
5%

2003 1998 1994


Pengungkapan Fraud
Berdasarkan survei ACFE report to the nation 2008, sebagian
besar kasus fraud atau korupsi terbongkar berawal dari tip atau
informasi yang diberikan secara sembunyi-sembunyi. Urutan
sumber informasi untuk membongkar fraud dan korupsi :
1. Tip (artinya informasi yang diberikan secara sembunyi-
sembunyi)
2. Tidak sengaja ketahuan
3. Internal audit
4. Internal kontrol
5. Eksternal audit
Pengungkapan Fraud
Terkait dengan tip, Sarbanes Oxley Act (SOX, SOA, atau SarbOx)
Section 301 mengharuskan Komite Audit untuk :
1. Membuat prosedur untuk menerima, menyimpan, dan
menindaklanjuti komplain atau pengaduan yang disampaikan
terkait dengan masalah-masalah akuntansi dan audit dalam
perusahaan.
2. Membuat mekanisme penyampaian komplain atau pengaduan
(mengenai permasalahan akuntansi, audit, dll.) secara anonim
dan terjaga kerahasiaannya.
Pengungkapan Fraud
Terkait dengan tip, Sarbanes Oxley Act (SOX, SOA, atau SarbOx)
Section 301 mengharuskan Komite Audit untuk :
1. Membuat prosedur untuk menerima, menyimpan, dan
menindaklanjuti komplain atau pengaduan yang disampaikan
terkait dengan masalah-masalah akuntansi dan audit dalam
perusahaan.
2. Membuat mekanisme penyampaian komplain atau pengaduan
(mengenai permasalahan akuntansi, audit, dll.) secara anonim dan
terjaga kerahasiaannya.
Cara membuat sistem untuk mengelola tip yang efektif yaitu dengan
menggunakan saluran hotline atau whistleblower system. Istilah
whistleblower (peniup peluit) ini sendiri merupakan sebutan untuk pihak-
pihak yang memberikan tip atau informasi secara rahasia mengenai
fraud dan korupsi.
Pengungkapan Fraud
 Di Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG)
mengeluarkan Pedoman Sistem Pelaporan Pelanggaran atau
Whistleblowing System (WBS).
 Panduan ini secara generik dibuat agar institusi bisnis atau
pemerintahan dapat secara efektif mendorong partisipasi masyarakat
dan karyawan perusahaan untuk lebih berani bertindak mencegah
kecurangan dan korupsi dengan melaporkan kepada pihak yang
menangani.
Pengungkapan Fraud
Beberapa saran untuk membuat hotline atau whistleblower system
yang efektif menurut AICPA :
1. Idealnya dilakukan oleh pihak independen di luar perusahaan.
Tujuannya untuk meningkatkan persepsi mengenai kerahasiaan
dan anonimitas pelaporan (karena seorang whistleblower rentan
terhadap pembalasan atau retaliation dari pihak-pihak yang
dilaporkan).
2. Komplain dan keluhan yang disampaikan melalui telepon
sebaiknya dijawab oleh staf yang menguasai teknik wawancara,
bukan hanya dengan menggunakan penjawab otomatis (voice
mailbox).
Pengungkapan Fraud
Beberapa saran untuk membuat hotline atau whistleblower system
yang efektif menurut AICPA :
3. Sistem hotline atau whistleblower system harus aktif secara
terus-menerus (selama 24 jam, 365 hari dalam setahun).
Tujuannya supaya orang dapat melapor kapanpun saat dia
punya kesempatan (banyak laporan yang diberikan di luar jam
kerja karena takut diketahui orang lain atau pelaku fraud/korupsi
tersebut).
4. Menerapkan beragam media pelaporan hotline atau
whistleblower system, seperti telepon, website/situs internet,
alamat email, fax, dan surat pos. Ini supaya pelapor fraud dan
korupsi bisa melapor dengan cara yang dianggapnya paling
nyaman dan menjamin kerahasiaan identitasnya.
Contoh Kasus Fraud
 Contoh Transaction Fraud
Karyawan yang telah dikeluarkan dari perusahaan
tetap dimasukkan dalam daftar gaji oleh supervisor
langsungnya. Setiap minggu, supervisor tersebut
menyerahkan kartu waktu kerja ke bagian
penjualan seolah-olah karyawan tersebut masih
bekerja. Istilah ini biasa disebut dengan “ghost
employee”
Contoh Kasus Fraud
 PT. A memesan 1.000 unit barang X kwalitas I dari supplier B
dengan harga Rp. 100.000 per unit.

 Ada 2 (dua) kemungkinan yang terjadi ;

1. Barang yang dikirim 1.000 unit barang X kwalitas II dengan


harga seharusnya Rp. 90.000 per unit. Bagian gudang PT. A
akan membuat laporan penerimaan barang yang menyebutkan
menerima 1.000 unit barang X kwalitas I dan supplier B akan
tetap menagih dan dibayar sebesar Rp. 100.000.000.
Contoh Kasus Fraud
2. Supplier B mengirim 900 unit barang X kwalitas I, tetapi bagian
gudang PT. B akan membuat laporan penerimaan barang
sebanyak 1.000 unit barang X kwalitas I dan menagih serta
dibayar Rp. 100.000.000. Selisih Rp. 10.000.000 akan dibagi-
bagi diantara mereka.

Cara kedua lebih sulit dideteksi jika jenis barang PT. A sangat
banyak dan pencatatan persediaan menggunakan physical
system.
Contoh Kasus Fraudulent Statement
PT Bank Century, Tbk
 Penggelapan Dana Nasabah sebesar Rp 1,7 milyar. Pembobolan
terhadap rekening milik nasabah (Sl) dilakukan sejak bulan April s/d
Desember 2005. Pelaku FY (teller) memperoleh informasi dari
customer service (EA),mengenai data nasabah yang memiliki saldo
nominal besar, sering melakukan setoran namun jarang melakukan
penarikan
 CS menyuruh FY melakukan penarikan melalui menu Cross Covery
Payment (CCP) yaitu fasilitas yang tersedia pada sistem bank untuk
melakukan penarikan tanpa menggunakan slip penarikan.
Contoh Kasus Fraudulent Statement
PT Bank Century, Tbk
 Penarikan melalui menu CCP dilakukan sebanyak 29 kali dan
penggelapan setoran nasabah sebanyak 2 kali . Pelaku (Teller)
memanfaatkan sistem penarikan tanpa menggunakan slip (Cross
Covery payment), untuk menggelapkan dana nasabah . Teller (FY)
melakukan penarikan dana milik Sl dengan menu CCP &
menyalahgunakan password dari Rs (asisten head teller) dan juga Mr
sebagai head teller. Setiap pengambilan dana rekening nasabah
diverifikasi oleh Mr sebagai head teller.
 Kasus terungkap setelah nasabah ingin melakukan penarikan, dana
nasabah tersebut tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya,
nasabah menyimpan bukti slip setoran yang telah disetor namun tidak
dicatat dalam rekening nasabah oleh teller, Nasabah mendapat
statement account fiktif
Pencegahan Fraud
 Corporate Governance dilakukan oleh manajemen yang
dirancang dalam rangka mengeliminasi atau setidaknya
menekan kemungkinan terjadinya fraud. Corporate
governance meliputi budaya perusahaan, kebijakan-
kebijakan, dan pendelegasian wewenang.
 Transaction Level Control Process yang dilakukan oleh
auditor internal, pada dasarnya adalah proses yang lebih
bersifat preventif dan pengendalian yang bertujuan untuk
memastikan bahwa hanya transaksi yang sah, mendapat
otorisasi yang memadai yang dicatat dan melindungi
perusahaan dari kerugian
Pencegahan Fraud
 Retrospective Examination yang dilakukan oleh Auditor
Eksternal diarahkan untuk mendeteksi fraud sebelum
menjadi besar dan membahayakan perusahaan.
 Investigation and Remediation yang dilakukan forensik
auditor. Peran auditor forensik adalah menentukan
tindakan yang harus diambil terkait dengan ukuran dan
tingkat kefatalan fraud, tanpa memandang apakah fraud
itu hanya berupa pelanggaran kecil terhdaap kebijakan
perusahaan ataukah pelanggaran besar yang berbentuk
kecurangna dalam laporan keuangan atau
penyalahgunaan aset.

Anda mungkin juga menyukai