ISPS CODE PRESENTATION
Latar Belakang
Dalam dunia kemaritiman, keselamatan dan keamanan sangat erat
kaitannya.
Didesak oleh kejadian nyata dengan adanya serangan teroris pada
VLCC berbendera Perancis ([Link]) di Yaman, kejadian-
kejadian keamanan seperti tragedi WTC atau bom Bali, mendorong
IMO melalui MSC mengamandemen SOLAS’74 untuk mempertinggi
keamanan kapal-kapal dan fasilitas-fasilitas pelabuhan.
Sebagai tambahan, untuk menyempurnakan SOLAS Bab XI-12,
Konvrensi Diplomatik juga menyepakati suatu aturan internasional
yang baru mengenai Keamanan kapal-kapal dan fasilitas-fasilitas
Pelabuhan atau Internasional Code for the Security of Ships and of
Port Facilities (ISPS-Code).
Perubahan-perubahan dan persyaratan-persyaratan tersebut akan
berlaku efektif 1 Juli 2004.
Tujuan :
1. Membangun suatu kerangka kerja sama internasional mencakup
Pemerintah terkait, Perwakilan Pemerintah, Badan Administrasi Lokal,
Perkapalan dan Industri Kepelabuhan dengan maksud mendeteksi
ancaman-ancaman keamanan dan mengambil langkah-langkah
pencegahan menghadapi kejadian-kejadian keamanan yang dapat
mempengaruhi kapal-kapal atau fasilitas pelabuhan yang terlibat
dalam perdagangan internasional.
2. Menentukan peran masing-masing dan tanggung jawab Pemerintah
terkait, Perwakilan Pemerintah, Badan Administrasi Lokal dan Industri
Perkapalan serta Kepelabuhan pada tingkat nasional dan
internasional untuk menjamin keamanan maritim.
3. Untuk menjamin pengoleksian awal dan efektifitas dari pertukaran
informasi mengenai keamanan.
4. Menyiapkan suatu metoologi bagi penilaian keamanan dengan begitu
dapat dimiiki suatu rencana-rencana dan prosedur-prosedur
keamanan sesuai tempatnya untuk bereaksi pada pertukaran
tingkatan keamanan.
5. Meyakinkan bahwa ukuran-ukuran keamanan maritim yang
sebanding ada pada tempatnya.
Dasar
Persyaratan Internasional
1. SOLAS Bab XI-2
Ukuran-ukuran khusus untuk mempertinggi keamanan maritim
2. Konvrensi Diplomatik mengakui suatu Aturan Internasional
yang baru bagi keamanan kapal-kapal dan fasilitas pelabuhan.
“International Code for The Security of Ships and Port
Facilities” (ISPS Code).
2.1 Pemenuhan bagian A, bersifat mandatori
2.2 Bagian B, panduan mengaplikasikan persyaratan SOLAS yang
baru dengan Bagian A aturan ISPS.
Pemberlakuan
SOLAS Bab XI-2 dan Bagian A aturan ISPS, diberlakukan
untuk :
1. Kapal-kapal penumpang, termasuk kapal penumpang
cepat
2. Kapal-kapal muatan termasuk kapal cepat 500 GT (>)
3. Pengeboran lepas pantai yang dapat berpindah-pindah
4. Fasilitas pelabuhan yang melayani pelayaran-pelayaran
internasional
Manajemen Keamanan
-TUJUAN :
Memberi kontribusi bagi persiapan menghadapi aksi-aksi
ilegal terhadap kapal, awaknya dan penumpang dengan
mengacu pada :
SOLAS Bab XI-2 dan aturan Internasional bagi keamanan
kapal dan pelabuhan
Panduan keamanan kapal versi American Bureau of Shipping
Komitmen
- Perusahaan harus menjamin bahwa rencana keamanan kapal
berisi pernyataan yang jelas mengenai otoritas Nakhoda.
- Perusahaan memuat dalam rencana keamanan kapal, bahwa
Nakhoda memiliki “Overriding Authority” dan tanggung jawab
memutuskan hal-hal yang menyangkut keamanan kapal,
meminta bantuan Perusahaan (lain) atau kepada Pemerintah
terkait jika diperlukan.
- Perusahaan menjamin bahwa Perwira Keamanan Perusahaan,
Nakhoda dan Perwira Keamanan Kapal didukung untuk
menunaikan tugas dan tanggung jawabnya mengacu pada
SOLAS Bab XI-2 dan aturan-aturan ISPS.
Pendelegasian
Perusahaan yang mengoperasikan kapal-kapal sebagaimana
dimaksud dalam Bab XI-2 dan bagian A aturan ISPS, harus
menunjukan seorang :
- Perwira Keamanan Perusahaan (DPA)
- Perwira Keamanan Kapal (masing-masing kapal)
Perwira Keamanan Perusahaan (DPA)
» Berperan sesuai penunjukannya, dengan melihat jumlah
kapal atau jenis kapal yang dioperasikan.
» Jika berperan untuk beberapa kapal, diidentifikasi jelas
kapal-kapal yang menjadi tanggung jawabnya.
» Perusahaan dapat meununjuk beberapa orang sesuai
jumlah atau jenis kapal yang dioperasikan dan
teridentifikasi bagi kapal-kapal mana saja setiap Perwira
itu bertanggung jawab.
» Memberi saran-saran mengenai tingkat ancaman yang
dihadapi.
» Memodifikasi Rencana Keamanan Kapal berdasarkan
kekurangan-kekurangan yang ditemui dan persyaratan-
persyaratan keamanan kapal.
» Menyusun rencana Internal Audit dan tinjauan dari aktifitas
keamanan.
» Menjamin bahwa kekurangan-kekurangan dan temuan-
temuan selama Internal Audit, peninjauan secara periodik,
inspeksi-inspeksi keamanan dan verifikasi pemenuhan
ditujukan ke alamat yang tepat dan dilaksanakan.
» Menjamin pelatihan yang memadai bagi personil
penanggung jawab untuk keamanan kapal.
» Menjamin konsistensi antara persyaratan keamanan dan
persyaratan keselamatan.
Tanggung Jawab Perusahaan
Jika kapal tidak memenuhi persyaratan SOLAS Bab XI-2 dan Bagian
A aturan ISPS, atau tidak memenuhi persyaratan-persyaratan dari
Tingkatan keamanan yang disusun oleh Badan Administrasi atau
oleh Pemerintah Terkait, maka kapal harus memberitahukan kepada
Otoritas yang berkompeten sebelum berinteraksi dengan kapal lain
/ pelabuhan atau sebelum memasuki pelabuhan yang baru saja
Terjadi gangguan keamanan.
Program Keamanan Kapal
Perwira Keamanan Kapal
» Seorang Perwira Keamanan Kapal yang ditunjuk untuk tiap-tiap
kapal harus teridentifikasi dalam Rencana Keamanan Kapal.
» Harus memiliki pengetahuan dan latihan dalam semua aspek
meliputi keamanan di kapal.
Tugas dan tanggung jawab Perwira
Keamanan Kapal antara lain :
» Melakukan inspeksi-inspeksi keamanan reguler di kapal,
menjamin bahwa ukuran-ukuran keamanan yang memadai
terpelihara.
» Memelihara dan mengawasi implementasi dari Rencana
Keamanan Kapal, termasuk beberapa perubahan pada
rencana.
» Mengkoordinasikan aspek-aspek keamanan dari menangani
muatan, gudang-gudang di kapal, dengan personil kepal
lainnya dan dengan Perwira Keamanan Fasilitas Pelabuhan.
» Melaporkan pada Perwira Keamanan Perusahaan
kekurangan-kekurangan dan temuan-temuan yang
teridentifikasi selama internal audit, peninjauan periodikal,
inspeksi-inspeksi keamanan dan verifikasi dari pemenuhan
dan pengimplementasian beberapa tindakan perbaikan,
termasuk kejadian-kejadian keamanan.
» Mempertinggi kepedulian keamanan dan kewaspadaan
diatas kapal.
» Menjamin bahwa latihan keamanan yang memadai sudah
diadakan bagi personil kapal.
» Mengkoordinasi implementasi dari Rencana Keamanan
Perusahaan dengan Perwira Keamanan Perusahaan dan
Perwira Keamanan Fasilitas Pelabuhan.
» Menjamin bahwa peralatan keamanan dapat dioperasikan
secara memadai, teruji, terkalibrasi dan terpelihara.
Personil dan Sumber Daya
Pengetahuan dan Pelatihan
1. Pwa. Keamanan Perusahaan dan personil Shore-Based
harus memiliki pengetahuan dan menerima pelatihan,
dilakukan sebagaimana panduan bagian B aturan ISPS
2. Pwa. Keamanan Kapal harus mempunyai pengetahuan dan
menerima pelatihan sebagaimana panduan pada bagian B
aturan ISPS.
3. Personil kapal memiliki tugas dan tanggung jawab
keamanan yang khusus sebagaimana ditentukan dalam
rencana keamanan kapal dan hendaknya mempunyai
pengetahuan memadai serta kemampuan untuk melak-
sanakan tugas-tugas yang telah ditetapkan sesuai
panduan bagian B aturan ISPS.
4. Menjamin implementasi yang efektif dari rencana
keamanan kapal, latihan dilakukan dalam interval yang
memadai sesuai jenis kapal, pertukaran personil kapal,
fasilitas pelabuhan yang dikunjungi dan situasi lain yang
relevan, sesuai panduan ISPS.
Rencana Keamanan Kapal
1. Suatu rencana yang dikembangkan untuk menyakinkan/
menjamin penggunaan ukuran-ukuran keamanan di kapal
dibuat untuk meindungi personil kapal, muatan, alat-alat
muat / bongkar, gudang atu kapal dari resiko kejadian
keamanan.
2. Setiap kapal harus membawa satu Rencana Keamanan
Kapal yang disetujui oleh Badan Administrasi yang berisi
ketentuan bagi 3 tingkatan keamanan sebagaimana
didefinisikan dalam aturan ISPS.
3. Penyerahan Rencana Keamanan Kapal atau perubahan
rencana yang sudah disetujui sebelumnya dapat disatukan
dengan penilaian keamanan dalam mana rencana atau
perubahan tersebut didasari.
4. Rencana yang dikembangkan, sebagimanapanduan dalam
bagian B aturan ISPS, berisi :
a. Ukuran-ukuran keamanan
b. Prosedur-prosedur
c. Identifikasi
Pengoperasian Keamanan Kapal
« Penilaian Keamanan Kapal
1. Hal dimaksud merupakan sesuatu yang esensial dan
bagian yang integral dari proses pengembangan dan
pemutakhiran rencana keamanan kapal.
2. Pwa. Keamanan Kapal harus menjamin bahwa hal
dimaksud dimengerti dan dilakukan oleh personil kapal
dengan ketrampilan yang memadai, mengevaluasi
keamanan suatu kapal dengan mengacu pada aturan
ISPS.
3. Penilaian keamanan meliputi pemeriksaan keamanan
langsung, setidaknya sebagaimana beberapa eleman
berikut :
a. Identifikasi ukuran-ukuran keamanan, prosedur-pro-
sedur dan operasinya.
b. Identifikasi dan evaluasi dari operasi-operasi kunci di
atas kapal sebagai hal penting untuk melindungi.
c. Identifikasi ancaman-ancaman yang mungkin
dilakukan terhadap operasi-operasi kapal yang sangat
mungkin hal itu dapat terjadi, dengan maksud
memprioritaskan ukuran-ukuran keamanan.
4. Penilaian keamanan kapal harus didokumentasikan,
diverifikasi dan disimpan oleh Perusahaan.
Keadaan Darurat
Prosedur
1. Ancaman bom / pencarian
2. Evaluasi Kapal
3. Respon pada pelanggaran keamanan, aktifitas yang
mencurigakan pada atau dekat kapal.
4. Prosedur-prosedur keamanan ketika kapal di Dock Kering atau
dalam perbaikan
Dokumentasi
Catatan Keamanan Kapal
a. Perusahaan menjamin bahwa Nakhoda dapat menggunakan
informasi yang disokumentasikan dan dimutakhirkan
sebagaimana dilakukan oleh Perwira yang diberi otoritas oleh
Pemerintah terkait.
b. Pencatatan aktifitas-aktifitas sebagaimana tujuan Rencana
Keamanan Kapal harus disimpan dikapal.
Pelaporan
Perwira Keamanan Kapal melaporkan kepada Perwira Keamanan
Perusahaan perihal kekurangan-kekurangan, identifikasi temuan-
Temuan internal audit (non conformities), peninjauan periodik,
Inspeksi keamanan dan verifikasi pemenuhan serta implementasi
langkah-langkah keamanan.
Perwira Keamanan Kapal melapor semua kejadian-kejadian
Keamanan, termasuk perbaikan-perbaikan kekurangan.
Pemeliharaan/Pengawasan
« Perwira Keamanan Kapal
- Pemeliharaan dan pengawasan dari implementasi rencana
keamanan kapal, termasuk perubahan-perubahan pada rencana
- Menjamin bahwa perlengkapan keamanan beroperasi
selayaknya, teruji, terkalibrasi dan terpelihara.
Internal Audit dan Peninjauan
Ώ Rencana Keamanan Kapal harus memuat bagaimana Perwira
Keamanan Perusahaan dan Perwira Keamanan Kapal akan
melakukan audit mengenai konsistensi, efektifitas daru Rencana
Keamanan Kapal itu sendiri dan prosedur-prosedur untuk
peninjauan, pemutakhiran atau perubahan dari Rencana
Keamanan Kapal.
Ώ Verifikasi
1. Awal : sebelum kapal beroperasi atau sebelum sertifikat -
sesuai persyaratan-diberikan untuk pertama kali, meliputi
verifikasi yang menyeluruh dari sistim keamanan dan
perlengkapan keamanan yang dilindungi oleh ketentuan-
ketentuan yang relevan dengan Bab XI-2. Verifikasi ini
menjamin bahwa sistim keamanan dan perlengkapan keamanan dan
perlengkapan keamanan dari kapal memenuhi
persyaratan Bab tersebut dan bagian dari aturan ini (ISPS)
dalam kondisi yang memuaskan dan siap untuk dilaksanakan.
2. Pembaharuan : dilakukan dalam interval yang ditentukan oleh
badan Administrasi, namun tidak melewati masa 5 tahun.
Verifikasi ini menjamin bahwa sistim keamanan dan
perlengkapan keamanan dari kapal memenuhi persyaratan.
3. Pertengahan : Setidaknya sekali verifikasi pertengahan
dilakukan. Jika pelaksanaannya hanya sekali dilakukan, maka
ditetapkan waktunya antara ulang tahun kedua dan ketiga
dari pada Sertifikat Keamanan Kapal.
Verifikasi ini mencakup inspeksi sistim keamanan dan perlengkapan
keamanan kapal, menjamin bahwa kapal dimaksud tetap tepat
dapat dioperasikan.
Sertifikasi
» Sertifikasi diberikan atau dikukuhkan oleh salah satu Badan
Administrasi atau Organisasi Keamanan yang diakui mengatas
namakan Badan Administrasi.
» Satu copy dari Sertifikat dan satu copy dari laporan verifikasi
harus dikirim pada kesempatan pertama kepada Badan
Administrasi.
» Suatu International Ship Security Certificate berlaku dalam
periode tidak lebih dari 5 tahun.
Ώ Ketentuan lain termuat dalam Program Keamanan Kapal,
mengacu pada aturan ISPS.
Ukuran Keamanan
a. Tingkat I : tingkat dimana ukuran-ukuran perlindungan
keamanan minimal yang layak dilaksanakan setiap saat.
b. Tingkat II : tingkat dimana ukuran-ukuran keamanan
tambahan yang layak dilaksanakan untuk suatu periode
sebagai antisipasi dari peningkatan resiko kejadian keamanan.
c. Tingkat III : tingkat dimana ukuran-ukuran keamanan khusus
lainnya untuk suatu periode terbatas ketika kejadian
keamanan hampir terjadi walaupun tidak mungkin untuk
mengidentifikasi target.